Journal

Walter Benjamin

The Origin of German Tragic Drama. Ia pernah berkata (di esai “One-Way Street”), “Karya akademik modern umumnya dimaksudkan dibaca seperti sebuah katalog.” Ia mungkin bercanda, atau meledek. Atau mungkin ia menganggap serius segenap katalog, dari daftar produk IKEA hingga daftar diskon dari minimarket depan rumah; dari katalog pameran seni rupa hingga katalog berisi daftar menu. Tentu saja ketika ia menulis buku ini, yang dimaksudkannya sebagai “karya akademik” (agar bisa menjadi dosen, meskipun akhirnya tak jadi), ia mungkin berpikir tentang katalog, meskipun saya tak merasa begitu ketika membacanya. Tapi mari berpikir secara begitu. Jika ini sebuah katalog, ia sedang menjajakan sederet gagasan mengenai drama tragedi, simbolisme, satir, dan tentu saja sosok tragis. Sosok tragis tak hanya muncul di dalam fiksi, tapi juga di kehidupan nyata. Saya sudah lama bertanya-tanya, dari mana ini berasal? Meskipun buku ini tak secara khusus untuk menjawab pertanyaan tersebut, tapi sedikit banyak memberi lanskap kilasan sejarah tragedi dan sosok-sosok tragis. Dengan kematiannya setelah minum racun demi mempertahankan apa yang dianggapnya sebagai kebenaran, Plato mengekalkan sosok tragis yang adalah gurunya: Socrates. Dan jangan dilupakan, Jesus berkorban untuk keselamatan manusia, untuk dosa-dosa mereka. Ia sosok tragis. Kedua sosok tragis ini, di kehidupan nan sekuler maupun nan religius, banyak memengaruhi sosok-sosok tragis lainnya. Fiktif maupun nyata, saya kira. Sejarahnya panjang, dan yakin akan tetap panjang ke masa depan. Sebagai orang yang lama hanya mengenal Walter Benjamin karena disebut orang di sana-sini (kelihatannya memang keren menyebut namanya dan mengutip satu-dua penggal kalimatnya), dan kemudian hanya sempat membaca satu-dua esainya (mungkin dianggap paling penting: “The Storyteller” dan “The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction”), membaca karyanya yang ini jelas merupakan tantangan yang mengasyikan, dan saya kira merupakan jendela pembuka yang sangat perlu. Terutama jika dibandingkan dengan tulisan-tulisan lainnya, yang seringkali berupa esai refleksi ringkas (meskipun tidaklah ringkas benar), dan terutama jika terbiasa hanya membaca penggalan-penggalan kalimatnya yang dikutip orang.

