Journal

Tiga Buku Nietzsche

Tuan Nietzsche yang baik, saya tak tahu kenapa tiga naskah Tuan sampai di meja ini. Saya hanyalah editor buku masak-memasak dan kuliner, dan saya tak yakin buku Tuan ada hubungannya dengan tepung, garam dan gula. Mungkin saya salah. Sebagai tanggung jawab pekerjaan, saya tetap akan membaca karya Tuan, memberi penilaian dan terutama memutuskan apakah layak terbit atau tidak.

Twilight of the Idols (or How to Philosophie with the Hammer). Di salah satu maksim, Tuan menulis, “Apa yang tak membunuhku, akan membuatku lebih kuat.” Saya rasa tak perlu belajar filologi atau filsafat untuk menyadari hal itu, cukup duduk di meja editor buku masak-memasak, Tuan juga bisa mengerti. Sebab itulah yang saya pelajari selama menjadi editor, bahwa sejarah dunia sesederhana perkara siapa memakan apa atau apa memakan siapa, dan di balik rantai makanan kita bisa melihat perkara yang juga sederhana: siapa terbunuh dan siapa bertahan. Jika kau tak mati hari ini, kau bertahan dan lebih kuat. Kini saya mengerti kenapa naskah Tuan ini sampai di meja saya, rupanya di sinilah persinggungan kita. Ada yang menarik perhatian saya di bagian “Empat Kekeliruan Besar”, Tuan menyinggung soal resep makanan untuk hidup panjang dan bahagia, di mana Tuan menempatkannya sebagai contoh kekacauan sebab dan akibat. Bisakah Tuan membahas ini lebih panjang-lebar? Saya rasa ini penting, sebab perkara makan jauh lebih mudah bagi kebanyakan orang daripada memperdebatkan soal tetek-bengek sebab kita hidup maka kita ada yang menciptakannya, bukan? Demikian juga di bagian “memperbaiki manusia”, secara pribadi saya juga punya sejenis kejengkelan. Saya akan kembali ke urusan makanan. Saya sering dengar bahwa sebaiknya kita hanya makan anu dan anu, sebab rahang manusia diciptakan untuk makan anu. Dan sebaiknya kita tidak makan anu, sebab anu dan anu. Tak perlu kita bersandar kepada dogma-dogma agama, bahkan kaum agnostis dan ateis pun mulai rewel soal apa yang harus dimakan dan tidak, dan mereka pikir itu dalam rangka memperbaiki kemanusiaan kita? Bah. Persis seperti anggapan Tuan (semoga saya tak salah memahami), itu bukan memperbaiki kemanusiaan. Itu tak lebih dari penjinakan. Seperti norma moral, aturan makanan merupakan upaya menjinakkan manusia dari insting alamiahnya. Bisakah Tuan sependapat dengan saya? Jika iya, mungkin Tuan bisa menambah bagian ini dengan ulasan sekilas mengenai makanan. Terakhir, kabar baik untuk Tuan, kami ingin menerbitkan naskah ini. Mungkin akan lebih bagus jika kita menyertakan berbagai gambar, sebab semua buku yang keluar dari meja saya biasanya bergambar. Akan lebih mahal, tapi seperti kata Tuan, “Pengorbanan besar harus dipersembahkan di atas altar selera yang baik.”

