Eka Kurniawan

Journal

Tag: Aristoteles

Karakter Datar dan Karakter Bulat

Sebagai penulis yang cenderung “memungkinkan segala cara”, saya sering berpikir-pikir ketika ditawari untuk memberikan semacam bengkel kerja penulisan. Kecenderungan memungkinkan segala cara lahir dari ketidakpercayaan saya kepada otoritas apa pun dalam menulis: saya tak percaya ada aturan tunggal untuk menyampaikan gagasan dalam bentuk tertulis, sebagaimana saya tak percaya ada otoritas tunggal yang menentukan makna hasil tulisan. Saya percaya beragam kemungkinan bisa dilakukan, yang penting penulisnya nyaman. Setelah itu, pembacanya semoga juga nyaman. Kenapa semoga? Sebab tak ada yang bisa menjamin penerimaan pembaca bisa seragam. Karya paling hebat di dunia pun tak akan mungkin membuat nyaman apalagi senang semua pembaca. Lah, jika saya tak memercayai satu otoritas, satu jenis “school” (itulah kenapa disebut “school”, saya rasa!), bagaimana saya menyampaikan pelatihan menulis? Banyak teman suka mengingatkan, penulis pemula akan pusing mengikutinya (beberapa juga suka pusing mengikuti jurnal saya ini). Mereka berkeyakinan bahwa satu paradigma tertentu harus dipilih, satu jenis “aliran” (“school”) harus diterapkan. Baiklah. Paradigma saya tentu saja bersifat anarki, dan “aliran” saya sudah jelas: pergunakan segala kemungkinan yang paling cocok untuk dirimu. Buat saya sangat penting bahwa setiap penulis harus menemukan cara mereka sendiri untuk menulis; demikian pula, sangat penting bagi pembaca memiliki kemerdekaan untuk bebas membaca dengan cara mereka. Otoritas (siapa pun yang teriak-teriak “harus begini, harus begitu”) sudah saatnya istirahat di lubang kakus. Teriakan mereka tak membuktikan kepala mereka ada isinya, hanya membuktikan mereka punya bacot dan berisik (ini berlaku di sastra maupun di kehidupan politik). Kita bisa mengikuti jalan setapak yang pernah dirintis oleh pendahulu kita (kalau mau), sebagaimana kita juga boleh membuat jalan setapak baru (kalau mau), atau menimbun semua jalan setapak (juga kalau mau), atau apa pun. Mari membuat ilustrasi: selama beberapa dekade, E.M. Forster (melalui bukunya Aspects of the Novel) menjadi sejenis otoritas dalam membangun karakter. Menurutnya, karakter yang baik di dalam novel haruslah bulat (dengan begitu, karakter yang datar berarti buruk, atau setidaknya kelas dua). Kenapa begitu? Tentu karena karakter yang bulat konon dekat dengan kehidupan. Juga memiliki aspek-aspek mengejutkan (yang dibutuhkan oleh drama. Drama, saudara-saudara!), karena karakter bisa terlihat dari berbagai sudut. Beberapa ditampilkan, beberapa yang lain tersembunyi, atau samar-samar, sebelum muncul di belakang. Karakter yang bulat juga memungkinkan mereka berkembang, berubah, mengikuti alur cerita atau problem-problem yang dihadapinya. Sekali lagi, seperti dalam kehidupan manusia. Pertanyaannya: benarkah itu seperti kehidupan? Semua orang juga tahu novel, tulisan, teks, tak pernah bisa menggambarkan kehidupan ini dengan sempurna. Itu kan hanya ilusi kaum realis ortodoks saja. Coba kita lihat argumen ini dari sisi sebaliknya, mengenai karakter yang datar. Benarkah karakter yang datar tidak menarik? Karakter datar biasanya dikritik karena ia hanya memperlihatkan bentuk yang mudah dikenali, tetap begitu dari awal sampai akhir. Komik. Seperti kartun. Nah, itu! Apa salahnya seperti komik, dan kartun? Banyak karakter seperti itu dalam kesusastraan (yang adiluhung sekalipun), dan tetap menarik. Don Quixote? Dia tak ada bedanya dengan Donal Bebek, sayangku! Dijungkir-balikkan seperti apa pun, Don Quixote akan tetap seperti itu, dan bagi saya tetap menarik. Pangeran Myshkin dalam The Idiot Dostoyevsky juga mendekati datar. Kita belum bicara tentang karakter-karakter minor. Yang tolol adalah menilai Don Quixote seperti kamu menilai Mrs. Dalloway atau Madame Bovary (meskipun tak dilarang, tapi saya tetap akan menganggapnya tolol). Dalam hal ini, Cervantes mungkin akan bilang, “Ngentot dulu lah, biar otak seger dikit!” Itu hanya satu contoh bahwa sejenis otoritas yang telah lama berkuasa memang perlu dipertanyakan dan ditantang (Poetic Aristoteles, juga). Lantas, jika saya tak memercayai satu jenis pilihan tertentu, apa yang bisa saya sampaikan di bengkel kerja penulisan? Jawabannya sederhana: memberi pilihan-pilihan itu, kemungkinan-kemungkinan itu. Anda tak perlu mengikuti jalan setapak yang ada (termasuk setapak yang saya lampahi); juga boleh mengubur setapak yang ada (termasuk mengubur gagasan saya tentang menulis ini). Tapi penting untuk memilih sesuatu dan merasa nyaman dengan itu, dan jika ada yang menganggap pilihanmu salah, punya nyali untuk mengacungkan jari tengahmu (kalau perlu, berilah sedikit orgasme). Pelajaran menulis, pada akhirnya merupakan pelajaran berpolitik.

