Eka Kurniawan

Journal

Tag: Haruki Murakami (page 1 of 2)

Tanya-Jawab: Media Sastra

Arlian Buana: Saya ingin tahu bagaimana Mas Eka melihat peran media untuk kesusastraan (baik Indonesia maupun dunia), dan media sastra seperti apa yang sebaiknya hadir di tengah-tengah pembaca Indonesia di era internet ini.

Saya rasa media sastra (atau media secara umum) seharusnya lahir dari satu gagasan besar, dari satu kegelisahan, dan tentu saja kemudian lahir dari satu visi mengenai kesusastraan macam apa yang ingin kita ciptakan? Tanpa itu, beribu-ribu media (jurnal, majalah, atau apa pun) hanya akan menjadi tempat pajangan karya untuk memuaskan ego para penulis saja. Hal ini, menurut saya, tengah berlangsung dalam kesusastraan Indonesia yang apa boleh buat, masih didominasi apa yang disebut “sastra koran”. Jujur saja, saya sudah lumayan lama kehilangan selera dengan sastra (utamanya cerpen dan puisi) di koran. Kehilangan selera untuk membaca maupun menulis. Saya tak melihat ada visi maupun gagasan besar di sana. Baiklah, barangkali tak perlu besar, tapi setidaknya gagasan yang menarik: mau dibawa ke mana kesusastraan ini? Apa yang diinginkan koran-koran itu dengan kesusastraan kita? Kesusastraan macam apa yang sedang didesain di masa kini dan masa depan? Saya tak melihatnya. Saya hanya melihat koran-koran itu sebagai tempat pajangan bagi jalan pintas penulis pemula untuk “go national” atau penulis-penulis mapan untuk mengisi daftar hadir tahunan (seperti harimau mengencingi wilayah untuk mengumumkan, “Hey, gue masih ada lho!”). Padahal dengan kekuatan finansial dan jaringan yang luas, koran di Indonesia (di mana sebagian besar penulis terpenting Indonesia menulis di sana), harusnya bisa menjadi lokomotif bagi kemajuan kesusastraan. Baiklah, untuk lebih adil, saya rasa ini tak hanya terjadi di kita. Selama bertahun-tahun, saya juga mengikuti karya-karya sastra di tiga media internasional, yang bolehlah dianggap cukup “mainstream” untuk ukuran kesusastraan: Granta, New Yorker, dan The Paris Review. Dari masa sepuluh tahun lalu sampai hari ini, situasinya kurang-lebih sama (Haruki Murakami akan berkata, “Hey, cerpen gue diterbitin lagi, dan lagi, dan lagi.”). Media-media internasional itu barangkali sedikit beruntung karena ia menyaring tulisan-tulisan terbaik dari seluruh dunia. Kita menemukan Roberto Bolaño atau Cesar Aira dalam satu dekade terakhir, misalnya. Tapi yang terpenting sebenarnya bukan “menemukan”, tapi bagaimana media-media ini, internasional maupun nasional atau bahkan lokal, bisa ikut “menciptakan” kesusastraan. Tentu saja karya sastra diciptakan oleh para penulisnya. Tapi institusi semacam media, dengan kebijakan editorial (dan dalam kasus tertentu kemampuan finansial), bisa memberi rancangan besar arah kesusastraan. Saya tak bilang bahwa para penulis harus didikte oleh kemauan institusi media, tapi kenyataan sederhana, institusi media memiliki kekuatan untuk melakukan hal itu. Sebagai contoh, generasi emas kesusastraan di Argentina saya rasa tak akan muncul tanpa kehadiran majalah Sur, yang didukung antara lain oleh filsuf Spanyol José Ortega y Gasset. Majalah ini antara lain melahirkan Jorge Luis Borges, Julio Cortazar dan Adolfo Bioy Casares. Atau tengok kontribusi Les Temps Modernes bagi kesusastraan (dan filsafat) Prancis di masa Jean-Paul Sartre dan Jean Genet (termasuk memuat ulasan yang mengawali perpecahan persahabatan Sartre dan Albert Camus). Atau bagaimana Poedjangga Baroe melahirkan generasi Pujangga Baru. Tentu saja gagasan-gagasan yang melatar-belakangi majalah atau jurnal-jurnal tersebut barangkali tak lagi relevan atau menarik saat ini, dan tak selalu harus terus-menerus relevan dan menarik. Tapi bahwa ia membawa satu gagasan dan bagaimana ia ikut menciptakan kesusastraan (dan karya intelektual lainnya) di satu masa, saya rasa itu yang terpenting. Jadi sekali lagi, menurut saya media tentu saja sangat penting bagi kesusastraan. Buku sendiri merupakan media. Tapi tanpa gagasan cemerlang di belakangnya, tanpa visi dan kegelisahan, pada akhirnya ia hanya tempat pajangan. Hanya etalase. Lupakan saja menciptakan media sastra baru jika tujuannya hanya itu. Kita membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar tempat pajangan. Media bisa berbentuk jurnal, majalah, koran tercetak, atau jurnal online, atau sesederhana sebuah blog yang diterbitkan oleh perorangan, tapi yang penting adalah gagasan apa yang dibawa. Internet sendiri secara luas merupakan media. Ada penulis Irak yang (karena keadaan negaranya yang porak-poranda), menuliskan cerpen-cerpennya di internet. Hasilnya, ia salah satu penulis cerpen penting dunia saya kira. Namanya Hassan Blasim. Karya yang baik bisa lahir di mana saja. Jika kamu tertarik membuat media sastra, tanyakan kepada diri sendiri beberapa hal ini: 1) Apakah media yang ada memang tak memadai? 2) Apa yang akan membedakan karya-karya di media barumu dengan karya-karya di media lain? Dan yang terpenting sekali lagi: 3) Kesusastraan macam apa yang ingin kamu perjuangkan sehingga kamu merasa perlu menciptakan media baru karena media yang sudah ada tak memberinya tempat?

