Eka Kurniawan

Journal

Tag: Chairil Anwar

Indonesian Greatest Writers and Some Talented New Generations

jplus_160815

Here is my glimpse view of Indonesian greatest writers, and some talented writers of our new generation (from JPlus, 16 August 2015).

Ahli Waris Kebudayaan Dunia?

Kadang-kadang saya berpikir, mental inferior kita dalam kesusastraan (yakni mental asyik dengan dunia sendiri, berani bertarung cuma dengan kawan-kawan sendiri, karena enggak punya nyali bertarung di kelas berat dengan lawan-lawan yang berat), telah ada sejak kaum Seniman Gelanggang Merdeka di awal 50an (22 Oktober 1950) memproklamasikan diri bahwa, “Kami ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia, dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri.” Halo? Ahli waris? Dilihat dari sudut pandang wirausaha, mental “ahli waris” merupakan mental pemalas dan mau gampangannya saja. Mental ahli waris adalah mental kekanak-kanakan, yang melihat generasi sebelumnya banting-tulang mendirikan kejayaan, terus kita tinggal menikmatinya. Eh, tunggu, bukankah di dalam wirausaha, juga banyak ahli waris yang bisa memajukan usaha orangtua mereka lebih tinggi dari sebelumnya? Baguslah kalau itu terjadi. Tapi di lapangan kebudayaan, mereka memperlakukan warisan ini dengan “kami teruskan dengan cara kami sendiri”. Apa maksudnya ini? Maksudnya ingin lepas tanggung jawab? Ingin memperoleh warisan, tapi kemudian warisan itu boleh dong kita perlakukan sesuka-suka kita? Persis mental anak malas yang mau enaknya makan kekayaan orang tua dan bilang ke orang, “Suka-suka gue dong mau diapain, duit-duit gue.” Tak ada tanggung jawab yang menyiratkan bahwa, “Kami ahli waris kebudayaan dunia, dan kami akan bikin kebudayaan ini lebih menjulang lagi.” Atau, “Kami ahli waris kebudayaan dunia, dan kami akan mewariskan hal yang lebih baik kepada dunia.” Tidak. Saya rasa mental kita tak ditempa untuk menjadi sesuperior itu. Mental kita adalah mental yang jika dituding tak mampu melakukan apa-apa, maka akan bersembunyi di balik tameng, “Kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri.” Proklamasi kebudayaan itu sudah terjadi berpuluh-puluh tahun, diproklamasikan justru oleh generasi yang saya pikir bukanlah para “ahli waris”, tapi para perampok yang budiman. Mereka merampok kekayaan kebudayaan dari mana-mana, dari tempat-tempat yang mereka bisa merampoknya. Dan saya lebih menghormati para perampok ini daripada para ahli waris. Dari hasil rampok-merampok ini (apa istilahnya mengambil sesuatu milik bangsa lain – kebudayaan mereka – menjadi milik sendiri, jika bukan merampok?), mereka membangun kekayaan: puisi-puisi Chairil Anwar, cerpen-cerpen Asrul Sani, novel-novel Pramoedya, misalnya. Jika generasi ini kemudian memproklamasikan diri mereka sebagai “ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia” daripada “perampok kebudayaan dunia”, dan dengan tanpa tanggung jawab memilih “kebudayaan ini kamu teruskan dengan cara kami sendiri” daripada memilih berjanji, “dan kekayaan budaya ini akan kami pakai untuk mendidik anak keturunan kami agar lebih berbudaya”, saya kuatir ini merupakan kecelakaan sejarah. Hasilnya, dari generasi ke generasi, kita mewarisi mental-mental “ahli waris” ini. Pengaruhnya kemana-mana: negara dibangun dengan “warisan” utang dunia; seseorang merasa bisa jadi presiden karena bapaknya (atau ibunya, atau kakak iparnya) pernah jadi presiden, seolah-olah jabatan merupakan warisan pula; dan banyak undang-undang kita, masih merupakan warisan hukum kolonial. Jika ada yang bilang bahwa sastra, kesenian, dan kebudayaan tak memiliki fungsi praktis, saya bisa menunjukkannya: sastra, kesenian, dan kebudayaan bisa sangat praktis dalam menyumbang keruntuhan. Jadi apa saran saya setelah ngomel ke sana-kemari ini? Buat saya sudah jelas, saya akan berhenti menganggap diri saya sebagai “ahli waris”. Bahkan meskipun kebudayaan ini diciptakan oleh ayah atau kakek saya, saya tak ingin menempatkan diri sebagai “ahli waris”. Kebudayaan yang mereka ciptakan merupakan kekayaan mereka, dan kita, sudah selayaknya berjanji untuk membangun kekayaan sendiri. Kebudayaan sendiri. Saya hanya akan bangga dengan apa yang bisa saya kerjakan, bukan yang telah dikerjakan oleh nenek-moyang, apalagi oleh orang lain. Jika untuk modal membangun kekayaan sendiri itu kita harus merampoknya dari orang lain, mari kita merampoknya. Kita baca seluruh khasanah kesusastraan mereka. Jika Anda terlalu takut untuk menjadi Robin Hood, setidaknya mari kita “meminjamnya”. Dan sebagaimana peminjam yang baik, kita harus mengembalikan kebudayaan dunia yang kita pinjam, kembali ke dunia. Pastinya dengan bunga! Kalau perlu, dengan bunga kelas rentenir! Berhentilah menjadi kerdil sejak dalam kepala. Jika lapangan kesusastraan ini merupakan medan pertempuran melawan para raksasa, mari kita berkelahi dengan penuh nyali. Para raksasa itu tak lebih dari kincir angin belaka, Tuan. Dan saya akan menutup gerundelan ini dengan kutipan dari Umar Kayam (mudah-mudahan ia termasuk yang meyakini dengan teguh pernyataannya ini): “Bangsa yang bisa membangun Borobudur, mestinya bisa membangun apa pun.”

