Eka Kurniawan

Journal

Tag: Hassan Blasim

Saudara Seperguruan atau “Literary Brothers”

Dalam satu wawancara, Enrique Vila-Matas ditanya mengenai persahabatannya dengan Roberto Bolaño dan ia menjawabnya: “Bertemu dengannya pada tahun 1996, saya merasa tak lagi sendirian sebagai penulis.” Ia melihat dalam diri Bolaño seseorang yang bisa disebut, dalam kata-katanya, “literary brother”. Saya bayangkan istilah itu semacam “saudara seperguruan” dalam konteks dunia persilatan yang sering saya baca di novel atau komik silat. Saya bisa mengerti perasaan Vila-Matas. Di tengah kerumunan para penulis, bukanlah hal mudah menemukan satu atau segelintir penulis yang kamu bisa merasa nyaman, nyambung, tak hanya dalam konteks keseharian tapi juga dalam konteks kesusastraan, sehingga kamu bisa menyebutnya sebagai “saudara”. Saya beruntung punya teman-teman semacam itu. Para penulis yang ketika dalam satu wawancara saya ditanya, siapa penulis Indonesia yang karya barunya akan saya tunggu, dengan jelas saya menjawab: para penulis dari generasi saya. Yang sebagian sekali waktu adalah teman-teman bermain saya. Jika orang bertanya, siapa penulis terbaik di Indonesia saat ini, saya akan menjawab dengan jawaban yang sama. Generasi saya, teman-teman saya. Akhir-akhir ini saya berhubungan dengan orang luar, dari editor, wartawan hingga agensi, dan jika mereka bertanya siapa penulis-penulis Indonesia yang perlu diperhatikan? Jawaban saya tetap sama. Generasi saya, teman-teman saya. Saya tak pernah pusing dengan orang-orang yang semangat mempromosikan teman-teman atau karya teman-temannya. Saya akan melakukan hal yang sama, selama saya melakukannya atas nama saya pribadi. Semalam saya bertemu denan Ugoran Prasad dan Intan Paramaditha. Mereka dua di antara penulis yang jelas masuk kategori “generasi saya, teman-teman saya” itu. Kami jarang bertemu sejujurnya, tapi apa pentingnya bergerombol terus-menerus seperti kawanan serigala? Maka pertemuan-pertemuan itu selalu terus mengingatkan saya tentang motivasi-motivasi dan gairah kami atas kesusastraan, dan merasakan kembali keberadaan “saudara seperguruan” semacam “literary brother”-nya Vila-Matas itu. Teman kepada siapa kami bisa dengan kekanak-kanakan berkata, ingin seperti “Adolfo Bioy Casares yang diterbitkan nyrb classics”. Teman yang saya bisa bilang di depan muka mereka, “Masalah kalian adalah cerpen-cerpen kalian. Jangan menerbitkan cerpen kecuali setara Borges. Setidaknya setara Etgar Keret atau Hassan Blasim.” Tapi obrolan-obrolan kami seringkali mengingatkan saya betapa saya mencintai cerpen-cerpen teman-teman saya, tanpa mereka harus menjadi Borges. Pergi ke Toko Wayang merupakan buku terbaru yang saya baca, yang ditulis oleh teman saya yang lain, salah satu yang penting untuk dibaca. Satu-satunya Gunawan Maryanto. Satu-satunya di antara kami yang paham literatur klasik Jawa (juga literatur pasar macam Gareng dan Petruk), yang kami semua selalu mencemburuinya. Sebagai penulis, saya tumbuh bersama mereka. Saya kenal Ugo, Chindil (itu panggilan Gunawan Maryanto di antara teman-temannya), Puthut EA bahkan ketika kami belum benar-benar mulai menulis. Kami sama-sama kuliah di kampus yang sama, meskipun di jurusan atau angkatan yang berbeda-beda. Kegiatan atau sekadar kantin bisa mempertemukan kami, tapi terutama hasrat pada kesusastraan yang akhirnya membuat kami saling kenal. Kampus kami berdekatan dengan IKIP (sekarang UNY), dan dari sana kami mengenal “saudara seperguruan” yang lain: Muhidin M. Dahlan, Zen R.S. (yang esai-esai-nya tentang sepakbola sangat saya kagumi), dua di antaranya. Pertemanan juga seringkali tak hanya ditentukan oleh ruang. Saya kenal Linda Christanty sejak akhir 90an. Dia aktivis PRD, saya senang nongkrong dengan segerombolan anarkis. Beberapa teman saya kenal dengan