Esai

Selain membaca novel, cerpen, buku-buku sejarah dan filsafat, saya senang membaca esai. Esai tentang apa saja, meskipun esai filsafat dan sastra lebih sering menarik minat saya. Bagi saya, esai merupakan perkawinan unik antara disiplin berpikir, keberanian berspekulasi, dan gaya menulis. Banyak penulis kontemporer merupakan esais-esais cemerlang. Roberto Bolaño bagi saya tak hanya diingat sebagai penulis The Savage Detectives atau Amulet, tapi juga sebagai penulis esai keren “Literature+Ilness=Ilness”. Jorge Luis Borges, selain dikenal sebagai cerpenis penting abad kedua puluh (pengaruh puisi-puisinya juga tak bisa dianggap remeh), juga dikenal sebagai “profesor” karena esai-esai sastranya (salah satu buku esainya yang saya sukai berjudul Seven Nights). Seperti cerpen-cerpennya, esai-esai Borges sering memperlihatkan spekulasi-spekulasi filosofis dengan obyek karya sastra. Misalnya dalam esai berjudul “The Labyrinths of the Detective Story and Chesterton”, ia tanpa sungkan membuka esainya dengan satu spekulasi: bahwa orang Inggris hidup dengan dua hasrat yang tak nyambung, yakni gairah aneh untuk bertualang dan gairah aneh untuk legalitas. Saya rasa, esai semacam itu tak hanya membutuhkan ketekunan membaca, ketelitian mencerna dan menganalisa, tapi juga keberanian menarik kesimpulan. Bentuk esai yang cenderung bebas, tentu menarik minat banyak penulis sastra untuk merambah genre ini, di mana mereka bisa mengguratkan gaya mereka di sana. Tapi tentu saja gaya tak hanya melulu monopoli para penulis sastra. Banyak filsuf juga menulis esai-esai mereka dengan gaya. Sudah lama kita kenal filsuf macam Marx maupun Nietzsche juga sebagai para penggaya dalam menulis. Lebih dari itu, esai juga menarik karena kadang-kadang ia merambah tema-tema yang tak umum, yang barangkali terlalu biasa untuk dijadikan bahan traktat filsafat yang tebal dan berat. Dalam esai, misalnya, Borges bisa menulis hubungan antara dinding raksasa Cina dan pembakaran buku oleh kaisar yang sama dalam “The Wall and the Books”. Beberapa waktu lalu, saya membeli buku tipis Arthur Schopenhauer hanya karena tema dan judulnya: The Horrors and Absurdities of Religion. Isinya beberapa esai mengenai agama, tentu dengan horor dan keabsurdannya. Coba bayangkan judul-judul lainnya yang menurut saya sama gokil, dan kecil kemungkinan ditemukan di buku-buku filsafat yang lebih “serius”, tebal dan berat: Fear and Trembling (Søren Kierkagaard), atau Of the Abuse of Words (John Locke). Apa sih untungnya membaca esai-esai semacam ini? Bagi saya, selain karena tema-temanya cenderung lebih sederhana dan unik, di sisi lain esai (yang baik) tak pernah kehilangan daya untuk merangsang nalar kita. Seperti membaca cerpen-cerpen yang bagus kita merasa yakin bahwa segala sesuatu bisa menjadi cerita yang menarik, membaca esai-esai yang keren cenderung membuat kita yakin bisa memikirkan segala sesuatu dan memberinya makna. Esai bisa membebaskan kita dari cengkeraman karya-karya akademik yang cenderung garing, yang meneror kita dengan judul-judul super semacam: “Wacana Pascakolonial dalam Karya Pramoedya Ananta Toer”, atau “Perspektif Feminis dalam Novel Madame Bovary”, atau “Kehendak Bebas Menurut Franz Kafka”, yang barangkali isinya tak secerdas dan semenggairahkan esai “The Storyteller” Walter Benjamin yang mengupas cerpen-cerpen Nikolai Leskov. Esai merupakan wilayah kreatif, wilayah main-main tanpa harus kehilangan hasrat intelektual. Wilayah penulisan penuh gaya tanpa kehilangan bobot. Ah, tiba-tiba saya membayangkan esai-esai gokil semacam, “Apa yang Dipikirkan Kucing Ketika Kucing Memikirkan Murakami?”, atau “Apa yang Terjadi Jika Suatu Pagi Seekor Kecoa Terbangun dan Menemukan Dirinya Berubah Menjadi Franz Kafka?”, atau “Hemingway Membunuh Hemingway”. Esai. Hal-hal seperti itu bisa ditulis dalam bentuk esai.

Tsukuru yang Tidak Berwarna

Tak terasa sudah lebih dari setahun saya tak membaca novel Haruki Murakami. Dibandingkan 1Q84, saya lebih menikmati novelnya yang baru, Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage. Novel itu mengingatkan saya kepada novel-novel terbaiknya (menurut saya), novel-novel yang pendek. Seperti biasa, judul novel merujuk pada sebuah lagu/komposisi, yang di novel itu sering dimainkan dengan piano oleh salah satu tokohnya. Bisa dibilang novelnya tak seabsurd di novel-novel tebalnya, terutama yang paling garing 1Q84, kecuali kisah tentang kota kucing. Kisah tentang Tsukuru lebih realis, meskipun tentu saja kita akan menemukan hal-hal magis di beberapa tempat (misal tentang mimpi Tsukuru, atau kisah tentang ayah temannya bertemu dengan orang yang tahu kapan akan mati). Sambil mengingat novel-novelnya yang lain, saya rasa hal terbaik dari Murakami adalah, ia bisa menjadikan hal-hal sepele, atau hal-hal umum yang kita temui sehari-hari, menjadi sesuatu yang penuh-tafsir. Perhatikan di novel ini: ia bisa membawa kita membicarakan tentang makna stasiun kereta, tentang makna orang-orang Jepang yang berjejalan masuk ke MRT, bahkan tentang apa artinya memakai mobil Lexus. (Di novel-novelnya yang lain, kita bahkan bisa diajak untuk setidaknya berpikir apa maknanya memasak spagheti sendirian, apa artinya mencari kucing hilang, dan lain-lain). Tentu saja kaum pengamat budaya populer sudah biasa melakukan hal ini, dan Murakami saya kira salah satu penulis yang memang sangat sadar tentang budaya populer ini. Ada satu hal lain yang saya baru menyadarinya: tokoh-tokoh Murakami umumnya masih muda. Jika bukan lajang, biasanya baru menikah atau menikah dan tidak punya anak. Ini sedikit mengingatkan saya pada tokoh-tokoh Knut Hamsun. Apalagi tokoh-tokoh kedua penulis ini biasanya juga bisa dikatakan terasing di masyarakat. Tentu dengan sedikit perbedaan: tokoh-tokoh Hamsun biasanya memang aneh, secara sadar membuat jarak dari masyarakat. Sementara itu tokoh-tokoh Murakami menjadi aneh karena terpental dari masyarakat. Di novel ini, misalnya, Tsukuru yang awalnya biasa-biasa saja (anak sekolah, dengan teman-teman dan cita-cita), harus terpental dari masyarakat karena tiba-tiba keempat teman dekatnya memutuskan “tak mau ditelepon dan berbicara dengannya lagi.” Masyarakat (dalam hal ini keempat temannya), menendang dan mengasingkannya. Membandingkan tokoh-tokoh Murakami dengan Hamsun saya kira bisa menjadi tinjauan lebih jauh yang menarik, terutama karena kedua penulis memiliki akar pengaruh yang sama: Dostoyevsky. Apalagi ketiganya memiliki kecenderungan untuk masuk ke kejiwaan tokoh-tokohnya secara mendalam. Meskipun begitu, saya melihat ada juga perbedaan Murakami dari Dostoyevsky. Di karya-karya Dostoyevsky, dengan tokoh-tokoh yang “terasing” dari masyarakat (yang paling terkesan oleh saya selalu Prince Mishkin di The Idiot), tokoh-tokoh itu ada di sana untuk mengolok-olok sistem masyarakat (moral, politik, budaya). Dalam novel-novel Murakami, termasuk novel Tsukuru ini, justru sebaliknya: Murakami lebih senang mengolok-olok individu melalui kaca mata “sistem masyarakat”. Kita menertawakan Tsukuru yang dibuat hancur oleh “persahabatan”, misalnya. Atau bagaimana sistem industri, kapitalis, melalui sistem kereta Tokyo, menertawakan kaum pekerja yang pulang-pergi rumah-tempat kerja dengan luyu. Tentu saja telaah lebih mendalam mengenai tokoh-tokoh mereka perlu dilakukan, tapi setidaknya itulah yang terlintas oleh saya (anggap saja ini sebagai spekulasi). Kembali ke Murakami dan bagaimana ia menafsir hal-hal keseharian, tentu saja pada dasarnya apa yang dilakukan Murakami dilakukan banyak penulis lain. Setiap novel pada dasarnya, selain bicara tentang tokoh dan peristiwa, juga bicara mengenai benda-benda dan momen-momen. Di novel-novel Kawabata, selain menemukan tokoh-tokoh yang diliputi hasrat seksual, kita juga menemukan benda-benda dan momen-momen: motif burung bangau di kain, upacara minum teh, dan lain-lain. Benda-benda dan momen-momen itu merupakan wilayah tafsir di mana kita bisa masuk ke kejiawaan tokoh (atau bahkan masyarakat, generasi, peradaban). Murakami melakukannya juga tapi dengan benda-benda dan momen-momen yang awalnya tampak tak seksi karena terlalu biasa (karena sifatnya yang barangkali global): lagu pop, Google, Facebook, atau bahkan kaus bergambar band rock. Meskipun begitu, membayangkan Murakami melulu dengan benda-benda dan momen-momen keseharian itu saya rasa mengalihkan kualitas sesungguhnya dari karya-karyanya: kisah mengenai watak-watak. Dan novel ini sebagaimana novelnya yang lain, tetap saja bicara tentang manusia dan wataknya (dan bagaimana watak ini memengaruhi kisah hidupnya). Terutama di novel ini, melebihi novel-novelnya yang lain, ia memperlihatkan salah satu tokoh yang barangkali desain wataknya paling menonjol: Tsukuru yang tidak berwarna.

