Eka Kurniawan

Journal

Tag: Franz Kafka (page 1 of 3)

The Lost Honour of Katharina Blum, Heinrich Böll

Sejak awal, The Lost Honour of Katharina Blum sudah buka-bukaan bahwa ini kisah mengenai pembunuhan yang dilakukan oleh Katharina Blum atas seorang wartawan bernama Werner Tötges. Namun kita segera tahu ini bukan sejenis fiksi kejahatan, meskipun tentu saja ada irisan ke sana. Kita sudah tahu peristiwa kejahatannya, dan tak lama kemudian, kita juga sudah bisa tahu motif di belakang tindakan kejahatan tersebut. Bahkan jika kita masih bersikeras menyebutnya sebagai fiksi kejahatan, ini tidak seperti fiksi jenis itu dalam maknanya yang tradisional. Bagi saya, novel ini membuka aspek lain dari peristiwa-peristiwa kejahatan yang kita ketahui, bahkan hingga hari ini: bagaimana liputan media, bahkan desas-desus, spekulasi yang tak berdasar, yang dilatar-belakangi oleh berbagai kepentingan atau sekadar pemuasan rasa ingin tahu, seringkali merupakan kejahatan itu sendiri. Banyak novel mengulas aspek-aspek kejahatan, tak melulu mengenai siapa membunuh siapa, atau siapa yang melakukan satu kejahatan dan bagaimana seseorang (polisi, detektif), mengungkapkannya. Dalam The Trial Franz Kafka, kita melihat bagaimana sistem dan birokrasi hukum yang korup bisa menjadi begitu ganas menyiksa, bahkan lebih jahat daripada kejahatan yang mungkin dituduhkan kepada korbannya, dalam hal ini Joseph K yang tanpa melakukan kejahatan apa pun ditangkap dan harus melalui lika-liku labirin hukum. Crime and Punishment karya Fyodor Dostoyevsky bahkan melangkah jauh memperkarakan aspek moral: niat baik kadang (atau bahkan sering?) merupakan sumber kejahatan. Kita memiliki banyak kasus bahkan di dunia nyata. Perang (untuk menciptakan perdamaian?). Terorisme (melawan ketidakadilan atau sejenisnya?). Dalam kasus novel ini, Raskolnikov melakukan kejahatan demi uang, agar ia bisa mempergunakan uang itu untuk tujuan baik. Di novel Heinrich Böll ini, kita akan bertemu sosok Katharina Blum yang “dihukum”, bukan oleh sistem hukum, tapi oleh media yang penuh prasangka, hanya karena ia memberi tempat (dan cara melarikan diri) kepada seorang buronan. Tentu saja membantu seorang buronan, dalam banyak sistem hukum, merupakan tindakan kriminal juga. Tapi prasangka media bisa berubah menjadi jauh lebih kejam, bisa melangkah melampaui kajahatan yang benar-benar telah dilakukannya (yakni membantu si buronan, yang adalah kekasihnya, untuk kabur). Media tak bekerja sendiri. Di belakang itu tentu saja ada kepentingan bisnis dari media itu sendiri, dan di belakang itu, ada rasa ingin tahu publik yang mengharapkan drama, mengharapkan skandal yang lebih hebat daripada sekadar seorang perempuan yang membantu kekasihnya. Masa lalunya diungkap: ia seorang janda, dan suaminya menuduhnya seorang komunis (di banyak situasi, seperti Jerman selepas perang, menjadi komunis bisa berarti dekat dengan aib dan kejahatan), bahkan keputusannya untuk keluar dari gereja juga dipersepsikan sebagai kejahatan. Tak hanya itu, si wartawan dari media tersebut, juga mengungkap hal-hal yang barangkali tidak relevan untuk kasusnya: ada pria yang pernah datang ke apartemennya, mengindikasikan ia seorang “perempuan yang tidak baik”. Berapa sering Anda mendengar kasus kejahatan di mana media membully dan meruntuhkan karakter seorang tersangka bahkan sebelum kasus pengadilan berlangsung? Media, dengan hasratnya untuk “menghukum” jelas jahat. Tapi hasrat kita yang berlebihan terhadap suatu kasus, seringkali dengan asumsi-asumsi sendiri, juga hasrat atas skandal dan drama, barangkali merupakan minyak bagi api media. Itu belum termasuk kepentingan-kepentingan ekonomi, politik, bahkan ideologi, seringkali menumpang kepada kasus yang sesungguhnya bersifat pribadi dan tak memiliki aspek kepentingan umum yang luas. Saya senang telah membaca novel yang ternyata jauh lebih kaya daripada apa yang tampak di permukaan. Jujur, ini kali pertama saya membaca novel Heinrich Böll. Itu pun gara-gara satu telepon di satu hari yang potongannya kira-kira: “… mungkin Anda belum pernah mendengar namanya, tapi ia salah satu penulis besar …” Tentu saja saya pernah mendengar nama Heinrich Böll, tapi memang belum pernah membaca satu pun karyanya. Saya agak merasa malu dan memutuskan membaca satu di antaranya. Ini akan menjadi langkah kecil untuk penjelajahan yang lebih luas, saya yakin.

