Journal

Apa yang Saya Katakan Ketika Saya Bicara tentang Sastra

Sebagai penulis, tak jarang saya bertemu seseorang (penulis baru maupun pembaca) yang bertanya: “Apa itu sastra? Apa bedanya sastra dan bukan sastra?” Terus-terang saya malas menjawab itu, dan menganggap itu pekerjaan kaum akademisi, bukan penulis seperti saya. Kadang-kadang, saking malasnya, meskipun saya terpaksa menjawab pertanyaan itu, saya hanya akan menjawab: “Di dunia ini hanya ada dua jenis karya. Satu, karya yang saya sukai; dua, karya yang tidak saya sukai.” Jawaban itu kadang cukup untuk membuat orang berhenti bertanya, tapi tentu saja tak memadai dan sulit dipertanggungjawabkan. Problem ini terutama sangat terasa di novel. Saya hampir jarang mendengar orang bertanya, puisi tertentu sastra atau bukan? Semua puisi, seolah dengan sendirinya adalah karya sastra, dan para penyair, semuanya sastrawan. Cerita pendek kurang lebih sama. Pokok soalnya, tentu karena novel melahirkan begitu banyak genre. Sangat banyak. Begitu banyaknya, bahkan yang disebut novel sastra biasanya tak terlalu terdengar. Di toko buku, mereka hanya menempati ruang kecil yang nyaris tak terlihat. Sebagian besar yang dibaca orang jelas bukan novel sastra. Tapi karena di sekolah mereka hanya mengenal istilah “sastra” (adakah sekolah yang mengajarkan tradisi novel romans, kriminal, kependekaran atau genre lain?), mereka mulai menganggap semua yang mereka baca sebagai sastra. Hal ini pada gilirannya, memancing reaksi para sastrawan yang tentu akan (dengan sewot) menganggap karya lain itu sebagai bukan sastra. Lalu muncullah kebingungan, jadi yang mana sastra dan mana bukan sastra? Pokok soal kedua adalah, karena sastra sering dibahas kaum akademisi (di universitas bahkan ada Fakultas Sastra), “sastra” seolah-olah memperoleh kedudukan istimewa. Ia menjadi puncak pencapaian. Tentu saja bagi saya ini juga ngawur. Dunia penulisan bukanlah Liga Sepakbola yang memiliki jenjang dari divisi bawah hingga divisi utama. Seseorang yang menulis banyak (atau bertahun-tahun) novel romans tidak serta-merta naik pangkat jadi penulis sastra. Bukan saja karena itu absurd, tapi juga karena sastra tidak berada di atas romans. Bagi saya, itu sesederhana: berbeda. Di mana bedanya? Buat saya pribadi, yang paling gampang untuk melihat sesuatu sebagai sastra adalah: karya sastra memiliki kekhasan mengangkat atau mempertanyakan persoalan di dalam dirinya (yakni kesusastraan), eksplisit maupun tidak. Cara lain yang sering saya lakukan, karena latar belakang pendidikan saya, saya lebih suka melihat sastra seperti filsafat. Sangat penting dalam filsafat, ketika seorang filsuf memberikan pemikirannya, ia