Journal, Tanya dan Jawab

Tanya-Jawab: Apakah Kemampuan Menulis Saja Tidak Cukup untuk Menciptakan Karya Penting?

Bernard Batubara: Naguib Mahfouz adalah novelis yang karyanya dianggap kontroversial dan masuk daftar buruan kelompok Islam fundamentalis di negaranya. Orhan Pamuk sangat kritis dan diperkarakan oleh kelompok nasionalis di Turki ke meja persidangan gara-gara di sebuah wawancara sempat berbicara tentang pembantaian kaum Armenia pada masa pemerintahan Ottoman. Pramoedya Ananta Toer ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru karena karya-karyanya ditentang oleh pemerintah Orde Baru. Pertanyaan saya: Apakah hanya dengan menjadi ‘berbahaya’ seseorang dapat menjadi pengarang besar? Apakah kemampuan menulis saja tidak cukup untuk menciptakan karya penting dan meletakkan nama kita di dalam sejarah kesustraan, baik dalam negeri maupun dunia? Apakah tidak ada tempat di dunia kesusastraan bagi penulis yang ingin hidup biasa-biasa saja dan tenang-tenang saja?

Jika yang kamu maksud ‘berbahaya’ adalah bermasalah dengan penguasa atau masyarakat, ya jelas tidak harus begitu. Banyak penulis besar, dengan karya besar, hidup relatif biasa-biasa saja. Franz Kafka, jika kita membaca biografinya, lebih sering bermasalah dengan ayahnya, pekerjaannya, dan tunangannya, daripada dengan negara maupun masyarakat, tapi kita tahu pengaruhnya terhadap kesusastraan dunia bisa dikatakan sangat besar. Shakespeare dalam tingkat tertentu bahkan menikmati hidupnya sebagai penulis sekaligus selebritas, bisa dibilang kaya-raya dan diakui oleh kerajaan sehingga ia memperoleh gelar kebangsawanan. Hidupnya baik-baik dan tenang-tenang saja. Dan kita bisa sebut bahwa separuh penulis di dunia ini bernenek-moyang kepadanya. Dan Mo Yan, yang belum lama ini memperoleh Nobel Kesusastraan, saya kira juga menikmati hidup yang tenang-tenang saja. Memang ada karyanya yang pernah dilarang (The Garlic Ballads diterjemahkan melalui edisi Taiwan yang tidak disensor, seingat saya), tapi tetap saja ia bisa dibilang hidup tenang-tenang saja. Sebab kita tahu dia “pejabat” pemerintah dan hubungannya dengan kekuasaan cukup akrab. Daftar ini bisa sangat panjang, tentu. Hubungan tidak mesra antara penulis (dan intelektual secara umum) dengan kekuasaan dan masyarakat, selain itu, saya kira ada kaitan yang erat juga dengan faktor penerimaan lingkungan tertentu terhadap gagasan-gagasan baru ataupun yang berbeda. Ketika Jose Saramago menerbitkan The Gospel According to Jesus Christ, sudah jelas menimbulkan reaksi yang keras dari umat Katolik, tapi saya tak pernah mendengar ada “fatwa mati” ditujukan kepadanya, dan novel itu beredar dengan bebasnya. Hal ini berbeda ketika Salman Rushdie menerbitkan The Satanic Verses, yang kita tahu telah membuat penulisnya harus bersembunyi bertahun-tahun. Sebagai seorang muslim, saya menikmati novel itu, menganggapnya sebagai “inside joke” (sesuatu yang hanya bisa dinikmati oleh sesama muslim yang mengerti) tentang insiden ayat palsu yang diturunkan oleh setan, tanpa harus mengikis rasa hormat kepada Rasul (bahkan meskipun Rushdie bermaksud menghina, saya tak akan membiarkan diri saya terhasut olehnya). Jika semua muslim bisa menerima dengan cara seperti itu, ya barangkali Rushdie tak harus sembunyi ke mana-mana. Dan mari kita berandai-andai tentang Pamuk: seandainya ia penulis Amerika dan ia bilang, “Kaum kulit putih Amerika telah membantai orang-orang Indian hingga banyak suku-suku mereka punah,” apa yang akan terjadi? Saya yakin tak ada yang menggiringnya ke pengadilan. Saya tak bermaksud mengagung-agungkan orang Amerika, toh di bagian lain, mereka juga punya kekonyolannya sendiri. Dan tentang Pramoedya, dia relatif hidup tenang-tenang saja sebelum Soeharto berkuasa, dan baik-baik saja setelah Soeharto tumbang. Kita perlu bersyukur bahwa saat ini kita relatif bisa mengatakan banyak hal. Kita bisa bilang negara bertanggung jawab terhadap ratusan ribu (atau jutaan) simpatisan komunis yang dibantai. Kita juga bisa bilang, rakyat Papua berhak menentukan nasibnya sendiri. Meskipun ya, tampaknya kita masih tak akan aman sentosa berkeliaran di jalan dengan kaus bergambar palu dan arit. Yang perlu diingat, ada banyak penulis dibuang ke Pulau Buru bersama Pramoedya, tapi kenyataannya bisa dibilang hanya Pramoedya yang “dibaca”. Tapi mari kita bicara sesuatu yang lebih mendasar. Menurut saya, pada dasarnya semua penulis bisa dianggap berbahaya. Kenapa? Sebab tugas utama seorang penulis adalah menularkan gagasan dari dirinya ke orang lain. Dan gagasan yang tertanam ke pikiran orang lain, seringkali lebih permanen dan membahayakan melebihi virus yang menyusup ke tubuh. Tentu saja ini terlepas dari fakta bahwa ada gagasan yang sederhana dan ada gagasan yang kompleks, besar, revolusioner, aneh, dan macam-macam lainnya. Sebuah novel barangkali bisa mengubah seorang yang rasis menjadi toleran, sebuah puisi barangkali bisa mengubah sebaliknya, yang toleran menjadi homofobia, misalnya. Adakah yang lebih berbahaya daripada virus pikiran? Virus pikiran ini bisa berkembang dengan wajar di masyarakat yang bisa menerima gagasan baru dan perbedaan, dan menciptakan dialog yang sehat. Tapi di masyarakat atau komunitas yang tak siap, seringkali menciptakan benturan dan tak jarang menimbulkan kekerasan (penulis terpaksa eksil, dipenjara, dibunuh, karena gagasan mereka tak bisa diterima). Ketika benturan-benturan ini terjadi, hanya ada dua hal bisa dilakukan seorang penulis: tetap tegak dengan keyakinannya, atau merunduk dan menyerah kepada tekanan. Perbedaan keduanya akan menujukkan perbedaan kepribadian mereka, yang barangkali sedikit banyak juga memengaruhi kepada etos dan karya mereka. Sekali lagi, tentu saja seorang penulis bisa hidup biasa-biasa dan tenang-tenang saja, dan banyak contoh kehidupan seperti itu. Tapi di saat-saat tertentu, kita juga melihat ada penulis (dan kaum intelektual) menempuh tradisi Socrates, ketika ada yang harus dikatakan, mereka memilih untuk mengatakannya apa pun risikonya. Sekarang untuk pertanyaan tersisa, Apakah kemampuan menulis saja tidak cukup untuk menciptakan karya penting dan meletakkan nama kita di dalam sejarah kesustraan, baik dalam negeri maupun dunia? Saya ingin menjawabnya melalui analogi. Apakah kemampuan berenang saja tidak cukup untuk seekor ikan mencatatkan namanya di sejarah kelautan? Saya tak ingin menjawab dengan cukup atau tidak cukup, tapi satu hal jelas: ada miliaran ikan pandai berenang, seekor ikan harus “stand-out” untuk membuatnya terlihat. Dan percayalah, di dunia ini ada jutaan penulis yang bisa menulis bagus, mungkin jutaan yang lebih bagus dari kita. Dan ada jutaan karya yang bagus juga. Ini logika sederhana saja: di antara jutaan penulis yang bagus kemampuan menulisnya, apa yang bisa membuat seseorang dilihat/didengar? Saya rasa perbedaan mencoloknya terletak pada gagasan dan visi (termasuk gagasan/visi bagaimana sebuah cerita seharusnya ditulis), yang apa boleh buat, kadang-kadang membuat mereka terpaksa meletakkan dirinya dalam keadaan, yang kamu sebut “berbahaya”. Lagipula ujung-ujungnya, apa sih tujuanmu menulis? Ingin mencatat atau dicatat?

