Eka Kurniawan

Journal

Tag: George Orwell

Kisah Fantasi + Spekulasi Filsafat = Jorge Luis Borges

Jika boleh menyederhanakan, formula cerpen-cerpen Borges menurut saya bisa dikatakan adonan antara kisah fantasi dan spekulasi filsafat. Kalau penasaran, sila baca artikel saya “Kosmologi Borges”, tapi di sini saya terutama ingin menunjukkan bahwa kreatifitas pada dasarnya merupakan upaya membuat adonan baru dari sesuatu yang ada sebelumnya. Para ahli toh sudah banyak yang bilang bahwa tiga tahap kreatifitas itu sederhana. Pertama, kita meniru. Makanya, jangan buru-buru main hakim jika melihat seseorang meniru kreatifitas orang lain, atau memergoki anak kita mencontek. Meniru merupakan tahap awal kreatifitas. Yang harus ditanamkan adalah jangan membiasakan diri mengaku karya orang lain, apalagi memperoleh keuntungan dari pekerjaan orang lain, sebab itu sudah kriminal. Meniru bukanlah mencuri, atau mengaku, tapi sebuah usaha menempatkan diri di tempat orang lain dan mencoba melakukan hal yang sama yang telah dilakukan orang lain. Jika saya meniru lukisan Van Gogh, saya mencoba menempatkan diri di tempat Van Gogh dan mencoba melukis bunga matahari persis seperti yang dilakukannya. Biasanya tidak sama bagus, tapi setidaknya kita belajar sebuah proses kreatifitas langsung ke seorang master (meskipun secara imajiner). Ketika Borges menulis “The Story of the Two Dreamers”, saya rasa dia mencoba meletakkan dirinya di tempat Sir Richard Burton ketika menerjemahkan “The Ruined Man Who Became Rich Again Through A Dream”. Perbedaannya, Burton menerjemahkan karya itu dari Arab ke Inggris, sementara Borges membayangkan dirinya menerjemahkan ke Spanyol. Dan pada dasarnya, proses penerjemahan kurang-lebih sama seperti proses meniru, makanya banyak penulis mengawali karirnya belajar menulis melalui penerjemahan. Tahap kedua, setelah meniru, adalah memodifikasi atau mengubah karya orang lain. Di tahap ini seseorang tak lagi meniru, tapi mulai menambah atau mengurangi sesuatu secara sadar. Menyadur sebuah karya bisa dianggap merupakan proses modifikasi. Demikian pula parodi, saya kira. Sebagian besar karya awal Borges di A Universal History of Infamy, saya rasa merupakan proses modifikasi dari karya-karya atau sumber-sumber lain. Banyak penulis lain melakukan hal yang kurang sama: mengambil ide pokoknya, lalu mengembangkannya sendiri ke arah lain. Kita tahu Borges menulis buku The Book of Imaginary Beings, sejenis eksiklopedia mengenai makhluk-makhluk imajiner. Italo Calvino mencomot gagasan ini dan mengembangkannya menjadi Invisible Cities, yang kurang-lebih sama: tentang kota-kota imajiner. Roberto Bolaño saya kira juga berangkat dari gagasan yang sama dan memodifikasinya ketika ia menulis Nazi Literature in the Americas, tentang penulis-penulis dan kesusastraan sayap-kanan imajiner di dataran Amerika. Bahkan di tahap modifikasi ini pun, kreatifitas kadang menciptakan hal-hal hebat. Setelah meniru, memodifikasi, tahap terakhir kreatifitas adalah mencampur apa-apa yang telah ada sebelumnya menjadi sesuatu yang lain. Seperti buah jambu, nanas, bengkuang, dicampur gula merah, garam, cabai, asam jawa, dan jadilah “rujak”. Kita tahu di dalam rujak ada berbagai bahan, tapi kita tak lagi menyebutnya berdasarkan bahan-bahan itu. Dalam Borges, saya melihat kreatifitasnya merupakan adonan kisah-kisah fantasi ditambah spekulasi-spekulasi filsafat, yang kemudian menghasilkan cerpen-cerpen semacam “The Disk”, “The Book of Sand”, “Borges and I”, atau yang sangat terkenal, “Tlön, Uqbar, Orbis Tertius”. Dalam karya-karya Cormac McCarthy, kita menemukan adonan gaya Faulkner yang dicampur dengan kisah koboi atau “Spaghetti Western” (terutama dalam trilogi perbatasannya, serta di The Road dan No Country for Old Men). Dalam karya-karya Patrick Modiano, kita bertemu ramuan kisah detektif yang bertemu dengan tradisi Proust, serta novel-novel sosial-politik. Di Animal Farm, Orwell sudah jelas memadukan satir politik, sastra bertendens, dan fabel. Penulis Indonesia seperti Intan Paramaditha, meramu fairy tales dan dongeng gothic dengan isu-isu feminis dan politik, menghasilkan cerpen-cerpen yang orisinal. Dan puisi-puisi Joko Pinurbo, jika bisa disederhanakan, merupakan pertemuan antara kisah-kisah Alkitab dan lelucon-lelucon sufi, sertra tradisi puisi lirik. Tak ada yang baru di bawah langit, demikian kata pepatah. Tugas kita, manusia secara umum atau penulis secara khusus, hanyalah membuat rujak. Syukur jika enak dimakan. Syukur jika ada lidah yang terus mengenang rasa rujak itu dan mengingat rasa tersebut sambil mengingat siapa yang membuat adonannya.

