Eka Kurniawan

Journal

Tag: Fyodor Dostoyevsky (page 1 of 3)

Karakter Datar dan Karakter Bulat

Sebagai penulis yang cenderung “memungkinkan segala cara”, saya sering berpikir-pikir ketika ditawari untuk memberikan semacam bengkel kerja penulisan. Kecenderungan memungkinkan segala cara lahir dari ketidakpercayaan saya kepada otoritas apa pun dalam menulis: saya tak percaya ada aturan tunggal untuk menyampaikan gagasan dalam bentuk tertulis, sebagaimana saya tak percaya ada otoritas tunggal yang menentukan makna hasil tulisan. Saya percaya beragam kemungkinan bisa dilakukan, yang penting penulisnya nyaman. Setelah itu, pembacanya semoga juga nyaman. Kenapa semoga? Sebab tak ada yang bisa menjamin penerimaan pembaca bisa seragam. Karya paling hebat di dunia pun tak akan mungkin membuat nyaman apalagi senang semua pembaca. Lah, jika saya tak memercayai satu otoritas, satu jenis “school” (itulah kenapa disebut “school”, saya rasa!), bagaimana saya menyampaikan pelatihan menulis? Banyak teman suka mengingatkan, penulis pemula akan pusing mengikutinya (beberapa juga suka pusing mengikuti jurnal saya ini). Mereka berkeyakinan bahwa satu paradigma tertentu harus dipilih, satu jenis “aliran” (“school”) harus diterapkan. Baiklah. Paradigma saya tentu saja bersifat anarki, dan “aliran” saya sudah jelas: pergunakan segala kemungkinan yang paling cocok untuk dirimu. Buat saya sangat penting bahwa setiap penulis harus menemukan cara mereka sendiri untuk menulis; demikian pula, sangat penting bagi pembaca memiliki kemerdekaan untuk bebas membaca dengan cara mereka. Otoritas (siapa pun yang teriak-teriak “harus begini, harus begitu”) sudah saatnya istirahat di lubang kakus. Teriakan mereka tak membuktikan kepala mereka ada isinya, hanya membuktikan mereka punya bacot dan berisik (ini berlaku di sastra maupun di kehidupan politik). Kita bisa mengikuti jalan setapak yang pernah dirintis oleh pendahulu kita (kalau mau), sebagaimana kita juga boleh membuat jalan setapak baru (kalau mau), atau menimbun semua jalan setapak (juga kalau mau), atau apa pun. Mari membuat ilustrasi: selama beberapa dekade, E.M. Forster (melalui bukunya Aspects of the Novel) menjadi sejenis otoritas dalam membangun karakter. Menurutnya, karakter yang baik di dalam novel haruslah bulat (dengan begitu, karakter yang datar berarti buruk, atau setidaknya kelas dua). Kenapa begitu? Tentu karena karakter yang bulat konon dekat dengan kehidupan. Juga memiliki aspek-aspek mengejutkan (yang dibutuhkan oleh drama. Drama, saudara-saudara!), karena karakter bisa terlihat dari berbagai sudut. Beberapa ditampilkan, beberapa yang lain tersembunyi, atau samar-samar, sebelum muncul di belakang. Karakter yang bulat juga memungkinkan mereka berkembang, berubah, mengikuti alur cerita atau problem-problem yang dihadapinya. Sekali lagi, seperti dalam kehidupan manusia. Pertanyaannya: benarkah itu seperti kehidupan? Semua orang juga tahu novel, tulisan, teks, tak pernah bisa menggambarkan kehidupan ini dengan sempurna. Itu kan hanya ilusi kaum realis ortodoks saja. Coba kita lihat argumen ini dari sisi sebaliknya, mengenai karakter yang datar. Benarkah karakter yang datar tidak menarik? Karakter datar biasanya dikritik karena ia hanya memperlihatkan bentuk yang mudah dikenali, tetap begitu dari awal sampai akhir. Komik. Seperti kartun. Nah, itu! Apa salahnya seperti komik, dan kartun? Banyak karakter seperti itu dalam kesusastraan (yang adiluhung sekalipun), dan tetap menarik. Don Quixote? Dia tak ada bedanya dengan Donal Bebek, sayangku! Dijungkir-balikkan seperti apa pun, Don Quixote akan tetap seperti itu, dan bagi saya tetap menarik. Pangeran Myshkin dalam The Idiot Dostoyevsky juga mendekati datar. Kita belum bicara tentang karakter-karakter minor. Yang tolol adalah menilai Don Quixote seperti kamu menilai Mrs. Dalloway atau Madame Bovary (meskipun tak dilarang, tapi saya tetap akan menganggapnya tolol). Dalam hal ini, Cervantes mungkin akan bilang, “Ngentot dulu lah, biar otak seger dikit!” Itu hanya satu contoh bahwa sejenis otoritas yang telah lama berkuasa memang perlu dipertanyakan dan ditantang (Poetic Aristoteles, juga). Lantas, jika saya tak memercayai satu jenis pilihan tertentu, apa yang bisa saya sampaikan di bengkel kerja penulisan? Jawabannya sederhana: memberi pilihan-pilihan itu, kemungkinan-kemungkinan itu. Anda tak perlu mengikuti jalan setapak yang ada (termasuk setapak yang saya lampahi); juga boleh mengubur setapak yang ada (termasuk mengubur gagasan saya tentang menulis ini). Tapi penting untuk memilih sesuatu dan merasa nyaman dengan itu, dan jika ada yang menganggap pilihanmu salah, punya nyali untuk mengacungkan jari tengahmu (kalau perlu, berilah sedikit orgasme). Pelajaran menulis, pada akhirnya merupakan pelajaran berpolitik.

