Eka Kurniawan

Journal

Tag: Hermann Broch

Pemberontak dan Kriminal, The Sleepwalkers (3): The Realist

“Pemberontak tak harus disamakan dengan kriminal, meskipun masyarakat seringkali menganggap pemberontak sebagai kriminal, meskipun kriminal kadang-kadang berlaku sebagai pemberontak untuk membuat tindakan-tindakannya tampak terhormat.” Kutipan ini saya ambil di bagian tengah “The Realist”, bagian pamungkas The Sleepwalkers karya Hermann Broch. Saya harus bilang, novel ini jauh lebih menjelajah (dan barangkali lebih sulit untuk ditaklukkan) daripada dua bagian sebelumnya. Tak hanya meliputi bentuk dan gayanya (yang meramu banyak hal: prosa, puisi, drama, pamflet, esai), tapi terutama penjelajahan gagasan mengenai filsafat dan kadang mengenai agama. Kisah di novel ini terjadi di tahun 1918, di tengah situasi perang, dan dibuka oleh seorang prajurit Jerman bernama Huguenau yang melarikan diri dari pasukannya alias desersir. Apakah ia seorang pembangkang? Atau tak lebih dari seorang kriminal? Novel ini jelas menghamparkan dilema tersebut, tidak dalam pemaparan untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut, apalagi mencoba memberi penilaian akhir terhadap si tokoh, tapi sebagaimana saya singgung di atas, mempergunakan kisah mengenai si desersir ini sebagai titik pijak untuk diskusi panjang mengenai banyak hal. Dari sejarah pemikiran hingga runtuhnya nilai-nilai. Huguenau sendiri sosok yang menarik. Kisah pelariannya dari pasukan membersitkan pertanyaan yang bergema panjang, Untuk apa semua perang ini? Ia digambarkan sebagai sosok yang berpikir bebas, tak terikat norma-norma, cenderung sinis pada nilai-nilai lama. Ia juga bisa dibilang, egois dalam arti memikirkan dirinya bahkan sampai pada tahap licik. Dalam situasi perang yang tak menentu, meskipun akhirnya ia bisa menetap di satu kota yang relatif tenang, dengan bakat yang luar biasa dalam pergaulan dan bisnis, tanpa modal sama sekali, ia bisa mengambil alih satu perusahaan surat kabar, dengan berbual bersama walikota dan orang-orang kaya kota itu. Bahkan ketika akhirnya ia ketahuan sebagai seorang pelarian (dan tentu saja buronan!), ia bisa melepaskan diri dari jebakan nasib buruk. Sebagian karena keculasannya, sebagian tentu karena keberuntungan. Di dunia ini, tentu manusia akan selalu mengalami masa-masa sulit. Kekacauan karena perang, musibah, runtuhnya nilai-nilai, atau apa pun, bisa menciptakan kesulitan. Dalam situasi seperti itu, tentu akan timbul: bermoralkah seseorang mementingkan nasib dirinya sendiri, lebih dari nasib orang lain? Itu pertanyaan moral, tentu, juga filosofis. Dari sudut pandang Huguenau, tentu ia memikirkan dirinya sendiri (bahkan meskipun mulut manisnya akan bicara tentang nasib orang-orang yang diwakilinya dalam bisnis). Tapi peduli apa tentang moral untuk manusia macam dia? Dalam situasi kacau karena perang, misalnya, siapa yang bisa menghalangi elan untuk bertahan hidup. Ia pembangkang, di tengah suara-suara yang bergelora tentang patriotisme, tentang kebersamaan, tentang “kita” melawan “mereka”. Tapi ketika ia akhirnya menodongkan pistol dan membunuh rekan kerjanya, untuk melindungi kepentingan-kepentingannya, untuk menyelamatkan dirinya, masihkah ia sesederhana pembangkang? Pemberontak? Atau ia sudah menjadi seorang kriminal. Masyarakat seringkali tak bisa membedakan keduanya, atau mungkin memang tak perlu dibedakan? Seperti Hugeunau, menjadi pembangkang barangkali hanya untuk menutupi egoisme dirinya, elan bertahan hidupnya, atau lebih jauh, membuat tindakan-tindakan kriminalnya sebagai sesuatu yang terhormat. Yang jelas, kata Hermann Broch, “Sang pemberontak berdiri sendiri.” Sendirian saja, Sobat. Tidak rame-rame.

