Journal

The Leviathan, Joseph Roth

Leviathan, menurut Perjanjian Lama, merupakan monster laut. Judul asli novela ini sebenarnya, kira-kira, “Penjual Batu Karang”, ditulis oleh Joseph Roth, penulis Yahudi Jerman yang meninggal di usia masih cukup muda, empat puluh lima. Kalau mau jujur, The Leviathan ini memang bisa dikasih judul apa saja. Untuk sebuah buku yang kurang dari enam puluh halaman, dengan cerita yang boleh dibilang sederhana menyerupai dongeng, bahkan fabel, rasanya banyak hal disinggungnya. Meskipun tidak secara langsung. Pertama, sebagai dongeng, novela ini bisa dilihat sebagai kisah mengenai kejatuhan disebabkan godaan Si Jahat (si monster laut?) yang telah mengubah manusia saleh, Nissen Piczenik si pedagang batu karang, ke keburukan. Ia yang seumur-umur tinggal di kota kecil Progrody dan hidup relatif sukses (ia bisa menabung), terobsesi dan tergila-gila untuk melihat laut, rumah dan tempat asal-usul batu karang jualannya. Hingga satu hari ia akhirnya pergi ke Odesa, kota pelabuhan terdekat, dan sejak saat itu hidupnya berubah. Hidupnya semakin berubah demi mengetahui ada cara lain untuk mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya, dengan mencampur batu karang asli dan yang palsu (yang terbuat dari seluloid). Kedua, kita juga bisa melihatnya sebagai fabel kapitalisme. Tentang sikap rakus, sikap kehendak memperoleh keuntungan berlipat-lipat, persaingan bisnis (kapitalisme seolah menciptakan persaingan yang membuat pedagang berusaha menurunkan harga sekompetitif mungkin, tapi pada dasarnya tetap dengan tujuan memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya), yang berujung kepada penipuan (mengenai batu karang palsu). Ketiga, bisa dianggap sebagai dongeng moral. Awalnya Nissen merupakan pedagang yang sangat disegani, meskipun ia berasal dari golongan minoritas. Orang-orang percaya kepadanya. Para petani yang sering membeli batu-batu karang darinya, selain untuk perhiasan, juga untuk menangkal marabahaya dan nasib buruk. Tapi begitu ia mencampur batu karang asli dan palsu (dan tanpa mengubah harga), pada saat yang bersamaan penyakit datang mewabah. Orang-orang mulai menganggap batu karangnya membawa keburukan. Mereka mulai menghindarinya, tak lagi membeli batu karang darinya, dan saat itulah kejatuhannya hanya masalah waktu. Tentu saja kita bisa melihatnya dengan berbagai cara selain yang sudah saya sebut. Seperti saya bilang, untuk novela sekecil ini, kandungannya sangat kaya untuk menjadi telaah yang mengasyikkan: moral, politik, ekonomi, bahkan agama, sosial, psikologi, gender (lihat hubungan si pedagang batu karang dengan isterinya), bahkan geografi dan kosmologi. Saya tak tahu banyak tentang penulisnya. Penelusuran kecil tentangnya memberi informasi ringkas, bahwa di awal-awal karirnya ia tampak menjanjikan melalui novel debutnya. Bisa dibilang ia memiliki jiwa para penulis besar (penerjemahnya menyebut pembukaan novela ini mengingatkan kepada Dostoyevsky dan Gogol). Tapi nasib tak bisa dielakkan. Perang Dunia II datang, Hitler berkuasa. Ia terpaksa lari, eksil, dan hidupnya tercerabut. Dan kemudian mati relatif masih muda. Kita sering berharap menulis sesuatu yang ringkas tapi bicara banyak. Kebanyakan di antara kita gagal melakukannya: bicara banyak, tapi tidak ringkas, dan akhirnya kosong tak ada isinya. Itu tak berlaku untuk novela ini, sebagaimana sering terjadi pada fabel dan dongeng yang diceritakan turun-temurun.



Standard
Cool Stuff, In English

“It may be cheating to include two novels by one author, but there is no doubt that the year’s most important revelation-in-translation is Eka Kurniawan, whose searing works of so-called magical realism set in Indonesia should not be missed by any reader, especially those who are unafraid of sex and violence. If you’re tired of rereading Gogol and Dostoevsky, turn to Kurniawan instead.”

Beauty Is a Wound and Man Tiger are among Flavorwire’s The Best Fiction 2015.



