Eka Kurniawan

Journal

Tag: Cormac McCarthy

Nay, Lingkaran (Setan) dan Ruang Kosong

Salah satu novel yang saya suka, The Road karya Cormac McCarthy hanya menampilkan dua tokoh: bapak dan anak. Cerita mengikuti perjalanan mereka, di masa setelah dunia hancur, menuju satu daerah harapan. Konflik terjadi bukan di antara bapak dan anak ini, melainkan antara mereka dan situasi dari waktu ke waktu. Itu yang membuat novel itu keren, dan saya sering membaca ulang novel itu hanya untuk mempelajari perkara teknisnya. Butuh nyali untuk melakukan itu dalam beberapa ratus halaman. Tanpa bermaksud membandingkan keduanya, karena keduanya menceritakan hal yang berbeda dan mempergunakan medium yang juga berbeda, Djenar Maesa Ayu melakukan hal yang juga berani melalui film ketiganya, Nay: kita hanya dihadapkan kepada satu tokoh. Lebih dari itu, tokoh ini hampir sepanjang film juga cuma duduk di belakang setir mobil, yang terus berjalan menyisiri Jakarta (jika saya tak salah menebak, itu Kuningan, Antasari dan Jalan Panjang). Saya sering bertanya-tanya, mungkinkah konflik (hal paling esensial dalam sebuah cerita) bisa dikelola dengan baik tanpa kemunculan banyak tokoh, setidaknya dua tokoh? Bukankah berkelahi juga butuh lawan untuk saling adu pukul? Nay, bagi saya sudah membuktikan bahwa itu bisa. Di tangan Djenar, hal itu bahkan terlihat seperti gampang dilakukan. Tentu dengan trik. Saya ingin menyebutnya sebagai ruang kosong. Kenapa ruang kosong? Justru karena kosong, penonton bisa mengisinya dengan beragam gambaran “tokoh-tokoh” pendamping Nay di film itu, sehingga konflik terjadi dan plot bisa berjalan dengan baik. Djenar mempergunakannya dengan dua cara. Pertama, percakapan melalui telepon. Kita hanya mendengar lawan bicaranya: pacar, ibu si pacar, manajer, produser, dan pemuja (saya tak ingat nama-namanya). Sosok-sosok itu dibiarkan kosong. Kita tak tahu seperti apa mereka, dan satu-satunya petunjuk untuk membangun sosok-sosok itu hanya muncul melalui dialog Nay dengan mereka. Kita sering menemukan ruang imajinasi ini dalam membaca, tapi jarang ketika melihat film. Di sini Djenar memberi kita ruang tersebut. Cara kedua, dengan mempergunakan ruang kosong sebenarnya: kursi mobil di sebelah kiri Nay. Berkali-kali Nay menoleh ke kiri dan bicara dengan ruang kosong di sana, dan cerita terbangun mengenai masa lalunya, mengenai ibu, ayah kandung, dan simpanan si ibu. It takes two to tango, kata pepatah. Tapi sosok kedua yang berperan sebagai pasangan Nay (untuk menggiring cerita) bisa diciptakan melalui ruang kosong, dan kadangkala itu lebih efisien daripada menghadirkan mereka semua. Di luar itu, saya tak ingin memberi bocoran ini film apa. Seperti kebanyakan cerpen-cerpennya, Nay bisa dibilang seperti garis lurus dengan pendar-pendar di beberapa titiknya. Meskipun begitu, ada satu hal yang ingin saya bocorkan. Ada adegan tabrakan di awal dan di akhir. Awalnya saya menganggap itu adegan yang sama sekali tak penting. Tanpa adegan itu cerita utama akan berjalan tetap seperti seharusnya, tanpa terganggu. Mungkin sengaja, mungkin tidak (kita tak perlu bertanya soal ini kepada sang sutradara, juga sang sutradara tak perlu menjelaskannya), tapi tiba-tiba saya merasa itu sejenis kode. Tentang sesuatu yang berulang. Tentang sebuah lingkaran. Lebih tepatnya lingkaran setan. Kita memulai sesuatu dari satu titik, akan berakhir di titik itu kembali, dan selamanya akan begitu. Saya tak suka dengan lingkaran setan ini, dan saya yakin Djenar juga tak suka, dan itulah kenapa ia menulis dan membuat film ini. Lingkaran setan yang hanya bisa dimengerti jika telah menontonnya, tentu. Hal terakhir, saya sering mendengar orang mengatakan bahwa film merupakan bahasa gambar. Jika bisa dikatakan dengan gambar, katakan dengan gambar, jangan melalui dialog verbal. Saya sama sekali tak setuju. Nay juga membuktikan hal ini: film ini menjadi sebuah cerita, terutama karena dialog. Atau bahkan bisa dibilang separoh monolog, meskipun tentu saja gambarnya juga tak sia-sia.

