Eka Kurniawan

Journal

Tag: Edgar Allan Poe

How Fiction Works, James Wood

Realisme hanyalah salah satu genre dalam fiksi, tak bisa dianggap lebih dekat dengan kenyataan dibandingkan genre lain. James Wood menyodorkan satu (sub?) genre lain: realisme komersil, sebagai salah satu brand paling kuat saat ini dalam fiksi. “… brand ini secara ekonomi akan direproduksi, terus dan terus.” Realisme (seperti genre lain) tak lebih dari satu tata bahasa dan seperangkat aturan. Karena direproduksi terus-menerus, ia menjadi konvensi, lalu menjadi kebiasaan. Memberontak atas konvensi ini? Ia akan menciptakan konvensi baru, tentu saja. “Konvensi ini, seperti metafor, tidak mati tapi selalu sekarat. Seniman senantiasa mencoba mengakalinya.”

*

Kenapa Don Quixote butuh Sancho Panza? Menurut James Wood, salah satunya adalah agar ada teman ngobrol. Bagaimana jika tak ada teman ngobrol? Si tokoh akan bicara dengan Tuhan (berdoa), sebagaimana terjadi di teks-teks keagamaan. Dalam naskah untuk pertunjukan, si tokoh akan bicara dengan penonton. Bicara kepada Tuhan kemudian kepada penonton merupakan perkembangan yang signifikan dalam teknik monolog, hingga lahirlah novel yang memberi ruang sempurna untuk apa yang disebut: ngomong (kepada diri) sendiri. Demikianlah evolusi monolog dan lahirnya arus-kesadaran.

*



Di tahun 2006, para polisi di wilayah paling garang di Mexico City diminta untuk membaca sastra. Tak tanggung-tanggung daftar bacaan mereka: Don Quixote, Pedro Paramo, The Labyrinth of Solitude, One Hundred Years of Solitude, hingga karya-karya Agatha Christie dan Edgar Allan Poe. Tujuannya, seperti diutarakan kepala polisinya, “Satu, agar polisi memiliki kosa kata yang lebih luas; dua, memiliki pengalaman tak langsung banyak aspek keduniawian (ya, seperti kata banyak orang, buku adalah jendela dunia); dan ketiga, mempertaruhkan hidupmu demi hidup dan harta orang lain membutuhkan keyakinan yang dalam … kontak dengan sastra diharapkan membuat petugas polisi lebih berkomitmen atas nilai-nilai yang harus mereka pertahankan.”

Terlepas dari perdebatan apakah tujuan sastra memang sepraktis itu atau tidak, menurut saya sih menarik, ya. Meskipun benar, menyibukkan diri baca buku untuk “mengenal dunia” terdengar seperti satu paradoks.

*

Wittgenstein pernah mengeluh bahwa kiasan-kiasan Shakespeare “dalam arti umum, buruk”. Mungkin yang dimaksud adalah metafora Shakespeare: coba tengok “the moody frontier of a servant brow”, dari Henry IV. Kata James Wood, ada pembaca yang akan keberatan bahwa “brow cannot be a frontier, and that frontier cannot be moody.” Tapi, ia melanjutkan, perumpamaan Shakespeare lebih sering merupakan dunia spekulatif daripada mekanikal, di mana pembaca (penonton) diminta untuk mencampakkan perbandingan-perbandingan yang akrab/biasa.

Sekarang mari tengok metafora Thomas Hardy dalam Far From Madding Crowd: “a scarlet handful of fire”. Segenggang pasir sih, baiklah. Tapi segenggam api? Lagipula siapa mau menggenggam api? Kembali menurut James Wood: Inilah justru kekuatan metafora, membuat yang akrab menjadi asing. Atau sebaliknya, membuat yang asing menjadi akrab?