The Lost Honour of Katharina Blum, Heinrich Böll

Sejak awal, The Lost Honour of Katharina Blum sudah buka-bukaan bahwa ini kisah mengenai pembunuhan yang dilakukan oleh Katharina Blum atas seorang wartawan bernama Werner Tötges. Namun kita segera tahu ini bukan sejenis fiksi kejahatan, meskipun tentu saja ada irisan ke sana. Kita sudah tahu peristiwa kejahatannya, dan tak lama kemudian, kita juga sudah bisa tahu motif di belakang tindakan kejahatan tersebut. Bahkan jika kita masih bersikeras menyebutnya sebagai fiksi kejahatan, ini tidak seperti fiksi jenis itu dalam maknanya yang tradisional. Bagi saya, novel ini membuka aspek lain dari peristiwa-peristiwa kejahatan yang kita ketahui, bahkan hingga hari ini: bagaimana liputan media, bahkan desas-desus, spekulasi yang tak berdasar, yang dilatar-belakangi oleh berbagai kepentingan atau sekadar pemuasan rasa ingin tahu, seringkali merupakan kejahatan itu sendiri. Banyak novel mengulas aspek-aspek kejahatan, tak melulu mengenai siapa membunuh siapa, atau siapa yang melakukan satu kejahatan dan bagaimana seseorang (polisi, detektif), mengungkapkannya. Dalam The Trial Franz Kafka, kita melihat bagaimana sistem dan birokrasi hukum yang korup bisa menjadi begitu ganas menyiksa, bahkan lebih jahat daripada kejahatan yang mungkin dituduhkan kepada korbannya, dalam hal ini Joseph K yang tanpa melakukan kejahatan apa pun ditangkap dan harus melalui lika-liku labirin hukum. Crime and Punishment karya Fyodor Dostoyevsky bahkan melangkah jauh memperkarakan aspek moral: niat baik kadang (atau bahkan sering?) merupakan sumber kejahatan. Kita memiliki banyak kasus bahkan di dunia nyata. Perang (untuk menciptakan perdamaian?). Terorisme (melawan ketidakadilan atau sejenisnya?). Dalam kasus novel ini, Raskolnikov melakukan kejahatan demi uang, agar ia bisa mempergunakan uang itu untuk tujuan baik. Di novel Heinrich Böll ini, kita akan bertemu sosok Katharina Blum yang “dihukum”, bukan oleh sistem hukum, tapi oleh media yang penuh prasangka, hanya karena ia memberi tempat (dan cara melarikan diri) kepada seorang buronan. Tentu saja membantu seorang buronan, dalam banyak sistem hukum, merupakan tindakan kriminal juga. Tapi prasangka media bisa berubah menjadi jauh lebih kejam, bisa melangkah melampaui kajahatan yang benar-benar telah dilakukannya (yakni membantu si buronan, yang adalah kekasihnya, untuk kabur). Media tak bekerja sendiri. Di belakang itu tentu saja ada kepentingan bisnis dari media itu sendiri, dan di belakang itu, ada rasa ingin tahu publik yang mengharapkan drama, mengharapkan skandal yang lebih hebat daripada sekadar seorang perempuan yang membantu kekasihnya. Masa lalunya diungkap: ia seorang janda, dan suaminya menuduhnya seorang komunis (di banyak situasi, seperti Jerman selepas perang, menjadi komunis bisa berarti dekat dengan aib dan kejahatan), bahkan keputusannya untuk keluar dari gereja juga dipersepsikan sebagai kejahatan. Tak hanya itu, si wartawan dari media tersebut, juga mengungkap hal-hal yang barangkali tidak relevan untuk kasusnya: ada pria yang pernah datang ke apartemennya, mengindikasikan ia seorang “perempuan yang tidak baik”. Berapa sering Anda mendengar kasus kejahatan di mana media membully dan meruntuhkan karakter seorang tersangka bahkan sebelum kasus pengadilan berlangsung? Media, dengan hasratnya untuk “menghukum” jelas jahat. Tapi hasrat kita yang berlebihan terhadap suatu kasus, seringkali dengan asumsi-asumsi sendiri, juga hasrat atas skandal dan drama, barangkali merupakan minyak bagi api media. Itu belum termasuk kepentingan-kepentingan ekonomi, politik, bahkan ideologi, seringkali menumpang kepada kasus yang sesungguhnya bersifat pribadi dan tak memiliki aspek kepentingan umum yang luas. Saya senang telah membaca novel yang ternyata jauh lebih kaya daripada apa yang tampak di permukaan. Jujur, ini kali pertama saya membaca novel Heinrich Böll. Itu pun gara-gara satu telepon di satu hari yang potongannya kira-kira: “… mungkin Anda belum pernah mendengar namanya, tapi ia salah satu penulis besar …” Tentu saja saya pernah mendengar nama Heinrich Böll, tapi memang belum pernah membaca satu pun karyanya. Saya agak merasa malu dan memutuskan membaca satu di antaranya. Ini akan menjadi langkah kecil untuk penjelajahan yang lebih luas, saya yakin.