Merdeka Memilih Sejarah

Kita tak mungkin memilih ayah dan ibu biologis kita, tapi saya yakin kita bisa memilih ayah dan ibu, dan bahkan leluhur spiritual kita. Buat saya itu jauh lebih penting, dan kita seharusnya merdeka memilih sejarah kita sendiri. Sejarah kesusastraan merupakan contoh paling nyata bahwa kita bisa memilih sejarah kita sendiri, tanpa terkungkung oleh wilayah geografis, oleh keyakinan, bahkan oleh waktu. Bayangkan, salah satu novel penting Prancis, Jacques the Fatalist, beribu novel dari tanah Inggris, Tristram Shandy. Dan novel babon yang ditulis dalam Bahasa Inggris, Ulysses, berayah pada novel Prancis yang sungguh tak dikenal We’ll to the Wood No More. Gabriel García Márquez barangkali tak akan menulis One Hundred Years of Solitude tanpa ia membaca novel terpenting Meksiko, Pedro Paramo; dan apakah Nyai Ontosoroh ciptaan Pramoedya Ananta Toer akan memiliki karakter seperti yang kita kenal, seandainya Pram tak membaca Mother dari Maxim Gorky? Lantas apa gunanya sejarah kesusastraan yang kita kenal di sekolah, yang disebut sebagai sejarah kesusastraan nasional? Entahlah. Sejarah kesusastraan yang dibagi-bagi dalam periode-periode dan tahun-tahun, bagi saya merupakan gagasan paling absurd; siapa pun yang menuliskannya, yang menciptakannya, tak mengerti dengan baik bagaimana kesusastraan secara alamiah bekerja, demikian juga pemikiran yang melatarbelakanginya. Sejarah yang disusun berdasarkan periode-periode, barangkali hanya berguna bagi pengamat di luar, yang ingin tahu apa yang ditulis dan dipikirkan sebuah bangsa di satu waktu dan waktu lainnya, yang bahkan sebenarnya mereka harus sadar bahwa hubungan karya yang ditulis di waktu-waktu yang berbeda itu tidak selurus yang mereka bayangkan. Bagi penulis, setidaknya untuk saya, itu tak banyak membantu. Sebab seperti masa depan, masa lalu seharusnya merupakan pilihan. Seperti kita menciptakan peta jalan untuk masa depan kita, semestinya kita merdeka memilih peta jalan masa lalu, dan itu besar kemungkinan tidak merupakan jalan lurus yang membentang. Sebab mustahil menentukan masa depan tertentu tanpa kita memilih masa lalu tertentu. Memilih sejarah sendiri, bagi saya seperti meramu makanan di meja dapur. Artinya, kita tak hanya memerdekakan diri dari selera makan yang diam-diam terbentuk, tapi membayangkan rasa yang akan didapat, bahkan mungkin juga bersiap dengan kemungkinan-kemungkinan baru yang tak terbayangkan, rasa yang tak disangka-sangka. Bayangkan jika kita bisa menciptakan novel yang beribu dari novel-novel horor-fantasi H.P. Lovecraft dan berayah novel horor-politik Geroge Orwell, serta diselingkuhi oleh novel horor lokal ala S.B. Chandra, kira-kira akan menghasilkan novel horor macam apa? Sudah jelas hasilnya sangat absurd jika kemudian kita letakkan novel (dan penulisnya) dalam sejarah kesusastraan dalam kerangka periode tertentu, katakan saja sastra angkatan 2014; sementara rekan segenerasinya menciptakan novel yang berayah Serat Centhini dan beribu novel-novel Barbara Cartland. Baiklah, yang jauh lebih penting dari kemerdekaan memilih sejarah kesusastraan sendiri, karena kemerdekaan semacam ini hanyalah buah turunan, adalah kemerdekaan pikiranmu dari segala yang mengungkung. Sejarah sebagaimana yang lainnya selalu merupakan pisau bermata dua: mengikatmu atau membebaskanmu. Sebab sebagaimana tubuhmu, pikiran juga sangat mudah untuk terpenjara. Dan lebih berbahaya daripada penjara untuk tubuh, penjara untuk pikiran seringkali tak terlihat. Dan lebih sialnya: penjara pikiran besar kemungkinan tak tersadari.