Tiga Penulis

Tiba-tiba saya memikirkan tiga orang penulis, yang saya pikir merupakan penulis-penulis besar yang telah diperlakukan dengan tak sepantasnya di negeri ini. Pertama-tama, saya akan menyebut Wiji Thukul. Di generasinya, saya pikir ia penyair paling cemerlang dan orisinal. Sajak-sajak pamflet dan protesnya seperti tinju yang menghantam-hantam, kadang-kadang seperti cubitan kekasih yang membekas lama. Di tengah tradisi puisi yang (saya suka menyebutnya) “mooi indie”, puisi-puisi Thukul seperti penyimpangan yang mengancam. Saya mendengarnya (ya, mendengar bukan membaca) pertama kali di tengah-tengah aksi jalanan mahasiswa di Yogyakarta, di pertengahan hingga akhir 90an. Puisi-puisinya hidup di tengah aksi protes dan pembangkangan, dan aksi-aksi jalanan itu juga hidup oleh puisi-puisinya. Tapi seperti kita tahu, ia hilang bersama belasan aktivis lainnya. Tak ada yang tahu apakah ia masih hidup atau sudah menghilang. Tak ada yang tahu dan tak ada yang mengaku, siapa yang membuatnya menghilang. Apa yang terjadi padanya merupakan sensor atas kesusastraan yang paling penghabisan, paling mengerikan. Jika kita merasa hari ini menikmati kebebasan yang melimpah atas nama kesenian dan kesusastraan, pikirkanlah barangkali itu semu belaka. Sejarah Wiji Thukul belum lama terjadi, dan tak pernah ada koreksi sama sekali. Jika seseorang bertanya kepada saya, siapa penulis Indonesia yang perlu diterjemahkan ke bahasa asing sehingga mereka mengenali kesusastraan kita? Saya ingin menyebut, kita perlu memperkenalkan sajak-sajak Wiji Thukul. Bukan karena ia hilang, tapi karena sajak-sajaknya memang harus dibaca. Karena saya ingin membayangkan, jika orang berpikir seperti apa kesusastraan Indonesia, mereka akan melihatnya dalam puisi-puisi itu. Sedikit mundur ke belakang, tentu saja saya akan menyebut penulis kedua: Pramoedya Ananta Toer. Saya tak akan menulis banyak tentangnya, sebab banyak hal tentang Pramoedya telah diketahui orang. Termasuk sensor kesusastraan yang juga terjadi atasnya: pembuangan ke Pulau Buru. Kita bersyukur bahwa sensor mengerikan ini tak menghentikannya dalam menulis karya-karya besar, di antaranya Arus Balik dan Tetralogi Buru, tapi bayangkan jika ia tak perlu mengalami itu semua. Jika ia tak harus kehilangan arsip-arsip penelitiannya. Jika negeri ini memberinya kesempatan untuk menulis lebih banyak lagi. Dalam hal ini saya selalu berpikir negeri ini dirasuki kebodohan. Kita selalu berhasil menghentikan (membuang, menghilangkan, dan bahkan membunuh) bakat-bakat cemerlang, sehingga yang tersisa adalah apa yang memang bisa kita sebut sebagai sisa-sisa. Saya akan berhenti bicara tentang Pramoedya, kali ini saya ingin menyebut penulis ketiga, dari generasi yang jauh lebih ke belakang lagi: Amir Hamzah. Ia dijuluki (oleh H.B. Jassin) sebagai “Raja Penyair Pujangga Baru”, dan saya pikir memang ia raja. Ia tak hanya bisa disebut sebagai salah satu peletak sastra modern Indonesia, tapi kita harus mengakui bahwa sajak-sajaknya melampaui pelabelan tersebut. Sajak-sajaknya merupakan bagian dari karya-karya terjernih dan terbaik yang pernah dihasilkan oleh anak negeri ini. Saya bahkan tak bisa membayangkan Chairil Anwar akan muncul dengan puisi-puisinya yang seperti kita kenal, tanpa ia pernah membaca Nyanyi Sunyi, karya terbaik Hamzah. Tapi apa yang terjadi pada dirinya? Ia mati terbunuh dalam satu revolusi sosial di Sumatera. Ia seorang nasionalis, ia mencita-citakan Indonesia, tapi ia dihukum pancung pada 20 maret 1946 yang kemungkinan karena ia “feodal” dan mungkin dituduh anti-revolusi. Tuduhan yang saya pikir salah kaprah dan tak bisa dipertanggungjawabkan. Menyedihkan. Negeri ini memiliki sejarah yang memilukan: ia memenggal bunga-bunga tercantiknya, bahkan jauh sebelum mekar. Jika kesusastraan kita hari ini, untuk para pengeluh yang budiman, tak pernah beranjak kemana-mana, barangkali mungkin memang ini penyebabnya. Bahwa kita sering menghentikan bakat-bakat terbesar kita. Kita tak hanya tak menyediakan tanah gembur untuk pohon-pohon tumbuh agung, tapi bahkan jika ada pohon yang bakal menjulang indah di tanah tandus pun, tanpa rasa bersalah, kita menebangnya.