10.000 Jam Latihan (dan Mungkin Ketololan)

Menurut penelitian Malcolm Gladwell (bukunya Outliers), dibutuhkan 10.000 jam latihan yang penuh dedikasi untuk menghasilkan orang sukses. Itu bisa dipelajari dari para pemain biola hebat, pemain skate, juga The Beatles dan Bill Gates. Melebihi bakat dan keberuntungan (ya, mungkin saja ada faktor ini meskipun kecil), latihan penuh dedikasi dan komitmen melakukannya dalam rentang waktu yang lama, memberi hasil yang jauh lebih nyata. Bagaimana dengan penulis? Saya rasa tak jauh berbeda. Dibutuhkan komitmen dan dedikasi untuk berlatih, dengan cara membaca dan menulis, selama itu. Ya, tak ada yang mudah, memang. Jika kita mendedikasikan waktu 3 jam sehari (secara konsisten, setiap hari) untuk membaca dan menulis, kurang-lebih kita membutuhkan waktu 10 tahun untuk “terlatih”. Artinya, jika berharap menjadi terlatih di umur 20 tahun, seorang anak harus terus berlatih, membaca dan menulis, setiap hari sejak umur 10 tahun! Jika komitmen ini baru dimulai umur 18 tahun, keahlian itu mungkin baru didapat umur 28 tahun. Jika hanya memiliki komitmen untuk membaca dan menulis sebanyak satu jam setiap hari (sekali lagi, setiap hari tak terputus), kita membutuhkan 30 tahun. Mulai umur 10 tahun, baru terlatih di umur 40 tahun. Berat. Memang berat. Di dunia ini, dari miliaran manusia, memang hanya sedikit yang muncul ke puncak. Karena memang hanya sedikit yang punya komitmen waktu seperti itu. Hanya sedikit yang memperoleh medali emas Olimpiade. Hanya sedikit yang menjadi juara dunia. Dan di antara jutaan penulis di dunia, tentu hanya segelintir yang karyanya terus dibaca, dari generasi ke generasi. Entah berapa banyak jam dihabiskan Shakespeare untuk menulis, membaca dan berada di gedung teater setiap hari. Jelas lebih banyak daripada kebanyakan kita. Tentu saja untuk mendaki puncak itu, tak melulu mengenai 10.000 jam. Anda bisa mengikuti riset Gladwell mengenai hal ini. Tapi yang paling menohok saya adalah salah satu hal penting ini: “Jangan habiskan waktu untuk hal-hal kecil”, yang tak berguna untuk karirmu, tak berguna banyak untuk bidangmu. Dalam skema 10.000 jam berlatih, waktu memang memegang peranan penting. Waktu sangat terbatas. Menghabiskan 3 jam sehari saja, kita butuh 10 tahun. Saya tak tahu persis apa “hal-hal kecil” dalam karir menjadi seorang penulis, kalaupun kita merumuskannya, barangkali banyak orang tak bersepakat dan berakhir dengan debat tak ada ujung (dan debat ini bisa jadi “hal-hal kecil” yang tak membawa kita menjadi penulis yang lebih terampil). Tapi saya rasa kita bisa mengukurnya sendiri: fokus terhadap tujuan keterampilan yang ingin dicapai, dan lewatkan apa yang tak mendukung itu. Bayangkan jika kita ingin berlatih menulis kalimat dengan baik, kita melakukannya berkali-kali, berjam-jam, dan lupakan urusan lain yang tak ada hubungannya. Setelah mampu melakukannya, kita lakukan kembali latihan menulis dialog, yang katakanlah, kita ingin di satu sisi tertulis dengan baku tapi terdengar alamiah. Banyak hal yang bisa kita latih dalam hal menulis, dan itu membutuhkan waktu yang sengaja disediakan. Dalam hal ini, memiliki tujuan yang jelas tentang apa yang sedang kita latih, menjadi sangat penting. Memikirkan hal ini, satu hal kemudian mengemuka: apa artinya “berhasil”? Dalam bidang penulisan, seperti apa itu penulis yang berhasil? Berpengaruh besar seperti Dostoyevski atau Kafka? Memperoleh hadiah Nobel seperti Hemingway atau Orhan Pamuk? Memperoleh uang banyak seperti J.K. Rowling? Tentu saja tak semua orang terobsesi untuk “berhasil” seperti gambaran Gladwell, dan karenanya tak perlu menyiksa diri berlatih 10.000 jam (dan terus berlatih setelah itu). Ada penulis yang cukup senang melihat karyanya dicetak, sebagai misal. Atau menyisipkan ungkapan cinta tersembunyi di dalam novel, banyak yang seperti ini. Kita punya ukuran masing-masing tentang “berhasil”. Yang ajaib tentu saja kalau orang berharap memperoleh sebutir kelereng, tapi ngamuk-ngamuk karena orang lain memperoleh segenggam berlian. Atau berharap mengarungi lautan luas, tapi usaha yang dilakukannya hanya merendam kaki ke dalam air di ember. Saya? Saya pengin melihat karya saya bersanding di rak buku dengan penulis-penulis kesayangan saya. Cita-cita saya tampak dangkal dan tolol, tapi sulit melakukannya. Setiap kali saya menyandingkan buku saya di samping buku-buku itu, saya merasa buku saya tak pantas berada di sana. Mungkin saya harus mencoba meletakkan buku saya di sisi buku-buku itu, terus-menerus selama 10.000 jam? Mungkin. Mungkin. Sebab saya yakin, 10.000 jam melakukan ketololan juga bisa berhasil membuat saya lebih tolol berkali lipat, dan sejujurnya, saya sering melakukan hal itu.

