Eka Kurniawan

Journal

Tag: F. Scott Fitzgerald

Djuna Barnes dan Bagaimana Bertahan dalam Cinta yang Menderitakan

Di Paris di antara dua perang, di antara para raksasa kesusastraan berkelamin lelaki seperti James Joyce, Ernest Hemingway, F. Scott Fitzgerald, dan Ezra Pound, ada satu perempuan penulis yang para pembaca sastra serius semestinya tak melewatkan: Djuna Barnes. Saya terpikir untuk sedikit menulis tentangnya, setelah dalam satu wawancara, saya diingatkan betapa sedikit saya membaca karya-karya para perempuan. Tentu saja saya sempat mengelak, bahwa kenyataannya kesusastraan dunia memang disesaki para lelaki dan sastra yang maskulin. Meskipun begitu, tak ada salahnya dalam beberapa jurnal ke depan, saya ingin menengok beberapa perempuan penulis yang sempat saya baca, dan barangkali menarik untuk dibagi. Novelnya yang paling terkenal, Nightwood, bukanlah jenis novel yang gampang dibaca. Disebut-sebut sebagai salah satu karya klasik dalam gerakan kesusastraan modernis (sebagaimana Finnegans Wake James Joyce), novel ini juga merupakan salah satu karya klasik dalam kesusastraan lesbian. Seperti judul yang saya pergunakan di jurnal ini, Nightwood bisa disederhanakan sebagai “bagaimana bertahan dalam cinta yang menderitakan”. Oh, tentu saja novel ini tak sesederhana itu, dan sekali lagi, ini bukan jenis bacaan yang gampang. Bercerita tentang perempuan bernama Robin Vote, yang meninggalkan seorang suami (seorang yang mengaku sebagai Baron bernama Felix, kenyataannya seorang Yahudi) setelah memberinya anak (Guido), dengan mengatakan, “Aku tak menginginkan ini.” Ini yang dimaksud adalah, ia tak menginginkan anak, tak menginginkan keluarga, tak menginginkan cinta mereka. Intinya ia tak menginginkan hidup yang dijalaninya dalam keluarga tersebut. Ia keluar rumah dan jatuh ke pelukan seorang perempuan bernama Nora, sebelum “meninggalkannya” dan berhubungan dengan perempuan lain bernama Jenny. Terlihat seperti kisah yang sederhana, dan memang kisahnya sederhana. Yang rumit (dan membuat novel ini menarik, dan saya rasa membuatnya istimewa), adalah bagaimana kisah sederhana tersebut dibawakan dengan cara yang dalam tingkat tertentu menjadi puitis. Tidak, yang saya maksud dengan “puitis” bukan dalam makna Barnes mempergunakan banyak bahasa berbunga-bunga (yang umum bisa ditemukan dalam banyak novel kita), tapi bagaimana ia memeriksa setiap peristiwa, setiap impresi, menjadi semacam epifani. Bagaimana setiap kejadian, setiap ungkapan perasaan, bisa dibawa ke satu analogi yang menurut saya tetap menyegarkan meskipun novel ini terbit pertama kali tahun 1937. Apa yang saya maksud sebagai puitis