Journal

Buat Kamu yang Sering Merasa Tidak Dianggap Penting: The Festival of Insignificance

Kamu merasa sudah bekerja keras dan menghasilkan karya hebat (sudah menulis beberapa buku puisi, novel, kumcer dan merasa itu dobrakan hebat dalam kesusastraan), tapi hampir tak ada orang yang menganggap apa yang kamu lakukan penting, bahkan menengok pun tidak? Kamu merasa sudah melakukan segala hal yang terbaik untuk orang yang kamu cintai, tapi cintamu terus bertepuk sebelah tangan? Kamu sudah bekerja giat, memberi keuntungan yang melimpah untuk perusahaan, tapi tak juga naik pangkat apalagi gaji, malah sepupu si presiden direktur yang bodoh dan tak tahu apa-apa melangkahimu? Rayakan saja. Saya sering berpikir, penulis yang sudah menghasilkan beberapa buku dan semuanya tidak menarik, buku-buku berikutnya tak perlu diperhatikan sama sekali. Saya juga sering menganggap karya seorang penulis di usia tua sebagai sesuatu yang tak penting, insignifikan, dan sebaiknya diabaikan saja. Saya pikir mereka tak membutuhkan apa pun lagi, dan jika mereka masih menulis, barangkali hanya sebagai upaya agar tidak pikun saja. Saya hampir mengabaikan novel Milan Kundera terbaru, The Festival of Insignificance. Tapi judulnya membuat saya terprovokasi, seolah-olah meledek, benar kamu mau menganggapku insignifikan? Baik, aku akan merayakan pengabaianmu. Sial. Saya memutuskan untuk membacanya. Kalau jelek dan menyebalkan, toh hanya 115 halaman. Kenyataannya saya tak menyesal membaca buku ini. Saya seolah menemukan kembali Kundera dari masa-masa terbaiknya. Benar, hal itu bisa dilihat dengan cara lain: tak ada hal baru dalam karyanya. Tapi bayangkan, ia meremas segala yang dia lakukan dalam The Book of Laughter and Forgetting, The Unbearable Lightness of Being dan Immortality dalam sejilid buku kompak yang padat: kita menemukan kembali dirinya dalam bentuk hampir-filsuf, merayakan novel dalam berbagai kemungkinannya. Novel sebagai alat memeriksa hal remeh-temeh dengan cara yang penuh keseriusan, dipadu-padankan dengan anekdot sejarah yang memendar ke sana-kemari sebagai prisma, dan tentu saja telaah yang selalu luar biasa kepada tindakan-tindakan kecil tokoh-tokohnya, seolah itu merupakan kunci penting untuk memahami hakikat manusia. Sebagai contoh remeh-temeh, Kundera memulai novel ini dengan tantangan yang penting tidak penting saya rasa benar: kenapa di abad ini, daya tarik seksual perempuan bergeser ke lubang kecil bernama udel? (Ehm, saya jadi membayangkan udel-udel Seohyun, Yoona dan Taeyeon, serta semua cewek k-pop). Ia memeriksa bagian-bagian tubuh perempuan lainnya, yang menjadi titik-titik penting daya tarik seksual sebelumnya (dan tentu saja masih). Paha, bokong, dan payudara. Titik-titik itu selalu bersifat personal dalam arti, paha, bokong dan payudara setiap perempuan berbeda satu sama lain. Tapi udel tidak begitu: semua udel perempuan (yang sering dipamerkan dalam sepuluh tahun terakhir ini), bisa dibilang sama. Udel barangkali mewakili titik daya tarik seksual, tapi sekaligus (karena ketidak unikannya satu sama lain) juga menggambarkan ketidak-signifikan-an. Tapi justru itulah: ketidak-signifikan-an ini kini dirayakan. Lambang hubungan biologis anak-ibu ini menjadi bahasan yang memikat, tanpa harus bertele-tele (ingat, novel ini cuma 115 halaman), berbaur dengan lelucon tentang Stalin dan para kameradnya tentang humor. Ya, Kundera kembali ke topik kegemarannya: ejekan kepada rezim Sovyet dan bagaimana mereka menghadapi humor. Humor mati di tangan Stalin, justru digambarkan dengan cara Stalin mencoba ngebanyol di hadapan para kameradnya dan tak ada satu pun yang tertawa dan menganggapnya humor. Seperti di banyak novelnya, ia kembali membagi novel ini ke dalam tujuh bagian (ia suka angka tersebut). Seperti di banyak novelnya, ia kembali menghadirkan narator yang saya rasa tak hanya berfungsi sebagai pembawa cerita, tapi terutama sebagai seorang analis, yang mempsiko-analisis segala seseuatu, atau sejenis moderator dalam perbincangan ringan (tapi seringkali tak tertanggungkan). Saya ingat sepotong esai yang ditulis Kundera mengenai “kelucuan dalam ketidak-hadiran kelucuan” The Idiot karya Dostoyevsky. Ia mengenang seorang teman sekolahnya: sekali waktu seisi kelas ribut menertawakan sesuatu, tiba-tiba seorang teman berdiri dan tertawa tapi ia tertawa tidak seperti yang lain. Ia hanya menjiplak tawa itu. Tertawa tanpa kehadiran sesuatu yang lucu, tertawa hanya untuk tetap menonjol di antara kerumunan. Novel ini bisa dilihat begitu: upaya untuk berdiri di tengah kerumunan novel-novel Kundera lain yang telah kita kenal. Jika tak ada hal serius di novel ini sebagaimana di novel-novelnya yang lain, ia telah menjawabnya di sampul buku. Ini perayaan atas ketidak-signifikan-an, kesepelean.

PS: Saya rasa sangatlah keterlaluan jika ia tak memperoleh Nobel Kesusastraan, atau karya-karyanya dianggap sepele, insignifikan?

Standard
Journal, Tanya dan Jawab

Tanya-Jawab: Pengaruh Sastrawan Indonesia

F Daus AR: Ini pertanyaan agak pribadi. Sejauh mana pengaruh sastrawan Indonesia terhadap karya yang Anda gubah. Nama yang saya maksud di luar sastrawan Indonesia yang sudah sering dibahas di jurnal. Misalnya saja, Kuntowijoyo, yang wafat 22 Februari 2005 silam.