akan meletakkan pemikiran itu di dalam kerangka (peta) pemikiran-pemikiran filsuf lain. Artinya, sangat tidak masuk akal seseorang menjadi filsuf tanpa memperhitungkan filsuf-filsuf lain. Dalam sastra, karena ia mengangkat dan mempertanyakan persoalan di dalam dirinya, juga sangat penting untuk tahu di mana karya-karya sastra dan penulis lain berada. Jangan heran jika mendengar Haruki Murakami berkata, karya-karyanya merupakan upaya untuk mempertemukan Dostoyevsky dan Raymond Chandler, misalnya (Damn, Murakami sangatlah beruntung, karya-karyanya disukai oleh pembaca yang sebagian besar mungkin tak tahu atau tak peduli mengenai Dostoyevsky maupun Chandler dan apa pengaruh mereka terhadap karya-karyanya!). Contoh lain, karya-karya Borges sering dianggap sebagai sastra fantasi. Tentu saja berbeda dari para penulis “genre” fantasi, Borges mengolah dan mempertanyakaan kesusastraannya sendiri: apa itu fantasi? Apa yang bisa dilakukan oleh fantasi? Di genre lain hal seperti itu bukan tuntutan utama (mungkin saja ada yang menyerempet, dan dengan itu, ia menyerempet sastra). Tentu akan ada yang bilang, jika seperti itu, karya sastra cenderung akan menjadi konsumsi para sastrawan sendiri. Bisa jadi benar dan itu bukan sesuatu yang perlu dikeluhkan! Bukankah genre lain juga memiliki pembaca yang khusus? Percayalah, tak ada satu pun genre yang ditujukan untuk semua pembaca. Tentu saja pembahasan sastra dan bukan sastra mestinya lebih panjang dan kompleks dari sekadar tulisan ini (dan itu tugas akademisi!). Tapi saya pikir, sangat penting di usia kesusastraan Indonesia yang mulai berumur, untuk memulai tugas pembenahan ini. Tujuannya tentu saja, agar penulis dan pembaca bertanggung jawab terhadap pilihannya. Jika seseorang menulis sastra, ia mesti tahu tanggung jawab pilihannya (dan tak perlu petentengan). Jika seseorang menulis novel genre, ia tak harus sewot tidak dianggap sastra. Saya pikir setiap penulis, apa pun jenis yang ditulisnya, akan dihormati oleh satu-satunya ukuran yang bisa mencakup sastra maupun bukan sastra: kemampuan menulis. Agatha Christie merupakan penulis terhormat, sama seperti James Joyce, meskipun mereka menulis di bidang yang berbeda. Kita tak perlu membanding-bandingkan mana yang lebih hebat di antara mereka, seperti tak ada gunanya membandingkan siapa yang lebih hebat di antara Sebastian Vettel (F1) dan Valentino Rossi (MotoGP). Ketiadaan pengetahuan mengenai hal ini akan berakibat buruk, seperti yang selama ini kerap terjadi: banyak penulis yang merasa karyanya (yang susah dibaca, rumit dan melantur) sebagai karya sastra, padahal yang benar seringkali sesederhana ia tak bisa menulis.