Standard
Journal

Esai

Selain membaca novel, cerpen, buku-buku sejarah dan filsafat, saya senang membaca esai. Esai tentang apa saja, meskipun esai filsafat dan sastra lebih sering menarik minat saya. Bagi saya, esai merupakan perkawinan unik antara disiplin berpikir, keberanian berspekulasi, dan gaya menulis. Banyak penulis kontemporer merupakan esais-esais cemerlang. Roberto Bolaño bagi saya tak hanya diingat sebagai penulis The Savage Detectives atau Amulet, tapi juga sebagai penulis esai keren “Literature+Ilness=Ilness”. Jorge Luis Borges, selain dikenal sebagai cerpenis penting abad kedua puluh (pengaruh puisi-puisinya juga tak bisa dianggap remeh), juga dikenal sebagai “profesor” karena esai-esai sastranya (salah satu buku esainya yang saya sukai berjudul Seven Nights). Seperti cerpen-cerpennya, esai-esai Borges sering memperlihatkan spekulasi-spekulasi filosofis dengan obyek karya sastra. Misalnya dalam esai berjudul “The Labyrinths of the Detective Story and Chesterton”, ia tanpa sungkan membuka esainya dengan satu spekulasi: bahwa orang Inggris hidup dengan dua hasrat yang tak nyambung, yakni gairah aneh untuk bertualang dan gairah aneh untuk legalitas. Saya rasa, esai semacam itu tak hanya membutuhkan ketekunan membaca, ketelitian mencerna dan menganalisa, tapi juga keberanian menarik kesimpulan. Bentuk esai yang cenderung bebas, tentu menarik minat banyak penulis sastra untuk merambah genre ini, di mana mereka bisa mengguratkan gaya mereka di sana. Tapi tentu saja gaya tak hanya melulu monopoli para penulis sastra. Banyak filsuf juga menulis esai-esai mereka dengan gaya. Sudah lama kita kenal filsuf macam Marx maupun Nietzsche juga sebagai para penggaya dalam menulis. Lebih dari itu, esai juga menarik karena kadang-kadang ia merambah tema-tema yang tak umum, yang barangkali terlalu biasa untuk dijadikan bahan traktat filsafat yang tebal dan berat. Dalam esai, misalnya, Borges bisa menulis hubungan antara dinding raksasa Cina dan pembakaran buku oleh kaisar yang sama dalam “The Wall and the Books”. Beberapa waktu lalu, saya membeli buku tipis Arthur Schopenhauer hanya karena tema dan judulnya: The Horrors and Absurdities of Religion. Isinya beberapa esai mengenai agama, tentu dengan horor dan keabsurdannya. Coba bayangkan judul-judul lainnya yang menurut saya sama gokil, dan kecil kemungkinan ditemukan di buku-buku filsafat yang lebih “serius”, tebal dan berat: Fear and Trembling (Søren Kierkagaard), atau Of the Abuse of Words (John Locke). Apa sih untungnya membaca esai-esai semacam ini? Bagi saya, selain karena tema-temanya cenderung lebih sederhana dan unik, di sisi lain esai (yang baik) tak pernah kehilangan daya untuk merangsang nalar kita. Seperti membaca cerpen-cerpen yang bagus kita merasa yakin bahwa segala sesuatu bisa menjadi cerita yang menarik, membaca esai-esai yang keren cenderung membuat kita yakin bisa memikirkan segala sesuatu dan memberinya makna. Esai bisa membebaskan kita dari cengkeraman karya-karya akademik yang cenderung garing, yang meneror kita dengan judul-judul super semacam: “Wacana Pascakolonial dalam Karya Pramoedya Ananta Toer”, atau “Perspektif Feminis dalam Novel Madame Bovary”, atau “Kehendak Bebas Menurut Franz Kafka”, yang barangkali isinya tak secerdas dan semenggairahkan esai “The Storyteller” Walter Benjamin yang mengupas cerpen-cerpen Nikolai Leskov. Esai merupakan wilayah kreatif, wilayah main-main tanpa harus kehilangan hasrat intelektual. Wilayah penulisan penuh gaya tanpa kehilangan bobot. Ah, tiba-tiba saya membayangkan esai-esai gokil semacam, “Apa yang Dipikirkan Kucing Ketika Kucing Memikirkan Murakami?”, atau “Apa yang Terjadi Jika Suatu Pagi Seekor Kecoa Terbangun dan Menemukan Dirinya Berubah Menjadi Franz Kafka?”, atau “Hemingway Membunuh Hemingway”. Esai. Hal-hal seperti itu bisa ditulis dalam bentuk esai.