*

Saya rasa memang tak perlu memberi komentar banyak tentang buku ini, yang pada dasarnya juga merupakan komentar atas pembacaan panjang James Wood atas novel-novel sejak Don Quixote (yang paling tua) hingga Terrorist John Updike, kecuali mengutip beberapa bagiannya yang menarik (dan ini sulit, sebab rasanya ingin mengutip seluruhnya). Ia bicara tentang strategi-strategi naratif yang berkembang bersama evolusi novel (termasuk bagian paling menarik tentang narasi-tak-langsung). Seperti telah dikatakan banyak orang, ini buku pendamping untuk para pencinta novel (fiksi secara umum), sebab ia menantang kita untuk membaca dengan cara yang segar dan berbeda.

Ludmilla Petrushevskaya

Membaca cerita-cerita Ludmilla Petrushevskaya seperti membaca berita koran lampu merah. Diceritakan dengan cara tutur yang dingin (tapi kocak), yang mengingatkan saya pada narator acara infotainmen di televisi. Pada dasarnya membaca kisah-kisah domestik, tapi dengan satu dan lain cara, pasti bisa membuat merah padam muka para penguasa dan pemegang kebijakan. Kisah-kisahnya berpusar pada masalah-masalah keluarga, hubungan suami-isteri, pacar dan kekasih, selingkuhan, nasib orang-orang jomblo, dan tak pernah sekali pun secara eksplisit bicara tentang politik atau bobroknya pemerintahan; tapi justru dengan cara seperti itulah ia menyodorkan cermin buram wajah politik negerinya (Sovyet dan kemudian Rusia). Petrushevskaya lahir dari tradisi kesusastraan Rusia yang panjang, yang melahirkan maestro-mastero penulis cerita pendek besar: Nikolai Gogol (saya rasa ia tak hanya bapak kesusastraan Rusia, tapi moyang bagi banyak penulis di dunia), Anton Chekhov, Nikolai Leskov (yang cerpen-cerpennya mendorong Walter Benjamin menulis esai yang sulit dilupakan itu, “The Storyteller”), hingga Isaac Babel (penulis cerpen brilian, komunis yang loyal, tapi harus mati muda karena didor Stalin). Saya yang pada dasarnya selalu menganggap setiap karya merupakan pernyataan politik, langsung atau tidak langsung, sangat menikmati cerita-ceritanya. Dalam kumpulan There Once Lived a Girl Who Seduced Her Sister’s Husband, and He Hanged Himself, kita bertemu rakyat jelata yang tinggal di apartemen-apartemen sempit dengan beragam persoalan rumah tangga mereka. Yang menarik, Petrushevskaya tak pernah mencoba meromantisir kehidupan jelata ini, malahan lebih sering Petrushevskaya mengolok-olok bahkan menyiksa tokoh-tokohnya tanpa ampun, dan dengan gaya yang sangat dingin, tanpa simpati dan empati. Tapi dengan cara seperti itulah ia membuka persoalan-persoalan negerinya, seperti seorang ilmuwan membuka fakta-fakta obyek pengetahuannya. Wangi ataupun busuk. Bagaimana ia melakukannya? Di cerpen “A Murky Fate”, misalnya, ia bercerita tentang seorang perempuan lajang yang mencoba “mengusir” ibunya semalam dari apartemen studio mereka agar bisa membawa pulang seorang lelaki. Tak lebih. Ia “hanya” menceritakan betapa susahnya bagi seorang perempuan bahkan sekadar menemukan tempat bercinta. Tapi perkaranya bukan itu, tentu saja. Secara tak langsung ia menyentil kebijakan perumahan, yang membuat ruang-ruang pribadi (di bawah rezim Sovyet) menjadi hilang atau nyaris tak ada. Hal seperti ini menjadi semakin ketara dalam cerita “Give Her to Me”, tentang dua orang seniman (aktris dan komponis), yang harus hidup di sebuah masyarakat yang tampaknya tak peduli dengan bakat-bakat seperti mereka. Sekali lagi, cerpen-cerpen ini ditulis dengan gaya koran kriminal lampu merah (meskipun ceritanya hampir tak berisi kasus-kasus kriminal). Kebanyakan kisah perempuan lajang yang mencoba mencari pasangan, dan lelaki yang beristri yang bosan dengan rumah tangganya, lalu mencari mangsa gadis-gadis muda. Mereka memiliki anak, dan seringkali nasib berputar pada anak itu. Bahkan ada kisah seorang lelaki yang diceraikan isterinya, menggelandang, dan “dipelihara” perempuan berumur tujuh puluhan yang mau mendengar ocehannya tentang filsafat, sementara perempuan tua itu memperlakukannya sebagai anaknya yang tak pernah hidup. Tak hanya bahasanya yang “nyantai”, bahkan struktur ceritanya pun dituturkan seperti dongeng ibu-ibu yang menggosip di taman. Satu cerpen bahkan ditulis dengan nomor, dari 1 hingga 45. Judul kumpulannya yang lain, juga ditulis dengan gaya koran lampu merah: There Once Lived a Mother Who Loved Her Children, Until They Moved Back In. Oh, ada satu lagi, kali ini cerita-cerita “menakutkan” (Petrushevskaya menyukai Edgar Allan Poe), There Once Lived a Woman Who Tried to Kill Her Neighbour’s Baby. Cerpen dewasa ini barangkali tidak “searus-utama” novel dalam kesusastraan, tetapi membaca cerpen-cerpen yang menyegarkan seperti karya-karya Petrushevskaya, senantiasa membuat saya jatuh cinta berkali-kali kepada kesusastraan.