Dag Solstad: Tanggung Jawab Penulis adalah Bikin Karya Bagus

Setelah berkenalan melalui novel Aib dan Martabat, saya langsung mengenali nama penulis ini ketika melihat edisi terbaru The Paris Review, di rubrik wawancara yang saya demenin di jurnal itu: “The Art of Fiction” (dia kebagian nomor 230). Di kesusastraan Skandinavia (tepatnya doi berasal dari Norwegia), konon dia dianggap sebagai “an anavoidable voice”. Saya makin demen, nih. Dan makin seneng aja ketika dia ditanya, bagaimana awalnya dia pengin jadi penulis? Jawabannya: gara-gara baca Knut Hamsun. Berasa punya temen, deh. Knut Hamsun emang gokil. Baru satu novel Dag Solstad yang saya baca (berharap bisa baca yang lainnya di kemudian hari), tapi membaca wawancaranya sungguh menyegarkan. Ada satu bagian yang saya rasa perlu menjadi perenungan ketika ia ditanya, di luar Hamsun, penulis siapa aja yang dibaca dan memengaruhi. Ia bilang, sebagian besar penulis yang disukainya (Kafka, Dostoyevsky, dan lain-lain) justru dibacanya ketika berumur akhir 20an, “Ketika sudah lewat masa penjara kanak-kanak.” Di luar bayangan kebanyakan orang dewasa yang menganggap masa anak-anak sangat menyenangkan (maklumlah, seperti kata Little Prince, orang dewasa imajinasinya payah), anak-anak seringkali terpenjara: oleh keinginan orang tua, guru, masyarakat. Enggak boleh ini, enggak boleh itu. Pikiran dan tindakan mereka dikendalikan oleh orang dewasa. Nah, menurut Solstad, justru ketika dewasa ia merasa lebih bebas. Seharusnya sih, begitu. Kenyataannya mungkin malah banyak orang semakin dewasa semakin terpenjara. Pikirannya semakin mudah dikendalikan. Enggak bisa ini, enggak bisa itu, dan yang ngelarang ternyata dirinya sendiri! Dan ini juga hal seru: mengenai komunitas. Dia merasa beruntung di awal karirnya bergabung dengan majalah sastra Profil. Dia ketemu banyak orang keren di sana, yang membaca segala hal, mengetahui banyak hal. Kecuali dirinya, ia merasa teman-temannya memiliki keistimewaan masing-masing. Pernah ia mencoba ikut berdebat, tapi tak pernah berhasil mempertahankan argumennya (karena dia enggak tahu apa-apa). Akhirnya ia memilih diam dan mendengarkan. Terus mendengarkan. Hasilnya? “Aku tak memiliki keistimewaan apa-apa, tak memberi apa-apa tapi memperoleh paling banyak.” Hahaha. Itu lucu, tapi boleh dimaafkan. Memang banyak kok orang yang cerewet dan ngomong banyak, sebenarnya bukan “memberi banyak”, tapi lebih “pengin didengar”. Argumennya enggak penting, yang penting ada yang dengar, syukur-syukur enggak dibantah. Ada yang kayak begitu, percayalah. Ada. Dan terakhir, mengenai keistimewaan penulis (memiliki kebebasan bicara, misalnya), ia ditanya mengenai tanggung jawab. Si pewawancara mengutip tentang kebebasan melahirkan tanggung jawab. Nah, apa tanggung jawab seorang penulis? Sebagai seorang komunis, lebih tepatnya seorang Maois, saya bayangkan dia bakal jawab mengenai tanggung jawab sosial, tentang mencerdaskan masyarakat, menggunting belenggu penindasan, atau sejenisnya. Ternyata dia malah bilang: tanggung jawab penulis ya bikin karya bagus. Itu yang paling penting. “If you are a writer, being able to make a good piece of art is of the utmost importance — that’s your primary responsibility.” Bener juga ya, kalau enggak merasa punya tanggung jawab semacam itu, ngapain nyebut sebagai penulis? Lu Hsun kurang-lebih pernah mengatakan hal yang sama. Jadi boleh lah saya anggap itu jawaban paling kiri. Banget. Tinggal sekarang baku-hantam saja tentang apa itu “bagus”.

