Eka Kurniawan

Journal

Tag: E.M. Forster

Karakter Datar dan Karakter Bulat

Sebagai penulis yang cenderung “memungkinkan segala cara”, saya sering berpikir-pikir ketika ditawari untuk memberikan semacam bengkel kerja penulisan. Kecenderungan memungkinkan segala cara lahir dari ketidakpercayaan saya kepada otoritas apa pun dalam menulis: saya tak percaya ada aturan tunggal untuk menyampaikan gagasan dalam bentuk tertulis, sebagaimana saya tak percaya ada otoritas tunggal yang menentukan makna hasil tulisan. Saya percaya beragam kemungkinan bisa dilakukan, yang penting penulisnya nyaman. Setelah itu, pembacanya semoga juga nyaman. Kenapa semoga? Sebab tak ada yang bisa menjamin penerimaan pembaca bisa seragam. Karya paling hebat di dunia pun tak akan mungkin membuat nyaman apalagi senang semua pembaca. Lah, jika saya tak memercayai satu otoritas, satu jenis “school” (itulah kenapa disebut “school”, saya rasa!), bagaimana saya menyampaikan pelatihan menulis? Banyak teman suka mengingatkan, penulis pemula akan pusing mengikutinya (beberapa juga suka pusing mengikuti jurnal saya ini). Mereka berkeyakinan bahwa satu paradigma tertentu harus dipilih, satu jenis “aliran” (“school”) harus diterapkan. Baiklah. Paradigma saya tentu saja bersifat anarki, dan “aliran” saya sudah jelas: pergunakan segala kemungkinan yang paling cocok untuk dirimu. Buat saya sangat penting bahwa setiap penulis harus menemukan cara mereka sendiri untuk menulis; demikian pula, sangat penting bagi pembaca memiliki kemerdekaan untuk bebas membaca dengan cara mereka. Otoritas (siapa pun yang teriak-teriak “harus begini, harus begitu”) sudah saatnya istirahat di lubang kakus. Teriakan mereka tak membuktikan kepala mereka ada isinya, hanya membuktikan mereka punya bacot dan berisik (ini berlaku di sastra maupun di kehidupan politik). Kita bisa mengikuti jalan setapak yang pernah dirintis oleh pendahulu kita (kalau mau), sebagaimana kita juga boleh membuat jalan setapak baru (kalau mau), atau menimbun semua jalan setapak (juga kalau mau), atau apa pun. Mari membuat ilustrasi: selama beberapa dekade, E.M. Forster (melalui bukunya Aspects of the Novel) menjadi sejenis otoritas dalam membangun karakter. Menurutnya, karakter yang baik di dalam novel haruslah bulat (dengan begitu, karakter yang datar berarti buruk, atau setidaknya kelas dua). Kenapa begitu? Tentu karena karakter yang bulat konon dekat dengan kehidupan. Juga memiliki aspek-aspek mengejutkan (yang dibutuhkan oleh drama. Drama, saudara-saudara!), karena karakter bisa terlihat dari berbagai sudut. Beberapa ditampilkan, beberapa yang lain tersembunyi, atau samar-samar, sebelum muncul di belakang. Karakter yang bulat juga memungkinkan mereka berkembang, berubah, mengikuti alur cerita atau problem-problem yang dihadapinya. Sekali lagi, seperti dalam kehidupan manusia. Pertanyaannya: benarkah itu seperti kehidupan? Semua orang juga tahu novel, tulisan, teks, tak pernah bisa menggambarkan kehidupan ini dengan sempurna. Itu kan hanya ilusi kaum realis ortodoks saja. Coba kita lihat argumen ini dari sisi sebaliknya, mengenai karakter yang datar. Benarkah karakter yang datar tidak menarik? Karakter datar biasanya dikritik karena ia hanya memperlihatkan bentuk yang mudah dikenali, tetap begitu dari awal sampai akhir. Komik. Seperti kartun. Nah, itu! Apa salahnya seperti komik, dan kartun? Banyak karakter seperti itu dalam kesusastraan (yang adiluhung sekalipun), dan tetap menarik. Don Quixote? Dia tak ada bedanya dengan Donal Bebek, sayangku! Dijungkir-balikkan seperti apa pun, Don Quixote akan tetap seperti itu, dan bagi saya tetap menarik. Pangeran Myshkin dalam The Idiot Dostoyevsky juga mendekati datar. Kita belum bicara tentang karakter-karakter minor. Yang tolol adalah menilai Don Quixote seperti kamu menilai Mrs. Dalloway atau Madame Bovary (meskipun tak dilarang, tapi saya tetap akan menganggapnya tolol). Dalam hal ini, Cervantes mungkin akan bilang, “Ngentot dulu lah, biar otak seger dikit!” Itu hanya satu contoh bahwa sejenis otoritas yang telah lama berkuasa memang perlu dipertanyakan dan ditantang (Poetic Aristoteles, juga). Lantas, jika saya tak memercayai satu jenis pilihan tertentu, apa yang bisa saya sampaikan di bengkel kerja penulisan? Jawabannya sederhana: memberi pilihan-pilihan itu, kemungkinan-kemungkinan itu. Anda tak perlu mengikuti jalan setapak yang ada (termasuk setapak yang saya lampahi); juga boleh mengubur setapak yang ada (termasuk mengubur gagasan saya tentang menulis ini). Tapi penting untuk memilih sesuatu dan merasa nyaman dengan itu, dan jika ada yang menganggap pilihanmu salah, punya nyali untuk mengacungkan jari tengahmu (kalau perlu, berilah sedikit orgasme). Pelajaran menulis, pada akhirnya merupakan pelajaran berpolitik.