Reflections. Ketika di akhir 1940 di perbatasan Spanyol dalam “pelarian menuju kebebasan” (sebagaimana disebut oleh sahabatnya, Gershom Scholem), ia tertangkap dan memutuskan mengakhiri hidupnya, dunia kehilangan salah satu pemikirnya yang cemerlang. Tapi sekaligus, barangkali, memberi gairah baru untuk filsafat ketika esai-esai pendeknya, alih-laih traktat filsafat tebal (meskipun ia juga meninggalkan naskah lebih dari seribu halaman tentang arkade atau deretan toko-toko yang menjamur di Paris di akhir abad 19, yang sayangnya tak terselesaikan), dikumpulkan dan diterbitkan. Para filsuf mungkin tak lagi terobsesi untuk menciptakan atau menemukan sistem besar dan kompleks, dan yang datang kemudian hanyalah menjadi catatan kaki bagi para pendahulunya: bagi Marx, Hegel, Kant (misalnya). Setidaknya saya bisa melihat itu dari tulisan-tulisan Walter Benjamin ini. Ia tak sungkan menjadi “catatan kaki” ini, terutama untuk Marx, dan justru dari sini kita bisa melihat mata tajamnya terhadap hal-hal sederhana, keseharian yang banal, dan menembus untuk melihat dasar material dari berbagai fenomena tersebut, menjadikannya salah satu penafsir marxisme yang segar. Ketika pemikiran Marx menjadi monumen yang angker dan mengintimidasi (bahkan jika mengikuti anjuran-anjuran Slavoj Žižek, untuk memahami Marx kamu harus juga memahami Hegel yang tak kalah mengintimidasi), para penafsir seperti Georg Lukács, Antonio Gramsci atau Ernst Bloch membuat gagasan-gagasan besar ini menjadi lebih tertanggungkan untuk dipahami. Walter Benjamin membuatnya lebih terjangkau lagi, melalui fragmen-fragmen pemikirannya yang memang tak sistematis, acak, dan yang tak kalah penting: membicarakan fenomena-fenomena di depan mata. Hal ini saya kira juga dipengaruhi (atau mempengaruhi) pilihan gayanya: esai-esainya ditulis dengan berbagai pendekatan, mulai dari semi-memoar, catatan perjalanan, sketsa, percakapan (dengan Brecht), meskipun ia juga tak anti melakukan ulasan dengan gaya tradisional mengenai satu tema spesifik (seperti dilakukannya di “On Language as Such and on the Language of Man”). Lebih dari seorang pemikir maupun pengamat kebudayaan, Walter Benjamin memang seorang prosais yang mengasyikkan, bisa melihat detail-detail peristiwa dan menuangkannya dalam baris-baris yang jernih. Dalam catatannya mengenai Moskow, misalnya, ia menulis bagaikan seorang novelis: “Mereka telah mengembangkan tindakan mengemis sebagai satu seni tinggi dengan seratus cara dan variasi. Mereka mengamati para pelanggan di satu kedai roti di satu jalan yang sibuk, mendekati satu di antaranya, dan menemaninya, mengeluh dan memohon, hingga si pelanggan merelakan sepotong pie panasnya.” Sekali lagi, membaca potongan semacam itu, kita serasa berhadapan dengan seorang pencerita, melebihi seorang pemikir yang tengah mencacah dan membedah sebuah peristiwa. Tentu saja gaya yang relatif ringan dan bersifat fragmen ini sudah pernah dilakukan oleh para pemikir sebelumnya. Satu yang menonjol, misalnya Nietzsche, melalui fragmen-fragmen dan aporisma-aporismanya. Hal ini, pada akhirnya, akan menjadi tantangan berat bagi pembaca yang mencoba untuk menemukan “sistem”, pola, dari semua tulisan dan pemikiran yang tercerai-berai ini, terlepas