Menebus Dosa, Aman Datuk Madjoindo

Novel ini karya Aman Datuk Madjoindo berjudul Menebus Dosa (jika tak salah, terbit pertama kali 1932). Madjoindo terutama dikenal melalui novel Si Doel Anak Betawi (dalam versi cetak ulang belakangan, kata Betawi berganti menjadi Jakarta). Pembukaannya rada aneh: dibuka dengan ceramah mengenai pentingnya pakansi, terutama untuk warga kota besar di Betawi (sebesar apa sih, waktu itu?) setidaknya sebulan dalam setahun. Nah, novel diawali dengan perjalanan si narator untuk liburan ke sebuah desa di lereng Pangrango, untuk menemui seorang teman. Tapi di desa itu, ia malah bertemu dengan seorang bocah yang tinggal dengan neneknya yang menarik perhatian dia. Berikutnya, sampai akhir, merupakan kisah mengenai sejarah si nenek dan bocah itu. Bagi pembaca modern macam saya, tentu gemas dengan bab pertama yang menceritakan perjalanan narator tersebut, yang bisa dibuang dan cerita langsung diawali di bab kedua. Percayalah, kisah perjalanan narator itu tak lagi disinggung kok sampai akhir novel (jika disinggung kembali, barangkali novel ini akan menjadi karya pascamodern). Meskipun begitu, saya akhirnya bisa memaklumi mengingat latar belakang kapan novel tersebut ditulis dan terbit, terutama karena saya terhibur dengan kisah si nenek dan cucunya setelah itu. Kita bisa saja menganggap pembukaan semacam itu sebagai wujud belum canggihnya teknik menulis di masa-masa awal kesusastraan modern kita (jangan berkecil hati: kita bisa gemas ingin memangkas atau mengedit novel Dostoyevsky atau Tolstoy sekalipun, kok). Tapi saya ingin melihatnya dengan sikap positif: pembukaan itu diperlukan untuk membuat yakin pembaca bahwa kisah di novel ini “benar”. Si narator (yang dipersonifikasikan sebagai si “aku” penulis) sedang berkunjung, dan ia mendengar cerita tentang nenek dan cucunya, yang kemudian dilaporkan kembali ke pembaca. Semacam cara untuk berkata, “Saya enggak ngarang lho ya, ini cerita yang betul kejadian, saya cuma melaporkan.” Seperti kita tahu, kita menulis dan berusaha meyakinkan pembaca bahwa kisah itu benar. Bahkan dalam kisah paling fantastis dan absurd sekalipun, penting untuk meyakinkan pembaca bahwa itu benar terjadi, setidaknya secara fiktif. Pembukaan novel ini bisa dilihat sebagai upaya sederhana melakukan itu, meskipun dengan berkembangnya kesusastraan, teknik “meyakinkan pembaca” tentu telah berkembang sedemikian rupa sehingga sekarang sangat jarang (meskipun ada) penulis membocorkan narator di dalam badan novel. Kembali ke novelnya, seperti saya bilang di muka, saya menikmatinya. Kisah sederhana yang tak perlu saya bocorkan di sini, tapi jika menemukan bukunya di perpustakaan atau toko buku loak, bacalah. Selalu menyenangkan membaca karya-karya lama, dalam arti yang sebenarnya, melemparkan kita ke waktu yang berbeda. Tak hanya melalui dunia rekaannya, tapi juga melalui ejaan (yang masih lama), kertas kusamnya (hati-hati untuk yang alergi), dan sesekali menemukan kejutan dari kata-kata yang sudah tak lagi dipergunakan tapi kita tahu ada dan mengerti artinya. Dibandingkan Si Doel, mungkin tak lagi banyak yang ingat novel ini. Tapi seperti makhluk hidup, ia selalu punya cara untuk bertahan dan menghampiri pembaca baru. Yang beruntung bukanlah novel itu, tapi si pembaca yang bersua dengannya.

The Vegetarian, Han Kang

Ketika Yeong-hye memutuskan untuk menjadi seorang vegetarian, satu keluarga menjadi kacau-balau. Hubungannya dengan suaminya berantakan, hingga mereka bercerai. Hubungan dengan orangtuanya poranda, ditandai dengan kemarahan si ayah ketika mencoba menjejalkan sepotong daging ke mulutnya. Dan hubungannya dengan kakaknya, meskipun tetap baik, tak bisa dibilang tetap sama: kakak iparnya berpisah dengan kakaknya karena membuat film semi porno dengannya. Ya, semuanya karena ia memutuskan untuk menjadi vegetarian. Bagi sebagian orang, menjadi seorang vegetarian mungkin hal yang sepele. Kalaupun meninggalkan persoalan (seperti mencari restoran yang bebas daging, ribet ngurusin menu makanan), itu persoalan dirinya sendiri. Tapi di novel ini, The Vegetarian karya Han Kang, kita bisa melihat bahwa perubahan apa pun, apalagi mendadak dan nyaris tanpa asal-usul yang jelas, bisa mengacaukan banyak hal. Saya tak akrab dengan kesusastraan Korea, tapi tampaknya mereka tengah berusaha menggenjot kesusastraan mereka agar dikenal secara global. Belakangan memang sudah banyak novel-novel Korea hadir dalam terjemahan (Bahasa Inggris, misalnya). Tapi tentu saja kesusastraan tak semata-mata diterjemahkan dan diterbitkan, lalu dipromosikan. Jika urusannya cuma itu, kesusastraan negara mana pun asal ada uang dan kemauan pasti sudah merajalela. Kenyataannya, sebagian besar di antara buku-buku itu (lihat misalnya seri The Library of Korean Literature yang diterbitkan Dalkey Archive), masih kurang menarik perhatian. Nama-nama penulis Korea tetap sayup-sayup, apalagi jika dilihat dan didengar dari sebuah kota pelosok macam Jakarta. Saya tak tahu kenapa. Mungkin bias kurator lokalnya? Mungkin apa yang dianggap keren oleh kurator lokal, ternyata biasa saja oleh publik internasional? Dan lihat saja (ini yang menarik), meskipun begitu satu-dua nama kemudian mencuri perhatian, tapi malahan di luar upaya-upaya promosi “resmi” dengan embel-embel “kesusastraan Korea” (dengan ambisi-ambisi besarnya melalu “The Library of Korean Literature”). Han Kang, salah satunya. Ketika saya membaca novel ini, novel keduanya Human Act baru saja terbit (dan saya rasa, saya juga ingin membacanya). Menurut saya, The Vegetarian merupakan jenis novel yang ceritanya didorong oleh karakter. Karakter yang kuat. Seperti kita tahu, ada cerita-cerita yang bergulir oleh dorongan plot (seperti di banyak novel genre, seperti cerita detektif, cerita romansa, cerita silat atau horor), dan ada cerita yang bergulir oleh dorongan karakter yang kuat. Novel kesayangan saya, Lapar karya Knut Hamsun, atau banyak karya Dostoevsky, umumnya didorong oleh karakter yang kuat. Novel ini dibagi dalam tiga bagian, dan semuanya berputar di sosok Yeong-hye si vegetarian. Di luar dugaan, novel ini sebenarnya tak bicara banyak mengenai vegetarianisme (baik soal kesehatan, spiritual, ataupun ideologi lingkungan hidup). Setidaknya tidak menjadi pokok soal yang pertama. Meskipun begitu, seperti di novel-novelnya Kafka (dan novel ini memang memberi rasa Kafkaesque), novel ini bisa menyelam jauh lebih dalam dari itu, membuat vegetarianisme sebagai permukaannya. Membuat novel ini malah menjadi sejenis horor yang, menakutkan juga mengasyikan. Mungkin saatnya menengok Korea tak hanya melalui K-Pop, tapi juga K-Lit mereka?

