Eka Kurniawan

Journal

Tag: Ernesto Sábato

Membayangkan Enny Arrow Sebagai Tonggak Kesusastraan Indonesia

Saya sedang membaca The Strangeness in My Mind di sebuah kedai kopi, ketika seseorang datang menghampiri. “Wah, kamu membaca Orhan Pamuk!” katanya. Saya menoleh. Mungkin dia orang Turki, atau seseorang yang merasa tahu banyak tentang Turki. Ia kemudian bertanya, apa pendapat saya tentang novel(-novel) Orhan Pamuk. Saya pun ngoceh sebagai pembaca, komentar apa adanya mengenai kesan-kesan saya. Beberapa pendapat itu sejujurnya saya comot dari pendapat orang lain juga, mungkin di ulasan surat kabar, atau di halaman belakang bukunya. Yang penting bisa ngoceh. Tiba-tiba dia sedikit kesal dan berkata, “Kamu enggak bisa begitu saja menganggap Pamuk sebagai wujud kesusastraan Turki. Kesusastraan Turki jauh lebih kaya dari itu. Kamu harus baca penulis-penulis terdahulu Turki, yang sangat keren, beberapa lebih keren dari dia. Juga harus baca penulis-penulis muda mereka. Pamuk hanyalah sebutir debu dari kesusastraan Tur …” Sampai di sini saya memotong dengan menggebrak meja. Dia hampir membuka mulut lagi, tapi saya bersiap menyumpal mulutnya dengan gulungan tisu. Dia akhirnya mingkem. “Siapa yang lagi belajar kesusastraan Turki?” tanya saya. “Dengar, Bung. Saya enggak peduli kesusastraan Turki seperti yang kamu katakan. Saya saat ini hanya membaca Pamuk. Mengerti?” Hal yang sama juga terjadi dengan penulis lain dan kesusastraan nasional yang lain. Sebagai orang yang tak pernah ke Norwegia, bayangan saya tentang negara (dan kesusastraannya) dibentuk oleh bacaan saya atas buku-buku Knut Hamsun. Bayangan saya tentang kesusastraan Argentina (yang saya puja tim sepakbola nasionalnya), juga dibentuk oleh bacaan saya atas karya-karya Borges, Cortazar dan belakangan mungkin oleh Ernesto Sábato. Apakah kesusastraan Argentina cukup dipahami hanya dengan membaca tiga penulis itu? Orang tolol di neraka juga tahu itu tidak mungkin. Mereka hanya tiga dari (barangkali) ribuan penulis yang membentuk kesusastraan Argentina. Tapi memangnya saya membaca karya-karya mereka dalam rangka memahami kesusastraan Argentina secara utuh? Ya enggak. Icip-icip sedikit, mungkin iya. Tapi utamanya ya, tetap untuk membaca mereka, sebagai diri mereka sendiri. Apakah Mo Yan mewakili kesusastraan Cina secara umum? Tidak. Tapi jangan salahkan pembaca asing yang membaca karyanya, jika ia membangun imajinasi sendiri mengenai kesusastraan dan negeri Cina, meskipun hanya membaca Mo Yan. Kadang-kadang saya tersesat ke artikel-artikel di internet mengenai ambisi-ambisi untuk memperkenalkan kesusastraan nasional negeri tertentu (biasanya negeri-negeri yang kesusastraannya memang tak terlalu dikenal) ke