beberapa temannya, dan akhirnya kami berkenalan. Ternyata ia suka sastra, dan saya juga, dan kami sama-sama punya teman yang sama: seorang penjual buku bekas di belakang Malioboro bernama Mahdi, yang dengan semangat sering menyuplai kami dengan bacaan sastra dunia (kalau kami tidak bisa membeli, dia berbaik hati memfotokopikan). Tentu saja beberapa teman dekat saya, dari generasi saya, juga ada yang saya kenal setelah kami sama-sama menerbitkan karya. Perkenalan saya dengan Dinar Rahayu dan A.S. Lakana terjadi dengan cara yang aneh: bertemu di Belanda dalam keadaan sama-sama baru pertama kali ke luar negeri. Pertemanan yang selalu bersifat alamiah: kami merasa nyambung, merasa nyaman, untuk mengatakan apa pun. Buat saya hal seperti ini rada-rada penting, di luar urusan estetik kesusastraan. Seperti yang dikatakan Vila-Matas, itu membuat kita “tidak merasa sendirian.” Tidak merasa sendirian karena seringkali kita bertemu dengan cara pandang terhadap kesusastraan yang kurang-lebih mirip, yang saya yakin hal seperti itulah yang membuat sebuah generasi sebagai “generasi”. Sebagai contoh, saya selalu mengingat apa yang sering kami katakan jauh hari, ketika kami masih segerombolan mahasiswa gembel yang tak yakin bisa lulus (beberapa di antara kami benar-benar tidak lulus). Kami punya sejenis manifesto-manifestoan. Saya katakan begitu, karena manifesto itu tak pernah dituliskan. Juga karena manifesto itu bisa ditambah-kurangkan sesuka hati kami sendiri. Tapi kurang-lebih manifesto itu berbunyi: 1) Kami ingin menjadi penulis, jika tak ada yang menerbitkan, kami akan menerbitkannya sendiri. Kami belajar bagaimana memproduksi buku, bagaimana menjualnya. Bahkan belajar melayout dan mendesain sampul. 2) Kalau media besar tak menerima karya kami, kami akan membuat media sendiri. Ya, meskipun kecil. Puthut membuat On/Off, sebelumnya jika ada yang iseng mau mencari, ia satu-satunya orang di belakang “jurnal” Ajaib. Ugo dan beberapa temannya menerbitkan Konblok. 3) Kalau komunitas kesusastraan tak ada yang menerima kami, kami akan buat komunitas sendiri. Kami membuatnya. Beberapa berumur pendek, beberapa berumur pendek sekali. Yang penting kami membuatnya untuk mendukung diri kami sendiri. Saya selalu percaya komunitas seharusnya dibangun untuk mendukung anggotanya, dan bukan sebaliknya. Seperti negara ada untuk rakyat, dan bukan sebaliknya. 4) Jika para kritikus tak ada yang peduli kepada karya kami, atau menghina-dina, kami akan menjadi kritikus untuk karya teman-teman sendiri. Saya selalu ingat, Muhidin M. Dahlan merupakan “yang paling marah” ketika novel pertama saya Cantik Itu Luka, “dihancurkan” oleh seorang kritikus. Muhidin menulis balasan yang tak kalah sengitnya. Manifesto-manifestoan ini bisa dibikin lebih panjang, dengan pola yang tetap sama. Saya tak ingat siapa yang mencetuskannya, tapi itu hidup di pikiran kami. Buat saya: itu tetap berlaku sampai hari ini. Dan jika saya bisa menyimpulkannya dengan lebih pendek, itu bisa berbunyi: “Jika kesusastraan Indonesia tak memberi tempat untuk kami, kami akan menciptakan ruangan untuk diri kami sendiri.” Saya tak tahu apakah itu sesuatu yang aneh atau tidak. Tapi teman-teman saya mengerti hal ini. Mungkin itulah yang membuat kami merasa nyambung dan nyaman. Di dunia persilatan ada begitu banyak pendekar, tapi hanya segelintir yang bisa dipanggil “saudara seperguruan”. Lebih sering bukan karena jurus yang sama, tapi karena saling memahami bagaimana melihat dunia. Jadi siapa para penulis Indonesia terbaik saat ini? Tentu saja para penulis dari generasi saya. Generasi yang juga bukannya tanpa kelemahan. Kami berisik dan agak pemalas. Tapi: 5) Jika tak ada perahu untuk kami, kami akan belajar membuat rakit, atau cara berenang. Kalau harus tenggelam, kami tenggelam dengan sedikit keangkuhan.