Kisah Fantasi + Spekulasi Filsafat = Jorge Luis Borges

Jika boleh menyederhanakan, formula cerpen-cerpen Borges menurut saya bisa dikatakan adonan antara kisah fantasi dan spekulasi filsafat. Kalau penasaran, sila baca artikel saya “Kosmologi Borges”, tapi di sini saya terutama ingin menunjukkan bahwa kreatifitas pada dasarnya merupakan upaya membuat adonan baru dari sesuatu yang ada sebelumnya. Para ahli toh sudah banyak yang bilang bahwa tiga tahap kreatifitas itu sederhana. Pertama, kita meniru. Makanya, jangan buru-buru main hakim jika melihat seseorang meniru kreatifitas orang lain, atau memergoki anak kita mencontek. Meniru merupakan tahap awal kreatifitas. Yang harus ditanamkan adalah jangan membiasakan diri mengaku karya orang lain, apalagi memperoleh keuntungan dari pekerjaan orang lain, sebab itu sudah kriminal. Meniru bukanlah mencuri, atau mengaku, tapi sebuah usaha menempatkan diri di tempat orang lain dan mencoba melakukan hal yang sama yang telah dilakukan orang lain. Jika saya meniru lukisan Van Gogh, saya mencoba menempatkan diri di tempat Van Gogh dan mencoba melukis bunga matahari persis seperti yang dilakukannya. Biasanya tidak sama bagus, tapi setidaknya kita belajar sebuah proses kreatifitas langsung ke seorang master (meskipun secara imajiner). Ketika Borges menulis “The Story of the Two Dreamers”, saya rasa dia mencoba meletakkan dirinya di tempat Sir Richard Burton ketika menerjemahkan “The Ruined Man Who Became Rich Again Through A Dream”. Perbedaannya, Burton menerjemahkan karya itu dari Arab ke Inggris, sementara Borges membayangkan dirinya menerjemahkan ke Spanyol. Dan pada dasarnya, proses penerjemahan kurang-lebih sama seperti proses meniru, makanya banyak penulis mengawali karirnya belajar menulis melalui penerjemahan. Tahap kedua, setelah meniru, adalah memodifikasi atau mengubah karya orang lain. Di tahap ini seseorang tak lagi meniru, tapi mulai menambah atau mengurangi sesuatu secara sadar. Menyadur sebuah karya bisa dianggap merupakan proses modifikasi. Demikian pula parodi, saya kira. Sebagian besar karya awal Borges di A Universal History of Infamy, saya rasa merupakan proses modifikasi dari karya-karya atau sumber-sumber lain. Banyak penulis lain melakukan hal yang kurang sama: mengambil ide pokoknya, lalu mengembangkannya sendiri ke arah lain. Kita tahu Borges menulis buku The Book of Imaginary Beings, sejenis eksiklopedia mengenai makhluk-makhluk imajiner. Italo Calvino mencomot gagasan ini dan mengembangkannya menjadi Invisible Cities, yang kurang-lebih sama: tentang kota-kota imajiner. Roberto Bolaño saya kira juga berangkat dari gagasan yang sama dan memodifikasinya ketika ia menulis Nazi Literature in the Americas, tentang penulis-penulis dan kesusastraan sayap-kanan imajiner di dataran Amerika. Bahkan di tahap modifikasi ini pun, kreatifitas kadang menciptakan hal-hal hebat. Setelah meniru, memodifikasi, tahap terakhir kreatifitas adalah mencampur apa-apa yang telah ada sebelumnya menjadi sesuatu yang lain. Seperti buah jambu, nanas, bengkuang, dicampur gula merah, garam, cabai, asam jawa, dan jadilah “rujak”. Kita tahu di dalam rujak ada berbagai bahan, tapi kita tak lagi menyebutnya berdasarkan bahan-bahan itu. Dalam Borges, saya melihat kreatifitasnya merupakan adonan kisah-kisah fantasi ditambah spekulasi-spekulasi filsafat, yang kemudian menghasilkan cerpen-cerpen semacam “The Disk”, “The Book of Sand”, “Borges and I”, atau yang sangat terkenal, “Tlön, Uqbar, Orbis Tertius”. Dalam karya-karya Cormac McCarthy, kita menemukan adonan gaya Faulkner yang dicampur dengan kisah koboi atau “Spaghetti Western” (terutama dalam trilogi perbatasannya, serta di The Road dan No Country for Old Men). Dalam karya-karya Patrick Modiano, kita bertemu ramuan kisah detektif yang bertemu dengan tradisi Proust, serta novel-novel sosial-politik. Di Animal Farm, Orwell sudah jelas memadukan satir politik, sastra bertendens, dan fabel. Penulis Indonesia seperti Intan Paramaditha, meramu fairy tales dan dongeng gothic dengan isu-isu feminis dan politik, menghasilkan cerpen-cerpen yang orisinal. Dan puisi-puisi Joko Pinurbo, jika bisa disederhanakan, merupakan pertemuan antara kisah-kisah Alkitab dan lelucon-lelucon sufi, sertra tradisi puisi lirik. Tak ada yang baru di bawah langit, demikian kata pepatah. Tugas kita, manusia secara umum atau penulis secara khusus, hanyalah membuat rujak. Syukur jika enak dimakan. Syukur jika ada lidah yang terus mengenang rasa rujak itu dan mengingat rasa tersebut sambil mengingat siapa yang membuat adonannya.