Kritik

Kemarin sore, saya ngobrol dengan Maman S. Mahayana. Ia akademisi, kadang orang menyebutnya juga sebagai kritikus. Ia yang saya sebut menganjurkan “kritik sastra khas Indonesia” di tulisan saya sebelumnya di jurnal ini. Saya membaca soal itu di esainya, yang bisa ditemukan di internet dengan mudah. Dalam obrolan kami (ada Linda Christanty juga di antara kami), saya mencoba menangkap gagasan besarnya mengenai hal ini. Menurutnya, kritik sastra “barat” (sejujurnya saya tak terlalu suka istilah “barat” ini) seringkali tak cocok untuk menelaah karya sastra timur. Ia bercerita tentang kesusastraan Korea, tentang cerpen-cerpen mereka, yang tampak “berbeda”. Tak ada konflik, hampir tak ada fokus, dan kegemaran untuk menyimpang (digresi), tapi tetap saja sebuah cerita (saya tak paham kesusastraan Korea, jadi tak bisa berkomentar banyak). Juga pengaruh tradisi lisan yang sangat kuat. Baiklah, sementara mencoba memahami argumen dan gagasannya, saya perlu mengungkapkan pendapat saya sedikit lebih jelas. Pertama, membedakan barat dan timur dalam dikotomi tradisi tulis dan tradisi lisan, bagi saya merupakan penyederhanaan berlebihan. Meskipun perlu diperdebatkan, novel pertama yang kita kenal selamat sampai hari ini berasal dari Jepang: Tales of Genji, dari abad ke-11. Don Quixote (dari Spanyol) saja baru muncul beberapa abad kemudian. Dan ingat: kertas ditemukan di Cina. Dan tradisi lyric di barat, jelas menunjukkan karya yang akan dinyanyikan, artinya diucapkan, bukan dituliskan. Jadi siapa pemilik tradisi tulis dan lisan? Barat atau timur? Kedua, mengenai gaya bercerita yang nyaris tanpa konflik, senang melakukan digresi (yang mungkin dipengaruhi tradisi lisan, sekadar mengobrol), benarkah merupakan “kekhasan” sastra timur? (Saya sambil mengingat Kawabata, Murakami, dan tentu saja karya-karya klasik kita). Itu juga penyederhanaan berlebihan. Sangat mudah menemukan karya-karya “barat” yang melakukan hal itu. Memangnya apa konflik di novel One Hundred Years of Solitude? Novel itu cuma menceritakan sejarah sebuah keluarga saja, kok. Dan digresi? Bahkan Jacques the Fatalist, bisa disebut novel yang sangat merayakan digresi, melantur kemana-mana. Dan bagaimana dengan Tristram Shandy? Ketiga, selalu ada jurang antara teori dan kenyataan. “Teori sastra barat” saya yakin, jika urusannya cocok atau tidak cocok, juga tak selalu cocok untuk sastra barat sendiri. Maka demikian pula, jika kita ngotot menciptakan “teori sastra timur”, atau apa pun istilahnya. Teori, bagaimanapun, alat untuk mencoba memahami subyek. Seperti kita memilih kapak untuk membelah kayu dan pisau untuk memotong tomat. Kita menciptakan teori baru, karena merasa teori lama tak lagi memadai untuk memahami subyek. Dengan premis-premis saya di atas, bukan “kritik (atau bahkan teori) sastra khas Indonesia” yang kita butuhkan, melainkan “kritik (atau teori) sastra”. Jika teori yang ada itu tak memadai, kita coba membuat teori baru. Jika masalahnya kita merasa “ilmuwan barat” gagal memahami pantun, misalnya, maka kita sodorkan cara baru untuk memahaminya. Bukan karena kita orang Indonesia dan dengan begitu mengerti lebih baik tentang pantun, tapi karena argumen kita lebih kuat. Dan jika masalahnya kita terlalu terlena mempergunakan Strukturalisme (Prancis?) untuk menelaah karya sastra (Indonesia?), kita bisa mempergunakan alat lain, kok. Itu perkara memilih kapak atau pisau, memilih melempar pakai batu atau pakai botol. Nah, dengan asumsi itu, sebelum benar-benar menciptakan sebuah teori baru, pertama-tama kita harus melakukan hal yang sangat penting: kritik atas teori. Saya percaya, tradisi menciptakan teori tentu saja harus dibangun. Ini satu tradisi yang tak sekadar milik dunia sastra: itu merupakan bagian dari tradisi berpikir. Saya tak keberatan mengenai diciptakannya teori baru. Pada dasarnya kita harus membiasakan diri berpikir. Tapi pertama-tama, kita harus kritis terhadap latar-belakangnya. Dan tradisi menciptakan teori ini, sekali lagi saya kira harus dibangun melalui tradisi kritik atas teori. Nah, sebelum benar-benar menciptakan teori baru, pernahkan kita benar-benar melakukan kritik atas Strukturalisme Prancis, misalnya? Pernah melakukan kritik atas Formalisme Rusia? Pernah melakukan kritik atas Orientalisme? Poskolonialisme? Jangan cuma memakai teori-teori yang sudah ada, tapi kritik juga teori-teori itu, siapa tahu teori-teori tersebut hanya sampah buangan saja? Itu saya rasa pertanyaan mendasar yang muncul dari perdebatan pendek ini, pertanyaan mendasar untuk tradisi berpikir kita. Dan yang paling penting: kita menciptakan teori, bukan karena kita “timur” (atau Indonesia) dan mereka “barat”, tapi karena kita merasa memiliki argumen yang lebih baik, itu saja soalnya. Dan argumen ini, tentu saja tak hanya bisa meyakinkan orang-orang Indonesia saja, tapi semestinya bisa meyakinkan orang Ghana atau Eskimo sekalipun.