Standard
Journal

The Double, Dostoyevsky

Ketika pertama kali memutuskan pindah ke Jakarta (dari Yogya) tahun 2003, saya cuma berbekal beberapa potong pakaian yang bisa saya jejalkan ke tas punggung saya, serta dua novel dan satu buku tulis (yang kemudian saya pakai untuk menulis Lelaki Harimau). Salah satu novel itu berjudul The Idiot, karya Fyodor Dostoyevsky, novel pertama dia yang saya baca. Alasan saya membawa buku itu sebenarnya sederhana saja: bukunya tebal, sehingga saya tak perlu kuatir kehabisan bacaan di minggu-minggu pertama di ibukota. Bahkan sejak itu, meskipun gaya naratifnya senantiasa lurus dan dalam banyak hal berirama lambat, novel-novel Dostoyevsky selalu memberi rasa yang campur-aduk. Saya merasakan itu kembali di hari-hari ini ketika membaca The Double, yang sebenarnya saya baca sambil lalu: sebelum atau sejenak setelah tidur, duduk di kakus, di jeda setengah main siaran langsung sepakbola, sambil makan, sebelum akhirnya saya selesaikan sambil minum kopi di café. Dua bab pertama membawa saya ke dunia Gogolian (Gogolesque?): St. Petersburg dan sosok seorang pegawai yang tampak menyedihkan (tidak semiskin tokoh dalam “The Overcoat” Gogol, tapi kita tak bisa menahan diri untuk tak bersimpati kepada keduanya dengan cara yang sama). Murung dan cenderung depresif. Tapi berikutnya kita menemukan sesuatu yang Kafkaesque (tentu saja ketika novel ini terbit, 1846, belum ada Kafka): di bawah hujan badai, Golyadkin si tokoh utama, bertemu dengan seseorang yang sosok-perawakannya persis seperti dia, bahkan juga nama panggilan maupun nama lengkapnya! (Saya sampai bergumam menirukan gaya narasi Kafka: “Sesuatu yang aneh pasti telah terjadi, Mr Golyadkin bertemu dengan seorang bernama Mr Golyadkin.”) Misterius dan pada saat yang sama mengancam. Keadaan Golyadkin sendiri sebagai bujang dan pegawai menengah, dan simpati kita kepadanya, sejak awal berkali-kali bisa membuat kita ikut marah. Ia ditolak mengikuti pesta dansa, sementara teman-teman kantornya berkumpul di sana penuh kegembiraan. Ia tak cuma introvert, tapi juga berkomunikasi dengan buruk, istilah anak sekarang: tidak gaul. Ia selalu tak mampu mengutarakan maksudnya dengan baik, kepada atasan maupun bawahan. Ini membuatnya seringkali menjadi obyek olok-olok dan tertawaan, dan ujung-ujungnya membuat dia tersingkir dari pergaulan. Dan ketika ia mencoba mengubah dirinya, para birokrat itu dengan kejam menolaknya. Meskipun begitu, di sisi lain, novel ini juga komikal. Tanpa mencoba melucu, banyak hal bisa membuat kita tertawa, meskipun dengan getir. Beberapa kali si Mr Golyadkin yang baru (sering disebut junior, atau bayangkan saja sebagai Mr Golyadkin palsu) mengerjainya. Ketika si tokoh asli makan di restoran, diam-diam si palsu juga makan. Kasir restoran menganggap mereka orang yang sama, dan si asli harus membayar lebih (dengan kebingungan, karena ia merasa makan sedikit). Tapi yang paling lucu adalah ketika ia menyuruh pelayannya untuk pergi ke kantornya, menanyakan alamat Mr Golyadkin, dan mengantarkan surat untuknya. Bahkan meskipun kita bisa menebak si pelayan akhirnya balik ke rumah tuannya, si Mr Golyadkin yang asli, tak bisa tidak saya tertawa. Dan seperti kata pepatah, dari kemalangan akan membawa ke kemalangan yang lain. Sekali bikin kekacauan, akan bertemu dengan keadaan yang lebih kacau. Itulah yang terjadi pada tokoh kita ini. Itu bagian paling menyedihkan. Ia merasa ada yang salah dengan hidupnya, terutama setelah kemunculan si kembarannya itu. Tapi tak ada orang yang tahu masalahnya, atau tak ada yang mau tahu. Dan jika ia mencoba bicara dengan siapa pun, mereka tak mau mendengar, atau lebih menyedihkan: ia tak mampu menjelaskan apa masalahnya. Seperti saya bilang, novel ini benar-benar mengaduk-aduk perasaan. Sedih, lucu, penasaran, tapi akhir dari semua itu adalah: horor. Saya tak tahu bagaimana para kritikus melihat novel ini, tapi saya melihat di novel ini seorang manusia gagal mempertahankan dirinya sebagai manusia individu, maupun sebagai manusia secara sosial. Dan bagian horornya adalah: ia tak tahu kenapa itu terjadi pada dirinya, tapi ia melihat itu terjadi pada dirinya, merasakannya, perlahan demi perlahan.

Standard
Journal

The Corpse Exhibition, Hassan Blasim

Di dunia yang brutal, yang lebih aneh daripada fiksi, masih diperlukankah cerita? Hari-hari ini kita melihat pembantaian penduduk Gaza oleh tentara Israel disiarkan secara langsung oleh televisi, dan para penjahat perang dengan santai duduk di sofa menjawab wawancara. Peristiwa penghancuran sebuah bangsa menjadi sama banalnya dengan kisah anak kampung memenangkan kontes menyanyi. Adakah yang tersisa untuk dituliskan sebagai sebuah cerita? Membaca kumpulan cerpen The Corpse Exhibition karya penulis Irak Hassan Blasim memberi keyakinan, tak hanya selalu ada ruang untuk cerita, tapi bahwa cerita merupakan bagian peradaban manusia yang penting untuk menghadapi penciptaan dan penggunaan senjata untuk menghancurkan peradaban. Ia salah satu penulis muda yang lahir dari rahim tradisi panjang kesusastraan Arab. Umurnya masih 40an (kelahiran 1973). Ia tumbuh di negeri yang dihajar perang tak berkesudahan (melawan Iran, menginvasi Kuwait, digempur pasukan Sekutu, perang saudara, dan yang terbaru: dikoyak-koyak gerombolan ISIS – Islamic State of Iraq and Syria). Di usia muda ia harus tercerabut dari negerinya karena perang (Perang Irak melawan Sekutu, jika saya tak salah ingat, merupakan yang pertama disiarkan langsung televisi di tahun 90an). Hassan Blasim terpaksa eksil dan menuliskan cerpen-cerpennya terutama di internet, saya rasa dengan satu kesadaran, apa pun yang bisa dilakukan jurnalisme, dongeng tetap dibutuhkan. Yang luar biasa darinya adalah, ia tak mencoba meromantisir perang apalagi penderitaan. Humornya meluap-luap, meskipun gelap dan menyayat-nyayat. Ia juga tak semata-mata menjadi saksi mata, tapi membawa dalam dirinya tradisi kesusastraan dari mana-mana. Dalam cerpen “The Corpse Exhibition”, ia menceritakan satu organisasi rahasia yang merekrut pembunuh yang harus membunuh manusia dengan penuh kreatifitas lalu memajangnya di ruang publik seolah sebagai karya seni. Tapi dengan gaya nyindir, bos organisasi ini berkata, “Kita bukan teroris dengan tujuan menjatuhkan korban sebanyak mungkin untuk mengintimidasi orang lain, atau pembunuh gila yang bekerja untuk uang. Kita juga bukan anggota Islamis fanatik atau agen rahasia …” Kita melihat humor gelap gaya Gogol dalam kisah-kisahnya, tapi juga dengan sikap iseng dan main-main ala Borges. Beberapa pengamat membandingkan gaya “visceral realism”-nya kepada Roberto Bolaño, yang saya rasa tak berlebihan. Dalam “The Killers and the Compass”, ia menceritakan seorang anak bernama Mahdi, yang di tengah kebrutalan zaman, diinisiasi oleh kakaknya untuk melihat satu pembunuhan. Dengan melihat sendiri seseorang mati dibunuh, Mahdi ditasbihkan sebagai, “Kini kau Tuhan.” Juga bisa dilihat gaya Kafka, sebagaimana kita bisa melihat pengaruh itu dalam cerpen-cerpen penulis Israel, Etgar Keret. “Setiap orang di pusat penerimaan pengungsi memiliki dua cerita – yang nyata dan yang untuk dicatat,” begitulah pembukaan cerpen “The Reality and the Record”. Tapi juga jangan dilupakan tradisi kesusastraan Arab dan Persia. Saya dongeng yang penuh pertanyaan sekaligus mengibur, misalnya dalam “A Thousand and One Kives” yang dari judulnya tentu saja mengingatkan kita pada dongeng-dongeng Syahrazad dalam Hikayat Seribu Satu Malam. Apa yang kita saksikan di Irak melalui televisi atau berita yang berseliweran, barangkali lebih brutal dan lebih tak masuk akal. Tapi dongeng tetaplah dongeng: ia mengirim kepada kita perih, tapi sekaligus memberi kita penghiburan. Dongeng barangkali mengguncang keyakinan kita, tapi dengan tulus mengulurkan tangan memberi kita pegangan. Cerpen-cerpen Hassan Blasim, meskipun secara nyata berdiri di atas puing-puing kekacauan bangsanya, memberi sejenis hiburan semacam itu, sekaligus semacam tantangan intelek. Kita sadar, kadang-kadang seorang jenius memang bisa dilahirkan dari mana saja, bahkan dari tempat-tempat yang kita pikir nyaris mustahil.