Pak Jokowi, Usul Dong!

Ini mungkin agak egois, tapi untuk Pak Jokowi presiden Indonesia ketujuh, boleh dong saya minta sesuatu: majukan kesusastraan Indonesia. Ya, saya tahu, banyak masalah bangsa Indonesia yang perlu diprioritaskan. Tapi saya ingatkan satu hal: pidato kemenangan Bapak dilakukan di atas kapal. Bapak seolah memberi pesan kepada bangsa ini bahwa kita adalah bangsa maritim! Salah satu orang yang secara gigih mengungkapkan gagasan untuk kembali menjadi bangsa maritim adalah sastrawan besar kita, Pramoedya Ananta Toer. Jika kita berkaca kepada tradisi teater kuno Yunani, dan pemikiran Aristoteles (saya pernah menulisnya) bahwa kesusastraan merupakan kehidupan potensial, kita bisa belajar banyak dari kesusastraan, tentu saja, sebagaimana kita terinspirasi mengenai bangsa maritim melalui novel Arus Balik. Baiklah, saya tak akan bertele-tele. Saya mau mengusulkan beberapa hal untuk memajukan kesusastraan kita (dan dengan majunya kesusastraan, saya harap maju pula bidang-bidang yang lain, meskipun kata Marx, dasar kehidupan itu ekonomi alias perut, bodo deh!). Pertama, selain kesehatan dan pendidikan gratis melalui kartu sehat dan kartu pintar, saya yakin kita juga membutuhkan akses yang baik dan mudah terhadap perpustakaan. Bayangkan kalau kita punya perpustakaan umum di setiap kecamatan, Pak! Apa gunanya gembar-gembor menumbuhkan minat baca jika tak ada buku yang bisa dibaca? Perpustakaan tak hanya ruang tempat kita bertemu dengan gagasan-gagasan dari mana-mana (ruang dan waktu), tapi juga memungkinkan pembaca satu berjumpa dengan pembaca lain. Kesusastraan yang hebat, Pak, hanya mungkin lahir dari tradisi membaca yang juga hebat. Kedua, ini masalah pendidikan. Saya sering menghadiri diskusi atau seminar dan memperoleh fakta menyebalkan ini: ketika giliran sesi tanya-jawab, peserta yang ratusan itu seringkali bungkam. Malu-malu dan takut-takut untuk bertanya atau beradu pendapat. Bagaimana kita bisa membangun tradisi intelektual kalau bertanya saja malu dan takut? Masalah ini saya rasa sudah bermula dari sekolah-sekolah kita, deh. Kita harus mengajari mereka untuk berani bertanya, berani berpendapat, bahkan terhadap guru mereka sendiri. Oh ya, kadang-kadang ada sih yang rajin bertanya di diskusi-diskusi. Tapi ya ampun, bukannya bertanya, malah sering curhat. Kita kadang tak mampu mengajukan pertanyaan dalam satu kalimat yang jelas. Bayangkan, Pak, jika anak sekolah kita berani bertanya dan berpendapat, dan pintar mengajukan pertanyaan secara jelas tanpa curhat ini-itu, lulus SD pun mereka pasti pintar menulis. Tak perlu juga kalau sudah besar mereka menjadi penulis, setidaknya kalau mereka menjadi presiden seperti Bapak, mereka bisa lho menuliskan pemikiran sendiri. Jangan mau kalah dong sama presiden pertama kita, Soekarno, yang