Eka Kurniawan

Journal

Tag: H.B. Jassin

Cerita-cerita Seram Riyono Pratikto, Hal-hal yang Kita Tahu, Hal-hal yang Kita Tidak Tahu, dan Kenapa Kita Takut

Kadang-kadang ada hari-hari yang terasa kelabu, tak menggairahkan, dan membosankan. Hari ini merupakan hari semacam itu bagi saya. Saya memutuskan untuk mampir ke toko buku bekas, dan terhibur menemukan buku Si Rangka karya Riyono Pratikto. Sepanjang siang saya menghabiskan waktu membacanya dan teringat beberapa hari lalu, tanpa sengaja saya mencuri dengar pembicaraan seorang penulis (saya rasa seorang pemula) mengenai resep menulis cerita seram. Menurutnya, cerita seram dewasa ini, “Yang penting bikin kaget.” Saya tersenyum dan membayangkan film-film horor yang menjadi tren belakangan, yang sering membuat kaget penonton dengan musik menggelegar, atau kemunculan sosok yang tiba-tiba (bisa hantu, bisa pula bukan). Ya, tentu saja itu salah satu resep membuat takut orang. Tapi menurut saya, “bikin kaget” merupakan resep cerita seram paling dangkal dan paling tidak mengasyikkan. Kenapa? Sebab cerita semacam itu tak bisa dinikmati berkali-kali. Efek takutnya semakin berkurang karena makin lama kita menjadi tidak kaget, dan yang lebih menyebalkan, cerita seperti itu tak meninggalkan gaung apa pun setelah selesai membacanya. Kita akan memamahnya, setelah itu melepehkannya ke keranjang sampah. Resep klasik menulis cerita seram yang lebih keren, paling tidak dari pengalaman baca saya, tentu saja bermain di ranah “tahu” dan “tidak tahu”. Banyak kisah-kisah seram klasik, berhasil memainkan hal ini. “Tahu” artinya, kita sebagai pembaca menghadapi sesuatu yang memang telah kita ketahui akan memberi pengalaman yang menakutkan. Misalnya ada seorang pembunuh berdarah dingin yang selalu makan korbannya, dan senantiasa lapar setiap melihat manusia. Orang ini dikurung di satu sel. Lalu kita dipaksa masuk ke sel yang sama dan dikurung di sana bersamanya. Kita akan merasa takut, karena kita “tahu” apa yang akan terjadi. Mengelola “pengetahuan” ini gampang-gampang susah. Gampang, karena rasa takut itu sudah mendekam di kepala pembaca. Susah, karena sebagaimana pengetahuan apa pun, rasa takut karena tahu akan berbeda-beda berdasarkan pengalaman masing-masing orang, dan terutama juga dipengaruhi oleh kultur. Orang yang tak pernah tahu bahwa manusia di dalam sel itu pembunuh dan pemakan manusia, tentu saja tak akan setakut orang yang tahu. Demikian juga dengan hantu-hantu: kuntilanak belum tentu membuat orang Eropa takut, sebagaimana vampir belum tentu membuat takut kita. Sebagian besar dari kita belum pernah melihat kuntilanak, tapi “pengetahuan” akan kuntilanak sebagai sumber ketakutan, secara kultur sudah tertanam di pikiran kita. Kisah-kisah seram tentang ini, tentu bermain di ranah “tahu”. Resep lain, di antara semuanya saya rasa ini merupakan ketakutan paling alamiah yang bisa melintasi sekat-sekat pengalaman maupun kultur: bermain di wilayah “hal-hal yang kita tidak tahu”. Cerpen-cerpen Riyono Pratikto dalam Si Rangka (pertama kali terbit tahun 1958), merupakan harta karun langka dalam kesusastraan kita, terutama dalam genre “cerita-cerita seram” (istilah yang diberikan H.B. Jassin kepadanya), banyak bermain di wilayah ini. Di cerpen yang berjudul “Si Rangka”, misalnya, kita dihadapkan oleh kisah sepasang suami-isteri yang baru menikah dan menempati rumah baru. Setiap malam, si isteri selalu mendengar suara biola menyayat-nyayat dari balik tembok. Ia tak tahu siapa yang bermain biola, dan ketidak-tahuan inilah sumber ketakutannya. Tapi ketakutan ini berlipat di pihak si suami. Ia tak pernah mendengar suara biola itu, jadi ia “tak tahu” apa yang sedang dialami isterinya. Praktikto tidak bermain di hantu-hantu “kultural” yang diakrabi pembacanya. Ia tampaknya tak tertarik bermain di wilayah “tahu”, dan justru di sinilah kenapa cerita-cerita seramnya tampak istimewa sekaligus modern di waktu bersamaan. Tak heran jika Pramoedya memujinya sebagai “mempunyai tempat tersendiri, dan seakan ia membuat dunia tersendiri.”