Jawabannya juga agak pribadi. Ada satu peristiwa yang pernah membuat saya sangat sedih. Seperti saya pernah mengatakannya, [Cantik Itu Luka], novel pertama saya pernah ditolak beberapa penerbit. Oh, itu bukan bagian sedihnya. Soal itu saya tak terlalu peduli, dan di masa itu saya masih cukup punya kepercayaan diri anak muda bahwa cepat atau lambat saya akan menemukan satu cara untuk menerbitkannya. Hal yang membuat saya sedih datang beberapa tahun kemudian. Akhirnya saya bertemu dengan satu editor yang pernah menolak novel tersebut (nama dan tandatangannya memang tertulis di nota kecil penolakan itu), dan dia secara terus-terang bilang membaca novel saya dan menolaknya, salah satu alasannya: novel itu tidak masuk kriteria/preferensi dia mengenai novel sastra yang bagus. Menurutnya, novel sastra yang bagus mestinya seperti novel-novel Mangunwijaya, Kuntowijoyo, Ahmad Tohari. Tentu saja saya kemudian membaca beberapa karya mereka, dan saat itulah saya merasa sangat sedih. Saya sedih karena saya tahu persis: 1) saya tak ingin menulis novel seperti mereka, 2) jika ukuran kesusastraan (Indonesia) yang bagus diukur dengan karya-karya mereka, saya merasa tak memiliki tempat di peta kesusastraan dan kemungkinan besar saya tak ingin menjadi penulis. Meskipun begitu, di tengah kesedihan itu, saya patut bersyukur bahwa saya mendengarnya setelah “telanjur” jadi penulis, di usia saya yang jauh lebih dewasa, dan apa pun yang dikatakan orang tentang “sastra Indonesia yang bagus”, saya dengan keras kepala bisa membuat patok sendiri di hamparan peta itu, untuk saya dan karya-karya sendiri. Atau jika tidak diberi tempat, saya akan membuat peta sendiri. Jadi menjawab pertanyaan di atas, saya kuatir bahwa pengaruh penulis-penulis ini atas saya bisa dikatakan kecil atau tidak langsung. Bukan karena saya tak suka atau mereka tak bagus, tapi sesederhana bahwa saya memang baru mengenalnya belakangan. Dalam hal ini, saya akan mundur ke belakang. Izinkan saya menceritakan sejarah membaca saya, yang barangkali bisa menjelaskan kenapa hanya segelintir penulis Indonesia (yang itu-itu saja) yang sering saya bicarakan, dan yang pengaruhnya banyak membekas, dan kenapa ada begitu panorama kesusastraan Indonesia yang saya “tinggalkan” dan menciptakan lubang besar. Saya jarang menceritakan hal ini, dan hanya pernah sekali menceritakannya secara lengkap kepada seorang pengamat Indonesia yang penasaran karena “tampaknya saya tak terlalu peduli dengan penulis-penulis Indonesia” (dia bilang kepada saya, ini sejenis arogansi yang juga ada pada Pramoedya, hahaha). Baiklah, saya bisa dibilang tak memiliki sejarah yang baik dengan kesusastraan Indonesia. Hingga selesai SMA, tak banyak karya “sastra” yang saya baca. Anda semua tahu bagaimana pendidikan kita di tahun 80-90an. Saya tinggal dan sekolah di sebuah kota kecil, Pangandaran. Tak ada toko buku dan tak ada perpustakaan. Saya memang senang membaca buku, tapi yang bisa saya peroleh hanyalah novel-novel “picisan”: Asmaraman S. Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap, Bastian Tito, buku stensilan. Sebagai selingan, saya juga membaca Enid Blyton, Karl May. Lupakan kanon-kanon sastra Indonesia, saya tak pernah melihatnya. Jika di masa remaja itu saya ingin menjadi penulis novel, sudah pasti novel yang ingin saya tulis adalah novel horor atau cerita silat. Saya pernah mencobanya sebelum dibuang ibu saya karena kertas-kertas itu menumpuk dan menjadi makanan rayap. Selesai SMA, saya pindah ke Yogyakarta. Kuliah di UGM. Melanjutkan kegemaran membaca (yang tak terpuaskan di kondisi kota kecil tempat saya tinggal), saya dibuat terpana menemukan perpustakaan. Sepanjang masa kuliah, saya menghabiskan lebih banyak waktu di perpustakaan, dan favorit saya selama enam tahun itu adalah ruangan kecil di perpustakaan kampus di mana saya bertemu Toni Morrison, Salman Rushdie, Gabriel García Márquez, Leo Tolstoy, Dostoyevsky, Melville, Knut Hamsun dll (ada satu rak yang dipenuhi oleh buku-buku terbitan Everyman’s Library). Tololnya saya, bahkan saat itu saya tak sadar tengah menghadapi kanon-kanon kesusastraan dunia. Bagi pikiran anak pantai ini, saya hanya sesederhana membaca novel, melanjutkan kegemaran saya. Saya lumayan beruntung bisa membaca bahasa Inggris. Ayah saya yang mengajari sejak kecil, meskipun seperti saya, dia mengajar sambil lalu dan ogah-ogahan. Baru bertahun-tahun kemudian saya menyadari (orang lain yang kemudian mengatakannya kepada saya), masa awal 90an itu merupakan “lompatan” dalam sejarah membaca saya. Dari sastra picisan yang dibaca di masa remaja, saya kemudian “melompat” membaca kanon-kanon dunia. Di antara kedua jenis bacaan itu, saya melewatkan karya-karya “kanon” kesusastraan Indonesia, kecuali Pramoedya Ananta Toer yang saya peroleh dari beberapa teman di masa-masa kami turun ke jalan, melemparkan batu ke polisi, antara tahun 1996-1998. Saya selalu percaya, selera kita jauh lebih banyak terbentuk ketika kita masih muda. Maka jika saat ini ada yang bertanya karya sastra macam apa yang ingin saya tulis, jawaban saya kurang-lebih masih sama seperti di masa remaja: saya ingin menulis novel silat atau novel horor. Dan sastra yang bagus bagi saya, karena dipengaruhi oleh sejarah bacaan, saya tak bisa tidak merujuk ke Hamsun, Melville, Cervantes. Jika saya boleh berbagi ambisi, (mungkin sederhana, mungkin tidak), saya ingin menulis seperti Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap, sekaligus seperti Cervantes atau Melville, atau Gogol. Saya baru membaca sastra Indonesia secara lebih banyak, dan “sadar”, justru setelah saya memutuskan untuk menjadi penulis, selepas 1999. Saya tahu, saya sangat terlambat, tapi saya tak bisa memutar ulang waktu. Dan di umur dewasa seperti sekarang, sangat sulit untuk mengubah selera. Otak kita cenderung menjadi lebih bebal dan membatu bersama dengan bertambahnya usia. Lagipula, haruskah saya mengubah selera sastra saya? Bagi saya bukan tindakan kriminal menempatkan Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap dan Pramoedya di atas penulis-penulis Indonesia lainnya. Mereka jelas-jelas memberi arti penting tak hanya dalam karya saya, tapi juga dalam hidup saya. Tanpa sastra picisan itu, saya akan menjalani masa remaja yang membosankan. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para penulis yang telah meletakkan patok-patok dalam sejarah kesusastraan nasional kita, tak bisa tidak, selamanya saya akan berterima kasih kepada sastra picisan, melebihi kanon-kanon kesusastraan Indonesia lainnya.

Standard
Journal, Tanya dan Jawab

Tanya-Jawab: Perlukan Pelajaran Sastra untuk Anak Sekolah?

Fajar Riadi: Saya membaca beberapa catatan Mas Eka, tapi (entah kalau saya silap) belum menemukan catatan bagaimana sebaiknya mengenalkan sastra kepada anak-anak. Bisakah Mas Eka memberi usulan? Saya mengira, sama dengan anak-anak SD-SMP kebanyakan, mereka tak banyak mendapat pelajaran sastra yang memadai di sekolah.