Mau Ke Mana Cerita Pendek Saya?

Beberapa kali saya kembali membaca esai Bolaño berjudul “Advice on the Art of Writing Short Stories” di kumpulan esai dan artikelnya Between Parenthesis. Sejujurnya bukan esai yang cemerlang, tapi nasihat tetaplah nasihat. Seperti bisa diperhatikan, beberapa tahun terakhir saya tak lagi banyak menulis cerpen. Menerbitkan satu cerpen dalam setahun sudah cukup produktif bagi saya. Ada rasa bosan membaca cerpen-cerpen di koran, dan ada rasa bosan menuliskannya juga. Saya tak mau berpusing-pusing memikirkan keadaan cerpen dalam kesusastraan kita, meskipun tak keberatan memberikan pendapat jika ada yang bertanya, dan lebih senang melihatnya sebagai problem internal saya sendiri. Tulisan ini barangkali akan lebih menarik jika berjudul “Mau Ke Mana Cerita Pendek Kita?”, tapi saya rasa terlalu berlebihan untuk mengurusi “kita” saat ini, dan saya tahu persis sebagian besar penulis tak suka diurusi. Kebosanan ini problem internal, titik, dan menggelisahkan hal ini patut saya syukuri: setidaknya saya masih sedikit waras untuk bertanya kepada diri sendiri. Menjelang terbitnya kumcer keempat saya, [Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi], saya mencoba melihat sejauh apa yang telah saya lakukan. Hal paling gampang untuk dilihat tentu saja jumlah: lebih dari lima puluh cerpen telah saya tulis sejak tahun 1999, dan empat buku telah saya terbitkan. Bagi banyak orang, mungkin itu banyak sekali; bagi saya setidaknya itu lebih dari cukup, lebih dari itu bisa saya anggap berlebihan. Berbeda dengan cara kerja saya menulis novel, yang sering saya bayangkan seperti membangun rumah tanpa rancang-gambar, yang membuat saya begitu senang menulis ulang sebuah novel berkali-kali sebelum menerbitkannya; cerpen bagi saya seperti ruang laboratorium penulisan. Kadang-kadang saya punya gagasan kecil di kepala, bisa berupa olok-olok ringan maupun andai-andai berat, lalu saya mencobanya di “laboratorium”, dan jadilah sepotong cerpen. Bagaimana jika Thomas de Quincey, penulis Confession of an English Opium Eater ternyata penduduk Hindia Belanda di masa kolonial dan menulis dalam bahasa Melayu pasar? Hasilnya adalah cerpen “Pengakoean Seorang Pemadat Indis”. Bagaimana jika kita pergi ke satu tempat, bertemu orang-orang dan mendengar cerita mereka, lalu menuliskannya? Cerpen-cerpen seperti “Gerimis yang Sederhana”, “La Cage aux Folles” dan “Penafsir Kebahagiaan” ditulis dengan eksperimen seperti itu. “Caronang” awalnya merupakan eksperimen untuk menulis cerpen