Eka Kurniawan

Journal

Tag: Cantik Itu Luka (page 2 of 2)

Penulis yang Mendesain Sendiri Sampul Bukunya

Memiliki latar pendidikan desain grafis (meskipun hanya setahun, sebelum kembali menekuni kuliah filsafat), dan pernah (dan kadang-kadang masih) menekuni pekerjaan desain grafis secara sambilan, sampul buku sering menjadi perhatian saya. Jika ada ungkapan, don’t judge the book by it’s cover, saya termasuk yang memedulikan sampul buku, dan bisa memengaruhi saya untuk membeli atau tidak buku tersebut. Jika ada satu buku terbit dalam beberapa edisi, daripada melihat perbedaan harganya, pertama-tama saya lihat dulu sampulnya. Saya akan membeli buku dengan sampul yang lebih menarik. Jujur saja, saya sering frustasi melihat novel-novel yang baik, memiliki sampul yang tak menarik minat saya. Banyak desainer grafis berbakat, dengan teknik yang mengagumkan. Tapi begitu mereka mengeksekusi sampul buku, terutama novel, seringkali mengerikan. Kadang-kadang begitu verbal, menggambarkan apa yang jelas-jelas ditulis di judul, sehingga menciptakan pesan-ganda. Kadang-kadang begitu bagus gambarnya, sampai tidak nyambung dengan isi bukunya. Saya kadang bertanya-tanya, apakah para desainer memiliki waktu untuk membaca buku tersebut sebelum membuat desain atau tidak. Faktor penerbit juga besar pengaruhnya. Ada penerbit-penerbit yang merasa harus mempertahankan karakter desainnya, tak peduli penulis dan gaya tulisan mereka berbeda. Saya pernah berbincang-bincang dengan seorang desainer, dan merasakan betapa frustasinya dia harus membuat desain yang seperti itu-itu saja. Jika saya punya waktu, saya sering cerewet urusan desain. Jika saya punya waktu lebih banyak lagi, saya biasanya memutuskan untuk membuat sendiri desain buku-buku saya. Saya melakukannya untuk Cantik Itu Luka cetakan pertama, 2002. Saya juga membuat desain untuk buku saya Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, yang diterbitkan Gramedia tahun 2006. Tentu saja, jika penulis bisa menggambar dan mendesain, saya rasa akan jauh lebih mengasyikkan melihat buku-bukunya didesain sendiri. Salah satu yang melakukannya dan terasa unik, adalah Milan Kundera. Saya pernah membaca satu wawancara seorang wartawan dengannya, di apartemennya di Paris. Saya lupa apa yang mereka perbincangkan, tapi saya ingat deskripsi si wartawan ketika memasuki apartemen tersebut: di dinding tergantung beberapa lukisan kontemporer Ceko dan lukisan karya tuan rumah sendiri. Jelas Milan Kundera senang melukis, dan beberapa sampul bukunya berisi ilustrasi karyanya. Ilustrasi Kundera biasanya berupa judul dan namanya ditulis dengan tulisan tangan, serta ilustrasi berupa garis-garis sederhana, dengan gaya sedikit dadais. Kadang-kadang ilustrasinya kecil saja, meninggalkan ruang kosong putih yang luas. Misalnya di novel Immortality, hanya ada sebelah sepatu kecil tergeletak. The Unbearable Lightness of Being, hanya berupa garis punggung seekor anjing yang sedang berbaring. Selain Kundera, penulis yang saya kagumi karena novel-novel dan ilustrasi bukunya adalah Günter Grass. Bahkan ilustrasi-ilustrasi bukunya bisa dibilang sampai pada tingkat iconic. Hampir mustahil membayangkan The Tin Drum tanpa membayangkan gambar anak kecil dengan drumnya, dalam paduan garis-garis hitam dan merah, serta hanya sepasang matanya yang berwarna biru. Atau si kucing berkalung di ilustrasi sampul Cat and Mouse. Yang paling saya suka adalah gambar tangan yang membentuk siluet kepala anjing sedang meleletkan lidah di sampul Dog Years. Sekali waktu saya berkunjung ke rumah Pramoedya Ananta Toer, dan ia memamerkan lukisan besar di dinding yang merupakan hadiah dan karya Günter Grass. Saya tak bisa tidak, merasa iri. Seperti Kundera, Grass juga menyukai paduan warna hitam-merah di atas dasar putih, meskipun di karya Grass, ilustrasi tampak lebih menonjol daripada teks. Jika Kundera lebih menyukai bentuk drawing, Grass lebih menyukai etsa. Apa pun, mereka dua penulis yang beruntung memiliki bakat lain. Salman Rushdie, di memoar terbarunya (Joseph Anton), secara terang-terangan mengungkapkan kecemburuan pada multi-bakat pada Grass ini. Saya tak ingat apakah ada penulis lain yang melakukannya, tapi saya percaya, itu hal yang layak untuk dilakukan. Mungkin saya juga harus melakukannya, dan berhenti mengeluh tak memiliki waktu. Bagaimana pun, dalam bentuk buku, teks di dalam dan grafis di sampul mestinya merupakan satu kesatuan ide. Paling tidak menurut saya.

Nama dan karya saya masuk di daftar Finnegan’s List 2013, sebuah proyek untuk penerjemahan karya sastra dari The European Society of Authors. Setiap tahun, sebuah komite yang terdiri dari 10 penulis merekomendasikan nama dan karya untuk masuk ke daftar ini. Saya direkomendasikan oleh Tariq Ali, dikenal salah satunya melalui novel Shadows of the Pomegranate Tree. Finnegan’s List sendiri namanya diambil dari salah satu karya James Joyce, Finnegans Wake. Lebih lanjut mengenai proyek atau organisasi ini, sila buka tautan ini.

Newer posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