Eka Kurniawan

Journal

Tag: Cantik Itu Luka (page 1 of 2)

Lima belas tahun lalu, tepatnya Desember 2002, Cantik Itu Luka untuk pertama kali terbit. Untuk sedikit merayakannya, akan ada edisi khusus yang diluncurkan di Kinokuniya, Plaza Senayan, 14 Desember 2017 ini. Sila hadir, siapa tahu berkesempatan memperoleh edisi ini secara cuma-cuma, juga kaos bergambar sampul edisi pertama.

“This is an almost unbelievably fun and weird novel.” A starred review for Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash from Publishers Weekly.

“Avec une fable mémorable, sur une lignée de femmes redoutables, Eka Kurniawan signe un chef-d’œuvre.” This is a review from Livres Hebdo for Les Belles de Halimunda, French edition of Cantik Itu Luka.

Karena kemungkinannya kecil menerbitkan kembali Cantik Itu Luka dengan sampul edisi pertama ini (masih bisa dicari di pasar buku bekas), dalam rangka 15 tahun sejak pertama kali diterbitkan, mending saya bikin kaos ini. Yang berminat sila meluncur ke tokopedia.

Mustikowati: Buku pertama yg saya baca adalah Cantik itu Luka. I’m so impressed. Saya lanjutkan dengan Lelaki Harimau, S.D.R.H.D.T, dan O. Satu yg terasa beda adalah penggunaan kata “tidak” pada C.I.L anda ubah menjadi “enggak” pada novel-novel selanjutnya. Mengapa? (because I prever the first one?). Terima kasih.

Bagi saya sesederhana itu merupakan bagian dari perubahan luas antara era Cantik Itu Luka/Lelaki Harimau (sila perhatikan kembali novel ini) ke era Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas/O yang terentang hingga 10 tahun. Mengapa? Karena itu hanya satu persoalan dari banyak hal yang menarik hati dan pikiran saya, pembicaraannya akan luas sekali. Tapi bisa kita persempit di kata “tidak” dan “enggak” saja, sesuatu yang sebenarnya pernah saya bicarakan di jurnal ini: sementara pada dasarnya saya masih mempergunakan kata “tidak” di sana-sini, pada saat yang sama saya enggak mau membunuh “enggak”. Ini sejenis diplomasi kecil, tentang kata-kata yang seringkali harus dibunuh hanya karena kebakuan, aturan, atau bahkan sopan-santun.

(dari Tanya dan Jawab)

CnZ6fGXXEAAeTBm

Schoonheid is een vloek (Dutch version of Cantik Itu Luka) review from NRC Handelsblad.

Dua resensi Schoonheid is een vloek (Cantik Itu Luka) diterjemahkan dengan baik hati oleh Joss Wibisono dari dua koran Belanda: “Tjantik itu luka mengandung ramuan chusus” (oleh Wim Bossema, de Volkskrant), dan “Eka Kurniawan mengikuti djedjak Rushdie dan Márquez” (oleh Emilia Menkveld, Trouw).

resensi_o_kompas

Sila baca “Antitesis Cinta Monyet”, resensi Tenni Purwanti untuk novel O, di Kompas hari ini, 2 Juli 2016. Foto oleh: @sastragpu.

Juga resensi Cantik Itu Luka (Schoonheid is een vloek) untuk edisi Belanda: “Schoonheid is een vloek heeft een speciale gekruidheid” di harian pagi de Volkskrant.

Hadiah Lebaran juga meliputi hak terjemahan Cantik Itu Luka ke bahasa Ibrani, akan diterbitkan oleh Shocken Publishers.

“… menurut saya Cantik Itu Luka tak mampu mengoptimalkan kekayaan bahasa tulis. Cantik Itu Luka seolah tidak menyadari bahwa bahasa tulis memberikan kemungkinan-kemungkinan terjauh dalam sebuah karya sastra.”

Cantik Itu Luka Sepuluh Tahun Kemudian” oleh Muhamad Aqib, Qureta.com.

Localism is a good thing, and unique, but can be misdirected into provincialism. If our literature cares only about ourselves, why should the world have to take a look at ours? “Eka Kurniawan, The Author’s Korean Bow”, a profile from JPlus, The Jakarta Post supplement. Cantik Itu Luka and Lelaki Harimau are forthcoming in Korean translation.

Cuplikan terjemahan Cantik Itu Luka (Beauty is a Wound oleh Annie Tucker) bisa dibaca di situs PEN Amerika. Bersama cuplikan tersebut, juga bisa dibaca “On Translating Eka Kurniawan”, sedikit pengantar Annie untuk terjemahan tersebut.

Older posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