Eka Kurniawan

Journal

Tag: Günter Grass

Günter Grass, Obituari

Saya tak ingat kapan pertama kali membaca The Tin Drum. Buku itu ada di rak buku saya, ada coretan-coretan saya di dalamnya. Tapi saat ini saya sedang tak mungkin untuk mengambilnya dari rak. Saya sedang di lobi sebuah hotel di daerah Kensington, London, jam 3 dinihari. Saya terbiasa bangun sangat pagi untuk menulis, untuk mengganti kebiasaan buruk lama “begadang” (yakni tidur menjelang dinihari), dan hanya beberapa jam sebelumnya mendengar kabar meninggalnya Günter Grass (usia 87), sang penulis. Bertahun-tahun lalu ketika mengunjungi Pramoedya Ananta Toer di rumahnya di Utan Kayu, Pram pernah memperlihatkan kepada saya satu lukisan di dindingnya. “Grass yang bikin,” kata Pram. Itu memang lukisan Grass, dihadiahkan kepada Pram ketika kedua penulis bertemu di Jerman. Ada dua hal setidaknya yang sering membuat saya iri kepada Grass. Yang pertama, luasnya keterampilan seni dia. Selain menulis novel, puisi, drama, dia juga membuat patung, karya grafis dan lukisan. Di kesusastraan, saya bahkan tak bisa menulis puisi! Dan di bidang seni rupa, ingin sekali saya punya studio kecil seperti miliknya untuk keisengan saya dengan grafis. Saya selalu tergila-gila dengan cetak saring dan cukil kayu, tapi tak pernah punya waktu (alasan para pemalas) untuk benar-benar melakukannya. Sumber keirian kedua, tentu saja watak kesusastraannya. Meskipun bisa dibilang saya tak memiliki pengetahuan melimpah mengenai kesusastraan Jerman, tapi jika membandingkannya dengan beberapa penulis Jerman lain, ada hal yang unik dalam dirinya. Saya sering membayangkan kesusastraan Jerman hampir mirip dengan filsafat Jerman: analitik, kontemplatif, memiliki skala yang “grande”. Membayangkan karya-karya Thomas Mann (The Magic Mountain), Robert Musil (The Man Without Qualities), Hermann Broch (Sleepwalker), sering sama “menakutkannya” dengan menghadapi kitab-kitab filsafat Kant, Hegel, dan kemudian Marx! Seperti saya menemukan sejenis keriangan dalam filsafat Jerman melalui Nietzsche, saya merasakan hal yang sama melalui novel-novel Grass dalam kesusastraan Jerman. Jujur, saya lebih sering membayangkan karya-karya Grass berada dalam tradisi Spanyol atau Inggris daripada Jerman. Pertama kali membaca The Tin Drum, kita sadar itu merupakan novel piqaresque, satu tradisi yang banyak berkembang di Spanyol (Don Quixote), Inggris (lihat beberapa karya Dickens), dan bahkan Amerika (Huckleberry Finn). Yang cerdas dari kisah Oskar Matzerath adalah, Grass berhasil mengelola kecenderungan picaresque yang seringkali memiliki watak kritis terhadap persoalan sosial, menjadi kendaraan untuk memotret sebuah zaman: terutama cikal-bakal dan memuncaknya kekuasaan Nazi. Setelah membaca beberapa karyanya yang lain, terutama yang paling saya suka The Flounder, kita juga segera menemukan kecenderungannya yang lain, yang membuat watak picaresque Grass semakin unik: fabel. Ya, selain meminjam alusi-alusi dari fabel, karya-karyanya juga memang sering dalam tingkat tertentu merupakan fabel. Tradisi picaresque dan fabel menciptakan dalam karya-karyanya sesuatu yang riang (meksipun humornya lebih seram gelap), kekanak-kanakan, ringan (meskipun hampir selalu dalam skala epik). Jarang saya melihat kualitas-kualitas semacam itu dalam karya penulis-penulis lain. Membaca Midnight’s Children Salman Rushdie barangkali bisa sedikit mengingatkan kita ke arah sana, meskipun Rushdie lebih sering disebut-sebut sebagai penulis realisme magis (label yang juga sebenarnya kerap ditimpakan juga kepada Grass), label yang dengan gampang sering diberikan orang asal menemukan elemen-elemen magis di dalam sebuah karya (jeritan si cebol Oskar bisa membuat kaca-kaca pecah berhamburan). Tapi bukankah fabel sejak awal sering muncul juga dengan keajaiban-keajaibannya? Grass saya rasa lebih banyak berutang kepada fabel, yang di tangannya, karya-karya itu menjadi fabel-fabel politik yang unik, dan telah memberi warna kesusastraan dunia di setengah terakhir abad kedua puluh. Oskar, mari tabuh beduk kecilmu untuk kepergiannya!