Animal Farm

Saya baru saja hendak pamit setelah rapat di kantor, ketika dipotong oleh seorang karyawan yang bertanya, “Mas, sudah membaca novel … (ia menyebutkan judul novel)?” Saya bilang belum, dan bertanya balik meminta pendapatnya, “Bagus?” Ia jawab bagus, “Tapi kata Mbak (ia menyebut nama seorang penulis), itu novel jelek.” Penasaran, saya bertanya, “Kenapa ia bilang jelek?” Ia menjawab, “Karena di novel itu perempuan banyak disiksa.” Saya hampir tersedak mendengarnya. Tentu saja seseorang bisa menilai novel menurut selera dan cara berpikirnya, tapi saya tak mengira jawaban seperti itu muncul dari seorang penulis. Tapi setelah mengingat-ingat sebagian besar novelnya penuh dengan khotbah-khotbah mengenai feminisme, saya menjadi maklum. Tentu saja bukan berarti saya tak punya pandangan politik, atau tak punya pilihan ideologi. Misal yang paling gampang, saya akan menganggap Animal Farm karya George Orwell sebagai novel yang buruk, jika saya melihatnya semata-mata dari sudut pandang politik. Novel itu jelas bisa membuat revolusi tampak seperti sesuatu yang pesimistis, menganggap semua pemimpin pada akhirnya akan korup dan menjadi otoriter. Anda bisa membaca sebuah buku kajian yang menghebohkan beberapa tahun terakhir di dunia sastra internasional, berjudul Who Paid the Piper? karya Frances Stonor Saunders. Itu buku yang membuka keterlibatan CIA dalam bidang kebudayaan, terutama di masa perang dingin. Inti buku itu menceritakan bagaimana CIA mendirikan lembaga bernama Congress for Cultural Freedom, yang tujuannya untuk menjauhkan kaum intelektual (awalnya Eropa Barat, tapi kemudian mendunia) dari Marxisme dan Komunisme. Memengaruhi langsung maupun tidak langsung. Hasilnya? Banyak dan luar biasa. Bisa dibilang CIA berhasil dalam pekerjaannya ini. Gelombang anti-komunisme merebak di mana-mana. Salah satu hasilnya? Bisa dibilang: Animal Farm. CIA bahkan membiayai langsung pembuatan film kartun (akan ditonton anak-anak!), tak lama setelah Orwell meninggal. Sekilas saya pernah membaca juga jika Congress for Cultural Freedom juga pernah mengirimkan utusan ke Indonesia (bukan di buku ini). Itu membuat saya bertanya-tanya, apa yang telah mereka lakukan di sini, bagaimana mereka bekerja di sini, dan bagaimana itu memengaruhi gelombang anti-komunisme di karya-karya sastra sejak tahun 60an (bahkan sampai hari ini!)? Tapi soal itu, mungkin seseorang bisa menelitinya dengan lebih serius dan mendalam, dan saya pikir akan menjadi kajian yang menarik jika dilakukan, baik dari aspek sejarah maupun aspek sastra. Kembali ke Animal Farm, secara politik saya akan menganggapnya novel yang buruk. Tapi saya tak pernah menganggapnya demikian. Saya menganggap itu novel yang bagus, sangat bagus. Salah satu favorit saya. Jika di dunia ini ada yang disebut sastra propaganda (dan saya selalu berpikir semua karya sastra dengan satu dan lain cara sebenarnya merupakan karya propaganda), maka Animal Farm (juga karya Orwell yang lain, 1984) merupakan karya propaganda yang bagus dan berhasil, tak peduli apa yang dipropagandakannya. Keberhasilnanya terutama, menurut saya, karena novel ini membidik dua sasaran kritiknya sekaligus, meskipun tentu saja menurut saya yang satu untuk menyamarkan yang lain, agar tak terlalu telanjang. Dalam hal ini, Animal Farm menembak langsung sosok kapitalis (Mr Jones, kapitalis pemilik Manor Farm) dan si komunis (Napoleon, si babi). Strategi ini bisa menarik simpati kaum komunis yang anti-kapitalis, sehingga mulai bertanya-tanya mengenai pilihan politiknya (jangan-jangan, kita akan diperintah oleh sosok seperti si babi?). Keberhasilan lainnya, tentu saja karena karya ini ditulis dalam bentuk fabel. Hampir bisa dibilang ramah-dibaca-untuk-anak. Coba pikirkan, bukankah propaganda paling hebat memang seharusnya ditujukan untuk pikiran anak-anak? Sekali masuk ke kepala mereka, saya membayangkan, akan sulit untuk dikeluarkan kembali. Itulah kenapa, novel ini merupakan novel hebat. Novel yang penting dibaca oleh orang yang ingin membaca novel bagus, maupun propaganda yang bagus.