130 Tahun Huckleberry Finn

Selamat ulang tahun, Kawan. 130 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Saya tak tahu seperti apa keadaannya di hari itu, 10 Desember 1884, ketika The Adventures of Huckleberry Finn terbit pertama kali. Tapi hari ini saya masih membacanya kembali, melalui edisi yang saya beli dari toko buku loak di pinggiran Tokyo bernama Book-Off seharga 105 yen, dengan coretan-coretan huruf kanji dari seorang pembaca lokal yang mungkin tengah mempelajari bahasamu. Jika ada satu buku saya masih bertahan hingga setua itu dan masih ada yang membacanya, saya tak tahu apakah saya akan bahagia atau tidak: saya tak akan ada lagi di dunia ini untuk mengetahuinya. Tapi saya berharap kebahagiaan untuk penulismu. Ada orang-orang yang mengatakan kita menulis untuk keabadian. Saya meragukannya. Menurut saya, ini ilusi. Kenyataannya, 99,999999 persen buku di dunia ini akan lenyap ditelan gilasan roda zaman. Tak perlu menunggu 130 tahun, buku yang hari ini terbit banyak yang sudah dilupakan di tahun depan. Setidaknya 5 tahun sudah menjadi kertas tisue untuk cebok. Seperti dinosaurus dan harimau jawa, banyak gagasan dan buku yang akan punah. Kau harus percaya itu. Kau harus percaya Darwin, sebagaimana percaya Heraclitus yang mengatakan bahwa tak ada yang abadi kecuali perubahan. Kita, para penulis, menciptakan ilusi keabadian ini agar kita lupa dan tak sadar, bahwa sebagian besar yang kita tulis tak lebih dari sampah peradaban belaka. 130 tahun bukanlah waktu yang abadi. Selalu ada kemungkinan suatu hari kau akan lenyap, orang tak membutuhkanmu lagi, tak menginginkanmu lagi, dan kamu akan terlupakan. Tapi apa pedulinya dengan “suatu hari”? Dinosaurus barangkali tidak benar-benar punah. Kode-kode genetiknya diwariskan kepada kita, manusia, sebagaimana diwariskan kepada kodok dan cacing pita. Demikian pula buku: melebihi berapa ratus tahun sebuah buku bisa bertahan, jauh lebih penting bagaimana “kode genetik” buku-buku dan gagasan, diwariskan kepada buku-buku dan gagasan berikutnya. Sebagaimana dirimu memperoleh warisan berharga dari tradisi picaresque Spanyol, dari novel-novel anak-anak berandalan semacam Historia de la Vida del Buscón Don Pablos atau La Vida de Lazarillo de Tormes. Dan siapa tahu kau pun mewariskan sesuatu kepada novel lokal semacam Si Doel Anak Djakarta (sebelumnya Si Doel Anak Betawi)? “We said there warn’t no home like a raft, after all.” Kau mengatakan itu di bagian tengah buku, dan saya tak pernah tidak setuju. Hidup ini selalu merupakan perjalanan, terapung-apung di atas rakit, seperti kau lakukan di sepanjang sungai Mississippi. Kalimat itu, barangkali cukup satu kalimat saja dari ribuan kalimatmu, merupakan kode genetik yang merasuki kepala saya, dan izinkan menjadi bagian dari pikiran-pikiran saya. Saya tak tahu apakah penulismu merupakan penulis terbaik yang dilahirkan Amerika. Sejujurnya saya hanya membaca segelintir penulis Amerika. Selain penulismu, Mark Twain, saya membaca Herman Melville, Hemingway, Faulkner, Toni Morrison dan kurasa ini yang terbaik dari generasi kontemporer: Cormac McCarthy. Tapi saya rasa khayalan tentang Amerika akan sangat berbeda tanpa dirimu, tanpa petualangan Huckleberry Finn di sepanjang Mississippi, persahabatannya dengan Jim si budak, dan seperti novel-novel picaresque yang saya sukai, pertanyaan besar-kecil mengenai masyarakat orang dewasa dari kacamata seorang anak kecil. Ketika saya meninggalkan rumah dan sekolah, dan akhirnya dikeluarkan dari sekolah saat umur belum juga genap 14, saya belum membacamu. Tapi ketika pertama kali membacamu, bertahun-tahun kemudian, saya melihat diri saya di wajahmu, sebagaimana sering kita temukan di karakter-karakter yang mengenangkan di novel-novel lain. Sekali lagi selamat ulang tahun. Saya tak bisa menyediakan 130 lilin, tapi lebih dari 500 kata tulisan ini barangkali cukup untuk ditiup, sebelum lenyap menjadi sampah peradaban yang lain.