Sejujurnya saya juga tak punya banyak pengetahuan soal ini. Pertama, saya tak memiliki pendidikan formal kesusastraan, apalagi pendidikan guru sastra. Kedua, seperti anak-anak SD-SMP kebanyakan (menurutmu), masa kecil saya juga dilalui dengan pengetahuan sastra pas-pasan, jika tak bisa dikatakan buruk. Sampai SMA, meskipun saya gemar membaca, bacaan saya sebagian besar apa yang kita kenal sebagai “sastra picisan” yang saya temukan di taman bacaan, selingan dengan beberapa novel remaja dan anak-anak (Lima Sekawan, buku-buku Dr. Karl May, dll). Sementara anak saya masih kecil, baru belajar menulis dan membaca huruf, sehingga saya juga tak bisa berbagi pengalaman secara langsung. Meskipun begitu, jika ada yang tertarik mendengar usulan saya, saya hanya punya satu gagasan untuk memperkenalkan sastra kepada anak-anak: beri mereka buku dan biarkan mereka membaca. Tentu saja disesuaikan dengan umur mereka. Kecintaan terhadap sastra seharusnya dimulai dari kegemaran membaca, dan hanya melalui membaca. Konon menurut satu penelitian (yang saya lupa baca di mana), orang tua yang membaca kemungkinan besar akan melahirkan anak-anak yang juga membaca. Saya rasa hal ini benar, dan kita bisa menanamkan kecintaan anak terhadap membaca melalui hal ini. Sebagai orang tua, sering-seringlah membaca. Membaca di depan anak-anak, membacakan buku untuk anak-anak. Sangat konyol mengharapkan anak-anak jadi gemar membaca buku sementara kita, orang tua, tidak melakukannya. Jika kita, orang tua, tak menganggap membaca buku sebagai hal penting dan menyenangkan, bagaimana anak-anak menganggapnya sama? Tentu saja orang tua yang dimaksud tak hanya orang tua di rumah, tapi juga orang-orang dewasa di komunitas, guru di sekolah. Cukup hanya memberi mereka bacaan dan membiarkan mereka membaca buku? Saya tak ingin muluk-muluk, bagi saya itu lumayan cukup. Mereka bisa membicarakan buku yang mereka baca satu sama lain, mereka akan memperdebatkan karakter mana yang mereka suka dan mereka benci, mereka akan memikirkan sebuah gagasan sederhana yang dikatakan penulis buku … hal-hal seperti itu bisa berkembang di lingkungan yang baik. Lantas bagaimana dengan pelajaran sastra untuk anak-anak? “Pelajaran/pengetahuan sastra” saya rasa tidak diperlukan untuk semua orang, dan saya tak merasa itu sesuatu yang wajib diketahui. Untuk apa mengetahui diksi, cara kerja metafor, apa itu realisme, apa itu dadaisme? Apa pentingnya mengetahui bahwa Dostoyevsky dan Virginia Woolf mempergunakan “arus kesadaran” untuk anak-anak sekolah? Apa pentingnya mengetahui siapa-siapa penulis Pujangga Baru? Lihat saja, selama bertahun-tahun kita diajarkan tentang apa itu pantun, dan sebagian besar orang tetap berpantun dengan cara yang salah. Tak ada gunanya. Saya rasa pengetahuan sastra hanya diperuntukan untuk orang yang meminatinya saja, untuk orang-orang yang berminat menjadi penulis atau peneliti sastra. Yang wajib dimiliki seorang anak sebaiknya “kemampuan membaca” dan “kemampuan menulis”, ketimbang “pengetahuan sastra”. Kemampuan membaca akan memberi landasan bagi anak-anak untuk menganalisa cara berpikir, menerima gagasan, dan terutama pada akhirnya kepada sikap toleran. Kemampuan menulis juga akan memberi landasan anak-anak untuk menata pikirannya, bekerja dengan logika, dan terutama mengungkapkan serta mempertanggungjawabkan pendapat dan gagasan. Pelajaran sastra? Bahkan meskipun saya penulis, saya tak melihat hal praktis dari pelajaran sastra untuk semua orang. Penting bagi saya, karena saya menyukainya dan hidup di dalamnya, sebagaimana pengetahuan tentang konstelasi bintang-bintang penting bagi kosmolog dan astronom. Gagasan saya mengenai pelajaran sastra di sekolah sih rada ekstrem: kalau perlu pelajaran sastra dihapus saja dari sekolah-sekolah, jadikan sebagai pelajaran pilihan (karena berpotensi memberi beban berlebihan kepada anak didik), sebagaimana dulu waktu saya SMP pernah mengambil pelajaran pilihan elektronik. Sebagai gantinya, beri “Pelajaran Membaca dan Menulis”, perdalam kemampuan membaca dan menulis (yang pasti berguna, bahkan di luar urusan kesusastraan).

Standard
Journal

Dua Novel Bohumil Hrabal

Too Loud a Solitude. Biar keren, ia memutuskan untuk memiliki sandal. Ibunya merajutkan untuknya kaus kaki. Ia pun pergi ke lapangan dengan sandal dan kaus kaki, untuk melihat daftar nama pemain utama yang akan turun bermain sepakbola. Tiba-tiba ia merasa sebelah kakinya menginjak sesuatu yang basah dan lembek. Ia tak berani melihat ke bawah, matanya tetap tajam menatap papan pengumuman. Mencari namanya. Di daftar pemain utama, kemudian di daftar pemain cadangan. Setelah menemukan namanya, ia akhirnya menunduk. Ia menginjak tai anjing. Ia buru-buru menatap kembali papan pengumuman. Kembali mencari namanya, berharap satu keajaiban terjadi. Ia menemukan namanya, dan kembali menoleh ke bawah. Kakinya tetap terbenam di kubangan tai anjing. Kita bakal menemukan fragmen-fragmen pendek semacam itu di novel ini, dan saya kira di novel-novelnya yang lain. Bohumil Hrabal tak hanya “Penulis Ceko terbesar yang masih hidup (saat ini sudah meninggal)” sebagaimana dikatakan Milan Kundera, tetapi bisa dibilang master yang mampu mengendalikan humor dan tragedi dalam satu tendangan. Kisah Hanta yang bekerja di kantor polisi sebagai penghancur kertas (banyak di antaranya buku-buku langka dan terlarang), merupakan novel politik yang cerdas. Diam-diam Hanta sering menyelamatkan buku-buku penting dari mesin penghancurnya, membawanya pulang dan membacanya di waktu luang. Tidak tanggung-tanggung ia membaca Goethe, Schiller, Nietzsche, Kant dan memiliki repro karya-karya Rembrandt, Monet, Cézanne, hingga membuatnya “tak bisa membedakan mana pikiran yang datang dariku dan mana yang datang dari buku.” Ini novel tentang sensor dan bagaimana pengetahuan diselamatkan, dengan gaya jenaka. Tentang bagaimana pengetahuan dihancurkan, tapi diselamatkan di kepala manusia. Sementara buku-buku terus dihancurkan setiap hari, di malam hari, Hanta menemukan dirinya larut dalam dunia yang lain: ia melihat Yesus berdialog dengan Lao-tze, dan para filsuf membicarakan surga, berbaur dengan kenangannya atas gadis gipsi, dan pacarnya yang selalu sial namun akhirnya malah menjadi malaikat. Gaya berceritanya yang ekspresif, di tengah alur cerita kita seperti menemukan percikan-percikan fragmen warna-warni, kadang-kadang tentang filsafat, kadang sesepele tentang bir, lain kali tinjauan ringkas mengenai kaum Gypsy, di halaman lain ulasan sekelebat mengenai Hitler. Novelnya saya kira mendekati apa yang menurut saya merupakan novel ideal: bermain-main secara serius, atau keseriusan yang main-main. Kita bisa melihat filsafat, perang, agama, pengetahuan menjadi olok-olok yang menggelikan di novelnya, tapi pada saat yang bersamaan ia bisa membicarakan kehidupan sehari-hari, hal-hal banal semacam pita yang jatuh ke tumpukan kotoran manusia menjadi sesuatu yang penting. Lebih dari itu, Hrabal melakukannya dengan sangat padat dan ringkas, tanpa membuat novelnya menjadi sejenis sinopsis. Di bawah rezim komunis Ceko (dan pendudukan Sovyet, saya kira), kisah Hanta dengan mesin penghancur bukunya menjadi sejenis paradoks menggelikan sekaligus memilukan. Hanta yang bekerja dengan penuh gairah, yang merasa dirinya adalah apa yang dia kerjakan, dengan kedatangan mesin dan teknologi baru (yang diharapkan “membebaskan” manusia), justru merasa dirinya tercerabut. Terasing. “Seperti para pendeta yang, ketika mereka mengetahui Copernicus telah menemukan satu kumpulan hukum kosmik dan bahwa bumi tak lagi menjadi pusat semesta, memutuskan bunuh diri massal karena tak mampu membayangkan sebuah semesta yang berbeda dari yang pernah mereka diami.” Bahkan untuk hal semacam itu, Hrabal menyikutnya dengan humor. Sekaligus kepedihan.

***

Saya ingin membaca Hrabal sejak lama, lebih dari setahun lalu. Tapi selama 2014 saya memutuskan untuk lebih banyak membaca karya “klasik”. Orang bisa berdebat mengenai apa itu klasik. Klasik, bagi saya sesederhana karya dari abad 19 ke belakang. Dari Dostoyevsky, Tolstoy, hingga Shakespeare bahkan Homer. Masih banyak yang tertinggal dan masih ingin saya baca, tapi tahun ini bagaimanapun saya ingin bergerak. Akan lebih banyak membaca kesusastraan dari para penulis sekitar paruh pertama abad 20. Saya tak tahu siapa saja yang bisa saya temukan, tapi membaca dua novel Bohumil Hrabal di hari pertama tahun ini saya kira merupakan awal yang bagus. Setidaknya saya mengenal penulis Ceko lain setelah Milan Kundera dan Jaroslav Hašek.

