Eka Kurniawan

Journal

Tag: Heraclitus

130 Tahun Huckleberry Finn

Selamat ulang tahun, Kawan. 130 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Saya tak tahu seperti apa keadaannya di hari itu, 10 Desember 1884, ketika The Adventures of Huckleberry Finn terbit pertama kali. Tapi hari ini saya masih membacanya kembali, melalui edisi yang saya beli dari toko buku loak di pinggiran Tokyo bernama Book-Off seharga 105 yen, dengan coretan-coretan huruf kanji dari seorang pembaca lokal yang mungkin tengah mempelajari bahasamu. Jika ada satu buku saya masih bertahan hingga setua itu dan masih ada yang membacanya, saya tak tahu apakah saya akan bahagia atau tidak: saya tak akan ada lagi di dunia ini untuk mengetahuinya. Tapi saya berharap kebahagiaan untuk penulismu. Ada orang-orang yang mengatakan kita menulis untuk keabadian. Saya meragukannya. Menurut saya, ini ilusi. Kenyataannya, 99,999999 persen buku di dunia ini akan lenyap ditelan gilasan roda zaman. Tak perlu menunggu 130 tahun, buku yang hari ini terbit banyak yang sudah dilupakan di tahun depan. Setidaknya 5 tahun sudah menjadi kertas tisue untuk cebok. Seperti dinosaurus dan harimau jawa, banyak gagasan dan buku yang akan punah. Kau harus percaya itu. Kau harus percaya Darwin, sebagaimana percaya Heraclitus yang mengatakan bahwa tak ada yang abadi kecuali perubahan. Kita, para penulis, menciptakan ilusi keabadian ini agar kita lupa dan tak sadar, bahwa sebagian besar yang kita tulis tak lebih dari sampah peradaban belaka. 130 tahun bukanlah waktu yang abadi. Selalu ada kemungkinan suatu hari kau akan lenyap, orang tak membutuhkanmu lagi, tak menginginkanmu lagi, dan kamu akan terlupakan. Tapi apa pedulinya dengan “suatu hari”? Dinosaurus barangkali tidak benar-benar punah. Kode-kode genetiknya diwariskan kepada kita, manusia, sebagaimana diwariskan kepada kodok dan cacing pita. Demikian pula buku: melebihi berapa ratus tahun sebuah buku bisa bertahan, jauh lebih penting bagaimana “kode genetik” buku-buku dan gagasan, diwariskan kepada buku-buku dan gagasan berikutnya. Sebagaimana dirimu memperoleh warisan berharga dari tradisi picaresque Spanyol, dari novel-novel anak-anak berandalan semacam Historia de la Vida del Buscón Don Pablos atau La Vida de Lazarillo de Tormes. Dan siapa tahu kau pun mewariskan sesuatu kepada novel lokal semacam Si Doel Anak Djakarta (sebelumnya Si Doel Anak Betawi)? “We said there warn’t no home like a raft, after all.” Kau mengatakan itu di bagian tengah buku, dan saya tak pernah tidak setuju. Hidup ini selalu merupakan perjalanan, terapung-apung di atas rakit, seperti kau lakukan di sepanjang sungai Mississippi. Kalimat itu, barangkali cukup satu kalimat saja dari ribuan kalimatmu, merupakan kode genetik yang merasuki kepala saya, dan izinkan menjadi bagian dari pikiran-pikiran saya. Saya tak tahu apakah penulismu merupakan penulis terbaik yang dilahirkan Amerika. Sejujurnya saya hanya membaca segelintir penulis Amerika. Selain penulismu, Mark Twain, saya membaca Herman Melville, Hemingway, Faulkner, Toni Morrison dan kurasa ini yang terbaik dari generasi kontemporer: Cormac McCarthy. Tapi saya rasa khayalan tentang Amerika akan sangat berbeda tanpa dirimu, tanpa petualangan Huckleberry Finn di sepanjang Mississippi, persahabatannya dengan Jim si budak, dan seperti novel-novel picaresque yang saya sukai, pertanyaan besar-kecil mengenai masyarakat orang dewasa dari kacamata seorang anak kecil. Ketika saya meninggalkan rumah dan sekolah, dan akhirnya dikeluarkan dari sekolah saat umur belum juga genap 14, saya belum membacamu. Tapi ketika pertama kali membacamu, bertahun-tahun kemudian, saya melihat diri saya di wajahmu, sebagaimana sering kita temukan di karakter-karakter yang mengenangkan di novel-novel lain. Sekali lagi selamat ulang tahun. Saya tak bisa menyediakan 130 lilin, tapi lebih dari 500 kata tulisan ini barangkali cukup untuk ditiup, sebelum lenyap menjadi sampah peradaban yang lain.