adalah, bayangkan setiap peristiwa, setiap analogi dan epifani di novel ini, sebagai baris-baris dalam puisi. Seperti yang saya suratkan dalam judul, novel ini terutama dilihat dari sudut pandang penderitaan Felix dan Nora dalam hubungan cintanya dengan Robin. Ada satu sosok yang saya pikir berada di atas mereka semua, menjadi semacam penelaah atau cermin pantul, seorang dokter bernama Matthew. Melalui monolog dan percakapan si dokter inilah, kita kemudian bisa memeriksa bagaimana kedua orang ini bertahan dalam cinta yang menderitakan. Bagaimana Felix dan Nora tetap mencintai Robin, bahkan meskipun Robin selalu meninggalkan mereka (dan sesekali bisa muncul dalam situasi yang tak bisa ditolak). “Baronin,” kata Felix, “Selalu mencari seseorang untuk memberitahu dia bahwa dirinya inosens.” Dengan kata lain, Robin (si Baronin) merupakan orang yang terus berjalan, mencari konfirmasi, dan tak mungkin ditahan di dalam rumah. Bahkan meskipun ia ditahan di rumah, saya bayangkan ia terus bertanya kepada suaminya, “Kau mencintaiku? Aku cantik? Aku baik?” dan sang suami harus bertahan dalam pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Satu analogi yang terus terbayang oleh saya diceritakan oleh Nora. Robin sekali waktu memberinya boneka. “Ketika seorang perempuan memberikan boneka kepada seorang perempuan, itu hidup yang mereka tak bisa miliki, anak mereka, suci dan profan,” kata Nora. Tapi betapa hancurnya Nora, ketika ia tahu Robin juga memberikan boneka yang sama ke perempuan lain (Jenny). Apa boleh buat, cinta dan kebahagiaan pada dasarnya bukan hal yang sama. Saya rasa si dokter menyiratkan hal itu dalam monolognya. Jangan mengharapkan kebahagiaan dalam cinta, itu tidak seperti rasa manis dalam gula. Cinta tak selalu memberi kebahagiaan, sebagaimana seseorang bisa bahagia tanpa cinta. Itu sesederhana sesuatu yang berbeda. Dan orang-orang ini, Felix dan Nora, bisa menjadi contoh bagaimana ada manusia yang terus bertahan dalam cinta yang menderitakan, bahkan berkorban untuk itu. Entahlah, apakah itu sejenis ketololan atau bukan. Selain membaca novel ini, saya pernah membaca potret singkat Barnes yang ditulis Javier Marías di Written Lives, dan saya merasa kehidupan Barnes sendiri kurang-lebih menyerupai kehidupan Robin (meskipun dalam novel ini, kita bisa melihat simpati si penulis justru ke para “korban” Robin). Dalam potret itu Marías menulis bahwa, beberapa orang yang mengunjungi dia dan menghabiskan berjam-jam percakapan, selalu berakhir dengan sakit kepala. Saya rasa, jika Anda sakit kepala membaca novel ini dan memikirkan hubungan tokoh-tokohnya, itu pun bukan hal yang mengejutkan.