The Antichrist (An Attempted Criticism of Christianity). Sejujurnya saya ragu menerbitkan naskah ini, sebab penerbit tempat saya kerja penuh dengan ketakutan jika menyangkut buku-buku tentang agama, apalagi mengkritik agama. Akan tetapi, begitu saya membaca beberapa halaman, hati saya terasa bergetar dan dipenuhi semangat yang meluap-luap. Apa yang baik? Segala yang menambah rasa berkuasa, Hasrat Berkuasa. Apa yang buruk? Semua yang muncul dari kelemahan. Apa itu kebahagiaan? Rasa bahwa kuasa bertambah. Tuan, bukankah salah satunya itu ada hubungannya dengan makanan? Tanpa makan kita lemah. Kita berkuasa, dan sesuatu bisa kita makan? Saya akan senang jika kita bisa bertemu setelah ini dan mendiskusikan perkara tersebut. Kita juga bisa menyinggung perkara makanan ketika Tuan menulis, “Kekristenan dibangun di atas dendam orang sakit, instingnya ditujukan melawan yang sehat” dan agama ini merupakan agama “kasih(an)”. Kita tak akan makan apa-apa, bukan, dan kemudian menjadi lemah, jika larut dalam sikap serba kasihan? Saya rasa ini berlaku tak hanya untuk kekristenan, tapi barangkali semua agama (meskipun Tuan tampaknya menaruh hormat terhadap Budhisme). Tapi sekali lagi, bisakah kita menghubungkan hal itu dengan makanan? Saya rasa kritik atas kekristenan tidaklah lengkap tanpa bicara makanan. Kuliner merupakan sesuatu yang menyatu dalam tradisi kekristenan, bukan? Perjamuan terakhir? Roti dan anggur sebagai tubuh dan darah Yesus? Maafkan jika saya terlalu sok tahu, dan terlalu bersemangat, tapi saya yakin itu akan seru. Sekali lagi, saya sejujurnya kuatir menerbitkan naskah ini, tapi setelah membacanya, saya rasa kita perlu mengusahakannya agar terbit. Naskah ini terlalu berharga untuk lenyap dari peradaban. Usul saya, bagaimana jika kita ganti judulnya agar tak terlalu mencolok? Ya, saya bisa membayangkan Tuan akan keberatan. Usul kedua, bagaimana kalau kita meminta endorsmen dari seorang kristen yang saleh dengan pikiran terbuka? Katakanlah seorang Kardinal? Kalimat seperti “Buku yang harus dibaca oleh setiap orang Kristen” dari Beliau pasti tak hanya membuat bukunya laris, tapi melindungi penerbit saya dari masalah yang mungkin muncul. Dan tentu saja saya usul harus ada gambarnya juga.

Ecce Homo (How One Becomes What One Is). Bah, buku apa ini? Tuan bertanya kenapa Tuan demikian bijak? Kenapa Tuan demikian cerdik? Dan kenapa Tuan menulis buku-buku yang begitu hebat? Meskipun benar Tuan bijak dan cerdik, dan buku-buku Tuan hebat, sebaiknya Tuan tak perlu mengatakannya sendiri. Saya selalu menyarankan kepada penulis-penulis saya untuk tidak menulis otobiografi. Kalaupun kisah hidup dan pemikirannya ingin dituliskan, biarlah orang lain yang menulis. Jangan lakukan sendiri, dan pendapat saya juga ditujukan untuk Tuan. Memang ada bagian yang menarik ketika Tuan bicara soal kuliner Jerman, dan kebiasaan-kebiasaan diet Tuan (tidak minum alkohol), dan pendapat Tuan bahwa “kopi membuat seseorang muram” dan “teh hanya bermanfaat di pagi hari”, saya tetap menyarankan untuk tak menulis diri sendiri. Dan tentu saja tidak menulis ulasan atas buku sendiri, seperti Tuan lakukan. Lihat, bagaimana Tuan bilang tentang karya sendiri sebagai “sebuah pengecualian di antara buku-buku lain: tak ada karya yang lebih kaya secara substansi, lebih mandiri, lebih mengganggu — lebih durjana.” Tidak. Saya tak akan menerbitkan buku ini. Bahkan meskipun Tuan akan menyertakan gambar dan beragam resep masakan dan ulasan beragam kuliner, saya tak akan menerbitkannya. Meskipun begitu, saya ucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan Tuan kepada penerbit kami, dan terutama kepada saya untuk membacanya. Sekali lagi kami tak akan menerbitkan buku macam begini. Tidak. Sekali lagi, tidak.

