Eka Kurniawan

Journal

Tag: Eileen Chang

Eileen Chang, Apakah Fungsi Mata-mata Hanya untuk Terlihat Seksi di Tempat Tidur?

Sebagai pembaca, saya sering dilemparkan begitu saja ke tengah khayalan oleh sebuah buku. Kadang saya berpikir menjadi pencuri yang gagah-berani sekaligus naif, lain kali saya hanya menemukan diri saya sebagai pengelana yang bebas-merdeka. Dan khayalan macam apa ketika saya membaca kumpulan novela, Lust, Caution dari Eileen Chang? Jujur saja, saya membayangkan situasi kota di tengah peperangan, tapi saya masih memiliki kesempatan untuk menyelinap ke dalam bilik lalu bercumbu dengan seorang kekasih. Saya mencoba memikirkan hal lain, tapi setiap cerita baru dari buku itu saya baca, kembali dan kembali saya mengkhayalkan hal yang sama. Lagipula, itu imajinasi yang menyenangkan, toh? Kenapa harus dibuang. Bayangkan, kamu hidup di sebuah kota semacam Shanghai atau Hongkong, di masa pendudukan Jepang. Semua orang saling curiga, semua orang takut satu sama lain. Kolaborator takut kepada pejuang, pejuang takut ketahuan oleh para penjilat. Tapi bagaimanapun hidup harus terus berjalan: kamu tetap akan jatuh cinta, dan pada titik tertentu kamu akan menjadi pengantin baru. Akan ada hari-hari di mana kamu akan melihat pengantinmu, atau kekasihmu, yang duduk tersipu di tepi tempat tidur. Kalian akan bicara sebentar tentang keadaan kota (harga permata yang gila-gilaan dan tak ada yang mau menjual, jatah kebutuhan pokok yang terbatas, dan lain sebagainya), tapi akhirnya kamu akan memegang tangan pengantinmu, melepaskan pakaiannya, menyentuh kulitnya, membaringkannya, menjelajahi tubuhnya … dan tak peduli di luar tentara berkelayapan, mata-mata saling mengintai, dan pelor bisa meletus kapan saja menembus kepala pejuang atau pejabat boneka. Tiba-tiba saya teringat komentar pedas Salman Rushdie atas Jane Austen. Seperti kita tahu, Jane Austen dan tokoh-tokohnya juga hidup di puncak masa perang Napoleon, tapi, “Fungsi prajurit di novel-novel Jane Austen cuma untuk terlihat keren di lantai dansa,” kata Rushdie, sejenis kritik bahwa novel-novel penulis ini abai terhadap konteks sosial-politik yang demikian ketara. Saya tak mau berpanjang-panjang memperdebatkan hal itu (ngeri, Jane Austen banyak penggemarnya dan urusan perang Napoleon yang hilang di karyanya juga telah dibahas ribuan atau jutaan kali). Kembali ke Eileen Chang, jangan kuatir, Perang Dunia II dan pendudukan tentara Jepang tidak hilang di karya-karyanya. Justru menjadi bumbu yang lezat untuk semua kronik kehidupan Shanghai dan Hongkong yang ditulisnya. “Lust, Caution” sendiri mengisahkan seorang mahasiswi yang menjadi mata-mata pejuang, mencoba menggoda seorang pejabat tapi malah saling jatuh cinta. Karena saya pernah melihat filmnya (disutradari Ang Lee), saya tak bisa melepaskan diri dari imajinasi ruangan temaram dan adegan yang erotis dan kelam. Di cerpen lain, kehidupan seperti berjalan seperti biasanya, seolah-olah perang berada di dunia yang lain; tapi sekaligus, kita tahu perang itu ada dan nyata. Itulah kenapa saya menyebutnya sebagai, seolah tengah bercumbu di tengah desing peluru. Tokoh-tokoh ceritanya, baik mata-mata maupun sekadar pembantu rumah tangga, pengantin baru maupun orang-orang yang menunggu di ruang tunggu panti pijat, menjalani hidup mereka sebagaimana seharusnya, seolah-olah perang dan pendudukan tidak ada. Tapi di sisi lain, pendudukan itu nyata, mempengaruhi kehidupan mereka, sosial mereka, secara nyata. Konteks sosial-politik di cerita-ceritanya menjadi semacam ada dan tidak ada, dan itulah sisi terbaik dari cerita-cerita ini, yang menurut saya jarang ditemukan di kebanyakan penulis. Lagipula, jika kita sedang bercumbu, jika tubuh kekasih tengah berbaring di depan dan tangan kita menjelajah tubuhnya, segala sesuatu di luar keintiman itu menjadi ada dan tidak ada. Ada, tapi kita tak lagi peduli dengannya. Eileen Chang, melalui berbagai kisah dan tokoh-tokohnya, saya rasa berhasil menciptakan seni semacam itu. Menciptakan sesuatu yang ada menjadi tidak nyata, dan sesuatu yang tak nyata menjadi demikian ada. Dan kita tak perlu mengatakan, “Fungsi mata-mata di cerita Eileen Chang hanya supaya keliatan seksi di tempat tidur.”

Mau Ke Mana Cerita Pendek Saya?