dengan pendekatan catatan perjalanan, tapi hasil akhirnya berbeda, sementara “Pengantar Tidur Panjang” merupakan memoar dengan obsesi yang berlebihan: menangkap sejarah republik melalui kacamata sebuah keluarga, tak lebih dari 2000 kata. Saya senang melakukan hal itu di cerpen karena alasan yang sederhana: bentuknya pendek, sehingga saya dengan mudah berpindah dari eksperimen satu ke eksperimen lainnya. Satu disiplin yang rasanya tak akan saya lakukan untuk novel. Sementara eksperimen-eksperimen samacam itu saya percaya layak untuk terus dilakukan, lebih dari lima puluh cerpen dan empat buku tetaplah jumlah yang banyak. Di sisi lain, saya juga percaya, sesuatu tak bisa dilakukan secara berkepanjangan. Ada satu titik di mana seseorang harus berhenti, metode dipertanyakan, dan kepercayaan diri yang berlebihan harus dihancurkan. Ini akan berat untuk saya, tapi rasanya mengurangi menulis cerpen sama sekali bukan jalan keluar yang memuaskan. Saya perlu berhenti setelah buku keempat ini. [Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi] akan menandai jeda panjang saya, hingga beberapa tahun ke depan. Dan tahun-tahun tersebut akan memberi saya banyak waktu untuk menjelajahi beragam khasanah cerita pendek. Saya menyukai penulis-penulis cerpen klasik, dari Chekhov, Gogol, Maupassant, Akutagawa, bahkan cerpen-cerpen konyol O. Henry. Bolaño menyuruh kita membaca Borges, Juan Rulfo, Edgar Allan Poe, hingga Enrique Vila-Matas dan Javíer Marias. Saya sudah membaca mereka. Di luar itu saya kira banyak penulis-penulis kontemporer, dari abad lalu maupun abad sekarang, yang patut untuk dibaca. Belum lama saya membaca cerpen-cerpen Ludmilla Petrushevskaya, yang membawa tradisi panjang kesusastraan Rusia (kapan-kapan saya akan menulis tentangnya di sini). Etgar Keret dan Hassan Blasim, semestinya dibaca sebagaimana kita membaca penulis cerpen klasik. Jangan lupa Raymond Carver. Juga Primo Levi. Dan Eileen Chang. Dan tentu saja César Aira. Saya pernah berhasil berhenti merokok, berhenti bergaul di Twitter dan Facebook (yang memberi saya waktu melimpah untuk membaca buku), rasanya saya akan sanggup melewati yang ini. Berhenti menulis cerpen untuk jangka waktu yang lama, mungkin terasa menyiksa dan menyedihkan; tapi mengetahui akan ada banyak yang bisa dibaca dan belajar kembali dari mereka sambil bertanya “Mau ke mana cerita pendek saya?”, saya rasa layak untuk dilalui. Sebab, mengutip Borges, kegiatan membaca lebih intelek daripada menulis. Dan lebih menyenangkan, tentu saja.

