Eka Kurniawan

Journal

Tag: Bastian Tito

Tanya-Jawab: Pengaruh Sastrawan Indonesia

F Daus AR: Ini pertanyaan agak pribadi. Sejauh mana pengaruh sastrawan Indonesia terhadap karya yang Anda gubah. Nama yang saya maksud di luar sastrawan Indonesia yang sudah sering dibahas di jurnal. Misalnya saja, Kuntowijoyo, yang wafat 22 Februari 2005 silam.

Jawabannya juga agak pribadi. Ada satu peristiwa yang pernah membuat saya sangat sedih. Seperti saya pernah mengatakannya, [Cantik Itu Luka], novel pertama saya pernah ditolak beberapa penerbit. Oh, itu bukan bagian sedihnya. Soal itu saya tak terlalu peduli, dan di masa itu saya masih cukup punya kepercayaan diri anak muda bahwa cepat atau lambat saya akan menemukan satu cara untuk menerbitkannya. Hal yang membuat saya sedih datang beberapa tahun kemudian. Akhirnya saya bertemu dengan satu editor yang pernah menolak novel tersebut (nama dan tandatangannya memang tertulis di nota kecil penolakan itu), dan dia secara terus-terang bilang membaca novel saya dan menolaknya, salah satu alasannya: novel itu tidak masuk kriteria/preferensi dia mengenai novel sastra yang bagus. Menurutnya, novel sastra yang bagus mestinya seperti novel-novel Mangunwijaya, Kuntowijoyo, Ahmad Tohari. Tentu saja saya kemudian membaca beberapa karya mereka, dan saat itulah saya merasa sangat sedih. Saya sedih karena saya tahu persis: 1) saya tak ingin menulis novel seperti mereka, 2) jika ukuran kesusastraan (Indonesia) yang bagus diukur dengan karya-karya mereka, saya merasa tak memiliki tempat di peta kesusastraan dan kemungkinan besar saya tak ingin menjadi penulis. Meskipun begitu, di tengah kesedihan itu, saya patut bersyukur bahwa saya mendengarnya setelah “telanjur” jadi penulis, di usia saya yang jauh lebih dewasa, dan apa pun yang dikatakan orang tentang “sastra Indonesia yang bagus”, saya dengan keras kepala bisa membuat patok sendiri di hamparan peta itu, untuk saya dan karya-karya sendiri. Atau jika tidak diberi tempat, saya akan membuat peta sendiri. Jadi menjawab pertanyaan di atas, saya kuatir bahwa pengaruh penulis-penulis ini atas saya bisa dikatakan kecil atau tidak langsung. Bukan karena saya tak suka atau mereka tak bagus, tapi sesederhana bahwa saya memang baru mengenalnya belakangan. Dalam hal ini, saya akan mundur ke belakang. Izinkan saya menceritakan sejarah membaca saya, yang barangkali bisa menjelaskan kenapa hanya segelintir penulis Indonesia (yang itu-itu saja) yang sering saya bicarakan, dan yang pengaruhnya banyak membekas, dan kenapa ada begitu panorama kesusastraan Indonesia yang saya “tinggalkan” dan menciptakan lubang besar. Saya jarang menceritakan hal ini, dan hanya pernah sekali menceritakannya secara lengkap kepada seorang pengamat Indonesia yang penasaran karena “tampaknya saya tak terlalu peduli dengan penulis-penulis Indonesia” (dia bilang kepada saya, ini sejenis arogansi yang juga ada pada Pramoedya, hahaha). Baiklah, saya bisa dibilang tak memiliki sejarah yang baik dengan kesusastraan Indonesia. Hingga selesai SMA, tak banyak karya “sastra” yang saya baca. Anda semua tahu bagaimana pendidikan kita di tahun 80-90an. Saya tinggal dan sekolah di sebuah kota kecil, Pangandaran. Tak ada toko buku dan tak ada perpustakaan. Saya memang senang membaca buku, tapi yang bisa saya peroleh hanyalah novel-novel “picisan”: Asmaraman S. Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap, Bastian Tito, buku stensilan. Sebagai selingan, saya juga membaca Enid Blyton, Karl May. Lupakan kanon-kanon sastra Indonesia, saya tak pernah melihatnya. Jika di masa remaja itu saya ingin menjadi penulis novel, sudah pasti novel yang ingin saya tulis adalah novel horor atau cerita silat. Saya pernah mencobanya sebelum dibuang ibu saya karena kertas-kertas itu menumpuk dan menjadi makanan rayap. Selesai SMA, saya pindah ke Yogyakarta. Kuliah di UGM. Melanjutkan kegemaran membaca (yang tak terpuaskan di kondisi kota kecil tempat saya tinggal), saya dibuat terpana menemukan perpustakaan. Sepanjang masa kuliah, saya menghabiskan lebih banyak waktu di perpustakaan, dan favorit saya selama enam tahun itu adalah ruangan kecil di perpustakaan kampus di mana saya bertemu Toni Morrison, Salman Rushdie, Gabriel García Márquez, Leo Tolstoy, Dostoyevsky, Melville, Knut Hamsun dll (ada satu rak yang dipenuhi oleh buku-buku terbitan Everyman’s Library). Tololnya saya, bahkan saat itu saya tak sadar tengah menghadapi kanon-kanon kesusastraan dunia. Bagi pikiran anak pantai ini, saya hanya sesederhana membaca novel, melanjutkan kegemaran saya. Saya lumayan beruntung bisa membaca bahasa Inggris. Ayah saya yang mengajari sejak kecil, meskipun seperti saya, dia mengajar sambil lalu dan ogah-ogahan. Baru bertahun-tahun kemudian saya menyadari (orang lain yang kemudian mengatakannya kepada saya), masa awal 90an itu merupakan “lompatan” dalam sejarah membaca saya. Dari sastra picisan yang dibaca di masa remaja, saya kemudian “melompat” membaca kanon-kanon dunia. Di antara kedua jenis bacaan itu, saya melewatkan karya-karya “kanon” kesusastraan Indonesia, kecuali Pramoedya Ananta Toer yang saya peroleh dari beberapa teman di masa-masa kami turun ke jalan, melemparkan batu ke polisi, antara tahun 1996-1998. Saya selalu percaya, selera kita jauh lebih banyak terbentuk ketika kita masih muda. Maka jika saat ini ada yang bertanya karya sastra macam apa yang ingin saya tulis, jawaban saya kurang-lebih masih sama seperti di masa remaja: saya ingin menulis novel silat atau novel horor. Dan sastra yang bagus bagi saya, karena dipengaruhi oleh sejarah bacaan, saya tak bisa tidak merujuk ke Hamsun, Melville, Cervantes. Jika saya boleh berbagi ambisi, (mungkin sederhana, mungkin tidak), saya ingin menulis seperti Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap, sekaligus seperti Cervantes atau Melville, atau Gogol. Saya baru membaca sastra Indonesia secara lebih banyak, dan “sadar”, justru setelah saya memutuskan untuk menjadi penulis, selepas 1999. Saya tahu, saya sangat terlambat, tapi saya tak bisa memutar ulang waktu. Dan di umur dewasa seperti sekarang, sangat sulit untuk mengubah selera. Otak kita cenderung menjadi lebih bebal dan membatu bersama dengan bertambahnya usia. Lagipula, haruskah saya mengubah selera sastra saya? Bagi saya bukan tindakan kriminal menempatkan Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap dan Pramoedya di atas penulis-penulis Indonesia lainnya. Mereka jelas-jelas memberi arti penting tak hanya dalam karya saya, tapi juga dalam hidup saya. Tanpa sastra picisan itu, saya akan menjalani masa remaja yang membosankan. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para penulis yang telah meletakkan patok-patok dalam sejarah kesusastraan nasional kita, tak bisa tidak, selamanya saya akan berterima kasih kepada sastra picisan, melebihi kanon-kanon kesusastraan Indonesia lainnya.