Hak untuk Disebut

Seorang penulis pemula menulis cerita pendek yang secara gagasan, kerangka alur cerita, bahkan beberapa potong kalimat, sama dengan cerita pendek penulis lain yang lebih dulu terbit. Karena soal itu, saya berdiskusi dengan teman di satu penerbit mengenai “attribution right”. Saya belum tahu apa padanannya dalam Bahasa Indonesia, tapi gampangnya kita sebut “Hak untuk Disebut”. Hak ini sangat mendasar. Saya melihat, jika tak salah, pembela copyright maupun pendukung copyleft, sama-sama menghormati hak ini. Bahkan meskipun sebuah karya sudah memasuki domain publik, sang pengarang masih berhak atas hak ini, meskipun hak ekonominya mungkin telah lenyap. Nama Herman Melville akan terus ditulis sebagai penulis Moby Dick, misalnya. Demikian pula jika kita menulis sebuah karya, dan karya itu berdasarkan karya lain, atau mengutip karya orang lain, hak ini pun muncul. Kita harus menyebutnya, misalnya dengan cara: “Karya ini berdasarkan …”, “Kalimat ini dikutip dari …” Mengabaikan hak ini tak hanya berpeluang melanggar moral, bisa pula melintasi rambu-rambu hukum. Saya tak ingin membahas aspek hukum atau definisi mengenai hal ini, saya pikir persoalan ini dengan mudah dicari untuk diketahui. Tiba-tiba saya lebih tertarik melihatnya dari sudut tantangan estetik. Adakah? Tentu saja. Saya memikirkan ini sudah agak lama, ketika membaca kumpulan cerita pendek Carlos Fuentes berjudul Happy Families. Di bagian muka, kita berhadapan dengan satu kutipan dari Anna Karenina: “Semua keluarga bahagia, bahagia dengan …” (kita tahu kelanjutan pembukaan novel yang sangat terkenal tersebut). Tentu kita bisa mengatakan meletakkan kutipan tersebut di muka buku sebagai salah satu bentuk “penyebutan” Fuentes terhadap Tolstoy, seolah-olah mengatakan, seluruh cerita pendek di buku ini, meminjam pijakan dari novel Anna Karenina. Saya menjadi tertarik pada penyebutan kutipan tersebut terutama karena fakta bahwa judul buku tersebut “Keluarga Bahagia” sementara dalam bayangan saya, Anna Karenina lebih banyak menceritakan keluarga yang tak bahagia. Tentu ada satu paradoks yang ingin dipermainkan oleh Fuentes di sini, dan dengan cara itulah, ia ingin kita membaca kumpulan cerpennya sambil membayangkan (atau jika sempat, membaca ulang) Anna Karenina. Menyertakan satu kutipan dari karya orang lain di karya kita, saya pikir mestinya memang jauh-jauh dari sekadar “gaya-gayaan”. Selain ditempatkan sebagai “penyebutan”, satu sikap kerendahan hati bahwa “karya ini terinspirasi atau didasarkan pada karya itu”, bagi saya juga membawa konsekuensi tantangan estetik: dengan satu dan lain cara, karya kita akan diperbandingkan langsung dengan karya yang beberapa potong kalimatnya kita kutip. Pertarungan macam apa yang ingin ditawarkan seorang penulis dengan memperhadapkan karyanya dengan karya (mestinya) pendahulunya? Di luar soal kutipan, saya menemukan bentuk lain “penyebutan” ini, yang di satu sisi tampak tersamar, tapi di sisi lain juga sangat mencolok. Tidak terang-terangan mengatakan bahwa “karya ini terinspirasi atau didasarkan karya itu”, tapi di sisi lain jelas-jelas merujuk ke karya yang lain. Kita tahu novel James Joyce yang mengisahkan perjalanan Leopold Bloom mengelilingi Dublin diberi judul Ulysses tentu bukan tanpa sebab. Novel itu secara terang-terangan mengakui berdiri di atas pijakan karya Homer berjudul Odyssey (yang dilatinkan menjadi Ulysses). Joyce tak perlu mengatakan apa pun lagi, judul tersebut sudah mengatakan jauh lebih banyak dari apa yang perlu dikatakan. Tentu kita bisa saja membaca novel itu tanpa perlu membaca perjalanan Odyssey, tapi sekaligus novel itu seperti “meminta” untuk dibaca bersandingan dengan epik tersebut. Di sini Joyce jelas tak hanya memberi “hak penyebutan” terhadap Homer (siapa pun itu), ia membawanya ke petualangan estetik. Hal yang hampir sama kita temui di novel 1Q84 Haruki Murakami. Dalam Bahasa Jepang, “Q” dibaca sama dengan angka “9”. Mau tak mau, novel itu juga seperti meminta dibaca beriringan dengan 1984 George Orwell. Bersifat rendah hati bahwa karya kita berdiri di atas pijakan karya orang lain, saya percaya tak akan menghancurkan reputasi kita. Itu tak semata-mata penghormatan kepada penulis dan karyanya. Bagi saya jelas: itu juga merupakan tantangan estetik. Apa yang ingin kita tawarkan ketika mengolah karya orang lain dan membentuknya menjadi karya milik kita sendiri?