The Sleepwalkers (2): The Anarchist

Bagi August Esch, pekerjaan adalah penjara. Juga cinta dan waktu. Bahkan impian tentang kebebasan adalah penjara itu sendiri. Dalam dunia Esch, manusia seperti ditakdirkan dalam hidup yang tragis. Tanpa kebebasan dan tanpa jalan keluar. Saya membaca “The Anarchist”, bagian kedua dari trilogi The Sleepwalkers karya Hermann Broch ini sebagian besar di lambung pesawat, nyicil, dalam perjalanan panjang ke Eropa, kemudian menyeberang ke pantai timur Amerika. Juga di sela-sela waktu luang yang tak ada kerjaan, seperti selepas makan siang atau malam sendirian di kedai makan yang menyajikan nasi kotak dengan belut di perempatan Lexington Avenue dan 45th Street, Manhattan (sengaja saya sebut, biar ingat, soalnya nasi dan belut itu enak sekali). Satu malam, seseorang bertanya, bagaimana rasanya berpergian dengan pesawat lebih dari tujuh jam, bahkan ada yang sampai sebelas jam? Bagi banyak orang, itu mungkin hal menderitakan, atau setidaknya membosankan. Tak ada yang bisa dilihat (di malam hari, bahkan hamparan awan pun tak terlihat), tak bisa buka-buka internet (beberapa maskapai sudah bisa), dan tak bisa ngobrol (penumpang lain mungkin akan terganggu kalau diajak ngobrol). Bahkan tidur pun tidak nyaman. Bergerak susah. Tapi menurut saya, dikurung berjam-jam di lambung pesawat merupakan waktu yang tepat menikmati momen tanpa gangguan untuk banyak hal: membaca buku, menulis, menghayal, melamun, bahkan tidur. Jika kita bisa menikmati hal-hal itu, dikurung berjam-jam di lambung pesawat bukanlah hal buruk. Saya tak ingin mengulang klise bahwa kebebasan bukan perkara ruang, melainkan perkara bagaimana memanfaatkan ruang tersebut, meskipun dalam hal ini klise itu tetap berlaku. Bagi saya, menghubungkan dunia Esch dalam “The Anarchist” dengan lambung pesawat membawa saya kepada gagasan mengenai kepompong. Ya, bukankah lambung pesawat mirip kepompong? Bukankah dalam sudut pandang tertentu kepompong seperti penjara? Tapi pada saat yang sama, bukankah kepompong merupakan jembatan metamorfosis? Pembebasan diri dari satu bentuk ke bentuk lain? Kisah August Esch dalam “The Anarchist” menyiratkan sejenis kepompong. Hubungannya dengan berbagai perempuan merupakan serat-serat yang membungkus dirinya. Ia terpesona kepada Ilona, seorang artis panggung, tapi Korn (yang menyewakan kamar untuknya) malah menelikung. Ilona tidur bersama Korn. Korn sebenarnya hendak menjodohkan Esch dengan adiknya, yang sudah berumur tapi belum juga kawin, Erna. Sialnya ia enggak nafsu sama perempuan itu. Tapi ketika si tolol Lohberg muncul dan Erna melihatnya sebagai sasaran empuk, dan mereka bertunangan, Esch mulai menyelinap ke kamar Erna. Dengan perasaan campur-aduk yang tak dimengertinya. Demikian juga cintanya kepada Mother Hentjen, janda pemilik kedai makan, yang ke mana-mana membawa masa lalu pernikahan dengan mantan suaminya. Masa lalu Mother Hentjen merupakan sesuatu yang dibenci Esch, yang terus bertanya-tanya “Kenapa kamu mengawininya?”, dan sekonyong menjadi belenggu hubungan mereka yang sulit dituntaskan. Penjara yang lain. Tapi seluruh kungkungan itu merupakan kepompong yang siap melahirkan kembali Esch, seperti para penumpang yang keluar dari lambung pesawat, sebagian dilahirkan kembali. Dengan gagasan-gagasan baru, dengan pikiran yang segar, impian besar, atau setidaknya cara pandang yang baru. Tapi gagasan lambung pesawat sebagai kepompong mungkin akan berakhir. Dari waktu ke waktu semakin bertambah maskapai yang menawarkan sambungan telepon dan kemudian internet. Kepompong kemudian bukan lagi perkara ruang, tapi perkara pilihan. Ia bisa diciptakan di mana pun.