***

Closely Observed Trains. Novel ini dibuka dengan adegan pesawat Jerman yang jatuh, dan bangkainya dipreteli penduduk kota. Salah satu yang sibuk mengangkuti kepingan-kepingan pesawat itu adalah ayah si tokoh. Ia seorang kolektor barang-barang tak berguna, yang karena kemampuan teknisnya, bisa mengubah barang-barang itu menjadi hal-hal yang berguna. Yang tentu saja bikin sirik banyak orang. Lalu kisah melipir ke kakek dan kakek-buyut, yang seperti si ayah, juga disiriki banyak orang karena “keberuntungan-keberuntungan” mereka. Si kakek-buyut kehilangan kakinya di front, dan gara-gara itu ia pensiun dini dan dapat gaji pensiunan bertahun-tahun lamanya, dan memakai uang itu untuk minum-minum sambil mengejek orang-orang yang harus bekerja keras demi sesuap nasi. Si kakek-buyut sering dipukuli orang yang kesal, tapi tak juga kapok. Si kakek punya kemampuan hipnotis, dan sekali waktu mencoba menghentikan tank Jerman dengan hipnotisnya. Gagal, dan malahan ia diseruduk tank hingga kepalanya lepas dan mengganjal laju tank. Mati, tapi jadi pahlawan. Kita akan mengira novel ini mengenai sejarah keluarga sialan penuh keberuntungan ini (meliputi kakek-buyut, kakek, ayah, dan anak), tapi dengan cerdik Hrabal mengecoh kita. Itu hanyalah pembukaan untuk memperkenalkan si tokoh utama, sebelum cerita berbelok tentang kisah si tokoh itu sendiri, seorang pegawai magang di stasiun kereta api, dan di sanalah kisah sesungguhnya terjadi. Dalam hal-hal seperti ini, gaya berceritanya mengingatkan saya kepada César Aira, tapi saya tak tahu apakah Aira membaca Hrabal atau tidak. Seperti novel yang sebelumnya saya sebut, novel ini juga sangat ekspresif, dan memperlihatkan kualitas Hrabal yang lain: kejeliannya kepada segala yang visual, dan humornya yang semakin menjadi-jadi. Ada adegan “mesum” di mana satu pegawai perempuan kepergok telanjang bulat bersama seorang pegawai lelaki di satu malam. Si pegawai lelaki bahkan mengecapi sekujur tubuh si perempuan dengan stempel stasiun. Tentu saja mereka disidang, tapi bukan karena mereka telah melakukan tindakan senonoh (sebab urusan moral semacam itu merupakan urusan pribadi belaka), tapi karena stempel yang dipakai mengandung bahasa Jerman! Itu penghinaan terhadap negeri Hitler. Hrabal hampir tak pernah gagal membuat kita tersenyum. Kisah utama novel ini adalah tentang kereta penuh amunisi milik Jerman, dan dua petugas stasiun (si tokoh utama, dan lelaki yang berbuat mesum) yang berniat meledakannya. Sejenis kisah “perjuangan”, tapi jangan salah kira. Apa yang disebut “kisah utama” itu sebenarnya ia ceritakan nyaris sekilas saja, dan baru kita ketahui menjelang akhir. Sebagian besar alurnya justru ke sana-kemari, termasuk kisah si bocah tokoh utama yang berusaha menjadi “dewasa”. Yang ia maksud dewasa adalah bisa meniduri perempuan dengan selayaknya, sebab terakhir ia mencobanya, ia mengalami apa yang disebut orang Jawa sebagai “peltu” (nempel metu, baru nempel sudah keluar). Dan peristiwa “peltu” itu makin membuatnya malu (sampai ia mengiris nadinya berharap mati) karena dilakukan di studio foto dengan semboyan “Lima Menit Selesai”. Ia merasa terhina karena bahkan tak sampai lima menit. Lagi-lagi humor ala Hrabal. Menggelikan, dan pedih.

Standard
Journal

Tsukuru yang Tidak Berwarna

Tak terasa sudah lebih dari setahun saya tak membaca novel Haruki Murakami. Dibandingkan 1Q84, saya lebih menikmati novelnya yang baru, Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage. Novel itu mengingatkan saya kepada novel-novel terbaiknya (menurut saya), novel-novel yang pendek. Seperti biasa, judul novel merujuk pada sebuah lagu/komposisi, yang di novel itu sering dimainkan dengan piano oleh salah satu tokohnya. Bisa dibilang novelnya tak seabsurd di novel-novel tebalnya, terutama yang paling garing 1Q84, kecuali kisah tentang kota kucing. Kisah tentang Tsukuru lebih realis, meskipun tentu saja kita akan menemukan hal-hal magis di beberapa tempat (misal tentang mimpi Tsukuru, atau kisah tentang ayah temannya bertemu dengan orang yang tahu kapan akan mati). Sambil mengingat novel-novelnya yang lain, saya rasa hal terbaik dari Murakami adalah, ia bisa menjadikan hal-hal sepele, atau hal-hal umum yang kita temui sehari-hari, menjadi sesuatu yang penuh-tafsir. Perhatikan di novel ini: ia bisa membawa kita membicarakan tentang makna stasiun kereta, tentang makna orang-orang Jepang yang berjejalan masuk ke MRT, bahkan tentang apa artinya memakai mobil Lexus. (Di novel-novelnya yang lain, kita bahkan bisa diajak untuk setidaknya berpikir apa maknanya memasak spagheti sendirian, apa artinya mencari kucing hilang, dan lain-lain). Tentu saja kaum pengamat budaya populer sudah biasa melakukan hal ini, dan Murakami saya kira salah satu penulis yang memang sangat sadar tentang budaya populer ini. Ada satu hal lain yang saya baru menyadarinya: tokoh-tokoh Murakami umumnya masih muda. Jika bukan lajang, biasanya baru menikah atau menikah dan tidak punya anak. Ini sedikit mengingatkan saya pada tokoh-tokoh Knut Hamsun. Apalagi tokoh-tokoh kedua penulis ini biasanya juga bisa dikatakan terasing di masyarakat. Tentu dengan sedikit perbedaan: tokoh-tokoh Hamsun biasanya memang aneh, secara sadar membuat jarak dari masyarakat. Sementara itu tokoh-tokoh Murakami menjadi aneh karena terpental dari masyarakat. Di novel ini, misalnya, Tsukuru yang awalnya biasa-biasa saja (anak sekolah, dengan teman-teman dan cita-cita), harus terpental dari masyarakat karena tiba-tiba keempat teman dekatnya memutuskan “tak mau ditelepon dan berbicara dengannya lagi.” Masyarakat (dalam hal ini keempat temannya), menendang dan mengasingkannya. Membandingkan tokoh-tokoh Murakami dengan Hamsun saya kira bisa menjadi tinjauan lebih jauh yang menarik, terutama karena kedua penulis memiliki akar pengaruh yang sama: Dostoyevsky. Apalagi ketiganya memiliki kecenderungan untuk masuk ke kejiwaan tokoh-tokohnya secara mendalam. Meskipun begitu, saya melihat ada juga perbedaan Murakami dari Dostoyevsky. Di karya-karya Dostoyevsky, dengan tokoh-tokoh yang “terasing” dari masyarakat (yang paling terkesan oleh saya selalu Prince Mishkin di The Idiot), tokoh-tokoh itu ada di sana untuk mengolok-olok sistem masyarakat (moral, politik, budaya). Dalam novel-novel Murakami, termasuk novel Tsukuru ini, justru sebaliknya: Murakami lebih senang mengolok-olok individu melalui kaca mata “sistem masyarakat”. Kita menertawakan Tsukuru yang dibuat hancur oleh “persahabatan”, misalnya. Atau bagaimana sistem industri, kapitalis, melalui sistem kereta Tokyo, menertawakan kaum pekerja yang pulang-pergi rumah-tempat kerja dengan luyu. Tentu saja telaah lebih mendalam mengenai tokoh-tokoh mereka perlu dilakukan, tapi setidaknya itulah yang terlintas oleh saya (anggap saja ini sebagai spekulasi). Kembali ke Murakami dan bagaimana ia menafsir hal-hal keseharian, tentu saja pada dasarnya apa yang dilakukan Murakami dilakukan banyak penulis lain. Setiap novel pada dasarnya, selain bicara tentang tokoh dan peristiwa, juga bicara mengenai benda-benda dan momen-momen. Di novel-novel Kawabata, selain menemukan tokoh-tokoh yang diliputi hasrat seksual, kita juga menemukan benda-benda dan momen-momen: motif burung bangau di kain, upacara minum teh, dan lain-lain. Benda-benda dan momen-momen itu merupakan wilayah tafsir di mana kita bisa masuk ke kejiawaan tokoh (atau bahkan masyarakat, generasi, peradaban). Murakami melakukannya juga tapi dengan benda-benda dan momen-momen yang awalnya tampak tak seksi karena terlalu biasa (karena sifatnya yang barangkali global): lagu pop, Google, Facebook, atau bahkan kaus bergambar band rock. Meskipun begitu, membayangkan Murakami melulu dengan benda-benda dan momen-momen keseharian itu saya rasa mengalihkan kualitas sesungguhnya dari karya-karyanya: kisah mengenai watak-watak. Dan novel ini sebagaimana novelnya yang lain, tetap saja bicara tentang manusia dan wataknya (dan bagaimana watak ini memengaruhi kisah hidupnya). Terutama di novel ini, melebihi novel-novelnya yang lain, ia memperlihatkan salah satu tokoh yang barangkali desain wataknya paling menonjol: Tsukuru yang tidak berwarna.

