Journal

Beberapa Penulis Hendak Menguasai Dunia

Bar itu sepi saja. Ada desas-desus tempat itu sudah dipesan oleh beberapa penulis yang hendak membicarakan upaya mereka menguasai dunia. Di tempat parkir, mata-mata CIA, KGB dan Mossad berkeliaran. Selain si bartender, yang menggigil ketakutan, sementara itu hanya ada dua orang duduk terpisahkan meja, sambil menonton siaran langsung El-Clasico di layar TV. Di sebelah kiri, seorang Madridista bernama Javier Marías. Di seberangnya, si orang Catalan bernama Enrique Vila-Matas. Keduanya tampak tegang melihat ke arah lapangan di TV (saya tak ingat, pertandingan itu di Santiago Bernabéu atau di Camp Nou). Sebentar lagi bakal ada adu jotos, pikir si bartender. “Sangat ironis melihat cara kedua klub bermain,” komentar si bartender untuk mencairkan suasana. “Barcelona penuh nafsu untuk menguasai bola. Fasis dan seperti Franco. Sementara Madrid liar tak jelas, anarkis dari kepala ke kaki.” Kedua penulis menoleh dan melotot ke arah si bartender, dan mengumpat bersamaan: “Tutup mulutmu!” Tak berapa lama masuk seorang lelaki dengan napas ngos-ngosan. Ia mengenakan training, sepatu jogging, dengan t-shirt bergambar The Doors. “Bartender itu benar,” kata lelaki itu menenangkan keduanya. “Lihat cara kalian menulis. Kau orang Madrid, menulis dengan gaya Madrid. A Heart So White itu benar-benar novel untuk para ningrat, untuk para penakluk. Sementara Bartleby & Co. lebih tepat dibaca para gembel yang tiduran di emper stasiun sambil mengkhayal bisa meniduri model di iklan Banana Republic.” Yang baru datang itu penulis bernama Haruki Murakami, orang Jepang yang gelisah dengan bangsanya. Yang bosan dengan apa pun yang ditinggalkan Kawabata dan Mishima. Tak hanya bosan, ia membenci mereka. Itulah alasannya ia mau datang ke bar itu, untuk bersama-sama memikirkan cara menaklukkan dunia, menciptakan tatanan dunia yang baru, yang meleburkan Barat dan Timur. “Lagipula Liga Spanyol itu membosankan,” kata Murakami lagi. “Aku lebih suka melihat Liga Inggris.” Huh, kedua penulis Spanyol mendengus (oh, salah satu dari mereka mungkin tak begitu suka disebut penulis Spanyol, meskipun menulis dalam bahasa itu). “Itu karena Liga Inggris mau memakai pemain Jepang,” kata Vila-Matas. Murakami tertawa, bagaimanapun ia tak bisa membantah itu. “Kalian selalu senang dengan Barat. Kalian senang melihat Shinji Kagawa bermain untuk Manchester United, meskipun sebenarnya ia agak payah. Orang Korea yang beberapa tahun lalu itu jauh lebih baik. Hahaha, jangan melotot, Murakami-san. Aku tahu kalian benci orang Korea. Benci semua orang Korea, kecuali, yeah, Nona Kim Taeyeon dan Im Yoona dan beberapa temannya.” Vila-Matas kembali menambahkan, “Lihat tokoh-tokohmu. Semua makan spagheti. Semua novelmu bercerita tentang spagheti.” Dan kucing, Marías menambahkan. Murakami hendak membuka mulut, tapi pintu bar terbuka dan seorang gaucho masuk. Ia mengaku gaucho, tapi tampangnya tak mirip gaucho sama sekali, meskipun benar ia orang Argentina. Ia duduk di samping mereka dan Murakami melotot ke arahnya, “Bagaimana bisa orang ini, César Aira, ada di antara kita?” Memangnya kenapa? tanya Si Catalan. “Orang ini tak bisa dipercaya. Orang yang menulis novel berjudul The Literary Conference tapi malah menceritakan kloning dan ulat raksasa, dan menulis novel berjudul How I Became a Nun tapi tak ada cerita tentang suster, tak bisa dipercaya. Ia orang pertama yang bisa menjadi pengkhianat kelompok ini.” Sabar, Ronin, kata Aira kalem. Ronin dan gaucho mestinya bersahabat. “Untuk menaklukkan dunia, kita tak hanya membutuhkan penulis-penulis berani seperti kalian, tapi juga butuh penipu licik sepertiku. Aku pewaris sejati penipu licik