Senyap yang Lebih Nyaring

Tugas seorang penulis, dan intelektual secara umum, adalah bersuara. Tapi sejarah memperlihatkan, ada kalanya penulis memilih pesan bisu. Satu waktu, Gabriel García Márquez dan Mario Vargas Llosa pergi menonton film di bioskop. Entah apa yang terjadi di dalam, keduanya terlibat adu jotos. Kita hanya tahu melalui satu foto terkenal di mana Márquez keluar dari bioskop sudah dalam keadaan mata membengkak. Sampai akhir hayatnya, Márquez memilih bisu tentang apa yang terjadi, demikian pula Llosa sampai hari ini. Ada yang bilang itu menyangkut pilihan politik mereka (Márquez dikenal sebagai orang kiri, Llosa dari kiri kemudian menjadi kanan-liberal), tapi ada juga yang bilang itu urusan perempuan belaka. Tak ada yang tahu. Kedua peraih Nobel itu memilih bisu. Seumur hidup mungkin tak akan ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan barangkali itu lebih baik. Kebisuan yang paling “mengharukan” bagi saya tentu saja kebisuan Albert Camus di tahun-tahun terakhir hidupnya, terutama menyangkut perseteruan dan pertengkarannya dengan Jean-Paul Sartre, orang yang pernah menjadi sahabat dekatnya. Camus tak hanya berhenti bicara dengan Sartre, juga berhenti menulis tanggapan secara langsung, dan tak juga bicara tentang Sartre dengan orang lain secara terang-terangan. Kita tahu pertengkaran mereka dipicu oleh dua hal: perang Alzajair dan dukungan Sartre untuk Uni Sovyet. Kita tahu, Sartre yang pada dasarnya “intelektual belakang meja”, dari keluarga borjuis Paris, merupakan pendukung komunisme Sovyet dan perjuangan Aljazair membebaskan diri dari koloni Prancis (dengan kekerasan). Di lain pihak, ironinya, Camus yang merupakan orang lapangan, yang bergerilya dan menerbitkan pamflet bawah tanah, si anak kere proletar, tidak mendukung Sovyet dan perang Aljazair dianggapnya hanya membuat rakyat Aljazair lebih sengsara (ia lahir di sana). Kita tahu pertengkaran mereka demikian meruncing hingga akhirnya Camus “ngambek” dan tak mau bicara lagi dengan Sartre. Jika bermain Facebook dan Twitter, pasti mereka sudah unfriend dan unfollow. Ada tulisan Sartre yang mengharukan mengenai kebisuan Camus, yang ditulisnya sebagai obituari setelah Camus meninggal dalam kecelakaan mobil. “Enam bulan lalu, atau bahkan kemarin, kami bertanya-tanya, ‘Apa yang akan ia lakukan?’” tulis Sartre. Ia mengakui mereka bertengkar, dan menghormati kebisuan Camus. Tapi itu tak menghalangi Sartre untuk terus bertanya-tanya, buku apa yang sedang dibaca Camus. Jika ia membaca koran, ia bertanya kepada diri sendiri, apa komentar Camus mengenai topik ini? Kadang ia juga mengaku, kebisuan Camus menyakitkan. Ia yakin suatu hari Camus akan bicara, akan berubah sebagaimana dunia berubah. Tapi Sartre salah. Camus tetap membisu hingga kecelakaan mobil menghentikan hidupnya. Kebisuannya terdengar menjadi sesuatu yang nyaring, dan saya rasa menggema panjang bahkan hingga hari ini. Saya baru membaca sepotong biografi, sejenis kesenyapan dan kebisuan lain dari seorang penulis bernama Djuna Barnes. Tinggal di Paris, di lingkaran para penulis semacam Joyce dan Pound dan Hemingway dan Fitzgerald, ia dikenal sebagai orang yang selalu diam di kerumunan, meskipun mereka juga mengakuinya sebagai “perempuan paling brilian di masanya”. Pamornya yang cemerlang, tapi kebisuannya yang misterius, bahkan membuat dua perempuan penulis yang memujanya “menderita”: Anaïs Nin dan Carson McCullers. “Senyap membuat pengalaman melangkah lebih jauh, dan, ketika itu mati, memberinya martabat sebagaimana terhadap sesuatu yang kita sentuh dan tak lenyap.” Saya suka kutipannya, dan membaca biografi dialah yang membuat saya teringat kebisuan-kebisuan lain dari penulis lain. Saya juga jadi teringat jurnal yang saya tulis beberapa bulan lalu: di tengah kebisingan, ketika semua orang bisa bersuara, apa tugas penulis? Jawaban saya saat itu dan saat ini tetap: diam. Ada kalanya kita memang harus diam. Tutup mulut dan berpikir lebih panjang. Sebab senyap seringkali memberi pesan yang lebih nyaring dari apa pun. Selamat Natal.

Apa Sih, yang Dilakukan Para Penulis Hebat?

