Eka Kurniawan

Journal

Tag: Denis Diderot

Paris

Sejujurnya saya nyaris tak bisa pergi ke mana-mana selama tiga hari di Paris. Sejak hari pertama diisi dengan berbagai pertemuan, diskusi, dan makan malam. Meskipun begitu, di sela-sela waktu dan dengan modal peta sederhana, saya menjelajah daerah sekitar. Beruntunglah hotel tempat saya menginap, Delavigne (memperoleh kamar di loteng dengan dinding miring, mengingatkan saya pada film Ratatouille) dan kantor penerbit saya (Sabine Wespieser Editeur) berada di tengah kota. Saya sempat mengunjungi Notre Dame (tentu saja mengingatkan saya pada tokoh si bongkok karya Victor Hugo) dan Louvre, tapi satu-satunya yang ngotot ingin saya kunjungi adalah toko buku tua Shakespeare & Co. Saya sampai dua kali ke sana, mengambil selfie di depannya, dan (sedikit bikin saya malu) menemukan dua jilid buku saya dijual di dalamnya. Semua orang tahu itu toko buku yang pertama kali menerbitkan Ulysses James Joyce, juga tempat nongkrong Ernest Hemingway dan gerombolan “lost generation” Amerika yang luntang-lantung di Paris di masa itu. Sampai editor saya berkomentar, “Ya, ya, tentu saja toko buku itu penting buat penulis sepertimu.” Hahahaha. Mungkin orang Paris sudah terlalu biasa dengan toko buku itu, lagipula yang dijual di sana memang buku berbahasa Inggris. Seperti umumnya datang ke suatu tempat, mengetahui saya penulis, tentu saja kadang ada orang bertanya, di acara diskusi formal maupun sambil minum anggur atau teh, “Siapa penulis Perancis yang kamu baca atau sukai.” Itu seringkali membantu percakapan mengalir, dan saya sering bersyukur mengetahui beberapa penulis asing dan karya mereka. Saya bisa mendiskusikan Albert Camus atau Jean-Paul Sartre, atau Denis Diderot (yang novelnya, Jacques the Fatalist sangat saya sukai). Mereka senang mendengar komentar orang luar tentang penulis-penulis kebanggaan mereka. Juga penulis kontroversial mereka. Ketika saya bilang bahwa saya juga membaca Michel Houellebecq, mereka sangat antusias ingin mendengar komentar saya. Saya bilang hanya membaca dua novelnya. Caranya menulis menyenangkan. Saya tak punya masalah dengan sinisme-nya (barangkali karena saya bukan orang Perancis), tapi memang saya menangkap kesan pesimisme yang akut di karya-karyanya. Dan ketika datang ke Paris, bertemu dengan orang-orang Paris, gambaran itu berbeda seratus delapan puluh derajat. Orang-orang Paris yang saya temui sangat menyenangkan, penuh keriangan, ramah, jauh dari kesan pesimis. Mungkin Houellebecq memang pesimis melihat dunia, dan penggemarnya mungkin melihat dunia dengan cara yang sama. Dan seperti biasa, tentu saja saya juga bertemu dengan teman-teman Indonesia (ini terjadi ke mana pun saya pergi). Selalu menyenangkan (dan pasti menyenangkan juga buat mereka, bertemu “kerabat” di tempat yang jauh). Pertanyaan yang agak lucu, tapi tak terelakkan dari mereka, selalu: bagaimana bisa bukumu diterbitkan di Perancis (bahkan oleh penerbit yang secara tradisional tak pernah menerbitkan karya dari Indonesia)? Tentu saja itu cerita yang panjang, meskipun kadang saya harus menceritakannya berulang-ulang, atau penerbit saya menceritakan bagaimana ia “bertemu” karya saya. Intinya sebenarnya sama: kita cenderung menerima kenyataan bahwa karya sastra kita “dikutuk” hanya dikenal di negeri sendiri. Ketika satu atau dua karya keluar, kita sendiri bingung dan bertanya, “Kok bisa?” Mudah-mudahan di masa depan, tak ada lagi pertanyaan seperti itu dan melihat penulis Indonesia di luar sama biasanya dengan membaca penulis asing di dalam terjemahan Indonesia. Saatnya menutup koper dan kembali ke Jakarta.