Gagasan Kecil Tentang Penerjemahan dari dan ke Bahasa yang Sama

Karena memutuskan untuk lebih banyak membaca karya-karya klasik yang telah berumur paling tidak lebih dari satu abad, saya mulai menemukan buku-buku dengan berbagai versi terjemahan. Tentu saja ini menguntungkan sebagai pembaca, saya bisa memilih dengan berbagai pertimbangan. Meskipun begitu, kadang-kadang saya malah membaca lebih dari satu versi. Misalnya Don Quixote. Pertama kalinya saya membaca terjemahan Bahasa Inggris karya Pierre Antoine Motteux (meskipun terbit pertama kali sekitar 1700, banyak diterbitkan dan karenanya murah. Itu alasan saya dulu membelinya). Beberapa tahun yang lalu, terbit terjemahan baru Don Quixote karya Edith Grossman. Bagi pembaca sastra Amerika Latin, siapa yang tak kenal Edith Grossman? Ia melanjutkan kerja Gregory Rabassa untuk menerjemahkan karya-karya Márquez yang lebih baru, belum termasuk karya-karya penulis Latin lainnya. Saya tak bisa menahan diri untuk tak membaca kembali Don Quixote dalam terjemahan baru. Hal yang sama terjadi pada Arabian Nights (atau kita kenal sebagai Hikayat Seribu Satu Malam). Ada satu terjemahan klasik karya Richard F. Burton (pertama kali terbit tahun 1885, sangat disukai oleh Borges). Hampir sebagian besar penulis Barat membaca Arabian Nights dari versi Burton ini, yang juga merupakan versi yang saya baca (bukan yang pertama, sebab saya pernah membaca versi sederhana dalam Bahasa Indonesia, yang saya lupa terbitan mana). Sebenarnya versi ini sangat lemah dalam aspek orisinalitas. Burton memakai sumber yang berbeda-beda untuk terjemahannya. Beberapa dekade yang lalu, muncul edisi “kritis” (melalui penelitian akademis yang ketat), yang dikenal sebagai “versi teks Leiden” yang dikurasi oleh Muhsin Mahdi. Terjemahan Bahasa Inggris versi ini dilakukan oleh Husain Haddawy (saya rasa terjemahan Bahasa Indonesia ada juga yang mendasarkan versi ini). Saya menyukai versi Husain Haddawy (Volume 1 bisa dibilang yang asli, Volume 2, bisa dibilang untuk menyenangkan hasrat pembaca meskipun cerita-cerita di dalamnya bukan bagian dari Arabian Nights, seperti dongeng tentang Sinbad, dll). Bahasa Inggris Haddawy terasa lebih enak dibaca, tentu karena lebih modern, daripada Burton. Tapi saya masih sering membaca Burton juga karena alasan sederhana: ada cerita-cerita yang ada di Burton tapi tak ada di Haddawy (karena metodologi Burton lemah, sering memasukkan cerita yang bukan Arabian Nights, tapi malah membuatnya jadi menarik), seperti kisah yang saya sukai “The Ruined Man Who Became Rich Again Through a Dream”. Baru-baru ini penerjemah penting Bahasa Jerman ke Inggris, Susan Bernofsky merilis versi baru The Metamorphosis Franz Kafka. Saya lupa sudah baca berapa versi novela ini. Saya bahkan pernah menerjemahkannya (yang saya rasa kualitasnya menyedihkan). Saya tak bisa menahan diri, saya pasti akan membaca versi ini begitu bukunya beredar di pasar. Untuk karya-karya dari Rusia, pasangan penerjemah Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky menjadi bintang terjemahan Bahasa Inggris versi baru dalam belasan tahun terakhir. Saya membaca beberapa karya Gogol dan Nikolai Leskov melalui terjemahan baru mereka (saya menunggu dan berharap mereka mau menerjemahkan kembali Gorky). Dari pengalaman kecil ini saya berpikir, enak sekali ya, jadi pembaca karya-karya terjemahan (terutama Bahasa Inggris, sebenarnya). Ada banyak pilihan dan untuk karya-karya agung, selalu ada versi terjemahan yang segar dalam bahasa yang modern. Tentu selain faktor-faktor kesalahan terjemahan, salah metodologi atau salah sumber, faktor “keusangan” bahasa menjadi sangat penting. Bahasa selalu tumbuh dan berkembang, dengan begitu karya terjemahan juga seringkali memerlukan pembaharuan untuk mengikuti target pembacanya. Bahkan penulis-penulis yang masih hidup pun, beberapa di antaranya memperbaharui terjemahan karyanya (dengan beragam alasan). Misalnya Milan Kundera pernah menyibukkan diri dengan merevisi hampir seluruh karyanya dalam terjemahan Bahasa Inggris. Orhan Pamuk juga mengeluarkan The Black Book dalam versi terjemahan baru. Sekali lagi, kita sebagai pembaca dimanjakan dalam perkara ini. Saya misalnya tak perlu membaca The Divine Comedy dalam terjemahan kuno, sebab ada terjemahan baru yang segar karya Clive James. Atau karya Ryūnosuke Akutagawa (Rashomon and Seventeen Other Stories) yang diterjemahkan kembali oleh salah satu penerjemah Murakami, Jay Rubin. Sialnya, kemewahan ini tak berlaku justru untuk pembaca bahasa asli karya tersebut ditulis. Orang Spanyol, misalnya, tetap membaca Don Quixote dalam Bahasa Spanyol Cervantes abad ke-17, sebagaimana orang Prancis membaca Pantagruel François Rabelais dengan Bahasa Prancis abad ke-18. Dalam kasus kita, kita tetap akan membaca Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat Asrul Sani dalam Bahasa Indonesia generasi 45 (yang untuk banyak anak muda, terasa jadul dan menjadi tembok penghalang). Saya jadi memikirkan gagasan sinting ini: bagaimana jika karya-karya klasik itu diterjemahkan ke bahasa yang sama tapi lebih modern? Tentu kita tahu, banyak beredar karya-karya klasik yang ditulis ulang (dalam bahasa yang sama) agar lebih mudah dibaca. Tapi biasanya itu versi ringkas, atau versi “enak dibaca” untuk para pemula (anak sekolah yang sedang belajar), atau bahkan versi penyederhanaan. Bukan. Maksud saya bukan itu. Maksud saya tetap terjemahan, yang ketat, dengan kualitas yang tinggi, tapi modern. Tidak boleh disadur. Proses yang sama seperti menerjemahkan dari Prancis ke Inggris atau dari Rusia ke Spanyol, tapi kali ini dari Spanyol ke Spanyol atau dari Rusia ke Rusia. Bayangkan saja suatu ketika ada edisi Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat yang “diterjemahkan ke Bahasa Indonesia modern oleh A.S. Laksana”, misalnya. Atau, Don Quixote yang “diterjemahkan ke Bahasa Spanyol modern oleh Javier Marías”. Sekali lagi, gagasan ini mungkin tidak baru, dan terdengar seperti melecehkan karya-karya agung, tapi kenapa tidak? Paling tidak, bagi saya, itu terdengar menyenangkan dan sedikit menantang. UPDATE: Baru membaca soal ini, bahwa novel (konon novel pertama di dunia) Tales of Genji karya Murasaki Shikibu dari abad 11, “diterjemahkan” ke Bahasa Jepang abad 20 oleh penyair Akiko Yosano.