rajin menulis dan jago. Ketiga, galakkan penerjemahan. Kalau Bapak ikut mengamati, sekarang sedang heboh-hebohnya karya-karya sastra Indonesia diterjemahkan (ke Inggris atau Jerman) demi acara Frankfurt Bookfair tahun depan. Entah berapa triliun duit yang digelontorkan pemerintah untuk itu. Tentu saja ini penting, untuk memperkenalkan sastra kita ke dunia, untuk membuat orang asing mengenali kita (siapa tahu kemudian tertarik pelesir kemari membawa devisa), dan terutama untuk menyenang-nyenangkan ego para penulis yang ingin menaklukkan dunia (kalau bisa memperoleh Nobel, Pak). Tapi yang jauh lebih penting menurut saya: menerjemahkan karya-karya asing ke bahasa Indonesia. Tujuannya sederhana: agar kita makin pintar dan punya lawan tanding yang lebih luas. Dan jangan dilupakan bahwa tradisi kesusastraan kita yang panjang, diawali justru dari kesusastraan bahasa daerah. Bahasa-bahasa ini di sisi lain juga menjadi “asing”. Penting banget, Pak, menerjemahkan kekayaan kesusastraan Nusantara ke dalam Bahasa Indonesia. Keempat, ini soal harga buku yang mahal. Tentu bisa diatasi dengan usulan pertama, perpustakaan umum yang tersedia di mana-mana. Tapi jika harga buku lebih murah, akan mendorong masyarakat secara mandiri membangun perpustakaan mereka sendiri. Toko buku hidup, penerbit hidup, penulis juga makin rajin. Sangat baik untuk industri. Salah satu kendala dengan harga buku yang murah adalah pajak di perbukuan yang bertingkat-tingkat. Kita tahu, kertas, tinta dan lem sudah kena pajak. Begitu juga mesin cetak dan percetakan. Ketika itu semua digabung menjadi buku, kena pajak lagi. PPN, alias pajak pertambahan nilai. Pajak yang juga dikenakan kepada telepon genggam atau sandal jepit. Jangan lupa, masuk toko buku, juga toko bukunya kena pajak. Oh ya, honor penulis juga kena pajak. Baiklah, negara hidup dari pajak warga negara. Usul saya sih, negara jangan terlalu rakus mengambil pajak dari buku, atau, bagaimana jika pajak itu dikembalikan ke dunia perbukuan dalam bentuk subsidi, penghargaan atau kemudahan insfrastruktur? Kelima, ini mungkin tak ada hubungannya dengan kesusastraan secara langsung. Bapak sudah mencalonkan diri menjadi presiden dan menang. Selamat, Pak, dan semoga bisa mengemban amanah tersebut. Sekadar info, seumur hidup saya golput, Pak. Tapi kali ini saya memutuskan berepot-repot pulang kampung dan mencoblos. Tentu saja saya memilih Bapak. 10% karena saya menyukai Bapak, tapi 90% karena saya tak ingin Prabowo jadi presiden. Nah, boleh saya usul hal yang saya pikir lebih sulit dari menjadi presiden Republik Indonesia? Bagaimana jika Bapak juga mencalonkan diri menjadi Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)? Masa Megawati terus, Pak? Ya, ya, ini enggak ada hubungannya dengan kesusastraan. Maaf. Salam metal, deh!