Umur Berapa Seorang Penulis Menghasilkan Karya Pentingnya?

Gara-gara ada yang bercanda soal umur, saya jadi ingin menulis soal umur berapa seorang penulis menerbitkan karya pentingnya. Ya, ini salah satu keisengan saya. Pertama, mari kita ngobrol soal Günter Grass. Seperti kita tahu, ia bagian dari kelompok penulis/seniman Gruppe 47, kelompok penulis muda (sebenarnya tidak muda, kecuali ukurannya peraturan ormas kepemudaan di Indonesia, hehehe) Jerman yang baru pulang dari perang. Novel pertama Grass, dan saya rasa yang terpenting, The Tin Drum diterbitkan tahun 1959, ketika ia berumur 32 tahun. Berapa umurmu sekarang? Jika hampir atau telah lewat 40 dan belum menghasilkan karya sekelas The Tin Drum, lupakan saja untuk bersaing dengannya. Setelah itu, karya terpenting lainnya menurut saya adalah The Flounder yang terbit ketika ia berumur 50 tahun. Baiklah, jangan terlalu pesimis. Sekarang kita tengok penulis lain, misalnya Gabriel García Márquez. Ia memang menulis cerpen dan novela sejak awal umur dua puluhan, tapi awalnya tak ada yang memerhatikan. Hingga akhirnya, kita tahu, ia merilis One Hundred Years of Solitude. Kapan novel itu pertama kali terbit? 1967, ketika ia berumur 40. Nah, sekali lagi berapa umurmu sekarang? Jika masih 30-an, apalagi 20-an, sila mulai berhitung. Bisakah menghasilkan novel sekelas itu ketika mencapai umur 40? Sejak saat itu, Márquez relatif konstan menerbitkan karya-karya yang unggul. Mungkin aneh menghubung-hubungkan umur penulis dengan karya pentingnya, tapi saya rasa, itu bisa menjadi ukuran informal untuk melihat karir di dunia kesusastraan.Untuk mengukur daya tahan penulis, mengukur perkembangan mental sekaligus intelektual, dan juga keterampilan. Tapi bagaimana jika Anda baru berminat secara serius menulis ketika umur sudah berlipat? Jangan kuatir. Saya punya contoh yang baik: Jose Saramago. Ia baru menulis serius justru setelah lewat umur 40-an. Dan tahun berapa karya penting pertamanya, Baltazar and Blimunda terbit? Tahun 1982, ketika ia berumur 60 tahun! Ada harapan untuk Anda yang telah berumur setengah abad untuk mengikuti jejaknya. Tapi jangan lupa, Saramago juga sebenarnya telah menulis sejak umur 20-an. Ia menerbitkan beberapa karya, bahkan ada yang baru terbit setelah ia meninggal. Yang pati, ia tak buru-buru serius menjadi penulis karena ia bekerja sebagai jurnalis. Juga sebagai aktivis. Setelah Baltazar and Blimunda, ia secara gila menulis sangat produktif dan semuanya karya yang bagus, bahkan sampai hari-hari terakhir hidupnya. Novelnya yang paling saya suka, The Year of the Death of Ricrado Reis terbit ketika ia berumur 62. Sementara itu Toni Morrison baru menerbitkan novel pertamanya, The Bluest Eye tahun 1970, ketika ia berumur 39. Meskipun begitu, baru melalui Song of Solomon ia menarik perhatiakn para pengamat sastra, yang terbit tahun 1977 ketika ia berumur 46. Dan Beloved terbit sepuluh tahun kemudian setelah itu. Artinya? Memang tak ada patokan umur kapan seorang penulis melahirkan karya yang menjadi titik-tolak karirnya. Karya penting pertama yang dihasilkannya. Seorang penulis bisa saja menghasilkan karya penting di usia muda, tapi seperti kita lihat, ada yang baru merilis karya pentingnya di umur 40, bahkan 60. Meskipun begitu, saya rasa tetap saja ada satu pola. Karya-karya penting itu secara umum ditulis atau diterbitkan di usia muda “karir menulis” mereka. Günter Grass langsung melahirkan The Tin Drum setelah ia pulang dari perang dan memutuskan menjadi penulis. Márquez menerbitkan One Hundred Years of Solitude setelah ia mencoba menulis Leaf Storm dan In Evil Hour (yang tak bisa dibilang buruk). Saramago dan Morrison mungkin baru menghasilkan karya penting di usia tua, tapi harus dicatat, mereka juga memulainya di usia tua. Bagaimana dengan penulis yang lebih muda? Novel Orhan Pamuk yang pertama kali menarik perhatian, The White Castle terbit tahun 1985, ketika ia berumur 33 tahun (novel pertamanya terbit di umur 30). Setelah itu, bisa dibilang novelnya penting semua (semuanya hanya delapan novel) termasuk My Name is Red yang terbit ketika ia berumur 46. Baiklah, sekali lagi tulisan ini barangkali tidak penting. Anda bisa menulis kapan pun, dan menghasilkan karya penting kapan pun. Tak ada yang mengharuskan Anda menulis sehebat karya-karya itu. Tentu kecuali jika Anda termasuk yang berhitung tak akan adu lari cepat di Olimpiade kecuali yakin memiliki kecepatan mendekati Usain Bolt.