The Invention of Morel, Adolfo Bioy Casares

Manusia hidup dengan segala keterbatasannya. Ilmu dan teknologi mencoba mengatasi keterbatasan tersebut. Fiksi sains ada di antara manusia dan ilmu/teknologi untuk mengejeknya. Tentu masih ingat Frankenstein karya Mary Shelley. Di luar warna gothic dan terornya, sudah jelas karya itu merupakan ejekan kepada ambisi manusia untuk memecahkan misteri kehidupan dan kematian (dan akhirnya: penciptaan). Yang lebih baru dan populer, Jurassic Park karya Michael Crichton, juga ejekan perkara bagaimana kita menyiasati kepunahan spesies (dalam hal ini dinosaurus yang telah punah). Saya rasa hidup dan mati akan selalu merupakan persoalan paling besar bagi manusia. Ada obsesi manusia untuk mengatasi ini, tak hanya berharap hidup lebih lama atau bisa bangkit dari kematian, jika memungkinkan, manusia ingin hidup abadi. Ilmu dan teknologi, diam-diam maupun terang-terangan, saya rasa ingin menuju ke sana. Dan hal ini, entah sampai kapan, akan menjadi bahan para penulis fiksi sains. Dalam tradisi ini saya kira The Invention of Morel karya Adolfo Bioy Casares bisa juga ditempatkan. Novel ini disanjung habis-habisan oleh Jorge Luis Borges, tapi pujiannya bisa kita abaikan karena: (1) Borges merupakan teman dekat Casares (mereka bahkan berkolaborasi menulis cerita-cerita fantasi dengan nama samaran H. Bustos Domecq), (2) novel ini dipersembahkan Casares untuk Borges, (3) Borges menulis prolog untuk novel ini bahkan sejak edisi pertama, (4) novel ini diberi ilustrasi oleh Norah Borges de Torre, yang adalah saudara perempuan Borges. (Pengakuan: bagaimanapun saya memegang dan membaca novel ini, apa boleh buat, sebenarnya terpengaruh Borges). Sekali lagi, novel ini bicara mengenai keabadian. Seorang filsuf kuno Yunani, Heraclitus pernah mengatakan, “Tak ada yang tetap, kecuali perubahan.” Dengan kata lain, sebenarnya tak ada keabadian, tak ada keadaan yang “demikian selamanya”, kecuali keadaan yang terus-menerus berubah, yang berarti tak ada yang abadi. Tapi sekali lagi, manusia selalu menginginkan diri mereka menembus masalah-masalah yang mereka hadapi. Jika kita berpegang kepada pandangan Heraclitus di atas, tak ada cara lain selain membayangkan keabadian sebagai keadaan beku, atau paling tidak, keadaan mengulang. Saya jadi ingat memiliki sejenis mimpi buruk yang terus berulang. Dalam mimpi itu saya selalu dalam keadaan hendak lulus kuliah (atau sekolah), dan saya harus menghadapi ujian. Saya selalu merasa tertekan dengan mimpi itu. Mungkin bawaan rasa tak senang saya pada sekolah (atau sebaliknya: obsesi saya pada sekolah). Apa pun itu, meskipun mimpi tersebut memiliki variasinya sendiri-sendiri, pengulangannya membuat saya merasa ihwal sekolah di dalam mimpi itu menjadi abadi. Keadaan yang menekan di dalam mimpi itu abadi. Barangkali dengan cara pandang tersebutlah, Morel di novel ini, menciptakan mesin yang mampu mengirim manusia (dan lingkungan sekitarnya) ke satu dunia “rekaman” (persis seperti foto atau video), dan hidup di sana. Berulang-ulang. Abadi. Hanya seorang penonton (seperti saya yang bermimpi), dalam hal ini si tokoh aku yang menulis catatan harian dan merupakan pelarian di pulau tempat Morel merekam kehidupan dengan mesinnya, yang mengetahui kehidupan di dalam rekaman tersebut hanyalah sejenis pengulangan adegan yang terjadi terus-menerus (tepatnya, kehidupan selama seminggu). Orang-orang di dalam rekaman, seperti saya di dalam mimpi, hanya menjalani kehidupan tanpa kesadaran itu: kehidupan yang mereka pikir abadi. “Kita akan hidup dalam keabadian,” kata Morel ketika menerangkan penemuannya. Kemudian, sebagaimana mestinya fiksi sains yang saya anggap bagus, datang bagian yang sangat mengejek: si buronan jatuh cinta kepada perempuan bernama Faustin, yang hidup di dalam rekaman. Ia tahu, jika ia ingin terus bersama perempuan itu, dalam dimensi yang sama, ia harus meninggalkan kehidupan fananya, dan masuk ke kehidupan abadi si perempuan di rekaman. Demikianlah, dengan cara konyol ia merekam dirinya, membiarkan tubuh dan jiwanya dibunuh mesin, untuk hidup kembali dalam kehidupan yang berulang-ulang. Obsesi manusia, diwakili si buronan, ternyata tak berhenti di sana. Ia mulai berpikir, bagaimana caranya ia bisa menghilangkan Morel dari rekaman? Ia benci sang penemu, sebab sang penemu juga jatuh cinta kepada Faustin. Saya jadi ingat sosok Clementis yang menghilang dari foto propaganda di novel Milan Kundera, The Book of Laughter and Forgetting. Jika ada kemungkinan untuk mengedit atau menyensor kehidupan (jika kita bisa berpegang bahwa foto, atau hasil rekaman mesin Morel dianggap kehidupan), maka gagasan tentang keabadian menjadi sesuatu yang omong kosong. Dan ternyata belum selesai sampai di titik itu. Untuk membuat rekaman Morel terus hidup, terus melakukan pengulangan “abadi”nya, mesin proyektornya dihidupkan oleh motor yang digerakkan oleh energi yang diperoleh dari angin dan gelombang laut. Sang buronanlah, saya pikir ini bagian paling mengerikan di novel ini, yang memiliki gagasan sinting ketika ia menulis, “Dan apa yang terjadi jika Morel berpikir untuk merekam motor-motornya?”

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