1Q84

Hanya karena ditulis dengan baik oleh penulis yang baik, saya berhasil membaca novel nyaris seribu halaman ini. Selebihnya saya hanya terkesan dengan sosok Aomame. Jatuh cinta kepadanya, seperti Tengo. Terutama hanya terkesan pada satu bagian yang bercerita tentang kota kucing. Jika itu dipenggal dan menjadi cerita pendek (jika saya tak salah ingat, bagian itu memang diterbitkan di The New Yorker sebagai cerita pendek), itu akan menjadi salah satu cerita pendek terbaik Haruki Murakami. Sisanya, saya merasa 1Q84 seperti mie rebus yang kelewat lama dimasak. Percintaan yang kelewat lama, keburu lelah sebelum orgasme. Mungkin ia sedang bermaksud menulis opera sabun, yang sayangnya juga miskin melodrama.Tapi menarik juga caranya merayakan epik 1984, meskipun apa yang dilakukannya barangkali akan membuat George Orwell gelisah di dalam kuburannya. Tak ada Big Brother, tapi ada Little People. Little People sama mengerikannya dengan Big Brother, atau bahkan lebih mengerikan. Mereka tak hanya mengatur hidupmu, mereka juga mengatur kapan hujan turun dan kapan kilat menyambar. Mungkin mereka juga yang menciptakan dunia. Tak ada mata yang mengintai, tapi ada burung gagak. George Orwell sedang mimpi buruk di dalam kuburannya, seperti Franz Kafka ngompol di peti mati ketika Murakami mengeluarkan Kafka on the Shore. Baiklah, Kafka on the Shore jauh lebih baik daripada 1Q84, dan Kafka barangkali tidak ngompol. Tak hanya jauh lebih baik, itu novel yang sangat bagus. Salah satu novel Murakami yang bagus, meskipun saya lebih menyukai novel-novel pendeknya. Kafka tersenyum lebar (setelah selama hidupnya ia tampaknya jarang tersenyum) dan ia bahagia melihat Kafka kecil jatuh cinta kepada perempuan yang semestinya menjadi ibunya. Kita jarang membaca perkara Kafka dan ibunya, tapi ia banyak bercerita tentang bapaknya, dengan cara Fruedian: ia tampak ingin membunuh bapaknya. Saya rasa ini agak melantur. Apa yang saya bicarakan tadi? Oh ya, 1Q84. Sebuah novel berisi tiga buku tebal. Seperti mie rebus yang dimasak selama satu setengah jam, hingga mienya tak lagi berbentuk mie, tapi menyerupai bubur kertas. Apa boleh buat, sekali lagi, saya lebih menyukai novel-novel pendeknya. South of the Border, West of the Sun, salah satu favorit saya. Juga Sputnik Sweetheart. Padat, lucu, dan segar. Katakan selera saya agak aneh. Tapi saya merasa, dalam novel-novel pendeknya, semakin terlihat dalam cerita-cerita pendeknya, keringkasannya menjadi sesuatu yang menggema panjang. Seperti lagu pendek yang melodinya terus terdengar. Seperti jajanan pasar yang kita cicipi dan rasanya tertanam lama di ujung lidah. Seperti ciuman pacar pertama. 1Q84 sebaliknya. Sebagai karya yang sangat panjang, itu seperti menonton pertunjukan orkestra selama beberapa jam. Di beberapa bagian, saya lebih senang jika bisa tidur. Tak ada gema panjang, kecuali momen-momen pendek di sana-sini. Di luar kisah mengenai kota kucing, bagian yang berkesan adalah kisah mengenai juru tagih NHK (ayah Tengo), serta bagian Aomame di dalam apartemen yang harus menghadapi ketukan pintu, juga dari juru tagih NHK. Juga kisah mengenai Fuka-Eri, gadis cantik berumur 17 tahun yang memenangi kontes penulisan novel. Usia muda dan kecantikannya membuat saya membayangkan novelis Hitomi Kanehara (novelnya, Snakes and Earrings boleh dibaca). Bagian ketika ia “memerkosa” Tengo, merupakan momen yang paling erotis di sepanjang novel ini. Saya pikir momen ini sama mengesankannya dengan berbagai momen erotis di novel-novel Murakami lainnya, termasuk di beberapa bagian Norwegian Wood. Bagian-bagian ini berdering luar biasa, seperti karya yang berdiri sendiri. Barangkali memang begitulah cara terbaik menikmati novel ini. Kisah mengenai Aomame dan Tengo yang saling mencari, anggaplah sebagai bingkai yang menyedihkan, untuk ruang begitu banyak kisah yang berkelap-kelip di dalamnya. Bingkainya menjadi tidak penting, bahkan pagi para pembaca penggemar Rhett Butler dan Scarlett O’Hara sekalipun (maaf jika perbandingan ini berlebihan).

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