sejati. Borges.” Semakin malam, bar mulai sedikit ramai. Berturut-turut muncul Orhan Pamuk dan Michel Houellebecq. Pamuk serta merta mengambil remote TV dan memindahkan saluran, yang segera mengundang protes Vila-Matas dan Marías. “Aku mau menonton Fenerbahçe melawan Galatasaray,” kata Pamuk. Tapi ia tak menemukan satu pun saluran yang menayangkan pertandingan itu. Marías tertawa dan berkata, “Hahaha, Liga Turki tak ditayangkan di TV sini. Hanya Liga Eropa ditayangkan di TV.” Pamuk protes, “Tapi aku kan juga Eropa?” Kali ini Vila-Matas yang tertawa, juga Houellebecq. “Ya, ya, Eropa. Separo Eropa. Makanya siaran sepakbolanya cuma siaran separo saja, nyangkut di satelit.” Mereka semua tertawa dan Pamuk kesal, mengambil telepon genggam dan mengirim pesan singkat untuk pacarnya, Kiran Desai, “Orang-orang Eropa ini menyebalkan, Sayang. Aku lebih suka berteman dengan orang Asia. Maksudku, pacaran dengan orang Asia.” Akhirnya Houellebecq yang mengambil alih TV, mengeluarkan DVD dan memasukkan satu cakram sambil berkata, “Sudah, kita mulai saja. Sebagaimana kujanjikan, aku akan presentasi bagaimana cara kita menguasai dunia.” Seseorang entah siapa terdengar bergumam, Dasar orang Prancis, senangnya presentasi. Ketika DVD itu menyala, ternyata itu video porno. Seorang perempuan tengah digauli dua lelaki. Mereka semua terkejut. Houellebecq buru-buru mematikannya. “Maaf, maaf, salah DVD. Itu tadi …” Jangan bilang itu bahan risetmu. Bilang saja kamu doyan nonton video porno, kata Vila-Matas. “Atomised dan Platform itu isinya seks doang. Semua tentang seks,” kata Pamuk. Houellebecq berdiri, mencoba membela diri. “Itu bukan seks. Itu tentang cinta. Aku menulis tentang cinta dengan cara Dostoyevsky menulis tentang Tuhan di novel-novelnya.” Murakami nyeletuk, “Seperti judul novelmu, Whatever!” Bartenderlah yang kemudian mencoba menenangkan keributan kecil ini. Houellebecq mengganti cakram DVD dan siap meneruskan presentasinya, tapi tiba-tiba terdengar seseorang berkata dari sudut bar yang remang, “Tunggu, kita masih menunggu satu orang.” Semua menoleh. Entah sejak kapan ia ada di sana. Mereka berbisik satu sama lain, “Si Orang Hungaria. László Krasznahorkai.” Kehadiran lelaki ini membuat bar seketika menjadi dingin, dan udara terasa pekat. Semua kata-kata seperti tertahan di kepala. Keadaan yang kurang lebih sama seperti jika pemimpin gangster masuk ke ruangan. Yeah, pikir Murakami. Hungaria satu ini memang seperti gangster. Sosok maupun tulisannya. Tapi akhirnya mereka setuju untuk menunggu satu anggota lagi, sambil minum bir dan kentang goreng. Ia berdiri di pintu bar dengan sedikit kebingungan, lalu mencoba tersenyum menghampiri mereka sambil berkata, “I am sorry, I am late. I am from Indonesia. Writer Indonesia, eh, Indonesian writer. My name is …” Seseorang berkata, “Pakai saja bahasamu sendiri. Kita semua punya peradaban yang bernama penerjemahan.” Si penulis Indonesia mengangguk-angguk, duduk di salah satu kursi dan kembali memperkenalkan namanya. Eka Kurniawan. Yang lain saling pandang. “Enggak pernah dengar namanya,” gumam mereka. Si penulis Indonesia tersenyum dan kembali berkata, “Maaf, saya memang belum dikenal. Kalau boleh tahu, kalian siapa?” Maka masing-masing memperkenalkan nama: “Enrique Vila-Matas,” “Javier Marías”, “Haruki Murakami”, “Michel Houellebecq”, “László Krasznahorkai”, “dan aku César Aira.” Si penulis Indonesia mengangguk-angguk dan kembali bergumam, “Wah, sama. Kalian juga belum terkenal, ya? Saya juga belum pernah dengar nama kalian.” Sialan, gumam Houellebecq, aku selebriti tapi ternyata ada orang di kolong dunia belum mengenal namaku. Ia ingin mencekiknya. Dan si gangster László ingin menembak kepalanya.