10.000 Jam Latihan (dan Mungkin Ketololan)

Menurut penelitian Malcolm Gladwell (bukunya Outliers), dibutuhkan 10.000 jam latihan yang penuh dedikasi untuk menghasilkan orang sukses. Itu bisa dipelajari dari para pemain biola hebat, pemain skate, juga The Beatles dan Bill Gates. Melebihi bakat dan keberuntungan (ya, mungkin saja ada faktor ini meskipun kecil), latihan penuh dedikasi dan komitmen melakukannya dalam rentang waktu yang lama, memberi hasil yang jauh lebih nyata. Bagaimana dengan penulis? Saya rasa tak jauh berbeda. Dibutuhkan komitmen dan dedikasi untuk berlatih, dengan cara membaca dan menulis, selama itu. Ya, tak ada yang mudah, memang. Jika kita mendedikasikan waktu 3 jam sehari (secara konsisten, setiap hari) untuk membaca dan menulis, kurang-lebih kita membutuhkan waktu 10 tahun untuk “terlatih”. Artinya, jika berharap menjadi terlatih di umur 20 tahun, seorang anak harus terus berlatih, membaca dan menulis, setiap hari sejak umur 10 tahun! Jika komitmen ini baru dimulai umur 18 tahun, keahlian itu mungkin baru didapat umur 28 tahun. Jika hanya memiliki komitmen untuk membaca dan menulis sebanyak satu jam setiap hari (sekali lagi, setiap hari tak terputus), kita membutuhkan 30 tahun. Mulai umur 10 tahun, baru terlatih di umur 40 tahun. Berat. Memang berat. Di dunia ini, dari miliaran manusia, memang hanya sedikit yang muncul ke puncak. Karena memang hanya sedikit yang punya komitmen waktu seperti itu. Hanya sedikit yang memperoleh medali emas Olimpiade. Hanya sedikit yang menjadi juara dunia. Dan di antara jutaan penulis di dunia, tentu hanya segelintir yang karyanya terus dibaca, dari generasi ke generasi. Entah berapa banyak jam dihabiskan Shakespeare untuk menulis, membaca dan berada di gedung teater setiap hari. Jelas lebih banyak daripada kebanyakan kita. Tentu saja untuk mendaki puncak itu, tak melulu mengenai 10.000 jam. Anda bisa mengikuti riset Gladwell mengenai hal ini. Tapi yang paling menohok saya adalah salah satu hal penting ini: “Jangan habiskan waktu untuk hal-hal kecil”, yang tak berguna untuk karirmu, tak berguna banyak untuk bidangmu. Dalam skema 10.000 jam berlatih, waktu memang memegang peranan penting. Waktu sangat terbatas. Menghabiskan 3 jam sehari saja, kita butuh 10 tahun. Saya tak tahu persis apa “hal-hal kecil” dalam karir menjadi seorang penulis, kalaupun kita merumuskannya, barangkali banyak orang tak bersepakat dan berakhir dengan debat tak ada ujung (dan debat ini bisa jadi “hal-hal kecil” yang tak membawa kita menjadi penulis yang lebih terampil). Tapi saya rasa kita bisa mengukurnya sendiri: fokus terhadap tujuan keterampilan yang ingin dicapai, dan lewatkan apa yang tak mendukung itu. Bayangkan jika kita ingin berlatih menulis kalimat dengan baik, kita melakukannya berkali-kali, berjam-jam, dan lupakan urusan lain yang tak ada hubungannya. Setelah mampu melakukannya, kita lakukan kembali latihan menulis dialog, yang katakanlah, kita ingin di satu sisi tertulis dengan baku tapi terdengar alamiah. Banyak hal yang bisa kita latih dalam hal menulis, dan itu membutuhkan waktu yang sengaja disediakan. Dalam hal ini, memiliki tujuan yang jelas tentang apa yang sedang kita latih, menjadi sangat penting. Memikirkan hal ini, satu hal kemudian mengemuka: apa artinya “berhasil”? Dalam bidang penulisan, seperti apa itu penulis yang berhasil? Berpengaruh besar seperti Dostoyevski atau Kafka? Memperoleh hadiah Nobel seperti Hemingway atau Orhan Pamuk? Memperoleh uang banyak seperti J.K. Rowling? Tentu saja tak semua orang terobsesi untuk “berhasil” seperti gambaran Gladwell, dan karenanya tak perlu menyiksa diri berlatih 10.000 jam (dan terus berlatih setelah itu). Ada penulis yang cukup senang melihat karyanya dicetak, sebagai misal. Atau menyisipkan ungkapan cinta tersembunyi di dalam novel, banyak yang seperti ini. Kita punya ukuran masing-masing tentang “berhasil”. Yang ajaib tentu saja kalau orang berharap memperoleh sebutir kelereng, tapi ngamuk-ngamuk karena orang lain memperoleh segenggam berlian. Atau berharap mengarungi lautan luas, tapi usaha yang dilakukannya hanya merendam kaki ke dalam air di ember. Saya? Saya pengin melihat karya saya bersanding di rak buku dengan penulis-penulis kesayangan saya. Cita-cita saya tampak dangkal dan tolol, tapi sulit melakukannya. Setiap kali saya menyandingkan buku saya di samping buku-buku itu, saya merasa buku saya tak pantas berada di sana. Mungkin saya harus mencoba meletakkan buku saya di sisi buku-buku itu, terus-menerus selama 10.000 jam? Mungkin. Mungkin. Sebab saya yakin, 10.000 jam melakukan ketololan juga bisa berhasil membuat saya lebih tolol berkali lipat, dan sejujurnya, saya sering melakukan hal itu.

