Eka Kurniawan

Journal

Tag: Carlos Fuentes

Sepuluh Cara Meninggalkan Pacar yang Menjengkelkan Menurut César Aira

Lebih dari tiga tahun lalu (sebab ia ingat saat itu belum punya anak dan masih tinggal di tempat tinggal yang lama), ia membaca sebuah novel yang diberi temannya. Tak perlu lama ia membaca novel itu. Mungkin sekitar tiga atau empat jam. Ia bahkan sempat ngetwit isi novel itu, bab per bab (di saat itu, ia masih punya twitter). Dan dengan tololnya, setelah selesai membaca, ia memasukkan novel tersebut ke kardus sambil bergumam, “Novel apaan, sih? Enggak jelas banget.” Si tolol ini kena karma. Ia tak pernah melupakan isi novel tersebut. Beberapa tahun kemudian, ia menemukan tiga novel lain dari penulis yang sama. Kemudian dua novel lagi. Dan ia mulai keranjingan. Si tolol itu saya, dan penulis yang dibicarakannya bernama César Aira. Jelas itu hanya salah satu dari banyak ketololan saya. Otak saya sering tumpul, sering baru bisa melihat sesuatu yang sebenarnya keren lama setelahnya, atau karena ditunjukkan oleh orang lain. Kembali mengenai César Aira: salah satu penerjemahnya (Chris Andrews) berkata mengenainya: “Lebih baik dibikin kecewa olehnya daripada dibikin puas oleh banyak penulis lain.” Saya sepakat, hal terbaik dari novel-novel (sebagian besar bentuknya novelet) Aira adalah, bahwa mereka ditulis dengan cara yang menjengkelkan, seolah tak mau tunduk terhadap kehendak dan asumsi pembaca, yang tolol seperti saya maupun yang cerdas. Novel-novelnya seperti keluar dari konvensi umum tentang novel, itu jika kita percaya ada yang namanya konvensi. Kenyelenehannya, bagi saya, terlihat sangat “Argentina”. Maksud saya mengatakan “Argentina”, tentu merujuk kepada Jorge Luis Borges dan Julio Cortazar. Saya tak tahu banyak sastra Argentina (sebagaimana saya tak tahu banyak sastra Indonesia), tapi menyebut ketiga penulis ini, saya memang membayangkan kesusastraan yang tidak konvensional dan tidak tradisional (ah, apa pula ini?). Tapi dari kenyelenehannya inilah, setelah membaca beberapa karyanya, saya rasa kita bisa belajar banyak hal tentang menulis dari Aira. Pertama, Anda bisa membuat judul secara suka-suka, bahkan tak perlu ada hubungannya dengan isi cerita. Yang penting menarik, dan orang pengin membaca. Terdengar tidak akrab, kan? Saya ingat zaman sekolah, di pelajaran mengarang, guru mengajari kami bahwa judul harus mencerminkan isi karangan, kalau perlu, pokok karangan. Aira jelas mengabaikan saran itu secara terang-terangan, dan ia baik-baik saja. Ia tidak mati atau keracunan gara-gara membuat judul sesuka-suka. Contohnya? How I Became a Nun sama sekali tak menceritakan bagaimana si “saya” menjadi suster. Bahkan si “saya” sebenarnya mati di akhir novel, dan ia mati masih kecil. Novel yang lain, The Literary Conference, memang tokohnya menghadiri konferensi sastra, tapi hanya disinggung sebentar, dan tak diceritakan sama sekali soal konferensi itu. Ia malahan menceritakan upaya si tokoh mengkloning Carlos Fuentes untuk menguasai dunia, dan bagaimana mesin kloningnya gagal. Pelajaran lainnya, kedua, cerita tak harus utuh-bulat. Lihat kembali The Literary Conference: bagian akhir novel tersebut malah berisi petualangan untuk membinasakan ulat-ulat raksasa yang mengepung kota. Bagi yang mengharapkan novel sebagai “totalitas” gagasan dan cerita, siap-siap saja kecewa. Di novelnya yang berjudul Ghosts, yang menurut saya paling konvensional, memang ada cerita tentang hantu. Tapi dengan cuek Aira bercerita ngalor-ngidul soal arsitektur, soal perbedaan orang Chili dan Argentina, bahkan cerita panjang tentang urusan ngantri di supermarket. Ia tak cuma master soal melipir, tapi memang melipir ke mana-mana. Belajar dari karya-karyanya, saya percaya, memegang erat perhatian pembaca tak selalu harus melalui keutuh-bulatan, tapi juga melalui singgah sini singgah sana seperti pejalan kaki yang lirik kiri-kanan untuk melihat-lihat pemandangan tanpa harus terpaku kepada tujuan perjalanannya. Pelajaran ketiga, Aira mengingatkan saya bahwa saya bukan makhluk yang cukup cerdas. Maka sebaiknya saya menghentikan tulisan ini di sini, atau saya akan berlarat-larat menjadi makhluk sok tahu.