apakah sang pemikir mencoba membangunnya atau tidak. Bagi saya sendiri, Walter Benjamin tampaknya tak mencoba ke arah sana. Meskipun begitu, kita dengan mudah melihat tegangan dari pemikirannya: antara sistem besar marxisme dan kecenderungannya yang tak kalah kuat dan tak terelakkan kepada anarkisme. Seperti kebanyakan intelektual sezamannya, ia mengklaim dirinya sebagai pemikir kiri, simpati dan pembelaannya terhadap marxisme harus dihadapkan kepada kenyataan Rusia di hari-hari tersebut. Ia tak menyembunyikan dukungannya, tapi juga tak sungkan memperlihatkan kegalauannya terhadap perkembangan kediktatoran proletar di bawah Stalin. “Rusia kini bukan saja sebuah kelas, tapi juga sebuah negara kasta,” katanya. Mungkin hal ini yang membuatnya terus-menerus melirik anarkisme? Lihat saja, kadang ia menukil Epicurus yang terdengar anarkis, ketika bicara tentang citra (atau saya kira tentang apa pun) yang “terus-menerus membebaskan dirinya dari benda-benda dan menentukan persepsi kita tentangnya.” Dengan kata lain, tak ada citra yang absolut atas apa pun. Tapi pada saat yang sama, persepsinya (dari telaah-telaahnya) terhadap banyak hal, memperlihatkan garis pemikiran marxisme yang juga kuat. Bicara tentang Pameran Dunia 1855 dalam esai lanskap tentang “Paris, Capital of the Nineteenth Century”, dengan jitu (sebagaimana hal ini masih tepat bahkan hingga saat ini), ia menunjukkan bahwa pameran tersebut “merupakan situs ziarah untuk pemujaan atas komoditas.” Ide pameran ini pada awalnya untuk “menghibur kelas pekerja dan menjadikan untuk mereka festival kesetaraan,” tapi dengan cepat Walter Benjamin menunjukkan bahwa yang terjadi justru “[kelas pekerja] menyerahkan dirinya untuk dimanipulasi sementara menikmati keterasingan dari dirinya sendiri dan dari orang lain.” Kemudian, ketika bicara tentang “Surrealism”, ia tak segan-segan menyatakan, “Sejak Bakunin, Eropa kekurangan satu konsep radikal mengenai kebebasan. Kaum surealis memilikinya.” Sikap anarkismenya, juga keberpihakannya kepada marxismenya, bagaimanapun telah membuatnya unik. Ia mungkin belum berhasil memadupadankannya (atau memang tak perlu), membiarkan esai-esainya bergoyang. Itu hanya memperlihatkan dirinya yang lebih dari sekadar pemikir: ia seorang pencari, penjelajah. Dalam satu foto yang pernah saya lihat, ketika ia duduk berdua bersama Bertolt Brecht saling menghadap ke papan catur, kita bisa melihat sosok manusia yang tak hanya tajam menatap bidak-bidak catur, tapi pada saat yang sama juga ada kesan menerawang. Ia tak hanya sering bermain catur atau bercakap-cakap dengan sang seniman, tapi sering datang kepadanya membawa esai yang baru ditulisnya. Meminta dibaca, menunggu komentar, lalu kembali mempertimbangkannya. Mungkin ia harus mempertimbangkan kedalaman pemikirannya, mungkin juga ia sedang mencoba memoles gaya prosanya. Ia pernah berkata bahwa menulis prosa yang baik memiliki tiga langkah: tahap musikal ketika itu disusun, tahap arsitektural ketika dibangun, dan tahap tekstil ketika ia dirajut. Esai-esainya, di luar tinjauan yang menyegarkan, tak terbantahkan juga merupakan musik, arsitektur sekaligus rajutan yang membuka ruang-ruang persepsi baru, sekaligus petualangan dan perjalanan.