masyarakat dunia. Kadang-kadang tersirat ambisi konyol: mereka berharap dunia memahami kesusastraan nasional seperti mereka memahami kesusastraan nasional mereka sendiri. Lengkap dengan sejarah dan kanon-kanonnya. Ingin dunia memahami kesusastraan Korea seperti orang Korea memahami kesusastraan Korea, misalnya. Persis seperti orang di kedai kopi, yang ngomel-ngomel karena saya tak paham kesusastraan Turki, seperti bagaimana dia memahaminya. Ngomel dan jengkel karena saya cuma (merasa) kenal Pamuk (dan belakangan Ahmet Hamdi Tanpinar), sementara ada ribuan penulis di Turki. “Orang macam begini enggak selow,” pikir saya. Tapi saya juga bisa berempati, kok. Bisa memahami perasaannya. Bayangkan jika kita menerjemahkan karya-karya Enny Arrow. Bayangkan jika novela-novelanya yang tipis itu, terbit di The Paris Review atau Granta. Bayangkan jika orang-orang di luar negeri suatu saat membaca terjemahan karya-karya Enny Arrow itu, dan berpikir tentang Indonesia dan kesusastraannya melalui karya-karya itu. Pasti banyak orang Indonesia yang jengkel, sambil siap sedia ceramah tentang sejarah dan peta kesusastraan Indonesia. Dari Raja Ali Haji hingga penulis paling kekinian. Mereka juga bersiap membuat telaah-telaah kritis bahwa karya-karya itu tak hanya mesum, tapi juga tak ada nilai sastranya. Nulisnya aja ngawur. Karakternya datar. Tak ada alur cerita. Bla bla bla. Tapi sebagian besar dari pembaca asing itu mungkin tak peduli. Mereka kadung senang dan hanya mau baca Enny Arrow. Titik. Saya sih enggak bakalan jengkel. Saya malah rada berharap itu bisa terjadi. Seru. Sudah jelas saya sendiri enggak ada apa-apanya dibandingkan penulis satu ini. Pasti menyenangkan membayangkan orang asing membaca Enny Arrow lalu mereka membayangkan sastra Indonesia seperti novel-novel itu. Barangkali ada pembaca yang lebih gila: membayangkan Enny Arrow sebagai tonggak kesusastraan Indonesia. Mereka akan bilang: jika tujuan novel porno adalah untuk bikin pembaca terangsang, novel-novelnya berhasil secara sempurna. Mahakarya tak terbantah. Sastra kelas satu yang dihasilkan anak bangsamu! Penulis terbaik Indonesia dalam tujuh dekade! Dan seperti orang di kedai kopi, orang Indonesia jengkel. Presiden, menteri, kritikus, guru sastra, penulis, pemandu sorak kesusastraan, semua jengkel. Jengkel dan enggak selow. Beberapa jengkel mungkin karena pernah bikin novel porno tapi gagal bikin orang terangsang. Sebagian mewek di belakang meja. Mewek dalam arti sebenarnya, sebab memang banyak yang cengeng. Meraung-raung meminta tulung dan menghimpun kumpulan. Beberapa mulai membuat teori konspirasi tentang usaha-usaha asing menghancurkan kesusastraan dan kebudayaan Indonesia. Hahaha. Hail Enny Arrow!