Standard
Journal

Apa Sih, yang Dilakukan Para Penulis Hebat?

Saya kadang-kadang bertanya seperti itu. Apa sih, yang membuat mereka hebat? Apa yang bisa kita lakukan jika ingin seperti mereka? Saya tak memiliki kesempatan untuk bertanya kepada para penulis hebat favorit saya: Hamsun, Gogol, Melville, Kawabata, Borges, dan lain-lain. Bahkan sekiranya mereka masih hidup dan saya berkesempatan bertanya, saya mungkin terlalu jengah untuk bertanya. Jadi apa yang bisa saya lakukan hanyalah sedikit menduga-duga, ya, dengan cara mencari tahu apa yang mereka lakukan dalam hidupnya. Tentu saja selain menulis karya-karya hebat itu. Pertama, tentu saja karena mereka banyak membaca. Mereka pembaca-pembaca kelas berat. Tengok Borges: saya curiga ia membaca hampir semua buku di perpustakaan tempatnya bekerja, hingga di masa tua matanya nyaris buta. Yang jelas, ia membaca karya-karya klasik Inggris. Sebenarnya tak cuma Inggris. Jika kita membaca cerpen-cerpennya, kita tahu ia membaca sastra dari mana-mana. Salah satu buku favoritnya adalah Alf Layla wa Layla, atau kita mengenalnya sebagai Hikayat Seribu Satu Malam. Atau coba baca wawancara beberapa penulis di The Paris Review. Saya sering terbengong-bengong melihat luasnya bacaan mereka. Atau baca buku kumpulan esai Roberto Bolaño, Between Parenthesis, ia membaca tak hanya sesama penulis (berbahasa) Spanyol, tapi juga membaca Cormac McCarthy, misalnya. Berapa banyak buku yang sudah kamu baca? Klasik dan kontemporer? Tak hanya dari kesusastraan negerimu sendiri? Jika ingin sehebat Borges atau yang lainnya, saya rasa kamu harus membaca segila mereka. Kedua, menerjemahkan. Menerjemahkan, tak hanya membuat pengetahuanmu atas bahasa lain bertambah, tapi sekaligus mengajarimu menulis secara langsung dari penulis yang kamu terjemahkan. Kamu mengikuti jejak sang penulis, kata per kata, kalimat per kalimat, dengan bahasamu sendiri. Pada saat yang sama, kamu tengah mengasah kemampuan menulismu, ya, dalam bahasa yang kamu pergunakan. Murakami merupakan seorang penerjemah yang tekun. Ia menerjemahkan novel Raymond Chandler ke Bahasa Jepang, salah satunya. Juga menerjemahkan novel The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald. César Aira, yang novel-novelnya belakangan saya gemari, juga seorang penerjemah (sampai satu titik, bisa dibilang profesinya). Kembali ke Borges: novela Metamorfosa Kafka yang dibaca pertama kali oleh García Márquez merupakan edisi Spanyol yang diterjemahkan oleh Borges. Tak usah jauh-jauh, novelis terbaik kita, Pramoedya Ananta Toer, juga menerjemahkan banyak karya penulis luar: Steinbeck, Tolstoy, Saroyan. Ketiga, tak hanya menulis cerita, novel atau puisi, tapi tulis juga pandangan-pandanganmu tentang penulis lain, karya lain, dan kesusastraan secara umum. Sampai saat ini, salah satu esai terbaik tentang teknik menulis dua raksasa sastra Amerika saya temukan di esai pendek Gabriel García Márquez berjudul “Gabriel García Márquez Berjumpa dengan Ernest Hemingway”. Di esai itu, ia menulis tentang Hemingway dan Faulkner, dan bagaimana kedua raksasa itu berbeda secara teknik. Ngomong-ngomong soal García Márquez, jangan lupakan buku ulasan serius Mario Vargas Llosa mengenai novel Cién Anos de Soledad. Vargas Llosa juga menulis buku serius mengenai Madame Bovary dan Gustave Flaubert (Perpetual Orgy: Flaubert and Madame Bovary). Mau contoh yang lain? Michel Houellebecq menulis biografi kritis mengenai penulis cult Amerika, H.P. Lovecraft. Saya rasa, menulis esai tentang penulis dan karyanya membantu kita untuk belajar menganalisa, belajar melihat sudut-sudut pandang yang berbeda, dan dengan tanpa sadar, kita menciptakan cara berpikir sendiri, dan sudut pandang yang barangkali unik. Keempat, yang ini tak perlu dijelaskan panjang-lebar: terus menulis. Anda bisa menambahkan beberapa hal lain, yang boleh ditiru atau tidak: maraton (Murakami), mabuk (Faulkner), berburu (Hemingway), dan lain-lain. Jadi jika ada yang bertanya kepada saya bagaimana caranya menjadi penulis hebat, barangkali saya akan menjawab terutama empat perkara di atas. Jujur saja, itu bukan jaminan juga. Saya hanya berusaha menjawab dengan belajar dari penulis-penulis ini. Tapi setidaknya, mencoba melakukan apa yang mereka lakukan, saya rasa bukanlah hal buruk. Juga bukan kejahatan. Itu hal-hal baik yang layah dicoba. Setidaknya, belajar dari mereka, saya tahu bukanlah hal mudah untuk menjadi penulis yang baik, apalagi penulis yang hebat. Sebagaimana bukan hal yang mudah mengalahkan Usain Bolt dalam adu cepat lari di lintasan seratus meter.



Standard
Journal

Apa Itu Klasik? Apa Itu Cult?

