Eka Kurniawan

Journal

Tag: François Rabelais

Gagasan Kecil Tentang Penerjemahan dari dan ke Bahasa yang Sama

Karena memutuskan untuk lebih banyak membaca karya-karya klasik yang telah berumur paling tidak lebih dari satu abad, saya mulai menemukan buku-buku dengan berbagai versi terjemahan. Tentu saja ini menguntungkan sebagai pembaca, saya bisa memilih dengan berbagai pertimbangan. Meskipun begitu, kadang-kadang saya malah membaca lebih dari satu versi. Misalnya Don Quixote. Pertama kalinya saya membaca terjemahan Bahasa Inggris karya Pierre Antoine Motteux (meskipun terbit pertama kali sekitar 1700, banyak diterbitkan dan karenanya murah. Itu alasan saya dulu membelinya). Beberapa tahun yang lalu, terbit terjemahan baru Don Quixote karya Edith Grossman. Bagi pembaca sastra Amerika Latin, siapa yang tak kenal Edith Grossman? Ia melanjutkan kerja Gregory Rabassa untuk menerjemahkan karya-karya Márquez yang lebih baru, belum termasuk karya-karya penulis Latin lainnya. Saya tak bisa menahan diri untuk tak membaca kembali Don Quixote dalam terjemahan baru. Hal yang sama terjadi pada Arabian Nights (atau kita kenal sebagai Hikayat Seribu Satu Malam). Ada satu terjemahan klasik karya Richard F. Burton (pertama kali terbit tahun 1885, sangat disukai oleh Borges). Hampir sebagian besar penulis Barat membaca Arabian Nights dari versi Burton ini, yang juga merupakan versi yang saya baca (bukan yang pertama, sebab saya pernah membaca versi sederhana dalam Bahasa Indonesia, yang saya lupa terbitan mana). Sebenarnya versi ini sangat lemah dalam aspek orisinalitas. Burton memakai sumber yang berbeda-beda untuk terjemahannya. Beberapa dekade yang lalu, muncul edisi “kritis” (melalui penelitian akademis yang ketat), yang dikenal sebagai “versi teks Leiden” yang dikurasi oleh Muhsin Mahdi. Terjemahan Bahasa Inggris versi ini dilakukan oleh Husain Haddawy (saya rasa terjemahan Bahasa Indonesia ada juga yang mendasarkan versi ini). Saya menyukai versi Husain Haddawy (Volume 1 bisa dibilang yang asli, Volume 2, bisa dibilang untuk menyenangkan hasrat pembaca meskipun cerita-cerita di dalamnya bukan bagian dari Arabian Nights, seperti dongeng tentang Sinbad, dll). Bahasa Inggris Haddawy terasa lebih enak dibaca, tentu karena lebih modern, daripada Burton. Tapi saya masih sering membaca Burton juga karena alasan sederhana: ada cerita-cerita yang ada di Burton tapi tak ada di Haddawy (karena metodologi Burton lemah, sering memasukkan cerita yang bukan Arabian Nights, tapi malah membuatnya jadi menarik), seperti kisah yang saya sukai “The Ruined Man Who Became Rich Again Through a Dream”. Baru-baru ini penerjemah penting Bahasa Jerman ke Inggris, Susan Bernofsky merilis versi baru The Metamorphosis Franz Kafka. Saya lupa sudah baca berapa versi novela ini. Saya bahkan pernah menerjemahkannya (yang saya rasa kualitasnya menyedihkan). Saya tak bisa menahan diri, saya pasti akan membaca versi ini begitu bukunya beredar di pasar. Untuk karya-karya dari Rusia, pasangan penerjemah Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky menjadi bintang terjemahan Bahasa Inggris versi baru dalam belasan tahun terakhir. Saya