Apa yang Saya Katakan Ketika Saya Bicara Sastra Indonesia?

Sudah sering saya mendengar seseorang bertanya, kenapa sastra Indonesia belum dikenal di dunia? Belum lama, saya membaca tulisan pendek Linda Christanty di Facebook, kurang lebih mengatakan, untuk apa memperkenalkan sastra Indonesia ke dunia, jika kualitasnya masih memalukan? Kurang lebih saya akan sepakat dengannya. Tapi mari kita lihat sudut pandang lain. Sekali waktu saya pernah ditanya mengenai hal itu (jika dicari di internet, saya rasa akan ditemukan arsipnya), dan jawaban saya kurang lebih: apa yang disebut dunia itu dalam kasus kesusastraan hampir bisa dibilang berarti terjemahan dalam Bahasa Inggris diterbitkan di negara berbahasa Inggris (terutama Amerika dan UK). Dan perkara ini, Anda boleh merisetnya, hanya 3% dari penerbitan di dunia berbahasa Inggris (Amerika, UK, Australia), yang merupakan terjemahan. Dan kurang dari 1% berupa karya fiksi. Entah berapa nol koma persen yang merupakan fiksi sastra. Untuk menjadi bagian dari yang sangat sedikit itu, Anda harus menjadi salah satu penulis terbaik di antara terbaik (atau mungkin: sangat beruntung). Sastra Indonesia? Saya rasa belum menjadi hitungan. Oh, tentu saja jika Anda bertemu dengan kaum romantik (dan nasionalis buta), mereka akan mengatakan, “Kualitas kesusastraan kita sudah bagus, kok. Kita punya Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Rendra, dll (saya sebut yang sudah meninggal saja, biar penulis yang masih hidup tak terlalu berang, atau terlalu senang).” Saya juga menyukai mereka, dan akan mengatakan mereka beberapa di antara penulis terbaik yang kita miliki. Tapi mari kita sedikit lupakan bias nasionalisme ini. Mari kita lihat dengan cara berbeda. Saya bisa menyebut beberapa penulis sastra Norwegia. Saya bisa bikin daftar 10 penulis terbaik (menurut saya) Jepang. Jika ada yang meminta saya menyebut nama penulis Israel, paling tidak saya bisa menyebut dua nama. Sekarang mari kita balik: tanyakan kepada seorang penduduk Norwegia, yang doyan sastra: apa yang ia ketahui tentang sastra Indonesia? Oh, sebenarnya tak perlu sejauh itu. Anda cukup membuka jurnal-jurnal sastra, esai-esai sastra yang ditulis para penulis asing, dan lihat, apakah mereka pernah menyinggung tentang sastra atau nama penulis Indonesia? Saya belum pernah membacanya. Karya dan nama penulis Indonesia melulu muncul di artikel tentang Indonesia, ditulis oleh pengamat Indonesia. Itu fakta. Saya pribadi tak terlalu suka membungkus fakta itu dengan apa pun yang akan membuatnya lebih menarik. Terus, bagaimana cara kita menembus 1% kesusastraan itu? Beberapa akan mengatakan: kita butuh pemasaran yang baik, kita butuh