Catatan: tulisan ini berutang gagasan kepada beberapa kicauan Maggie Tiojakin di Twitter (@maggietiojakin) mengenai persoalan yang sama.

Standard
Journal

Hak untuk Disebut

Seorang penulis pemula menulis cerita pendek yang secara gagasan, kerangka alur cerita, bahkan beberapa potong kalimat, sama dengan cerita pendek penulis lain yang lebih dulu terbit. Karena soal itu, saya berdiskusi dengan teman di satu penerbit mengenai “attribution right”. Saya belum tahu apa padanannya dalam Bahasa Indonesia, tapi gampangnya kita sebut “Hak untuk Disebut”. Hak ini sangat mendasar. Saya melihat, jika tak salah, pembela copyright maupun pendukung copyleft, sama-sama menghormati hak ini. Bahkan meskipun sebuah karya sudah memasuki domain publik, sang pengarang masih berhak atas hak ini, meskipun hak ekonominya mungkin telah lenyap. Nama Herman Melville akan terus ditulis sebagai penulis Moby Dick, misalnya. Demikian pula jika kita menulis sebuah karya, dan karya itu berdasarkan karya lain, atau mengutip karya orang lain, hak ini pun muncul. Kita harus menyebutnya, misalnya dengan cara: “Karya ini berdasarkan …”, “Kalimat ini dikutip dari …” Mengabaikan hak ini tak hanya berpeluang melanggar moral, bisa pula melintasi rambu-rambu hukum. Saya tak ingin membahas aspek hukum atau definisi mengenai hal ini, saya pikir persoalan ini dengan mudah dicari untuk diketahui. Tiba-tiba saya lebih tertarik melihatnya dari sudut tantangan estetik. Adakah? Tentu saja. Saya memikirkan ini sudah agak lama, ketika membaca kumpulan cerita pendek Carlos Fuentes berjudul Happy Families. Di bagian muka, kita berhadapan dengan satu kutipan dari Anna Karenina: “Semua keluarga bahagia, bahagia dengan …” (kita tahu kelanjutan pembukaan novel yang sangat terkenal tersebut). Tentu kita bisa mengatakan meletakkan kutipan tersebut di muka buku sebagai salah satu bentuk “penyebutan” Fuentes terhadap Tolstoy, seolah-olah mengatakan, seluruh cerita pendek di buku ini, meminjam pijakan dari novel Anna Karenina. Saya menjadi tertarik pada penyebutan kutipan tersebut terutama karena fakta bahwa judul buku tersebut “Keluarga Bahagia” sementara dalam bayangan saya, Anna Karenina lebih banyak menceritakan keluarga yang tak bahagia. Tentu ada satu paradoks yang ingin dipermainkan oleh Fuentes di sini, dan dengan cara itulah, ia ingin kita membaca kumpulan cerpennya sambil membayangkan (atau jika sempat, membaca ulang) Anna Karenina. Menyertakan satu kutipan dari karya orang lain di karya kita, saya pikir mestinya memang jauh-jauh dari sekadar “gaya-gayaan”. Selain ditempatkan sebagai “penyebutan”, satu sikap kerendahan hati bahwa “karya ini terinspirasi atau didasarkan pada karya itu”, bagi saya juga membawa konsekuensi tantangan estetik: dengan satu dan lain cara, karya kita akan diperbandingkan langsung dengan karya yang beberapa potong kalimatnya kita kutip. Pertarungan macam apa yang ingin ditawarkan seorang penulis dengan memperhadapkan karyanya dengan karya (mestinya) pendahulunya? Di luar soal kutipan, saya menemukan bentuk lain “penyebutan” ini, yang di satu sisi tampak tersamar, tapi di sisi lain juga sangat mencolok. Tidak terang-terangan mengatakan bahwa “karya ini terinspirasi atau didasarkan karya itu”, tapi di sisi lain jelas-jelas merujuk ke karya yang lain. Kita tahu novel James Joyce yang mengisahkan perjalanan Leopold Bloom mengelilingi Dublin diberi judul Ulysses tentu bukan tanpa sebab. Novel itu secara terang-terangan mengakui berdiri di atas pijakan karya Homer berjudul Odyssey (yang dilatinkan menjadi Ulysses). Joyce tak perlu mengatakan apa pun lagi, judul tersebut sudah mengatakan jauh lebih banyak dari apa yang perlu dikatakan. Tentu kita bisa saja membaca novel itu tanpa perlu membaca perjalanan Odyssey, tapi sekaligus novel itu seperti “meminta” untuk dibaca bersandingan dengan epik tersebut. Di sini Joyce jelas tak hanya memberi “hak penyebutan” terhadap Homer (siapa pun itu), ia membawanya ke petualangan estetik. Hal yang hampir sama kita temui di novel 1Q84 Haruki Murakami. Dalam Bahasa Jepang, “Q” dibaca sama dengan angka “9”. Mau tak mau, novel itu juga seperti meminta dibaca beriringan dengan 1984 George Orwell. Bersifat rendah hati bahwa karya kita berdiri di atas pijakan karya orang lain, saya percaya tak akan menghancurkan reputasi kita. Itu tak semata-mata penghormatan kepada penulis dan karyanya. Bagi saya jelas: itu juga merupakan tantangan estetik. Apa yang ingin kita tawarkan ketika mengolah karya orang lain dan membentuknya menjadi karya milik kita sendiri?

Standard
Journal

Bagaimana Menilai Buku Tanpa Membacanya?