Standard
Journal

The Double, Dostoyevsky

Ketika pertama kali memutuskan pindah ke Jakarta (dari Yogya) tahun 2003, saya cuma berbekal beberapa potong pakaian yang bisa saya jejalkan ke tas punggung saya, serta dua novel dan satu buku tulis (yang kemudian saya pakai untuk menulis Lelaki Harimau). Salah satu novel itu berjudul The Idiot, karya Fyodor Dostoyevsky, novel pertama dia yang saya baca. Alasan saya membawa buku itu sebenarnya sederhana saja: bukunya tebal, sehingga saya tak perlu kuatir kehabisan bacaan di minggu-minggu pertama di ibukota. Bahkan sejak itu, meskipun gaya naratifnya senantiasa lurus dan dalam banyak hal berirama lambat, novel-novel Dostoyevsky selalu memberi rasa yang campur-aduk. Saya merasakan itu kembali di hari-hari ini ketika membaca The Double, yang sebenarnya saya baca sambil lalu: sebelum atau sejenak setelah tidur, duduk di kakus, di jeda setengah main siaran langsung sepakbola, sambil makan, sebelum akhirnya saya selesaikan sambil minum kopi di café. Dua bab pertama membawa saya ke dunia Gogolian (Gogolesque?): St. Petersburg dan sosok seorang pegawai yang tampak menyedihkan (tidak semiskin tokoh dalam “The Overcoat” Gogol, tapi kita tak bisa menahan diri untuk tak bersimpati kepada keduanya dengan cara yang sama). Murung dan cenderung depresif. Tapi berikutnya kita menemukan sesuatu yang Kafkaesque (tentu saja ketika novel ini terbit, 1846, belum ada Kafka): di bawah hujan badai, Golyadkin si tokoh utama, bertemu dengan seseorang yang sosok-perawakannya persis seperti dia, bahkan juga nama panggilan maupun nama lengkapnya! (Saya sampai bergumam menirukan gaya narasi Kafka: “Sesuatu yang aneh pasti telah terjadi, Mr Golyadkin bertemu dengan seorang bernama Mr Golyadkin.”) Misterius dan pada saat yang sama mengancam. Keadaan Golyadkin sendiri sebagai bujang dan pegawai menengah, dan simpati kita kepadanya, sejak awal berkali-kali bisa membuat kita ikut marah. Ia ditolak mengikuti pesta dansa, sementara teman-teman kantornya berkumpul di sana penuh kegembiraan. Ia tak cuma introvert, tapi juga berkomunikasi dengan buruk, istilah anak sekarang: tidak gaul. Ia selalu tak mampu mengutarakan maksudnya dengan baik, kepada atasan maupun bawahan. Ini membuatnya seringkali menjadi obyek olok-olok dan tertawaan, dan ujung-ujungnya membuat dia tersingkir dari pergaulan. Dan ketika ia mencoba mengubah dirinya, para birokrat itu dengan kejam menolaknya. Meskipun begitu, di sisi lain, novel ini juga komikal. Tanpa mencoba melucu, banyak hal bisa membuat kita tertawa, meskipun dengan getir. Beberapa kali si Mr Golyadkin yang baru (sering disebut junior, atau bayangkan saja sebagai Mr Golyadkin palsu) mengerjainya. Ketika si tokoh asli makan di restoran, diam-diam si palsu juga makan. Kasir restoran menganggap mereka orang yang sama, dan si asli harus membayar lebih (dengan kebingungan, karena ia merasa makan sedikit). Tapi yang paling lucu adalah ketika ia menyuruh pelayannya untuk pergi ke kantornya, menanyakan alamat Mr Golyadkin, dan mengantarkan surat untuknya. Bahkan meskipun kita bisa menebak si pelayan akhirnya balik ke rumah tuannya, si Mr Golyadkin yang asli, tak bisa tidak saya tertawa. Dan seperti kata pepatah, dari kemalangan akan membawa ke kemalangan yang lain. Sekali bikin kekacauan, akan bertemu dengan keadaan yang lebih kacau. Itulah yang terjadi pada tokoh kita ini. Itu bagian paling menyedihkan. Ia merasa ada yang salah dengan hidupnya, terutama setelah kemunculan si kembarannya itu. Tapi tak ada orang yang tahu masalahnya, atau tak ada yang mau tahu. Dan jika ia mencoba bicara dengan siapa pun, mereka tak mau mendengar, atau lebih menyedihkan: ia tak mampu menjelaskan apa masalahnya. Seperti saya bilang, novel ini benar-benar mengaduk-aduk perasaan. Sedih, lucu, penasaran, tapi akhir dari semua itu adalah: horor. Saya tak tahu bagaimana para kritikus melihat novel ini, tapi saya melihat di novel ini seorang manusia gagal mempertahankan dirinya sebagai manusia individu, maupun sebagai manusia secara sosial. Dan bagian horornya adalah: ia tak tahu kenapa itu terjadi pada dirinya, tapi ia melihat itu terjadi pada dirinya, merasakannya, perlahan demi perlahan.

Standard
Journal

Apakah Bacaan Kita Tumbuh?

Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, apakah bacaan kita tumbuh dengan semestinya? Tentu saja untuk sebagian besar orang, bacaan kita pastinya tumbuh. Apa yang kita baca ketika sekolah dasar akan berbeda dengan apa yang kita baca ketika berumah tangga. Tapi pertanyaan pentingnya, apakah ia tumbuh dengan semestinya? Apakah bacaan kita selaras dengan usia kita? Jujur, tak jarang saya melihat anak-anak kuliahan, berarti berumur sektar 20an awal, masih membaca novel-novel remaja. Saya tak bermaksud mengecilkan arti novel remaja. Novel-novel yang baik, termasuk bahkan novel anak-anak atau remaja, masih bisa dinikmati oleh semua kelompok umur. Tapi bagaimanapun, novel remaja adalah novel remaja. Industri (terutama penulis dan penerbitnya) mempersiapkan novel-novel tersebut untuk dibaca remaja (dengan memperhitungkan pengalaman hidup, biologis maupun intelektual). Jika kita telah berumur 20an, atau bahkan 30an, atau bahkan lebih tua dari itu, hanya mampu menelan atau bahkan hanya mampu dihibur oleh bacaan untuk anak belasan tahun, berarti ada masalah dengan bacaan kita. Ada yang tak tumbuh. Ada yang terlambat tumbuh. Ada yang sengaja atau tidak sengaja, telah menjadi bonsai. Terlambat tumbuh barangkali masih bisa diterima. Keadaan sosial dan sistem pendidikan kita memungkinkan kita menjadi pembaca-pembaca yang terlambat tumbuh. Saya tak akan heran bertemu dengan anak yang lulus sekolah menengah dan tak pernah membaca satu novel pun. Bahkan bisa bertemu dengan anak sekolahan di kota, yang tak bisa membedakan antara “buku” dan “novel”. Serius, saya bertemu dengan anak semacam itu beberapa kali. Bahkan bisa bertemu dengan orang dewasa, yang pada dasarnya memiliki kapasitas intelektual yang lumayan, masih melihat novel semata-mata sebagai bacaan hiburan belaka. Baiklah, bahkan apa yang disebut sebagai bacaan dewasa pun memiliki jebakannya sendiri. Barangkali ada pembaca tertentu yang merasa telah tumbuh, telah meninggalkan masa-masa membaca kesusastraan anak-anak dan remaja, dan masuk ke kesusastraan yang dewasa, tapi sebenarnya mungkin berhenti pula di satu titik. Itu seperti pernah mimpi basah dan merasa dewasa, padahal tak banyak berubah daripada sebelum mimpi basah. Problemnya, bacaan dewasa merupakan alam liar. Saya rasa tak ada orang yang mampu menyusun grafis pertumbuhan mana yang perlu dibaca oleh orang berumur 21 dan mana yang perlu dibaca oleh pembaca 50an tahun. Saya rasa setiap orang bisa menyusun untuk dirinya sendiri, tapi bahwa ia harus tumbuh saya rasa merupakan keniscayaan. Itu jika kita tak sayang pada kapasitas biologis dan intelektual kita. Sekali waktu saya membaca wawancara Javier Marías dan si pewawancara bertanya, apa yang ia baca di hari-hari ini? Ia menjawab, ia sudah lama tak membaca karya-karya kontemporer. Ia lebih banyak membaca karya-karya klasik, membaca mereka berulang-ulang. Bagi Marías, saya yakin itu merupakan pertumbuhan bacaannya, dengan ukuran-ukurannya sendiri. Sekali lagi, ukuran-ukuran itu barangkali personal. Tak ada yang bisa membuat penyamarataan, mana yang harus kita baca lebih dulu: Tolstoy atau Dostoyevsky? Membaca Flaubuert lebuh dulu atau Albert Camus dulu? Menjadi dewasa, saya rasa tak hanya ditentukan oleh bacaan apa yang kita pegang, tapi juga terutama berarti kemampuan untuk menentukan, ke arah mana kita ingin berkembang. Dan jika kita tahu ke arah mana kita ingin berkembang, kita juga mestinya tahu bagaimana kita menyusun tahapan-tahapan perkembangan itu. Yang artinya, begitu kita menginjak masa dewasa, kita tahu apa yang mestinya kita baca, dan ke mana kita ingin mengembangkan bacaan kita secara sadar. Dengan cara seperti itulah, kita bisa terus menjadi anak-anak dan remaja tanpa harus berhenti di bacaan milik mereka: terus-menerus menemukan hal-hal baru dan terkejut-kejut menguak rahasia dunia. Sebab pembaca yang tumbuh, pembaca yang dewasa, merupakan pembaca yang memelihara roh anak-anak di dalam kepalanya. Roh rasa ingin tahu.

Standard
Journal

Gabriel García Márquez, Obituari

Bangun tidur dan melihat berita ringkas: raksasa kesusastraan abad 20, Gabriel García Márquez wafat pada umur 87 tahun (17 April 2014). Seharusnya itu tak mengejutkan. Ia sudah uzur, dan beberapa hari lalu masuk rumah sakit, dan alam semesta seperti juga manusia menciptakan segala sesuatu tidak untuk terus hidup abadi. Tapi bahkan dengan kesadaran seperti itu, serasa ada lubang menganga dalam peta kesusastraan di benak saya. Bagi saya, ia melebihi apa yang sering disematkan kepadanya: peraih Nobel Kesusastraan, patriarch fenomena el-boom, maskot realisme magis. Bagi saya, ia sesederhana raksasa kesusastraan abad 20 dengan sedikit pesimisme, barangkali kesusastraan dunia tak akan pernah menghasilkan manusia semacam ini lagi. Bagi saya, hanya sedikit raksasa pernah dilahirkan dan dikenal. William Shakespeare dan Miguel de Cervantes merupakan raksasa yang menandai suatu era kesusastraan modern. Setelah itu, saya ingin menyebut Herman Melville, yang terlihat seperti anak kandung dari perkawinan tak sah Shakespeare dan Cervantes. Abad 19 merupakan abad yang barangkali paling gegap-gempita, manusia mulai menengok wilayah yang selama ini seringkali diabaikan: di dalam dirinya. Era ini ditandai dua raksasa dari Rusia: Tolstoy dan Dostoyevsky. Di luar nama-nama itu, ada nama-nama penulis, ratusan atau bahkan ribuan. Mereka penulis-penulis hebat, besar, mengagumkan, tapi saya rasa kesusastraan dunia sebelum abad 20 hanya perlu dipatoki oleh lima nama itu saja. Anda bisa berdebat soal ini, tapi saya yakin kelima nama tersebut tak akan ke mana-mana. Mereka dengan penuh kepongahan telah mengencingi hampir seluruh karya kesusastraan yang diciptakan umat manusia. Abad 20 datang, dengan sisa-sisa kolonialisme yang renta, dua perang dunia, revolusi di mana-mana, negera-negara baru diciptakan, globalisasi merekatkan mereka. Penulis lahir di setiap sudut dunia, mereka hebat dan melahirkan karya-karya besar; tapi seperti sebelumnya, semua itu hanya perlu diberi tanda sederhana: abad ini melahirkan raksasa tunggal. Gabriel García Márquez. Gurunya orang-orang hebat, yang menyiapkan bahu mereka untuk pijakan raksasa ini dengan kerendahan hati: Hemingway, Faulkner, Kawabata, Kafka. Baru beberapa hari lalu saya membicarakannya dengan seorang teman, terutama mengenai esainya, yang saya rasa merupakan esai paling cemerlang tentang teknik menulis berjudul “Gabriel García Márquez Berjumpa dengan Hemingway”. Esai itu pendek saja, bercerita tentang pertemuan Márquez muda di jalanan Paris bersama Hemingway dan isterinya. Sebenarnya bukan pertemuan: si penulis melihat Hemingway di seberang jalan dan berteriak serta melambaikan tangan ke arahnya. Teman saya berkomentar pendek, sesuatu yang saya rasa sangat penting untuk diperhatikan sebab ini merupakan sedikit kunci untuk mengenali cara kerja menulisnya. “Bisa saja pertemuan dengan Hemingway itu bohong, tapi ia menuliskannya seolah-olah itu benar terjadi.” Jujur, komentar teman saya membuat saya sedikit terpaku. Selama bertahun-tahun membaca dan mengagumi esai itu, saya tak pernah terpikir oleh kemungkinan tersebut. Seluruh klaim pertemuan Márquez dengan Hemingway itu hanya datang dari si penulis sendiri, tapi peduli setan, esai itu tak banyak membicarakan pertemuan tersebut. Esai itu kemudian lebih banyak bicara tentang perbedaan cara menulis Hemingway dan Faulkner, yang saya rasa pendapatnya benar. Ia sendiri pernah berkata, satu fakta meyakinkan dari sebuah cerita, akan membuat seluruh cerita tersebut meyakinkan. Di esainya, ia membuktikan hal itu. Kecemerlangan gagasannya mengenai kepenulisan Hemingway dan Faulkner, membuat klaim pertemuan dirinya dengan sang maestro di jalanan Paris membuat itu juga tampak demikian meyakinkan. Kita tak lagi peduli benar atau salah. Seperti kebanyakan fans, saya membaca hampir seluruh karyanya. Juga wawancara dan biografi tentangnya. Juga ulasan orang tentang karya-karyanya. Satu yang saya ingat, Salman Rushdie pernah bicara tentang karya-karyanya, yang saya lupa di esai mana. Tapi saya ingat, Rushdie bicara tentang pola. Márquez selalu memulai cerita dari tengah, kemudian maju, lalu mundur, maju lagi, mundur lagi. Tapi bagi saya, itu tak sesederhana plot yang dibuka di tengah lalu maju lalu mundur. Márquez, ia seorang jurnalis dan belajar banyak dari dunianya, sadar sekali bahwa hakikat dari para pendongeng adalah memuaskan rasa ingin tahu pembaca. Dalam jurnalisme, pembaca ingin tahu terhadap satu peristiwa dan reporter atau penulis berita menyuguhkan apa yang ingin diketahui itu. Dalam penulisan fiksi, sebagaimana dalam dongeng, si penulis menciptakan sendiri rasa ingin tahu tersebut. Di sinilah, menurut saya, Márquez mempergunakan teknik yang akan membuatnya banyak dikenang: foreshadow, peramalan, pembocoran cerita. Jauh sebelum terjadi, ia sudah membocorkan mengenai Kolonel Aureliano Buendia akan berdiri di depan sederet regu tembak, bahkan sejak di kalimat pertama novel One Hundred Years of Solitude. Dan puncak teknik ini, bagi saya terletak di karya pendeknya, Chronicle of a Death Foretold. Peramalan ini tak hanya ia lakukan di pembukaan cerita, tapi terus ia lakukan di sepanjang cerita. Itulah kenapa, seperti Rushdie bilang, ada kesan bahwa alur plotnya maju-mundur. Tidak. Saya merasa ia melakukan cara bercerita yang relatif konvensional dengan alur maju, tapi dengan sisipan foreshadow. Sekali lagi, Anda bisa memperdebatkan ini. Dan saya yakin, perdebatan apa pun hanya akan menegaskan ia sebagai penulis jauh melampaui para penulis dari generasinya. Ia raksasa tak hanya untuk Amerika Latin. Ia telah mengencingi hampir seluruh karya di belahan dunia mana-mana. Saya tak tahu di abad 21, atau setidaknya di masa kita hidup, kita akan menyaksikan kelahiran raksasa lain atau tidak. Dan karya-karyanya, hampir sebagian besar, akan berada di rak dengan label pasti. Klasik. Selamat jalan, Patriarch.