Saya kadang-kadang bertanya seperti itu. Apa sih, yang membuat mereka hebat? Apa yang bisa kita lakukan jika ingin seperti mereka? Saya tak memiliki kesempatan untuk bertanya kepada para penulis hebat favorit saya: Hamsun, Gogol, Melville, Kawabata, Borges, dan lain-lain. Bahkan sekiranya mereka masih hidup dan saya berkesempatan bertanya, saya mungkin terlalu jengah untuk bertanya. Jadi apa yang bisa saya lakukan hanyalah sedikit menduga-duga, ya, dengan cara mencari tahu apa yang mereka lakukan dalam hidupnya. Tentu saja selain menulis karya-karya hebat itu. Pertama, tentu saja karena mereka banyak membaca. Mereka pembaca-pembaca kelas berat. Tengok Borges: saya curiga ia membaca hampir semua buku di perpustakaan tempatnya bekerja, hingga di masa tua matanya nyaris buta. Yang jelas, ia membaca karya-karya klasik Inggris. Sebenarnya tak cuma Inggris. Jika kita membaca cerpen-cerpennya, kita tahu ia membaca sastra dari mana-mana. Salah satu buku favoritnya adalah Alf Layla wa Layla, atau kita mengenalnya sebagai Hikayat Seribu Satu Malam. Atau coba baca wawancara beberapa penulis di The Paris Review. Saya sering terbengong-bengong melihat luasnya bacaan mereka. Atau baca buku kumpulan esai Roberto Bolaño, Between Parenthesis, ia membaca tak hanya sesama penulis (berbahasa) Spanyol, tapi juga membaca Cormac McCarthy, misalnya. Berapa banyak buku yang sudah kamu baca? Klasik dan kontemporer? Tak hanya dari kesusastraan negerimu sendiri? Jika ingin sehebat Borges atau yang lainnya, saya rasa kamu harus membaca segila mereka. Kedua, menerjemahkan. Menerjemahkan, tak hanya membuat pengetahuanmu atas bahasa lain bertambah, tapi sekaligus mengajarimu menulis secara langsung dari penulis yang kamu terjemahkan. Kamu mengikuti jejak sang penulis, kata per kata, kalimat per kalimat, dengan bahasamu sendiri. Pada saat yang sama, kamu tengah mengasah kemampuan menulismu, ya, dalam bahasa yang kamu pergunakan. Murakami merupakan seorang penerjemah yang tekun. Ia menerjemahkan novel Raymond Chandler ke Bahasa Jepang, salah satunya. Juga menerjemahkan novel The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald. César Aira, yang novel-novelnya belakangan saya gemari, juga seorang penerjemah (sampai satu titik, bisa dibilang profesinya). Kembali ke Borges: novela Metamorfosa Kafka yang dibaca pertama kali oleh García Márquez merupakan edisi Spanyol yang diterjemahkan oleh Borges. Tak usah jauh-jauh, novelis terbaik kita, Pramoedya Ananta Toer, juga menerjemahkan banyak karya penulis luar: Steinbeck, Tolstoy, Saroyan. Ketiga, tak hanya menulis cerita, novel atau puisi, tapi tulis juga pandangan-pandanganmu tentang penulis lain, karya lain, dan kesusastraan secara umum. Sampai saat ini, salah satu esai terbaik tentang teknik menulis dua raksasa sastra Amerika saya temukan di esai pendek Gabriel García Márquez berjudul “Gabriel García Márquez Berjumpa dengan Ernest Hemingway”. Di esai itu, ia menulis tentang Hemingway dan Faulkner, dan bagaimana kedua raksasa itu berbeda secara teknik. Ngomong-ngomong soal García Márquez, jangan lupakan buku ulasan serius Mario Vargas Llosa mengenai novel Cién Anos de Soledad. Vargas Llosa juga menulis buku serius mengenai Madame Bovary dan Gustave Flaubert (Perpetual Orgy: Flaubert and Madame Bovary). Mau contoh yang lain? Michel Houellebecq menulis biografi kritis mengenai penulis cult Amerika, H.P. Lovecraft. Saya rasa, menulis esai tentang penulis dan karyanya membantu kita untuk belajar menganalisa, belajar melihat sudut-sudut pandang yang berbeda, dan dengan tanpa sadar, kita menciptakan cara berpikir sendiri, dan sudut pandang yang barangkali unik. Keempat, yang ini tak perlu dijelaskan panjang-lebar: terus menulis. Anda bisa menambahkan beberapa hal lain, yang boleh ditiru atau tidak: maraton (Murakami), mabuk (Faulkner), berburu (Hemingway), dan lain-lain. Jadi jika ada yang bertanya kepada saya bagaimana caranya menjadi penulis hebat, barangkali saya akan menjawab terutama empat perkara di atas. Jujur saja, itu bukan jaminan juga. Saya hanya berusaha menjawab dengan belajar dari penulis-penulis ini. Tapi setidaknya, mencoba melakukan apa yang mereka lakukan, saya rasa bukanlah hal buruk. Juga bukan kejahatan. Itu hal-hal baik yang layah dicoba. Setidaknya, belajar dari mereka, saya tahu bukanlah hal mudah untuk menjadi penulis yang baik, apalagi penulis yang hebat. Sebagaimana bukan hal yang mudah mengalahkan Usain Bolt dalam adu cepat lari di lintasan seratus meter.