Dag Solstad: Tanggung Jawab Penulis adalah Bikin Karya Bagus

Setelah berkenalan melalui novel Aib dan Martabat, saya langsung mengenali nama penulis ini ketika melihat edisi terbaru The Paris Review, di rubrik wawancara yang saya demenin di jurnal itu: “The Art of Fiction” (dia kebagian nomor 230). Di kesusastraan Skandinavia (tepatnya doi berasal dari Norwegia), konon dia dianggap sebagai “an anavoidable voice”. Saya makin demen, nih. Dan makin seneng aja ketika dia ditanya, bagaimana awalnya dia pengin jadi penulis? Jawabannya: gara-gara baca Knut Hamsun. Berasa punya temen, deh. Knut Hamsun emang gokil. Baru satu novel Dag Solstad yang saya baca (berharap bisa baca yang lainnya di kemudian hari), tapi membaca wawancaranya sungguh menyegarkan. Ada satu bagian yang saya rasa perlu menjadi perenungan ketika ia ditanya, di luar Hamsun, penulis siapa aja yang dibaca dan memengaruhi. Ia bilang, sebagian besar penulis yang disukainya (Kafka, Dostoyevsky, dan lain-lain) justru dibacanya ketika berumur akhir 20an, “Ketika sudah lewat masa penjara kanak-kanak.” Di luar bayangan kebanyakan orang dewasa yang menganggap masa anak-anak sangat menyenangkan (maklumlah, seperti kata Little Prince, orang dewasa imajinasinya payah), anak-anak seringkali terpenjara: oleh keinginan orang tua, guru, masyarakat. Enggak boleh ini, enggak boleh itu. Pikiran dan tindakan mereka dikendalikan oleh orang dewasa. Nah, menurut Solstad, justru ketika dewasa ia merasa lebih bebas. Seharusnya sih, begitu. Kenyataannya mungkin malah banyak orang semakin dewasa semakin terpenjara. Pikirannya semakin mudah dikendalikan. Enggak bisa ini, enggak bisa itu, dan yang ngelarang ternyata dirinya sendiri! Dan ini juga hal seru: mengenai komunitas. Dia merasa beruntung di awal karirnya bergabung dengan majalah sastra Profil. Dia ketemu banyak orang keren di sana, yang membaca segala hal, mengetahui banyak hal. Kecuali dirinya, ia merasa teman-temannya memiliki keistimewaan masing-masing. Pernah ia mencoba ikut berdebat, tapi tak pernah berhasil mempertahankan argumennya (karena dia enggak tahu apa-apa). Akhirnya ia memilih diam dan mendengarkan. Terus mendengarkan. Hasilnya? “Aku tak memiliki keistimewaan apa-apa, tak memberi apa-apa tapi memperoleh paling banyak.” Hahaha. Itu lucu, tapi boleh dimaafkan. Memang banyak kok orang yang cerewet dan ngomong banyak, sebenarnya bukan “memberi banyak”, tapi lebih “pengin didengar”. Argumennya enggak penting, yang penting ada yang dengar, syukur-syukur enggak dibantah. Ada yang kayak begitu, percayalah. Ada. Dan terakhir, mengenai keistimewaan penulis (memiliki kebebasan bicara, misalnya), ia ditanya mengenai tanggung jawab. Si pewawancara mengutip tentang kebebasan melahirkan tanggung jawab. Nah, apa tanggung jawab seorang penulis? Sebagai seorang komunis, lebih tepatnya seorang Maois, saya bayangkan dia bakal jawab mengenai tanggung jawab sosial, tentang mencerdaskan masyarakat, menggunting belenggu penindasan, atau sejenisnya. Ternyata dia malah bilang: tanggung jawab penulis ya bikin karya bagus. Itu yang paling penting. “If you are a writer, being able to make a good piece of art is of the utmost importance — that’s your primary responsibility.” Bener juga ya, kalau enggak merasa punya tanggung jawab semacam itu, ngapain nyebut sebagai penulis? Lu Hsun kurang-lebih pernah mengatakan hal yang sama. Jadi boleh lah saya anggap itu jawaban paling kiri. Banget. Tinggal sekarang baku-hantam saja tentang apa itu “bagus”.

The Vegetarian, Han Kang

Ketika Yeong-hye memutuskan untuk menjadi seorang vegetarian, satu keluarga menjadi kacau-balau. Hubungannya dengan suaminya berantakan, hingga mereka bercerai. Hubungan dengan orangtuanya poranda, ditandai dengan kemarahan si ayah ketika mencoba menjejalkan sepotong daging ke mulutnya. Dan hubungannya dengan kakaknya, meskipun tetap baik, tak bisa dibilang tetap sama: kakak iparnya berpisah dengan kakaknya karena membuat film semi porno dengannya. Ya, semuanya karena ia memutuskan untuk menjadi vegetarian. Bagi sebagian orang, menjadi seorang vegetarian mungkin hal yang sepele. Kalaupun meninggalkan persoalan (seperti mencari restoran yang bebas daging, ribet ngurusin menu makanan), itu persoalan dirinya sendiri. Tapi di novel ini, The Vegetarian karya Han Kang, kita bisa melihat bahwa perubahan apa pun, apalagi mendadak dan nyaris tanpa asal-usul yang jelas, bisa mengacaukan banyak hal. Saya tak akrab dengan kesusastraan Korea, tapi tampaknya mereka tengah berusaha menggenjot kesusastraan mereka agar dikenal secara global. Belakangan memang sudah banyak novel-novel Korea hadir dalam terjemahan (Bahasa Inggris, misalnya). Tapi tentu saja kesusastraan tak semata-mata diterjemahkan dan diterbitkan, lalu dipromosikan. Jika urusannya cuma itu, kesusastraan negara mana pun asal ada uang dan kemauan pasti sudah merajalela. Kenyataannya, sebagian besar di antara buku-buku itu (lihat misalnya seri The Library of Korean Literature yang diterbitkan Dalkey Archive), masih kurang menarik perhatian. Nama-nama penulis Korea tetap sayup-sayup, apalagi jika dilihat dan didengar dari sebuah kota pelosok macam Jakarta. Saya tak tahu kenapa. Mungkin bias kurator lokalnya? Mungkin apa yang dianggap keren oleh kurator lokal, ternyata biasa saja oleh publik internasional? Dan lihat saja (ini yang menarik), meskipun begitu satu-dua nama kemudian mencuri perhatian, tapi malahan di luar upaya-upaya promosi “resmi” dengan embel-embel “kesusastraan Korea” (dengan ambisi-ambisi besarnya melalu “The Library of Korean Literature”). Han Kang, salah satunya. Ketika saya membaca novel ini, novel keduanya Human Act baru saja terbit (dan saya rasa, saya juga ingin membacanya). Menurut saya, The Vegetarian merupakan jenis novel yang ceritanya didorong oleh karakter. Karakter yang kuat. Seperti kita tahu, ada cerita-cerita yang bergulir oleh dorongan plot (seperti di banyak novel genre, seperti cerita detektif, cerita romansa, cerita silat atau horor), dan ada cerita yang bergulir oleh dorongan karakter yang kuat. Novel kesayangan saya, Lapar karya Knut Hamsun, atau banyak karya Dostoevsky, umumnya didorong oleh karakter yang kuat. Novel ini dibagi dalam tiga bagian, dan semuanya berputar di sosok Yeong-hye si vegetarian. Di luar dugaan, novel ini sebenarnya tak bicara banyak mengenai vegetarianisme (baik soal kesehatan, spiritual, ataupun ideologi lingkungan hidup). Setidaknya tidak menjadi pokok soal yang pertama. Meskipun begitu, seperti di novel-novelnya Kafka (dan novel ini memang memberi rasa Kafkaesque), novel ini bisa menyelam jauh lebih dalam dari itu, membuat vegetarianisme sebagai permukaannya. Membuat novel ini malah menjadi sejenis horor yang, menakutkan juga mengasyikan. Mungkin saatnya menengok Korea tak hanya melalui K-Pop, tapi juga K-Lit mereka?