Death and the Penguin, Andrey Kurkov

Jika sedang menulis cerita, saya kadang bertanya-tanya, apakah segala hal harus dijelaskan? Tentu saja yang saya maksud adalah hal-hal penting di cerita tersebut. Dan tentu saja yang saya maksud bukan konteks di luar cerita. Kita tahu, novel misalnya, merupakan dunia tersendiri. Dunia di dalam novel, ketika dibaca, kita mengasumsikan pembaca tak perlu memiliki referensi yang seragam mengenai dunia di luar novel. Sebuah novel seharusnya memberikan informasi yang cukup untuk dirinya sendiri. Pertanyaannya, seberapa besar yang dimaksud “cukup”? Jika si A jatuh cinta kepada si B, apakah saya harus menerangkan kenapa A jatuh cinta kepada B? Jawaban saya sejak lama selalu: tidak. Tak semua hal, bahkan hal penting, harus dijelas dan diterangkan. Novel bukan ensiklopedia, bahkan meskipun pengetahuan yang diguyurkan ke sana merupakan pengetahuan fiktif belaka. Bagi saya, selalu penting memberikan ruang-ruang kosong di mana, narator dan pembaca sama-sama tak tahu, tapi di ruang kosong itulah barangkali pembaca membangun sendiri ceritanya. Meskipun saya tahu jawabannya (untuk diri sendiri), pertanyaan itu selalu muncul terus, dan buku-buku tertentu menguatkan kembali keyakinan saya. Death and the Penguin karya Andrey Kurkov barangkali akan menjadi novel terakhir yang saya baca di tahun ini, sebelum berpuasa baca buku hingga tahun baru (dan tulisan ini akan menjadi yang terakhir juga di tahun ini, di blog ini). Novel ini salah satu yang menguatkan kembali keyakinan saya, di dalam cerita, kita tak hanya boleh meninggalkan ruang-ruang kosong yang tak terjelaskan, tapi juga membutuhkannya. Sedikit rekomendasi, jika Anda menyukai novel-novel Murakami, mungkin Anda perlu mencoba penulis ini. Bayangkan kucing di novel-novel Murakami, sebagai penguin di novel Kurkov ini. Baiklah, untuk sedikit memberi gambaran, saya akan sedikit memberi bocoran tentang novel tersebut. Ini novel lucu yang menghibur, sekaligus serius dan menakutkan. Tokoh utamanya seorang bujangan berumur menjelang 40, bercita-cita menjadi penulis novel, tapi malahan menjadi penulis obituari untuk koran. Bukan sembarang obituari, tapi obituari yang ditulis justru ketika subyek obituari masih hidup. Ia menulis obituari orang-orang terkenal, di negara dan situasi pasca-Sovyet. Sudah bisa diduga: orang-orang yang obituarinya ia tulis, tak lama kemudian mati, dan obituarinya muncul di koran. Ia menjadi bagian dari sebuah persekongkolan politik tingkat tinggi. Di sisi lain, ia juga memelihara seekor penguin yang diadopsinya dari kebun binatang yang kekurangan uang dan tak sanggup lagi memelihara banyak binatang. King penguin, dengan tinggi sekitar satu meter, yang tak lama kemudian menjadi bintang pemakaman. Penguin itu disewa untuk menghadiri pemakaman-pemakaman orang-orang penting, untuk menjadi bagian dari gerombolan murung. Alasannya sederhana: dengan kulit hitam-putih, sangat cocok untuk suasana berkabung. Seperti judulnya, novel ini memang tentang kematian dan penguin, tapi tentu saja menyisakan banyak bagian yang dibiarkan bolong. Siapa sebenarnya yang mengatur seluruh lalu-lintas penulisan obituari ini? Sebagai pembaca, saya bertanya-tanya, tapi begitu selesai membacanya, saya tak merasa itu menjadi hal yang penting lagi meskipun saya tetap tak tahu. Viktor, si tokoh utama yang hidup dengan penguin, juga harus menjaga seorang gadis kecil bernama Sonya. Sonya dititipkan ayahnya di sana satu malam. Viktor hanya tahu kemudian, ayah Sonya mati dan meninggalkan uang sekantung untuk anak itu. Siapa yang membunuh ayah Sonya? Apa peran penting ayah Sonya dalam seluruh operasi rahasia pembunuhan-pembunuhan ini? Saya ingin tahu, terus-terang, tapi penulis dengan kejam seperti mengejek: kamu tak perlu tahu untuk menikmati novel ini. Saya tak bisa mengelak pada kesan tersebut. Segala sesuatu memang tak perlu dijelaskan. Lebih dari itu, dalam sebuah cerita, tak hanya boleh, tapi kita membutuhkan ruang-ruang kosong. Ruang-ruang bolong yang dibiarkan misterius. Ruang itu boleh diisi, boleh tidak, oleh pembaca. Ruang kosong ini, bagi saya, seperti jeda, seperti tanda 0 dalam notasi musik. Jeda dalam musik merupakan bagian dari musik itu sendiri. Saya tak bisa membayangkan notasi musik tanpa jeda. Seperti ruang kosong melompong di sebuah lukisan, yang kita tahu, juga merupakan bagian dari lukisan. Selamat Natal dan Tahun Baru 2014. Semoga liburan memberi kita sedikit ruang kosong.