Tiga Penulis

Tiba-tiba saya memikirkan tiga orang penulis, yang saya pikir merupakan penulis-penulis besar yang telah diperlakukan dengan tak sepantasnya di negeri ini. Pertama-tama, saya akan menyebut Wiji Thukul. Di generasinya, saya pikir ia penyair paling cemerlang dan orisinal. Sajak-sajak pamflet dan protesnya seperti tinju yang menghantam-hantam, kadang-kadang seperti cubitan kekasih yang membekas lama. Di tengah tradisi puisi yang (saya suka menyebutnya) “mooi indie”, puisi-puisi Thukul seperti penyimpangan yang mengancam. Saya mendengarnya (ya, mendengar bukan membaca) pertama kali di tengah-tengah aksi jalanan mahasiswa di Yogyakarta, di pertengahan hingga akhir 90an. Puisi-puisinya hidup di tengah aksi protes dan pembangkangan, dan aksi-aksi jalanan itu juga hidup oleh puisi-puisinya. Tapi seperti kita tahu, ia hilang bersama belasan aktivis lainnya. Tak ada yang tahu apakah ia masih hidup atau sudah menghilang. Tak ada yang tahu dan tak ada yang mengaku, siapa yang membuatnya menghilang. Apa yang terjadi padanya merupakan sensor atas kesusastraan yang paling penghabisan, paling mengerikan. Jika kita merasa hari ini menikmati kebebasan yang melimpah atas nama kesenian dan kesusastraan, pikirkanlah barangkali itu semu belaka. Sejarah Wiji Thukul belum lama terjadi, dan tak pernah ada koreksi sama sekali. Jika seseorang bertanya kepada saya, siapa penulis Indonesia yang perlu diterjemahkan ke bahasa asing sehingga mereka mengenali kesusastraan kita? Saya ingin menyebut, kita perlu memperkenalkan sajak-sajak Wiji Thukul. Bukan karena ia hilang, tapi karena sajak-sajaknya memang harus dibaca. Karena saya ingin membayangkan, jika orang berpikir seperti apa kesusastraan Indonesia, mereka akan melihatnya dalam puisi-puisi itu. Sedikit mundur ke belakang, tentu saja saya akan menyebut penulis kedua: Pramoedya Ananta Toer. Saya tak akan menulis banyak tentangnya, sebab banyak hal tentang Pramoedya telah diketahui orang. Termasuk sensor kesusastraan yang juga terjadi atasnya: pembuangan ke Pulau Buru. Kita bersyukur bahwa sensor mengerikan ini tak menghentikannya dalam menulis karya-karya besar, di antaranya Arus Balik dan Tetralogi Buru, tapi bayangkan jika ia tak perlu mengalami itu semua. Jika ia tak harus kehilangan arsip-arsip penelitiannya. Jika negeri ini memberinya kesempatan untuk menulis lebih banyak lagi. Dalam hal ini saya selalu berpikir negeri ini dirasuki kebodohan. Kita selalu berhasil menghentikan (membuang, menghilangkan, dan bahkan membunuh) bakat-bakat cemerlang, sehingga yang tersisa adalah apa yang memang bisa kita sebut sebagai sisa-sisa. Saya akan berhenti bicara tentang Pramoedya, kali ini saya ingin menyebut penulis ketiga, dari generasi yang jauh lebih ke belakang lagi: Amir Hamzah. Ia dijuluki (oleh H.B. Jassin) sebagai “Raja Penyair Pujangga Baru”, dan saya pikir memang ia raja. Ia tak hanya bisa disebut sebagai salah satu peletak sastra modern Indonesia, tapi kita harus mengakui bahwa sajak-sajaknya melampaui pelabelan tersebut. Sajak-sajaknya merupakan bagian dari karya-karya terjernih dan terbaik yang pernah dihasilkan oleh anak negeri ini. Saya bahkan tak bisa membayangkan Chairil Anwar akan muncul dengan puisi-puisinya yang seperti kita kenal, tanpa ia pernah membaca Nyanyi Sunyi, karya terbaik Hamzah. Tapi apa yang terjadi pada dirinya? Ia mati terbunuh dalam satu revolusi sosial di Sumatera. Ia seorang nasionalis, ia mencita-citakan Indonesia, tapi ia dihukum pancung pada 20 maret 1946 yang kemungkinan karena ia “feodal” dan mungkin dituduh anti-revolusi. Tuduhan yang saya pikir salah kaprah dan tak bisa dipertanggungjawabkan. Menyedihkan. Negeri ini memiliki sejarah yang memilukan: ia memenggal bunga-bunga tercantiknya, bahkan jauh sebelum mekar. Jika kesusastraan kita hari ini, untuk para pengeluh yang budiman, tak pernah beranjak kemana-mana, barangkali mungkin memang ini penyebabnya. Bahwa kita sering menghentikan bakat-bakat terbesar kita. Kita tak hanya tak menyediakan tanah gembur untuk pohon-pohon tumbuh agung, tapi bahkan jika ada pohon yang bakal menjulang indah di tanah tandus pun, tanpa rasa bersalah, kita menebangnya.