Masa Depan Indonesian Literature

Masa depan Indonesian literature kalo sekiranya memang panjang umurnya, mungkin harus ditulis dengan Indonesian yang buruk lagipula benar (ato salah, semoga dibuka saja pintu kebahagiaan). Udah pasti susah, soalnya, yang buruk dan bisa benar bisa salah tuh enggak ada aturannya (kalo ada yang coba-coba membuatkan aturannya, boleh juga untuk dibikin tenggelam ini orang). Kalo ada aturan kan jelas, kayak aturan lalu-lintas. Lampu merah, yo berhenti. Huruf S dicoret, orang tolol juga tahu artinya enggak boleh stop, apalagi parkir dan numpang eek (ato malah boleh?). Ngikutin aturan itu capek. Lo pikir kita mesin, otak kita gampang diprogram buat ngikutin aturan ini dan itu. Berenti aja jadi manusia, pindah agama jadi robot. Udah pasti robot pinternya lebih kebangetan. Kita semua enggak ditakdirkan sekece robot, beberapa terkutuk lahir jenius. Sedikit, sih, tapi ada. Ada. Meskipun kece sih tidak. Robot tak ada yang jenius. Ribit mungkin ada. Tai yang jenius melimpah. Naik mobil pake aturan. Upacara bendera ada protokolnya. Beli susu kopi (apa kopi susu? Bodo, lah) di Starbucks, eh kenyataannya ada aturannya pula (antri, bayar dulu, antre lagi, baru dapet kopi susu — eh susu kopi). Numpuk duit ada aturannya. Mau nyumbang tanah dan bikin masjid gede banget, juga terbikinlah aturannya. Sekarang, masa mau ngarang cerita dan berpenyair juga diatur-atur? Kebangetan. Ejaan harus begini, bikin kalimat harus begono, kalo enggak begono elo kesambet setan. Kontol lo dicabut orang. Ngehek emang. Hidup susah, kalo mau tambah susah, coba jalan pake telinga. Ato nyeruput kuah baso pake idung, enak plus ingus dan upil. Mau susah yang berlebih-lebih???!#$@??! Coba saja kau kawin dengan tujuh belas setengah manusia freak kontrol (atau kontrol grand prix, gue lupa?), mampus deh lu dikoyak-koyak obeng. Ngomong-ngomong, menurut hamba sahaya ini yang imut bersahaja, ngarang susastra itu seperti pasang sepatu. Kadang-kadang pengin pake sandal, boleh juga ingin nyeker. Besok-besok, ternyata pengin pakai celana pendek, atau cangcut kebalik. Pokoknya susastra itu seperti sepatu dipasang di kaki, atau diemut. Atau beli kacamata di toko, sebelumnya boleh berminum cendol, boleh juga bergandengan pacar di tangan. Memakai sepatu, terbukti akurat dan meyakinkan, menjelaskan dengan gamblang apa itu susastra. Yang enggak bisa diomongin susastra sarjana, karena mereka lupa buka sepatu kalo bercinta. Jadi gimana masa depan literature van Indonesian? Syuram tapi menjanjikan. Menjijikkan tapi asoy geboy. Tak perlu ada criticus, juga editeur, apalagi pengamat pertandingan prosa atau puitik. Ngepel trotoar pasti udah lebih berguna untuk mereka. Enggak perlu pula rumah-rumah budaya, ganti saja semua itu jadi pleygron, biar kita bisa bobo-bobo dan main-main dipepende mbak-mbak dan abang-abang. Tidak perlu selesai menulis, sebab Kafka pun sampai sekarang tidak selesai-selesai menyelesaikan novelnya, meskipun berkali-kali dicetak tetap juga tidak selesai-selesai. Yang kita perlukan cuma … kebahagiaan dunia-akherat, baby. Tak ada hasil prakarya yang buruk, soalnya semua sampah tapi jangan kuatir bisa didaur ulang dan ramah lingkungan menjadi enerji drink yang terbaharukan, tidak pula ada otak goblok, sebab semua goblok dan yang paling goblok cuma robot. Satu-dua ada yang jenius, biasanya tai dan bulu ayam. Dan itu masa lalu yang enggak move on-move on. After mas-mas motivator: Masa depan Indonesian literature adalah sudah pasti the future of kesusastraan Indonesia.