Illuminations. Membaca esai macam “The Works of Art in the Age of Mechanical Reproduction” di zaman sekarang mungkin terasa menggelikan. Meskipun tentu saja masih mudah menemukan berbagai karya yang direproduksi secara mekanik (buku, foto konvensional, piringan hitam masih diproduksi), tapi serbuan reproduksi digital (buku elektronik, musik, film, foto digital) dengan segala kemudahan dan kecepatannya telah membuat reproduksi mekanik tampak tak hanya ketinggalan zaman, tapi terutama pemborosan waktu dan biaya. Walter Benjamin tak menikmati umur panjang, memilih mati daripada hidup di bawah fasisme Nazi, dan karenanya tak pernah melihat zaman digital ini. Tapi saya kira, apa yang dibicarakannya di esai tersebut tetap akan relevan, sebab yang diperbincangkannya bukan semata-mata alat, cara dan hasil reproduksi (yang merupakan salah satu fokus kritik Marx atas sistem produksi kapitalisme), tapi terutama apa pengaruhnya bagi pencipta, penikmat dan karya itu sendiri. Kegelisahannya berkelindan dimulai dari pertanyaan-pertanyaan tentang otentisitas atau keunikan. Tentu saja, seperti dikatakannya, semua karya seni pada dasarnya bisa direproduksi. Di zaman dulu, lukisan seorang master bisa dijiplak oleh murid-muridnya. Demikian pula pementasan teater, bisa diproduksi berkali-kali oleh kelompok yang sama atau kelompok yang berbeda. Dalam konteks seperti itu, reproduksi masih memiliki keunikan masing-masing. Goresan tangan si master berbeda dengan tangan si murid. Bahkan produksi teater dari kelompok yang sama di hari berbeda memiliki keunikannya masing-masing. Tapi bagaimana dengan karya yang diproduksi secara mekanik, seperti fotografi atau film? Semua hasil reproduksi bisa dikatakan sama. Apakah tetap ada otentisitas dan keunikan? Apakah mereka memiliki “aura”? Saya rasa pertanyaan-pertanyaan itu semakin tajam jika ditujukan kepada reproduksi digital. Dalam reproduksi mekanik, perbedaan antara satu kopi dengan kopi lain masih bisa dilacak (karena untuk ukuran zaman sekarang, penggandaan mekanik bisa dianggap tak persis), tapi dalam produksi digital, kesamaan itu nyaris bisa dikatakan persis. Dan bagi saya, kenapa esai ini tetap menarik di masa sekarang, karena reproduksi digital semakin menjauhkan kita (manusia, sebagai pencipta atau penikmat) dari cara produksi sebuah karya. Dunia digital memberi ilusi seolah semua orang bisa memproduksi banyak hal sendiri; sebetulnya kita semakin jauh, terpisahkan oleh mesin dan program, yang untuk sebagian besar orang semakin tak terakses. Baiklah, buku ini tak hanya berisi esai itu saja. Esainya yang saya anggap penting “The Stroyteller” juga ada di buku ini. Meskipun esai itu merupakan refleksi untuk cerita-cerita Nikolai Leskov, tapi pada dasarnya ia bicara hal yang jauh lebih luas dan barangkali masih ada hubungannya dengan apa yang dibicarakan di esai sebelumnya: reproduksi cerita dan bagaimana cerita disebar-luaskan. Ini semakin memperkuat kegandrungannya untuk melihat karya seni dan sastra (dan banyak hal fenomena kebudayaan secara umum) tak melulu dalam aspek-aspek estetiknya belaka, tapi juga bagaimana itu diproduksi dan direproduksi, dan bagaimana pengaruhnya terhadap penerimaan publik. Ia melacak bagaimana dunia berubah dari tradisi pendongeng ke tradisi “cerita” yang dibawa oleh surat kabar, membentuk apa-apa yang dianggap penting untuk disampaikan dan diterima. Hah, bukankah di masa sekarang hal itu semakin nyata? Cara “cerita” dibawakan melalui internet, sosial media, sedikit banyak memorakporandakan fondasi tradisi bagaimana cerita-cerita disampaikan dan diterima. Dalam hal ini, saya rasa esai-esai Walter Benjamin menjadi lebih penting lagi untuk ditengok dan dibaca, terutama bagaimana pengaruh alat dan cara reproduksi karya dan cerita (berita) memengaruhi struktur sosial, dan tentu pada akhirnya juga ekonomi.