The Best Fiction 2015, Flavorwire

Aside
Journal

Killing Auntie, Andrzej Bursa

Jika kamu suka membaca novel yang bisa membuatmu mual, cobalah Killing Auntie karya Andrzej Bursa ini. Kebrutalannya nyaris menyerupai adegan-adegan di film kelas B, di mana si narator mencoba memotong kaki mayat, putus asa membiarkan mayat bibinya di bak mandi selama berhari-hari, bahkan di puncak adegannya, bagaimana ia (dibantu yang lain) melemparkan potongan-potongan mayat ke binatang buas di kebun binatang. Juga jangan dilupakan bagian di mana diketahui, nenek si tokoh menggerogoti daging mayat. Sadis dan gila, tentu saja. Tapi novel ini tak hanya sekadar itu, tentu saja. Sejak bagian-bagian awal, kita sadar penulis ini, novel ini, membawa sejenis roh Dostoyevsky di dalam dirinya. Pengamatan yang telaten atas diri manusia, masyarakat yang tampak baik-baik saja di luar tapi menjadi mencekam begitu menelisik ke bagian dalam jiwa masing-masing. Humornya tersamar, sama sekali tak bermaksud melucu, tapi demikian melimpah. Andrzej Bursa merupakan penulis Polandia, dan ini merupakan satu-satunya novel yang ia terbitkan. Ia meninggal sangat muda, umur 25. Tapi itu tak menghindarkannya menjadi sejenis pujaan dalam kesusastraan Polandia, menjadi sejenis suara bagi kaum muda yang gelisah dan terkadang marah. Secara sederhana bisa dikatakan, novel ini bercerita tentang seorang anak muda (anak kuliahan), yang satu hari menggetok kepala bibinya dengan palu. Mati, tentu saja. Sepanjang cerita, dikisahkan bagaimana ia mencoba menghilangkan jejak tindakan kriminalnya, yang artinya mencoba melenyapkan mayat si bibi. Bukan perkara mudah, bahkan kemudian ia sadar, mayat merupakan lawan yang tangguh, yang sulit ditaklukan. Saya menyebut Dostoyevsky di atas, dalam rangka menyanjung yang sepantasnya untuk penulis muda ini. Ketika membacanya, kita akan sadar tengah menghadapi sejenis kegilaan. Tapi caranya bercerita, terutama di bagian awal, kita akan menemukan sebuah dunia di mana kegilaan merupakan sesuatu yang begitu wajar dan normal, sesuatu yang bisa terjadi kepada setiap orang. Seperti Dostoyevsky biasa melakukannya. Hingga kemudian kita tersadar bahwa Bursa melangkah lebih jauh. Perlahan tapi pasti, nada suara naratornya mulai berubah. Kegilaan yang awalnya tampak sebagai obyek, sebagai sesuatu yang “begitulah memang kejadiannya”, sesuatu yang pembaca lihat, tiba-tiba menjadi sesuatu yang melibatkan kita. Yang dirasakan pembaca. Di sanalah kita mulai ikut merasa bingung, ikut ketakutan (hey, kenapa dia membunuh si bibi? Kenapa dia enggak ngaku sepenuhnya saja kepada si pastor? Kalau memang mau urusannya selesai, kenapa tidak segera lapor polisi), ikut berkonspirasi dalam kejahatan (ayo, kamu kabur saja! Pikirkan cara brilian untuk melenyapkan mayat bibimu!), bahkan ikut kesal (hey, kenapa kamu ceritakan pembunuhan itu kepada pacarmu?). Perubahan nada suara ini yang menurut saya membuat novel ini menjadi terasa lebih istimewa. Bahkan di bagian akhir, perubahan itu semakin ketara. Cara naratornya bicara semakin berbeda, dan kita mulai menyadari kita tak lagi sedang menonton kegilaan, kita sedang ikut di bagian dalamnya. Sedang bicara dengan cara yang gila. Kadang saya berpikir, dunia membutuhkan lebih banyak novel sinting seperti ini. Tapi, bukankah novel yang cemerlang menjadi menarik justru karena novel semacam itu memang tak banyak dihasilkan? Penulis seperti Andrzej Bursa, saya pikir hanya perlu menulis satu novel sepanjang hidupnya (ya, dia tak mungkin menulis karya lainnya), tapi itu cukup untuk meninggalkan bayangan yang panjang.