Saya sering mendengar seorang penulis mengomel karena seseorang telah menilai bukunya tanpa membaca buku itu. Sama seperti pembuat film yang mengomeli orang yang menilai filmnya tanpa menonton. Kenyataannya, sebagian besar dari kita menilai buku tanpa membacanya lebih dulu. Pikirkan hal ini: seberapa sering membeli buku setelah selesai membaca buku itu? Seumur hidup saya, bisa dihitung dengan jari saya membeli buku yang sudah saya baca sebelumnya. Padahal bukankah tindakan membeli menyertakan unsur penilaian (tidak hanya penilaian, kami bahkan mempertaruhkan uang untuk sesuatu yang belum tentu berguna dan menyenangkan)? Barangkali kita melakukan penilaian hanya bermodal sedikit komentar di sampul belakang, atau judul yang menarik, atau sampul yang indah. Saya bahkan sering menilai sebuah novel hanya dengan mambaca nama penulisnya. Jika di sampul buku tertulis nama Paulo Coelho, besar kemungkinan saya tidak membeli dan tidak membacanya, misalnya (saya pernah membaca The Alchemist, setelah itu saya merasa yakin apa pun yang ditulisnya bukan untuk saya). Dalam tindakan membeli buku (atau menonton film di bioskop), berlaku, “Pokoknya itu bagus, sampai terbukti sebaliknya.” Atau, “Pokoknya ini jelek, sampai terbukti sebaliknya.” Penulis-penulis yang namanya sudah masuk “black list” di kepala saya, apa boleh buat mungkin tak pernah bisa saya buktikan menulis karya yang menarik untuk saya baca, sebab mungkin saya tak akan melewati halaman pertama karyanya. Penulis-penulis yang saya kategorikan “Pokoknya itu bagus, sampai terbukti sebaliknya,” meskipun karyanya kemudian mengecewakan saya, biasanya cukup beruntung selesai saya baca. Misalnya Gabriel García Márquez dengan Memories of My Melancholy Whore masuk kategori itu. Demikian juga Haruki Murakami dengan After Dark. Baiklah, kita bisa menyebut itu asumsi. Tapi tetap saja itu penilaian. Kita menarik asumsi berdasarkan apa yang pernah kita alami, atau pengetahuan yang kita miliki mengenai obyek yang kita nilai. Atau bisa pula karena pengaruh lingkungan (dan ini yang biasanya direkayasa para ahli pemasaran). Membeli novel (atau buku apa pun, atau menonton film apa pun), pada dasarnya seperti membeli kucing dalam karung. Yang sering terjadi, kita percaya saja kepada penjual kucing itu (dalam hal ini nama penulisnya). Jika kita tak kenal dengan penjualnya (yakni penulisnya), kita bisa menyandarkan diri pada rekomendasi orang lain. Apa pun, kita tak bisa membuka karung itu untuk melihat seperti apa kucingnya. Dalam perjalanan saya sebagai pembaca, saya banyak membaca buku karena rekomendasi teman, atau orang-orang yang saya percaya rekomendasinya. Sering terjadi karya yang direkomendasikan oleh ratusan ribu (bahkan jutaan), kemungkinan tak menarik hati saya karena mereka direkomendasikan oleh orang-orang yang tidak saya percayai seleranya. Tapi cukup satu orang yang saya percayai, merekomendasikan satu buku, maka saya bisa berbulan-bulan mencari buku tersebut dan membacanya. Saya butuh penilaian, butuh keyakinan, sebelum melakukan usaha mencari dan membeli buku tertentu. Membeli buku dan membacanya menghabiskan uang dan waktu, sangat tolol kalau kita tidak melakukan penilaian. Atau asumsi nilai. Maka jika ada penulis yang masih ngotot meminta pembaca melakukan penilaian atas karyanya setelah selesai membaca, sebagai pembaca kita bisa menuntut balik: izinkan membaca buku sampai selesai, jika suka saya bayar buku itu, jika tidak saya kembalikan ke toko buku. Sebagai penonton film: izinkan pula saya masuk bioskop tanpa tiket dan menonton, kalau kemudian saya suka, saya bayar tiketnya, jika tidak, saya ngeloyor saja pulang. Tentu saja tuntutan pembaca semacam itu tidak sehat untuk bisnis. Sebagai pembaca saya tahu itu. Tapi sebagai pembaca, saya juga ingin mengingatkan: pencipta karya tak bisa mendikte pembacanya, termasuk jika mereka mau melakukan penilaian sebelum membaca. Membeli buku itu seperti membeli kucing dalam karung, kami mengeluarkan uang untuk sesuatu yang kami bahkan belum tahu apa isinya.

Standard
Journal

Ini atau Itu?