Hak untuk Disebut

Seorang penulis pemula menulis cerita pendek yang secara gagasan, kerangka alur cerita, bahkan beberapa potong kalimat, sama dengan cerita pendek penulis lain yang lebih dulu terbit. Karena soal itu, saya berdiskusi dengan teman di satu penerbit mengenai “attribution right”. Saya belum tahu apa padanannya dalam Bahasa Indonesia, tapi gampangnya kita sebut “Hak untuk Disebut”. Hak ini sangat mendasar. Saya melihat, jika tak salah, pembela copyright maupun pendukung copyleft, sama-sama menghormati hak ini. Bahkan meskipun sebuah karya sudah memasuki domain publik, sang pengarang masih berhak atas hak ini, meskipun hak ekonominya mungkin telah lenyap. Nama Herman Melville akan terus ditulis sebagai penulis Moby Dick, misalnya. Demikian pula jika kita menulis sebuah karya, dan karya itu berdasarkan karya lain, atau mengutip karya orang lain, hak ini pun muncul. Kita harus menyebutnya, misalnya dengan cara: “Karya ini berdasarkan …”, “Kalimat ini dikutip dari …” Mengabaikan hak ini tak hanya berpeluang melanggar moral, bisa pula melintasi rambu-rambu hukum. Saya tak ingin membahas aspek hukum atau definisi mengenai hal ini, saya pikir persoalan ini dengan mudah dicari untuk diketahui. Tiba-tiba saya lebih tertarik melihatnya dari sudut tantangan estetik. Adakah? Tentu saja. Saya memikirkan ini sudah agak lama, ketika membaca kumpulan cerita pendek Carlos Fuentes berjudul Happy Families. Di bagian muka, kita berhadapan dengan satu kutipan dari Anna Karenina: “Semua keluarga bahagia, bahagia dengan …” (kita tahu kelanjutan pembukaan novel yang sangat terkenal tersebut). Tentu kita bisa mengatakan meletakkan kutipan tersebut di muka buku sebagai salah satu bentuk “penyebutan” Fuentes terhadap Tolstoy, seolah-olah mengatakan, seluruh cerita pendek di buku ini, meminjam pijakan dari novel Anna Karenina. Saya menjadi tertarik pada penyebutan kutipan tersebut terutama karena fakta bahwa judul buku tersebut “Keluarga Bahagia” sementara dalam bayangan saya, Anna Karenina lebih banyak menceritakan keluarga yang tak bahagia. Tentu ada satu paradoks yang ingin dipermainkan oleh Fuentes di sini, dan dengan cara itulah, ia ingin kita membaca kumpulan cerpennya sambil membayangkan (atau jika sempat, membaca ulang) Anna Karenina. Menyertakan satu kutipan dari karya orang lain di karya kita, saya pikir mestinya memang jauh-jauh dari sekadar “gaya-gayaan”. Selain ditempatkan sebagai “penyebutan”, satu sikap kerendahan hati bahwa “karya ini terinspirasi atau didasarkan pada karya itu”, bagi saya juga membawa konsekuensi tantangan estetik: dengan satu dan lain cara, karya kita akan diperbandingkan langsung dengan karya yang beberapa potong kalimatnya kita kutip. Pertarungan macam apa yang ingin ditawarkan seorang penulis dengan memperhadapkan karyanya dengan karya (mestinya) pendahulunya? Di luar soal kutipan, saya menemukan bentuk lain “penyebutan” ini, yang di satu sisi tampak tersamar, tapi di sisi lain juga sangat mencolok. Tidak terang-terangan mengatakan bahwa “karya ini terinspirasi atau didasarkan karya itu”, tapi di sisi lain jelas-jelas merujuk ke karya yang lain. Kita tahu novel James Joyce yang mengisahkan perjalanan Leopold Bloom mengelilingi Dublin diberi judul Ulysses tentu bukan tanpa sebab. Novel itu secara terang-terangan mengakui berdiri di atas pijakan karya Homer berjudul Odyssey (yang dilatinkan menjadi Ulysses). Joyce tak perlu mengatakan apa pun lagi, judul tersebut sudah mengatakan jauh lebih banyak dari apa yang perlu dikatakan. Tentu kita bisa saja membaca novel itu tanpa perlu membaca perjalanan Odyssey, tapi sekaligus novel itu seperti “meminta” untuk dibaca bersandingan dengan epik tersebut. Di sini Joyce jelas tak hanya memberi “hak penyebutan” terhadap Homer (siapa pun itu), ia membawanya ke petualangan estetik. Hal yang hampir sama kita temui di novel 1Q84 Haruki Murakami. Dalam Bahasa Jepang, “Q” dibaca sama dengan angka “9”. Mau tak mau, novel itu juga seperti meminta dibaca beriringan dengan 1984 George Orwell. Bersifat rendah hati bahwa karya kita berdiri di atas pijakan karya orang lain, saya percaya tak akan menghancurkan reputasi kita. Itu tak semata-mata penghormatan kepada penulis dan karyanya. Bagi saya jelas: itu juga merupakan tantangan estetik. Apa yang ingin kita tawarkan ketika mengolah karya orang lain dan membentuknya menjadi karya milik kita sendiri?

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