penerjemahan karya-karya terbaik kita dan mendistribusikannya dengan baik. Itu benar. Tapi saya ingin melihatnya dengan cara yang sederhana: banyak yang sudah dilakukan mengenai hal itu, bahkan bisa dibilang setua umur kesusastraan modern kita, tapi hasilnya jauh dari menggembirakan. Seperti dalam berbagai bidang, mata rantai kesusastraan bisa disederhanakan dalam rangkaian produksi-distribusi-konsumsi. Selama ini saya melihat usaha kita untuk memperkenalkan karya kesusastraan Indonesia selalu dititik-beratkan di bagian distribusi-konsumsi. Saya yakin telah ratusan karya sastra Indonesia diterjemahkan, tak hanya ke Bahasa Inggris, tapi bahkan bahasa asing lainnya. Lebih dari 25 tahun, ada lembaga semacam Lontar yang “memperkenalkan kesusastraan Indonesia ke dunia” melalui upaya penerjemahan ini. Setiap tahun, banyak penerbit, atau ikatan penerbit, mengikuti pameran-pameran buku internasional (termasuk yang bakal bikin heboh: Frankfurt Bookfair 2015, di mana Indonesia konon akan jadi tamu, dan membuat penerbit kalang-kabut dan membabi-buta menerjemahkan produk-produk mereka). Hasilnya? Saya tak terlalu terkesan. Bagi saya, permasalahan besar kesusastraan Indonesia bukan karena kita kurang rajin menerjemahkan dan kurang rajin mempromosikannya. Bagi saya, permasalahan terbesar ada di hulu: produksi. Untuk menembus 1% elit kesusastraan di muka bumi ini, untuk memperbaiki keadaan kesusastraan Indonesia hari ini, saya hanya percaya satu hal terpenting: perbaiki kualitas penulis. Kirim anak-anak kita, remaja kita, anak-anak sekolah, ke kamp konsentrasi yang bernama perpustakaan, suruh mereka membaca, membaca dan membaca, 365 buku setahun jika perlu, kesusastraan dari penjuru planet, dari masa klasik hingga kontemporer, kalau perlu mereka bisa membaca dalam tiga atau empat bahasa, sebab memperbaiki kualitas manusia dewasa (penulis setua kita), percayalah akan sesulit mengajak setan berbuat kebaikan. Cara lain (untuk penggemar analisis hegemoni Dunia Pertama), dan ini jauh lebih susah lagi: ubah pola pikir masyarakat dunia (terutama Dunia Pertama!) sehingga mereka menganggap kesusastraan terbaik di dunia adalah apa yang dihasilkan para penulis Indonesia. Cara lain yang lebih gampang, dan ini sering saya lakukan karena memang gampang: bersikap tak peduli (anggap saja kesusastraan kita hidup di dunia tersendiri). Cara pandang saya atas kesusastraan Indonesia mungkin agak sedikit kelabu. Tapi jangan kuatir. Saya seorang Sagitarian, yang konon “bisa melihat keindahan dalam ketidaksempurnaan.” Dengan semua masalahnya, saya tetap mencintai kesusastraan Indonesia, dan menikmatinya. Tentu saja termasuk menikmati karya-karya lugu dan bodoh kita.