All The Pretty Horses

Setelah membaca The Road, saya memutuskan untuk membaca novel lain karya Cormac McCarthy. Kali ini saya melanjutkannya dengan All The Pretty Horses. Kadang-kadang, jika saya menemukan penulis baru dan saya menyukainya, antusiasme saya seperti anak kecil. Saya ingin melakukan maraton membaca semua, atau paling tidak beberapa karyanya berurutan. Penulis baru? Beberapa orang mungkin akan berkata, Kemana saja kamu selama ini baru membaca Cormac McCarthy? Baiklah, saya tidak kemana-mana. Ada ratusan atau bahkan ribuan penulis di dunia ini yang karyanya layak dibaca. Saya yakin banyak di antara mereka dengan mudah terlewatkan. Itulah hal menarik dari menyukai kesusastraan. Hal terbaik dari kegemaran membaca novel dan cerita pendek, serta puisi, bahkan esai. Hal yang sama barangkali tak jauh berbeda dengan membaca buku-buku filsafat (yang sering saya lakukan, juga untuk kesenangan). Jika umur kita cukup panjang pun, katakanlah seratus tahun, karya-karya terbaik dari penulis-penulis terbaik di dunia tak akan selesai kita lahap semua. Dengan cara itulah, dari tahun ke tahun kita akan menemukan penulis-penulis dan karya-karya baru, meskipun kenyataannya sudah lama. Kembali ke Cormac McCarthy, saya mengenalnya karena menonton film No Country for Old Men. Meskipun belum membaca novel itu, saya memutuskan untuk mulai membaca novelnya. Sekilas saja kita segera tahu, karya-karyanya banyak terpengaruh oleh tradisi kesusastraan western (untuk menyebut tradisi cerita koboi). Tak hanya penuh petualangan, tapi bahkan penuh adegan kekerasan, kebrutalan, dan kehidupan yang liar dan kasar. Dalam The Road, kita memang tak dihadapkan pada petualangan para koboi. Novel ini bercerita di waktu dunia (Amerika?) selepas “kiamat”. Dua orang ayah dan anak melakukan perjalanan sepanjang jalan, berbekal satu pistol dan kemudian satu peluru untuk melindungi diri, mencari pantai untuk memulai kehidupan baru. Bukan cerita koboi dengan kuda dan topi laken memang, tapi tema itu tak jauh berbeda dengan kisah para koboi yang menyeberangi dataran Amerika untuk mencari tambang emas, bukan? Di No Country for Old Men, kita menemukan polisi tua yang harus berhadapan dengan jaringan narkoba perbatasan Amerika-Meksiko. Si polisi, tentu saja memakai topi laken bergaya koboi. Hingga akhirnya saya menemukan koboi sungguhan di All the Pretty Horses. John Grady Cole (anak remaja yang bahkan belum selesai sekolah) merasa dirinya dilahirkan sebagai koboi, dilahirkan untuk hidup di hamparan padang rumput bersama ternak dan kuda. Ketika ia merasa tercerabut dari peternakan keluarganya, ditemani seorang teman dan seorang teman lagi yang ditemuinya di perjalanan, ia memutuskan untuk naik kuda dan menyeberang perbatasan. Saya penggemar film koboi (sebagaimana saya menyukai film-film wuxia), tapi bisa dibilang tak pernah membaca novel-novel koboi (saya masih bisa membaca novel-novel wuxia, yang banyak disadur ke dalam kesusastraan Indonesia). Baiklah, dalam karya McCarthy, kita memang tak menemukan koboi sebagaimana di film-film. Bahkan ia memindahkan tempat yang biasanya berada di barat ke selatan. Maka jangan heran, di kisah-kisah koboinya, kita juga menemukan aroma selatan sebagaimana bisa kita temui dalam karya-karya Faulkner. Ia mencampur petualangan, plot yang penuh kekerasan, dengan paparan mendalam tentang psikologi. Tentang mimpi, harapan, dan bahkan ketakutan. Dalam satu tinjauan tentang novelnya yang lain, Blood Meridian, Roberto Bolaño bahkan menyebut lanskap novel McCarthy sebagai lanskap (Marquis) de Sade: satu lanskap yang haus dan tak acuh yang dikendalikan oleh hukum aneh yang meliputi rasa sakit dan anestesia. Saya sudah lama tak membaca sastra Amerika. Setelah generasi emas Faulkner, Hemingway, Fitzgerald, dan kemudian Steinbeck, tak banyak lagi yang menjulang setinggi mereka. Tapi kini, satu nama saya pikir sangat perlu untuk diperhatikan: Cormac McCarthy.