Penulis yang Mendesain Sendiri Sampul Bukunya

Memiliki latar pendidikan desain grafis (meskipun hanya setahun, sebelum kembali menekuni kuliah filsafat), dan pernah (dan kadang-kadang masih) menekuni pekerjaan desain grafis secara sambilan, sampul buku sering menjadi perhatian saya. Jika ada ungkapan, don’t judge the book by it’s cover, saya termasuk yang memedulikan sampul buku, dan bisa memengaruhi saya untuk membeli atau tidak buku tersebut. Jika ada satu buku terbit dalam beberapa edisi, daripada melihat perbedaan harganya, pertama-tama saya lihat dulu sampulnya. Saya akan membeli buku dengan sampul yang lebih menarik. Jujur saja, saya sering frustasi melihat novel-novel yang baik, memiliki sampul yang tak menarik minat saya. Banyak desainer grafis berbakat, dengan teknik yang mengagumkan. Tapi begitu mereka mengeksekusi sampul buku, terutama novel, seringkali mengerikan. Kadang-kadang begitu verbal, menggambarkan apa yang jelas-jelas ditulis di judul, sehingga menciptakan pesan-ganda. Kadang-kadang begitu bagus gambarnya, sampai tidak nyambung dengan isi bukunya. Saya kadang bertanya-tanya, apakah para desainer memiliki waktu untuk membaca buku tersebut sebelum membuat desain atau tidak. Faktor penerbit juga besar pengaruhnya. Ada penerbit-penerbit yang merasa harus mempertahankan karakter desainnya, tak peduli penulis dan gaya tulisan mereka berbeda. Saya pernah berbincang-bincang dengan seorang desainer, dan merasakan betapa frustasinya dia harus membuat desain yang seperti itu-itu saja. Jika saya punya waktu, saya sering cerewet urusan desain. Jika saya punya waktu lebih banyak lagi, saya biasanya memutuskan untuk membuat sendiri desain buku-buku saya. Saya melakukannya untuk Cantik Itu Luka cetakan pertama, 2002. Saya juga membuat desain untuk buku saya Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, yang diterbitkan Gramedia tahun 2006. Tentu saja, jika penulis bisa menggambar dan mendesain, saya rasa akan jauh lebih mengasyikkan melihat buku-bukunya didesain sendiri. Salah satu yang melakukannya dan terasa unik, adalah Milan Kundera. Saya pernah membaca satu wawancara seorang wartawan dengannya, di apartemennya di Paris. Saya lupa apa yang mereka perbincangkan, tapi saya ingat deskripsi si wartawan ketika memasuki apartemen tersebut: di dinding tergantung beberapa lukisan kontemporer Ceko dan lukisan karya tuan rumah sendiri. Jelas Milan Kundera senang melukis, dan beberapa sampul bukunya berisi ilustrasi karyanya. Ilustrasi Kundera biasanya berupa judul dan namanya ditulis dengan tulisan tangan, serta ilustrasi berupa garis-garis sederhana, dengan gaya sedikit dadais. Kadang-kadang ilustrasinya kecil saja, meninggalkan ruang kosong putih yang luas. Misalnya di novel Immortality, hanya ada sebelah sepatu kecil tergeletak. The Unbearable Lightness of Being, hanya berupa garis punggung seekor anjing yang sedang berbaring. Selain Kundera, penulis yang saya kagumi karena novel-novel dan ilustrasi bukunya adalah Günter Grass. Bahkan ilustrasi-ilustrasi bukunya bisa dibilang sampai pada tingkat iconic. Hampir mustahil membayangkan The Tin Drum tanpa membayangkan gambar anak kecil dengan drumnya, dalam paduan garis-garis hitam dan merah, serta hanya sepasang matanya yang berwarna biru. Atau si kucing berkalung di ilustrasi sampul Cat and Mouse. Yang paling saya suka adalah gambar tangan yang membentuk siluet kepala anjing sedang meleletkan lidah di sampul Dog Years. Sekali waktu saya berkunjung ke rumah Pramoedya Ananta Toer, dan ia memamerkan lukisan besar di dinding yang merupakan hadiah dan karya Günter Grass. Saya tak bisa tidak, merasa iri. Seperti Kundera, Grass juga menyukai paduan warna hitam-merah di atas dasar putih, meskipun di karya Grass, ilustrasi tampak lebih menonjol daripada teks. Jika Kundera lebih menyukai bentuk drawing, Grass lebih menyukai etsa. Apa pun, mereka dua penulis yang beruntung memiliki bakat lain. Salman Rushdie, di memoar terbarunya (Joseph Anton), secara terang-terangan mengungkapkan kecemburuan pada multi-bakat pada Grass ini. Saya tak ingat apakah ada penulis lain yang melakukannya, tapi saya percaya, itu hal yang layak untuk dilakukan. Mungkin saya juga harus melakukannya, dan berhenti mengeluh tak memiliki waktu. Bagaimana pun, dalam bentuk buku, teks di dalam dan grafis di sampul mestinya merupakan satu kesatuan ide. Paling tidak menurut saya.