Standard
Journal

The Genealogy of Morals, Nietzsche

“Yang paling buruk, para seniman selalu butuh satu kubu, satu dukungan, satu otoritas yang sudah terbentuk: seniman tak pernah berdikari, berdiri sendiri berlawanan dengan insting mereka yang terdalam.” Hahaha, bangke sih, komentar ini. Meskipun tak selalu harus bergantung ke orang kuat, memang ada seniman-seniman yang suka mengikat diri ke gerombolan, seperti asu, tapi kan ada juga yang “serigala penyendiri” pastinya. Kutipan awal di atas datang dari Nietzsche di buku The Genealogy of Morals. Saya yakin komentar itu sangat bisa diperdebatkan, atau bisa bikin banyak seniman (dan para pemuja mereka) uring-uringan. Mungkin benar di zaman dulu, kala seniman sering menggantungkan diri kepada para patron. Tapi sekarang? Anggap saja itu kata-kata orang gila (atau kata-kata penggemar yang sedang kesal kepada sang komposer besar Wagner). Membaca Nietzsche memang siap-siap harus rada senewen, yang gampang naik darah sebaiknya jauh-jauhlah dari tulisan dia. Saya sendiri kadang berpikir, jika dia menyarankan berfilsafat harus dengan martil (untuk menggetok beragam berhala), saya sangat ingin mempergunakan martil itu untuk menggetok kepalanya, menyuruhnya berpikir lebih jernih, jangan kepedean, dan tentu saja dengan otak dingin. Tapi memang dia sangat sebel dengan segala hal yang lemah. Kalau kamu tukang mewek, merasa diri sebagai remah rengginang di dasar kaleng Khong Guan, atau seseorang yang sering berkata “siapalah saya”, saya sarankan: jangan, jangan jual lagak begitu di depan Nietzsche. Itu berat. Hidup kau bisa habis kena martil. “Bukan dari yang terkuat bahaya datang untuk orang kuat, tapi dari yang terlemah,” katanya. Ada hal-hal yang bikin saya ingin menggigit kupingnya juga. Misalnya, tendensi dia (tidak terang-terangan, tapi begitulah saya membacanya) untuk mencampur-adukkan moral, kebudayaan atau identitas Eropa dengan kekristenan. Eh, bukankah masih banyak yang berpikir begitu, sampai sekarang? Ganti Eropa dengan Amerika, dan lihat Donald Trump. Mungkin saja orang Eropa merasa kekristenan sebagai identitas mereka, tapi sebagai filsuf seharusnya bisa dijernihkan sejernih-jernihnya. Wong saya aja sering sebel kalau mendengar orang bicara tentang “budaya timur” atau “moral ketimuran” di Indonesia, padahal yang dia maksud adalah “moral Islam”. Apa hubungannya Islam dan ketimuran? Bahkan Arab dengan Islam pun harusnya merupakan definisi yang jelas berbeda. Tendensi seperti itu lebih terdengar politis daripada memiliki landasan argumen yang dapat dipertanggungjawabkan. Meskipun begitu, tentu saja ada hal-hal yang menarik dari buku ini, terutama cara Nietzsche mencoba berspekulasi mengenai asal-usul moral (seperti judulnya, itu memang pokok utama buku ini). Menentang “para psikolog