The Sleepwalkers (1): The Romantic

Membaca bagian pertama (dari trilogi) The Sleepwalkers karya Hermann Broch berjudul “The Romantic”, tampak seperti membaca roman picisan saja. Tentang kisah cinta segitiga, dan kemudian segi empat dengan munculnya satu pengganggu yang kurang ajar dan menyebalkan. Milan Kundera sangat mengagumi novel ini, bahkan memberi satu bagian khusus membicarakan novel ini di buku The Art of the Novel, sementara kesusastraan Jerman menganggapnya sebagai salah satu dari tiga novel besar berbahasa Jerman di paruh pertama abad kedua puluh (dua lainnya: The Magic Mountain dan The Man Without Qualities, nama-nama penulisnya cari sendiri saja, deh. Gampang, kok). Tentu saja kita tak perlu setuju dengan mereka, juga tak perlu ikut-ikutan mengagung-agungkan karya yang enggak ada hubungannya dengan periuk nasi kita, apalagi ranjang kita, tapi penasaran baca boleh, dong. Masa penasaran saja enggak boleh. Kalau rasa penasaran saja dibunuh, apa bedanya dengan hidup di negeri fasis? Terutama kalau merasa diri dongok dan tolol, seperti saya, ya wajib menjaga rasa penasaran dan rasa ingin tahu. Saya sangat haus bacaan, dan kalau ada yang bilang: novel ini bagus, lho, tentu saja langsung napsu pengin baca. Terutama setelah nulis empat novel, dan saya mencoba menengok kembali diri saya ke belakang, dan saya merasa cuma pinter nyampur-nyampur ini-itu doang. Cerita silat dicampur sedikit horor, ditambahi pseudo-sejarah, dan sedikit komentar politik. Lain kali sok-sokan menganalisa psikologi karakter, padahal ya enggak banyak tahu soal psikologi. Nyampur-nyampur drama, kisah cinta, misteri, petualangan. Diperparah dengan bahasa yang segitu doang. Semakin memikirkan itu, semakin saya berpikir untuk jadi petani saja. Tapi karena enggak pengalaman bertani, ujung-ujungnya kembali baca buku. Pengin tahu kenapa orang lain bisa begitu pinter nulis. Kembali menyiksa diri dengan pura-pura belajar. Kembali ke novel ini, lebih tepat bagian pertamanya (habis tebel, saya bacanya nyicil sambil duduk di kakus). Ceritanya bisa diringkas begini: Joachim, seorang prajurit dan anak tuan tanah, jatuh cinta sama gadis penghibur bernama Ruzena. Kepadanya ia merasa nyambung secara rasa maupun seksual. Ngepas, bahasa anak gaulnya. Pada saat yang sama, ia dijodohkan dengan tetangganya, dari kasta yang sederajat, sesama anak tuan tanah: Elisabeth. Pinter, dan tentu secara sosial cocok. Dia bingung. Minta nasehat sama temannya, jebolan tentara juga yang memutuskan jadi pengusaha bernama Bertrand. Sialnya, selain nasehat-nasehatnya rada-rada kasar dan apa adanya, diam-diam dia menggoda kedua cewek itu. Ruzena sih ogah sama dia, tapi Elizabeth terpukau dengan keterus-terangannya. Bener, kan, kayak novel picisan sebenarnya? Saya suka dengan sosok si Bertrand, yang ganggu dan tukang manas-manasin orang dengan pikiran-pikiran bebasnya. Satu hal yang terpikir oleh saya membaca “The Romantic” (julukan ini tampaknya ditujukan kepada Joachim), kita bisa melakukan studi mengenai karakter. Meskipun ditulis dengan gaya realis yang tertib dan dingin, saya tak bisa menahan diri menangkap kesan kocak dan karikatural dari karakter-karakternya. Empat karakter yang berbeda (bisa lebih jika kita menghitung ayah Joachim, dan calon mertuanya), menghadapi berbagai macam isu yang berbeda (persahabatan, cinta, karir, pernikahan). Bahkan di akhir cerita, ketika Joachim dan Elizabeth terdampar di satu kamar hotel dalam perjalanan bulan madu mereka, keduanya tampak sangat komikal. Sangat canggung memandang apa arti perkawinan dan malam pertama mereka. Benar-benar kisah yang lucu. Cuma itu? Sementara cuma segitu yang terpikirkan, sebab cuma memikirkan itu saja kepala saya sudah nyut-nyutan dan rada panas. Tapi saya berjanji akan membaca bagian berikutnya, yang kedua dan ketiga. Tentu saja nanti di kesempatan “pup” berikutnya. Saya pakai kata “pup”, sebab konon itu kata paling sopan untuk tindakan duduk di kakus, juga untuk memperbanyak kosakata saya yang menyedihkan ini. Pup. Pup. Pup.