Standard
Journal

The Naive and the Sentimental Novelist

Saya senang membaca buku-buku tentang “teori” novel. Oh, bukan. Bukan jenis buku yang mengajari saya menulis novel penuh berisi tips dan trik. Tidak, saya tak tertarik membaca buku panduan semacam itu. Buku “teori” novel yang saya maksud, yakni buku-buku yang ditulis dalam rangka menjawab apa itu novel? Kenapa novel ditulis, dan terutama kenapa novel dibaca? Ya, meskipun ketika menulis novel, sudah hampir pasti saya lupa dengan semua teori-teori dan pemikiran tersebut. Saya yakin, siapa pun yang menulisnya, juga segera melupakan teori-teori ciptaannya ketika mereka menulis. Tapi paling tidak, buku-buku semacam ini, ketika ditulis maupun dibaca, membantu pikiran kita untuk terus bersikap kritis terhadap novel, terus bertanya, meskipun tak pernah ada jawaban pasti. Buku pertama, yang bisa dibilang klasik, tentu saja Aspects of the Novel karya E.M. Forster. Buku favorit saya yang kedua, buku kembar karya Milan Kundera: The Art of the Novel dan The Curtain. Dalam banyak hal, kedua buku itu bersinggungan satu sama lain. Jika Forster banyak bicara mengenai elemen-elemen novel, dalam beberapa tingkat nyaris teknis, kedua buku Kundera lebih bersifat filosofis, terutama menyangkut novel modern. Mario Vargas Llosa pernah menulis A Letter to a Young Novelist, buku kecil yang juga menarik. Gagasan-gagasannya mengenai novel mungkin akan lebih kaya jika kita membaca ulasannya mengenai novel Seratus Tahun Kesunyian dan Madame Bovary. Ia memang rada-rada akademis. Tapi sebagai pengantar terhadap pemikirannya mengenai novel, buku yang saya sebut sebelumnya barangkali sudah sangat memadai. Jujur saja, novel sebagai “seni novel” memang masih jarang dibicarakan, apalagi jika bicara tingkat kesusastraan Indonesia. Terutama jika dibandingkan dengan saudaranya: puisi. Padahal di abad 20 dan 21 ini, saya kira novel merupakan genre kesusastraan yang bisa dibilang sangat populer, terutama jika dilihat dari kuantitas penulis maupun pembacanya, serta buku yang beredar. Hal ini barangkali disumbang oleh menjamurnya novel-novel, yang katakanlah merupakan “novel ringan” atau “novel hiburan”, meskipun istilah itu pasti sangat bisa diperdebatkan. Tapi kita tak bisa menutup mata, barangkali banyak di antara penulis novel sendiri (apalagi pembaca?) yang tak pernah peduli, tak pernah mempertanyakan, apa itu novel? Kenapa novel ditulis? Kenapa novel dibaca? (Sebagaimana orang menjalani hidup malas bertanya apa itu hidup? Kenapa ada kehidupan?) Untuk saya, itu pertanyaan penting. Tanpa pertanyaan-pertanyaan itu, saya barangkali kehilangan gairah untuk menulis novel. Jika ada buku semacam ini yang ditulis oleh bukan penulis novel, tapi pastinya ia pembaca novel yang tekun, saya bisa menyebut satu yang sangat penting: The Theory of the Novel, karya filsuf Hungaria, Georg Lukács. Jika selama ini novel modern dan filsafat modern tampak seperti dua rel yang berjejeran, buku-buku semacam ini merupakan upaya segar mempertemukan keduanya, di mana kedua tradisi saling meminjam metode dan upaya kreatif mereka. Nah, untuk yang keranjingan buku-buku semacam ini, saya juga akan memasukkan buku kecil karya Italo Calvino, Six Memos for the Next Millenium, yang berisi enam catatan mengenai seni novel. Sayang karena keburu meninggal, buku tersebut hanya berisi lima catatan saja, meskipun judulnya tetap dipertahankan sebagai Six Memos …. Dan sekarang, di hadapan saya, dari salah satu penulis kontemporer, tergeletak buku berjudul The Naive and the Sentimental Novelist, karya Orhan Pamuk. Mengikuti tradisi Friedrich Schiller (dengan esai cemerlangnya berjudul “Über naive und sentimentalische Dichtung”, atau “On Naive and Sentimental Poetry”, atau “Tentang Puisi Naif dan Sentimental”), Pamuk membagi dua jenis novelis (dan pembaca novel): naif dan sentimentil. Naif dalam makna, para novelis yang mengarang apa adanya, yang membaca novel apa adanya: kekanak-kanakan. Sentimentil dalam makna, analitik. Ketika menulis novel, ia juga memikirkan mengenai banyak aspek, termasuk barangkali bertanya, apa gunanya menulis novel? Nah, karena saya senang membaca buku-buku semacam ini, boleh jadi saya termasuk yang sentimentil. Tapi karena saya sering menulis dan membaca tanpa memikirkan apa-apa, bisa juga saya naif. Entahlah. Menurut Pamuk sendiri, keadaan ideal untuk seorang novelis, tentu saja menjadi naif sekaligus sentimentil di waktu yang bersamaan. Saya rasa sulit untuk tidak sepakat dengannya.