Standard
Journal

Buat Kamu yang Sering Merasa Tidak Dianggap Penting: The Festival of Insignificance

Kamu merasa sudah bekerja keras dan menghasilkan karya hebat (sudah menulis beberapa buku puisi, novel, kumcer dan merasa itu dobrakan hebat dalam kesusastraan), tapi hampir tak ada orang yang menganggap apa yang kamu lakukan penting, bahkan menengok pun tidak? Kamu merasa sudah melakukan segala hal yang terbaik untuk orang yang kamu cintai, tapi cintamu terus bertepuk sebelah tangan? Kamu sudah bekerja giat, memberi keuntungan yang melimpah untuk perusahaan, tapi tak juga naik pangkat apalagi gaji, malah sepupu si presiden direktur yang bodoh dan tak tahu apa-apa melangkahimu? Rayakan saja. Saya sering berpikir, penulis yang sudah menghasilkan beberapa buku dan semuanya tidak menarik, buku-buku berikutnya tak perlu diperhatikan sama sekali. Saya juga sering menganggap karya seorang penulis di usia tua sebagai sesuatu yang tak penting, insignifikan, dan sebaiknya diabaikan saja. Saya pikir mereka tak membutuhkan apa pun lagi, dan jika mereka masih menulis, barangkali hanya sebagai upaya agar tidak pikun saja. Saya hampir mengabaikan novel Milan Kundera terbaru, The Festival of Insignificance. Tapi judulnya membuat saya terprovokasi, seolah-olah meledek, benar kamu mau menganggapku insignifikan? Baik, aku akan merayakan pengabaianmu. Sial. Saya memutuskan untuk membacanya. Kalau jelek dan menyebalkan, toh hanya 115 halaman. Kenyataannya saya tak menyesal membaca buku ini. Saya seolah menemukan kembali Kundera dari masa-masa terbaiknya. Benar, hal itu bisa dilihat dengan cara lain: tak ada hal baru dalam karyanya. Tapi bayangkan, ia meremas segala yang dia lakukan dalam The Book of Laughter and Forgetting, The Unbearable Lightness of Being dan Immortality dalam sejilid buku kompak yang padat: kita menemukan kembali dirinya dalam bentuk hampir-filsuf, merayakan novel dalam berbagai kemungkinannya. Novel sebagai alat memeriksa hal remeh-temeh dengan cara yang penuh keseriusan, dipadu-padankan dengan anekdot sejarah yang memendar ke sana-kemari sebagai prisma, dan tentu saja telaah yang selalu luar biasa kepada tindakan-tindakan kecil tokoh-tokohnya, seolah itu merupakan kunci penting untuk memahami hakikat manusia. Sebagai contoh remeh-temeh, Kundera memulai novel ini dengan tantangan yang penting tidak penting saya rasa benar: kenapa di abad ini, daya tarik seksual perempuan bergeser ke lubang kecil bernama udel? (Ehm, saya jadi membayangkan udel-udel Seohyun, Yoona dan Taeyeon, serta semua cewek k-pop). Ia memeriksa bagian-bagian tubuh perempuan lainnya, yang menjadi titik-titik penting daya tarik seksual sebelumnya (dan tentu saja masih). Paha, bokong, dan payudara. Titik-titik itu selalu bersifat personal dalam arti, paha, bokong dan payudara setiap perempuan berbeda satu sama lain. Tapi udel tidak begitu: semua udel perempuan (yang sering dipamerkan dalam sepuluh tahun terakhir ini), bisa dibilang sama. Udel barangkali mewakili titik daya tarik seksual, tapi sekaligus (karena ketidak unikannya satu sama lain) juga menggambarkan ketidak-signifikan-an. Tapi justru itulah: ketidak-signifikan-an ini kini dirayakan. Lambang hubungan biologis anak-ibu ini menjadi bahasan yang memikat, tanpa harus bertele-tele (ingat, novel ini cuma 115 halaman), berbaur dengan lelucon tentang Stalin dan para kameradnya tentang humor. Ya, Kundera kembali ke topik kegemarannya: ejekan kepada rezim Sovyet dan bagaimana mereka menghadapi humor. Humor mati di tangan Stalin, justru digambarkan dengan cara Stalin mencoba ngebanyol di hadapan para kameradnya dan tak ada satu pun yang tertawa dan menganggapnya humor. Seperti di banyak novelnya, ia kembali membagi novel ini ke dalam tujuh bagian (ia suka angka tersebut). Seperti di banyak novelnya, ia kembali menghadirkan narator yang saya rasa tak hanya berfungsi sebagai pembawa cerita, tapi terutama sebagai seorang analis, yang mempsiko-analisis segala seseuatu, atau sejenis moderator dalam perbincangan ringan (tapi seringkali tak tertanggungkan). Saya ingat sepotong esai yang ditulis Kundera mengenai “kelucuan dalam ketidak-hadiran kelucuan” The Idiot karya Dostoyevsky. Ia mengenang seorang teman sekolahnya: sekali waktu seisi kelas ribut menertawakan sesuatu, tiba-tiba seorang teman berdiri dan tertawa tapi ia tertawa tidak seperti yang lain. Ia hanya menjiplak tawa itu. Tertawa tanpa kehadiran sesuatu yang lucu, tertawa hanya untuk tetap menonjol di antara kerumunan. Novel ini bisa dilihat begitu: upaya untuk berdiri di tengah kerumunan novel-novel Kundera lain yang telah kita kenal. Jika tak ada hal serius di novel ini sebagaimana di novel-novelnya yang lain, ia telah menjawabnya di sampul buku. Ini perayaan atas ketidak-signifikan-an, kesepelean.