Standard
Journal

Gabriel García Márquez, Obituari

Bangun tidur dan melihat berita ringkas: raksasa kesusastraan abad 20, Gabriel García Márquez wafat pada umur 87 tahun (17 April 2014). Seharusnya itu tak mengejutkan. Ia sudah uzur, dan beberapa hari lalu masuk rumah sakit, dan alam semesta seperti juga manusia menciptakan segala sesuatu tidak untuk terus hidup abadi. Tapi bahkan dengan kesadaran seperti itu, serasa ada lubang menganga dalam peta kesusastraan di benak saya. Bagi saya, ia melebihi apa yang sering disematkan kepadanya: peraih Nobel Kesusastraan, patriarch fenomena el-boom, maskot realisme magis. Bagi saya, ia sesederhana raksasa kesusastraan abad 20 dengan sedikit pesimisme, barangkali kesusastraan dunia tak akan pernah menghasilkan manusia semacam ini lagi. Bagi saya, hanya sedikit raksasa pernah dilahirkan dan dikenal. William Shakespeare dan Miguel de Cervantes merupakan raksasa yang menandai suatu era kesusastraan modern. Setelah itu, saya ingin menyebut Herman Melville, yang terlihat seperti anak kandung dari perkawinan tak sah Shakespeare dan Cervantes. Abad 19 merupakan abad yang barangkali paling gegap-gempita, manusia mulai menengok wilayah yang selama ini seringkali diabaikan: di dalam dirinya. Era ini ditandai dua raksasa dari Rusia: Tolstoy dan Dostoyevsky. Di luar nama-nama itu, ada nama-nama penulis, ratusan atau bahkan ribuan. Mereka penulis-penulis hebat, besar, mengagumkan, tapi saya rasa kesusastraan dunia sebelum abad 20 hanya perlu dipatoki oleh lima nama itu saja. Anda bisa berdebat soal ini, tapi saya yakin kelima nama tersebut tak akan ke mana-mana. Mereka dengan penuh kepongahan telah mengencingi hampir seluruh karya kesusastraan yang diciptakan umat manusia. Abad 20 datang, dengan sisa-sisa kolonialisme yang renta, dua perang dunia, revolusi di mana-mana, negera-negara baru diciptakan, globalisasi merekatkan mereka. Penulis lahir di setiap sudut dunia, mereka hebat dan melahirkan karya-karya besar; tapi seperti sebelumnya, semua itu hanya perlu diberi tanda sederhana: abad ini melahirkan raksasa tunggal. Gabriel García Márquez. Gurunya orang-orang hebat, yang menyiapkan bahu mereka untuk pijakan raksasa ini dengan kerendahan hati: Hemingway, Faulkner, Kawabata, Kafka. Baru beberapa hari lalu saya membicarakannya dengan seorang teman, terutama mengenai esainya, yang saya rasa merupakan esai paling cemerlang tentang teknik menulis berjudul “Gabriel García Márquez Berjumpa dengan Hemingway”. Esai itu pendek saja, bercerita tentang pertemuan Márquez muda di jalanan Paris bersama Hemingway dan isterinya. Sebenarnya bukan pertemuan: si penulis melihat Hemingway di seberang jalan dan berteriak serta melambaikan tangan ke arahnya. Teman saya berkomentar pendek, sesuatu yang saya rasa sangat penting untuk diperhatikan sebab ini merupakan sedikit kunci untuk mengenali cara kerja menulisnya. “Bisa saja pertemuan dengan Hemingway itu bohong, tapi ia menuliskannya seolah-olah itu benar terjadi.” Jujur, komentar teman saya membuat saya sedikit terpaku. Selama bertahun-tahun membaca dan mengagumi esai itu, saya tak pernah terpikir oleh kemungkinan tersebut. Seluruh klaim pertemuan Márquez dengan Hemingway itu hanya datang dari si penulis sendiri, tapi peduli setan, esai itu tak banyak membicarakan pertemuan tersebut. Esai itu kemudian lebih banyak bicara tentang perbedaan cara menulis Hemingway dan Faulkner, yang saya rasa pendapatnya benar. Ia sendiri pernah berkata, satu fakta meyakinkan dari sebuah cerita, akan membuat seluruh cerita tersebut meyakinkan. Di esainya, ia membuktikan hal itu. Kecemerlangan gagasannya mengenai kepenulisan Hemingway dan Faulkner, membuat klaim pertemuan dirinya dengan sang maestro di jalanan Paris membuat itu juga tampak demikian meyakinkan. Kita tak lagi peduli benar atau salah. Seperti kebanyakan fans, saya membaca hampir seluruh karyanya. Juga wawancara dan biografi tentangnya. Juga ulasan orang tentang karya-karyanya. Satu yang saya ingat, Salman Rushdie pernah bicara tentang karya-karyanya, yang saya lupa di esai mana. Tapi saya ingat, Rushdie bicara tentang pola. Márquez selalu memulai cerita dari tengah, kemudian maju, lalu mundur, maju lagi, mundur lagi. Tapi bagi saya, itu tak sesederhana plot yang dibuka di tengah lalu maju lalu mundur. Márquez, ia seorang jurnalis dan belajar banyak dari dunianya, sadar sekali bahwa hakikat dari para pendongeng adalah memuaskan rasa ingin tahu pembaca. Dalam jurnalisme, pembaca ingin tahu terhadap satu peristiwa dan reporter atau penulis berita menyuguhkan apa yang ingin diketahui itu. Dalam penulisan fiksi, sebagaimana dalam dongeng, si penulis menciptakan sendiri rasa ingin tahu tersebut. Di sinilah, menurut saya, Márquez mempergunakan teknik yang akan membuatnya banyak dikenang: foreshadow, peramalan, pembocoran cerita. Jauh sebelum terjadi, ia sudah membocorkan mengenai Kolonel Aureliano Buendia akan berdiri di depan sederet regu tembak, bahkan sejak di kalimat pertama novel One Hundred Years of Solitude. Dan puncak teknik ini, bagi saya terletak di karya pendeknya, Chronicle of a Death Foretold. Peramalan ini tak hanya ia lakukan di pembukaan cerita, tapi terus ia lakukan di sepanjang cerita. Itulah kenapa, seperti Rushdie bilang, ada kesan bahwa alur plotnya maju-mundur. Tidak. Saya merasa ia melakukan cara bercerita yang relatif konvensional dengan alur maju, tapi dengan sisipan foreshadow. Sekali lagi, Anda bisa memperdebatkan ini. Dan saya yakin, perdebatan apa pun hanya akan menegaskan ia sebagai penulis jauh melampaui para penulis dari generasinya. Ia raksasa tak hanya untuk Amerika Latin. Ia telah mengencingi hampir seluruh karya di belahan dunia mana-mana. Saya tak tahu di abad 21, atau setidaknya di masa kita hidup, kita akan menyaksikan kelahiran raksasa lain atau tidak. Dan karya-karyanya, hampir sebagian besar, akan berada di rak dengan label pasti. Klasik. Selamat jalan, Patriarch.