Binatang Liar

Dalam ratusan, bahkan ribuan tahun sejarahnya, kita melihat manusia berhasil menjinakkan banyak binatang. Menjadikan warga domestik. Paling mudah untuk dikenali di masyarakat urban dan modern: kucing dan anjing. Dengan sangat mudah kita melihat kedua binatang itu dari rumah ke rumah. Mereka telah melewati hidup, melewati satu keadaan, yang saya kira mereka tak lagi bisa bertahan hidup tanpa manusia. Kita memang masih bisa melihat kucing dan anjing “liar” di jalanan. Saya menyebut “liar” dengan tanda petik, sebab mereka pada dasarnya tak benar-benar liar. Lebih tepat disebut “tanpa pemilik” daripada liar. Kenapa? Sebab jelas, anjing dan kucing “liar” ini pada dasarnya juga telah terdomestikkan. Mereka bukan binatang-binatang yang turun begitu saja dari hutan. Mereka lebih besar kemungkinan berasal dari rumah, diabaikan pemiliknya atau nenek moyangnya, dan luntang-lantung di jalanan. Sebagian besar dari mereka kehilangan daya bertahan hidup tanpa “bantuan” manusia: mereka memakan sampah manusia, dan tanpa itu mereka mati. Hewan-hewan ini telah dikondisikan, ribuan tahun lamanya, untuk tergantung kepada manusia. Persis seperti negara berkembang tergantung kepada lembaga-lembaga keuangan internasional. Para pemelihara hewan, dengan sangat cerdas, membalut penaklukan ini dengan istilah yang terdengar sopan: mengadopsi. Persis seperti para rentenir lembaga keuangan dunia menaklukkan negara berkembang dengan istilah yang juga sopan: bantuan keuangan. Tentu ada yang lebih parah dari itu. Jika hewan peliharaan, meminjam istilah Gramscian, dihegemoni dengan dilucuti kesadarannya (kesadaran sejarah kehidupan mereka), binatang-binatang lain ditaklukkan, tak hanya dijinakkan, tapi ditindas seperti budak. Hidup hanya untuk melayani kehidupan manusia: domba, sapi, babi, ayam … mereka hidup, bereproduksi, hanya untuk memenuhi kehidupan manusia. Baiklah, lupakan isu mengenai binatang dan penaklukan manusia ini. Saya yakin bahasan ini bisa berleret-leret menjadi buku sepanjang ratusan halaman. Saya hanya ingin bertanya, di antara binatang-binatang ini, binatang apa yang paling berhasil dijinakkan? Dijadikan warga domestik? Saya yakin jawaban yang paling tepat hanya satu: manusia. Baragam perangkat menjadikan manusia jinak dan domestik: pranata sosial, lembaga-lembaga, bahkan pengetahuan. Mau tidak mau, kita akan memikirkan hal-hal seperti ini jika membaca novel bagus semacam The Year of the Hare, karya penulis Finlandia, Arto Paasilinna. Para filsuf, dari generasi ke generasi, terus bicara mengenai kebebasan manusia. Saya rasa mereka membicarakan itu dalam satu nostalgia, juga dalam satu kesadaran, keadaan telah sedemikian rupa sehingga manusia menjadi tak berdaya untuk menjadi bebas. Seperti hewan peliharaan, mereka telah dicerabut dari segala keliaran, kehilangan daya tahan hidup tanpa jejaring yang telah membuat mereka jinak: negara, pekerjaan, sekolah, rumah tangga, perkawinan, ideologi, agama, bahkan cinta. Meskipun begitu, saya yakin keliaran itu selalu ada di dalam peta genetik mereka, dan itu harus disalurkan sekali-kali agar tidak meledak menjadi pembangkangan. Seperti anjing yang harus diajak jalan-jalan dan dibiarkan berburu bola, sebab jika tidak satu hari mungkin ia akan memburu anak pemiliknya. Seperti gunung berapi yang sering batuk-batuk selalu dianggap lebih aman daripada yang tidur puluhan tahun, hasrat kebebasan, keliaran manusia harus diberi ruang: berburu, berkelahi, memperebutkan kekuasaan, atau sesederhana liburan. Jika tidak, kita mungkin akan menjadi seperti Vatanen di novel The Year of the Hare ini: ia meninggalkan pekerjaannya yang mapan, istrinya, harta-bendanya, dan memilih berkelana di hutan-hutan Finlandia berteman seekor kelinci liar. Kurang lebih sama seperti sosok Knut Pedersen di novel The Wanderer karya Knut Hamsun yang memilih berkelana di hutan-hutan dan pedesaan Norwegia. Sebab, seperti binatang-binatang yang lain, manusia tak lain merupakan produk penjinakkan, menyederhanakannya menjadi warga domestik. Beberapa mungkin memang berhasil dibikin tak berdaya, tapi beberapa barangkali terus mencari celah untuk melarikan diri dari kungkungan. Sebab, “Aku ini binatang jalang,” kata Chairil Anwar, yang hari ini kematiannya kita peringati.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