PS: Saya rasa sangatlah keterlaluan jika ia tak memperoleh Nobel Kesusastraan, atau karya-karyanya dianggap sepele, insignifikan?



Standard
Journal, Tanya dan Jawab

Tanya-Jawab: Pengaruh Sastrawan Indonesia

F Daus AR: Ini pertanyaan agak pribadi. Sejauh mana pengaruh sastrawan Indonesia terhadap karya yang Anda gubah. Nama yang saya maksud di luar sastrawan Indonesia yang sudah sering dibahas di jurnal. Misalnya saja, Kuntowijoyo, yang wafat 22 Februari 2005 silam.

Jawabannya juga agak pribadi. Ada satu peristiwa yang pernah membuat saya sangat sedih. Seperti saya pernah mengatakannya, [Cantik Itu Luka], novel pertama saya pernah ditolak beberapa penerbit. Oh, itu bukan bagian sedihnya. Soal itu saya tak terlalu peduli, dan di masa itu saya masih cukup punya kepercayaan diri anak muda bahwa cepat atau lambat saya akan menemukan satu cara untuk menerbitkannya. Hal yang membuat saya sedih datang beberapa tahun kemudian. Akhirnya saya bertemu dengan satu editor yang pernah menolak novel tersebut (nama dan tandatangannya memang tertulis di nota kecil penolakan itu), dan dia secara terus-terang bilang membaca novel saya dan menolaknya, salah satu alasannya: novel itu tidak masuk kriteria/preferensi dia mengenai novel sastra yang bagus. Menurutnya, novel sastra yang bagus mestinya seperti novel-novel Mangunwijaya, Kuntowijoyo, Ahmad Tohari. Tentu saja saya kemudian membaca beberapa karya mereka, dan saat itulah saya merasa sangat sedih. Saya sedih karena saya tahu persis: 1) saya tak ingin menulis novel seperti mereka, 2) jika ukuran kesusastraan (Indonesia) yang bagus diukur dengan karya-karya mereka, saya merasa tak memiliki tempat di peta kesusastraan dan kemungkinan besar saya tak ingin menjadi penulis. Meskipun begitu, di tengah kesedihan itu, saya patut bersyukur bahwa saya mendengarnya setelah “telanjur” jadi penulis, di usia saya yang jauh lebih dewasa, dan apa pun yang dikatakan orang tentang “sastra Indonesia yang bagus”, saya dengan keras kepala bisa membuat patok sendiri di hamparan peta itu, untuk saya dan karya-karya sendiri. Atau jika tidak diberi tempat, saya akan membuat peta sendiri. Jadi menjawab pertanyaan di atas, saya kuatir bahwa pengaruh penulis-penulis ini atas saya bisa dikatakan kecil atau tidak langsung. Bukan karena saya tak suka atau mereka tak bagus, tapi sesederhana bahwa saya memang baru mengenalnya belakangan. Dalam hal ini, saya akan mundur ke belakang. Izinkan saya menceritakan sejarah membaca saya, yang barangkali bisa menjelaskan kenapa hanya segelintir penulis Indonesia (yang itu-itu saja) yang sering saya bicarakan, dan yang pengaruhnya banyak membekas, dan kenapa ada begitu panorama kesusastraan Indonesia yang saya “tinggalkan” dan menciptakan lubang besar. Saya jarang menceritakan hal ini, dan hanya pernah sekali menceritakannya secara lengkap kepada seorang pengamat Indonesia yang penasaran karena “tampaknya saya tak terlalu peduli dengan penulis-penulis Indonesia” (dia bilang kepada saya, ini sejenis arogansi yang juga ada pada Pramoedya, hahaha). Baiklah, saya bisa dibilang tak memiliki sejarah yang baik dengan kesusastraan Indonesia. Hingga selesai SMA, tak banyak karya “sastra” yang saya baca. Anda semua tahu bagaimana pendidikan kita di tahun 80-90an. Saya tinggal dan sekolah di sebuah kota kecil, Pangandaran. Tak ada toko buku dan tak ada perpustakaan. Saya memang senang membaca buku, tapi yang bisa saya peroleh hanyalah novel-novel “picisan”: Asmaraman S. Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap, Bastian Tito, buku stensilan. Sebagai selingan, saya juga membaca Enid Blyton, Karl May. Lupakan kanon-kanon sastra Indonesia, saya tak pernah melihatnya. Jika di masa remaja itu saya ingin menjadi penulis novel, sudah pasti novel yang ingin saya tulis adalah novel horor atau cerita silat. Saya pernah mencobanya sebelum dibuang ibu saya karena kertas-kertas itu menumpuk dan menjadi makanan rayap. Selesai SMA, saya pindah ke Yogyakarta. Kuliah di UGM. Melanjutkan kegemaran membaca (yang tak terpuaskan di kondisi kota kecil tempat saya tinggal), saya dibuat terpana menemukan perpustakaan. Sepanjang masa kuliah, saya menghabiskan lebih banyak waktu di perpustakaan, dan favorit saya selama enam tahun itu adalah ruangan kecil di perpustakaan kampus di mana saya bertemu Toni Morrison, Salman Rushdie, Gabriel García Márquez, Leo Tolstoy, Dostoyevsky, Melville, Knut Hamsun dll (ada satu rak yang dipenuhi oleh buku-buku terbitan Everyman’s Library). Tololnya saya, bahkan saat itu saya tak sadar tengah menghadapi kanon-kanon kesusastraan dunia. Bagi pikiran anak pantai ini, saya hanya sesederhana membaca novel, melanjutkan kegemaran saya. Saya lumayan beruntung bisa membaca bahasa Inggris. Ayah saya yang mengajari sejak kecil, meskipun seperti saya, dia mengajar sambil lalu dan ogah-ogahan. Baru bertahun-tahun kemudian saya menyadari (orang lain yang kemudian mengatakannya kepada saya), masa awal 90an itu merupakan “lompatan” dalam sejarah membaca saya. Dari sastra picisan yang dibaca di masa remaja, saya kemudian “melompat” membaca kanon-kanon dunia. Di antara kedua jenis bacaan itu, saya melewatkan karya-karya “kanon” kesusastraan Indonesia, kecuali Pramoedya Ananta Toer yang saya peroleh dari beberapa teman di masa-masa kami turun ke jalan, melemparkan batu ke polisi, antara tahun 1996-1998. Saya selalu percaya, selera kita jauh lebih banyak terbentuk ketika kita masih muda. Maka jika saat ini ada yang bertanya karya sastra macam apa yang ingin saya tulis, jawaban saya kurang-lebih masih sama seperti di masa remaja: saya ingin menulis novel silat atau novel horor. Dan sastra yang bagus bagi saya, karena dipengaruhi oleh sejarah bacaan, saya tak bisa tidak merujuk ke Hamsun, Melville, Cervantes. Jika saya boleh berbagi ambisi, (mungkin sederhana, mungkin tidak), saya ingin menulis seperti Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap, sekaligus seperti Cervantes atau Melville, atau Gogol. Saya baru membaca sastra Indonesia secara lebih banyak, dan “sadar”, justru setelah saya memutuskan untuk menjadi penulis, selepas 1999. Saya tahu, saya sangat terlambat, tapi saya tak bisa memutar ulang waktu. Dan di umur dewasa seperti sekarang, sangat sulit untuk mengubah selera. Otak kita cenderung menjadi lebih bebal dan membatu bersama dengan bertambahnya usia. Lagipula, haruskah saya mengubah selera sastra saya? Bagi saya bukan tindakan kriminal menempatkan Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap dan Pramoedya di atas penulis-penulis Indonesia lainnya. Mereka jelas-jelas memberi arti penting tak hanya dalam karya saya, tapi juga dalam hidup saya. Tanpa sastra picisan itu, saya akan menjalani masa remaja yang membosankan. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para penulis yang telah meletakkan patok-patok dalam sejarah kesusastraan nasional kita, tak bisa tidak, selamanya saya akan berterima kasih kepada sastra picisan, melebihi kanon-kanon kesusastraan Indonesia lainnya.



Standard
Journal, Tanya dan Jawab

Tanya-Jawab: Perlukan Pelajaran Sastra untuk Anak Sekolah?

Fajar Riadi: Saya membaca beberapa catatan Mas Eka, tapi (entah kalau saya silap) belum menemukan catatan bagaimana sebaiknya mengenalkan sastra kepada anak-anak. Bisakah Mas Eka memberi usulan? Saya mengira, sama dengan anak-anak SD-SMP kebanyakan, mereka tak banyak mendapat pelajaran sastra yang memadai di sekolah.