PS: Ini beberapa tulisan saya tentang Gabo di arsip, barangkali tertarik juga membaca:

Standard
Journal

Kafka, Bernofsky, Keenan

metamorphosis front final 4.indd

Meskipun tahun ini telah memutuskan untuk lebih banyak membaca karya-karya klasik dari abad sembilan belas ke belakang, saya tak menutup kemungkinan membaca karya-karya yang lebih baru, atau bahkan kontemporer, jika memang menarik perhatian saya. Beberapa hari terakhir, saya membaca beberapa buku semacam itu. Salah satunya, The Metamorphosis, karya Franz Kafka. Tentu saja saya pernah membaca novela ini (sekitar 23.000 kata). Bahkan saya pernah menerjemahkannya juga (dari versi Bahasa Inggris yang saya lupa, versi terjemahan siapa, kemungkinan versi Edwin dan Willa Muir). Itu pekerjaan iseng saya bertahun-tahun lalu, ketika saya masih kuliah, dan seorang teman nekat menerbitkannya menjadi buku. Saya membeli dan membaca versi ini, terutama karena penasaran dengan terjemahan baru Susan Bernofsky. Jika Anda mengikuti perkembangan, berita atau sekadar gosip di lingkungan kesusastraan dunia dalam bahasa Inggris (yang artinya: lingkungan para penerjemah dan terjemahan karya sastra ke Bahasa Inggris) yang sebenarnya merupakan dunia kecil, Susan Bernofsky merupakan salah satu bintang cemerlang untuk penerjemahan Jerman-Inggris. Ia salah satunya menerjemahkan ulang karya klasik Herman Hesse, Siddhartha. Alasan kedua, atau bahkan alasan terpenting kenapa saya ingin memiliki buku ini, adalah: sampulnya. Entah yang keberapa kali saya membeli buku karena sampulnya. Jika ada pepatah don’t judge a book by its cover, saya salah satu yang mengabaikan pepatah tersebut. Sebagai perancang grafis amatir, saya penikmat sampul buku, dan sampul buku bisa memengaruhi keputusan saya membeli dan membaca buku. Sampul The Metamorphosis yang ini karya perancang Inggris bernama Keenan, dan saya rasa merupakan salah satu sampul buku terbaik yang pernah saya lihat (lihat foto). Permainan tipografi judul yang membentuk ungeheures Ungeziefer (atau dalam terjemahan Bernofsky: ‘some sort of monstrous insect’), saya rasa berhasil menggambarkan ketidakpastian binatang yang dirujuk karya ini. Keadaan mengambang, tak terdefinisikan dengan pasti, saya rasa merupakan kekuatan utama kisah ini, memberi dampak teror dan horor yang lebih ketimbang seandainya Kafka menyebut binatang tersebut secara jelas spesies apa (karena dalam kadar tertentu, binatang yang dianggap menakutkan dan menjijikkan di satu tempat, mungkin dianggap lucu-imut di tempat lain). Dan sampul karya Keenan, dengan caranya yang unik, berhasil menangkap hal tersebut. Buku ini tak hanya layak untuk dibaca kembali, tapi bahkan disimpan sebagai koleksi. Saya tak akan meminjamkannya kepada siapa pun. Terlalu bagus untuk risiko kehilangan.