The Naive and the Sentimental Novelist

Saya senang membaca buku-buku tentang “teori” novel. Oh, bukan. Bukan jenis buku yang mengajari saya menulis novel penuh berisi tips dan trik. Tidak, saya tak tertarik membaca buku panduan semacam itu. Buku “teori” novel yang saya maksud, yakni buku-buku yang ditulis dalam rangka menjawab apa itu novel? Kenapa novel ditulis, dan terutama kenapa novel dibaca? Ya, meskipun ketika menulis novel, sudah hampir pasti saya lupa dengan semua teori-teori dan pemikiran tersebut. Saya yakin, siapa pun yang menulisnya, juga segera melupakan teori-teori ciptaannya ketika mereka menulis. Tapi paling tidak, buku-buku semacam ini, ketika ditulis maupun dibaca, membantu pikiran kita untuk terus bersikap kritis terhadap novel, terus bertanya, meskipun tak pernah ada jawaban pasti. Buku pertama, yang bisa dibilang klasik, tentu saja Aspects of the Novel karya E.M. Forster. Buku favorit saya yang kedua, buku kembar karya Milan Kundera: The Art of the Novel dan The Curtain. Dalam banyak hal, kedua buku itu bersinggungan satu sama lain. Jika Forster banyak bicara mengenai elemen-elemen novel, dalam beberapa tingkat nyaris teknis, kedua buku Kundera lebih bersifat filosofis, terutama menyangkut novel modern. Mario Vargas Llosa pernah menulis A Letter to a Young Novelist, buku kecil yang juga menarik. Gagasan-gagasannya mengenai novel mungkin akan lebih kaya jika kita membaca ulasannya mengenai novel Seratus Tahun Kesunyian dan Madame Bovary. Ia memang rada-rada akademis. Tapi sebagai pengantar terhadap pemikirannya mengenai novel, buku yang saya sebut sebelumnya barangkali sudah sangat memadai. Jujur saja, novel sebagai “seni novel” memang masih jarang dibicarakan, apalagi jika bicara tingkat kesusastraan Indonesia. Terutama jika dibandingkan dengan saudaranya: puisi. Padahal di abad 20 dan 21 ini, saya kira novel merupakan genre kesusastraan yang bisa dibilang sangat populer, terutama jika dilihat dari kuantitas penulis maupun pembacanya, serta buku yang beredar. Hal ini barangkali disumbang oleh menjamurnya novel-novel, yang katakanlah merupakan “novel ringan” atau “novel hiburan”, meskipun istilah itu pasti sangat bisa diperdebatkan. Tapi kita tak bisa menutup mata, barangkali banyak di antara penulis novel sendiri (apalagi pembaca?) yang tak pernah peduli, tak pernah mempertanyakan, apa itu novel? Kenapa novel ditulis? Kenapa novel dibaca? (Sebagaimana orang menjalani hidup malas bertanya apa itu hidup? Kenapa ada kehidupan?) Untuk saya, itu pertanyaan penting. Tanpa pertanyaan-pertanyaan itu, saya barangkali kehilangan gairah untuk menulis novel. Jika ada buku semacam ini yang ditulis oleh bukan penulis novel, tapi pastinya ia pembaca novel yang tekun, saya bisa menyebut satu yang sangat penting: The Theory of the Novel, karya filsuf Hungaria, Georg Lukács. Jika selama ini novel modern dan filsafat modern tampak seperti dua rel yang berjejeran, buku-buku semacam ini merupakan upaya segar mempertemukan keduanya, di mana kedua tradisi saling meminjam metode dan upaya kreatif mereka. Nah, untuk yang keranjingan buku-buku semacam ini, saya juga akan memasukkan buku kecil karya Italo Calvino, Six Memos for the Next Millenium, yang berisi enam catatan mengenai seni novel. Sayang karena keburu meninggal, buku tersebut hanya berisi lima catatan saja, meskipun judulnya tetap dipertahankan sebagai Six Memos …. Dan sekarang, di hadapan saya, dari salah satu penulis kontemporer, tergeletak buku berjudul The Naive and the Sentimental Novelist, karya Orhan Pamuk. Mengikuti tradisi Friedrich Schiller (dengan esai cemerlangnya berjudul “Über naive und sentimentalische Dichtung”, atau “On Naive and Sentimental Poetry”, atau “Tentang Puisi Naif dan Sentimental”), Pamuk membagi dua jenis novelis (dan pembaca novel): naif dan sentimentil. Naif dalam makna, para novelis yang mengarang apa adanya, yang membaca novel apa adanya: kekanak-kanakan. Sentimentil dalam makna, analitik. Ketika menulis novel, ia juga memikirkan mengenai banyak aspek, termasuk barangkali bertanya, apa gunanya menulis novel? Nah, karena saya senang membaca buku-buku semacam ini, boleh jadi saya termasuk yang sentimentil. Tapi karena saya sering menulis dan membaca tanpa memikirkan apa-apa, bisa juga saya naif. Entahlah. Menurut Pamuk sendiri, keadaan ideal untuk seorang novelis, tentu saja menjadi naif sekaligus sentimentil di waktu yang bersamaan. Saya rasa sulit untuk tidak sepakat dengannya.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