The Leviathan, Joseph Roth

Leviathan, menurut Perjanjian Lama, merupakan monster laut. Judul asli novela ini sebenarnya, kira-kira, “Penjual Batu Karang”, ditulis oleh Joseph Roth, penulis Yahudi Jerman yang meninggal di usia masih cukup muda, empat puluh lima. Kalau mau jujur, The Leviathan ini memang bisa dikasih judul apa saja. Untuk sebuah buku yang kurang dari enam puluh halaman, dengan cerita yang boleh dibilang sederhana menyerupai dongeng, bahkan fabel, rasanya banyak hal disinggungnya. Meskipun tidak secara langsung. Pertama, sebagai dongeng, novela ini bisa dilihat sebagai kisah mengenai kejatuhan disebabkan godaan Si Jahat (si monster laut?) yang telah mengubah manusia saleh, Nissen Piczenik si pedagang batu karang, ke keburukan. Ia yang seumur-umur tinggal di kota kecil Progrody dan hidup relatif sukses (ia bisa menabung), terobsesi dan tergila-gila untuk melihat laut, rumah dan tempat asal-usul batu karang jualannya. Hingga satu hari ia akhirnya pergi ke Odesa, kota pelabuhan terdekat, dan sejak saat itu hidupnya berubah. Hidupnya semakin berubah demi mengetahui ada cara lain untuk mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya, dengan mencampur batu karang asli dan yang palsu (yang terbuat dari seluloid). Kedua, kita juga bisa melihatnya sebagai fabel kapitalisme. Tentang sikap rakus, sikap kehendak memperoleh keuntungan berlipat-lipat, persaingan bisnis (kapitalisme seolah menciptakan persaingan yang membuat pedagang berusaha menurunkan harga sekompetitif mungkin, tapi pada dasarnya tetap dengan tujuan memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya), yang berujung kepada penipuan (mengenai batu karang palsu). Ketiga, bisa dianggap sebagai dongeng moral. Awalnya Nissen merupakan pedagang yang sangat disegani, meskipun ia berasal dari golongan minoritas. Orang-orang percaya kepadanya. Para petani yang sering membeli batu-batu karang darinya, selain untuk perhiasan, juga untuk menangkal marabahaya dan nasib buruk. Tapi begitu ia mencampur batu karang asli dan palsu (dan tanpa mengubah harga), pada saat yang bersamaan penyakit datang mewabah. Orang-orang mulai menganggap batu karangnya membawa keburukan. Mereka mulai menghindarinya, tak lagi membeli batu karang darinya, dan saat itulah kejatuhannya hanya masalah waktu. Tentu saja kita bisa melihatnya dengan berbagai cara selain yang sudah saya sebut. Seperti saya bilang, untuk novela sekecil ini, kandungannya sangat kaya untuk menjadi telaah yang mengasyikkan: moral, politik, ekonomi, bahkan agama, sosial, psikologi, gender (lihat hubungan si pedagang batu karang dengan isterinya), bahkan geografi dan kosmologi. Saya tak tahu banyak tentang penulisnya. Penelusuran kecil tentangnya memberi informasi ringkas, bahwa di awal-awal karirnya ia tampak menjanjikan melalui novel debutnya. Bisa dibilang ia memiliki jiwa para penulis besar (penerjemahnya menyebut pembukaan novela ini mengingatkan kepada Dostoyevsky dan Gogol). Tapi nasib tak bisa dielakkan. Perang Dunia II datang, Hitler berkuasa. Ia terpaksa lari, eksil, dan hidupnya tercerabut. Dan kemudian mati relatif masih muda. Kita sering berharap menulis sesuatu yang ringkas tapi bicara banyak. Kebanyakan di antara kita gagal melakukannya: bicara banyak, tapi tidak ringkas, dan akhirnya kosong tak ada isinya. Itu tak berlaku untuk novela ini, sebagaimana sering terjadi pada fabel dan dongeng yang diceritakan turun-temurun.