Tanya-Jawab: Media Sastra

Arlian Buana: Saya ingin tahu bagaimana Mas Eka melihat peran media untuk kesusastraan (baik Indonesia maupun dunia), dan media sastra seperti apa yang sebaiknya hadir di tengah-tengah pembaca Indonesia di era internet ini.

Saya rasa media sastra (atau media secara umum) seharusnya lahir dari satu gagasan besar, dari satu kegelisahan, dan tentu saja kemudian lahir dari satu visi mengenai kesusastraan macam apa yang ingin kita ciptakan? Tanpa itu, beribu-ribu media (jurnal, majalah, atau apa pun) hanya akan menjadi tempat pajangan karya untuk memuaskan ego para penulis saja. Hal ini, menurut saya, tengah berlangsung dalam kesusastraan Indonesia yang apa boleh buat, masih didominasi apa yang disebut “sastra koran”. Jujur saja, saya sudah lumayan lama kehilangan selera dengan sastra (utamanya cerpen dan puisi) di koran. Kehilangan selera untuk membaca maupun menulis. Saya tak melihat ada visi maupun gagasan besar di sana. Baiklah, barangkali tak perlu besar, tapi setidaknya gagasan yang menarik: mau dibawa ke mana kesusastraan ini? Apa yang diinginkan koran-koran itu dengan kesusastraan kita? Kesusastraan macam apa yang sedang didesain di masa kini dan masa depan? Saya tak melihatnya. Saya hanya melihat koran-koran itu sebagai tempat pajangan bagi jalan pintas penulis pemula untuk “go national” atau penulis-penulis mapan untuk mengisi daftar hadir tahunan (seperti harimau mengencingi wilayah untuk mengumumkan, “Hey, gue masih ada lho!”). Padahal dengan kekuatan finansial dan jaringan yang luas, koran di Indonesia (di mana sebagian besar penulis terpenting Indonesia menulis di sana), harusnya bisa menjadi lokomotif bagi kemajuan kesusastraan. Baiklah, untuk lebih adil, saya rasa ini tak hanya terjadi di kita. Selama bertahun-tahun, saya juga mengikuti karya-karya sastra di tiga media internasional, yang bolehlah dianggap cukup “mainstream” untuk ukuran kesusastraan: Granta, New Yorker, dan The Paris Review. Dari masa sepuluh tahun lalu sampai hari ini, situasinya kurang-lebih sama (Haruki Murakami akan berkata, “Hey, cerpen gue diterbitin lagi, dan lagi, dan lagi.”). Media-media internasional itu barangkali sedikit beruntung karena ia menyaring tulisan-tulisan terbaik dari seluruh dunia. Kita menemukan Roberto Bolaño atau Cesar Aira dalam satu dekade terakhir, misalnya. Tapi yang terpenting sebenarnya bukan “menemukan”, tapi bagaimana media-media ini, internasional maupun nasional atau bahkan lokal, bisa ikut “menciptakan” kesusastraan. Tentu saja karya sastra