Abdullah Harahap

Jika saya harus menyebut tiga novelis terpenting dalam kesusastraan Indonesia, saya akan menyebut Pramoedya Ananta Toer, Asmaraman S. Kho Ping Hoo, dan Abdullah Harahap. Membaca semua karya mereka, saya pikir sudah cukup untuk memasuki rimba kesusastraan, dan menjadi yang paling gila di antara orang-orang gila. Saya pernah bertemu dengan Pramoedya, tapi pertemuan dengan Abdullah Harahap barangkali merupakan yang paling ajaib. Sejujurnya, sebelum benar-benar bertemu dengannya, saya berpikir bahwa penulis ini sudah lama tiada. Pikiran ini barangkali dibawa oleh kenyataan bahwa saya (kita), tak pernah menemukan apa pun yang tertulis mengenai riwayat hidupnya. Seolah-olah sejak lama memang ia tak pernah ada di dunia ini. Di sebagian besar buku-bukunya, kita tak pernah menemukan sebaris pun informasi mengenai sang penulis. Kapan ia lahir, dimana ia tinggal. Sosoknya sama misterius dengan kisah-kisah yang ditulisnya. Sebagian besar novelnya diterbitkan oleh penerbit-penerbit kecil (jika tak bisa dibilang skala ruko), beberapa di antaranya bahkan tak mencantumkan alamat, tak punya logo perusahaan. Dan sebagian besar tak mendaftarkan judul-judul novelnya dalam daftar ISBN. Novel-novelnya tampak lebih seperti brosur daripada sebagai karya kesusastraan. Novel-novelnya tak dijual di toko buku besar semacam Gramedia (kecuali belakangan hari), tapi di kaki lima dan di atas bis dan kereta, disodorkan oleh pedagang asongan, bersama Teka-Teki Silang, novel porno dan jam tangan palsu. Tapi itulah memang yang terjadi dalam kesusastraan Indonesia. Ketika saya dan dua teman, Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad memutuskan untuk membaca ulang karya-karyanya, saya tetap beranggapan ia tak ada lagi di dunia ini. Bukan hal mudah menemukan kembali karya-karyanya. Saya membacanya ketika masih remaja, menyewanya dari taman bacaan. Tak pernah menemukannya di toko buku, juga perpustakaan. Saya menemukan kembali novel-novelnya di toko-toko buku loak, berjejalan dengan majalah dan koran bekas. Sebenarnya ia tak hanya menulis novel-novel horor dan misteri. Ia menulis novel romans, bahkan memulai karir menulisnya dengan genre tersebut. Tapi puncak karya-karyanya, saya rasa berada di novel-novel horor dan misterinya. Dengan formula gothic lokal, misteri ala Edgar Allan Poe, dan sedikit petualangan dan penyelidikan. Setelah membaca banyak karya-karyanya, kami memutuskan untuk menerbitkan antologi cerita pendek kami, yang terinspirasi dari novel-novel horor dan misterinya. Dengan gagah berani, kami memutuskan buku itu (berjudul Kumpulan Budak Setan) sebagai tribut untuk Abdullah Harahap. Bahkan ketika buku itu hendak terbit, berisi dua belas cerita pendek kami, saya tetap beranggapan bahwa Abdullah Harahap sudah lama tiada. Hingga hari itu, saya sedang berada di rumah, dan sebuah pesan pendek masuk ke telepon genggam. Dari istri saya, yang bekerja di sebuah stasiun TV. Pesannya singkat saja, ia baru saja bertemu dengan Abdullah Harahap. Ia bilang kepada sang maestro, “Saya kira sudah meninggal.” Istri saya mengirimkan foto dirinya bersama sang penulis, dan itulah kali pertama saya melihat wajahnya. Seorang lelaki tua, tapi dengan tubuh yang masih tegap, berkacamata hitam. Tipikal penulis-penulis romans yang saya bayangkan hidup di tahun 70an. Beberapa minggu kemudian kami (saya, Intan dan Ugo) benar-benar bertemu di lobi Penerbit Gramedia Pustaka Utama (yang kemudian menerbitkan kembali karya-karya Abdullah Harahap). Kami masuk ke satu kedai kopi dan ngobrol selama hampir dua jam. Dengan selera humornya yang menyenangkan, serta aura misterusnya, ia kemudian bilang, yang bagi saya terasa seperti ejekan yang menyenangkan, “Saya bangkit lagi dari kubur.” Itulah Abdullah Harahap, salah satu maestro kesusastraan kita.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