Apa Sih, yang Dilakukan Para Penulis Hebat?

Saya kadang-kadang bertanya seperti itu. Apa sih, yang membuat mereka hebat? Apa yang bisa kita lakukan jika ingin seperti mereka? Saya tak memiliki kesempatan untuk bertanya kepada para penulis hebat favorit saya: Hamsun, Gogol, Melville, Kawabata, Borges, dan lain-lain. Bahkan sekiranya mereka masih hidup dan saya berkesempatan bertanya, saya mungkin terlalu jengah untuk bertanya. Jadi apa yang bisa saya lakukan hanyalah sedikit menduga-duga, ya, dengan cara mencari tahu apa yang mereka lakukan dalam hidupnya. Tentu saja selain menulis karya-karya hebat itu. Pertama, tentu saja karena mereka banyak membaca. Mereka pembaca-pembaca kelas berat. Tengok Borges: saya curiga ia membaca hampir semua buku di perpustakaan tempatnya bekerja, hingga di masa tua matanya nyaris buta. Yang jelas, ia membaca karya-karya klasik Inggris. Sebenarnya tak cuma Inggris. Jika kita membaca cerpen-cerpennya, kita tahu ia membaca sastra dari mana-mana. Salah satu buku favoritnya adalah Alf Layla wa Layla, atau kita mengenalnya sebagai Hikayat Seribu Satu Malam. Atau coba baca wawancara beberapa penulis di The Paris Review. Saya sering terbengong-bengong melihat luasnya bacaan mereka. Atau baca buku kumpulan esai Roberto Bolaño, Between Parenthesis, ia membaca tak hanya sesama penulis (berbahasa) Spanyol, tapi juga membaca Cormac McCarthy, misalnya. Berapa banyak buku yang sudah kamu baca? Klasik dan kontemporer? Tak hanya dari kesusastraan negerimu sendiri? Jika ingin sehebat Borges atau yang lainnya, saya rasa kamu harus membaca segila mereka. Kedua, menerjemahkan. Menerjemahkan, tak hanya membuat pengetahuanmu atas bahasa lain bertambah, tapi sekaligus mengajarimu menulis secara langsung dari penulis yang kamu terjemahkan. Kamu mengikuti jejak sang penulis, kata per kata, kalimat per kalimat, dengan bahasamu sendiri. Pada saat yang sama, kamu tengah mengasah kemampuan menulismu, ya, dalam bahasa yang kamu pergunakan. Murakami merupakan seorang penerjemah yang tekun. Ia menerjemahkan novel Raymond Chandler ke Bahasa Jepang, salah satunya. Juga menerjemahkan novel The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald. César Aira, yang novel-novelnya belakangan saya gemari, juga seorang penerjemah (sampai satu titik, bisa dibilang profesinya). Kembali ke Borges: novela Metamorfosa Kafka yang dibaca pertama kali oleh García Márquez merupakan edisi Spanyol yang diterjemahkan oleh Borges. Tak usah jauh-jauh, novelis terbaik kita, Pramoedya Ananta Toer, juga menerjemahkan banyak karya penulis luar: Steinbeck, Tolstoy, Saroyan. Ketiga, tak hanya menulis cerita, novel atau puisi, tapi tulis juga pandangan-pandanganmu tentang penulis lain, karya lain, dan kesusastraan secara umum. Sampai saat ini, salah satu esai terbaik tentang teknik menulis dua raksasa sastra Amerika saya temukan di esai pendek Gabriel García Márquez berjudul “Gabriel García Márquez Berjumpa dengan Ernest Hemingway”. Di esai itu, ia menulis tentang Hemingway dan Faulkner, dan bagaimana kedua raksasa itu berbeda secara teknik. Ngomong-ngomong soal García Márquez, jangan lupakan buku ulasan serius Mario Vargas Llosa mengenai novel Cién Anos de Soledad. Vargas Llosa juga menulis buku serius mengenai Madame Bovary dan Gustave Flaubert (Perpetual Orgy: Flaubert and Madame Bovary). Mau contoh yang lain? Michel Houellebecq menulis biografi kritis mengenai penulis cult Amerika, H.P. Lovecraft. Saya rasa, menulis esai tentang penulis dan karyanya membantu kita untuk belajar menganalisa, belajar melihat sudut-sudut pandang yang berbeda, dan dengan tanpa sadar, kita menciptakan cara berpikir sendiri, dan sudut pandang yang barangkali unik. Keempat, yang ini tak perlu dijelaskan panjang-lebar: terus menulis. Anda bisa menambahkan beberapa hal lain, yang boleh ditiru atau tidak: maraton (Murakami), mabuk (Faulkner), berburu (Hemingway), dan lain-lain. Jadi jika ada yang bertanya kepada saya bagaimana caranya menjadi penulis hebat, barangkali saya akan menjawab terutama empat perkara di atas. Jujur saja, itu bukan jaminan juga. Saya hanya berusaha menjawab dengan belajar dari penulis-penulis ini. Tapi setidaknya, mencoba melakukan apa yang mereka lakukan, saya rasa bukanlah hal buruk. Juga bukan kejahatan. Itu hal-hal baik yang layah dicoba. Setidaknya, belajar dari mereka, saya tahu bukanlah hal mudah untuk menjadi penulis yang baik, apalagi penulis yang hebat. Sebagaimana bukan hal yang mudah mengalahkan Usain Bolt dalam adu cepat lari di lintasan seratus meter.