“Nike atau Adidas?” Sekali waktu mungkin pernah mendengar pertanyaan semacam itu. Ini sejenis permainan dimana kita memilih satu di antara dua pilihan (seringkali keduanya mewakili sejenis persaingan di bidang tertentu), menjawabnya dengan cepat tanpa memikirkannya lebih dulu, dan konon dari situ bisa ditebak kepribadian atau selera kita. Pertanyaan itu akan berlanjut dengan, “Pepsi atau Coca-Cola?”, “Honda atau Toyota?”, “Airbus atau Boeing?” dan seterusnya. Saya tak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu (kecuali mungkin jika salah satu di antara mereka membayar saya). Tapi jika kepada saya diajukan pertanyaan-pertanyaan sejenis dalam bidang kesusastraan, dengan senang hati saya akan menjawabnya. Saya akan memberanikan diri memilih, bahkan meskipun saya tak punya alasan yang memadai kenapa memilih. Hemingway atau Faulkner? Sudah jelas saya akan memilih Faulkner. Saya senang dengan sosoknya yang lebih kalem, tapi novel-novelnya memperlihatkan keliaran yang seringkali malah susah dipahami. Kawabata atau Mishima? Saya akan memilih Kawabata. Mishima seringkali terlalu mengerikan buat saya. Membaca Kawabata seperti duduk di taman selama berjam-jam hanya untuk melihat bunga-bunga sakura, tanpa kehilangan perasaan menderita dan sedih. Cervantes atau Shakespeare? Saya memilih Cervantes, meskipun saya cuma membaca satu novelnya, dibandingkan beberapa naskah drama Shakespeare yang saya baca. Saya merasa Cervantes lebih banyak menertawakan diri sendiri, sementara Shakespeare menertawakan dunia. Camus atau Sartre? Saya akan memilih Camus. Camus tampak lebih mendekati sosok novelis, sementara Sartre lebih mendekati sosok filsuf. Camus juga (sosok maupun karyanya) memberi saya gambaran mengenai pembangkang yang senyap. Gabriel García Márquez atau Mario Vargas Llosa? Jika pertanyaan ini diajukan sepuluh tahun lalu, saya akan memilih García Márquez; jika pertanyaan ini diajukan sekarang, saya memilih Vargas Llosa. Vargas Llosa terasa lebih modern bagi saya daripada García Márquez. Tolstoy atau Dostoyevsky? Saya memilih Dostoyevsky. Saya lebih suka penulis yang hampir mati dieksekusi, penuh utang karena judi dan doyan mabuk daripada penulis yang arif-bijaksana hingga nyaris menjadi sejenis nabi. Haruki Murakami atau Don DeLillo? Tentu Haruki Murakami. Saya lebih suka sastra Jepang daripada sastra Amerika. Miss Marple atau Poirot? Saya lebih suka Miss Marple, karena saya pikir, perempuan tua yang lebih banyak tinggal di rumah dan memecahkan banyak kasus kriminal terasa lebih keren daripada detektif swasta yang berkeliaran ke sana-kemari seperti Poirot. Agatha Christie atau Sir Arthur Conan Doyle? Saya memilih Sir Arthur Conan Doyle, dengan sedikit rasa humornya, yang hampir bisa dibilang tak ada di karya-karya Agatha Christie. The Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde atau The Curios Case of Benjamin Button? Sudah tentu saya memilih The Curious Case of Benjamin Button, sebab saya lebih suka cerita yang lebih ke arah fantasi daripada ke arah fiksi sains, meskipun kedua genre bisa sangat bersinggungan satu sama lain. Michael Crichton atau Sydney Sheldon? Saya memilih Sydney Sheldon, dengan plotnya yang seringkali rumit dan karakter-karakternya yang mencengangkan. Novel-novel silat China atau novel-novel koboi Amerika? Mungkin saya akan menyukai kedua-duanya, tapi sayang sekali saya jarang membaca novel koboi, sementara novel silat China banyak disadur ke dalam Bahasa Indonesia, sehingga dengan mudah saya memilih novel silat. Times New Roman atau Arial? Saya lebih senang menulis dengan Times New Roman, dan bisa dibilang tak pernah menulis dengan jenis huruf lainnya.