Akhir-akhir ini saya sering menemukan atau mendengar orang menyebut “novel cult” atau “penulis cult”. Di sampul belakang novel Atomised Michel Houellebecq, Observer menulis “ditakdirkan sebagai buku cult.” Beberapa waktu sebelumnya, pernah membaca Chuck Palahniuk merupakan salah seorang penulis cult. Sebenarnya apa itu novel atau penulis cult? Ah, tentu saja dengan gampang kita bisa membuka internet dan mencari tahu definisinya. Dan sebagaimana bisa diduga, sebenarnya tak ada kesepakatan mengenai hal itu. Di satu sisi, itu menyiratkan penulis-penulis atau novel-novel yang memiliki penggemar (yang tak banyak tapi) kuat, yang membicarakannya dengan gila, menunggu karya-karyanya dengan fanatik (saya rasa itulah kenapa disebut cult, persis sama seperti tradisi dalam kelompok pemujaan lainnya). Haruki Murakami sekali waktu sempat bilang, kira-kira begini: “Jika aku tak menulis Norwegian Wood, aku akan menjadi penulis cult.” Dengan kata lain, gara-gara novel itu, bukunya dibaca oleh pembaca di luar pembaca tradisionalnya (yang mungkin menikmati karya-karyanya yang lain melebihi buku paling larisnya itu, atau bahkan membenci Norwegian Wood). Dengan kata lain, itu merujuk ke karya-karya yang bagus, bermutu, tapi tak terlalu populer (bahkan di kalangan kesusastraan yang jumlahnya sedikit sekalipun). Di sisi lain, ungkapan cult tampaknya juga menyiratkan novel-novel atau penulis yang tak laku (itulah kenapa pembacanya sedikit), tapi bagian pemasaran penerbit menyebutnya cult untuk memancing minat segerombolan pembaca menjadi pembaca fanatik. Apa pun itu, ini membuat saya berpikir-pikir, siapa kiranya di Indonesia yang layak disebut sebagai penulis cult? Mungkin Abdullah Harahap dan Asmaraman S. Kho Ping Hoo (keduanya penulis favorit saya)? Tapi di masa kejayaan mereka, karya-karya keduanya bisa dibilang arus-utama bacaan orang Indonesia. Bandingkan dengan H.P. Lovecraft, yang di masa hidupnya tak banyak orang membaca, tapi sekarang memancing minat pembaca baru yang keranjingan (Houellebecq bahkan sampai menulis buku tentangnya, dan Stephen King menulis esai). Saya pikir, saya ingin menyebut Manusia Harimau S.B. Chandra sebagai novel cult. Saya bertemu beberapa orang yang tergila-gila novel itu, memujanya, dan saya sendiri merasa bangga luar biasa karena memiliki novel itu dalam keadaan baik. Sekali lagi, istilah itu bisa saja sebenarnya akal-akalan bagian pemasaran penerbit saja. Jangankan cult, definisi tentang “klasik” pun tak pernah benar-benar ada kesepakatan. Saya punya definisi sederhana untuk klasik ini: karya-karya yang dibaca dan akan terus dibaca dari generasi ke generasi. Tentu saja itu juga problematik, siapa yang membaca dan terus membaca? Pada akhirnya, sebuah karya akan menjadi klasik untuk kebanyakan orang, dan sebagian lagi menjadi klasik untuk sekelompok orang tertentu. Saya bayangkan, novel-novel Pramoedya Ananta Toer akan menjadi klasik. Dulu kita membacanya, sekarang kita membacanya, dan saya yakin akan tetap dibaca beberapa generasi ke depan. Hal yang sama akan terjadi pada novel-novel dari masa Balai Pustaka: Siti Noerbaja, Salah Asoehan, Atheis. Sebagian besar mungkin karena peran para guru, dinas pendidikan, para kritikus dan sastrawan. Saya sendiri bukan penggemar novel-novel era Balai Pustaka, saya menganggapnya membosankan (beberapa saya baca sekali, dan yakin tak ingin membacanya lagi). Jadi bagi saya (mungkin minoritas), itu bukan novel klasik. Saya lebih memilih novel-novel berbahasa Melayu-Pasar dari era yang sama atau lebih tua, misal novel-novel penulis Cina Peranakan. Atau novel-novel yang ditulis oleh penulis-aktivis seperti Marco Kartodikromo. Sekali lagi, definisi ini memang tak kokoh, tapi seseorang harus memiliki pegangan, bukan? Sebuah novel bisa menjadi klasik bahkan jika Anda tak membacanya berulang-ulang, demikian pula sebaliknya. Apa boleh buat, setiap negara memerlukan deretan karya klasik ini, untuk menjadi pegangan bagi warganya apa yang sekiranya perlu dibaca. Sebagaimana sekelompok orang merasa perlu memberi cap penulis kegemarannya sebagai cult, paling tidak agar mengetahui apa yang bisa mempersatukan sekelompok kecil orang dalam bacaan dan antusiasme yang sama.