All The Pretty Horses

Setelah membaca The Road, saya memutuskan untuk membaca novel lain karya Cormac McCarthy. Kali ini saya melanjutkannya dengan All The Pretty Horses. Kadang-kadang, jika saya menemukan penulis baru dan saya menyukainya, antusiasme saya seperti anak kecil. Saya ingin melakukan maraton membaca semua, atau paling tidak beberapa karyanya berurutan. Penulis baru? Beberapa orang mungkin akan berkata, Kemana saja kamu selama ini baru membaca Cormac McCarthy? Baiklah, saya tidak kemana-mana. Ada ratusan atau bahkan ribuan penulis di dunia ini yang karyanya layak dibaca. Saya yakin banyak di antara mereka dengan mudah terlewatkan. Itulah hal menarik dari menyukai kesusastraan. Hal terbaik dari kegemaran membaca novel dan cerita pendek, serta puisi, bahkan esai. Hal yang sama barangkali tak jauh berbeda dengan membaca buku-buku filsafat (yang sering saya lakukan, juga untuk kesenangan). Jika umur kita cukup panjang pun, katakanlah seratus tahun, karya-karya terbaik dari penulis-penulis terbaik di dunia tak akan selesai kita lahap semua. Dengan cara itulah, dari tahun ke tahun kita akan menemukan penulis-penulis dan karya-karya baru, meskipun kenyataannya sudah lama. Kembali ke Cormac McCarthy, saya mengenalnya karena menonton film No Country for Old Men. Meskipun belum membaca novel itu, saya memutuskan untuk mulai membaca novelnya. Sekilas saja kita segera tahu, karya-karyanya banyak terpengaruh oleh tradisi kesusastraan western (untuk menyebut tradisi cerita koboi). Tak hanya penuh petualangan, tapi bahkan penuh adegan kekerasan, kebrutalan, dan kehidupan yang liar dan kasar. Dalam The Road, kita memang tak dihadapkan pada petualangan para koboi. Novel ini bercerita di waktu dunia (Amerika?) selepas “kiamat”. Dua orang ayah dan anak melakukan perjalanan sepanjang jalan, berbekal satu pistol dan kemudian satu peluru untuk melindungi diri, mencari pantai untuk memulai kehidupan baru. Bukan cerita koboi dengan kuda dan topi laken memang, tapi tema itu tak jauh berbeda dengan kisah para koboi yang menyeberangi dataran Amerika untuk mencari tambang emas, bukan? Di No Country for Old Men, kita menemukan polisi tua yang harus berhadapan dengan jaringan narkoba perbatasan Amerika-Meksiko. Si polisi, tentu saja memakai topi laken bergaya koboi. Hingga akhirnya saya menemukan koboi sungguhan di All the Pretty Horses. John Grady Cole (anak remaja yang bahkan belum selesai sekolah) merasa dirinya dilahirkan sebagai koboi, dilahirkan untuk hidup di hamparan padang rumput bersama ternak dan kuda. Ketika ia merasa tercerabut dari peternakan keluarganya, ditemani seorang teman dan seorang teman lagi yang ditemuinya di perjalanan, ia memutuskan untuk naik kuda dan menyeberang perbatasan. Saya penggemar film koboi (sebagaimana saya menyukai film-film wuxia), tapi bisa dibilang tak pernah membaca novel-novel koboi (saya masih bisa membaca novel-novel wuxia, yang banyak disadur ke dalam kesusastraan Indonesia). Baiklah, dalam karya McCarthy, kita memang tak menemukan koboi sebagaimana di film-film. Bahkan ia memindahkan tempat yang biasanya berada di barat ke selatan. Maka jangan heran, di kisah-kisah koboinya, kita juga menemukan aroma selatan sebagaimana bisa kita temui dalam karya-karya Faulkner. Ia mencampur petualangan, plot yang penuh kekerasan, dengan paparan mendalam tentang psikologi. Tentang mimpi, harapan, dan bahkan ketakutan. Dalam satu tinjauan tentang novelnya yang lain, Blood Meridian, Roberto Bolaño bahkan menyebut lanskap novel McCarthy sebagai lanskap (Marquis) de Sade: satu lanskap yang haus dan tak acuh yang dikendalikan oleh hukum aneh yang meliputi rasa sakit dan anestesia. Saya sudah lama tak membaca sastra Amerika. Setelah generasi emas Faulkner, Hemingway, Fitzgerald, dan kemudian Steinbeck, tak banyak lagi yang menjulang setinggi mereka. Tapi kini, satu nama saya pikir sangat perlu untuk diperhatikan: Cormac McCarthy.