The Tunnel, Ernesto Sábato

Para penulis Argentina saya rasa memang layak untuk dicemburui. Mereka selalu tampak memiiki kecenderungan alamiah untuk “tidak berakar”. Yang saya maksud tidak berakar adalah: mereka seperti tak peduli mengenai negeri mereka, kebudayaannya, orang-orangnya, sejarahnya, dan satu-satunya yang mereka peduli adalah kesusastraan. Tentu saja dalam karya-karya mereka kita bisa menemukan banyak hal tentang Argentina: gaucho, pampas, Buenos Aires, Peron, atau lainnya. Tapi semua itu seperti sesuatu yang tak terelakkan saja dari kenyataan sederhana bahwa mereka memang dilahirkan di sana. Di atas semua itu, jika kita membaca karya-karya mereka, pertarungan sejati mereka bukanlah negeri bernama Argentina, tapi tanah air bernama kesusastraan. Kita bisa merasakan hal itu melalui karya-karya Borges, atau Cortazar, atau penulis generasi yang lebih muda seperti César Aira, atau Andres Neuman. Bahkan kita bisa menemukannya di karya penulis yang terang-terangan memilih komunisme sebagai pilihan politiknya, Ernesto Sábato. Seperti kata Colm Tóibín dalam pengantar The Tunnel, “Tugas mereka bukanlah mencipta-ulang negeri mereka dengan gambaran mereka, tetapi menciptakan ulang kesusastraan itu sendiri, memberinya energi dan bentuk yang segar.” Seolah mereka dilahirkan di pusat-pusat kesusastraan dunia, di Paris, London atau Rusia, dan bukan di sebuah kota di satu negara dunia ketiga; lalu bicara tidak untuk manusia sebangsanya, tapi kepada siapa pun manusia di mana pun. Sábato berada dalam generasi yang sama dengan Borges dan Bioy Casares, bahkan novel The Tunnel ini awalnya terbit di majalah Sur yang juga melambungkan nama-nama tadi. Tentu ada perbedaan mencolok antara Borges dan Sábato: jika Borges seorang konservatif, Sábato seorang komunis; jika Borges memperlihatkan kecenderungan kepada fantasi, petualangan, kisah detektif yang diramu dengan spekulasi filsafat, Sábato berada dalam tradisi Dostoyevsky (yang dibenci Borges!) yang mencoba menerobos ke dalam sisi-sisi gelap manusia. Sekilas, The Tunnel seperti versi yang lebih rapi (dan lebih bikin gregetan) dari The Stranger Albert Camus, dan itulah mengapa Camus sangat mengagumi novel ini serta membawanya untuk terbit di Perancis, dan banyak orang menyejajarkannya dengan novel tersebut, menyebutnya sebagai “sebuah karya eksistensialis klasik”. Seperti Meursault, Juan Pablo Castel di The Tunnel memiliki cara pandang tersendiri tentang dunia, yang lebih banyak ditentukan oleh arus pikirannya. Sedikit berbeda, pikiran Castel terus bergerak sepanjang novel, menganalisa, membuat definisi, membuat praduga, bahkan menciptakan kesimpulan-kesimpulan yang lebih dekat kepada asumsi-asumsi. Dunia adalah apa yang dipikirkannya, bahkan meskipun itu menciptakan ilusi, kecemasan, dan pada akhirnya kenyataan yang rapuh. Mengikuti aliran pikiran Castel, kita menemukan kenikmatan membaca, sekaligus merasakan kecemasannya. “Frasa ‘masa lalu yang indah’ tak berarti hal buruk jarang terjadi di masa lalu, hanya saja – untungnya – orang-orang ini sesederhana melupakannya.” Pikiran-pikirannya penuh dengan upaya menjelaskan banyak hal, sekaligus menggiring kita masuk ke dalam ketidakpastian, sebab setiap kali sesuatu dijelaskan, sesuatu menjadi tidak jelas bersama munculnya penjelasan-penjelasan lain. Hal inilah yang membawa hubungannya dengan seorang perempuan, María Iribarne, kepada hubungan yang labil dan cenderung merusak. Awalnya hubungan mereka tampak menjanjikan: María seolah ditakdirkan sebagai satu-satunya orang yang mengerti hasrat seni Castel (ia seorang pelukis). Tapi bersama berlalunya waktu, pikiran-pikiran Castel memiliki pandangan tersendiri mengenai María, dan sebagian besar merupakan pikiran buruk (seperti dikutip di atas, ia tak percaya ‘masa lalu yang indah’, dan lebih memilih untuk mengingat banyak hal buruk). Bisa dibilang ini merupakan novel cinta, tapi alih-alih memberi rasa berbunga-bunga, novel ini memberi kita satu pertanyaan yang sangat menekan, tak adakah momen membahagiakan dalam hubungan cinta ini? Tentu saja sebagaimana hubungan asmara, pasti ada momen-momen indah. Tapi lagi-lagi bahwa apa yang kita tahu tentang dunia tak lebih dari apa yang kita pikirkan mengenai dunia. Jika pikiran kita segelap Castel, dunia akan terlihat gulita, dan demikianlah tragedi manusia dan pikirannya.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