Beberapa kali saya kembali membaca esai Bolaño berjudul “Advice on the Art of Writing Short Stories” di kumpulan esai dan artikelnya Between Parenthesis. Sejujurnya bukan esai yang cemerlang, tapi nasihat tetaplah nasihat. Seperti bisa diperhatikan, beberapa tahun terakhir saya tak lagi banyak menulis cerpen. Menerbitkan satu cerpen dalam setahun sudah cukup produktif bagi saya. Ada rasa bosan membaca cerpen-cerpen di koran, dan ada rasa bosan menuliskannya juga. Saya tak mau berpusing-pusing memikirkan keadaan cerpen dalam kesusastraan kita, meskipun tak keberatan memberikan pendapat jika ada yang bertanya, dan lebih senang melihatnya sebagai problem internal saya sendiri. Tulisan ini barangkali akan lebih menarik jika berjudul “Mau Ke Mana Cerita Pendek Kita?”, tapi saya rasa terlalu berlebihan untuk mengurusi “kita” saat ini, dan saya tahu persis sebagian besar penulis tak suka diurusi. Kebosanan ini problem internal, titik, dan menggelisahkan hal ini patut saya syukuri: setidaknya saya masih sedikit waras untuk bertanya kepada diri sendiri. Menjelang terbitnya kumcer keempat saya, [Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi], saya mencoba melihat sejauh apa yang telah saya lakukan. Hal paling gampang untuk dilihat tentu saja jumlah: lebih dari lima puluh cerpen telah saya tulis sejak tahun 1999, dan empat buku telah saya terbitkan. Bagi banyak orang, mungkin itu banyak sekali; bagi saya setidaknya itu lebih dari cukup, lebih dari itu bisa saya anggap berlebihan. Berbeda dengan cara kerja saya menulis novel, yang sering saya bayangkan seperti membangun rumah tanpa rancang-gambar, yang membuat saya begitu senang menulis ulang sebuah novel berkali-kali sebelum menerbitkannya; cerpen bagi saya seperti ruang laboratorium penulisan. Kadang-kadang saya punya gagasan kecil di kepala, bisa berupa olok-olok ringan maupun andai-andai berat, lalu saya mencobanya di “laboratorium”, dan jadilah sepotong cerpen. Bagaimana jika Thomas de Quincey, penulis Confession of an English Opium Eater ternyata penduduk Hindia Belanda di masa kolonial dan menulis dalam bahasa Melayu pasar? Hasilnya adalah cerpen “Pengakoean Seorang Pemadat Indis”. Bagaimana jika kita pergi ke satu tempat, bertemu orang-orang dan mendengar cerita mereka, lalu menuliskannya? Cerpen-cerpen seperti “Gerimis yang Sederhana”, “La Cage aux Folles” dan “Penafsir Kebahagiaan” ditulis dengan eksperimen seperti itu. “Caronang” awalnya merupakan eksperimen untuk menulis cerpen dengan pendekatan catatan perjalanan, tapi hasil akhirnya berbeda, sementara “Pengantar Tidur Panjang” merupakan memoar dengan obsesi yang berlebihan: menangkap sejarah republik melalui kacamata sebuah keluarga, tak lebih dari 2000 kata. Saya senang melakukan hal itu di cerpen karena alasan yang sederhana: bentuknya pendek, sehingga saya dengan mudah berpindah dari eksperimen satu ke eksperimen lainnya. Satu disiplin yang rasanya tak akan saya lakukan untuk novel. Sementara eksperimen-eksperimen samacam itu saya percaya layak untuk terus dilakukan, lebih dari lima puluh cerpen dan empat buku tetaplah jumlah yang banyak. Di sisi lain, saya juga percaya, sesuatu tak bisa dilakukan secara berkepanjangan. Ada satu titik di mana seseorang harus berhenti, metode dipertanyakan, dan kepercayaan diri yang berlebihan harus dihancurkan. Ini akan berat untuk saya, tapi rasanya mengurangi menulis cerpen sama sekali bukan jalan keluar yang memuaskan. Saya perlu berhenti setelah buku keempat ini. [Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi] akan menandai jeda panjang saya, hingga beberapa tahun ke depan. Dan tahun-tahun tersebut akan memberi saya banyak waktu untuk menjelajahi beragam khasanah cerita pendek. Saya menyukai penulis-penulis cerpen klasik, dari Chekhov, Gogol, Maupassant, Akutagawa, bahkan cerpen-cerpen konyol O. Henry. Bolaño menyuruh kita membaca Borges, Juan Rulfo, Edgar Allan Poe, hingga Enrique Vila-Matas dan Javíer Marias. Saya sudah membaca mereka. Di luar itu saya kira banyak penulis-penulis kontemporer, dari abad lalu maupun abad sekarang, yang patut untuk dibaca. Belum lama saya membaca cerpen-cerpen Ludmilla Petrushevskaya, yang membawa tradisi panjang kesusastraan Rusia (kapan-kapan saya akan menulis tentangnya di sini). Etgar Keret dan Hassan Blasim, semestinya dibaca sebagaimana kita membaca penulis cerpen klasik. Jangan lupa Raymond Carver. Juga Primo Levi. Dan Eileen Chang. Dan tentu saja César Aira. Saya pernah berhasil berhenti merokok, berhenti bergaul di Twitter dan Facebook (yang memberi saya waktu melimpah untuk membaca buku), rasanya saya akan sanggup melewati yang ini. Berhenti menulis cerpen untuk jangka waktu yang lama, mungkin terasa menyiksa dan menyedihkan; tapi mengetahui akan ada banyak yang bisa dibaca dan belajar kembali dari mereka sambil bertanya “Mau ke mana cerita pendek saya?”, saya rasa layak untuk dilalui. Sebab, mengutip Borges, kegiatan membaca lebih intelek daripada menulis. Dan lebih menyenangkan, tentu saja.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