Eka Kurniawan

Journal

Tag: Cantik Itu Luka (page 1 of 2)

Karena kemungkinannya kecil menerbitkan kembali Cantik Itu Luka dengan sampul edisi pertama ini (masih bisa dicari di pasar buku bekas), dalam rangka 15 tahun sejak pertama kali diterbitkan, mending saya bikin kaos ini. Yang berminat sila meluncur ke tokopedia.

Mustikowati: Buku pertama yg saya baca adalah Cantik itu Luka. I’m so impressed. Saya lanjutkan dengan Lelaki Harimau, S.D.R.H.D.T, dan O. Satu yg terasa beda adalah penggunaan kata “tidak” pada C.I.L anda ubah menjadi “enggak” pada novel-novel selanjutnya. Mengapa? (because I prever the first one?). Terima kasih.

Bagi saya sesederhana itu merupakan bagian dari perubahan luas antara era Cantik Itu Luka/Lelaki Harimau (sila perhatikan kembali novel ini) ke era Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas/O yang terentang hingga 10 tahun. Mengapa? Karena itu hanya satu persoalan dari banyak hal yang menarik hati dan pikiran saya, pembicaraannya akan luas sekali. Tapi bisa kita persempit di kata “tidak” dan “enggak” saja, sesuatu yang sebenarnya pernah saya bicarakan di jurnal ini: sementara pada dasarnya saya masih mempergunakan kata “tidak” di sana-sini, pada saat yang sama saya enggak mau membunuh “enggak”. Ini sejenis diplomasi kecil, tentang kata-kata yang seringkali harus dibunuh hanya karena kebakuan, aturan, atau bahkan sopan-santun.

(dari Tanya dan Jawab)

CnZ6fGXXEAAeTBm

Schoonheid is een vloek (Dutch version of Cantik Itu Luka) review from NRC Handelsblad.

Dua resensi Schoonheid is een vloek (Cantik Itu Luka) diterjemahkan dengan baik hati oleh Joss Wibisono dari dua koran Belanda: “Tjantik itu luka mengandung ramuan chusus” (oleh Wim Bossema, de Volkskrant), dan “Eka Kurniawan mengikuti djedjak Rushdie dan Márquez” (oleh Emilia Menkveld, Trouw).

resensi_o_kompas

Sila baca “Antitesis Cinta Monyet”, resensi Tenni Purwanti untuk novel O, di Kompas hari ini, 2 Juli 2016. Foto oleh: @sastragpu.

Juga resensi Cantik Itu Luka (Schoonheid is een vloek) untuk edisi Belanda: “Schoonheid is een vloek heeft een speciale gekruidheid” di harian pagi de Volkskrant.

Hadiah Lebaran juga meliputi hak terjemahan Cantik Itu Luka ke bahasa Ibrani, akan diterbitkan oleh Shocken Publishers.

“… menurut saya Cantik Itu Luka tak mampu mengoptimalkan kekayaan bahasa tulis. Cantik Itu Luka seolah tidak menyadari bahwa bahasa tulis memberikan kemungkinan-kemungkinan terjauh dalam sebuah karya sastra.”

Cantik Itu Luka Sepuluh Tahun Kemudian” oleh Muhamad Aqib, Qureta.com.

Localism is a good thing, and unique, but can be misdirected into provincialism. If our literature cares only about ourselves, why should the world have to take a look at ours? “Eka Kurniawan, The Author’s Korean Bow”, a profile from JPlus, The Jakarta Post supplement. Cantik Itu Luka and Lelaki Harimau are forthcoming in Korean translation.

Cuplikan terjemahan Cantik Itu Luka (Beauty is a Wound oleh Annie Tucker) bisa dibaca di situs PEN Amerika. Bersama cuplikan tersebut, juga bisa dibaca “On Translating Eka Kurniawan”, sedikit pengantar Annie untuk terjemahan tersebut.

Kabar gembira saya peroleh malam ini: Novel pertama saya Cantik itu Luka (Beauty is a Wound, dalam proses penerjemahan oleh Annie Tucker) memperoleh PEN/Heim Translation Fund 2013 dari PEN Amerika. Proyek penerjemahan novel ini juga memperoleh dukungan dari Lemelson Fellowship/UCLA. Mudah-mudahan tak akan lama lagi kita bisa melihat novel ini dalam edisi Bahasa Inggris. Selamat, terutama saya tujukan untuk Annie, dan terima kasih untuk semua pihak yang memberi dukungan atas proyek ini. Berita mengenai ini bisa dibaca di sini dan di sini.