Sejujurnya saya juga tak punya banyak pengetahuan soal ini. Pertama, saya tak memiliki pendidikan formal kesusastraan, apalagi pendidikan guru sastra. Kedua, seperti anak-anak SD-SMP kebanyakan (menurutmu), masa kecil saya juga dilalui dengan pengetahuan sastra pas-pasan, jika tak bisa dikatakan buruk. Sampai SMA, meskipun saya gemar membaca, bacaan saya sebagian besar apa yang kita kenal sebagai “sastra picisan” yang saya temukan di taman bacaan, selingan dengan beberapa novel remaja dan anak-anak (Lima Sekawan, buku-buku Dr. Karl May, dll). Sementara anak saya masih kecil, baru belajar menulis dan membaca huruf, sehingga saya juga tak bisa berbagi pengalaman secara langsung. Meskipun begitu, jika ada yang tertarik mendengar usulan saya, saya hanya punya satu gagasan untuk memperkenalkan sastra kepada anak-anak: beri mereka buku dan biarkan mereka membaca. Tentu saja disesuaikan dengan umur mereka. Kecintaan terhadap sastra seharusnya dimulai dari kegemaran membaca, dan hanya melalui membaca. Konon menurut satu penelitian (yang saya lupa baca di mana), orang tua yang membaca kemungkinan besar akan melahirkan anak-anak yang juga membaca. Saya rasa hal ini benar, dan kita bisa menanamkan kecintaan anak terhadap membaca melalui hal ini. Sebagai orang tua, sering-seringlah membaca. Membaca di depan anak-anak, membacakan buku untuk anak-anak. Sangat konyol mengharapkan anak-anak jadi gemar membaca buku sementara kita, orang tua, tidak melakukannya. Jika kita, orang tua, tak menganggap membaca buku sebagai hal penting dan menyenangkan, bagaimana anak-anak menganggapnya sama? Tentu saja orang tua yang dimaksud tak hanya orang tua di rumah, tapi juga orang-orang dewasa di komunitas, guru di sekolah. Cukup hanya memberi mereka bacaan dan membiarkan mereka membaca buku? Saya tak ingin muluk-muluk, bagi saya itu lumayan cukup. Mereka bisa membicarakan buku yang mereka baca satu sama lain, mereka akan memperdebatkan karakter mana yang mereka suka dan mereka benci, mereka akan memikirkan sebuah gagasan sederhana yang dikatakan penulis buku … hal-hal seperti itu bisa berkembang di lingkungan yang baik. Lantas bagaimana dengan pelajaran sastra untuk anak-anak? “Pelajaran/pengetahuan sastra” saya rasa tidak diperlukan untuk semua orang, dan saya tak merasa itu sesuatu yang wajib diketahui. Untuk apa mengetahui diksi, cara kerja metafor, apa itu realisme, apa itu dadaisme? Apa pentingnya mengetahui bahwa Dostoyevsky dan Virginia Woolf mempergunakan “arus kesadaran” untuk anak-anak sekolah? Apa pentingnya mengetahui siapa-siapa penulis Pujangga Baru? Lihat saja, selama bertahun-tahun kita diajarkan tentang apa itu pantun, dan sebagian besar orang tetap berpantun dengan cara yang salah. Tak ada gunanya. Saya rasa pengetahuan sastra hanya diperuntukan untuk orang yang meminatinya saja, untuk orang-orang yang berminat menjadi penulis atau peneliti sastra. Yang wajib dimiliki seorang anak sebaiknya “kemampuan membaca” dan “kemampuan menulis”, ketimbang “pengetahuan sastra”. Kemampuan membaca akan memberi landasan bagi anak-anak untuk menganalisa cara berpikir, menerima gagasan, dan terutama pada akhirnya kepada sikap toleran. Kemampuan menulis juga akan memberi landasan anak-anak untuk menata pikirannya, bekerja dengan logika, dan terutama mengungkapkan serta mempertanggungjawabkan pendapat dan gagasan. Pelajaran sastra? Bahkan meskipun saya penulis, saya tak melihat hal praktis dari pelajaran sastra untuk semua orang. Penting bagi saya, karena saya menyukainya dan hidup di dalamnya, sebagaimana pengetahuan tentang konstelasi bintang-bintang penting bagi kosmolog dan astronom. Gagasan saya mengenai pelajaran sastra di sekolah sih rada ekstrem: kalau perlu pelajaran sastra dihapus saja dari sekolah-sekolah, jadikan sebagai pelajaran pilihan (karena berpotensi memberi beban berlebihan kepada anak didik), sebagaimana dulu waktu saya SMP pernah mengambil pelajaran pilihan elektronik. Sebagai gantinya, beri “Pelajaran Membaca dan Menulis”, perdalam kemampuan membaca dan menulis (yang pasti berguna, bahkan di luar urusan kesusastraan).



