Eka Kurniawan

Journal

Tag: Gunawan Maryanto

“There are many young talented writers who are well-read, such as Andina Dwifatma and Norman Erikson Pasaribu. Poets Mario F. Lawi and Aan Mansyur have also caught my attention with their poetry. And don’t forget those from my own generation: Intan Paramaditha, Ugoran Prasad, Ratih Kumala, Puthut E.A., Gunawan Maryanto, Agus Noor, and some others. I think the landscape of our literature is very varied. It’s only a matter of time until the world discovers it, I believe.”

An interview from Jakarta Globe.

Indonesian Greatest Writers and Some Talented New Generations

jplus_160815

Here is my glimpse view of Indonesian greatest writers, and some talented writers of our new generation (from JPlus, 16 August 2015).

Saudara Seperguruan atau “Literary Brothers”

Dalam satu wawancara, Enrique Vila-Matas ditanya mengenai persahabatannya dengan Roberto Bolaño dan ia menjawabnya: “Bertemu dengannya pada tahun 1996, saya merasa tak lagi sendirian sebagai penulis.” Ia melihat dalam diri Bolaño seseorang yang bisa disebut, dalam kata-katanya, “literary brother”. Saya bayangkan istilah itu semacam “saudara seperguruan” dalam konteks dunia persilatan yang sering saya baca di novel atau komik silat. Saya bisa mengerti perasaan Vila-Matas. Di tengah kerumunan para penulis, bukanlah hal mudah menemukan satu atau segelintir penulis yang kamu bisa merasa nyaman, nyambung, tak hanya dalam konteks keseharian tapi juga dalam konteks kesusastraan, sehingga kamu bisa menyebutnya sebagai “saudara”. Saya beruntung punya teman-teman semacam itu. Para penulis yang ketika dalam satu wawancara saya ditanya, siapa penulis Indonesia yang karya barunya akan saya tunggu, dengan jelas saya menjawab: para penulis dari generasi saya. Yang sebagian sekali waktu adalah teman-teman bermain saya. Jika orang bertanya, siapa penulis terbaik di Indonesia saat ini, saya akan menjawab dengan jawaban yang sama. Generasi saya, teman-teman saya. Akhir-akhir ini saya berhubungan dengan orang luar, dari editor, wartawan hingga agensi, dan jika mereka bertanya siapa penulis-penulis Indonesia yang perlu diperhatikan? Jawaban saya tetap sama. Generasi saya, teman-teman saya. Saya tak pernah pusing dengan orang-orang yang semangat mempromosikan teman-teman atau karya teman-temannya. Saya akan melakukan hal yang sama, selama saya melakukannya atas nama saya pribadi. Semalam saya bertemu denan Ugoran Prasad dan Intan Paramaditha. Mereka dua di antara penulis yang jelas masuk kategori “generasi saya, teman-teman saya” itu. Kami jarang bertemu sejujurnya, tapi apa pentingnya bergerombol terus-menerus seperti kawanan serigala? Maka pertemuan-pertemuan itu selalu terus mengingatkan saya tentang motivasi-motivasi dan gairah kami atas kesusastraan, dan merasakan kembali keberadaan “saudara seperguruan” semacam “literary brother”-nya Vila-Matas itu. Teman kepada siapa kami bisa dengan kekanak-kanakan berkata, ingin seperti “Adolfo Bioy Casares yang diterbitkan nyrb classics”. Teman yang saya bisa bilang di depan muka mereka, “Masalah kalian adalah cerpen-cerpen kalian. Jangan menerbitkan cerpen kecuali setara Borges. Setidaknya setara Etgar Keret atau Hassan Blasim.” Tapi obrolan-obrolan kami seringkali mengingatkan saya betapa saya mencintai cerpen-cerpen teman-teman saya, tanpa mereka harus menjadi Borges. Pergi ke Toko Wayang merupakan buku terbaru yang saya baca, yang ditulis oleh teman saya yang lain, salah satu yang penting untuk dibaca. Satu-satunya Gunawan Maryanto. Satu-satunya di antara kami yang paham literatur klasik Jawa (juga literatur pasar macam Gareng dan Petruk), yang kami semua selalu mencemburuinya. Sebagai penulis, saya tumbuh bersama mereka. Saya kenal Ugo, Chindil (itu panggilan Gunawan Maryanto di antara teman-temannya), Puthut EA bahkan ketika kami belum benar-benar mulai menulis. Kami sama-sama kuliah di kampus yang sama, meskipun di jurusan atau angkatan yang berbeda-beda. Kegiatan atau sekadar kantin bisa mempertemukan kami, tapi terutama hasrat pada kesusastraan yang akhirnya membuat kami saling kenal. Kampus kami berdekatan dengan IKIP (sekarang UNY), dan dari sana