PS: Ini beberapa tulisan saya tentang Gabo di arsip, barangkali tertarik juga membaca:

Standard
Journal

Out Stealing Horses, Per Petterson

Hari ini seorang teman bertanya, apa yang membuat saya menyukai karya-karya Knut Hamsun. Ia mengingatkan saya, tak banyak pengaruh Hamsun dalam karya saya, juga mengingatkan saya, bahwa Hamsun dekat dengan Nazi. Saya tak tertarik dengan Nazi-nya, jika ia memang seorang Nazi. Seorang Marxis dan komunis seperti Maxim Gorky mengagumi karya-karya Hamsun juga. Seorang Yahudi seperti Isaac Bashevis Singer juga pengagum Hamsun. Dengan mudah kita melihat pengaruh Hamsun di kedua penulis tersebut. Bagi saya, realisme Hamsun memang menarik. Metodenya seperti membalik apa yang dilakukan Dostoyevsky. Jika Dostoyevsky menceritakan manusia dengan cara menerobos masuk ke dalam diri manusia, Hamsun memakai cara yang sama mengeluarkan isi manusia ke lingkungan sekitarnya. Di Growth of the Soil, kita membaca jiwa si manusia melalui apa yang dilakukannya di tengah hutan, bagaimana ia menebang pepohonan, memelihara ternak, berkebun. Si tokoh yang bahkan tak banyak bicara ini, kita bisa mendengarnya sebagaimana kita serasa mencium aroma jerami, tai ternak, dan udara hutan. Saya bukan penggemar sastra Norwegia, juga bisa dibilang tak tahu apa-apa soal itu. Tapi di kepala saya, penulis yang memuncaki hirarki kesusastraan versi saya adalah Knut Hamsun, penulis Norwegia. Saya tak yakin saya akan menulis novel, bahkan menulis blog ini, tanpa pernah mengenal Hamsun. Saya menyinggung soal sastra Norwegia karena pernah seorang teman berkata, “Jika ada sastrawan Indonesia terkenal di dunia, dunia pasti akan memerhatikan kesusastraan Indonesia.” Sebagai warga negara yang baik, saya harus akui, impian semacam itu tentu saja indah. Tapi saya tak terlalu yakin dengan kenyataannya. Saya menyukai Gabriel García Márquez, tapi itu tidak dengan dengan serta-merta membuat saya penasaran dengan sastra Kolombia. Saya tidak yakin juga, sebagian besar orang yang menyukai Milan Kundera akan dengan serta-merta penasaran pengin tahu kesusastraan Ceko. Sebagian besar penulis terikat dengan kesusastraan negaranya, tapi dalam banyak kasus, seorang penulis dan karyanya menarik karena ia adalah dirinya, bukan karena bagian dari kesusastraan tertentu. Meskipun begitu, ketika saya menemukan dan membaca novel Out Stealing Horses karya Per Petterson, dan mengetahui ia penulis Norwegia, mau tak mau saya teringat kepada berhala saya, Hamsun. Dan semakin membaca halaman demi halaman novel tersebut, saya semakin melihat di sana-sini Hamsun seperti muncul kembali. Barangkali karena lanskap dan cara bercerita mereka yang mengingatkan satu ke yang lainnya. Hutan dan penebangan pohon di novel ini mengingatkan saya ke hutan di Growth of the Soil (meskipun saya rasa, yang satu di bagian selatan, yang lain di utara), atau lanskap hutan di Pan. Suasana pedesaan dan penghuninya (ah, termasuk gadis pemerah susu yang membuat kemaluan si tokoh menggelembung di balik celananya), mengingatkan saya pada suasana pedesaan di The Wanderer. Cara Per Petterson mendeskripsikan lanskap dan lingkungan sekitar untuk memberi suara kepada dunia dalam si tokoh, saya rasa merupakan warisan Hamsun yang sudah saya sebut di atas. Meskipun begitu, ada hal yang sangat jelas membedakan keduanya. Di sebagian besar (jika tak bisa bilang semuanya!) novel Hamsun, cerita didorong oleh motif-motif dan kehendak yang keluar dari si tokoh utama (dan biasanya, memang hanya menceritakan satu tokoh utama). Di Hunger, seluruh bangunan cerita disusun oleh motif si tokoh yang ingin menjadi penulis. Di Growth of the Soil, peristiwa demi peristiwa terjadi diawali oleh keputusan si tokoh untuk masuk hutan dan membangun “peradaban” di sana. Di The Wanderer, semuanya dimulai karena kehendak si tokoh untuk mengembara. Dalam hal ini, Per Petterson sedikit berbeda: nasib si tokoh tidak melulu ditentukan oleh pilihan dan kehendaknya, tapi boleh jadi oleh apa yang dilakukan oleh orang lain. Dalam hal ini, bagaimana si tokoh terpengaruh oleh apa yang dilakukan ayahnya dengan perempuan lain, dan oleh peristiwa penembakan seorang bocah sepuluh tahun atas saudara kembarnya. Ini dua tradisi bercerita yang sangat berbeda. Yang satu seperti efek domino di mana satu kartu dijatuhkan dan akan menjatuhkan kartu-kartu lain secara berkesinambungan, yang kedua seperti permainan karambol (atau biliard), di mana satu bola digerakkan dan membuat beragam gerakan berantai (yang sangat tak beraturan) tergantung posisi bola-bola lain. Meskipun dalam karya-karya Hamsun kita seperti melihat garis lurus, membaca Per Petterson ini membuat saya kangen membaca kembali novel-novel Hamsun. Ada yang kurang dimiliki Petterson tapi dimiliki Hamsun secara melimpah: humor.