diciptakan oleh para penulisnya. Tapi institusi semacam media, dengan kebijakan editorial (dan dalam kasus tertentu kemampuan finansial), bisa memberi rancangan besar arah kesusastraan. Saya tak bilang bahwa para penulis harus didikte oleh kemauan institusi media, tapi kenyataan sederhana, institusi media memiliki kekuatan untuk melakukan hal itu. Sebagai contoh, generasi emas kesusastraan di Argentina saya rasa tak akan muncul tanpa kehadiran majalah Sur, yang didukung antara lain oleh filsuf Spanyol José Ortega y Gasset. Majalah ini antara lain melahirkan Jorge Luis Borges, Julio Cortazar dan Adolfo Bioy Casares. Atau tengok kontribusi Les Temps Modernes bagi kesusastraan (dan filsafat) Prancis di masa Jean-Paul Sartre dan Jean Genet (termasuk memuat ulasan yang mengawali perpecahan persahabatan Sartre dan Albert Camus). Atau bagaimana Poedjangga Baroe melahirkan generasi Pujangga Baru. Tentu saja gagasan-gagasan yang melatar-belakangi majalah atau jurnal-jurnal tersebut barangkali tak lagi relevan atau menarik saat ini, dan tak selalu harus terus-menerus relevan dan menarik. Tapi bahwa ia membawa satu gagasan dan bagaimana ia ikut menciptakan kesusastraan (dan karya intelektual lainnya) di satu masa, saya rasa itu yang terpenting. Jadi sekali lagi, menurut saya media tentu saja sangat penting bagi kesusastraan. Buku sendiri merupakan media. Tapi tanpa gagasan cemerlang di belakangnya, tanpa visi dan kegelisahan, pada akhirnya ia hanya tempat pajangan. Hanya etalase. Lupakan saja menciptakan media sastra baru jika tujuannya hanya itu. Kita membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar tempat pajangan. Media bisa berbentuk jurnal, majalah, koran tercetak, atau jurnal online, atau sesederhana sebuah blog yang diterbitkan oleh perorangan, tapi yang penting adalah gagasan apa yang dibawa. Internet sendiri secara luas merupakan media. Ada penulis Irak yang (karena keadaan negaranya yang porak-poranda), menuliskan cerpen-cerpennya di internet. Hasilnya, ia salah satu penulis cerpen penting dunia saya kira. Namanya Hassan Blasim. Karya yang baik bisa lahir di mana saja. Jika kamu tertarik membuat media sastra, tanyakan kepada diri sendiri beberapa hal ini: 1) Apakah media yang ada memang tak memadai? 2) Apa yang akan membedakan karya-karya di media barumu dengan karya-karya di media lain? Dan yang terpenting sekali lagi: 3) Kesusastraan macam apa yang ingin kamu perjuangkan sehingga kamu merasa perlu menciptakan media baru karena media yang sudah ada tak memberinya tempat?