Beberapa Penulis Hendak Menguasai Dunia

Bar itu sepi saja. Ada desas-desus tempat itu sudah dipesan oleh beberapa penulis yang hendak membicarakan upaya mereka menguasai dunia. Di tempat parkir, mata-mata CIA, KGB dan Mossad berkeliaran. Selain si bartender, yang menggigil ketakutan, sementara itu hanya ada dua orang duduk terpisahkan meja, sambil menonton siaran langsung El-Clasico di layar TV. Di sebelah kiri, seorang Madridista bernama Javier Marías. Di seberangnya, si orang Catalan bernama Enrique Vila-Matas. Keduanya tampak tegang melihat ke arah lapangan di TV (saya tak ingat, pertandingan itu di Santiago Bernabéu atau di Camp Nou). Sebentar lagi bakal ada adu jotos, pikir si bartender. “Sangat ironis melihat cara kedua klub bermain,” komentar si bartender untuk mencairkan suasana. “Barcelona penuh nafsu untuk menguasai bola. Fasis dan seperti Franco. Sementara Madrid liar tak jelas, anarkis dari kepala ke kaki.” Kedua penulis menoleh dan melotot ke arah si bartender, dan mengumpat bersamaan: “Tutup mulutmu!” Tak berapa lama masuk seorang lelaki dengan napas ngos-ngosan. Ia mengenakan training, sepatu jogging, dengan t-shirt bergambar The Doors. “Bartender itu benar,” kata lelaki itu menenangkan keduanya. “Lihat cara kalian menulis. Kau orang Madrid, menulis dengan gaya Madrid. A Heart So White itu benar-benar novel untuk para ningrat, untuk para penakluk. Sementara Bartleby & Co. lebih tepat dibaca para gembel yang tiduran di emper stasiun sambil mengkhayal bisa meniduri model di iklan Banana Republic.” Yang baru datang itu penulis bernama Haruki Murakami, orang Jepang yang gelisah dengan bangsanya. Yang bosan dengan apa pun yang ditinggalkan Kawabata dan Mishima. Tak hanya bosan, ia membenci mereka. Itulah alasannya ia mau datang ke bar itu, untuk bersama-sama memikirkan cara menaklukkan dunia, menciptakan tatanan dunia yang baru, yang meleburkan Barat dan Timur. “Lagipula Liga Spanyol itu membosankan,” kata Murakami lagi. “Aku lebih suka melihat Liga Inggris.” Huh, kedua penulis Spanyol mendengus (oh, salah satu dari mereka mungkin tak begitu suka disebut penulis Spanyol, meskipun menulis dalam bahasa itu). “Itu karena Liga Inggris mau memakai pemain Jepang,” kata Vila-Matas. Murakami tertawa, bagaimanapun ia tak bisa membantah itu. “Kalian selalu senang dengan Barat. Kalian senang melihat Shinji Kagawa bermain untuk Manchester United, meskipun sebenarnya ia agak payah. Orang Korea yang beberapa tahun lalu itu jauh lebih baik. Hahaha, jangan melotot, Murakami-san. Aku tahu kalian benci orang Korea. Benci semua orang Korea, kecuali, yeah, Nona Kim Taeyeon dan Im Yoona dan beberapa temannya.” Vila-Matas kembali menambahkan, “Lihat tokoh-tokohmu. Semua makan spagheti. Semua novelmu bercerita tentang spagheti.” Dan kucing, Marías menambahkan. Murakami hendak membuka mulut, tapi pintu bar terbuka dan seorang gaucho masuk. Ia mengaku gaucho, tapi tampangnya tak mirip gaucho sama sekali, meskipun benar ia orang Argentina. Ia duduk di samping mereka dan Murakami melotot ke arahnya, “Bagaimana bisa orang ini, César Aira, ada di antara kita?” Memangnya kenapa? tanya Si Catalan. “Orang ini tak bisa dipercaya. Orang yang menulis novel berjudul The Literary Conference tapi malah menceritakan kloning dan ulat raksasa, dan menulis novel berjudul How I Became a Nun tapi tak ada cerita tentang suster, tak bisa dipercaya. Ia orang pertama yang bisa menjadi pengkhianat kelompok ini.” Sabar, Ronin, kata Aira kalem. Ronin dan gaucho mestinya bersahabat. “Untuk menaklukkan dunia, kita tak hanya membutuhkan penulis-penulis berani seperti kalian, tapi juga butuh penipu licik sepertiku. Aku pewaris sejati penipu licik sejati. Borges.” Semakin malam, bar mulai sedikit ramai. Berturut-turut muncul Orhan Pamuk dan Michel Houellebecq. Pamuk serta merta mengambil remote TV dan memindahkan saluran, yang segera mengundang protes Vila-Matas dan Marías. “Aku mau menonton Fenerbahçe melawan Galatasaray,” kata Pamuk. Tapi ia tak menemukan satu pun saluran yang menayangkan pertandingan itu. Marías tertawa dan berkata, “Hahaha, Liga Turki tak ditayangkan di TV sini. Hanya Liga Eropa ditayangkan di TV.” Pamuk protes, “Tapi aku kan juga Eropa?” Kali ini Vila-Matas yang tertawa, juga Houellebecq. “Ya, ya, Eropa. Separo Eropa. Makanya siaran sepakbolanya cuma siaran separo saja, nyangkut di satelit.” Mereka semua tertawa dan Pamuk kesal, mengambil telepon genggam dan mengirim pesan singkat untuk pacarnya, Kiran Desai, “Orang-orang Eropa ini menyebalkan, Sayang. Aku lebih suka berteman dengan orang Asia. Maksudku, pacaran dengan orang Asia.” Akhirnya Houellebecq yang mengambil alih TV, mengeluarkan DVD dan memasukkan satu cakram sambil berkata, “Sudah, kita mulai saja. Sebagaimana kujanjikan, aku akan presentasi bagaimana cara kita menguasai dunia.” Seseorang entah siapa terdengar bergumam, Dasar orang Prancis, senangnya presentasi. Ketika DVD itu menyala, ternyata itu video porno. Seorang perempuan tengah digauli dua lelaki. Mereka semua terkejut. Houellebecq buru-buru mematikannya. “Maaf, maaf, salah DVD. Itu tadi …” Jangan bilang itu bahan risetmu. Bilang saja kamu doyan nonton video porno, kata Vila-Matas. “Atomised dan Platform itu isinya seks doang. Semua tentang seks,” kata Pamuk. Houellebecq berdiri, mencoba membela diri. “Itu bukan seks. Itu tentang cinta. Aku menulis tentang cinta dengan cara Dostoyevsky menulis tentang Tuhan di novel-novelnya.” Murakami nyeletuk, “Seperti judul novelmu, Whatever!” Bartenderlah yang kemudian mencoba menenangkan keributan kecil ini. Houellebecq mengganti cakram DVD dan siap meneruskan presentasinya, tapi tiba-tiba terdengar seseorang berkata dari sudut bar yang remang, “Tunggu, kita masih menunggu satu orang.” Semua menoleh. Entah sejak kapan ia ada di sana. Mereka berbisik satu sama lain, “Si Orang Hungaria. László Krasznahorkai.” Kehadiran lelaki ini membuat bar seketika menjadi dingin, dan udara terasa pekat. Semua kata-kata seperti tertahan di kepala. Keadaan yang kurang lebih sama seperti jika pemimpin gangster masuk ke ruangan. Yeah, pikir Murakami. Hungaria satu ini memang seperti gangster. Sosok maupun tulisannya. Tapi akhirnya mereka setuju untuk menunggu satu anggota lagi, sambil minum bir dan kentang goreng. Ia berdiri di pintu bar dengan sedikit kebingungan, lalu mencoba tersenyum menghampiri mereka sambil berkata, “I am sorry, I am late. I am from Indonesia. Writer Indonesia, eh, Indonesian writer. My name is …” Seseorang berkata, “Pakai saja bahasamu sendiri. Kita semua punya peradaban yang bernama penerjemahan.” Si penulis Indonesia mengangguk-angguk, duduk di salah satu kursi dan kembali memperkenalkan namanya. Eka Kurniawan. Yang lain saling pandang. “Enggak pernah dengar namanya,” gumam mereka. Si penulis Indonesia tersenyum dan kembali berkata, “Maaf, saya memang belum dikenal. Kalau boleh tahu, kalian siapa?” Maka masing-masing memperkenalkan nama: “Enrique Vila-Matas,” “Javier Marías”, “Haruki Murakami”, “Michel Houellebecq”, “László Krasznahorkai”, “dan aku César Aira.” Si penulis Indonesia mengangguk-angguk dan kembali bergumam, “Wah, sama. Kalian juga belum terkenal, ya? Saya juga belum pernah dengar nama kalian.” Sialan, gumam Houellebecq, aku selebriti tapi ternyata ada orang di kolong dunia belum mengenal namaku. Ia ingin mencekiknya. Dan si gangster László ingin menembak kepalanya.

Apa Sih, yang Dilakukan Para Penulis Hebat?