Aristoteles, Novel Sebagai Kehidupan Potensial

Apakah novel yang baik merupakan novel yang membuat pembacanya percaya pada isinya? Apakah kualitas Don Quixote terletak pada kemampuannya meyakinkan kita bahwa sang tokoh memang gila karena membaca kisah-kisah para ksatria? Apakah kualitas Alf Layla wa Layla ditentukan oleh kemampuannya meyakinkan kita bahwa melalui dongeng-dongengnya, Syahrazad bisa mengulur hasrat suaminya untuk membunuh dirinya? Beberapa tahun lalu, saya akan mengatakan iya; tapi lama-kelamaan saya menjadi ragu. Berkali-kali membaca kedua karya tersebut justru membuat saya tak perlu memercayai apa pun yang ada di sana untuk membuat karya-karya tersebut bagus (atau menghibur saya). Bagaimanapun, kisah seorang perempuan yang terbebas dari pancung hanya melalui dongeng yang diulur bermalam-malam, sebenarnya terdengar konyol dan tak meyakinkan. Tak masuk akal. Beberapa bagian dari pemikiran Aristoteles di Poetic barangkali memberi dasar bagi keragu-raguan saya. Tentu saja Aristoteles tak pernah bicara tentang novel. Di masanya, novel belum juga dilahirkan. Meskipun begitu, seni bercerita melalui seni pertunjukan di atas panggung, yang kemudian kita kenal sebagai drama atau teater, tengah mencapai puncaknya dalam kehidupan orang Yunani, terutama di Athena. Apa yang kita kenal sebagai Tragedi Yunani dilahirkan di masa-masa itu, dan Aristoteles merupakan salah satu komentatornya yang paling cemerlang. Tak hanya tragedi, tentu saja, mereka juga melahirkan komedi. Intinya, mereka melahirkan suatu seni bercerita dan Aristoteles merupakan salah seorang pemikir yang mencoba merumuskan apa itu seni bercerita. Mundur sedikit ke belakang, Plato menganggap bahwa seni pada dasarnya merupakan tiruan (mimesis) kehidupan. Pandangannya ini berasal dari gagasan idealismenya: kehidupan ini sendiri merupakan tiruan dari dunia ide. Ada akibat yang sangat jelas dari gagasan Plato ini: seperti tas Louis Vuitton tiruan, kehidupan ini selalu bersifat tidak sempurna, rapuh, buruk dan segala hal negatif lainnya. Demikian pula seni berarti barang yang lebih tidak sempurna, rapuh dan buruk. Aristoteles, sebagai murid Plato, mengaimini pandangan tersebut tapi dengan perubahan yang sangat mendasar dan bisa dibilang mendekati gagasan modern mengenai “fiksi”. Ia sepakat bahwa seni merupakan tiruan dari kehidupan, tapi ia menjabarkannya lebih lanjut bahwa ada tiga pembeda karya seni yang satu dengan yang lainnya dilihat dari peniruannya. Pertama, medium peniruan. Itu bisa lukisan, musik, kesusastraan. Kedua, obyek tiruan. Itu bisa berarti kita meniru melodi di musik, meniru perilaku orang di pertunjukan drama, meniru gerakan dalam tari, dan lain sebagainya. Ketiga, bagaimana cara kita meniru. Saya kira bagian ketiga ini merupakan bagian yang sangat menantang dalam pemikiran Aristoteles. Ia tak banyak menjelaskannya (hanya menyebut misalkan dengan cara dramatik, naratif atau lirik), barangkali karena sederhananya bentuk-bentuk ekspresi kesenian di masanya. Dalam novel modern, kita tahu ada begitu banyak (bisa dibilang setiap novel memiliki caranya sendiri, atau setidaknya setiap novelis) bentuk dan cara. Bayangkan, setiap penulis bisa memilih media yang sama (novel), tentang hal yang sama (misal tentang Perang Troya), tapi akan melakukannya dengan cara yang berbeda. Dengan cara itulah, seni (secara khusus novel) merupakan tiruan kehidupan, tapi sekaligus bukan tiruan sebab dengan sadar ada aspek-aspek pembeda yang disisipkan ke dalam dirinya. Inilah saya kira inti pemikiran Aristoteles. Artinya? Cervantes tidak semata-mata meniru kehidupan manusia gila pembaca novel-novel ksatria, tapi juga sebuah dunia yang secara potensial ada karena berbeda. Kembali ke permasalahan awal, apakah novel yang baik harus mampu meyakinkan kita bahwa dunia potensial ini bisa dipercaya? Saya meragukannya. Kehidupan potensial ini bagi saya selalu merupakan hipotesis. Hal yang mengasyikan dari kesusastraan bukanlah karena ia menciptakan dunia alternatif yang kokoh di mana kita bisa melarikan diri dari dunia nyata, tapi karena ia menciptakan dunia potensial yang bisa kita (pembaca) bawa ke mana pun sesuka kita. Lagipula, mungkinkah seorang penulis meyakinkan seluruh pembaca? Omong kosong. Tak ada penulis di dunia ini mampu melakukannya.