Inggris” (entahlah, siapa-siapa yang dimaksud), ia membantah bahwa moral sudah ada dalam diri, bahwa perkara “baik” dan “buruk” lahir semata-mata karena aspek “kegunaan” dari hal-hal (benda, perilaku, dan lain-lain). Di sini Nietzsche melihat bahwa kelahiran predikat “baik” dan “buruk” erat kaitannya dengan struktur kelas, hirarki, dan kekuasaan. Siapa yang memberi nama-nama, dialah yang berkuasa (atas yang diberi nama-nama itu). Kaum aristokrat dan berkuasa, tentulah menciptakan nilai baik dan buruk ini, untuk membedakan “kita” dan “mereka”. Membedakan kaum aristokrat berkuasa dan kaum kere barbar. Demikian juga ketika dia mencoba menelisik rasa tanggung jawab dan rasa bersalah. Dia dengan radikal melihatnya sebagai problem kelas dan kekuasaan. Bayangkan dalam konteks pinjam-meminjam, utang-piutang. Yang meminjami atau yang memberi utang, akan menuntut “tanggung jawab”. Tanggung jawab untuk bayar kembali, tentu saja. Ketika seseorang gagal menunaikan tanggung jawab, ia akan jatuh ke penyesalan, ke rasa bersalah. Sialnya, Nietzsche membawa ini ke urusan agama, dengan mengambil konteks Yahudi. Dalam soal “baik” dan “buruk”, kaum Yahudi yang diposisikan sebagai “yang lain”, melawan balik dengan konsep “baik” dan “jahat”. Kaum aristokrat yang sewenang-wenang, yang korup, kemudian menjadi “jahat”. Saya merasa Nietzsche awalnya tampak mengagungkan perlawanan ini, sebelum mengempaskannya, membantingnya: kaum Yahudi dengan kemarahannya kepada kaum aristokrat, hanya berhenti di kemarahan, dan menyerahkan “pembalasan dendam hanya milik Tuhan”. Ia menutut, seharusnya mereka marah dan melampiaskan kemarahan. Hal yang sama terjadi dalam konteks utang-piutang. Hanya kepada Tuhan kita berutang paling besar (bukan kepada para penguasa), dan karenanya memiliki tanggung jawab untuk membayar kembali, ya kepada Tuhan. Sebenarnya, bukankah itu tidak melululu Yahudi, ya? Bukankah sebagian besar agama juga begitu? Baiklah, ini rada ambigu ketika menyebut Yahudi, sebagai bangsa atau sebagai ajaran agama. Dalam konteks Nietzsche, ia mengatakannya dalam konteks bangsa Yahudi, tapi kritik dia juga merujuk ke ajaran yang dipercaya mereka. Jadi kritik Nietszche mestinya ditujukan tak hanya kepada Yahudi, tapi juga kepada bangsa lain yang mempraktekkan beragam (sebagian besar) agama, yang menurut dia, dengan menghadirkan Tuhan sebagai pemilik “pembalasan”, sebagai pemberi “utang” terbesar, menempatkan manusia pada posisi lemah. Sekali lagi, dia benci kelemahan manusia. Dalam konteks ini, memang sangat mudah bagi kita atau siapa pun untuk menyudutkan Nietzsche sebagai seorang anti-semit. Tapi gayanya yang blak-blakan, memang terasa seperti martil yang menggetok kepala, tak hanya membuatnya terbuka, tapi mungkin tercerai-berai, meleleh dan berantakan.