Saya kadang-kadang bertanya seperti itu. Apa sih, yang membuat mereka hebat? Apa yang bisa kita lakukan jika ingin seperti mereka? Saya tak memiliki kesempatan untuk bertanya kepada para penulis hebat favorit saya: Hamsun, Gogol, Melville, Kawabata, Borges, dan lain-lain. Bahkan sekiranya mereka masih hidup dan saya berkesempatan bertanya, saya mungkin terlalu jengah untuk bertanya. Jadi apa yang bisa saya lakukan hanyalah sedikit menduga-duga, ya, dengan cara mencari tahu apa yang mereka lakukan dalam hidupnya. Tentu saja selain menulis karya-karya hebat itu. Pertama, tentu saja karena mereka banyak membaca. Mereka pembaca-pembaca kelas berat. Tengok Borges: saya curiga ia membaca hampir semua buku di perpustakaan tempatnya bekerja, hingga di masa tua matanya nyaris buta. Yang jelas, ia membaca karya-karya klasik Inggris. Sebenarnya tak cuma Inggris. Jika kita membaca cerpen-cerpennya, kita tahu ia membaca sastra dari mana-mana. Salah satu buku favoritnya adalah Alf Layla wa Layla, atau kita mengenalnya sebagai Hikayat Seribu Satu Malam. Atau coba baca wawancara beberapa penulis di The Paris Review. Saya sering terbengong-bengong melihat luasnya bacaan mereka. Atau baca buku kumpulan esai Roberto Bolaño, Between Parenthesis, ia membaca tak hanya sesama penulis (berbahasa) Spanyol, tapi juga membaca Cormac McCarthy, misalnya. Berapa banyak buku yang sudah kamu baca? Klasik dan kontemporer? Tak hanya dari kesusastraan negerimu sendiri? Jika ingin sehebat Borges atau yang lainnya, saya rasa kamu harus membaca segila mereka. Kedua, menerjemahkan. Menerjemahkan, tak hanya membuat pengetahuanmu atas bahasa lain bertambah, tapi sekaligus mengajarimu menulis secara langsung dari penulis yang kamu terjemahkan. Kamu mengikuti jejak sang penulis, kata per kata, kalimat per kalimat, dengan bahasamu sendiri. Pada saat yang sama, kamu tengah mengasah kemampuan menulismu, ya, dalam bahasa yang kamu pergunakan. Murakami merupakan seorang penerjemah yang tekun. Ia menerjemahkan novel Raymond Chandler ke Bahasa Jepang, salah satunya. Juga menerjemahkan novel The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald. César Aira, yang novel-novelnya belakangan saya gemari, juga seorang penerjemah (sampai satu titik, bisa dibilang profesinya). Kembali ke Borges: novela Metamorfosa Kafka yang dibaca pertama kali oleh García Márquez merupakan edisi Spanyol yang diterjemahkan oleh Borges. Tak usah jauh-jauh, novelis terbaik kita, Pramoedya Ananta Toer, juga menerjemahkan banyak karya penulis luar: Steinbeck, Tolstoy, Saroyan. Ketiga, tak hanya menulis cerita, novel atau puisi, tapi tulis juga pandangan-pandanganmu tentang penulis lain, karya lain, dan kesusastraan secara umum. Sampai saat ini, salah satu esai terbaik tentang teknik menulis dua raksasa sastra Amerika saya temukan di esai pendek Gabriel García Márquez berjudul “Gabriel García Márquez Berjumpa dengan Ernest Hemingway”. Di esai itu, ia menulis tentang Hemingway dan Faulkner, dan bagaimana kedua raksasa itu berbeda secara teknik. Ngomong-ngomong soal García Márquez, jangan lupakan buku ulasan serius Mario Vargas Llosa mengenai novel Cién Anos de Soledad. Vargas Llosa juga menulis buku serius mengenai Madame Bovary dan Gustave Flaubert (Perpetual Orgy: Flaubert and Madame Bovary). Mau contoh yang lain? Michel Houellebecq menulis biografi kritis mengenai penulis cult Amerika, H.P. Lovecraft. Saya rasa, menulis esai tentang penulis dan karyanya membantu kita untuk belajar menganalisa, belajar melihat sudut-sudut pandang yang berbeda, dan dengan tanpa sadar, kita menciptakan cara berpikir sendiri, dan sudut pandang yang barangkali unik. Keempat, yang ini tak perlu dijelaskan panjang-lebar: terus menulis. Anda bisa menambahkan beberapa hal lain, yang boleh ditiru atau tidak: maraton (Murakami), mabuk (Faulkner), berburu (Hemingway), dan lain-lain. Jadi jika ada yang bertanya kepada saya bagaimana caranya menjadi penulis hebat, barangkali saya akan menjawab terutama empat perkara di atas. Jujur saja, itu bukan jaminan juga. Saya hanya berusaha menjawab dengan belajar dari penulis-penulis ini. Tapi setidaknya, mencoba melakukan apa yang mereka lakukan, saya rasa bukanlah hal buruk. Juga bukan kejahatan. Itu hal-hal baik yang layah dicoba. Setidaknya, belajar dari mereka, saya tahu bukanlah hal mudah untuk menjadi penulis yang baik, apalagi penulis yang hebat. Sebagaimana bukan hal yang mudah mengalahkan Usain Bolt dalam adu cepat lari di lintasan seratus meter.

Apa Itu Klasik? Apa Itu Cult?

Akhir-akhir ini saya sering menemukan atau mendengar orang menyebut “novel cult” atau “penulis cult”. Di sampul belakang novel Atomised Michel Houellebecq, Observer menulis “ditakdirkan sebagai buku cult.” Beberapa waktu sebelumnya, pernah membaca Chuck Palahniuk merupakan salah seorang penulis cult. Sebenarnya apa itu novel atau penulis cult? Ah, tentu saja dengan gampang kita bisa membuka internet dan mencari tahu definisinya. Dan sebagaimana bisa diduga, sebenarnya tak ada kesepakatan mengenai hal itu. Di satu sisi, itu menyiratkan penulis-penulis atau novel-novel yang memiliki penggemar (yang tak banyak tapi) kuat, yang membicarakannya dengan gila, menunggu karya-karyanya dengan fanatik (saya rasa itulah kenapa disebut cult, persis sama seperti tradisi dalam kelompok pemujaan lainnya). Haruki Murakami sekali waktu sempat bilang, kira-kira begini: “Jika aku tak menulis Norwegian Wood, aku akan menjadi penulis cult.” Dengan kata lain, gara-gara novel itu, bukunya dibaca oleh pembaca di luar pembaca tradisionalnya (yang mungkin menikmati karya-karyanya yang lain melebihi buku paling larisnya itu, atau bahkan membenci Norwegian Wood). Dengan kata lain, itu merujuk ke karya-karya yang bagus, bermutu, tapi tak terlalu populer (bahkan di kalangan kesusastraan yang jumlahnya sedikit sekalipun). Di sisi lain, ungkapan cult tampaknya juga menyiratkan novel-novel atau penulis yang tak laku (itulah kenapa pembacanya sedikit), tapi bagian pemasaran penerbit menyebutnya cult untuk memancing minat segerombolan pembaca menjadi pembaca fanatik. Apa pun itu, ini membuat saya berpikir-pikir, siapa kiranya di Indonesia yang layak disebut sebagai penulis cult? Mungkin Abdullah Harahap dan Asmaraman S. Kho Ping Hoo (keduanya penulis favorit saya)? Tapi di masa kejayaan mereka, karya-karya keduanya bisa dibilang arus-utama bacaan orang Indonesia. Bandingkan dengan H.P. Lovecraft, yang di masa hidupnya tak banyak orang membaca, tapi sekarang memancing minat pembaca baru yang keranjingan (Houellebecq bahkan sampai menulis buku tentangnya, dan Stephen King menulis esai). Saya pikir, saya ingin menyebut Manusia Harimau S.B. Chandra sebagai novel cult. Saya bertemu beberapa orang yang tergila-gila novel itu, memujanya, dan saya sendiri merasa bangga luar biasa karena memiliki novel itu dalam keadaan baik. Sekali lagi, istilah itu bisa saja sebenarnya akal-akalan bagian pemasaran penerbit saja. Jangankan cult, definisi tentang “klasik” pun tak pernah benar-benar ada kesepakatan. Saya punya definisi sederhana untuk klasik ini: karya-karya yang dibaca dan akan terus dibaca dari generasi ke generasi. Tentu saja itu juga problematik, siapa yang membaca dan terus membaca? Pada akhirnya, sebuah karya akan menjadi klasik untuk kebanyakan orang, dan sebagian lagi menjadi klasik untuk sekelompok orang tertentu. Saya bayangkan, novel-novel Pramoedya Ananta Toer akan menjadi klasik. Dulu kita membacanya, sekarang kita membacanya, dan saya yakin akan tetap dibaca beberapa generasi ke depan. Hal yang sama akan terjadi pada novel-novel dari masa Balai Pustaka: Siti Noerbaja, Salah Asoehan, Atheis. Sebagian besar mungkin karena peran para guru, dinas pendidikan, para kritikus dan sastrawan. Saya sendiri bukan penggemar novel-novel era Balai Pustaka, saya menganggapnya membosankan (beberapa saya baca sekali, dan yakin tak ingin membacanya lagi). Jadi bagi saya (mungkin minoritas), itu bukan novel klasik. Saya lebih memilih novel-novel berbahasa Melayu-Pasar dari era yang sama atau lebih tua, misal novel-novel penulis Cina Peranakan. Atau novel-novel yang ditulis oleh penulis-aktivis seperti Marco Kartodikromo. Sekali lagi, definisi ini memang tak kokoh, tapi seseorang harus memiliki pegangan, bukan? Sebuah novel bisa menjadi klasik bahkan jika Anda tak membacanya berulang-ulang, demikian pula sebaliknya. Apa boleh buat, setiap negara memerlukan deretan karya klasik ini, untuk menjadi pegangan bagi warganya apa yang sekiranya perlu dibaca. Sebagaimana sekelompok orang merasa perlu memberi cap penulis kegemarannya sebagai cult, paling tidak agar mengetahui apa yang bisa mempersatukan sekelompok kecil orang dalam bacaan dan antusiasme yang sama.