Standard
Journal

Dua Novel Bohumil Hrabal

Too Loud a Solitude. Biar keren, ia memutuskan untuk memiliki sandal. Ibunya merajutkan untuknya kaus kaki. Ia pun pergi ke lapangan dengan sandal dan kaus kaki, untuk melihat daftar nama pemain utama yang akan turun bermain sepakbola. Tiba-tiba ia merasa sebelah kakinya menginjak sesuatu yang basah dan lembek. Ia tak berani melihat ke bawah, matanya tetap tajam menatap papan pengumuman. Mencari namanya. Di daftar pemain utama, kemudian di daftar pemain cadangan. Setelah menemukan namanya, ia akhirnya menunduk. Ia menginjak tai anjing. Ia buru-buru menatap kembali papan pengumuman. Kembali mencari namanya, berharap satu keajaiban terjadi. Ia menemukan namanya, dan kembali menoleh ke bawah. Kakinya tetap terbenam di kubangan tai anjing. Kita bakal menemukan fragmen-fragmen pendek semacam itu di novel ini, dan saya kira di novel-novelnya yang lain. Bohumil Hrabal tak hanya “Penulis Ceko terbesar yang masih hidup (saat ini sudah meninggal)” sebagaimana dikatakan Milan Kundera, tetapi bisa dibilang master yang mampu mengendalikan humor dan tragedi dalam satu tendangan. Kisah Hanta yang bekerja di kantor polisi sebagai penghancur kertas (banyak di antaranya buku-buku langka dan terlarang), merupakan novel politik yang cerdas. Diam-diam Hanta sering menyelamatkan buku-buku penting dari mesin penghancurnya, membawanya pulang dan membacanya di waktu luang. Tidak tanggung-tanggung ia membaca Goethe, Schiller, Nietzsche, Kant dan memiliki repro karya-karya Rembrandt, Monet, Cézanne, hingga membuatnya “tak bisa membedakan mana pikiran yang datang dariku dan mana yang datang dari buku.” Ini novel tentang sensor dan bagaimana pengetahuan diselamatkan, dengan gaya jenaka. Tentang bagaimana pengetahuan dihancurkan, tapi diselamatkan di kepala manusia. Sementara buku-buku terus dihancurkan setiap hari, di malam hari, Hanta menemukan dirinya larut dalam dunia yang lain: ia melihat Yesus berdialog dengan Lao-tze, dan para filsuf membicarakan surga, berbaur dengan kenangannya atas gadis gipsi, dan pacarnya yang selalu sial namun akhirnya malah menjadi malaikat. Gaya berceritanya yang ekspresif, di tengah alur cerita kita seperti menemukan percikan-percikan fragmen warna-warni, kadang-kadang tentang filsafat, kadang sesepele tentang bir, lain kali tinjauan ringkas mengenai kaum Gypsy, di halaman lain ulasan sekelebat mengenai Hitler. Novelnya saya kira mendekati apa yang menurut saya merupakan novel ideal: bermain-main secara serius, atau keseriusan yang main-main. Kita bisa melihat filsafat, perang, agama, pengetahuan menjadi olok-olok yang menggelikan di novelnya, tapi pada saat yang bersamaan ia bisa membicarakan kehidupan sehari-hari, hal-hal banal semacam pita yang jatuh ke tumpukan kotoran manusia menjadi sesuatu yang penting. Lebih dari itu, Hrabal melakukannya dengan sangat padat dan ringkas, tanpa membuat novelnya menjadi sejenis sinopsis. Di bawah rezim komunis Ceko (dan pendudukan Sovyet, saya kira), kisah Hanta dengan mesin penghancur bukunya menjadi sejenis paradoks menggelikan sekaligus memilukan. Hanta yang bekerja dengan penuh gairah, yang merasa dirinya adalah apa yang dia kerjakan, dengan kedatangan mesin dan teknologi baru (yang diharapkan “membebaskan” manusia), justru merasa dirinya tercerabut. Terasing. “Seperti para pendeta yang, ketika mereka mengetahui Copernicus telah menemukan satu kumpulan hukum kosmik dan bahwa bumi tak lagi menjadi pusat semesta, memutuskan bunuh diri massal karena tak mampu membayangkan sebuah semesta yang berbeda dari yang pernah mereka diami.” Bahkan untuk hal semacam itu, Hrabal menyikutnya dengan humor. Sekaligus kepedihan.