Standard
Journal

Gagasan Kecil Tentang Penerjemahan dari dan ke Bahasa yang Sama

Karena memutuskan untuk lebih banyak membaca karya-karya klasik yang telah berumur paling tidak lebih dari satu abad, saya mulai menemukan buku-buku dengan berbagai versi terjemahan. Tentu saja ini menguntungkan sebagai pembaca, saya bisa memilih dengan berbagai pertimbangan. Meskipun begitu, kadang-kadang saya malah membaca lebih dari satu versi. Misalnya Don Quixote. Pertama kalinya saya membaca terjemahan Bahasa Inggris karya Pierre Antoine Motteux (meskipun terbit pertama kali sekitar 1700, banyak diterbitkan dan karenanya murah. Itu alasan saya dulu membelinya). Beberapa tahun yang lalu, terbit terjemahan baru Don Quixote karya Edith Grossman. Bagi pembaca sastra Amerika Latin, siapa yang tak kenal Edith Grossman? Ia melanjutkan kerja Gregory Rabassa untuk menerjemahkan karya-karya Márquez yang lebih baru, belum termasuk karya-karya penulis Latin lainnya. Saya tak bisa menahan diri untuk tak membaca kembali Don Quixote dalam terjemahan baru. Hal yang sama terjadi pada Arabian Nights (atau kita kenal sebagai Hikayat Seribu Satu Malam). Ada satu terjemahan klasik karya Richard F. Burton (pertama kali terbit tahun 1885, sangat disukai oleh Borges). Hampir sebagian besar penulis Barat membaca Arabian Nights dari versi Burton ini, yang juga merupakan versi yang saya baca (bukan yang pertama, sebab saya pernah membaca versi sederhana dalam Bahasa Indonesia, yang saya lupa terbitan mana). Sebenarnya versi ini sangat lemah dalam aspek orisinalitas. Burton memakai sumber yang berbeda-beda untuk terjemahannya. Beberapa dekade yang lalu, muncul edisi “kritis” (melalui penelitian akademis yang ketat), yang dikenal sebagai “versi teks Leiden” yang dikurasi oleh Muhsin Mahdi. Terjemahan Bahasa Inggris versi ini dilakukan oleh Husain Haddawy (saya rasa terjemahan Bahasa Indonesia ada juga yang mendasarkan versi ini). Saya menyukai versi Husain Haddawy (Volume 1 bisa dibilang yang asli, Volume 2, bisa dibilang untuk menyenangkan hasrat pembaca meskipun cerita-cerita di dalamnya bukan bagian dari Arabian Nights, seperti dongeng tentang Sinbad, dll). Bahasa Inggris Haddawy terasa lebih enak dibaca, tentu karena lebih modern, daripada Burton. Tapi saya masih sering membaca Burton juga karena alasan sederhana: ada cerita-cerita yang ada di Burton tapi tak ada di Haddawy (karena metodologi Burton lemah, sering memasukkan cerita yang bukan Arabian Nights, tapi malah membuatnya jadi menarik), seperti kisah yang saya sukai “The Ruined Man Who Became Rich Again Through a Dream”. Baru-baru ini penerjemah penting Bahasa Jerman ke Inggris, Susan Bernofsky merilis versi baru The Metamorphosis Franz Kafka. Saya lupa sudah baca berapa versi novela ini. Saya bahkan pernah menerjemahkannya (yang saya rasa kualitasnya menyedihkan). Saya tak bisa menahan diri, saya pasti akan membaca versi ini begitu bukunya beredar di pasar. Untuk karya-karya dari Rusia, pasangan penerjemah Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky menjadi bintang terjemahan Bahasa Inggris versi baru dalam belasan tahun terakhir. Saya membaca beberapa karya Gogol dan Nikolai Leskov melalui terjemahan baru mereka (saya menunggu dan berharap mereka mau menerjemahkan kembali Gorky). Dari pengalaman kecil ini saya berpikir, enak sekali ya, jadi pembaca karya-karya terjemahan (terutama Bahasa Inggris, sebenarnya). Ada banyak pilihan dan untuk karya-karya agung, selalu ada versi terjemahan yang segar dalam bahasa yang modern. Tentu selain faktor-faktor kesalahan terjemahan, salah metodologi atau salah sumber, faktor “keusangan” bahasa menjadi sangat penting. Bahasa selalu tumbuh dan berkembang, dengan begitu karya terjemahan juga seringkali memerlukan pembaharuan untuk mengikuti target pembacanya. Bahkan penulis-penulis yang masih hidup pun, beberapa di antaranya memperbaharui terjemahan karyanya (dengan beragam alasan). Misalnya Milan Kundera pernah menyibukkan diri dengan merevisi hampir seluruh karyanya dalam terjemahan Bahasa Inggris. Orhan Pamuk juga mengeluarkan The Black Book dalam versi terjemahan baru. Sekali lagi, kita sebagai pembaca dimanjakan dalam perkara ini. Saya misalnya tak perlu membaca The Divine Comedy dalam terjemahan kuno, sebab ada terjemahan baru yang segar karya Clive James. Atau karya Ryūnosuke Akutagawa (Rashomon and Seventeen Other Stories) yang diterjemahkan kembali oleh salah satu penerjemah Murakami, Jay Rubin. Sialnya, kemewahan ini tak berlaku justru untuk pembaca bahasa asli karya tersebut ditulis. Orang Spanyol, misalnya, tetap membaca Don Quixote dalam Bahasa Spanyol Cervantes abad ke-17, sebagaimana orang Prancis membaca Pantagruel François Rabelais dengan Bahasa Prancis abad ke-18. Dalam kasus kita, kita tetap akan membaca Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat Asrul Sani dalam Bahasa Indonesia generasi 45 (yang untuk banyak anak muda, terasa jadul dan menjadi tembok penghalang). Saya jadi memikirkan gagasan sinting ini: bagaimana jika karya-karya klasik itu diterjemahkan ke bahasa yang sama tapi lebih modern? Tentu kita tahu, banyak beredar karya-karya klasik yang ditulis ulang (dalam bahasa yang sama) agar lebih mudah dibaca. Tapi biasanya itu versi ringkas, atau versi “enak dibaca” untuk para pemula (anak sekolah yang sedang belajar), atau bahkan versi penyederhanaan. Bukan. Maksud saya bukan itu. Maksud saya tetap terjemahan, yang ketat, dengan kualitas yang tinggi, tapi modern. Tidak boleh disadur. Proses yang sama seperti menerjemahkan dari Prancis ke Inggris atau dari Rusia ke Spanyol, tapi kali ini dari Spanyol ke Spanyol atau dari Rusia ke Rusia. Bayangkan saja suatu ketika ada edisi Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat yang “diterjemahkan ke Bahasa Indonesia modern oleh A.S. Laksana”, misalnya. Atau, Don Quixote yang “diterjemahkan ke Bahasa Spanyol modern oleh Javier Marías”. Sekali lagi, gagasan ini mungkin tidak baru, dan terdengar seperti melecehkan karya-karya agung, tapi kenapa tidak? Paling tidak, bagi saya, itu terdengar menyenangkan dan sedikit menantang. UPDATE: Baru membaca soal ini, bahwa novel (konon novel pertama di dunia) Tales of Genji karya Murasaki Shikibu dari abad 11, “diterjemahkan” ke Bahasa Jepang abad 20 oleh penyair Akiko Yosano.

