Journal

First Snow on Fuji, Yasunari Kawabata

Seperti kebanyakan pengarang ingusan, saya pernah berupaya untuk bisa menulis seperti Kawabata. Tentu saja gagal total, dan setelahnya tak punya nyali untuk melakukannya lagi, yang belakangan rada disyukuri sebab saya tak perlu menjadi dirinya. Kesan yang paling kuat setiap membaca karya-karyanya adalah keterpesonaannya kepada benda-benda, alamiah maupun ciptaan, dan membawa benda-benda itu sebagai pesan bagi perasaan-perasaan yang tak terkatakan. Saya membaca First Snow on Fuji dengan sejenis ketidaksengajaan. Tanpa sesuatu yang harus dilakukan menjelang akhir tahun, sementara sesekali hujan datang, saya melihat deretan buku-buku Kawabata di rak dan berpikir apakah perlu membaca ulang satu atau dua novelnya. Hingga saya sadar ada satu buku terselip di sana dan saya belum pernah membacanya. Buku bekas dalam kondisi yang sangat baik, saya lupa dari mana memperolehnya, yang jelas di dalamnya tertera cap bahwa itu bukan lagi milik satu perpustakaan, di sebuah kota di New Jersey. Ketika saya membukanya, saya baru sadar itu kumpulan cerita, dan ketika mulai membaca beberapa cerpennya, saya juga sadar hal-hal terbaik yang saya sukai dari Kawabata ada di cerita-cerita ini. Dalam cerpen pertama “This Country, That Country” ia berhasil membuat saya terus-menerus membayangkan leher jenjang Takako. Dan melalui leher jenjangnya, yang menjadi penanda sensualitasnya, kita dibawa ke perasaan-perasaannya, dan hubungan yang rumit di antara dirinya, suaminya, tetangga mereka, juga lelaki muda yang menjadi simpanannya. Di cerpen kedua, ia (atau lebih tepat: tokohnya) terobsesi dengan deretan pohon ginkgo di pinggir jalan, yang daunnya rontok separoh ke bawah (dan menurutnya aneh) di awal musim gugur. Di cerpen ketiga, ia berkisah tentang seorang aktor yang adalah seorang lelaki, lalu untuk menghindari wajib ikut perang berubah menjadi perempuan, belakangan kembali menjadi lelaki (dengan spesialis memerankan tokoh perempuan). Ia memadupadankan kisah si aktor ini dengan tempat permandian di mana ia bertemu, yang menghadap laut, dan bercerita tentang keindahan senja dan gumuk pasir, di mana horison antara langit dan air tampak gelap. Tanpa terhalangi, saya memikirkan horison itu sebagai titik antara menjadi lelaki dan perempuan di diri si aktor, yang mungkin juga gelap. Cerpen “Raindrops” tentu saja suara tetesan hujan di sini menjadi penting, untuk kontras dengan hidup yang kering. Selepas itu ada cerpen yang menceritakan tentang batu-batu nisan, nyaris menyerupai ensiklopedia, tapi tak ayal memberi pertanyaan yang sangat mengganggu, benarkah orang mati membutuhkan penanda? Orang hidup mungkin membutuhkannya sebagai pengingat, tapi untuk apa bagi si mati? Baiklah, kembali ke usaha saya meniru Kawabata di masa lampau. Kegagalan itu demikian nyata buat saya karena perkara satu hal: saya tak bisa meyakinkan orang bahwa ada tokoh yang bisa terobsesi dengan benda-benda dan imaji-imaji seperti Kawabata melakukannya, hingga pertanyaan ini muncul: apakah orang Jepang memang seperti itu, atau Kawabata yang demikian hebat membuatnya tampak alamiah? Bahwa orang bisa membicarakan salju pertama yang muncul di puncak Gunung Fuji, sambil duduk di kursi kereta, dan sambil mengaduk-aduk perasaan hati mereka? Mungkin memang bisa. Saya pernah membaca penulis Jepang lainnya, Hikaru