The Bridegroom Was a Dog, Yoko Tawada

Cerita tentang seorang puteri yang kawin dengan anjing, tak tertahankan membuat saya terseret ke novela ini. Saya akrab dengan cerita tersebut. Ya, Dayang Sumbi dan Si Tumang, anjingnya. Ayah dan ibu Sangkuriang dalam cerita rakyat Sunda. Saya bahkan mempergunakan dongeng tersebut, dengan modifikasi, di novel pertama saya. Dan kini saya menemukan seorang penulis Jepang (yang juga menulis dalam bahasa Jerman) menceritakan kisah yang sama dalam The Bridegroom Was a Dog (terbit pertama kali 1993). Saya tak tahu apakah Yoko Tawada, penulisnya, pernah mendengar dongeng Dayang Sumbi dan anjingnya atau tidak, tapi di novel tersebut ia menulis “… beberapa orang bertanya-tanya tidakkah Mitsuko Kimura telah menghabiskan waktunya di Asia Tenggara, atau bahkan sejauh Afrika …”, dan di bagian lain, ketika Mitsuko menerangkan salah satu orangtua muridnya, ia mengatakan “… tampaknya ia mengetahui segala hal menarik seperti lingkaran kehidupan buaya dan struktur rumah-rumah Indonesia …” Mitsuko Kimura adalah tokoh utama novela tersebut, seorang guru sekolah dasar yang menceritakan kisah puteri yang kawin dengan anjing kepada murid-muridnya. Gara-gara cerita tersebut (dan beragam ucapan-ucapan serta tingkah-lakunya), ia sering menjadi obyek desas-desus para ibu dari murid-muridnya. Jadi, menyinggung Asia Tenggara dan Indonesia, anggaplah Yoko Tawada pernah mendengar dongeng itu. Menarik, kan, cerita rakyat dari negeri jauh bisa memengaruhi penulis kontemporer dari negeri asing? Saya jadi ingat bertahun-tahun lalu, seseorang bertanya kepada teman saya sesama penulis, Dinar Rahayu, kira-kira begini: “Ketika banyak peneliti asing terpukau dan menulis tentang kebudayaan dan dongeng Indonesia, kenapa kamu malah menulis tentang mitologi-mitologi asing, tepatnya Skandinavia?” Saya selalu ingat jawabannya, karena saya suka sekali, “Kalau mereka menulis tentang kita, kenapa kita enggak boleh menulis tentang mereka?” Kembali ke novela ini, meskipun pendek, penuh dengan karakter-karakter yang misterius. Dan tentu saja juga menghasilkan rangkaian cerita yang misterius. Tentang orang-orang yang datang dan pergi dengan cara aneh. Pertama, tentu si guru sekolah yang diceritakan sebagai perempuan tiga puluhan yang tiba-tiba muncul dan membuka sekolah. Meskipun terasa aneh, tapi karena dia ramah, orangtua mempercayakan anak-anak mereka di bawah pengajarannya. Lalu muncul seorang lelaki yang tinggal di rumah si guru, bercinta dari waktu ke waktu, sampai ketahuan bahwa ia suami orang yang kabur sejak tiga tahun lalu. Ketika isterinya diberitahu, ia sama sekali tak terkejut dan menanggapinya biasa-biasa saja. Semuanya, semua keanehan itu, berawal dari gigitan anjing. Cerita yang ganjil, tampak seperti dongeng antah-berantah, tapi sekaligus terasa nyata terjadi di lingkungan urban, di satu sudut Tokyo. Tidak ada yang fantasi maupun magis dalam novela ini, tapi kesan ganjilnya tetap terasa. Suatu keganjilan yang barangkali akan mengingatkan kita pada kisah di novel-novel Kafka, terutama kisah mengenai K atau Joseph K. Perbedaannya, di novela ini kita tidak menemukan K atau Joseph K, sebab K atau Joseph K di novela ini tak lain adalah kita, pembaca. Kita masuk ke dunia cerita yang mengombang-ambing: kita mengerti kenapa itu terjadi, tapi pada saat yang sama, kita terus bertanya-tanya kenapa itu terjadi. Kenapa Mitsuko bisa menerima Taro di rumahnya, kenapa Taro bisa pergi dengan Toshio, kenapa anjing bisa kawin dengan seorang puteri, dan kenapa anak si puteri bisa dengan tolol menikahi ibunya?

“The Best Books I Never Wrote” (published by Stuff) is about 5 books I admire.

Tanya-Jawab: Apakah Kemampuan Menulis Saja Tidak Cukup untuk Menciptakan Karya Penting?

Bernard Batubara: Naguib Mahfouz adalah novelis yang karyanya dianggap kontroversial dan masuk daftar buruan kelompok Islam fundamentalis di negaranya. Orhan Pamuk sangat kritis dan diperkarakan oleh kelompok nasionalis di Turki ke meja persidangan gara-gara di sebuah wawancara sempat berbicara tentang pembantaian kaum Armenia pada masa pemerintahan Ottoman. Pramoedya Ananta Toer ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru karena karya-karyanya ditentang oleh pemerintah Orde Baru. Pertanyaan saya: Apakah hanya dengan menjadi ‘berbahaya’ seseorang dapat menjadi pengarang besar? Apakah kemampuan menulis saja tidak cukup untuk menciptakan karya penting dan meletakkan nama kita di dalam sejarah kesustraan, baik dalam negeri maupun dunia? Apakah tidak ada tempat di dunia kesusastraan bagi penulis yang ingin hidup biasa-biasa saja dan tenang-tenang saja?