Standard
Journal

Membunuh Samsa di Kamar Mandi

Di kamar mandi kami, kadang-kadang muncul seekor kecoa. Anak perempuan saya sering menjerit-jerit jika menemukannya. Saya? Saya akan mengambil pembasmi serangga dan menyemprotnya. Membunuhnya. Tapi membunuh kecoa merupakan kegiatan konyol yang hampir tak ada gunanya. Hari ini seekor mati, esoknya akan muncul lagi yang lain. Itu seperti mencoba menyalip mobil Avanza di jalan tol, satu mobil disalip, di depannya akan muncul mobil yang sama. Dan dalam tingkat sastrawi, itu hampir sama mustahilnya dengan mencoba membunuh Gregor Samsa (anggap saja ia kecoa) dan segala pengaruhnya dari kesusastraan. Baiklah, kita harus jujur bahwa Metamorfosis Kafka merupakan karya yang nyaris sempurna. The Trial atau The Castle merupakan novel yang hebat, tapi Metamorfosis saya pikir tak hanya hebat, ia bisa dibilang nyaris sempurna. Hampir sebagian besar sastra modern bisa dirujuk asal-usulnya ke cerita pendek (yang agak panjang) itu. Saya selalu percaya, sesuatu yang hebat, harus hebat bahkan di bagian-bagian terkecilnya. Sesuatu yang nyaris sempurna (biarlah kesempurnaan hanya milik Tuhan), harus tampak sempurna bahkan sejak bagian awal. “Gregor Samsa terbangun dari satu mimpi buruk dan menemukan dirinya menjadi seekor kecoa besar.” Adakah yang lebih sempurna dari pembukaan cerita semacam itu? Jika Márquez pernah mengatakan bahwa arsitektur sebuah novel sudah bisa diraba dan dilihat sejak kalimat pertama, pembukaan itu memperlihatkannya dengan sangat benderang. Saya sering duduk di kakus sambil memandangi seekor kecoa (sebelum saya memutuskan untuk membunuhnya), dan melamun bagaimana caranya membunuh Gregor Samsa (apa boleh buat, saya seorang penulis dan pikiran saya penuh dengan hal itu, dan ya, bisa dianggap membosankan sebenarnya). “Samsa, apa sih yang membuat kamu nyaris sempurna?” Pertanyaan tolol sebenarnya, tapi sebaiknya memang ditanyakan. Ah, dan satu hari Samsa si kecoa menjawab (barangkali merupakan usahanya untuk bersahabat dan terhindar dari upaya pembunuhan, sebagaimana dilakukan secara licik oleh Syahrazad menghadapi Raja). “Seperti yang kamu yakini, novel sempurna harus diawali dengan kalimat pertama yang sempurna.” Maksudnya? Samsa tampak senang melihat antusiasme saya dan seperti pendongeng ia melanjutkan: “Sebelum berpikir menulis 60.000 kata atau bahkan 200.000 kata, cukup pikirkan satu kalimat saja. Satu kalimat sempurna.” Hanya itu? “Ya, hanya itu. Tulis kalimat pembuka yang sempurna, dan jangan tulis hal lainnya sebelum kamu berhasil membuat kalimat pembuka yang sempurna.” Saya mengangguk-angguk dan berpikir, nasihatnya masuk akal juga. Kadang-kadang membayangkan harus menulis seratus atau tiga ratus halaman sudah merupakan tekanan tersendiri. Banyak penulis terintimidasi oleh berapa puluh ribu kata yang harus diketiknya. Tapi membayangkan hanya menulis satu kalimat, tentu saja kalimat yang hebat, barangkali akan meringankan beban. Dan tentu saja merupakan eksperimen yang menyenangkan. “Terus, jika aku berhasil menulis kalimat pembuka yang sempurna, apa yang harus kulakukan?” Samsa merayap-rayap di lantai kamar mandi, mondar-mandir, sebelum berhenti dan menoleh ke arah saya. Kumisnya (saya tak tahu pasti itu kumis atau bukan) tampak bergerak-gerak. “Jika kamu berhasil menyelesaikan kalimat pertama yang sempurna, kamu harus percaya bahwa kamu bisa mengerjakan apa pun yang lainnya dengan sama baiknya. Kamu harus mulai memberi beban yang lebih berat untuk dirimu.” Maksudnya? Terus-terang, saya mulai terbawa oleh kuliahnya. “Kamu naik pangkat. Setelah menulis kalimat pertama yang sempurna, kamu harus mencoba menulis bab pertama yang sempurna.” Aha, saya mengerti. Tugas yang lebih berat, tapi harus dikerjakan dengan sama baiknya. Jika saya bisa menulis kalimat pembukaan yang hebat, kenapa saya tak bisa menulis bab pertama yang hebat? “Nah, jika aku berhasil menulis bab pertama yang sempurna, apalagi?” Samsa tersenyum. Saya yakin ia tersenyum. “Jika kamu bisa menulis bab pertama yang sempurna, kenapa kamu tak bisa menulis bab kedua yang sempurna? Juga bab ketiga, keempat, kelima, dan penutup yang sempurna?” Nasihat yang bagus, pikir saya. Tapi setelah lama termenung, setelah membayangkan bab satu, bab dua, bab … empat belas, saya kembali ke pendapat lama, nasihat bagus selalu sulit untuk dituruti. Dan memikirkan itu hanya membuat seorang penulis tambah tertekan. Tak ada pilihan lain, saya harus membunuh Samsa yang baik hati ini dan melupakan semua nasihat-nasihatnya. Meskipun itu tindakan tolol sebab esok, dan kapan pun, saya akan tetap bertemu dengannya. Dan hanya bisa membayangkan dunia yang tanpa kecoa, dan kesusastraan yang tanpa Gregor Samsa.

Standard
Journal

Apa Sih, yang Dilakukan Para Penulis Hebat?

Saya kadang-kadang bertanya seperti itu. Apa sih, yang membuat mereka hebat? Apa yang bisa kita lakukan jika ingin seperti mereka? Saya tak memiliki kesempatan untuk bertanya kepada para penulis hebat favorit saya: Hamsun, Gogol, Melville, Kawabata, Borges, dan lain-lain. Bahkan sekiranya mereka masih hidup dan saya berkesempatan bertanya, saya mungkin terlalu jengah untuk bertanya. Jadi apa yang bisa saya lakukan hanyalah sedikit menduga-duga, ya, dengan cara mencari tahu apa yang mereka lakukan dalam hidupnya. Tentu saja selain menulis karya-karya hebat itu. Pertama, tentu saja karena mereka banyak membaca. Mereka pembaca-pembaca kelas berat. Tengok Borges: saya curiga ia membaca hampir semua buku di perpustakaan tempatnya bekerja, hingga di masa tua matanya nyaris buta. Yang jelas, ia membaca karya-karya klasik Inggris. Sebenarnya tak cuma Inggris. Jika kita membaca cerpen-cerpennya, kita tahu ia membaca sastra dari mana-mana. Salah satu buku favoritnya adalah Alf Layla wa Layla, atau kita mengenalnya sebagai Hikayat Seribu Satu Malam. Atau coba baca wawancara beberapa penulis di The Paris Review. Saya sering terbengong-bengong melihat luasnya bacaan mereka. Atau baca buku kumpulan esai Roberto Bolaño, Between Parenthesis, ia membaca tak hanya sesama penulis (berbahasa) Spanyol, tapi juga membaca Cormac McCarthy, misalnya. Berapa banyak buku yang sudah kamu baca? Klasik dan kontemporer? Tak hanya dari kesusastraan negerimu sendiri? Jika ingin sehebat Borges atau yang lainnya, saya rasa kamu harus membaca segila mereka. Kedua, menerjemahkan. Menerjemahkan, tak hanya membuat pengetahuanmu atas bahasa lain bertambah, tapi sekaligus mengajarimu menulis secara langsung dari penulis yang kamu terjemahkan. Kamu mengikuti jejak sang penulis, kata per kata, kalimat per kalimat, dengan bahasamu sendiri. Pada saat yang sama, kamu tengah mengasah kemampuan menulismu, ya, dalam bahasa yang kamu pergunakan. Murakami merupakan seorang penerjemah yang tekun. Ia menerjemahkan novel Raymond Chandler ke Bahasa Jepang, salah satunya. Juga menerjemahkan novel The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald. César Aira, yang novel-novelnya belakangan saya gemari, juga seorang penerjemah (sampai satu titik, bisa dibilang profesinya). Kembali ke Borges: novela Metamorfosa Kafka yang dibaca pertama kali oleh García Márquez merupakan edisi Spanyol yang diterjemahkan oleh Borges. Tak usah jauh-jauh, novelis terbaik kita, Pramoedya Ananta Toer, juga menerjemahkan banyak karya penulis luar: Steinbeck, Tolstoy, Saroyan. Ketiga, tak hanya menulis cerita, novel atau puisi, tapi tulis juga pandangan-pandanganmu tentang penulis lain, karya lain, dan kesusastraan secara umum. Sampai saat ini, salah satu esai terbaik tentang teknik menulis dua raksasa sastra Amerika saya temukan di esai pendek Gabriel García Márquez berjudul “Gabriel García Márquez Berjumpa dengan Ernest Hemingway”. Di esai itu, ia menulis tentang Hemingway dan Faulkner, dan bagaimana kedua raksasa itu berbeda secara teknik. Ngomong-ngomong soal García Márquez, jangan lupakan buku ulasan serius Mario Vargas Llosa mengenai novel Cién Anos de Soledad. Vargas Llosa juga menulis buku serius mengenai Madame Bovary dan Gustave Flaubert (Perpetual Orgy: Flaubert and Madame Bovary). Mau contoh yang lain? Michel Houellebecq menulis biografi kritis mengenai penulis cult Amerika, H.P. Lovecraft. Saya rasa, menulis esai tentang penulis dan karyanya membantu kita untuk belajar menganalisa, belajar melihat sudut-sudut pandang yang berbeda, dan dengan tanpa sadar, kita menciptakan cara berpikir sendiri, dan sudut pandang yang barangkali unik. Keempat, yang ini tak perlu dijelaskan panjang-lebar: terus menulis. Anda bisa menambahkan beberapa hal lain, yang boleh ditiru atau tidak: maraton (Murakami), mabuk (Faulkner), berburu (Hemingway), dan lain-lain. Jadi jika ada yang bertanya kepada saya bagaimana caranya menjadi penulis hebat, barangkali saya akan menjawab terutama empat perkara di atas. Jujur saja, itu bukan jaminan juga. Saya hanya berusaha menjawab dengan belajar dari penulis-penulis ini. Tapi setidaknya, mencoba melakukan apa yang mereka lakukan, saya rasa bukanlah hal buruk. Juga bukan kejahatan. Itu hal-hal baik yang layah dicoba. Setidaknya, belajar dari mereka, saya tahu bukanlah hal mudah untuk menjadi penulis yang baik, apalagi penulis yang hebat. Sebagaimana bukan hal yang mudah mengalahkan Usain Bolt dalam adu cepat lari di lintasan seratus meter.