Pangandaran

Saya melewati awal tahun 2013 ini di Pangandaran. Saya selalu mencintai kota ini. Kecil dan berbau laut. Saya tidak lahir di sini, tapi tinggal di sini sejak berumur 10 tahun, dan meninggalkannya ketika saya masuk universitas. Bagaimanapun, ibu saya masih tinggal di sana, dan sesekali saya mengunjunginya. Kadang-kadang saya hanya di rumah saja, tak menginjakkan kaki sama sekali ke pasir pantai, seperti dilakukan kebanyakan pelancong. Menghirup aroma lautnya dari jendela kamar kadang-kadang sudah lebih dari cukup. Berjalan dari rumah ke minimarket sejauh seratus meter, sudah cukup untuk membakar kulit. Tapi ada waktu-waktu saya mengingat masa remaja saya. Sepulang sekolah, saya pergi ke pantai membawa novel (atau komik), dan duduk membaca di bawah pohon pandan. Pangandaran hanyalah kota kecil, tapi saya rasa para penulis pun tak berani melewatkannya. Di serial Wiro Sableng (Bastian Tito), sang pendekar pernah bertarung di Pangandaran (saya tak tahu apakah di masa para pendekar berkelana ke sana-kemari kota kecil ini sudah ada atau tidak, sudah memiliki nama seperti itu atau belum, tapi itu tak lagi penting, bukan?). Di novel-novel misteri Abdullah Harahap, kota-kota kecil di pantai selatan Jawa Barat (di mana Pangandaran salah satunya) selalu diidentikan dengan mistik, tempat orang mengirim santet, teluh, mencari ilmu hitam. Juga para pencipta lagu. Saya selalu suka lagu Doel Sumbang berjudul “Pangandaran”, tentang sepasang kekasih yang memadu cinta di pantai kota ini. Lagu tersebut dalam Bahasa Sunda, yang membuatnya terdengar lebih memabukkan di telinga. Sekali-dua, saya menyebut kota ini di cerita-cerita pendek saya, dengan penuh cinta. Saya membayangkan kota ini seperti Blanes (di pesisir Catalonia, Spanyol) bagi Roberto Bolaño, tempat sang penulis bahkan pernah menjual cenderamata. Saya suka berjalan memandangi toko-toko cenderamata, tempat kaos-kaos digantung, dimana orang-orang menumpahkan cinta ke kota ini, seperti James Joyce mengagungkan Dublin di cerpen-cerpennya. Mungkin itu berlebihan, tapi itu benar. Jika ada hal yang menyedihkan, tak ada toko buku di kota ini. Saya tak terlalu peduli hal-hal lain yang juga tak ada, tapi tak ada toko buku benar-benar menyedihkan. Juga tak ada perpustakaan. Tapi di kota tanpa toko buku dan perpustakaan ini, setidaknya seseorang yang pernah tinggal di sana sekali waktu bermimpi menjadi penulis. Hanya Tuhan yang tahu setan apa yang merasukinya. Bacaan saya sangat sedikit di masa-masa itu. Novel-novel silat, horor, romans picisan, itulah yang bisa saya peroleh. Juga cerita-cerita pendek dari majalah remaja. Selebihnya barangkali buku kisah para nabi dan orang-orang saleh. Oh, sekali waktu ayah saya pernah memberi satu antologi cerita pendek Australia. Dalam bahasa Inggris yang susah-payah saya coba baca. Saya tak ingat judul bukunya, tapi dua cerpen saya ingat: “The Cruise of the Nifty Duck” (Ray Harris?) dan “Laura Goes to School”. Saya juga tak terlalu yakin siapa saja penulisnya, apa ceritanya, hanya ingat dua judul itu. Saya tak tahu darimana ayah saya memperoleh buku itu. Tapi ia memang jenis ayah yang jika punya uang banyak, tak akan segan membeli semua buku yang ada di dunia untuk kami. Sayangnya ia tak punya uang banyak, jadi hanya beberapa buah buku pernah ia beli untuk kami. Bagaimanapun, saya tetap mencintai kota kecil ini, bahkan meskipun tanpa toko buku. Saya ingat, di awal masa-masa saya menulis, saya sering pulang ke sini hanya untuk menulis beberapa cerita pendek. Saya akan mengurung diri di ruang belakang, tempat ayah saya menyimpan bahan kaos dan cat sablon (ia memiliki usaha kecil membuat kaos cenderamata), dan menulis di buku tulis bergaris. Tanpa gangguan, ditemani kehangatan cuaca pantai, beberapa cerita pendek saya tulis di ruangan tersebut. Sekarang saya jarang menulis di sini, dan menggantinya dengan membaca. Saya selalu memenuhi ruang tersisa di tas saya dengan buku jika berkunjung ke sini. Barangkali kota ini memang dipenuhi energi mistis. Buat saya, energi itu mendorong saya untuk menulis, dan terutama membaca. Sekali waktu seorang teman pernah melemparkan lelucon, jika sekali waktu Indonesia berantakan dan terpecah-belah (seperti terjadi pada Yugoslavia dan Uni Sovyet), tanah air dan paspor mana yang akan saya pegang? Sekarang saya yakin, saya akan memilih memegang paspor “Republik Pangandaran”, meskipun seseorang pernah berkata, satu-satunya paspor yang layak dimiliki seorang penulis hanyalah karya yang (sangat) baik dan satu-satunya tanah air untuk penulis adalah Bahasa yang ia pergunakan.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