Standard
Journal

Günter Grass, Obituari

Saya tak ingat kapan pertama kali membaca The Tin Drum. Buku itu ada di rak buku saya, ada coretan-coretan saya di dalamnya. Tapi saat ini saya sedang tak mungkin untuk mengambilnya dari rak. Saya sedang di lobi sebuah hotel di daerah Kensington, London, jam 3 dinihari. Saya terbiasa bangun sangat pagi untuk menulis, untuk mengganti kebiasaan buruk lama “begadang” (yakni tidur menjelang dinihari), dan hanya beberapa jam sebelumnya mendengar kabar meninggalnya Günter Grass (usia 87), sang penulis. Bertahun-tahun lalu ketika mengunjungi Pramoedya Ananta Toer di rumahnya di Utan Kayu, Pram pernah memperlihatkan kepada saya satu lukisan di dindingnya. “Grass yang bikin,” kata Pram. Itu memang lukisan Grass, dihadiahkan kepada Pram ketika kedua penulis bertemu di Jerman. Ada dua hal setidaknya yang sering membuat saya iri kepada Grass. Yang pertama, luasnya keterampilan seni dia. Selain menulis novel, puisi, drama, dia juga membuat patung, karya grafis dan lukisan. Di kesusastraan, saya bahkan tak bisa menulis puisi! Dan di bidang seni rupa, ingin sekali saya punya studio kecil seperti miliknya untuk keisengan saya dengan grafis. Saya selalu tergila-gila dengan cetak saring dan cukil kayu, tapi tak pernah punya waktu (alasan para pemalas) untuk benar-benar melakukannya. Sumber keirian kedua, tentu saja watak kesusastraannya. Meskipun bisa dibilang saya tak memiliki pengetahuan melimpah mengenai kesusastraan Jerman, tapi jika membandingkannya dengan beberapa penulis Jerman lain, ada hal yang unik dalam dirinya. Saya sering membayangkan kesusastraan Jerman hampir mirip dengan filsafat Jerman: analitik, kontemplatif, memiliki skala yang “grande”. Membayangkan karya-karya Thomas Mann (The Magic Mountain), Robert Musil (The Man Without Qualities), Hermann Broch (Sleepwalker), sering sama “menakutkannya” dengan menghadapi kitab-kitab filsafat Kant, Hegel, dan kemudian Marx! Seperti saya menemukan sejenis keriangan dalam filsafat Jerman melalui Nietzsche, saya merasakan hal yang sama melalui novel-novel Grass dalam kesusastraan Jerman. Jujur, saya lebih sering membayangkan karya-karya Grass berada dalam tradisi Spanyol atau Inggris daripada Jerman. Pertama kali membaca The Tin Drum, kita sadar itu merupakan novel piqaresque, satu tradisi yang banyak berkembang di Spanyol (Don Quixote), Inggris (lihat beberapa karya Dickens), dan bahkan Amerika (Huckleberry Finn). Yang cerdas dari kisah Oskar Matzerath adalah, Grass berhasil mengelola kecenderungan picaresque yang seringkali memiliki watak kritis terhadap persoalan sosial, menjadi kendaraan untuk memotret sebuah zaman: terutama cikal-bakal dan memuncaknya kekuasaan Nazi. Setelah membaca beberapa karyanya yang lain, terutama yang paling saya suka The Flounder, kita juga segera menemukan kecenderungannya yang lain, yang membuat watak picaresque Grass semakin unik: fabel. Ya, selain meminjam alusi-alusi dari fabel, karya-karyanya juga memang sering dalam tingkat tertentu merupakan fabel. Tradisi picaresque dan fabel menciptakan dalam karya-karyanya sesuatu yang riang (meksipun humornya lebih seram gelap), kekanak-kanakan, ringan (meskipun hampir selalu dalam skala epik). Jarang saya melihat kualitas-kualitas semacam itu dalam karya penulis-penulis lain. Membaca Midnight’s Children Salman Rushdie barangkali bisa sedikit mengingatkan kita ke arah sana, meskipun Rushdie lebih sering disebut-sebut sebagai penulis realisme magis (label yang juga sebenarnya kerap ditimpakan juga kepada Grass), label yang dengan gampang sering diberikan orang asal menemukan elemen-elemen magis di dalam sebuah karya (jeritan si cebol Oskar bisa membuat kaca-kaca pecah berhamburan). Tapi bukankah fabel sejak awal sering muncul juga dengan keajaiban-keajaibannya? Grass saya rasa lebih banyak berutang kepada fabel, yang di tangannya, karya-karya itu menjadi fabel-fabel politik yang unik, dan telah memberi warna kesusastraan dunia di setengah terakhir abad kedua puluh. Oskar, mari tabuh beduk kecilmu untuk kepergiannya!

