Journal

The Encyclopedia of the Dead, Danilo Kiš

Simon Magus bisa jadi sejenis olok-olok tentang kisah para nabi, rasul, orang suci, santa, wali dan sejenisnya yang penuh dengan mukjizat dan pengorbanan. Seperti para rasul, dia juga berkeliling untuk berkhotbah (tujuh belas tahun setelah kematian Yesus dari Nazareth), tapi dia meyakinkan orang-orang bahwa, “Aku bukan rasul.” Ya, benar. “Mereka menjanjikan keselamatan abadi, aku menawarkan pengetahuan dan keheningan.” Hingga ia mengejek omong-omong tentang mukjizat, yang membuat berang Peter yang kemudian menantangnya untuk menampilkan mukjizat sendiri. Kisah ini juga memperlihatkan kearoganan orang-orang yang merasa dirinya saleh, pengikut juru selamat (digambarkan melalui Peter dan murid-muridnya). Simon Magus memperlihatkan kepada mereka bahwa ia bisa terbang, meskipun kemudian ia harus jatuh dan remuk. Tapi itu tak membuktikan kelemahannya sebagai “manusia biasa” yang “bukan rasul” itu. Dalam kisah ini, itu membuktikan ajarannya bahwa “hidup manusia membusuk dan binasa, dan dunia berada di tangan tiran. Dikutuk oleh yang terbesar dari semua tiran, Elohim.” Itu merupakan cerita pertama dalam kumpulan cerita Danilo Kiš, The Encyclopedia of the Dead. Jika membayangkan ia seorang penulis yang mengolah sejarah, mitos, tradisi kesusastraan, yang terobsesi dengan politik dan membalutnya dengan fantasi, jelas itu salah khususnya mengenai fantasi. Ia tak percaya fantasi, meskipun dalam cerpen-cerpennya tampak pengaruh kuat dari Borges maupun Bruno Schulz. “Definisiku tentang kesusastraan,” katanya, “merupakan suatu usaha atas visi umum realitas dan kehancurannya yang berkesinambungan.” Kisah hidup penulisnya sendiri barangkali sama ajaibnya dengan fiksi-fiksinya. Ia lahir tahun 1935 di Yugoslavia, negeri yang sudah terhapus oleh sejarah (di Wikipedia, saya melihat wajahnya dicetak di prangko Serbia juga Montenegro), dan menulis dalam bahasa Serbo-Kroasia, yang dipergunakan di beberapa negara tapi mereka lebih suka menamainya dengan nama masing-masing dan kemudian memiliki standarnya masing-masing. Ia seperti ditakdirkan untuk “terkubur”, tapi seperti bayi-bayi agung yang mengawali hidupnya dengan cara yang menyedihkan, penulis ini dan buku-bukunya, terutama setelah kematiannya di tahun 1989, mulai memperoleh pembaca di mana-mana. Cerpennya yang lain, yang menjadi judul kumpulan ini, barangkali semakin mengingatkan kita pada Borges. Itu merupakan ensiklopedi orang-orang yang sudah mati. Semua orang yang sudah mati, kecuali orang itu ditulis di ensiklopedi yang lain (jadi ini ensiklopedi khusus orang-orang biasa). Beberapa saat setelah kematian ayahnya, si narator menemukan buku ini di satu perpustakaan di Swedia dan ia membaca entri tentang ayahnya. Kisah hidup orang biasa yang barangkali mewakili sebagian besar orang biasa. Tapi berbeda dengan Borges, Kiš tak tertarik dengan metafisika maupun spekulasi filsafat. Ia lebih tertarik kepada keajaiban yang ditawarkan oleh kehidupan sehari-hari, oleh realitas yang “lebih ajaib dari fiksi”. Demikianlah cerpen-cerpennya menjadi sejenis kisah realis biasa yang digempur oleh berbagai keajaiban tanpa harus menjadikannya fantasi maupun fantastik. Hanya ada sembilan cerpen di dalamnya, tapi saya kira ini merupakan salah satu buku yang harus ditengok berkali-kali, terutama bagi penggemar cerita pendek, terutama karena Kiš memang tak menerbitkan banyak karya. Sangat layak berada di tempat yang sama dengan Ficciones Borges maupun The Street of Crocodiles Bruno Schulz, sebagaimana juga berjejer bersama cerpen-cerpen karya Cortazar.

Standard