Satu siang sepulang dari sekolah, anak perempuan saya bertanya, “Ayah, kalau wajah Kinan ditukar sama wajah Kamia (teman dia), gimana?” Saya segera tahu, pertanyaan itu tak hanya harus dilihat sebagai pertanyaan naif seorang anak lima tahun, tapi sekaligus tantangan berat untuk seorang ayah: apa yang kamu bisa lakukan dengan pancingan pertanyaan semacam itu? Ada satu memoar yang saya sukai karena banyak ngebahas film, tapi juga karena godaan praktisnya: The Film Club karya David Gilmour (saya baca terjemahan Indonesia, “Klub Film”, empat tahun lalu. Yang berminat, tampaknya harus cari di loakan). Bagi penggemar film, buku itu merupakan penjelajahan khasanah film dunia, penuh dengan kritik tersembunyi sekaligus lelucon. Tapi lebih dari itu, saya menyukai gagasan mendasarnya: kamu bisa belajar dari apa pun. Inti ceritanya (spoiler, tapi apa salahnya? Buku yang baik akan kamu baca berulang-ulang meskipun tahu isinya. Buku yang kamu ogah baca karena sudah tahu isinya, mungkin memang tak layak dibaca, bahkan sekali pun): seorang anak putus sekolah dan si ayah pusing bagaimana bisa mendidik anaknya tanpa harus mengirimnya ke sekolah. Ia akhirnya bikin kesepakatan dengan si anak: boleh enggak sekolah, asal nonton tiga film dalam seminggu. Nah, si ayah (yang kritikus film) mulai mengkurasi film apa yang harus ditonton si anak. Setelah menonton mereka ngobrol, diskusi. Dari obrolan itulah si ayah, tak hanya menyisipkan segala hal pengetahuan mengenai film, tapi juga mengajari si anak mengenai matematika, sosiologi, sejarah, geografi, segala hal yang diperlukan anak lima belas tahun. Saya yang pada dasarnya tak suka sekolah, dan punya pengalaman buruk dengan sekolah (ya, ya, dikeluarkan dari sekolah ketika berumur empat belas tahun, persis seusia si anak di buku ini) tentu saja dengan cepat memiliki ikatan dengan buku tersebut. Memang banyak buku tentang anak-anak dan pendidikan, bahkan di Indonesia. Tapi sialnya, sebagian besar buku ditulis untuk orang-orang yang ingin sekolah. Sekadar ingin sekolah, atau ingin sekolah tinggi hingga ke luar negeri. Tak ada yang salah dengan itu. Mungkin memang banyak orang ingin sekolah dan kesulitan memperoleh akses terhadap lembaga tersebut. Keinginan saya justru sebaliknya: enggak pengin sekolah. Seandainya ayah saya membaca buku ini, atau berpikir seperti David Gilmour, mungkin pada akhirnya saya tak perlu kembali ke sekolah. Alangkah senangnya kan, jika bisa di rumah saja, menonton film, mendengar dan main musik, membaca buku, tanpa harus memikirkan pekerjaan rumah, bangun pagi karena jam tujuh harus ada di kelas, harus pakai seragam, harus potong rambut dengan rapi (saya mulai menguap). Buku ini saya rasa sama sekali tak menganjurkan orangtua untuk menarik anaknya dari sekolah, tapi yang terutama bagaimana orangtua terlibat dalam pendidikan anaknya dengan cara menyenangkan. Siapa pun bisa tetap seperti David Gilmour meskipun anaknya (suka) pergi sekolah. Tantangan terberatnya, tentu saja mempersiapkan orangtua untuk menjadi jembatan ke banyak pengetahuan, dan berhenti berpikir bahwa tugas ngajarin anak itu seratus persen kerjaan guru. Kalau gurunya ngajarin yang enggak bener, baru ngomel-ngomel di belakang. Kembali ke pertanyaan awal, sebagaimana juga banyak pertanyaan anak kecil lainnya, bukankan itu tak sekadar pertanyaan naif, tapi juga pertanyaan spekulatif yang bisa membawa ke banyak soal di dunia? Mendengar pertanyaan itu, sambil memikirkan buku The Film Club, saya jongkok (selalu menyenangkan bicara dengan anak kecil, dengan posisi mata sejajar) dan bertanya balik kepadanya (yang saya sendiri harus mikir untuk menjawabnya): “Kalau wajah Kinan dan Kamia ketuker, terus siapa ayah Kinan dan di mana rumah Kinan?” Saya rasa ia tak hanya sedang belajar sosiologi, tapi juga filsafat.