Apa yang Saya Katakan Ketika Saya Bicara tentang Sastra

Sebagai penulis, tak jarang saya bertemu seseorang (penulis baru maupun pembaca) yang bertanya: “Apa itu sastra? Apa bedanya sastra dan bukan sastra?” Terus-terang saya malas menjawab itu, dan menganggap itu pekerjaan kaum akademisi, bukan penulis seperti saya. Kadang-kadang, saking malasnya, meskipun saya terpaksa menjawab pertanyaan itu, saya hanya akan menjawab: “Di dunia ini hanya ada dua jenis karya. Satu, karya yang saya sukai; dua, karya yang tidak saya sukai.” Jawaban itu kadang cukup untuk membuat orang berhenti bertanya, tapi tentu saja tak memadai dan sulit dipertanggungjawabkan. Problem ini terutama sangat terasa di novel. Saya hampir jarang mendengar orang bertanya, puisi tertentu sastra atau bukan? Semua puisi, seolah dengan sendirinya adalah karya sastra, dan para penyair, semuanya sastrawan. Cerita pendek kurang lebih sama. Pokok soalnya, tentu karena novel melahirkan begitu banyak genre. Sangat banyak. Begitu banyaknya, bahkan yang disebut novel sastra biasanya tak terlalu terdengar. Di toko buku, mereka hanya menempati ruang kecil yang nyaris tak terlihat. Sebagian besar yang dibaca orang jelas bukan novel sastra. Tapi karena di sekolah mereka hanya mengenal istilah “sastra” (adakah sekolah yang mengajarkan tradisi novel romans, kriminal, kependekaran atau genre lain?), mereka mulai menganggap semua yang mereka baca sebagai sastra. Hal ini pada gilirannya, memancing reaksi para sastrawan yang tentu akan (dengan sewot) menganggap karya lain itu sebagai bukan sastra. Lalu muncullah kebingungan, jadi yang mana sastra dan mana bukan sastra? Pokok soal kedua adalah, karena sastra sering dibahas kaum akademisi (di universitas bahkan ada Fakultas Sastra), “sastra” seolah-olah memperoleh kedudukan istimewa. Ia menjadi puncak pencapaian. Tentu saja bagi saya ini juga ngawur. Dunia penulisan bukanlah Liga Sepakbola yang memiliki jenjang dari divisi bawah hingga divisi utama. Seseorang yang menulis banyak (atau bertahun-tahun) novel romans tidak serta-merta naik pangkat jadi penulis sastra. Bukan saja karena itu absurd, tapi juga karena sastra tidak berada di atas romans. Bagi saya, itu sesederhana: berbeda. Di mana bedanya? Buat saya pribadi, yang paling gampang untuk melihat sesuatu sebagai sastra adalah: karya sastra memiliki kekhasan mengangkat atau mempertanyakan persoalan di dalam dirinya (yakni kesusastraan), eksplisit maupun tidak. Cara lain yang sering saya lakukan, karena latar belakang pendidikan saya, saya lebih suka melihat sastra seperti filsafat. Sangat penting dalam filsafat, ketika seorang filsuf memberikan pemikirannya, ia akan meletakkan pemikiran itu di dalam kerangka (peta) pemikiran-pemikiran filsuf lain. Artinya, sangat tidak masuk akal seseorang menjadi filsuf tanpa memperhitungkan filsuf-filsuf lain. Dalam sastra, karena ia mengangkat dan mempertanyakan persoalan di dalam dirinya, juga sangat penting untuk tahu di mana karya-karya sastra dan penulis lain berada. Jangan heran jika mendengar Haruki Murakami berkata, karya-karyanya merupakan upaya untuk mempertemukan Dostoyevsky dan Raymond Chandler, misalnya (Damn, Murakami sangatlah beruntung, karya-karyanya disukai oleh pembaca yang sebagian besar mungkin tak tahu atau tak peduli mengenai Dostoyevsky maupun Chandler dan apa pengaruh mereka terhadap karya-karyanya!). Contoh lain, karya-karya Borges sering dianggap sebagai sastra fantasi. Tentu saja berbeda dari para penulis “genre” fantasi, Borges mengolah dan mempertanyakaan kesusastraannya sendiri: apa itu fantasi? Apa yang bisa dilakukan oleh fantasi? Di genre lain hal seperti itu bukan tuntutan utama (mungkin saja ada yang menyerempet, dan dengan itu, ia menyerempet sastra). Tentu akan ada yang bilang, jika seperti itu, karya sastra cenderung akan menjadi konsumsi para sastrawan sendiri. Bisa jadi benar dan itu bukan sesuatu yang perlu dikeluhkan! Bukankah genre lain juga memiliki pembaca yang khusus? Percayalah, tak ada satu pun genre yang ditujukan untuk semua pembaca. Tentu saja pembahasan sastra dan bukan sastra mestinya lebih panjang dan kompleks dari sekadar tulisan ini (dan itu tugas akademisi!). Tapi saya pikir, sangat penting di usia kesusastraan Indonesia yang mulai berumur, untuk memulai tugas pembenahan ini. Tujuannya tentu saja, agar penulis dan pembaca bertanggung jawab terhadap pilihannya. Jika seseorang menulis sastra, ia mesti tahu tanggung jawab pilihannya (dan tak perlu petentengan). Jika seseorang menulis novel genre, ia tak harus sewot tidak dianggap sastra. Saya pikir setiap penulis, apa pun jenis yang ditulisnya, akan dihormati oleh satu-satunya ukuran yang bisa mencakup sastra maupun bukan sastra: kemampuan menulis. Agatha Christie merupakan penulis terhormat, sama seperti James Joyce, meskipun mereka menulis di bidang yang berbeda. Kita tak perlu membanding-bandingkan mana yang lebih hebat di antara mereka, seperti tak ada gunanya membandingkan siapa yang lebih hebat di antara Sebastian Vettel (F1) dan Valentino Rossi (MotoGP). Ketiadaan pengetahuan mengenai hal ini akan berakibat buruk, seperti yang selama ini kerap terjadi: banyak penulis yang merasa karyanya (yang susah dibaca, rumit dan melantur) sebagai karya sastra, padahal yang benar seringkali sesederhana ia tak bisa menulis.

Catatan: tulisan ini berutang gagasan kepada beberapa kicauan Maggie Tiojakin di Twitter (@maggietiojakin) mengenai persoalan yang sama.

Older posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