Jika yang kamu maksud ‘berbahaya’ adalah bermasalah dengan penguasa atau masyarakat, ya jelas tidak harus begitu. Banyak penulis besar, dengan karya besar, hidup relatif biasa-biasa saja. Franz Kafka, jika kita membaca biografinya, lebih sering bermasalah dengan ayahnya, pekerjaannya, dan tunangannya, daripada dengan negara maupun masyarakat, tapi kita tahu pengaruhnya terhadap kesusastraan dunia bisa dikatakan sangat besar. Shakespeare dalam tingkat tertentu bahkan menikmati hidupnya sebagai penulis sekaligus selebritas, bisa dibilang kaya-raya dan diakui oleh kerajaan sehingga ia memperoleh gelar kebangsawanan. Hidupnya baik-baik dan tenang-tenang saja. Dan kita bisa sebut bahwa separuh penulis di dunia ini bernenek-moyang kepadanya. Dan Mo Yan, yang belum lama ini memperoleh Nobel Kesusastraan, saya kira juga menikmati hidup yang tenang-tenang saja. Memang ada karyanya yang pernah dilarang (The Garlic Ballads diterjemahkan melalui edisi Taiwan yang tidak disensor, seingat saya), tapi tetap saja ia bisa dibilang hidup tenang-tenang saja. Sebab kita tahu dia “pejabat” pemerintah dan hubungannya dengan kekuasaan cukup akrab. Daftar ini bisa sangat panjang, tentu. Hubungan tidak mesra antara penulis (dan intelektual secara umum) dengan kekuasaan dan masyarakat, selain itu, saya kira ada kaitan yang erat juga dengan faktor penerimaan lingkungan tertentu terhadap gagasan-gagasan baru ataupun yang berbeda. Ketika Jose Saramago menerbitkan The Gospel According to Jesus Christ, sudah jelas menimbulkan reaksi yang keras dari umat Katolik, tapi saya tak pernah mendengar ada “fatwa mati” ditujukan kepadanya, dan novel itu beredar dengan bebasnya. Hal ini berbeda ketika Salman Rushdie menerbitkan The Satanic Verses, yang kita tahu telah membuat penulisnya harus bersembunyi bertahun-tahun. Sebagai seorang muslim, saya menikmati novel itu, menganggapnya sebagai “inside joke” (sesuatu yang hanya bisa dinikmati oleh sesama muslim yang mengerti) tentang insiden ayat palsu yang diturunkan oleh setan, tanpa harus mengikis rasa hormat kepada Rasul (bahkan meskipun Rushdie bermaksud menghina, saya tak akan membiarkan diri saya terhasut olehnya). Jika semua muslim bisa menerima dengan cara seperti itu, ya barangkali Rushdie tak harus sembunyi ke mana-mana. Dan mari kita berandai-andai tentang Pamuk: seandainya ia penulis Amerika dan ia bilang, “Kaum kulit putih Amerika telah membantai orang-orang Indian hingga banyak suku-suku mereka punah,” apa yang akan terjadi? Saya yakin tak ada yang menggiringnya ke pengadilan. Saya tak bermaksud mengagung-agungkan orang Amerika, toh di bagian lain, mereka juga punya kekonyolannya sendiri. Dan tentang Pramoedya, dia relatif hidup tenang-tenang saja sebelum Soeharto berkuasa, dan baik-baik saja setelah Soeharto tumbang. Kita perlu bersyukur bahwa saat ini kita relatif bisa mengatakan banyak hal. Kita bisa bilang negara bertanggung jawab terhadap ratusan ribu (atau jutaan) simpatisan komunis yang dibantai. Kita juga bisa bilang, rakyat Papua berhak menentukan nasibnya sendiri. Meskipun ya, tampaknya kita masih tak akan aman sentosa berkeliaran di jalan dengan kaus bergambar palu dan arit. Yang perlu diingat, ada banyak penulis dibuang ke Pulau Buru bersama Pramoedya, tapi kenyataannya bisa dibilang hanya Pramoedya yang “dibaca”. Tapi mari kita bicara sesuatu yang lebih mendasar. Menurut saya, pada dasarnya semua penulis bisa dianggap berbahaya. Kenapa? Sebab tugas utama seorang penulis adalah menularkan gagasan dari dirinya ke orang lain. Dan gagasan yang tertanam ke pikiran orang lain, seringkali lebih permanen dan membahayakan melebihi virus yang menyusup ke tubuh. Tentu saja ini terlepas dari fakta bahwa ada gagasan yang sederhana dan ada gagasan yang kompleks, besar, revolusioner, aneh, dan macam-macam lainnya. Sebuah novel barangkali bisa mengubah seorang yang rasis menjadi toleran, sebuah puisi barangkali bisa mengubah sebaliknya, yang toleran menjadi homofobia, misalnya. Adakah yang lebih berbahaya daripada virus pikiran? Virus pikiran ini bisa berkembang dengan wajar di masyarakat yang bisa menerima gagasan baru dan perbedaan, dan menciptakan dialog yang sehat. Tapi di masyarakat atau komunitas yang tak siap, seringkali menciptakan benturan dan tak jarang menimbulkan kekerasan (penulis terpaksa eksil, dipenjara, dibunuh, karena gagasan mereka tak bisa diterima). Ketika benturan-benturan ini terjadi, hanya ada dua hal bisa dilakukan seorang penulis: tetap tegak dengan keyakinannya, atau merunduk dan menyerah kepada tekanan. Perbedaan keduanya akan menujukkan perbedaan kepribadian mereka, yang barangkali sedikit banyak juga memengaruhi kepada etos dan karya mereka. Sekali lagi, tentu saja seorang penulis bisa hidup biasa-biasa dan tenang-tenang saja, dan banyak contoh kehidupan seperti itu. Tapi di saat-saat tertentu, kita juga melihat ada penulis (dan kaum intelektual) menempuh tradisi Socrates, ketika ada yang harus dikatakan, mereka memilih untuk mengatakannya apa pun risikonya. Sekarang untuk pertanyaan tersisa, Apakah kemampuan menulis saja tidak cukup untuk menciptakan karya penting dan meletakkan nama kita di dalam sejarah kesustraan, baik dalam negeri maupun dunia? Saya ingin menjawabnya melalui analogi. Apakah kemampuan berenang saja tidak cukup untuk seekor ikan mencatatkan namanya di sejarah kelautan? Saya tak ingin menjawab dengan cukup atau tidak cukup, tapi satu hal jelas: ada miliaran ikan pandai berenang, seekor ikan harus “stand-out” untuk membuatnya terlihat. Dan percayalah, di dunia ini ada jutaan penulis yang bisa menulis bagus, mungkin jutaan yang lebih bagus dari kita. Dan ada jutaan karya yang bagus juga. Ini logika sederhana saja: di antara jutaan penulis yang bagus kemampuan menulisnya, apa yang bisa membuat seseorang dilihat/didengar? Saya rasa perbedaan mencoloknya terletak pada gagasan dan visi (termasuk gagasan/visi bagaimana sebuah cerita seharusnya ditulis), yang apa boleh buat, kadang-kadang membuat mereka terpaksa meletakkan dirinya dalam keadaan, yang kamu sebut “berbahaya”. Lagipula ujung-ujungnya, apa sih tujuanmu menulis? Ingin mencatat atau dicatat?