Günter Grass, Obituari

Saya tak ingat kapan pertama kali membaca The Tin Drum. Buku itu ada di rak buku saya, ada coretan-coretan saya di dalamnya. Tapi saat ini saya sedang tak mungkin untuk mengambilnya dari rak. Saya sedang di lobi sebuah hotel di daerah Kensington, London, jam 3 dinihari. Saya terbiasa bangun sangat pagi untuk menulis, untuk mengganti kebiasaan buruk lama “begadang” (yakni tidur menjelang dinihari), dan hanya beberapa jam sebelumnya mendengar kabar meninggalnya Günter Grass (usia 87), sang penulis. Bertahun-tahun lalu ketika mengunjungi Pramoedya Ananta Toer di rumahnya di Utan Kayu, Pram pernah memperlihatkan kepada saya satu lukisan di dindingnya. “Grass yang bikin,” kata Pram. Itu memang lukisan Grass, dihadiahkan kepada Pram ketika kedua penulis bertemu di Jerman. Ada dua hal setidaknya yang sering membuat saya iri kepada Grass. Yang pertama, luasnya keterampilan seni dia. Selain menulis novel, puisi, drama, dia juga membuat patung, karya grafis dan lukisan. Di kesusastraan, saya bahkan tak bisa menulis puisi! Dan di bidang seni rupa, ingin sekali saya punya studio kecil seperti miliknya untuk keisengan saya dengan grafis. Saya selalu tergila-gila dengan cetak saring dan cukil kayu, tapi tak pernah punya waktu (alasan para pemalas) untuk benar-benar melakukannya. Sumber keirian kedua, tentu saja watak kesusastraannya. Meskipun bisa dibilang saya tak memiliki pengetahuan melimpah mengenai kesusastraan Jerman, tapi jika membandingkannya dengan beberapa penulis Jerman lain, ada hal yang unik dalam dirinya. Saya sering membayangkan kesusastraan Jerman hampir mirip dengan filsafat Jerman: analitik, kontemplatif, memiliki skala yang “grande”. Membayangkan karya-karya Thomas Mann (The Magic Mountain), Robert Musil (The Man Without Qualities), Hermann Broch (Sleepwalker), sering sama “menakutkannya” dengan menghadapi kitab-kitab filsafat Kant, Hegel, dan kemudian Marx! Seperti saya menemukan sejenis keriangan dalam filsafat Jerman melalui Nietzsche, saya merasakan hal yang sama melalui novel-novel Grass dalam kesusastraan Jerman. Jujur, saya lebih sering membayangkan karya-karya Grass berada dalam tradisi Spanyol atau Inggris daripada Jerman. Pertama kali membaca The Tin Drum, kita sadar itu merupakan novel piqaresque, satu tradisi yang banyak berkembang di Spanyol (Don Quixote), Inggris (lihat beberapa karya Dickens), dan bahkan Amerika (Huckleberry Finn). Yang cerdas dari kisah Oskar Matzerath adalah, Grass berhasil mengelola kecenderungan picaresque yang seringkali memiliki watak kritis terhadap persoalan sosial, menjadi kendaraan untuk memotret sebuah zaman: terutama cikal-bakal dan memuncaknya kekuasaan Nazi. Setelah membaca beberapa karyanya yang lain, terutama yang paling saya suka The Flounder, kita juga segera menemukan kecenderungannya yang lain, yang membuat watak picaresque Grass semakin unik: fabel. Ya, selain meminjam alusi-alusi dari fabel, karya-karyanya juga memang sering dalam tingkat tertentu merupakan fabel. Tradisi picaresque dan fabel menciptakan dalam karya-karyanya sesuatu yang riang (meksipun humornya lebih seram gelap), kekanak-kanakan, ringan (meskipun hampir selalu dalam skala epik). Jarang saya melihat kualitas-kualitas semacam itu dalam karya penulis-penulis lain. Membaca Midnight’s Children Salman Rushdie barangkali bisa sedikit mengingatkan kita ke arah sana, meskipun Rushdie lebih sering disebut-sebut sebagai penulis realisme magis (label yang juga sebenarnya kerap ditimpakan juga kepada Grass), label yang dengan gampang sering diberikan orang asal menemukan elemen-elemen magis di dalam sebuah karya (jeritan si cebol Oskar bisa membuat kaca-kaca pecah berhamburan). Tapi bukankah fabel sejak awal sering muncul juga dengan keajaiban-keajaibannya? Grass saya rasa lebih banyak berutang kepada fabel, yang di tangannya, karya-karya itu menjadi fabel-fabel politik yang unik, dan telah memberi warna kesusastraan dunia di setengah terakhir abad kedua puluh. Oskar, mari tabuh beduk kecilmu untuk kepergiannya!

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