Standard
Journal

1Q84, Haruki Murakami

Hanya karena ditulis dengan baik oleh penulis yang baik, saya berhasil membaca novel nyaris seribu halaman ini. Selebihnya saya hanya terkesan dengan sosok Aomame. Jatuh cinta kepadanya, seperti Tengo. Terutama hanya terkesan pada satu bagian yang bercerita tentang kota kucing. Jika itu dipenggal dan menjadi cerita pendek (jika saya tak salah ingat, bagian itu memang diterbitkan di The New Yorker sebagai cerita pendek), itu akan menjadi salah satu cerita pendek terbaik Haruki Murakami. Sisanya, saya merasa 1Q84 seperti mie rebus yang kelewat lama dimasak. Percintaan yang kelewat lama, keburu lelah sebelum orgasme. Mungkin ia sedang bermaksud menulis opera sabun, yang sayangnya juga miskin melodrama.Tapi menarik juga caranya merayakan epik 1984, meskipun apa yang dilakukannya barangkali akan membuat George Orwell gelisah di dalam kuburannya. Tak ada Big Brother, tapi ada Little People. Little People sama mengerikannya dengan Big Brother, atau bahkan lebih mengerikan. Mereka tak hanya mengatur hidupmu, mereka juga mengatur kapan hujan turun dan kapan kilat menyambar. Mungkin mereka juga yang menciptakan dunia. Tak ada mata yang mengintai, tapi ada burung gagak. George Orwell sedang mimpi buruk di dalam kuburannya, seperti Franz Kafka ngompol di peti mati ketika Murakami mengeluarkan Kafka on the Shore. Baiklah, Kafka on the Shore jauh lebih baik daripada 1Q84, dan Kafka barangkali tidak ngompol. Tak hanya jauh lebih baik, itu novel yang sangat bagus. Salah satu novel Murakami yang bagus, meskipun saya lebih menyukai novel-novel pendeknya. Kafka tersenyum lebar (setelah selama hidupnya ia tampaknya jarang tersenyum) dan ia bahagia melihat Kafka kecil jatuh cinta kepada perempuan yang semestinya menjadi ibunya. Kita jarang membaca perkara Kafka dan ibunya, tapi ia banyak bercerita tentang bapaknya, dengan cara Fruedian: ia tampak ingin membunuh bapaknya. Saya rasa ini agak melantur. Apa yang saya bicarakan tadi? Oh ya, 1Q84. Sebuah novel berisi tiga buku tebal. Seperti mie rebus yang dimasak selama satu setengah jam, hingga mienya tak lagi berbentuk mie, tapi menyerupai bubur kertas. Apa boleh buat, sekali lagi, saya lebih menyukai novel-novel pendeknya. South of the Border, West of the Sun, salah satu favorit saya. Juga Sputnik Sweetheart. Padat, lucu, dan segar. Katakan selera saya agak aneh. Tapi saya merasa, dalam novel-novel pendeknya, semakin terlihat dalam cerita-cerita pendeknya, keringkasannya menjadi sesuatu yang menggema panjang. Seperti lagu pendek yang melodinya terus terdengar. Seperti jajanan pasar yang kita cicipi dan rasanya tertanam lama di ujung lidah. Seperti ciuman pacar pertama. 1Q84 sebaliknya. Sebagai karya yang sangat panjang, itu seperti menonton pertunjukan orkestra selama beberapa jam. Di beberapa bagian, saya lebih senang jika bisa tidur. Tak ada gema panjang, kecuali momen-momen pendek di sana-sini. Di luar kisah mengenai kota kucing, bagian yang berkesan adalah kisah mengenai juru tagih NHK (ayah Tengo), serta bagian Aomame di dalam apartemen yang harus menghadapi ketukan pintu, juga dari juru tagih NHK. Juga kisah mengenai Fuka-Eri, gadis cantik berumur 17 tahun yang memenangi kontes penulisan novel. Usia muda dan kecantikannya membuat saya membayangkan novelis Hitomi Kanehara (novelnya, Snakes and Earrings boleh dibaca). Bagian ketika ia “memerkosa” Tengo, merupakan momen yang paling erotis di sepanjang novel ini. Saya pikir momen ini sama mengesankannya dengan berbagai momen erotis di novel-novel Murakami lainnya, termasuk di beberapa bagian Norwegian Wood. Bagian-bagian ini berdering luar biasa, seperti karya yang berdiri sendiri. Barangkali memang begitulah cara terbaik menikmati novel ini. Kisah mengenai Aomame dan Tengo yang saling mencari, anggaplah sebagai bingkai yang menyedihkan, untuk ruang begitu banyak kisah yang berkelap-kelip di dalamnya. Bingkainya menjadi tidak penting, bahkan pagi para pembaca penggemar Rhett Butler dan Scarlett O’Hara sekalipun (maaf jika perbandingan ini berlebihan).

Standard
Journal

Seberapa Tua Penulis di Rak Buku Saya?