membaca beberapa karya Gogol dan Nikolai Leskov melalui terjemahan baru mereka (saya menunggu dan berharap mereka mau menerjemahkan kembali Gorky). Dari pengalaman kecil ini saya berpikir, enak sekali ya, jadi pembaca karya-karya terjemahan (terutama Bahasa Inggris, sebenarnya). Ada banyak pilihan dan untuk karya-karya agung, selalu ada versi terjemahan yang segar dalam bahasa yang modern. Tentu selain faktor-faktor kesalahan terjemahan, salah metodologi atau salah sumber, faktor “keusangan” bahasa menjadi sangat penting. Bahasa selalu tumbuh dan berkembang, dengan begitu karya terjemahan juga seringkali memerlukan pembaharuan untuk mengikuti target pembacanya. Bahkan penulis-penulis yang masih hidup pun, beberapa di antaranya memperbaharui terjemahan karyanya (dengan beragam alasan). Misalnya Milan Kundera pernah menyibukkan diri dengan merevisi hampir seluruh karyanya dalam terjemahan Bahasa Inggris. Orhan Pamuk juga mengeluarkan The Black Book dalam versi terjemahan baru. Sekali lagi, kita sebagai pembaca dimanjakan dalam perkara ini. Saya misalnya tak perlu membaca The Divine Comedy dalam terjemahan kuno, sebab ada terjemahan baru yang segar karya Clive James. Atau karya Ryūnosuke Akutagawa (Rashomon and Seventeen Other Stories) yang diterjemahkan kembali oleh salah satu penerjemah Murakami, Jay Rubin. Sialnya, kemewahan ini tak berlaku justru untuk pembaca bahasa asli karya tersebut ditulis. Orang Spanyol, misalnya, tetap membaca Don Quixote dalam Bahasa Spanyol Cervantes abad ke-17, sebagaimana orang Prancis membaca Pantagruel François Rabelais dengan Bahasa Prancis abad ke-18. Dalam kasus kita, kita tetap akan membaca Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat Asrul Sani dalam Bahasa Indonesia generasi 45 (yang untuk banyak anak muda, terasa jadul dan menjadi tembok penghalang). Saya jadi memikirkan gagasan sinting ini: bagaimana jika karya-karya klasik itu diterjemahkan ke bahasa yang sama tapi lebih modern? Tentu kita tahu, banyak beredar karya-karya klasik yang ditulis ulang (dalam bahasa yang sama) agar lebih mudah dibaca. Tapi biasanya itu versi ringkas, atau versi “enak dibaca” untuk para pemula (anak sekolah yang sedang belajar), atau bahkan versi penyederhanaan. Bukan. Maksud saya bukan itu. Maksud saya tetap terjemahan, yang ketat, dengan kualitas yang tinggi, tapi modern. Tidak boleh disadur. Proses yang sama seperti menerjemahkan dari Prancis ke Inggris atau dari Rusia ke Spanyol, tapi kali ini dari Spanyol ke Spanyol atau dari Rusia ke Rusia. Bayangkan saja suatu ketika ada edisi Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat yang “diterjemahkan ke Bahasa Indonesia modern oleh A.S. Laksana”, misalnya. Atau, Don Quixote yang “diterjemahkan ke Bahasa Spanyol modern oleh Javier Marías”. Sekali lagi, gagasan ini mungkin tidak baru, dan terdengar seperti melecehkan karya-karya agung, tapi kenapa tidak? Paling tidak, bagi saya, itu terdengar menyenangkan dan sedikit menantang. UPDATE: Baru membaca soal ini, bahwa novel (konon novel pertama di dunia) Tales of Genji karya Murasaki Shikibu dari abad 11, “diterjemahkan” ke Bahasa Jepang abad 20 oleh penyair Akiko Yosano.