Standard
Journal

Apa yang Saya Katakan Ketika Saya Bicara tentang Sastra

Sebagai penulis, tak jarang saya bertemu seseorang (penulis baru maupun pembaca) yang bertanya: “Apa itu sastra? Apa bedanya sastra dan bukan sastra?” Terus-terang saya malas menjawab itu, dan menganggap itu pekerjaan kaum akademisi, bukan penulis seperti saya. Kadang-kadang, saking malasnya, meskipun saya terpaksa menjawab pertanyaan itu, saya hanya akan menjawab: “Di dunia ini hanya ada dua jenis karya. Satu, karya yang saya sukai; dua, karya yang tidak saya sukai.” Jawaban itu kadang cukup untuk membuat orang berhenti bertanya, tapi tentu saja tak memadai dan sulit dipertanggungjawabkan. Problem ini terutama sangat terasa di novel. Saya hampir jarang mendengar orang bertanya, puisi tertentu sastra atau bukan? Semua puisi, seolah dengan sendirinya adalah karya sastra, dan para penyair, semuanya sastrawan. Cerita pendek kurang lebih sama. Pokok soalnya, tentu karena novel melahirkan begitu banyak genre. Sangat banyak. Begitu banyaknya, bahkan yang disebut novel sastra biasanya tak terlalu terdengar. Di toko buku, mereka hanya menempati ruang kecil yang nyaris tak terlihat. Sebagian besar yang dibaca orang jelas bukan novel sastra. Tapi karena di sekolah mereka hanya mengenal istilah “sastra” (adakah sekolah yang mengajarkan tradisi novel romans, kriminal, kependekaran atau genre lain?), mereka mulai menganggap semua yang mereka baca sebagai sastra. Hal ini pada gilirannya, memancing reaksi para sastrawan yang tentu akan (dengan sewot) menganggap karya lain itu sebagai bukan sastra. Lalu muncullah kebingungan, jadi yang mana sastra dan mana bukan sastra? Pokok soal kedua adalah, karena sastra sering dibahas kaum akademisi (di universitas bahkan ada Fakultas Sastra), “sastra” seolah-olah memperoleh kedudukan istimewa. Ia menjadi puncak pencapaian. Tentu saja bagi saya ini juga ngawur. Dunia penulisan bukanlah Liga Sepakbola yang memiliki jenjang dari divisi bawah hingga divisi utama. Seseorang yang menulis banyak (atau bertahun-tahun) novel romans tidak serta-merta naik pangkat jadi penulis sastra. Bukan saja karena itu absurd, tapi juga karena sastra tidak berada di atas romans. Bagi saya, itu sesederhana: berbeda. Di mana bedanya? Buat saya pribadi, yang paling gampang untuk melihat sesuatu sebagai sastra adalah: karya sastra memiliki kekhasan mengangkat atau mempertanyakan persoalan di dalam dirinya (yakni kesusastraan), eksplisit maupun tidak. Cara lain yang sering saya lakukan, karena latar belakang pendidikan saya, saya lebih suka melihat sastra seperti filsafat. Sangat penting dalam filsafat, ketika seorang filsuf memberikan pemikirannya, ia akan meletakkan pemikiran itu di dalam kerangka (peta) pemikiran-pemikiran filsuf lain. Artinya, sangat tidak masuk akal seseorang menjadi filsuf tanpa memperhitungkan filsuf-filsuf lain. Dalam sastra, karena ia mengangkat dan mempertanyakan persoalan di dalam dirinya, juga sangat penting untuk tahu di mana karya-karya sastra dan penulis lain berada. Jangan heran jika mendengar Haruki Murakami berkata, karya-karyanya merupakan upaya untuk mempertemukan Dostoyevsky dan Raymond Chandler, misalnya (Damn, Murakami sangatlah beruntung, karya-karyanya disukai oleh pembaca yang sebagian besar mungkin tak tahu atau tak peduli mengenai Dostoyevsky maupun Chandler dan apa pengaruh mereka terhadap karya-karyanya!). Contoh lain, karya-karya Borges sering dianggap sebagai sastra fantasi. Tentu saja berbeda dari para penulis “genre” fantasi, Borges mengolah dan mempertanyakaan kesusastraannya sendiri: apa itu fantasi? Apa yang bisa dilakukan oleh fantasi? Di genre lain hal seperti itu bukan tuntutan utama (mungkin saja ada yang menyerempet, dan dengan itu, ia menyerempet sastra). Tentu akan ada yang bilang, jika seperti itu, karya sastra cenderung akan menjadi konsumsi para sastrawan sendiri. Bisa jadi benar dan itu bukan sesuatu yang perlu dikeluhkan! Bukankah genre lain juga memiliki pembaca yang khusus? Percayalah, tak ada satu pun genre yang ditujukan untuk semua pembaca. Tentu saja pembahasan sastra dan bukan sastra mestinya lebih panjang dan kompleks dari sekadar tulisan ini (dan itu tugas akademisi!). Tapi saya pikir, sangat penting di usia kesusastraan Indonesia yang mulai berumur, untuk memulai tugas pembenahan ini. Tujuannya tentu saja, agar penulis dan pembaca bertanggung jawab terhadap pilihannya. Jika seseorang menulis sastra, ia mesti tahu tanggung jawab pilihannya (dan tak perlu petentengan). Jika seseorang menulis novel genre, ia tak harus sewot tidak dianggap sastra. Saya pikir setiap penulis, apa pun jenis yang ditulisnya, akan dihormati oleh satu-satunya ukuran yang bisa mencakup sastra maupun bukan sastra: kemampuan menulis. Agatha Christie merupakan penulis terhormat, sama seperti James Joyce, meskipun mereka menulis di bidang yang berbeda. Kita tak perlu membanding-bandingkan mana yang lebih hebat di antara mereka, seperti tak ada gunanya membandingkan siapa yang lebih hebat di antara Sebastian Vettel (F1) dan Valentino Rossi (MotoGP). Ketiadaan pengetahuan mengenai hal ini akan berakibat buruk, seperti yang selama ini kerap terjadi: banyak penulis yang merasa karyanya (yang susah dibaca, rumit dan melantur) sebagai karya sastra, padahal yang benar seringkali sesederhana ia tak bisa menulis.