kami mengenal “saudara seperguruan” yang lain: Muhidin M. Dahlan, Zen R.S. (yang esai-esai-nya tentang sepakbola sangat saya kagumi), dua di antaranya. Pertemanan juga seringkali tak hanya ditentukan oleh ruang. Saya kenal Linda Christanty sejak akhir 90an. Dia aktivis PRD, saya senang nongkrong dengan segerombolan anarkis. Beberapa teman saya kenal dengan beberapa temannya, dan akhirnya kami berkenalan. Ternyata ia suka sastra, dan saya juga, dan kami sama-sama punya teman yang sama: seorang penjual buku bekas di belakang Malioboro bernama Mahdi, yang dengan semangat sering menyuplai kami dengan bacaan sastra dunia (kalau kami tidak bisa membeli, dia berbaik hati memfotokopikan). Tentu saja beberapa teman dekat saya, dari generasi saya, juga ada yang saya kenal setelah kami sama-sama menerbitkan karya. Perkenalan saya dengan Dinar Rahayu dan A.S. Lakana terjadi dengan cara yang aneh: bertemu di Belanda dalam keadaan sama-sama baru pertama kali ke luar negeri. Pertemanan yang selalu bersifat alamiah: kami merasa nyambung, merasa nyaman, untuk mengatakan apa pun. Buat saya hal seperti ini rada-rada penting, di luar urusan estetik kesusastraan. Seperti yang dikatakan Vila-Matas, itu membuat kita “tidak merasa sendirian.” Tidak merasa sendirian karena seringkali kita bertemu dengan cara pandang terhadap kesusastraan yang kurang-lebih mirip, yang saya yakin hal seperti itulah yang membuat sebuah generasi sebagai “generasi”. Sebagai contoh, saya selalu mengingat apa yang sering kami katakan jauh hari, ketika kami masih segerombolan mahasiswa gembel yang tak yakin bisa lulus (beberapa di antara kami benar-benar tidak lulus). Kami punya sejenis manifesto-manifestoan. Saya katakan begitu, karena manifesto itu tak pernah dituliskan. Juga karena manifesto itu bisa ditambah-kurangkan sesuka hati kami sendiri. Tapi kurang-lebih manifesto itu berbunyi: 1) Kami ingin menjadi penulis, jika tak ada yang menerbitkan, kami akan menerbitkannya sendiri. Kami belajar bagaimana memproduksi buku, bagaimana menjualnya. Bahkan belajar melayout dan mendesain sampul. 2) Kalau media besar tak menerima karya kami, kami akan membuat media sendiri. Ya, meskipun kecil. Puthut membuat On/Off, sebelumnya jika ada yang iseng mau mencari, ia satu-satunya orang di belakang “jurnal” Ajaib. Ugo dan beberapa temannya menerbitkan Konblok. 3) Kalau komunitas kesusastraan tak ada yang menerima kami, kami akan buat komunitas sendiri. Kami membuatnya. Beberapa berumur pendek, beberapa berumur pendek sekali. Yang penting kami membuatnya untuk mendukung diri kami sendiri. Saya selalu percaya komunitas seharusnya dibangun untuk mendukung anggotanya, dan bukan sebaliknya. Seperti negara ada untuk rakyat, dan bukan sebaliknya. 4) Jika para kritikus tak ada yang peduli kepada karya kami, atau menghina-dina, kami akan menjadi kritikus untuk karya teman-teman sendiri. Saya selalu ingat, Muhidin M. Dahlan merupakan “yang paling marah” ketika novel pertama saya Cantik Itu Luka, “dihancurkan” oleh seorang kritikus. Muhidin menulis balasan yang tak kalah sengitnya. Manifesto-manifestoan ini bisa dibikin lebih panjang, dengan pola yang tetap sama. Saya tak ingat siapa yang mencetuskannya, tapi itu hidup di pikiran kami. Buat saya: itu tetap berlaku sampai hari ini. Dan jika saya bisa menyimpulkannya dengan lebih pendek, itu bisa berbunyi: “Jika kesusastraan Indonesia tak memberi tempat untuk kami, kami akan menciptakan ruangan untuk diri kami sendiri.” Saya tak tahu apakah itu sesuatu yang aneh atau tidak. Tapi teman-teman saya mengerti hal ini. Mungkin itulah yang membuat kami merasa nyambung dan nyaman. Di dunia persilatan ada begitu banyak pendekar, tapi hanya segelintir yang bisa dipanggil “saudara seperguruan”. Lebih sering bukan karena jurus yang sama, tapi karena saling memahami bagaimana melihat dunia. Jadi siapa para penulis Indonesia terbaik saat ini? Tentu saja para penulis dari generasi saya. Generasi yang juga bukannya tanpa kelemahan. Kami berisik dan agak pemalas. Tapi: 5) Jika tak ada perahu untuk kami, kami akan belajar membuat rakit, atau cara berenang. Kalau harus tenggelam, kami tenggelam dengan sedikit keangkuhan.