Standard
Journal

Satantango, László Krasznahorkai

Novel ini dibuka dengan satu kutipan: “In that case, I’ll miss the thing by waiting for it. – FK”. Tentu saja FK merupakan inisial Franz Kafka. Kutipan itu, meskipun tak disebutkan, berasal dari The Castle. Menunggu merupakan pusat novel ini: sekelompok penduduk desa (mungkin lebih tepatnya komunal) di tengah badai kehancuran tengah menantikan juru selamat mereka, yang kita tak tahu apakah benar ia sejenis nabi, sejenis pemimpin, atau hanya bangsat penipu. Dalam beberapa bagian, novel ini sering merujuk ke laba-laba. Bar tempat penduduk desa itu nongkrong dan menunggu, dijejali laba-laba. Bahkan dua bab sengaja diberi judul “The Work of Spider”. Hey, bukankah laba-laba merupakan binatang penunggu? Mereka salah satu binatang yang paling sabar menunggu. Menunggu juru selamat untuk perut mereka. Baiklah, novel ini bukan sesuatu yang gampang untuk dibaca, bahkan sejak bab pertama. Ini bukan jenis novel yang kita baca dari halaman pertama hingga halaman terakhir dan kita mengangguk, oh begitu ceritanya. Saya bahkan tak yakin bisa menyusun ulang kronologi ceritanya. Satantango, seperti tersirat dari judulnya, lebih seperti tarian. Bergerak ke sana-kemari, dan kita (saya, setelah mencoba membaca berulang-ulang) menikmati gerakannya. Berharap menemukan alur kisah yang lurus dan terpola, meminjam kutipan Kafka di awal, hanya akan membuat kita kehilangan bagian-bagian penting dari novel ini. Tengok misalnya bab pertama. Dibuka oleh tokoh bernama Futuki yang terbangun oleh bunyi bel misterius: gereja terdekat berjarak empat kilometer dan menaranya sudah lama rubuh dan yang jelas tak memiliki bel. Sesuatu akan terjadi, pikirnya. Tapi kemudian kita tahu, bel itu seperti pintu masuk untuk adegan lain: Futuki tidur dengan Nyonya Schmidt, isteri tetangganya yang tengah menggiring ternak dimana mereka bisa memperoleh upah seharga delapan bulan kerja keras (dan butuh beberapa jam lagi untuk pulang). Apakah bab ini akan mengisahkan hubungan rahasia Futuki dan Nyonya Schmidt? Tidak. Setelah itu mereka membicarakan uang hasil kerja mereka, bagaimana pembagiannya, dan berlanjut ke pertengkaran kecil karena Tuan Schmidt ingin meminjam bagian Futuki. Oh, setelah itu terkuak rencana kepindahan mereka dari desa tersebut, dan seterusnya dan seterusnya. Seperti tarian, setiap halaman, setiap fragmen cerita, merupakan gerakan untuk menguak gerakan-gerakan lainnya. Saya tak akan menceritakan ringkasan cerita novel ini lebih lanjut. Selain nyaris mustahil, tentu saja bukan pada tempatnya membocorkan hal seperti itu di sini, meskipun saya percaya karya yang baik tetap asyik dinikmati meskipun kita sudah tahu apa yang diceritakan, sebab karya yang baik nyatanya selalu menuntut untuk dibaca dan dibaca kembali. Meskipun begitu, saya ingin mengatakan bahwa novel ini sangat menekan. Menekan dari sana-sini, dari caranya ditulis, dari alur kisahnya, dari tokoh-tokohnya, bahkan dari bahasanya. Ini kisah tentang sebuah desa diambang kehancurannya, tapi bagaikan kita dihadapkan pada kehancuran dunia itu sendiri. Di akhir dunia seperti itu, semua makhluk seperti bergerak sendiri-sendiri, meskipun tak bisa kemana-mana. Jika para orangtua disibukkan oleh rencana kepindahan, mengikuti Irimiás si juru selamat, di sisi lain kita dihadapkan pada gadis-gadis remaja yang menjual tubuh mereka untuk kesenangan kecil, dihadapkan pada gadis cilik yang membunuh kucingnya, dan dihadapkan pada dokter jompo yang tak bisa berbuat apa-apa melihat segalanya pudar di hadapannya, dan dengan sendirinya menjadi satu-satunya pengamat yang telaten. Saya yakin banyak hal bisa dicatat dari novel karya László Krasznahorkai ini, tapi tiba-tiba saya menyadari satu fakta kecil yang sekonyong merebut perhatian: novel ini ditulis oleh penulis Hungaria. Beberapa tahun lalu saya kenal baik dengan Duta Besar Hungaria untuk Indonesia (sekarang ia sudah pensiun). Negara itu kecil saja, dengan bahasa yang juga dipergunakan sedikit orang. Tapi satu hal jelas: mereka menghasilkan penulis-penulis kelas dunia, dan karya-karya kelas dunia: Imre Kertész (meraih Nobel Kesusastraan 2002) dan Péter Nadas, misalnya. Tapi saya tak heran. Saya yakin negara itu, tak peduli berapa jumlah penduduknya (tak lebih dari 10 juta, lebih kecil dari jumlah penduduk Jakarta di siang hari), memang memiliki akar kesusastraan yang kuat. Perkenalan saya dengan Pak Mihaly Illes cukup menjadi bukti untuk saya: di tengah kesibukannya sebagai duta besar, ia selalu meluangkan waktu untuk membaca cerita pendek Indonesia yang terbit di koran hari Minggu. Ia bahkan menerjemahkan beberapa di antaranya ke Bahasa Hungaria, cerpen saya salah satunya, dan itulah latar belakang perkenalan kami. Di negara yang bahkan diplomatnya menerjemahkan sastra, penulis hebat saya rasa sesuatu yang tak terelakkan. László Krasznahorkai salah satunya saja.

Standard