Catatan: tulisan ini berutang gagasan kepada beberapa kicauan Maggie Tiojakin di Twitter (@maggietiojakin) mengenai persoalan yang sama.



Standard
Journal

Hak untuk Disebut

Seorang penulis pemula menulis cerita pendek yang secara gagasan, kerangka alur cerita, bahkan beberapa potong kalimat, sama dengan cerita pendek penulis lain yang lebih dulu terbit. Karena soal itu, saya berdiskusi dengan teman di satu penerbit mengenai “attribution right”. Saya belum tahu apa padanannya dalam Bahasa Indonesia, tapi gampangnya kita sebut “Hak untuk Disebut”. Hak ini sangat mendasar. Saya melihat, jika tak salah, pembela copyright maupun pendukung copyleft, sama-sama menghormati hak ini. Bahkan meskipun sebuah karya sudah memasuki domain publik, sang pengarang masih berhak atas hak ini, meskipun hak ekonominya mungkin telah lenyap. Nama Herman Melville akan terus ditulis sebagai penulis Moby Dick, misalnya. Demikian pula jika kita menulis sebuah karya, dan karya itu berdasarkan karya lain, atau mengutip karya orang lain, hak ini pun muncul. Kita harus menyebutnya, misalnya dengan cara: “Karya ini berdasarkan …”, “Kalimat ini dikutip dari …” Mengabaikan hak ini tak hanya berpeluang melanggar moral, bisa pula melintasi rambu-rambu hukum. Saya tak ingin membahas aspek hukum atau definisi mengenai hal ini, saya pikir persoalan ini dengan mudah dicari untuk diketahui. Tiba-tiba saya lebih tertarik melihatnya dari sudut tantangan estetik. Adakah? Tentu saja. Saya memikirkan ini sudah agak lama, ketika membaca kumpulan cerita pendek Carlos Fuentes berjudul Happy Families. Di bagian muka, kita berhadapan dengan satu kutipan dari Anna Karenina: “Semua keluarga bahagia, bahagia dengan …” (kita tahu kelanjutan pembukaan novel yang sangat terkenal tersebut). Tentu kita bisa mengatakan meletakkan kutipan tersebut di muka buku sebagai salah satu bentuk “penyebutan” Fuentes terhadap Tolstoy, seolah-olah mengatakan, seluruh cerita pendek di buku ini, meminjam pijakan dari novel Anna Karenina. Saya menjadi tertarik pada penyebutan kutipan tersebut terutama karena fakta bahwa judul buku tersebut “Keluarga Bahagia” sementara dalam bayangan saya, Anna Karenina lebih banyak menceritakan keluarga yang tak bahagia. Tentu ada satu paradoks yang ingin dipermainkan oleh Fuentes di sini, dan dengan cara itulah, ia ingin kita membaca kumpulan cerpennya sambil membayangkan (atau jika sempat, membaca ulang) Anna Karenina. Menyertakan satu kutipan dari karya orang lain di karya kita, saya pikir mestinya memang jauh-jauh dari sekadar “gaya-gayaan”. Selain ditempatkan sebagai “penyebutan”, satu sikap kerendahan hati bahwa “karya ini terinspirasi atau didasarkan pada karya itu”, bagi saya juga membawa konsekuensi tantangan estetik: dengan satu dan lain cara, karya kita akan diperbandingkan langsung dengan karya yang beberapa potong kalimatnya kita kutip. Pertarungan macam apa yang ingin ditawarkan seorang penulis dengan memperhadapkan karyanya dengan karya (mestinya) pendahulunya? Di luar soal kutipan, saya menemukan bentuk lain “penyebutan” ini, yang di satu sisi tampak tersamar, tapi di sisi lain juga sangat mencolok. Tidak terang-terangan mengatakan bahwa “karya ini terinspirasi atau didasarkan karya itu”, tapi di sisi lain jelas-jelas merujuk ke karya yang lain. Kita tahu novel James Joyce yang mengisahkan perjalanan Leopold Bloom mengelilingi Dublin diberi judul Ulysses tentu bukan tanpa sebab. Novel itu secara terang-terangan mengakui berdiri di atas pijakan karya Homer berjudul Odyssey (yang dilatinkan menjadi Ulysses). Joyce tak perlu mengatakan apa pun lagi, judul tersebut sudah mengatakan jauh lebih banyak dari apa yang perlu dikatakan. Tentu kita bisa saja membaca novel itu tanpa perlu membaca perjalanan Odyssey, tapi sekaligus novel itu seperti “meminta” untuk dibaca bersandingan dengan epik tersebut. Di sini Joyce jelas tak hanya memberi “hak penyebutan” terhadap Homer (siapa pun itu), ia membawanya ke petualangan estetik. Hal yang hampir sama kita temui di novel 1Q84 Haruki Murakami. Dalam Bahasa Jepang, “Q” dibaca sama dengan angka “9”. Mau tak mau, novel itu juga seperti meminta dibaca beriringan dengan 1984 George Orwell. Bersifat rendah hati bahwa karya kita berdiri di atas pijakan karya orang lain, saya percaya tak akan menghancurkan reputasi kita. Itu tak semata-mata penghormatan kepada penulis dan karyanya. Bagi saya jelas: itu juga merupakan tantangan estetik. Apa yang ingin kita tawarkan ketika mengolah karya orang lain dan membentuknya menjadi karya milik kita sendiri?