Harta Karun Kesusastraan Indonesia

Sekali waktu seseorang bertanya, kenapa saya tak pernah membicarakan kesusastraan Indonesia? Apakah saya tak membaca apa pun dalam kesusastraan Indonesia? Ada ujaran, tak ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan yang salah. Berkali-kali saya bicara, di forum diskusi-diskusi yang terhormat, mengenai kesusastraan dan karya-karya kesusastraan Indonesia. Buku pertama saya merupakan telaah panjang tentang Pramoedya Ananta Toer. Saya penggemar cerpen-cerpen Asrul Sani. Di awal karir saya, saya bahkan pembaca berat cerpen-cerpen Kris Mas (ini sudah agak meluas, ia bukan penulis Indonesia, tapi penulis Malaysia). Saya tak pernah menyembunyikan kekaguman saya terhadap dua penulis penting: Asmaraman S. Kho Ping Hoo dan Abdullah Harahap. Ada pendekar dan ada hantu di novel-novel saya, yang tentu saja warisan dari keduanya. Oh, barangkali kebanyakan orang tak pernah menganggap kedua penulis itu sebagai “sastrawan” dan karya-karya mereka merupakan bagian dari kesusastraan Indonesia. Di situlah barangkali persoalannya. Apa yang kebanyakan orang anggap sebagai kesusastraan Indonesia, apa yang mereka anggap sebagai kanon (saya tak yakin ada atau tidak), kadang-kadang bukan karya-karya yang menarik perhatian saya. Harta karun kesusastraan Indonesia saya terletak di novel-novel picisan yang tak terlalu dianggap oleh kritikus sastra, para akademisi, bahkan oleh para sastrawan. Jika saya tinggal di Eropa, barangkali saya akan banyak membaca dime novel. Jika tinggal di Amerika, saya pasti memburu pulp fiction. Jika tinggal di Cina, saya pasti pembaca wu xia. Saya tak membaca sesuatu karena karya itu (kata orang) bermutu, saya membacanya karena saya anggap menarik. Saya jenis pembaca yang, meminjam istilah Borges, pembaca hedonis. Harta karun “kesusastraan” (saya pakai tanpa petik, karena barangkali banyak orang tak anggap ini sebagai kesusastraan) Indonesia saya jarang saya peroleh di toko buku besar, tidak pula di pusat dokumentasi sastra sejenis milik HB Jassin. Saya memburunya di toko buku bekas, berkenalan dengan penjual buku bekas di Internet. Belum lama saya memesan sebuah serial silat yang terbit di tahun 70an yang saya belum pernah dengar judul maupun penulisnya (tak perlu saya sebutkan). Saya membacanya dalam dua hari. Jelek, dan berpikir: pantas saja saya tak pernah mendengarnya. Tapi bahkan dari karya yang jelek, terutama karena panulis ini tak mengerti bagaimana membangun tangga dramatik dari cerita silat, saya bisa menemukan kesenangan-kesenangan tertentu. Hanya segelintir dari teman-teman dekat saya yang mengerti selera saya ini, dan dengan mereka (yang sebagian besar juga berbagi selera yang sama) saya bisa membicarakan karya-karya ini dengan antusias. Seorang teman yang tinggal di Amerika, menyempatkan diri mengirim email pendek hanya untuk bertanya, “Sudah pernah membaca novel Six Balax?” Butuh waktu berbulan-bulan sebelum saya memperoleh novel itu, dengan harga (ajaibnya) sangat murah. Cetakan 1977, atau dua tahun setelah kelahiran saya. Ditulis oleh penulis kelahiran Tegal bernama Hino Minggo, yang mengklaim tokohnya sebagai “Super Spy Pribumi” dan dirinya sebagai penggemar O. Henry. Membaca judul episode-episodenya saja sudah membuat saya tertawa terbahak-bahak: “The Man with Golden Golok”, “Dirty Marni Crazy Larso”, “Pembalasan Murid-murid Afkiran”. James Bond dan Nick Carter jadi terasa petualangan garing. Dan di waktu-waktu luang, saya bisa membaca ulang berkali-kali Nagasasra dan Sabuk Inten SH Mintardja. Juga Manusia Harimau SB Chandra (judul yang bersama Tujuh Manusia Harimau Motinggo Busye mengilhami saya menulis novel Lelaki Harimau). Ketika di umur belasan tahun saya membayangkan diri saya sebagai penulis, novel-novel seperti itulah yang ingin saya tulis. Tentu saja dengan pengetahuan dan kemampuan menulis yang pas-pasan, saya tak pernah berhasil melakukan. Ketika akhirnya saya menerbitkan novel pertama kali, bagaimana pun, jejak-jejak keinginan dan selera saya masih tertanam di sana. Jika karya seorang penulis tak akan pernah jauh dari apa yang dibacanya, saya bisa sangat yakin menunjukkan: itulah harta karun bacaan saya. Itulah sejarah kesusastraan saya. Sejarah kesusastraan Indonesia dalam karya-karya saya.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