Esai

Selain membaca novel, cerpen, buku-buku sejarah dan filsafat, saya senang membaca esai. Esai tentang apa saja, meskipun esai filsafat dan sastra lebih sering menarik minat saya. Bagi saya, esai merupakan perkawinan unik antara disiplin berpikir, keberanian berspekulasi, dan gaya menulis. Banyak penulis kontemporer merupakan esais-esais cemerlang. Roberto Bolaño bagi saya tak hanya diingat sebagai penulis The Savage Detectives atau Amulet, tapi juga sebagai penulis esai keren “Literature+Ilness=Ilness”. Jorge Luis Borges, selain dikenal sebagai cerpenis penting abad kedua puluh (pengaruh puisi-puisinya juga tak bisa dianggap remeh), juga dikenal sebagai “profesor” karena esai-esai sastranya (salah satu buku esainya yang saya sukai berjudul Seven Nights). Seperti cerpen-cerpennya, esai-esai Borges sering memperlihatkan spekulasi-spekulasi filosofis dengan obyek karya sastra. Misalnya dalam esai berjudul “The Labyrinths of the Detective Story and Chesterton”, ia tanpa sungkan membuka esainya dengan satu spekulasi: bahwa orang Inggris hidup dengan dua hasrat yang tak nyambung, yakni gairah aneh untuk bertualang dan gairah aneh untuk legalitas. Saya rasa, esai semacam itu tak hanya membutuhkan ketekunan membaca, ketelitian mencerna dan menganalisa, tapi juga keberanian menarik kesimpulan. Bentuk esai yang cenderung bebas, tentu menarik minat banyak penulis sastra untuk merambah genre ini, di mana mereka bisa mengguratkan gaya mereka di sana. Tapi tentu saja gaya tak hanya melulu monopoli para penulis sastra. Banyak filsuf juga menulis esai-esai mereka dengan gaya. Sudah lama kita kenal filsuf macam Marx maupun Nietzsche juga sebagai para penggaya dalam menulis. Lebih dari itu, esai juga menarik karena kadang-kadang ia merambah tema-tema yang tak umum, yang barangkali terlalu biasa untuk dijadikan bahan traktat filsafat yang tebal dan berat. Dalam esai, misalnya, Borges bisa menulis hubungan antara dinding raksasa Cina dan pembakaran buku oleh kaisar yang sama dalam “The Wall and the Books”. Beberapa waktu lalu, saya membeli buku tipis Arthur Schopenhauer hanya karena tema dan judulnya: The Horrors and Absurdities of Religion. Isinya beberapa esai mengenai agama, tentu dengan horor dan keabsurdannya. Coba bayangkan judul-judul lainnya yang menurut saya sama gokil, dan kecil kemungkinan ditemukan di buku-buku filsafat yang lebih “serius”, tebal dan berat: Fear and Trembling (Søren Kierkagaard), atau Of the Abuse of Words (John Locke). Apa sih untungnya membaca esai-esai semacam ini? Bagi saya, selain karena tema-temanya cenderung lebih sederhana dan unik, di sisi lain esai (yang baik) tak pernah kehilangan daya untuk merangsang nalar kita. Seperti membaca cerpen-cerpen yang bagus kita merasa yakin bahwa segala sesuatu bisa menjadi cerita yang menarik, membaca esai-esai yang keren cenderung membuat kita yakin bisa memikirkan segala sesuatu dan memberinya makna. Esai bisa membebaskan kita dari cengkeraman karya-karya akademik yang cenderung garing, yang meneror kita dengan judul-judul super semacam: “Wacana Pascakolonial dalam Karya Pramoedya Ananta Toer”, atau “Perspektif Feminis dalam Novel Madame Bovary”, atau “Kehendak Bebas Menurut Franz Kafka”, yang barangkali isinya tak secerdas dan semenggairahkan esai “The Storyteller” Walter Benjamin yang mengupas cerpen-cerpen Nikolai Leskov. Esai merupakan wilayah kreatif, wilayah main-main tanpa harus kehilangan hasrat intelektual. Wilayah penulisan penuh gaya tanpa kehilangan bobot. Ah, tiba-tiba saya membayangkan esai-esai gokil semacam, “Apa yang Dipikirkan Kucing Ketika Kucing Memikirkan Murakami?”, atau “Apa yang Terjadi Jika Suatu Pagi Seekor Kecoa Terbangun dan Menemukan Dirinya Berubah Menjadi Franz Kafka?”, atau “Hemingway Membunuh Hemingway”. Esai. Hal-hal seperti itu bisa ditulis dalam bentuk esai.