Standard
Journal

Bagaimana Menilai Buku Tanpa Membacanya?

Saya sering mendengar seorang penulis mengomel karena seseorang telah menilai bukunya tanpa membaca buku itu. Sama seperti pembuat film yang mengomeli orang yang menilai filmnya tanpa menonton. Kenyataannya, sebagian besar dari kita menilai buku tanpa membacanya lebih dulu. Pikirkan hal ini: seberapa sering membeli buku setelah selesai membaca buku itu? Seumur hidup saya, bisa dihitung dengan jari saya membeli buku yang sudah saya baca sebelumnya. Padahal bukankah tindakan membeli menyertakan unsur penilaian (tidak hanya penilaian, kami bahkan mempertaruhkan uang untuk sesuatu yang belum tentu berguna dan menyenangkan)? Barangkali kita melakukan penilaian hanya bermodal sedikit komentar di sampul belakang, atau judul yang menarik, atau sampul yang indah. Saya bahkan sering menilai sebuah novel hanya dengan mambaca nama penulisnya. Jika di sampul buku tertulis nama Paulo Coelho, besar kemungkinan saya tidak membeli dan tidak membacanya, misalnya (saya pernah membaca The Alchemist, setelah itu saya merasa yakin apa pun yang ditulisnya bukan untuk saya). Dalam tindakan membeli buku (atau menonton film di bioskop), berlaku, “Pokoknya itu bagus, sampai terbukti sebaliknya.” Atau, “Pokoknya ini jelek, sampai terbukti sebaliknya.” Penulis-penulis yang namanya sudah masuk “black list” di kepala saya, apa boleh buat mungkin tak pernah bisa saya buktikan menulis karya yang menarik untuk saya baca, sebab mungkin saya tak akan melewati halaman pertama karyanya. Penulis-penulis yang saya kategorikan “Pokoknya itu bagus, sampai terbukti sebaliknya,” meskipun karyanya kemudian mengecewakan saya, biasanya cukup beruntung selesai saya baca. Misalnya Gabriel García Márquez dengan Memories of My Melancholy Whore masuk kategori itu. Demikian juga Haruki Murakami dengan After Dark. Baiklah, kita bisa menyebut itu asumsi. Tapi tetap saja itu penilaian. Kita menarik asumsi berdasarkan apa yang pernah kita alami, atau pengetahuan yang kita miliki mengenai obyek yang kita nilai. Atau bisa pula karena pengaruh lingkungan (dan ini yang biasanya direkayasa para ahli pemasaran). Membeli novel (atau buku apa pun, atau menonton film apa pun), pada dasarnya seperti membeli kucing dalam karung. Yang sering terjadi, kita percaya saja kepada penjual kucing itu (dalam hal ini nama penulisnya). Jika kita tak kenal dengan penjualnya (yakni penulisnya), kita bisa menyandarkan diri pada rekomendasi orang lain. Apa pun, kita tak bisa membuka karung itu untuk melihat seperti apa kucingnya. Dalam perjalanan saya sebagai pembaca, saya banyak membaca buku karena rekomendasi teman, atau orang-orang yang saya percaya rekomendasinya. Sering terjadi karya yang direkomendasikan oleh ratusan ribu (bahkan jutaan), kemungkinan tak menarik hati saya karena mereka direkomendasikan oleh orang-orang yang tidak saya percayai seleranya. Tapi cukup satu orang yang saya percayai, merekomendasikan satu buku, maka saya bisa berbulan-bulan mencari buku tersebut dan membacanya. Saya butuh penilaian, butuh keyakinan, sebelum melakukan usaha mencari dan membeli buku tertentu. Membeli buku dan membacanya menghabiskan uang dan waktu, sangat tolol kalau kita tidak melakukan penilaian. Atau asumsi nilai. Maka jika ada penulis yang masih ngotot meminta pembaca melakukan penilaian atas karyanya setelah selesai membaca, sebagai pembaca kita bisa menuntut balik: izinkan membaca buku sampai selesai, jika suka saya bayar buku itu, jika tidak saya kembalikan ke toko buku. Sebagai penonton film: izinkan pula saya masuk bioskop tanpa tiket dan menonton, kalau kemudian saya suka, saya bayar tiketnya, jika tidak, saya ngeloyor saja pulang. Tentu saja tuntutan pembaca semacam itu tidak sehat untuk bisnis. Sebagai pembaca saya tahu itu. Tapi sebagai pembaca, saya juga ingin mengingatkan: pencipta karya tak bisa mendikte pembacanya, termasuk jika mereka mau melakukan penilaian sebelum membaca. Membeli buku itu seperti membeli kucing dalam karung, kami mengeluarkan uang untuk sesuatu yang kami bahkan belum tahu apa isinya.