Droll Stories, Balzac

Pendongeng itu bernama Honoré de Balzac, saya menemuinya di satu toko buku loak di satu masa. Ia hendak mendongengkan beberapa cerita yang disebutnya sebagai Droll Stories (atau Contes Drolatiques). “Cerita-cerita jenaka? Apa itu jenaka, Tuan Balzac?” tanya saya penasaran. Dengan tergagap ia berkata, “Nggg, pokoknya aku ingin seperti Master Rabelais. Ya, François Rabelais dan bikin dongeng-dongeng pantagruelist (Pantagruel, salah satu mahakarya Rabelais) seperti dia, sebab dialah pangeran segala kebijaksanaan, dan raja komedi.” Baiklah, kata saya. Mulailah mendongeng. Ia bercerita tentang pastor muda bernama Philippe de Mala, yang jatuh cinta kepada La Belle Imperia, yang ternyata gundik banyak pejabat penting. Saya jadi ingat satu bagian di novel Siddhartha karya Herman Hesse, ketika Siddhartha jatuh cinta kepada seorang pelacur. “Ah, apanya yang lucu? Kau hanya mencoba nyinyir saja, Tuan,” kataku. Balzac kembali tergeragap. Sialan, barangkali begitu pikirnya, anak kecil ini berani-beraninya berkomentar begitu. Ia kemudian mendongengkan cerita lain. Tentang dosa yang ringan. Hmm, menarik, pikir saya. Itu benar-benar dongeng yang menarik, dan berhasil membuat saya tersenyum. Juga membuat saya semakin yakin akan satu hal: cerita yang baik, pada dasarnya selalu memiliki kerangka yang sederhana. Kerangka tiga babak. Ada masalah. Ada konflik. Ada penyelesaian. Sebuah novel yang panjang, saya rasa hanya merupakan perkembangan dari kerangka tiga babak tersebut. Permasalahannya barangkali dikembangkan menjadi beberapa masalah. Atau lingkaran masalah-konflik-penyelesaian berkembang menjadi dua atau lebih putaran. Kurang lebih sama seperti putaran dialektika Hegelian. Dongeng tentang dosa yang ringan ini merupakan wujud pola yang sederhana tersebut, dan karena permasalahan-konflik serta penyelesaiannya kuat, menjadi sangat menarik. Balzac mengisahkan tentang Messire Bruyn, bangsawan yang sudah berumur tapi masih bujangan. Ia butuh istri. Itu masalahnya. “Dan apalah artinya sebuah kastil tanpa nyonya rumah? Sebagaimana apalah arti sebuah bandul tanpa loncengnya?” (kutipan ini mengingatkan saya pada satu paragraf di Don Quixote yang pernah saya kutip untuk novel saya: “Apalah artinya seorang ksatria tanpa seorang nyonya?”). Bruyn akhirnya jatuh cinta kepada gadis muda (gipsi, Moor) dan mereka pun menikah. Konflik terjadi di sini: Blanche, gadis muda itu, menginginkan anak (saya rasa lebih dari sekadar anak, ia ingin ditiduri), yang tak bisa diberikan oleh suaminya yang tua. Suaminya meminta ia sabar, “Tunggu sampai aku mati dan kau menjadi perempuan bebas, Sayangku. Dan jagalah kehormatanku,” demikian kira-kira kata suaminya. Tapi hasrat Blanche memiliki anak terus menggelora. Ia pun menemui pastor, antara mencoba membuat pengakuan dan mencari nasihat. “Bisakah aku seperti Maria Sang Perawan? Tetap suci tapi punya anak?” tanyanya. Ah, kata si pastor. Itu tak mungkin. Itu hanya terjadi sekali saja di dunia ini. Di titik inilah, si pastor (saya rasa agak sinting), mencoba berempati pada dilema Blanche, menceritakan kisah Saint Lidoire, yang dalam satu tidur lelap, ditiduri oleh orang jahat hingga bunting. “Karena ia tak menikmatinya (dibuat miring sengaja oleh saya), dosanya ringan saja.” Nah, Blanche mulai memikirkan bagaimana ia bisa punya anak dengan dosa ringan. Bahkan tanpa perlu membaca bagaimana penyelesaiannya, saya sudah mulai cengar-cengir dengan kisah tersebut. “Baiklah, Tuan Balzac. Anda memang lucu. Tapi saya ingin mendengar kisah-kisah lainnya.” Droll Stories merupakan kumpulan cerita berisi tiga puluh cerita. Awalnya diterbitkan secara terpisah dalam tiga volume (1832, 1833 dan 1837). Agak mengejutkan bahwa buku ini sangat jarang diterbitkan kembali, jauh berbeda dengan dua buku lain karya Balzac, Pére Goriot dan Eugénie Grandet. Saya beruntung memiliki buku ini, dari kebiasaan saya mengadopsi buku bekas dari toko buka loakan. Sebenarnya istilah “adopsi buku” mungkin kurang tepat. Jika penulis melihat buku yang ditulisnya sebagai anak rohani, saya rasa pembaca tak bisa melihat buku yang dibacanya sebagai anak, tidak pula sebagai anak adopsi. Dari sudut pandang pembaca, buku saya rasa lebih tepat disebut sebagai inang pengasuh. Seperti kebanyakan anak, kita seringkali tak bisa memilih inang pengasuh kita. Jika beruntung, kita memperoleh buku-buku dari penulis-penulis hebat sebagai inang pengasuh. Jika buntung, kita diberi inang pengasung berupa buku-buku sampah oleh orangtua kita dan menjadi bebal dan pemalas karenanya. Hal baiknya, bersama berlalunya waktu, kita akhirnya bisa memilih sendiri inang pengasuh yang baik (kecuali kita terlanjur malas). Kita membelinya di toko buku, mengadopsinya dari toko loakan, atau meminjamnya dari perpustakaan. Baiklah, seperti biasa saya agak melantur. Agar sedikit tersambung, saya akan katakan: saya mengadopsi Droll Stories, sebuah buku sampul tebal terbitan The Modern Library (tanpa tahun terbit, melihat bentuk sampulnya, terbit sekitar 1939-1962. Tapi catatan penerjemahnya ditulis Januari, 1874, sic! ), dan membiarkan buku ini menjadi inang pengasuh saya selama beberapa hari di awal tahun 2014.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