Standard
Journal

Dua Novel Bohumil Hrabal

Too Loud a Solitude. Biar keren, ia memutuskan untuk memiliki sandal. Ibunya merajutkan untuknya kaus kaki. Ia pun pergi ke lapangan dengan sandal dan kaus kaki, untuk melihat daftar nama pemain utama yang akan turun bermain sepakbola. Tiba-tiba ia merasa sebelah kakinya menginjak sesuatu yang basah dan lembek. Ia tak berani melihat ke bawah, matanya tetap tajam menatap papan pengumuman. Mencari namanya. Di daftar pemain utama, kemudian di daftar pemain cadangan. Setelah menemukan namanya, ia akhirnya menunduk. Ia menginjak tai anjing. Ia buru-buru menatap kembali papan pengumuman. Kembali mencari namanya, berharap satu keajaiban terjadi. Ia menemukan namanya, dan kembali menoleh ke bawah. Kakinya tetap terbenam di kubangan tai anjing. Kita bakal menemukan fragmen-fragmen pendek semacam itu di novel ini, dan saya kira di novel-novelnya yang lain. Bohumil Hrabal tak hanya “Penulis Ceko terbesar yang masih hidup (saat ini sudah meninggal)” sebagaimana dikatakan Milan Kundera, tetapi bisa dibilang master yang mampu mengendalikan humor dan tragedi dalam satu tendangan. Kisah Hanta yang bekerja di kantor polisi sebagai penghancur kertas (banyak di antaranya buku-buku langka dan terlarang), merupakan novel politik yang cerdas. Diam-diam Hanta sering menyelamatkan buku-buku penting dari mesin penghancurnya, membawanya pulang dan membacanya di waktu luang. Tidak tanggung-tanggung ia membaca Goethe, Schiller, Nietzsche, Kant dan memiliki repro karya-karya Rembrandt, Monet, Cézanne, hingga membuatnya “tak bisa membedakan mana pikiran yang datang dariku dan mana yang datang dari buku.” Ini novel tentang sensor dan bagaimana pengetahuan diselamatkan, dengan gaya jenaka. Tentang bagaimana pengetahuan dihancurkan, tapi diselamatkan di kepala manusia. Sementara buku-buku terus dihancurkan setiap hari, di malam hari, Hanta menemukan dirinya larut dalam dunia yang lain: ia melihat Yesus berdialog dengan Lao-tze, dan para filsuf membicarakan surga, berbaur dengan kenangannya atas gadis gipsi, dan pacarnya yang selalu sial namun akhirnya malah menjadi malaikat. Gaya berceritanya yang ekspresif, di tengah alur cerita kita seperti menemukan percikan-percikan fragmen warna-warni, kadang-kadang tentang filsafat, kadang sesepele tentang bir, lain kali tinjauan ringkas mengenai kaum Gypsy, di halaman lain ulasan sekelebat mengenai Hitler. Novelnya saya kira mendekati apa yang menurut saya merupakan novel ideal: bermain-main secara serius, atau keseriusan yang main-main. Kita bisa melihat filsafat, perang, agama, pengetahuan menjadi olok-olok yang menggelikan di novelnya, tapi pada saat yang bersamaan ia bisa membicarakan kehidupan sehari-hari, hal-hal banal semacam pita yang jatuh ke tumpukan kotoran manusia menjadi sesuatu yang penting. Lebih dari itu, Hrabal melakukannya dengan sangat padat dan ringkas, tanpa membuat novelnya menjadi sejenis sinopsis. Di bawah rezim komunis Ceko (dan pendudukan Sovyet, saya kira), kisah Hanta dengan mesin penghancur bukunya menjadi sejenis paradoks menggelikan sekaligus memilukan. Hanta yang bekerja dengan penuh gairah, yang merasa dirinya adalah apa yang dia kerjakan, dengan kedatangan mesin dan teknologi baru (yang diharapkan “membebaskan” manusia), justru merasa dirinya tercerabut. Terasing. “Seperti para pendeta yang, ketika mereka mengetahui Copernicus telah menemukan satu kumpulan hukum kosmik dan bahwa bumi tak lagi menjadi pusat semesta, memutuskan bunuh diri massal karena tak mampu membayangkan sebuah semesta yang berbeda dari yang pernah mereka diami.” Bahkan untuk hal semacam itu, Hrabal menyikutnya dengan humor. Sekaligus kepedihan.

***

Saya ingin membaca Hrabal sejak lama, lebih dari setahun lalu. Tapi selama 2014 saya memutuskan untuk lebih banyak membaca karya “klasik”. Orang bisa berdebat mengenai apa itu klasik. Klasik, bagi saya sesederhana karya dari abad 19 ke belakang. Dari Dostoyevsky, Tolstoy, hingga Shakespeare bahkan Homer. Masih banyak yang tertinggal dan masih ingin saya baca, tapi tahun ini bagaimanapun saya ingin bergerak. Akan lebih banyak membaca kesusastraan dari para penulis sekitar paruh pertama abad 20. Saya tak tahu siapa saja yang bisa saya temukan, tapi membaca dua novel Bohumil Hrabal di hari pertama tahun ini saya kira merupakan awal yang bagus. Setidaknya saya mengenal penulis Ceko lain setelah Milan Kundera dan Jaroslav Hašek.