Standard
Journal

Ini atau Itu?

“Nike atau Adidas?” Sekali waktu mungkin pernah mendengar pertanyaan semacam itu. Ini sejenis permainan dimana kita memilih satu di antara dua pilihan (seringkali keduanya mewakili sejenis persaingan di bidang tertentu), menjawabnya dengan cepat tanpa memikirkannya lebih dulu, dan konon dari situ bisa ditebak kepribadian atau selera kita. Pertanyaan itu akan berlanjut dengan, “Pepsi atau Coca-Cola?”, “Honda atau Toyota?”, “Airbus atau Boeing?” dan seterusnya. Saya tak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu (kecuali mungkin jika salah satu di antara mereka membayar saya). Tapi jika kepada saya diajukan pertanyaan-pertanyaan sejenis dalam bidang kesusastraan, dengan senang hati saya akan menjawabnya. Saya akan memberanikan diri memilih, bahkan meskipun saya tak punya alasan yang memadai kenapa memilih. Hemingway atau Faulkner? Sudah jelas saya akan memilih Faulkner. Saya senang dengan sosoknya yang lebih kalem, tapi novel-novelnya memperlihatkan keliaran yang seringkali malah susah dipahami. Kawabata atau Mishima? Saya akan memilih Kawabata. Mishima seringkali terlalu mengerikan buat saya. Membaca Kawabata seperti duduk di taman selama berjam-jam hanya untuk melihat bunga-bunga sakura, tanpa kehilangan perasaan menderita dan sedih. Cervantes atau Shakespeare? Saya memilih Cervantes, meskipun saya cuma membaca satu novelnya, dibandingkan beberapa naskah drama Shakespeare yang saya baca. Saya merasa Cervantes lebih banyak menertawakan diri sendiri, sementara Shakespeare menertawakan dunia. Camus atau Sartre? Saya akan memilih Camus. Camus tampak lebih mendekati sosok novelis, sementara Sartre lebih mendekati sosok filsuf. Camus juga (sosok maupun karyanya) memberi saya gambaran mengenai pembangkang yang senyap. Gabriel García Márquez atau Mario Vargas Llosa? Jika pertanyaan ini diajukan sepuluh tahun lalu, saya akan memilih García Márquez; jika pertanyaan ini diajukan sekarang, saya memilih Vargas Llosa. Vargas Llosa terasa lebih modern bagi saya daripada García Márquez. Tolstoy atau Dostoyevsky? Saya memilih Dostoyevsky. Saya lebih suka penulis yang hampir mati dieksekusi, penuh utang karena judi dan doyan mabuk daripada penulis yang arif-bijaksana hingga nyaris menjadi sejenis nabi. Haruki Murakami atau Don DeLillo? Tentu Haruki Murakami. Saya lebih suka sastra Jepang daripada sastra Amerika. Miss Marple atau Poirot? Saya lebih suka Miss Marple, karena saya pikir, perempuan tua yang lebih banyak tinggal di rumah dan memecahkan banyak kasus kriminal terasa lebih keren daripada detektif swasta yang berkeliaran ke sana-kemari seperti Poirot. Agatha Christie atau Sir Arthur Conan Doyle? Saya memilih Sir Arthur Conan Doyle, dengan sedikit rasa humornya, yang hampir bisa dibilang tak ada di karya-karya Agatha Christie. The Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde atau The Curios Case of Benjamin Button? Sudah tentu saya memilih The Curious Case of Benjamin Button, sebab saya lebih suka cerita yang lebih ke arah fantasi daripada ke arah fiksi sains, meskipun kedua genre bisa sangat bersinggungan satu sama lain. Michael Crichton atau Sydney Sheldon? Saya memilih Sydney Sheldon, dengan plotnya yang seringkali rumit dan karakter-karakternya yang mencengangkan. Novel-novel silat China atau novel-novel koboi Amerika? Mungkin saya akan menyukai kedua-duanya, tapi sayang sekali saya jarang membaca novel koboi, sementara novel silat China banyak disadur ke dalam Bahasa Indonesia, sehingga dengan mudah saya memilih novel silat. Times New Roman atau Arial? Saya lebih senang menulis dengan Times New Roman, dan bisa dibilang tak pernah menulis dengan jenis huruf lainnya.



Standard