shakespeare-co

Jacques the Fatalist, Denis Diderot

Bisakah kita menceritakan sesuatu apa adanya? Tidak bisa, kata Jacques. Sebab seorang pencerita memiliki personalitas, sudut pandang, standar dan hasratnya sendiri. Karya yang besar, tetap terasa berdering, bahkan tetap terasa mengganggu, bertahun-tahun, bahkan puluhan hingga ratusan tahun kemudian. Ini berlaku untuk novel sejenis Jacques the Fatalist (1780), karya penulis Prancis Denis Diderot (jika Anda lupa siapa penulis ini, Diderot merupakan salah satu yang mengawali pembuatan ensiklopedia). Awalnya terasa seperti parodi Don Quixote dimana seorang tuan pergi berkelana diiringi pelayannya. Bedanya, jika di Don Quixote yang menjadi tokoh utama dengan segala kegilaannya adalah sang tuan, di novel ini, si pelayanlah (Jacques) yang mengambil alih peran itu. Novel ini didasari satu pertanyaan besar, yang saya pikir masih terus menghantui bahkan manusia-manusia modern (baik filsuf maupun orang awam, para pendosa maupun orang saleh): apa jadinya kehidupan kita jika segala sesuatu yang telah, sedang dan akan terjadi sebenarnya sudah tercatat di atas sana oleh Dia-yang-Mengarang? Kita hanya aktor-aktor yang menjalankan kehendak Dia-yang-Mengarang? Apakah manusia masih memiliki “kehendak bebas”? Adakah masa depan? Jacques, atas pengaruh Sang Kapten ketika ia masih bertugas sebagai prajurit, memiliki keyakinan filosofis semacam itu, bahwa segala sesuatu sebenarnya sudah tercatat di atas sana. Jika mereka dirampok, menurutnya karena mereka memang sudah ditakdirkan akan dirampok, bukan karena pintu losmen tidak dikunci. Jika ia sedih karena barang-barang tuannya dirampok, ya karena di catatan langit ia sudah ditakdirkan untuk sedih. Seperti Sancho Panza yang harus menjadi kontras bagi kegilaan Don Quixote, Sang Tuan cenderung pragmatis tapi juga tak berdaya menghadapi argumen dan keyakinan filosofis Jacques. Saya membandingkannya dengan Don Quixote bukan tanpa sebab. Novel ini bisa juga dilihat sebagai jawaban atas novel Cervantes mengenai tema yang sangat penting: membaca. Ya, kedua novel sebenarnya bercerita tentang manusia-manusia yang “membaca”, dengan cara yang sangat berbeda satu sama lain. Jika dalam Don Quixote kita melihat “membaca” sebagai tindakan memilih, di Jacques “membaca” merupakan tindakan menyerah (terhadap takdir). Di novel Cervantes, kita berhadapan dengan orang gila yang terpengaruh oleh bacaan-bacaannya, terutama oleh novel-novel keksatriaan. Ia mencoba menafsirkan bacaan-bacaan tersebut dan menerapkannya dalam kehidupannya, dalam petualangannya. Di Jacques, kita berhadapan dengan filsuf yang tak hanya terpengaruh, tapi yakin bahwa hidupnya merupakan tafsir langsung atas “bacaan” yang ditulis di langit. Sebenarnya salah membayangkan dunia Jacques dengan mengatakan manusia, kita, sebagai aktor-aktor yang memerankan kisah yang ditulis di langit. Juga keliru membayangkan Don Quixote menempatkan diri sebagai aktor, yang memerankan ksatria rekaannya. Ia tampak mencoba meniru, dalam keyakinannya sebenarnya “menjadi”, kstaria-ksatria yang diteketahuinya melalui novel-novel bacaannya, dan dengan cara itulah ia tak bisa disebut aktor, sebab ia merasa dirinya ksatria yang hidup dalam dongeng itu sendiri. Di dunia Jacques, juga tak ada aktor: kita, manusia, adalah penjelmaan kata-kata itu sendiri. Ia bahkan bukan tafsir. Ini menarik. Meskipun kedua tokoh di kedua novel melihat hidup dengan cara yang sedikit berbeda, mereka tiba di sifat fatalis yang hampir sama: keyakinan bahwa hidup hanyalah penjelmaan kata-kata. Yang satu kata-kata dari langit, yang lain kata-kata dari novel-novel yang di tingkat tertentu, juga diyakini kebenarannya. Lantas, jika segalanya telah tercatat, masih perlukah kita berpikir dan memimpikan kehidupan? Ah, bahkan keragu-raguan mengenai hal ini pun, Jacques akan berkata, sudah tercatat di langit. Untuk apa kita berbuat baik jika di catatan langit ujung-ujungnya kita masuk neraka? Tidak untuk apa-apa, suka-suka yang membuat cerita, dong. Satu hal ingin saya catat mengenai novel ini: ia merupakan seni melipir yang sangat tinggi, perayaan atas digresi, sebab barangkali memang sesuai dengan niat filosofisnya. Mari kita bayangkan catatan di langit tersebut, dengan gaya seperti apa Dia Yang Mahapengarang menuliskannya? Entahlah. Satu-satunya yang pasti, hidup kita merupakan sekumpulan digresi, cecabang plot yang lebih banyak tak pentingnya daripada penting, dan kita tak tahu seperti apa ujungnya. Seperti perjalanan Jacques dan tuannya, yang tanpa arah itu, kita tetap mengikutinya, meskipun kita tak tahu kemana arah tujuan mereka. Bukankah tujuan hidup manusia juga terasa samar-samar? Bahkan meskipun ujungnya tak menarik, kita tetap menunggunya. Hanya karena kita ingin tahu, dan perasaan ingin tahu ini pun, sialnya, telah tercatat juga jauh di atas sana.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