***

Closely Observed Trains. Novel ini dibuka dengan adegan pesawat Jerman yang jatuh, dan bangkainya dipreteli penduduk kota. Salah satu yang sibuk mengangkuti kepingan-kepingan pesawat itu adalah ayah si tokoh. Ia seorang kolektor barang-barang tak berguna, yang karena kemampuan teknisnya, bisa mengubah barang-barang itu menjadi hal-hal yang berguna. Yang tentu saja bikin sirik banyak orang. Lalu kisah melipir ke kakek dan kakek-buyut, yang seperti si ayah, juga disiriki banyak orang karena “keberuntungan-keberuntungan” mereka. Si kakek-buyut kehilangan kakinya di front, dan gara-gara itu ia pensiun dini dan dapat gaji pensiunan bertahun-tahun lamanya, dan memakai uang itu untuk minum-minum sambil mengejek orang-orang yang harus bekerja keras demi sesuap nasi. Si kakek-buyut sering dipukuli orang yang kesal, tapi tak juga kapok. Si kakek punya kemampuan hipnotis, dan sekali waktu mencoba menghentikan tank Jerman dengan hipnotisnya. Gagal, dan malahan ia diseruduk tank hingga kepalanya lepas dan mengganjal laju tank. Mati, tapi jadi pahlawan. Kita akan mengira novel ini mengenai sejarah keluarga sialan penuh keberuntungan ini (meliputi kakek-buyut, kakek, ayah, dan anak), tapi dengan cerdik Hrabal mengecoh kita. Itu hanyalah pembukaan untuk memperkenalkan si tokoh utama, sebelum cerita berbelok tentang kisah si tokoh itu sendiri, seorang pegawai magang di stasiun kereta api, dan di sanalah kisah sesungguhnya terjadi. Dalam hal-hal seperti ini, gaya berceritanya mengingatkan saya kepada César Aira, tapi saya tak tahu apakah Aira membaca Hrabal atau tidak. Seperti novel yang sebelumnya saya sebut, novel ini juga sangat ekspresif, dan memperlihatkan kualitas Hrabal yang lain: kejeliannya kepada segala yang visual, dan humornya yang semakin menjadi-jadi. Ada adegan “mesum” di mana satu pegawai perempuan kepergok telanjang bulat bersama seorang pegawai lelaki di satu malam. Si pegawai lelaki bahkan mengecapi sekujur tubuh si perempuan dengan stempel stasiun. Tentu saja mereka disidang, tapi bukan karena mereka telah melakukan tindakan senonoh (sebab urusan moral semacam itu merupakan urusan pribadi belaka), tapi karena stempel yang dipakai mengandung bahasa Jerman! Itu penghinaan terhadap negeri Hitler. Hrabal hampir tak pernah gagal membuat kita tersenyum. Kisah utama novel ini adalah tentang kereta penuh amunisi milik Jerman, dan dua petugas stasiun (si tokoh utama, dan lelaki yang berbuat mesum) yang berniat meledakannya. Sejenis kisah “perjuangan”, tapi jangan salah kira. Apa yang disebut “kisah utama” itu sebenarnya ia ceritakan nyaris sekilas saja, dan baru kita ketahui menjelang akhir. Sebagian besar alurnya justru ke sana-kemari, termasuk kisah si bocah tokoh utama yang berusaha menjadi “dewasa”. Yang ia maksud dewasa adalah bisa meniduri perempuan dengan selayaknya, sebab terakhir ia mencobanya, ia mengalami apa yang disebut orang Jawa sebagai “peltu” (nempel metu, baru nempel sudah keluar). Dan peristiwa “peltu” itu makin membuatnya malu (sampai ia mengiris nadinya berharap mati) karena dilakukan di studio foto dengan semboyan “Lima Menit Selesai”. Ia merasa terhina karena bahkan tak sampai lima menit. Lagi-lagi humor ala Hrabal. Menggelikan, dan pedih.