Penulis yang Mendesain Sendiri Sampul Bukunya

Memiliki latar pendidikan desain grafis (meskipun hanya setahun, sebelum kembali menekuni kuliah filsafat), dan pernah (dan kadang-kadang masih) menekuni pekerjaan desain grafis secara sambilan, sampul buku sering menjadi perhatian saya. Jika ada ungkapan, don’t judge the book by it’s cover, saya termasuk yang memedulikan sampul buku, dan bisa memengaruhi saya untuk membeli atau tidak buku tersebut. Jika ada satu buku terbit dalam beberapa edisi, daripada melihat perbedaan harganya, pertama-tama saya lihat dulu sampulnya. Saya akan membeli buku dengan sampul yang lebih menarik. Jujur saja, saya sering frustasi melihat novel-novel yang baik, memiliki sampul yang tak menarik minat saya. Banyak desainer grafis berbakat, dengan teknik yang mengagumkan. Tapi begitu mereka mengeksekusi sampul buku, terutama novel, seringkali mengerikan. Kadang-kadang begitu verbal, menggambarkan apa yang jelas-jelas ditulis di judul, sehingga menciptakan pesan-ganda. Kadang-kadang begitu bagus gambarnya, sampai tidak nyambung dengan isi bukunya. Saya kadang bertanya-tanya, apakah para desainer memiliki waktu untuk membaca buku tersebut sebelum membuat desain atau tidak. Faktor penerbit juga besar pengaruhnya. Ada penerbit-penerbit yang merasa harus mempertahankan karakter desainnya, tak peduli penulis dan gaya tulisan mereka berbeda. Saya pernah berbincang-bincang dengan seorang desainer, dan merasakan betapa frustasinya dia harus membuat desain yang seperti itu-itu saja. Jika saya punya waktu, saya sering cerewet urusan desain. Jika saya punya waktu lebih banyak lagi, saya biasanya memutuskan untuk membuat sendiri desain buku-buku saya. Saya melakukannya untuk Cantik Itu Luka cetakan pertama, 2002. Saya juga membuat desain untuk buku saya Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, yang diterbitkan Gramedia tahun 2006. Tentu saja, jika penulis bisa menggambar dan mendesain, saya rasa akan jauh lebih mengasyikkan melihat buku-bukunya didesain sendiri. Salah satu yang melakukannya dan terasa unik, adalah Milan Kundera. Saya pernah membaca satu wawancara seorang wartawan dengannya, di apartemennya di Paris. Saya lupa apa yang mereka perbincangkan, tapi saya ingat deskripsi si wartawan ketika memasuki apartemen tersebut: di dinding tergantung beberapa lukisan kontemporer Ceko dan lukisan karya tuan rumah sendiri. Jelas Milan Kundera senang melukis, dan beberapa sampul bukunya berisi ilustrasi karyanya. Ilustrasi Kundera biasanya berupa judul dan namanya ditulis dengan tulisan tangan, serta ilustrasi berupa garis-garis sederhana, dengan gaya sedikit dadais. Kadang-kadang ilustrasinya kecil saja, meninggalkan ruang kosong putih yang luas. Misalnya di novel Immortality, hanya ada sebelah sepatu kecil tergeletak. The Unbearable Lightness of Being, hanya berupa garis punggung seekor anjing yang sedang berbaring. Selain Kundera, penulis yang saya kagumi karena novel-novel dan ilustrasi bukunya adalah Günter Grass. Bahkan ilustrasi-ilustrasi bukunya bisa dibilang sampai pada tingkat iconic. Hampir mustahil membayangkan The Tin Drum tanpa membayangkan gambar anak kecil dengan drumnya, dalam paduan garis-garis hitam dan merah, serta hanya sepasang matanya yang berwarna biru. Atau si kucing berkalung di ilustrasi sampul Cat and Mouse. Yang paling saya suka adalah gambar tangan yang membentuk siluet kepala anjing sedang meleletkan lidah di sampul Dog Years. Sekali waktu saya berkunjung ke rumah Pramoedya Ananta Toer, dan ia memamerkan lukisan besar di dinding yang merupakan hadiah dan karya Günter Grass. Saya tak bisa tidak, merasa iri. Seperti Kundera, Grass juga menyukai paduan warna hitam-merah di atas dasar putih, meskipun di karya Grass, ilustrasi tampak lebih menonjol daripada teks. Jika Kundera lebih menyukai bentuk drawing, Grass lebih menyukai etsa. Apa pun, mereka dua penulis yang beruntung memiliki bakat lain. Salman Rushdie, di memoar terbarunya (Joseph Anton), secara terang-terangan mengungkapkan kecemburuan pada multi-bakat pada Grass ini. Saya tak ingat apakah ada penulis lain yang melakukannya, tapi saya percaya, itu hal yang layak untuk dilakukan. Mungkin saya juga harus melakukannya, dan berhenti mengeluh tak memiliki waktu. Bagaimana pun, dalam bentuk buku, teks di dalam dan grafis di sampul mestinya merupakan satu kesatuan ide. Paling tidak menurut saya.

Older posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