Hal pertama yang terpikirkan ketika membaca novel-novel Roberto Bolaño adalah, betapa sedikitnya saya membaca karya para penulis dari generasinya. Ia lahir 1953. Saya membaca esai-esainya, yang dikumpulkan di buku berjudul Between Parentheses, dan terkejut oleh kenyataan ia membaca karya-karya penulis yang selama ini kurang-lebih (lebih banyak) saya baca. Oh, tentu banyak penyair dan penulis berbahasa Spanyol yang saya tak akrab, tapi lupakan bagian itu. Ia bicara tentang Borges, tentang Cortazar, dan beberapa yang juga saya baca. Tapi ia lahir 1953, dan saya lahir 1975. Jarak 22 tahun di antara dua pembaca, saya rasa seperti ribuan tahun cahaya. Seharusnya bacaan saya jauh lebih segar daripadanya. Seharusnya saya membaca lebih banyak Bolaño dan segenerasinya. Saya pergi ke rak buku, membuka halaman biografi singkat di beberapa novel, mencari siapa saja yang lahir di tahun 50an. Saya berharap bacaan segar saya tak sekering yang saya duga. Apa boleh buat, di sana lebih banyak mumi-mumi tua. Hemingway, Faulkner, Kawabata, Hamsun. Lebih bangkotan lagi, ada Tolstoy, Dostoyevsky, Chekhov. Bahkan Shakespeare dan Cervantes. Seharusnya nama-nama itu sudah selesai dibaca sebelum lulus sekolah menengah, sehingga di umur menjelang 40, barangkali bacaan saya jauh lebih segar. Saya kembali memeriksa tahun-tahun kelahiran penulis-penulis yang ada di rak buku saya, paling tidak yang saya suka. Syukurlah, saya menemukan bahwa Haruki Murakami lahir 1949. Mo Yan 1956. Herta Muller 1953. Orhan Pamuk 1952. Bahkan saya menemukan yang lebih muda dari tahun-tahun itu. Tak banyak memang, tapi saya pikir tak terlalu menyedihkan. Yang perlu saya lakukan barangkali berkunjung lebih sering ke toko buku. Saya tak terlalu yakin apakah ada gunanya pergi ke perpustakaan untuk tujuan semacam ini. Perpustakaan di sini lebih sering seperti museum berisi hantu-hantu penulis, daripada galeri cantik penuh nama-nama kontemporer. Saya mungkin perlu memberi perhatian pada nama-nama yang lebih muda. Saya pikir tak akan banyak yang bisa saya peroleh dari penulis generasi saya. Mereka belum banyak menerbitkan buku, dan di antara yang belum banyak itu, lebih sedikit yang menonjol, dan lebih sedikit lagi yang diterjemahkan (jika ia penulis dari bahasa yang asing untuk saya). Tapi mungkin saya bisa memperoleh banyak dari generasi penulis yang lahir tahun 50an. Akhir 40an paling tidak. Sangat bagus jika 60an. Oh, tak ada maksud aneh dari omongan saya tentang ini. Saya hanya merasa perlu bacaan yang lebih segar. Karya-karya yang memberi kejutan-kejutan kecil sebagaimana telah dilakukan karya-karya yang lebih tua. Seperti Bolaño bilang, dan saya setuju sehingga saya merasa perlu mengutipnya dan menjadikannya kata-kata saya sendiri, “Saya lebih menikmati membaca daripada menulis.” Dan di atas generasi saya, ada banyak buku-buku yang berangkali perlu ditengok. Buku-buku yang tak lagi membicarakan Perang Dunia II. Buku-buku yang tak lagi membicarakan jamuan teh di rumah tradisional Jepang. Tapi buku-buku yang mengisahkan orang-orang yang mungkin mampir ke 7Eleven, yang mendengarkan musik melalui iPod (ah, bahkan mendengarkan musik lewat Walkman pun terasa sudah usang sekarang ini). Tapi sambil memikirkan hal ini, sambil tergila-gila dengan apa pun yang ditulis Bolaño, rasanya saya tak bisa meninggalkan apa-apa yang telah ditulis oleh para pendahulu Bolaño. Para penulis yang lahir di tahun 30an, atau 20an, atau bahkan beribu tahun cahaya lebih tua dari itu. Karya-karya mereka, orang-orang pintar akan mengatakannya sebagai, klasik. Dan seperti dikatakan Italo Calvino di Why Read the Classics?, “Membaca karya-karya klasik itu lebih baik daripada tidak membacanya sama sekali.” Saya rasa itu alasan yang sangat bagus, sebagaimana membaca karya-karya kontemporer juga lebih baik daripada tidak membacanya sama sekali.

Standard