Ini atau Itu?

“Nike atau Adidas?” Sekali waktu mungkin pernah mendengar pertanyaan semacam itu. Ini sejenis permainan dimana kita memilih satu di antara dua pilihan (seringkali keduanya mewakili sejenis persaingan di bidang tertentu), menjawabnya dengan cepat tanpa memikirkannya lebih dulu, dan konon dari situ bisa ditebak kepribadian atau selera kita. Pertanyaan itu akan berlanjut dengan, “Pepsi atau Coca-Cola?”, “Honda atau Toyota?”, “Airbus atau Boeing?” dan seterusnya. Saya tak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu (kecuali mungkin jika salah satu di antara mereka membayar saya). Tapi jika kepada saya diajukan pertanyaan-pertanyaan sejenis dalam bidang kesusastraan, dengan senang hati saya akan menjawabnya. Saya akan memberanikan diri memilih, bahkan meskipun saya tak punya alasan yang memadai kenapa memilih. Hemingway atau Faulkner? Sudah jelas saya akan memilih Faulkner. Saya senang dengan sosoknya yang lebih kalem, tapi novel-novelnya memperlihatkan keliaran yang seringkali malah susah dipahami. Kawabata atau Mishima? Saya akan memilih Kawabata. Mishima seringkali terlalu mengerikan buat saya. Membaca Kawabata seperti duduk di taman selama berjam-jam hanya untuk melihat bunga-bunga sakura, tanpa kehilangan perasaan menderita dan sedih. Cervantes atau Shakespeare? Saya memilih Cervantes, meskipun saya cuma membaca satu novelnya, dibandingkan beberapa naskah drama Shakespeare yang saya baca. Saya merasa Cervantes lebih banyak menertawakan diri sendiri, sementara Shakespeare menertawakan dunia. Camus atau Sartre? Saya akan memilih Camus. Camus tampak lebih mendekati sosok novelis, sementara Sartre lebih mendekati sosok filsuf. Camus juga (sosok maupun karyanya) memberi saya gambaran mengenai pembangkang yang senyap. Gabriel García Márquez atau Mario Vargas Llosa? Jika pertanyaan ini diajukan sepuluh tahun lalu, saya akan memilih García Márquez; jika pertanyaan ini diajukan sekarang, saya memilih Vargas Llosa. Vargas Llosa terasa lebih modern bagi saya daripada García Márquez. Tolstoy atau Dostoyevsky? Saya memilih Dostoyevsky. Saya lebih suka penulis yang hampir mati dieksekusi, penuh utang karena judi dan doyan mabuk daripada penulis yang arif-bijaksana hingga nyaris menjadi sejenis nabi. Haruki Murakami atau Don DeLillo? Tentu Haruki Murakami. Saya lebih suka sastra Jepang daripada sastra Amerika. Miss Marple atau Poirot? Saya lebih suka Miss Marple, karena saya pikir, perempuan tua yang lebih banyak tinggal di rumah dan memecahkan banyak kasus kriminal terasa lebih keren daripada detektif swasta yang berkeliaran ke sana-kemari seperti Poirot. Agatha Christie atau Sir Arthur Conan Doyle? Saya memilih Sir Arthur Conan Doyle, dengan sedikit rasa humornya, yang hampir bisa dibilang tak ada di karya-karya Agatha Christie. The Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde atau The Curios Case of Benjamin Button? Sudah tentu saya memilih The Curious Case of Benjamin Button, sebab saya lebih suka cerita yang lebih ke arah fantasi daripada ke arah fiksi sains, meskipun kedua genre bisa sangat bersinggungan satu sama lain. Michael Crichton atau Sydney Sheldon? Saya memilih Sydney Sheldon, dengan plotnya yang seringkali rumit dan karakter-karakternya yang mencengangkan. Novel-novel silat China atau novel-novel koboi Amerika? Mungkin saya akan menyukai kedua-duanya, tapi sayang sekali saya jarang membaca novel koboi, sementara novel silat China banyak disadur ke dalam Bahasa Indonesia, sehingga dengan mudah saya memilih novel silat. Times New Roman atau Arial? Saya lebih senang menulis dengan Times New Roman, dan bisa dibilang tak pernah menulis dengan jenis huruf lainnya.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