Joseph Anton, oleh Salman Rushdie

Buku ini berjudul Joseph Anton, ditulis oleh Salman Rushdie. Atau bisa juga berjudul Salman Rushdie, ditulis oleh Joseph Anton. Saya pikir tak ada bedanya. Kenyataannya, buku ini bercerita tentang Salman Rushdie. Sekaligus bercerita tentang Joseph Anton. Ditulis oleh Salman Rushdie, dan bisa dibilang juga ditulis oleh Joseph Anton. Intinya, di satu titik dalam hidupnya, Salman Rushdie pernah menjadi seorang lelaki bernama Joseph Anton, nama yang diambil dari dua penulis favoritnya: Joseph Conrad dan Anton Chekhov. Ini buku memoar Salman Rushdie, alias Joseph Anton. Diawali hari ketika ia memperoleh telepon, seseorang yang bertanya, apakah ia sudah mendengar bahwa dirinya telah difatwa mati oleh Ayatullah Khomeini karena novelnya, The Satanic Verses? Novel itu pada dasarnya merupakan sejenis tribut untuk ayahnya, Anis Rushdie, seorang sarjana Islam, yang mengagumi kelahiran Islam yang disebutnya sebagai “satu-satunya agama besar di dunia yang dilahirkan di masa sejarah.” Artinya, sejarah Islam, sejarah Muhammad, memiliki konteks. Tercatat di waktu yang bersamaan, bukan ratusan tahun setelah kejadian sesungguhnya terjadi. Ayahnya, mengambil nama keluarga “Rushdie” sebagai ungkapan kekaguman terhadap salah satu filsuf Islam yang berasal dari Andalusia, Ibnu Rushd. Salman Rushdie mewarisi antusiasme ini. Antusiasme ini kemudian membawanya mengambil satu mata kuliah sejarah Islam, satu-satunya mahasiswa yang mengambil mata kuliah di semester itu, dan berkenalan dengan episode “ayat-ayat setan” dalam kehidupan Nabi. Itu ayat yang (bisa dibilang) memperbolehkan berhala-berhala orang Mekah disembah, yang kemudian dianulir sebab ayat-ayat itu ternyata bisikan setan (ayat-ayat penggantinya kemudian menjadi ayat 53:19-22). Bertahun-tahun kemudian, itu memberinya inspirasi menulis The Satanic Verses. Dan antusiasme ini juga membawanya berhadapan dengan fatwa mati, dari para antusias Islam di sisi lain. Itulah saat hidupnya mulai berada di bawah bayang-bayang, dalam perlindungan pengawal rahasia, dan membuatnya mengambil identitas baru. Ia sebagai Joseph Anton. Dalam pembukaan The Satanic Verses, baris ini barangkali terus berbisik di kepala siapa pun yang membaca novel itu: “Untuk dilahirkan kembali, seseorang harus mati.” Buku ini seperti merayakan kelahiran baru dirinya, setelah mati oleh sebuah