Standard
Journal

Beberapa Penulis Hendak Menguasai Dunia

Bar itu sepi saja. Ada desas-desus tempat itu sudah dipesan oleh beberapa penulis yang hendak membicarakan upaya mereka menguasai dunia. Di tempat parkir, mata-mata CIA, KGB dan Mossad berkeliaran. Selain si bartender, yang menggigil ketakutan, sementara itu hanya ada dua orang duduk terpisahkan meja, sambil menonton siaran langsung El-Clasico di layar TV. Di sebelah kiri, seorang Madridista bernama Javier Marías. Di seberangnya, si orang Catalan bernama Enrique Vila-Matas. Keduanya tampak tegang melihat ke arah lapangan di TV (saya tak ingat, pertandingan itu di Santiago Bernabéu atau di Camp Nou). Sebentar lagi bakal ada adu jotos, pikir si bartender. “Sangat ironis melihat cara kedua klub bermain,” komentar si bartender untuk mencairkan suasana. “Barcelona penuh nafsu untuk menguasai bola. Fasis dan seperti Franco. Sementara Madrid liar tak jelas, anarkis dari kepala ke kaki.” Kedua penulis menoleh dan melotot ke arah si bartender, dan mengumpat bersamaan: “Tutup mulutmu!” Tak berapa lama masuk seorang lelaki dengan napas ngos-ngosan. Ia mengenakan training, sepatu jogging, dengan t-shirt bergambar The Doors. “Bartender itu benar,” kata lelaki itu menenangkan keduanya. “Lihat cara kalian menulis. Kau orang Madrid, menulis dengan gaya Madrid. A Heart So White itu benar-benar novel untuk para ningrat, untuk para penakluk. Sementara Bartleby & Co. lebih tepat dibaca para gembel yang tiduran di emper stasiun sambil mengkhayal bisa meniduri model di iklan Banana Republic.” Yang baru datang itu penulis bernama Haruki Murakami, orang Jepang yang gelisah dengan bangsanya. Yang bosan dengan apa pun yang ditinggalkan Kawabata dan Mishima. Tak hanya bosan, ia membenci mereka. Itulah alasannya ia mau datang ke bar itu, untuk bersama-sama memikirkan cara menaklukkan dunia, menciptakan tatanan dunia yang baru, yang meleburkan Barat dan Timur. “Lagipula Liga Spanyol itu membosankan,” kata Murakami lagi. “Aku lebih suka melihat Liga Inggris.” Huh, kedua penulis Spanyol mendengus (oh, salah satu dari mereka mungkin tak begitu suka disebut penulis Spanyol, meskipun menulis dalam bahasa itu). “Itu karena Liga Inggris mau memakai pemain Jepang,” kata Vila-Matas. Murakami tertawa, bagaimanapun ia tak bisa membantah itu. “Kalian selalu senang dengan Barat. Kalian senang melihat Shinji Kagawa bermain untuk Manchester United, meskipun sebenarnya ia agak payah. Orang Korea yang beberapa tahun lalu itu jauh lebih baik. Hahaha, jangan melotot, Murakami-san. Aku tahu kalian benci orang Korea. Benci semua orang Korea, kecuali, yeah, Nona Kim Taeyeon dan Im Yoona dan beberapa temannya.” Vila-Matas kembali menambahkan, “Lihat tokoh-tokohmu. Semua makan spagheti. Semua novelmu bercerita tentang spagheti.” Dan kucing, Marías menambahkan. Murakami hendak membuka mulut, tapi pintu bar terbuka dan seorang gaucho masuk. Ia mengaku gaucho, tapi tampangnya tak mirip gaucho sama sekali, meskipun benar ia orang Argentina. Ia duduk di samping mereka dan Murakami melotot ke arahnya, “Bagaimana bisa orang ini, César Aira, ada di antara kita?” Memangnya kenapa? tanya Si Catalan. “Orang ini tak bisa dipercaya. Orang yang menulis novel berjudul The Literary Conference tapi malah menceritakan kloning dan ulat raksasa, dan menulis novel berjudul How I Became a Nun tapi tak ada cerita tentang suster, tak bisa dipercaya. Ia orang pertama yang bisa menjadi pengkhianat kelompok ini.” Sabar, Ronin, kata Aira kalem. Ronin dan gaucho mestinya bersahabat. “Untuk menaklukkan dunia, kita tak hanya membutuhkan penulis-penulis berani seperti kalian, tapi juga butuh penipu licik sepertiku. Aku pewaris sejati penipu licik sejati. Borges.” Semakin malam, bar mulai sedikit ramai. Berturut-turut muncul Orhan Pamuk dan Michel Houellebecq. Pamuk serta merta mengambil remote TV dan memindahkan saluran, yang segera mengundang protes Vila-Matas dan Marías. “Aku mau menonton Fenerbahçe melawan Galatasaray,” kata Pamuk. Tapi ia tak menemukan satu pun saluran yang menayangkan pertandingan itu. Marías tertawa dan berkata, “Hahaha, Liga Turki tak ditayangkan di TV sini. Hanya Liga Eropa ditayangkan di TV.” Pamuk protes, “Tapi aku kan juga Eropa?” Kali ini Vila-Matas yang tertawa, juga Houellebecq. “Ya, ya, Eropa. Separo Eropa. Makanya siaran sepakbolanya cuma siaran separo saja, nyangkut di satelit.” Mereka semua tertawa dan Pamuk kesal, mengambil telepon genggam dan mengirim pesan singkat untuk pacarnya, Kiran Desai, “Orang-orang Eropa ini menyebalkan, Sayang. Aku lebih suka berteman dengan orang Asia. Maksudku, pacaran dengan orang Asia.” Akhirnya Houellebecq yang mengambil alih TV, mengeluarkan DVD dan memasukkan satu cakram sambil berkata, “Sudah, kita mulai saja. Sebagaimana kujanjikan, aku akan presentasi bagaimana cara kita menguasai dunia.” Seseorang entah siapa terdengar bergumam, Dasar orang Prancis, senangnya presentasi. Ketika DVD itu menyala, ternyata itu video porno. Seorang perempuan tengah digauli dua lelaki. Mereka semua terkejut. Houellebecq buru-buru mematikannya. “Maaf, maaf, salah DVD. Itu tadi …” Jangan bilang itu bahan risetmu. Bilang saja kamu doyan nonton video porno, kata Vila-Matas. “Atomised dan Platform itu isinya seks doang. Semua tentang seks,” kata Pamuk. Houellebecq berdiri, mencoba membela diri. “Itu bukan seks. Itu tentang cinta. Aku menulis tentang cinta dengan cara Dostoyevsky menulis tentang Tuhan di novel-novelnya.” Murakami nyeletuk, “Seperti judul novelmu, Whatever!” Bartenderlah yang kemudian mencoba menenangkan keributan kecil ini. Houellebecq mengganti cakram DVD dan siap meneruskan presentasinya, tapi tiba-tiba terdengar seseorang berkata dari sudut bar yang remang, “Tunggu, kita masih menunggu satu orang.” Semua menoleh. Entah sejak kapan ia ada di sana. Mereka berbisik satu sama lain, “Si Orang Hungaria. László Krasznahorkai.” Kehadiran lelaki ini membuat bar seketika menjadi dingin, dan udara terasa pekat. Semua kata-kata seperti tertahan di kepala. Keadaan yang kurang lebih sama seperti jika pemimpin gangster masuk ke ruangan. Yeah, pikir Murakami. Hungaria satu ini memang seperti gangster. Sosok maupun tulisannya. Tapi akhirnya mereka setuju untuk menunggu satu anggota lagi, sambil minum bir dan kentang goreng. Ia berdiri di pintu bar dengan sedikit kebingungan, lalu mencoba tersenyum menghampiri mereka sambil berkata, “I am sorry, I am late. I am from Indonesia. Writer Indonesia, eh, Indonesian writer. My name is …” Seseorang berkata, “Pakai saja bahasamu sendiri. Kita semua punya peradaban yang bernama penerjemahan.” Si penulis Indonesia mengangguk-angguk, duduk di salah satu kursi dan kembali memperkenalkan namanya. Eka Kurniawan. Yang lain saling pandang. “Enggak pernah dengar namanya,” gumam mereka. Si penulis Indonesia tersenyum dan kembali berkata, “Maaf, saya memang belum dikenal. Kalau boleh tahu, kalian siapa?” Maka masing-masing memperkenalkan nama: “Enrique Vila-Matas,” “Javier Marías”, “Haruki Murakami”, “Michel Houellebecq”, “László Krasznahorkai”, “dan aku César Aira.” Si penulis Indonesia mengangguk-angguk dan kembali bergumam, “Wah, sama. Kalian juga belum terkenal, ya? Saya juga belum pernah dengar nama kalian.” Sialan, gumam Houellebecq, aku selebriti tapi ternyata ada orang di kolong dunia belum mengenal namaku. Ia ingin mencekiknya. Dan si gangster László ingin menembak kepalanya.

Standard