Eka Kurniawan

Journal

Tag: Georg Lukács

The Naive and the Sentimental Novelist

Saya senang membaca buku-buku tentang “teori” novel. Oh, bukan. Bukan jenis buku yang mengajari saya menulis novel penuh berisi tips dan trik. Tidak, saya tak tertarik membaca buku panduan semacam itu. Buku “teori” novel yang saya maksud, yakni buku-buku yang ditulis dalam rangka menjawab apa itu novel? Kenapa novel ditulis, dan terutama kenapa novel dibaca? Ya, meskipun ketika menulis novel, sudah hampir pasti saya lupa dengan semua teori-teori dan pemikiran tersebut. Saya yakin, siapa pun yang menulisnya, juga segera melupakan teori-teori ciptaannya ketika mereka menulis. Tapi paling tidak, buku-buku semacam ini, ketika ditulis maupun dibaca, membantu pikiran kita untuk terus bersikap kritis terhadap novel, terus bertanya, meskipun tak pernah ada jawaban pasti. Buku pertama, yang bisa dibilang klasik, tentu saja Aspects of the Novel karya E.M. Forster. Buku favorit saya yang kedua, buku kembar karya Milan Kundera: The Art of the Novel dan The Curtain. Dalam banyak hal, kedua buku itu bersinggungan satu sama lain. Jika Forster banyak bicara mengenai elemen-elemen novel, dalam beberapa tingkat nyaris teknis, kedua buku Kundera lebih bersifat filosofis, terutama menyangkut novel modern. Mario Vargas Llosa pernah menulis A Letter to a Young Novelist, buku kecil yang juga menarik. Gagasan-gagasannya mengenai novel mungkin akan lebih kaya jika kita membaca ulasannya mengenai novel Seratus Tahun Kesunyian dan Madame Bovary. Ia memang rada-rada akademis. Tapi sebagai pengantar terhadap pemikirannya mengenai novel, buku yang saya sebut sebelumnya barangkali sudah sangat memadai. Jujur saja, novel sebagai “seni novel” memang masih jarang dibicarakan, apalagi jika bicara tingkat kesusastraan Indonesia. Terutama jika dibandingkan dengan saudaranya: puisi. Padahal di abad 20 dan 21 ini, saya kira novel merupakan genre kesusastraan yang bisa dibilang sangat populer, terutama jika dilihat dari kuantitas penulis maupun pembacanya, serta buku yang beredar. Hal ini barangkali disumbang oleh menjamurnya novel-novel, yang katakanlah merupakan “novel ringan” atau “novel hiburan”, meskipun istilah itu pasti sangat bisa diperdebatkan. Tapi kita tak bisa menutup mata, barangkali banyak di antara penulis novel sendiri (apalagi pembaca?) yang tak pernah peduli, tak pernah mempertanyakan, apa itu novel? Kenapa novel ditulis? Kenapa novel dibaca? (Sebagaimana orang menjalani hidup malas bertanya apa itu hidup? Kenapa ada kehidupan?) Untuk saya, itu pertanyaan penting. Tanpa pertanyaan-pertanyaan itu, saya barangkali kehilangan gairah untuk menulis novel. Jika ada buku semacam ini yang ditulis oleh bukan penulis novel, tapi pastinya ia pembaca novel yang tekun, saya bisa menyebut satu yang sangat penting: The Theory of the Novel, karya filsuf Hungaria, Georg Lukács. Jika selama ini novel modern dan filsafat modern tampak seperti dua rel yang berjejeran, buku-buku semacam ini merupakan upaya segar mempertemukan keduanya, di mana kedua tradisi saling meminjam metode dan upaya kreatif mereka. Nah, untuk yang keranjingan buku-buku semacam ini, saya juga akan memasukkan buku kecil karya Italo Calvino, Six Memos for the Next Millenium, yang berisi enam catatan mengenai seni novel. Sayang karena keburu meninggal, buku tersebut hanya berisi lima catatan saja, meskipun judulnya tetap dipertahankan sebagai Six Memos …. Dan sekarang, di hadapan saya, dari salah satu penulis kontemporer, tergeletak buku berjudul The Naive and the Sentimental Novelist, karya Orhan Pamuk. Mengikuti tradisi Friedrich Schiller (dengan esai cemerlangnya berjudul “Über naive und sentimentalische Dichtung”, atau “On Naive and Sentimental Poetry”, atau “Tentang Puisi Naif dan Sentimental”), Pamuk membagi dua jenis novelis (dan pembaca novel): naif dan sentimentil. Naif dalam makna, para novelis yang mengarang apa adanya, yang membaca novel apa adanya: kekanak-kanakan. Sentimentil dalam makna, analitik. Ketika menulis novel, ia juga memikirkan mengenai banyak aspek, termasuk barangkali bertanya, apa gunanya menulis novel? Nah, karena saya senang membaca buku-buku semacam ini, boleh jadi saya termasuk yang sentimentil. Tapi karena saya sering menulis dan membaca tanpa memikirkan apa-apa, bisa juga saya naif. Entahlah. Menurut Pamuk sendiri, keadaan ideal untuk seorang novelis, tentu saja menjadi naif sekaligus sentimentil di waktu yang bersamaan. Saya rasa sulit untuk tidak sepakat dengannya.