***

Saya ingin membaca Hrabal sejak lama, lebih dari setahun lalu. Tapi selama 2014 saya memutuskan untuk lebih banyak membaca karya “klasik”. Orang bisa berdebat mengenai apa itu klasik. Klasik, bagi saya sesederhana karya dari abad 19 ke belakang. Dari Dostoyevsky, Tolstoy, hingga Shakespeare bahkan Homer. Masih banyak yang tertinggal dan masih ingin saya baca, tapi tahun ini bagaimanapun saya ingin bergerak. Akan lebih banyak membaca kesusastraan dari para penulis sekitar paruh pertama abad 20. Saya tak tahu siapa saja yang bisa saya temukan, tapi membaca dua novel Bohumil Hrabal di hari pertama tahun ini saya kira merupakan awal yang bagus. Setidaknya saya mengenal penulis Ceko lain setelah Milan Kundera dan Jaroslav Hašek.

***

Closely Observed Trains. Novel ini dibuka dengan adegan pesawat Jerman yang jatuh, dan bangkainya dipreteli penduduk kota. Salah satu yang sibuk mengangkuti kepingan-kepingan pesawat itu adalah ayah si tokoh. Ia seorang kolektor barang-barang tak berguna, yang karena kemampuan teknisnya, bisa mengubah barang-barang itu menjadi hal-hal yang berguna. Yang tentu saja bikin sirik banyak orang. Lalu kisah melipir ke kakek dan kakek-buyut, yang seperti si ayah, juga disiriki banyak orang karena “keberuntungan-keberuntungan” mereka. Si kakek-buyut kehilangan kakinya di front, dan gara-gara itu ia pensiun dini dan dapat gaji pensiunan bertahun-tahun lamanya, dan memakai uang itu untuk minum-minum sambil mengejek orang-orang yang harus bekerja keras demi sesuap nasi. Si kakek-buyut sering dipukuli orang yang kesal, tapi tak juga kapok. Si kakek punya kemampuan hipnotis, dan sekali waktu mencoba menghentikan tank Jerman dengan hipnotisnya. Gagal, dan malahan ia diseruduk tank hingga kepalanya lepas dan mengganjal laju tank. Mati, tapi jadi pahlawan. Kita akan mengira novel ini mengenai sejarah keluarga sialan penuh keberuntungan ini (meliputi kakek-buyut, kakek, ayah, dan anak), tapi dengan cerdik Hrabal mengecoh kita. Itu hanyalah pembukaan untuk memperkenalkan si tokoh utama, sebelum cerita berbelok tentang kisah si tokoh itu sendiri, seorang pegawai magang di stasiun kereta api, dan di sanalah kisah sesungguhnya terjadi. Dalam hal-hal seperti ini, gaya berceritanya mengingatkan saya kepada César Aira, tapi saya tak tahu apakah Aira membaca Hrabal atau tidak. Seperti novel yang sebelumnya saya sebut, novel ini juga sangat ekspresif, dan memperlihatkan kualitas Hrabal yang lain: kejeliannya kepada segala yang visual, dan humornya yang semakin menjadi-jadi. Ada adegan “mesum” di mana satu pegawai perempuan kepergok telanjang bulat bersama seorang pegawai lelaki di satu malam. Si pegawai lelaki bahkan mengecapi sekujur tubuh si perempuan dengan stempel stasiun. Tentu saja mereka disidang, tapi bukan karena mereka telah melakukan tindakan senonoh (sebab urusan moral semacam itu merupakan urusan pribadi belaka), tapi karena stempel yang dipakai mengandung bahasa Jerman! Itu penghinaan terhadap negeri Hitler. Hrabal hampir tak pernah gagal membuat kita tersenyum. Kisah utama novel ini adalah tentang kereta penuh amunisi milik Jerman, dan dua petugas stasiun (si tokoh utama, dan lelaki yang berbuat mesum) yang berniat meledakannya. Sejenis kisah “perjuangan”, tapi jangan salah kira. Apa yang disebut “kisah utama” itu sebenarnya ia ceritakan nyaris sekilas saja, dan baru kita ketahui menjelang akhir. Sebagian besar alurnya justru ke sana-kemari, termasuk kisah si bocah tokoh utama yang berusaha menjadi “dewasa”. Yang ia maksud dewasa adalah bisa meniduri perempuan dengan selayaknya, sebab terakhir ia mencobanya, ia mengalami apa yang disebut orang Jawa sebagai “peltu” (nempel metu, baru nempel sudah keluar). Dan peristiwa “peltu” itu makin membuatnya malu (sampai ia mengiris nadinya berharap mati) karena dilakukan di studio foto dengan semboyan “Lima Menit Selesai”. Ia merasa terhina karena bahkan tak sampai lima menit. Lagi-lagi humor ala Hrabal. Menggelikan, dan pedih.



Standard