Standard
Journal

Lukács

Tesis terakhir Marx tentang Feurbach mengatakan, “Para filsuf hanya memahami dunia dengan berbagai cara, padahal yang terpenting adalah mengubahnya.” Menurut Georg Lukács, di antara sekian penerus Marx, Lenin lah yang paling sempurna mengikuti tesis tersebut. Sebelum ini saya lebih banyak membaca karya-karya kritik sastra Lukács (The Theory of the Novel, Soul and Form), tapi tinjauannya tentang Lenin di buku tipis berjudul Lenin (A Study on the Unity of His Thought), saya pikir merupakan studi yang tak kalah menariknya. Ditulis tak lama selepas kematian Lenin, setahun setelah ia menerbitkan karya terbesarnya, History and Class Consciousness, kita boleh tercengang: saat itu Lukács baru berusia sekitar 38 tahun (usia yang sama dengan saya saat ini!). Banyak buku tentang Lenin, membicarakan kisah hidup maupun pemikirannya, tapi saya rasa Lenin merupakan salah satu studi yang sangat penting. Bukan hanya karena ditulis oleh salah satu Marxis terbesar (menurut saya: setelah Marx, Engels dan Lenin), tapi karena telaah ini ditulis dengan cara seolah-olah sebagai “biografi pemikiran”. Pandangan-pandangan Lenin ditulis secara kronologis, tak hanya mengikuti urutan waktu tapi juga problem-problem yang melatarbelakangi pemikiran-pemikiran itu, dan lebih penting lagi sebenarnya: keputusan-keputusan praksis yang dilakukannya. Dibuka dengan studi bagaimana Lenin harus menerjemahkan materialisme historis Marx menjadi agenda revolusi proletar dan bagaimana kelas proletar bisa terbentuk di Rusia yang feodal dengan kapitalisme yang masih setengah berkembang. Dan tentu saja penemuan terbesar Lenin: organisasi, tentang bagaimana kelas proletar harus memperkuat diri dalam bentuk organisasi yang diwujudkan dalam bentuk partai politik, serta apa peran negara setelah perebutan kekuasaan berhasil dimenangi? Bagi para pembaca sejarah Marxisme ataupun Sovyet, tentu itu bukan hal yang baru, termasuk pandangan Lenin yang bisa dibilang sebagai inti telaah Lukács ini: tak ada aturan umum yang bisa diterapkan untuk semua kasus. ‘Kebenaran’ muncul melalui satu analisa konkret atas situasi konkret berdasarkan pendekatan dialektika atas sejarah. Dengan cara seperti itulah segala bias utopia atas sosialisme terus-menerus dieliminasi. Kecenderungan filsafat untuk selalu “menjawab” pada satu titik sering membuat saya (yang pernah belajar Filsafat secara formal) merasa bosan. Bandingkan dengan kesusastraan (yang saya geluti selepas lulus kuliah) yang menurut saya merupakan wilayah “pertanyaan”. Para filsuf melulu mencoba menjawab, sementara para sastrawan asyik dalam bertanya tanpa akhir. Dan jawaban para filsuf, seringkali mengasumsikan bahwa selalu ada kebenaran, jawaban tunggal, yang mengatasi banyak masalah. Waham ini bahkan memengaruhi fisika spekulatif, misalnya Hawking yang mencoba menemukan “teori segala hal”. Tapi membaca Lenin ini, Lukács menunjukkan bahwa filsafat, terlepas dari usaha-usaha para filsuf untuk “menjawab” masalah dunia, memperlihatkan bahwa jawaban-jawaban itu tak pernah berlaku untuk segala kasus. Filsafat merupakan usaha untuk menjawab, tapi dengan kesadaran bahwa jawaban itu merupakan proses dialektika sejarah yang terus bergerak. Dan ini muncul dari seorang Marxis, ditelaah oleh Marxis lain, yang sering dianggap oleh umum justru menganut filsafat yang dogmatis. Tentu saja tantangannya adalah untuk selalu siap sedia menjawab pertanyaan yang berubah-ubah. Atau sebagaimana kemudian Lukács mengutip Shakespeare: “Readiness is all.” Bagi saya, tak ada yang lebih menyenangkan daripada sifat filsafat yang spekulatif, sebagaimana karakter sastra yang “bertanya”. Meskipun buku ini sedikit beraroma “pemujaan” atas Lenin, yang diakui sendiri oleh Lukács di catatan akhirnya, telaahnya menunjukkan karakter tulisan Lukács yang terstruktur, fokus, tapi dengan satu dan lain cara mampu memberi sudut pandang yang sedikit beragam. Ia memberi sedikit kontras pada pemikiran-pemikiran dan keputusan-keputusan Lenin dengan menyodorkan pandangan yang berbeda dari Rosa Luxemburg, misalnya, yang kemudian diakuinya dalam bidang ekonomi pemikiran Lenin seringkali inferior dibandingkan Rosa. Terakhir, bagi yang berminat membaca karya-karya filsafat Lukács (yang lebih berat) seperti History and Class Consciousness, buku ini bisa dipergunakan sebagai pengantar ringkas, meskipun tentu memiliki ruang lingkup yang berlainan jika ingin membaca kritik-kritik sastranya.



Standard