Lukács

Tesis terakhir Marx tentang Feurbach mengatakan, “Para filsuf hanya memahami dunia dengan berbagai cara, padahal yang terpenting adalah mengubahnya.” Menurut Georg Lukács, di antara sekian penerus Marx, Lenin lah yang paling sempurna mengikuti tesis tersebut. Sebelum ini saya lebih banyak membaca karya-karya kritik sastra Lukács (The Theory of the Novel, Soul and Form), tapi tinjauannya tentang Lenin di buku tipis berjudul Lenin (A Study on the Unity of His Thought), saya pikir merupakan studi yang tak kalah menariknya. Ditulis tak lama selepas kematian Lenin, setahun setelah ia menerbitkan karya terbesarnya, History and Class Consciousness, kita boleh tercengang: saat itu Lukács baru berusia sekitar 38 tahun (usia yang sama dengan saya saat ini!). Banyak buku tentang Lenin, membicarakan kisah hidup maupun pemikirannya, tapi saya rasa Lenin merupakan salah satu studi yang sangat penting. Bukan hanya karena ditulis oleh salah satu Marxis terbesar (menurut saya: setelah Marx, Engels dan Lenin), tapi karena telaah ini ditulis dengan cara seolah-olah sebagai “biografi pemikiran”. Pandangan-pandangan Lenin ditulis secara kronologis, tak hanya mengikuti urutan waktu tapi juga problem-problem yang melatarbelakangi pemikiran-pemikiran itu, dan lebih penting lagi sebenarnya: keputusan-keputusan praksis yang dilakukannya. Dibuka dengan studi bagaimana Lenin harus menerjemahkan materialisme historis Marx menjadi agenda revolusi proletar dan bagaimana kelas proletar bisa terbentuk di Rusia yang feodal dengan kapitalisme yang masih setengah berkembang. Dan tentu saja penemuan terbesar Lenin: organisasi, tentang bagaimana kelas proletar harus memperkuat diri dalam bentuk organisasi yang diwujudkan dalam bentuk partai politik, serta apa peran negara setelah perebutan kekuasaan berhasil dimenangi? Bagi para pembaca sejarah Marxisme ataupun Sovyet, tentu itu bukan hal yang baru, termasuk pandangan Lenin yang bisa dibilang sebagai inti telaah Lukács ini: tak ada aturan umum yang bisa diterapkan untuk semua kasus. ‘Kebenaran’ muncul melalui satu analisa konkret atas situasi konkret berdasarkan pendekatan dialektika atas sejarah. Dengan cara seperti itulah segala bias utopia atas sosialisme terus-menerus dieliminasi. Kecenderungan filsafat untuk selalu “menjawab” pada satu titik sering membuat saya (yang pernah belajar Filsafat secara formal) merasa bosan. Bandingkan dengan kesusastraan (yang saya geluti selepas lulus kuliah) yang menurut saya merupakan wilayah “pertanyaan”. Para filsuf melulu mencoba menjawab, sementara para sastrawan asyik dalam bertanya tanpa akhir. Dan jawaban para filsuf, seringkali mengasumsikan bahwa selalu ada kebenaran, jawaban tunggal, yang mengatasi banyak masalah. Waham ini bahkan memengaruhi fisika spekulatif, misalnya Hawking yang mencoba menemukan “teori segala hal”. Tapi membaca Lenin ini, Lukács menunjukkan bahwa filsafat, terlepas dari usaha-usaha para filsuf untuk “menjawab” masalah dunia, memperlihatkan bahwa jawaban-jawaban itu tak pernah berlaku untuk segala kasus. Filsafat merupakan usaha untuk menjawab, tapi dengan kesadaran bahwa jawaban itu merupakan proses dialektika sejarah yang terus bergerak. Dan ini muncul dari seorang Marxis, ditelaah oleh Marxis lain, yang sering dianggap oleh umum justru menganut filsafat yang dogmatis. Tentu saja tantangannya adalah untuk selalu siap sedia menjawab pertanyaan yang berubah-ubah. Atau sebagaimana kemudian Lukács mengutip Shakespeare: “Readiness is all.” Bagi saya, tak ada yang lebih menyenangkan daripada sifat filsafat yang spekulatif, sebagaimana karakter sastra yang “bertanya”. Meskipun buku ini sedikit beraroma “pemujaan” atas Lenin, yang diakui sendiri oleh Lukács di catatan akhirnya, telaahnya menunjukkan karakter tulisan Lukács yang terstruktur, fokus, tapi dengan satu dan lain cara mampu memberi sudut pandang yang sedikit beragam. Ia memberi sedikit kontras pada pemikiran-pemikiran dan keputusan-keputusan Lenin dengan menyodorkan pandangan yang berbeda dari Rosa Luxemburg, misalnya, yang kemudian diakuinya dalam bidang ekonomi pemikiran Lenin seringkali inferior dibandingkan Rosa. Terakhir, bagi yang berminat membaca karya-karya filsafat Lukács (yang lebih berat) seperti History and Class Consciousness, buku ini bisa dipergunakan sebagai pengantar ringkas, meskipun tentu memiliki ruang lingkup yang berlainan jika ingin membaca kritik-kritik sastranya.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