Selera

Saya hanya ingin mengingatkan, ada lho yang namanya ilmu sastra. Sekali lagi: ilmu sastra. Banyak perguruan tinggi di negeri ini memiliki fakultas sastra. Ilmu sastra dipelajari di situ. Artinya? Seperti semua ilmu, sastra memiliki ukuran-ukuran. Memiliki epistemologi dan metodologi. Sastra bukan tahayul. Saya bukan lulusan fakultas sastra, tapi saya tahu ada ilmu sastra, dan saya menghormati sastra tak hanya sebagai seni, sebagai kerajinan, tapi juga sebagai ilmu. Sekali lagi, sastra bukan tahayul. Jadi? Jadi seperti ilmu-ilmu yang lain, sastra bisa dinilai dan dipejarai berdasarkan ukuran tertentu, berdasarkan metodologi tertentu. Tapi, masa seni diukur seperti itu? Ya, banyak sastrawan mungkin tak mempergunakan ukuran-ukuran tersebut. Sastrawan bisa menciptakan karya sastra seenak udelnya sendiri. Itu hak mereka. Dan pembaca? Pembaca memiliki selera. Ia boleh dan bisa memilih karya sastra menurut seleranya. Saya membaca novel-novel yang sebagian besar mengikuti selera saya (beberapa jelek menurut ukuran yang saya pakai, tapi tetap saya baca karena saya menyukainya). Bisakah karya sastra dilombakan? Bisa. Sangat bisa. Tapi mestinya tak bisa seenak udel (seperti kelakuan pengarang), dan mestinya tak bisa tergantung pada selera (seperti kelakuan pembaca). Itulah gunanya ada ilmu sastra. Agar sastra memiliki epistemologi. Memiliki metodologi. Memiliki ukuran-ukuran dan standar-standar. Lomba yang satu dengan lomba yang lain, sayembara yang satu dan sayembara yang lain, hasilnya bisa berbeda-beda. Bukan karena perbedaan selera, tapi tergantung metodologi dan ukuran yang dipakai. Metodologi dan ukuran ini yang harus dibuka, diberitakan kepada khalayak. Metodologi dan ukuran ini harus bisa dipertanggungjawabkan. Dan bisa diverifikasi, mestinya. Artinya, dengan metodologi dan ukuran tertentu, diulang berkali-kali pun, pemenangnya (mestinya) akan sama. Kenapa? Sebab metodologi dan ukurannya tetap. Terukur. Itulah ilmu. Saya tak mempelajari sastra di ruang kuliah, tapi saya tahu persis bahwa ada yang namanya ilmu sastra. Sejarah ilmu sastra (dan seni secara umum) bukan sejarah yang pendek. Sejak masa Yunani Kuno, Aristoteles bahkan sudah menulis Poetic. Gurunya, Plato, memiliki ukuran sendiri tentang seni (juga sastra) yang bagus itu seperti apa. Kalau kita mengikuti ukuran Plato (seni itu mimesis kehidupan), pemenangnya sudah pasti harus novel realis. Tak bisa tidak. Orang tak bisa protes jika ada yang bilang novel Italo Calvino tentang ksatria yang tubuhnya terbelah dua sebagai novel jelek, jika ukurannya Plato. Seluruh puisi Chairil Anwar bisa dianggap gagal, jika ukurannya haiku. Kebanyakan penulis tak nyaman menghadapi fakta bahwa sastra merupakan ilmu, dengan segambreng teori, dengan segunung pendekatan. Kebanyakan pembaca juga tak nyaman menghadapi fakta, bahwa sastra ada ilmunya. Tak apa. Teori-teori ini barangkali bukan untuk kebanyakan sastrawan, juga bukan untuk pembaca. Para sastrawan, menulis saja. Jika Anda tahu apa yang sedang ditulis dan kenapa menulisnya demikian, itu sangat bagus. Para pembaca, ikuti saja selera Anda. Tak ada yang memaksa. Tapi sekali Anda menilai karya sastra (sebenarnya menilai apa saja), Anda seharusnya punya ukuran. Anda harus mempertanggungjawabkan metode apa yang dipakai, sudut pandang apa yang dipakai, sehingga orang lain bisa memverifikasinya. Ini akan menghindarkan kita dari debat kusir yang tak ada ujungnya. Belajarlah berpendapat dan mempertanggungjawabkan pendapat itu, dan tak semena-mena berkata, “Kan selera gue?” Terutama mulailah memiliki argumen yang semua orang bisa memverifikasinya (mengecek dan membuktikannya sendiri). Saya misal menyebut novel The Old Man and The Sea Ernest Hemingway bagus. Kenapa? Ia berhasil mengeluarkan bagian dalam manusia melalui apa yang nampak di luar. Apa pijakan saya? Immanuel Kant tentang nomena dan fenomena. Anda bisa memverifikasinya. Anda baca Immanuel Kant, baca Hemingway, lalu bandingkan. Jika Anda menemukan penjelasan lain, Anda bisa membantahnya. Perbantahan kita akan menjadi sehat. Seperti bidang ilmu lainnya, siapa pun bisa salah. Kita akan diskusi tentang Kant dan Hemingway. Anda juga bisa menilai novel yang sama dengan pijakan yang berbeda, dan hasilnya mungkin novel itu jelek. Tak masalah. Asal kita tahu apa pijakannya. Suka tidak suka, itu soal selera. Tapi soal bagus dan jelek, anda harus punya ukuran. Belajarlah bertanggung jawab pada apa yang dikerjakan oleh otak Anda. Dan dengan cara seperti itu, kita tak dengan gampang berkata, “Soal selera kan bisa berbeda?”

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