Okuizumi di novel The Stones Cry Out. Seperti terlihat dari judulnya, itu tentang orang yang tergila-gila kepada batu, dan dari batu itulah memancar tak hanya aspek geologis, tapi juga sejarah dan psikologi. Dan bukankah kita bisa menemukan satu tokoh yang terobsesi dengan daun telinga di novel Haruki Murakami, dan ia membuatnya tak semata-mata daun telinga, tapi imaji tentang sensualitas atau entah apa lagi? Ryūnosuke Akutagawa jarang melakukan ini (ia lebih mendekati seorang realis), tapi kecenderungan memanfaatkan imaji alam dan benda-benda juga bisa ditemukan di Jun’ichirō Tanizaki. Pokok soalnya, imaji-imaji ini di tangan mereka, terutama Kawabata, tak berakhir menjadi deskripsi tentang sesuatu, atau kesan narator (atau tokohnya) tentang itu, tapi juga menjadi perkakas untuk menguar perasaan-perasaan dan hubungan rumit yang diciptakannya. Di cerpen yang menjadi judul cerita, perdebatan apakah salju di puncak Fuji merupakan salju pertama atau bukan, jelas merupakan pembukaan untuk hubungan yang membingungkan antara Utako dan Jirō. Mereka jatuh cinta di masa perang, hingga Utako hamil di luar nikah. Keluarga dan perang memisahkan mereka, dan anak itu kemudian mati. Delapan tahun kemudian mereka tak sengaja bertemu di stasiun. Kita kemudian tahu Utako baru saja bercerai, dan pernikahannya merupakan neraka. Ia tampak menderita dan kurus. Jirō mengajaknya untuk pergi ke tempat permandian, alias kencan. Mereka mandi bareng. Tidur berdampingan. Mereka bicara dan tampak bahagia. Tapi bagaimana hubungan dan masa depan mereka, sebab pada saat yang sama, jelas Jirō juga telah terikat pernikahan. Kebahagiaan itu jelas seperti salju di puncak Fuji, tapi makna kebahagiaan itu mungkin mereka sendiri tak tahu apa sebenarnya. Ada satu cerpen yang menurut saya sangat menarik, berjudul “Silence”, di mana kebisuan, kematian, dan hantu menjadi imaji-imaji yang berkaitan. Kisahnya sendiri bahkan memiliki kisah lain di dalamnya: tentang seorang penulis muda yang gila dan dilarang memiliki apa pun kecuali kertas-kertas kosong. Si pemuda gila akhirnya menulis di kertas kosong dan setiap ibunya berkunjung meminta sang ibu membaca cerita yang ditulisnya. Si ibu terpaksa ngarang-ngarang karena kertas itu kosong, tapi si anak mendengarkan seolah yang diceritakan ibunya memang apa yang ditulisnya. Kisah itu berasal dari novel seorang penulis, yang di cerpen ini telah lumpuh dan bisu. Seperti kertas kosong di tangan ibu si penulis gila, apakah kebisuan juga pada dasarnya memiliki suara? Dan bagaimana dengan kematian? Di dua cerpen lainnya kita bertemu kembali dengan daun telinga, dan bagi yang pernah membaca cerpen “The Izu Dancer”, barangkali akan terkenang cerpen tersebut ketika membaca cerpen terakhir “Yumiura”, tentang kunjungan seorang perempuan umur lima puluhan tahun ke kediaman seorang penulis terkenal dan tanpa tedeng aling-aling berkata, “Kuharap kau tidak lupa.” Tidak lupa bahwa mereka pernah bertemu, bahwa sang pengarang ketika muda pernah datang ke kamar si perempuan dan tentu saja tidur dengannya, bahwa si pemuda bahkan melamarnya, tapi ditolak karena si perempuan muda sudah tunangan. Kini si perempuan datang kembali, penuh penderitaan. Menderita karena pernah menolak lamaran si penulis. Cerpen itu, saya rasa merupakan sisi kocak dari Kawabata. Humor kecil yang entah kenapa, terasa pedih.

Standard