“It may be cheating to include two novels by one author, but there is no doubt that the year’s most important revelation-in-translation is Eka Kurniawan, whose searing works of so-called magical realism set in Indonesia should not be missed by any reader, especially those who are unafraid of sex and violence. If you’re tired of rereading Gogol and Dostoevsky, turn to Kurniawan instead.”

Beauty Is a Wound and Man Tiger are among Flavorwire’s The Best Fiction 2015.

Killing Auntie, Andrzej Bursa

Jika kamu suka membaca novel yang bisa membuatmu mual, cobalah Killing Auntie karya Andrzej Bursa ini. Kebrutalannya nyaris menyerupai adegan-adegan di film kelas B, di mana si narator mencoba memotong kaki mayat, putus asa membiarkan mayat bibinya di bak mandi selama berhari-hari, bahkan di puncak adegannya, bagaimana ia (dibantu yang lain) melemparkan potongan-potongan mayat ke binatang buas di kebun binatang. Juga jangan dilupakan bagian di mana diketahui, nenek si tokoh menggerogoti daging mayat. Sadis dan gila, tentu saja. Tapi novel ini tak hanya sekadar itu, tentu saja. Sejak bagian-bagian awal, kita sadar penulis ini, novel ini, membawa sejenis roh Dostoyevsky di dalam dirinya. Pengamatan yang telaten atas diri manusia, masyarakat yang tampak baik-baik saja di luar tapi menjadi mencekam begitu menelisik ke bagian dalam jiwa masing-masing. Humornya tersamar, sama sekali tak bermaksud melucu, tapi demikian melimpah. Andrzej Bursa merupakan penulis Polandia, dan ini merupakan satu-satunya novel yang ia terbitkan. Ia meninggal sangat muda, umur 25. Tapi itu tak menghindarkannya menjadi sejenis pujaan dalam kesusastraan Polandia, menjadi sejenis suara bagi kaum muda yang gelisah dan terkadang marah. Secara sederhana bisa dikatakan, novel ini bercerita tentang seorang anak muda (anak kuliahan), yang satu hari menggetok kepala bibinya dengan palu. Mati, tentu saja. Sepanjang cerita, dikisahkan bagaimana ia mencoba menghilangkan jejak tindakan kriminalnya, yang artinya mencoba melenyapkan mayat si bibi. Bukan perkara mudah, bahkan kemudian ia sadar, mayat merupakan lawan yang tangguh, yang sulit ditaklukan. Saya menyebut Dostoyevsky di atas, dalam rangka menyanjung yang sepantasnya untuk penulis muda ini. Ketika membacanya, kita akan sadar tengah menghadapi sejenis kegilaan. Tapi caranya bercerita, terutama di bagian awal, kita akan menemukan sebuah dunia di mana kegilaan merupakan sesuatu yang begitu wajar dan normal, sesuatu yang bisa terjadi kepada setiap orang. Seperti Dostoyevsky biasa melakukannya. Hingga kemudian kita tersadar bahwa Bursa melangkah lebih jauh. Perlahan tapi pasti, nada suara naratornya mulai berubah. Kegilaan yang awalnya tampak sebagai obyek, sebagai sesuatu yang “begitulah memang kejadiannya”, sesuatu yang pembaca lihat, tiba-tiba menjadi sesuatu yang melibatkan kita. Yang dirasakan pembaca. Di sanalah kita mulai ikut merasa bingung, ikut ketakutan (hey, kenapa dia membunuh si bibi? Kenapa dia enggak ngaku sepenuhnya saja kepada si pastor? Kalau memang mau urusannya selesai, kenapa tidak segera lapor polisi), ikut berkonspirasi dalam kejahatan (ayo, kamu kabur saja! Pikirkan cara brilian untuk melenyapkan mayat bibimu!), bahkan ikut kesal (hey, kenapa kamu ceritakan pembunuhan itu kepada pacarmu?). Perubahan nada suara ini yang menurut saya membuat novel ini menjadi terasa lebih istimewa. Bahkan di bagian akhir, perubahan itu semakin ketara. Cara naratornya bicara semakin berbeda, dan kita mulai menyadari kita tak lagi sedang menonton kegilaan, kita sedang ikut di bagian dalamnya. Sedang bicara dengan cara yang gila. Kadang saya berpikir, dunia membutuhkan lebih banyak novel sinting seperti ini. Tapi, bukankah novel yang cemerlang menjadi menarik justru karena novel semacam itu memang tak banyak dihasilkan? Penulis seperti Andrzej Bursa, saya pikir hanya perlu menulis satu novel sepanjang hidupnya (ya, dia tak mungkin menulis karya lainnya), tapi itu cukup untuk meninggalkan bayangan yang panjang.

