Begitu membaca halaman pertama, kemudian bab pertama, saya langsung jatuh cinta dengan caranya bercerita, terutama dengan bahasa yang dipergunakannya. Saya selalu suka dengan penulis yang mempergunakan bahasa “pasar”, bahasa sehari-hari, dalam tingkat tertentu barangkali amburadul. Apalagi jika digabung dengan humor (lelucon tentang seks, ras dan bahkan agama, serta apa pun yang selalu dianggap sebagai hal yang serius), ironi, dan kisah penuh petualangan (dengan sedikit kekerasan). Ham on Rye karya Charles Bukowski memberi saya semua itu. Sialan juga kenapa saya tak mencoba membacanya sejak lama. Jujur saya agak malu: saya mengambil buku ini karena bingung mau membeli buku apa, pada saat yang sama saya harus memecahkan uang (agar memperoleh kembalian), dan saya melihatnya tergeletak di satu rak toko buku Strand yang legendaris itu (di komputer saya ada beberapa foto, entah dari mana saya mengunduhnya, para penyair dan penulis Generasi Beat – Beatnik – berdiri di depan toko itu). Untuk banyak orang, novel ini mungkin rasis: ada dialog mengenai “Siapa yang lebih hebat antara orang Jepang dan Cina?” dan dijawab, “Jepang. Tapi masalahnya orang Cina banyak banget, setiap kali Jepang membelah mereka, satu Cina jadi dua.” Untuk kaum feminis, novel ini bisa juga seksis: beberapa adegan di mana para lelaki menonton dan membicarkan memek (“cunt”), dan seorang murid ngocok sampai orgasme, sambil melihat paha guru perempuan yang (mereka pikir sengaja) duduk di meja sedikit mengangkang. Serta imajinasi bocah-bocah itu untuk mengentoti (“to fuck”) guru mereka. Dan bagi kaum relijius, barangkali novel ini juga penistaan: si bocah suatu ketika membaptis anjing agar binatang itu juga memperoleh jalan ke surga, tapi pada saat yang sama ia berhenti mengunjungi gereja. Negara, politik, ideologi, semua menjadi bahan sinisme narator maupun tokoh-tokohnya. Tapi jika kamu bisa membebaskan diri dari beragam prasangka ideologis (ras, gender, agama, atau lainnya), saya rasa kita bisa menempatkannya sebagai pengalaman melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda-beda, termasuk cara pandang yang tidak kita sukai, melalui tokoh-tokoh yang secara alami saya yakin ada di antara kita. Saya selalu percaya, (1) jika hal-hal tertentu merupakan masalah, membicarakannya jauh lebih baik daripada membungkamnya, (2) sebuah novel tak perlu hanya berisi tokoh-tokoh yang pikirannya selalu “benar secara politik”, sebab saya tahu dunia tidak melulu dipenuhi karakter seperti itu. Secara umum, novel ini menggambarkan masyarakat bawah (proletar barangkali lebih tepat, mengingat tokohnya kadang membaca Gorky, hal yang jarang saya temukan di novel penulis Amerika, meskipun Bukowski tak menggunakan istilah itu), kaum yang tercerabut (“kayaknya nasib gue bakalan jadi pembunuh, perampok bank, santa, pemerkosa, pendeta …”), di situasi sosial-politik-politik ekonomi yang serba sulit untuk mereka: masa Depresi Besar, dan menjelang keterlibatan Amerika di Perang Dunia II. Tapi yang menarik perhatian saya sebenarnya bukan tema atau apa yang diceritakannya, melainkan bahasa yang dipergunakan Bukowski. Di satu sisi, ekspresinya bersifat sosial, tapi di sisi lain terasa individual. Seperti puisi yang sangat besar dan luas. Kalimat-kalimatnya cenderung kasar, tak teratur, pendek-ekspresif, tapi tak menghalanginya untuk menjadikannya alat pembawa cerita. Saya rasa, misi estetisnya dengan bahasa bisa dipahami melalui komentar si narator (yang juga tokoh utama) ketika selesai membaca Hemingway: “Words weren’t dull, words were things that could make your mind hum. If you read them and let yourself feel the magic, you could live without pain, with hope, no matter what happened to you.” Memikirkan bagaimana saya memperoleh buku ini, saya semakin merasa begitu banyak buku bagus yang berada di luar radar indera saya. Betapa sedikit yang saya baca selama ini. Lain kali saya perlu mengambil buku secara acak di toko dan melihat apa yang akan terjadi dengan pengalaman baca seperti itu.