Standard
Journal

Esai

Selain membaca novel, cerpen, buku-buku sejarah dan filsafat, saya senang membaca esai. Esai tentang apa saja, meskipun esai filsafat dan sastra lebih sering menarik minat saya. Bagi saya, esai merupakan perkawinan unik antara disiplin berpikir, keberanian berspekulasi, dan gaya menulis. Banyak penulis kontemporer merupakan esais-esais cemerlang. Roberto Bolaño bagi saya tak hanya diingat sebagai penulis The Savage Detectives atau Amulet, tapi juga sebagai penulis esai keren “Literature+Ilness=Ilness”. Jorge Luis Borges, selain dikenal sebagai cerpenis penting abad kedua puluh (pengaruh puisi-puisinya juga tak bisa dianggap remeh), juga dikenal sebagai “profesor” karena esai-esai sastranya (salah satu buku esainya yang saya sukai berjudul Seven Nights). Seperti cerpen-cerpennya, esai-esai Borges sering memperlihatkan spekulasi-spekulasi filosofis dengan obyek karya sastra. Misalnya dalam esai berjudul “The Labyrinths of the Detective Story and Chesterton”, ia tanpa sungkan membuka esainya dengan satu spekulasi: bahwa orang Inggris hidup dengan dua hasrat yang tak nyambung, yakni gairah aneh untuk bertualang dan gairah aneh untuk legalitas. Saya rasa, esai semacam itu tak hanya membutuhkan ketekunan membaca, ketelitian mencerna dan menganalisa, tapi juga keberanian menarik kesimpulan. Bentuk esai yang cenderung bebas, tentu menarik minat banyak penulis sastra untuk merambah genre ini, di mana mereka bisa mengguratkan gaya mereka di sana. Tapi tentu saja gaya tak hanya melulu monopoli para penulis sastra. Banyak filsuf juga menulis esai-esai mereka dengan gaya. Sudah lama kita kenal filsuf macam Marx maupun Nietzsche juga sebagai para penggaya dalam menulis. Lebih dari itu, esai juga menarik karena kadang-kadang ia merambah tema-tema yang tak umum, yang barangkali terlalu biasa untuk dijadikan bahan traktat filsafat yang tebal dan berat. Dalam esai, misalnya, Borges bisa menulis hubungan antara dinding raksasa Cina dan pembakaran buku oleh kaisar yang sama dalam “The Wall and the Books”. Beberapa waktu lalu, saya membeli buku tipis Arthur Schopenhauer hanya karena tema dan judulnya: The Horrors and Absurdities of Religion. Isinya beberapa esai mengenai agama, tentu dengan horor dan keabsurdannya. Coba bayangkan judul-judul lainnya yang menurut saya sama gokil, dan kecil kemungkinan ditemukan di buku-buku filsafat yang lebih “serius”, tebal dan berat: Fear and Trembling (Søren Kierkagaard), atau Of the Abuse of Words (John Locke). Apa sih untungnya membaca esai-esai semacam ini? Bagi saya, selain karena tema-temanya cenderung lebih sederhana dan unik, di sisi lain esai (yang baik) tak pernah kehilangan daya untuk merangsang nalar kita. Seperti membaca cerpen-cerpen yang bagus kita merasa yakin bahwa segala sesuatu bisa menjadi cerita yang menarik, membaca esai-esai yang keren cenderung membuat kita yakin bisa memikirkan segala sesuatu dan memberinya makna. Esai bisa membebaskan kita dari cengkeraman karya-karya akademik yang cenderung garing, yang meneror kita dengan judul-judul super semacam: “Wacana Pascakolonial dalam Karya Pramoedya Ananta Toer”, atau “Perspektif Feminis dalam Novel Madame Bovary”, atau “Kehendak Bebas Menurut Franz Kafka”, yang barangkali isinya tak secerdas dan semenggairahkan esai “The Storyteller” Walter Benjamin yang mengupas cerpen-cerpen Nikolai Leskov. Esai merupakan wilayah kreatif, wilayah main-main tanpa harus kehilangan hasrat intelektual. Wilayah penulisan penuh gaya tanpa kehilangan bobot. Ah, tiba-tiba saya membayangkan esai-esai gokil semacam, “Apa yang Dipikirkan Kucing Ketika Kucing Memikirkan Murakami?”, atau “Apa yang Terjadi Jika Suatu Pagi Seekor Kecoa Terbangun dan Menemukan Dirinya Berubah Menjadi Franz Kafka?”, atau “Hemingway Membunuh Hemingway”. Esai. Hal-hal seperti itu bisa ditulis dalam bentuk esai.

Standard