Ayah dan Anak

Membaca novel yang menceritakan hubungan ayah dan anak, akhir-akhir ini sering membuat saya merasa sentimentil. Saya sering melihat anak perempuan saya dan bertanya-tanya, masa depan macam apa yang bisa saya sediakan untuknya; dan apakah saya bisa menjadi ayah yang baik. Lain kali, saya teringat kepada ayah saya, yang sudah tiada, dan mengenang hal-hal baik yang pernah kami alami, dan hal-hal buruk yang beberapa di antaranya saya sesali. Si anak kecil di The Road Cormac McCarthy, beberapa kali mengingatkan ayahnya untuk menepati apa-apa yang telah dikatakannya sendiri. Saya membayangkan, seandainya saya dan ayah saya berada di posisi kedua tokoh di novel itu, saya tak terlalu yakin saya akan banyak bicara dengan ayah. Itu salah satu yang saya sesali. Saya pernah berdua saja dengannya naik kereta ke Yogya. Kami tak banyak bicara, asyik dengan pikiran sendiri-sendiri. Turun di Stasiun Tugu, menelusuri trotoar Malioboro, kami bahkan tak juga bicara satu sama lain. Hingga tiba-tiba ia melirik kaus yang saya kenakan. Saya ingat, saat itu saya memakai kaus putih bergambar Sebastian Bach (bukan komponis klasik, tapi vokalis Skid Row), yang saya lukis sendiri. Saya sangat menyukai kaus itu, hingga saya memakainya berulang-ulang. Saat itu jelas kaus itu telah sangat lusuh, mungkin sudah sedikit berlubang. Ayah memandang saya dengan tatapan prihatin, lalu menunjuk ke satu toko. “Masuk dan cari kaus, ganti kausmu yang itu.” Ia juga jarang bicara, tapi sama sekali bukan tak peduli. Seandainya waktu bisa berulang, saya ingin sekali bersikap seperti anak kecil di The Road. Saya akan bicara apa saja, bertanya ini-itu kepada ayah saya, sebab saya tahu kadang-kadang saya bisa sangat cerewet. Bertahun-tahun kemudian setelah peristiwa kaus oblong di Malioboro itu, saya lulus kuliah dan memutuskan untuk tetap tinggal di Yogya. Tanpa kiriman uang, saya mengerjakan apa saja agar bisa makan dan membayar sewa pondokan (menjadi ilustrator untuk sebuah biro iklan kecil, membuat poster untuk LSM, mendesain sampul buku, menerjemahkan artikel, hingga membuat kaus untuk pemilihan kepala desa), sambil mati-matian mencoba meniti karir menjadi penulis. Berbulan-bulan hingga setahun lewat, saya tak pulang, bahkan di Hari Lebaran. Sekali waktu ada telepon dari rumah (saya baru saja memiliki telepon genggam). Ternyata dari ayah saya. Kami ngobrol pendek saja, dan intinya ia hanya bertanya, “Apakah kamu punya uang?” Saya dalam keadaan tak punya uang, tapi saya tak ingin membuatnya cemas, maka saya bilang saya baik-baik saja dan punya uang. Setelah telepon ditutup, beberapa menit kemudian telepon kembali berdering. Kali ini dari ibu saya. Saya bisa ngobrol lama dengan ibu saya. Tapi kali itu, ibu hanya ingin memberitahu saya bahwa: “Jika tak mau pulang, tak apa-apa, tapi teleponlah ayahmu paling tidak sebulan sekali, sebab ia terus menanyakanmu.” Saat itu mata saya berkaca-kaca, meskipun yang keluar dari mulut saya adalah kata-kata anak muda tak tahu diri: “Jika tak ada kabar dariku, berarti aku baik-baik saja.” Dan ketika ayah tahu saya sedang berusaha mewujudkan mimpi masa remaja saya untuk menjadi penulis, ia tiba-tiba bilang kepada saya, bahwa ia punya kenalan seseorang di penerbitan. Ia ingin membantu saya, meskipun kemudian ia tak pernah membahasnya lagi, seolah sadar untuk hal itu saya tak akan pernah mau menerima bantuan darinya. Saya tak tahu kenapa tiba-tiba membaca Cormac McCarthy. The Road di tangan saya hanyalah buku bekas. Saya lupa kapan membelinya. Ada stempel toko buku bekas di Kuta, Bali, di balik sampulnya. Berarti telah beberapa tahun lalu. Jika ayah saya masih ada, ingin sekali saya menyodorkan buku itu kepadanya. Saya bayangkan di waktu tuanya, ia punya lebih banyak waktu membaca. Bahasa Inggrisnya saya rasa jauh lebih baik dari saya. Ia guru Bahasa Inggris di SMP, meskipun kemudian ia lebih memilih berwirausaha. Kami akan membicarakan novel itu. Membicarakan posisi McCarthy di antara raksasa-raksasa kesusastraan Amerika. Sayangnya ia sudah tiada. Kami tak sempat berbagi selera bacaan. Kini apa yang bisa saya harapkan barangkali, segala harapan yang tak bisa saya lakukan bersama ayah, mungkin bisa saya lakukan bersama anak perempuan saya. “Kamu melupakan apa yang ingin kamu ingat, dan mengingat apa yang ingin kamu lupakan,” kata si ayah di The Road. Saya selalu teringat hal-hal menyedihkan itu, sebab tentu saja karena saya selalu berusaha melupakannya.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