Clarice Lispector, El Boom, Penerjemahan

Semalam, seperti kadang-kadang saya lakukan, saya mampir ReadingRoom dan bertemu pemiliknya, Richard Oh. Tiba-tiba dia berkata dan bertanya, “Ah, nemu penulis baru. Tapi siapa sih Clarice Lispector?” Rupanya ia menemukan nama itu gara-gara teman kami, Wan Nor Azriq, salah satu penulis muda Malaysia yang sangat berbakat, sedang tergila-gila dengannya. Saya langsung saja nyeletuk, “Penulis Brazil, menulis dalam bahasa Protugis, dan sudah mati.” Untuk ukuran Richard Oh, yang membaca buku sastra jauh lebih banyak dari saya, tidak mengenali Lispector hanya mempertegas satu hal: penulis ini “terlupakan” oleh dunia. Saya sendiri tahu nama itu hanya karena, beberapa bulan lalu, editor saya mengirimi saya buku dia dalam terjemahan, The Hour of the Star. Bagi saya, ini juga menjelaskan segala sesuatu di balik el boom, ledakan kesusastraan Amerika Latin di puncak abad yang lalu. Baiklah, sebelum saya membicarakan hal itu, kita tengok dulu siapa Clarice Lispector ini dan seberapa penting dirinya sampai-sampai kita perlu bilang ia “terlupakan” oleh dunia. Jika iseng membuka internet, dengan mudah kita akan menemukan kalimat, “Penulis Yahudi terbaik setelah Kafka.” Kenapa penulis sehebat itu bisa “tak muncul”, bahkan dengan gerbong el boom (ia kelahiran 1920)? Penerjemahnya, Benjamin Moser mencoba menjelaskan: karya-karya Lispector pernah diterjemahkan ke Bahasa Inggris sebelumnya, tapi hasilnya buruk. Yang dimaksud buruk adalah: Lispector memang menulis dalam bahasa Portugis dengan gaya, sintaks, kalimat, tanda-baca, tata bahasa, yang memang aneh bahkan untuk ukuran bahasa Portugis dan kesusastraan Brasil sendiri. Para penerjemahnya, dan mungkin editornya, mencoba “membetulkan”nya. Hasilnya tentu saja kekacauan. Karya-karyanya dalam terjemahan tak lagi berasa Lispector, bahkan dia sendiri pernah ngamuk-ngamuk soal ini. Lispector, meninggal tahun 1977 ketika el boom justru mencapai puncaknya, barangkali beruntung: tahun-tahun ini ia memperoleh kesempatan kedua. Karya-karyanya kembali diterjemahkan, terutama ke bahasa Inggris, dikomandoi oleh Moser (yang juga penulis biografi tentangnya). Kembali ke el boom: ketika saya pertama kali tercebur ke dunia sastra, di akhir 90an, saya baru tercengang-cengang dengan para penulis Amerika Latin, yang diperkenalkan oleh teman-teman saya (kebanyakan aktivis, yang sebenarnya menengok ke Amerika Latin karena kagum kepada Fidel Castro dan Che Guevara). Saya sampai punya mimpi besar: suatu hari el boom juga akan muncul di Indonesia. Bayangkan, dari satu generasi, membentang dari barat ke timur, akan muncul penulis-penulis Indonesia super keren dan menaklukkan dunia. Jika saya sedang nongkrong bersama beberapa teman, yang saat itu sama-sama tengah berjuang untuk bisa menulis satu-dua karya, atau sedang mati-matian menerbitkan karya pertama, seperti Gunawan Maryanto, Puthut EA, Ugoran Prasad, saya membayangkan teman-teman saya itu sebagai kanon-kanon baru kesusastraan (saya masih mengagumi mereka sampai sekarang). Pikir saya, selain waktu, apa yang diperlukan oleh generasi kesusastraan ini hanyalah seseorang seperti Carmen Balcells. Siapa Carmen Balcells? Dia si “la mama grande” kesusastraan Amerika Latin. Agensi yang mewakili sebagian besar penulis-penulis Amerika Latin dan memperkenalkannya ke dunia. Impian saya naif, dan terbukti memang naif. Belasan tahun setelah memimpikan itu, terbukti tak ada el boom di Indonesia. Kita belum ke mana-mana. Orang seperti Carmen Balcells juga tak muncul, tapi saya rasa faktor pentingnya bukan itu. Clarice Lispector yang saya sebut-sebut di awal menjelaskan apa yang ada di belakang el boom sesungguhnya: tanpa Carmen Balcels, tanpa polesan pemasaran, kesusastraan Amerika Latin memang menyimpan bom waktu yang sangat besar. Tanpa disulut, saya rasa akhirnya mereka akan meledak dengan sendirinya. Ada yang muncul dengan cepat, ada yang terlambat. Kita tak akan mengenali Clarice Lispector sebagai bagian dari el boom, tapi dengan caranya sendiri toh akhirnya ia hadir. Setidaknya bagi saya, ini memberi dua pelajaran penting. 1) Di belakang gemerlap kesusastraan Amerika Latin, memang tersimpan bom yang sesungguhnya. 2) hati-hati dengan penerjemahan. Penerjemahan karya sastra merupakan bisnis yang serius; berharap karyamu diterjemahkan dalam semalam seperti Sangkuriang membuat gunung dan dengan cepat menjadi “penulis dunia”, membuktikan Anda tak serius di urusan ini.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