The Double, Dostoyevsky

Ketika pertama kali memutuskan pindah ke Jakarta (dari Yogya) tahun 2003, saya cuma berbekal beberapa potong pakaian yang bisa saya jejalkan ke tas punggung saya, serta dua novel dan satu buku tulis (yang kemudian saya pakai untuk menulis Lelaki Harimau). Salah satu novel itu berjudul The Idiot, karya Fyodor Dostoyevsky, novel pertama dia yang saya baca. Alasan saya membawa buku itu sebenarnya sederhana saja: bukunya tebal, sehingga saya tak perlu kuatir kehabisan bacaan di minggu-minggu pertama di ibukota. Bahkan sejak itu, meskipun gaya naratifnya senantiasa lurus dan dalam banyak hal berirama lambat, novel-novel Dostoyevsky selalu memberi rasa yang campur-aduk. Saya merasakan itu kembali di hari-hari ini ketika membaca The Double, yang sebenarnya saya baca sambil lalu: sebelum atau sejenak setelah tidur, duduk di kakus, di jeda setengah main siaran langsung sepakbola, sambil makan, sebelum akhirnya saya selesaikan sambil minum kopi di café. Dua bab pertama membawa saya ke dunia Gogolian (Gogolesque?): St. Petersburg dan sosok seorang pegawai yang tampak menyedihkan (tidak semiskin tokoh dalam “The Overcoat” Gogol, tapi kita tak bisa menahan diri untuk tak bersimpati kepada keduanya dengan cara yang sama). Murung dan cenderung depresif. Tapi berikutnya kita menemukan sesuatu yang Kafkaesque (tentu saja ketika novel ini terbit, 1846, belum ada Kafka): di bawah hujan badai, Golyadkin si tokoh utama, bertemu dengan seseorang yang sosok-perawakannya persis seperti dia, bahkan juga nama panggilan maupun nama lengkapnya! (Saya sampai bergumam menirukan gaya narasi Kafka: “Sesuatu yang aneh pasti telah terjadi, Mr Golyadkin bertemu dengan seorang bernama Mr Golyadkin.”) Misterius dan pada saat yang sama mengancam. Keadaan Golyadkin sendiri sebagai bujang dan pegawai menengah, dan simpati kita kepadanya, sejak awal berkali-kali bisa membuat kita ikut marah. Ia ditolak mengikuti pesta dansa, sementara teman-teman kantornya berkumpul di sana penuh kegembiraan. Ia tak cuma introvert, tapi juga berkomunikasi dengan buruk, istilah anak sekarang: tidak gaul. Ia selalu tak mampu mengutarakan maksudnya dengan baik, kepada atasan maupun bawahan. Ini membuatnya seringkali menjadi obyek olok-olok dan tertawaan, dan ujung-ujungnya membuat dia tersingkir dari pergaulan. Dan ketika ia mencoba mengubah dirinya, para birokrat itu dengan kejam menolaknya. Meskipun begitu, di sisi lain, novel ini juga komikal. Tanpa mencoba melucu, banyak hal bisa membuat kita tertawa, meskipun dengan getir. Beberapa kali si Mr Golyadkin yang baru (sering disebut junior, atau bayangkan saja sebagai Mr Golyadkin palsu) mengerjainya. Ketika si tokoh asli makan di restoran, diam-diam si palsu juga makan. Kasir restoran menganggap mereka orang yang sama, dan si asli harus membayar lebih (dengan kebingungan, karena ia merasa makan sedikit). Tapi yang paling lucu adalah ketika ia menyuruh pelayannya untuk pergi ke kantornya, menanyakan alamat Mr Golyadkin, dan mengantarkan surat untuknya. Bahkan meskipun kita bisa menebak si pelayan akhirnya balik ke rumah tuannya, si Mr Golyadkin yang asli, tak bisa tidak saya tertawa. Dan seperti kata pepatah, dari kemalangan akan membawa ke kemalangan yang lain. Sekali bikin kekacauan, akan bertemu dengan keadaan yang lebih kacau. Itulah yang terjadi pada tokoh kita ini. Itu bagian paling menyedihkan. Ia merasa ada yang salah dengan hidupnya, terutama setelah kemunculan si kembarannya itu. Tapi tak ada orang yang tahu masalahnya, atau tak ada yang mau tahu. Dan jika ia mencoba bicara dengan siapa pun, mereka tak mau mendengar, atau lebih menyedihkan: ia tak mampu menjelaskan apa masalahnya. Seperti saya bilang, novel ini benar-benar mengaduk-aduk perasaan. Sedih, lucu, penasaran, tapi akhir dari semua itu adalah: horor. Saya tak tahu bagaimana para kritikus melihat novel ini, tapi saya melihat di novel ini seorang manusia gagal mempertahankan dirinya sebagai manusia individu, maupun sebagai manusia secara sosial. Dan bagian horornya adalah: ia tak tahu kenapa itu terjadi pada dirinya, tapi ia melihat itu terjadi pada dirinya, merasakannya, perlahan demi perlahan.

Older posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