fatwa. Dalam kelahirannya yang baru ini, setelah bertahun-tahun berlalu, ia memutuskan membela diri. Meskipun memoar ini bercerita banyak tentang kehidupan personalnya, semua buku-bukunya, tapi sesungguhnya terutama tentang kenapa ia menulis The Satanic Verses. Pandangan-pandangannya tentang Islam. Dan ia mengaku, novel ini pada dasarnya bentuk penghormatannya kepada Muhammad. Ia memperlakukannya sebagaimana Nabi menginginkan dirinya dipandang: sebagai manusia, dan bukan sebagai sosok ilahiah. Tapi karena itulah, ia difatwa mati, dan ia harus menjadi Joseph Anton. Bagi saya pribadi, The Satanic Verses merupakan karya terbaiknya. Saya bukan penggemar Midnight’s Children, yang terlalu India (dan format novelnya mengingatkan saya pada The Tin Drum Günter Grass). Novel-novelnya yang lain juga terasa terlalu lokal: Pakistan, Kashmir. Membaca The Satanic Verses, saya merasa membaca sesuatu yang mudah dikenali (karena berbagi latar tradisi agama yang sama): Islam, dengan kekayaan sejarah dan budayanya. Dan tentu saja juga karena betapa imajinatifnya tema itu diangkat di novel ini. Campur-aduk antara mimpi (yang bisa ditafsir sebagai wahyu), ejekan pascakolonial, realisme magis. Hingga kontroversi itu meledak. Dan Joseph Anton harus bersembunyi. Yang saya kagum, di dalam persembunyiannya ia terus menulis. Salah satu yang terbaik, buku anak-anak Haroun and the Sea of Stories, yang merupakan hadiah untuk anaknya (yang mengomel, “Kenapa kamu tak menulis buku untukku?”), ditulis di masa itu. Para penerbit ketakutan, editor berusaha menyensor karyanya (dengan blak-blakan ia memperlihatkan borok di dapur penerbit-penerbit besar, juga para penulis, yang sebagian berusaha mencuci tangan). Ia bersikeras, terbitkan atau tidak sama sekali. Tak ada batas-batas mutlak kebebasan (berkarya), memang. Tapi kebebasan (berkarya) yang tak diperjuangkan, sudah pasti akan dikalahkan. Tanpa fatwa hukuman mati pun, suatu hari Salman Rushdie (atau Joseph Anton) akan mati. Tapi saya percaya bahwa, “Apa yang kutulis, tetap tertulis” (Yohanes 19:22). The Satanic Verses telah tertulis, dan akan begitu. Dan perlawanan sesungguhnya adalah: ia terus menulis, meskipun bagi saya, belum ada lagi yang sebaik novel ini. Dan memoar ini, boleh saya akui, merupakan salah satu memoar penulis terbaik yang pernah saya baca.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