The Corpse Exhibition, Hassan Blasim

Di dunia yang brutal, yang lebih aneh daripada fiksi, masih diperlukankah cerita? Hari-hari ini kita melihat pembantaian penduduk Gaza oleh tentara Israel disiarkan secara langsung oleh televisi, dan para penjahat perang dengan santai duduk di sofa menjawab wawancara. Peristiwa penghancuran sebuah bangsa menjadi sama banalnya dengan kisah anak kampung memenangkan kontes menyanyi. Adakah yang tersisa untuk dituliskan sebagai sebuah cerita? Membaca kumpulan cerpen The Corpse Exhibition karya penulis Irak Hassan Blasim memberi keyakinan, tak hanya selalu ada ruang untuk cerita, tapi bahwa cerita merupakan bagian peradaban manusia yang penting untuk menghadapi penciptaan dan penggunaan senjata untuk menghancurkan peradaban. Ia salah satu penulis muda yang lahir dari rahim tradisi panjang kesusastraan Arab. Umurnya masih 40an (kelahiran 1973). Ia tumbuh di negeri yang dihajar perang tak berkesudahan (melawan Iran, menginvasi Kuwait, digempur pasukan Sekutu, perang saudara, dan yang terbaru: dikoyak-koyak gerombolan ISIS – Islamic State of Iraq and Syria). Di usia muda ia harus tercerabut dari negerinya karena perang (Perang Irak melawan Sekutu, jika saya tak salah ingat, merupakan yang pertama disiarkan langsung televisi di tahun 90an). Hassan Blasim terpaksa eksil dan menuliskan cerpen-cerpennya terutama di internet, saya rasa dengan satu kesadaran, apa pun yang bisa dilakukan jurnalisme, dongeng tetap dibutuhkan. Yang luar biasa darinya adalah, ia tak mencoba meromantisir perang apalagi penderitaan. Humornya meluap-luap, meskipun gelap dan menyayat-nyayat. Ia juga tak semata-mata menjadi saksi mata, tapi membawa dalam dirinya tradisi kesusastraan dari mana-mana. Dalam cerpen “The Corpse Exhibition”, ia menceritakan satu organisasi rahasia yang merekrut pembunuh yang harus membunuh manusia dengan penuh kreatifitas lalu memajangnya di ruang publik seolah sebagai karya seni. Tapi dengan gaya nyindir, bos organisasi ini berkata, “Kita bukan teroris dengan tujuan menjatuhkan korban sebanyak mungkin untuk mengintimidasi orang lain, atau pembunuh gila yang bekerja untuk uang. Kita juga bukan anggota Islamis fanatik atau agen rahasia …” Kita melihat humor gelap gaya Gogol dalam kisah-kisahnya, tapi juga dengan sikap iseng dan main-main ala Borges. Beberapa pengamat membandingkan gaya “visceral realism”-nya kepada Roberto Bolaño, yang saya rasa tak berlebihan. Dalam “The Killers and the Compass”, ia menceritakan seorang anak bernama Mahdi, yang di tengah kebrutalan zaman, diinisiasi oleh kakaknya untuk melihat satu pembunuhan. Dengan melihat sendiri seseorang mati dibunuh, Mahdi ditasbihkan sebagai, “Kini kau Tuhan.” Juga bisa dilihat gaya Kafka, sebagaimana kita bisa melihat pengaruh itu dalam cerpen-cerpen penulis Israel, Etgar Keret. “Setiap orang di pusat penerimaan pengungsi memiliki dua cerita – yang nyata dan yang untuk dicatat,” begitulah pembukaan cerpen “The Reality and the Record”. Tapi juga jangan dilupakan tradisi kesusastraan Arab dan Persia. Saya dongeng yang penuh pertanyaan sekaligus mengibur, misalnya dalam “A Thousand and One Kives” yang dari judulnya tentu saja mengingatkan kita pada dongeng-dongeng Syahrazad dalam Hikayat Seribu Satu Malam. Apa yang kita saksikan di Irak melalui televisi atau berita yang berseliweran, barangkali lebih brutal dan lebih tak masuk akal. Tapi dongeng tetaplah dongeng: ia mengirim kepada kita perih, tapi sekaligus memberi kita penghiburan. Dongeng barangkali mengguncang keyakinan kita, tapi dengan tulus mengulurkan tangan memberi kita pegangan. Cerpen-cerpen Hassan Blasim, meskipun secara nyata berdiri di atas puing-puing kekacauan bangsanya, memberi sejenis hiburan semacam itu, sekaligus semacam tantangan intelek. Kita sadar, kadang-kadang seorang jenius memang bisa dilahirkan dari mana saja, bahkan dari tempat-tempat yang kita pikir nyaris mustahil.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