Buat Kamu yang Sering Merasa Tidak Dianggap Penting: The Festival of Insignificance

Kamu merasa sudah bekerja keras dan menghasilkan karya hebat (sudah menulis beberapa buku puisi, novel, kumcer dan merasa itu dobrakan hebat dalam kesusastraan), tapi hampir tak ada orang yang menganggap apa yang kamu lakukan penting, bahkan menengok pun tidak? Kamu merasa sudah melakukan segala hal yang terbaik untuk orang yang kamu cintai, tapi cintamu terus bertepuk sebelah tangan? Kamu sudah bekerja giat, memberi keuntungan yang melimpah untuk perusahaan, tapi tak juga naik pangkat apalagi gaji, malah sepupu si presiden direktur yang bodoh dan tak tahu apa-apa melangkahimu? Rayakan saja. Saya sering berpikir, penulis yang sudah menghasilkan beberapa buku dan semuanya tidak menarik, buku-buku berikutnya tak perlu diperhatikan sama sekali. Saya juga sering menganggap karya seorang penulis di usia tua sebagai sesuatu yang tak penting, insignifikan, dan sebaiknya diabaikan saja. Saya pikir mereka tak membutuhkan apa pun lagi, dan jika mereka masih menulis, barangkali hanya sebagai upaya agar tidak pikun saja. Saya hampir mengabaikan novel Milan Kundera terbaru, The Festival of Insignificance. Tapi judulnya membuat saya terprovokasi, seolah-olah meledek, benar kamu mau menganggapku insignifikan? Baik, aku akan merayakan pengabaianmu. Sial. Saya memutuskan untuk membacanya. Kalau jelek dan menyebalkan, toh hanya 115 halaman. Kenyataannya saya tak menyesal membaca buku ini. Saya seolah menemukan kembali Kundera dari masa-masa terbaiknya. Benar, hal itu bisa dilihat dengan cara lain: tak ada hal baru dalam karyanya. Tapi bayangkan, ia meremas segala yang dia lakukan dalam The Book of Laughter and Forgetting, The Unbearable Lightness of Being dan Immortality dalam sejilid buku kompak yang padat: kita menemukan kembali dirinya dalam bentuk hampir-filsuf, merayakan novel dalam berbagai kemungkinannya. Novel sebagai alat memeriksa hal remeh-temeh dengan cara yang penuh keseriusan, dipadu-padankan dengan anekdot sejarah yang memendar ke sana-kemari sebagai prisma, dan tentu saja telaah yang selalu luar biasa kepada tindakan-tindakan kecil tokoh-tokohnya, seolah itu merupakan kunci penting untuk memahami hakikat manusia. Sebagai contoh remeh-temeh, Kundera memulai novel ini dengan tantangan yang penting tidak penting saya rasa benar: kenapa di abad ini, daya tarik seksual perempuan bergeser ke lubang kecil bernama udel? (Ehm, saya jadi membayangkan udel-udel Seohyun, Yoona dan Taeyeon, serta semua cewek k-pop). Ia memeriksa bagian-bagian tubuh perempuan lainnya, yang menjadi titik-titik penting daya tarik seksual sebelumnya (dan tentu saja masih). Paha, bokong, dan payudara. Titik-titik itu selalu bersifat personal dalam arti, paha, bokong dan payudara setiap perempuan berbeda satu sama lain. Tapi udel tidak begitu: semua udel perempuan (yang sering dipamerkan dalam sepuluh tahun terakhir ini), bisa dibilang sama. Udel barangkali mewakili titik daya tarik seksual, tapi sekaligus (karena ketidak unikannya satu sama lain) juga menggambarkan ketidak-signifikan-an. Tapi justru itulah: ketidak-signifikan-an ini kini dirayakan. Lambang hubungan biologis anak-ibu ini menjadi bahasan yang memikat, tanpa harus bertele-tele (ingat, novel ini cuma 115 halaman), berbaur dengan lelucon tentang Stalin dan para kameradnya tentang humor. Ya, Kundera kembali ke topik kegemarannya: ejekan kepada rezim Sovyet dan bagaimana mereka menghadapi humor. Humor mati di tangan Stalin, justru digambarkan dengan cara Stalin mencoba ngebanyol di hadapan para kameradnya dan tak ada satu pun yang tertawa dan menganggapnya humor. Seperti di banyak novelnya, ia kembali membagi novel ini ke dalam tujuh bagian (ia suka angka tersebut). Seperti di banyak novelnya, ia kembali menghadirkan narator yang saya rasa tak hanya berfungsi sebagai pembawa cerita, tapi terutama sebagai seorang analis, yang mempsiko-analisis segala seseuatu, atau sejenis moderator dalam perbincangan ringan (tapi seringkali tak tertanggungkan). Saya ingat sepotong esai yang ditulis Kundera mengenai “kelucuan dalam ketidak-hadiran kelucuan” The Idiot karya Dostoyevsky. Ia mengenang seorang teman sekolahnya: sekali waktu seisi kelas ribut menertawakan sesuatu, tiba-tiba seorang teman berdiri dan tertawa tapi ia tertawa tidak seperti yang lain. Ia hanya menjiplak tawa itu. Tertawa tanpa kehadiran sesuatu yang lucu, tertawa hanya untuk tetap menonjol di antara kerumunan. Novel ini bisa dilihat begitu: upaya untuk berdiri di tengah kerumunan novel-novel Kundera lain yang telah kita kenal. Jika tak ada hal serius di novel ini sebagaimana di novel-novelnya yang lain, ia telah menjawabnya di sampul buku. Ini perayaan atas ketidak-signifikan-an, kesepelean.

PS: Saya rasa sangatlah keterlaluan jika ia tak memperoleh Nobel Kesusastraan, atau karya-karyanya dianggap sepele, insignifikan?

Older posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