Eka Kurniawan

Journal

Tag: Anton Chekhov

Bagaimana Menghasilkan Uang Melalui Sastra

Saya membuat judul jurnal ini “Bagaimana Menghasilkan Uang Melalui Sastra” biar banyak yang baca, sebab sepengalaman saya bertahun-tahun menulis jurnal di sini, orang cenderung tertarik hal-hal semacam itu. Siapa sih yang enggak doyan duit? Kalau ada artikel tentang menghasilkan uang hanya dengan tidur delapan jam sehari, saya juga tergoda untuk membacanya. Kenyataannya, memang judul itulah yang terpikirkan ketika membaca novel karya Marek Hlasko, berjudul Killing the Second Dog. Apakah ini novel tentang menghasilkan uang dengan cara membunuhi anjing? Tak bisa dibilang begitu juga, meskipun memang ada anjing yang dibunuh. Adegan yang, demi sopan-santun kepada semua anjing, hanya diceritakan sekilas saja. Itu pun hanya pembunuhan kedua. Pembunuhan pertama dan ketiga, atau kesekian lainnya, tak diceritakan, anggap pembaca mengerti saja. Yang lebih tepat, ini novel tentang menghasilkan uang melalui kesusastraan, atau lebih sederhananya lagi, melalui kemampuan berkisah. Sebelum saya membocorkan bagian-bagian mengenai cara menghasilkan uang melalui kesusastraan, karena saya yakin ini bagian paling menarik dari jurnal sok tahu ini, izinkan saya melipir dulu memuja-muji novel ini di bagian-bagian lainnya yang tak bisa saya abaikan. Gaya menulisnya bisa dibilang brutal, tapi penuh adegan dan dialog lucu, terutama jika mengetahui sedikit saja tentang sejarah kesusastraan dunia, sebab sesekali novel ini sedikit mengejek Shakespeare, atau Sartre, atau Chekhov, bahkan seni peran Stanislavsky. Berkisah mengenai dua lelaki, Robert dan Jacob, yang menggelandang di negara gersang dan panas (dan bisa dibilang enggak ramah) bernama Israel di sekitar tahun 1950an. Ya, tak lama setelah Perang Dunia II dan negara itu menjadi tujuan banyak orang, Yahudi maupun bukan. Mereka dua orang cerdas, tapi bisa dibilang pecundang. Kere. Keluar-masuk bui. Tak punya uang. Kelaparan. Dikejar-kejar kreditor, dan dicurigai polisi. Tak hanya itu, nasib apes juga mengekori mereka terus. Hingga mereka menemukan satu cara brilian untuk menghasilkan uang, tak hanya untuk hidup tapi juga untuk sedikit bersenang-senang, melalui kesusastraan. Dunia yang tak asing bagi mereka. Yang satu sarjana sastra Inggris, yang lain sutradara teater. Bagaimana caranya? Tunggu dulu. Saya perkenalkan dulu penulisnya. Marek Hlasko bisa dibilang tipikal penulis pemberontak: muncul nyaris mendadak (entah dari mana), bikin gempar, lalu mati muda. Ketika kesusastraan Polandia tampak lesu selepas perang, ia muncul dengan karya-karyanya yang memperlihatkan arus baru. Di novel ini, misalnya, kita bisa melihat gaya ala-ala novel hardboiled, tapi pada saat yang sama penuh alusi-alusi biblikal layaknya novel-novel klasik Eropa. Telaahnya terhadap jiwa dan psikologi manusia, meskipun dibawakan dengan ringan dan cenderung untuk meledek, bagi saya (yang membacanya bertahun-tahun kemudian setelah terbit), terasa tetap segar. Ada kesan getir generasi pasca perang, tapi dengan humor dan ekspresi-ekspresi yang apa adanya, juga memberi kesan gairah hidup yang menyala-nyala. Setidaknya dengan hidup yang berantakan dan dunia yang suram, melalui kesusastraan (yang meskipun tak mereka yakini, tapi mereka senangi), keduanya bisa memperoleh 700 dolar Amerika. Enggak banyak, tapi untuk ukuran Israel di zaman itu, kau bisa hidup foya-foya. Jadi bagaimana caranya menghasilkan duit dari kesusastraan? Saya memutuskan untuk tak menjawabnya. Mending baca sendiri novelnya dan belajar dari dua sosok gila bernama Robert dan Jacob itu.

Ludmilla Petrushevskaya

Membaca cerita-cerita Ludmilla Petrushevskaya seperti membaca berita koran lampu merah. Diceritakan dengan cara tutur yang dingin (tapi kocak), yang mengingatkan saya pada narator acara infotainmen di televisi. Pada dasarnya membaca kisah-kisah domestik, tapi dengan satu dan lain cara, pasti bisa membuat merah padam muka para penguasa dan pemegang kebijakan. Kisah-kisahnya berpusar pada masalah-masalah keluarga, hubungan suami-isteri, pacar dan kekasih, selingkuhan, nasib orang-orang jomblo, dan tak pernah sekali pun secara eksplisit bicara tentang politik atau bobroknya pemerintahan; tapi justru dengan cara seperti itulah ia menyodorkan cermin buram wajah politik negerinya (Sovyet dan kemudian Rusia). Petrushevskaya lahir dari tradisi kesusastraan Rusia yang panjang, yang melahirkan maestro-mastero penulis cerita pendek besar: Nikolai Gogol (saya rasa ia tak hanya bapak kesusastraan Rusia, tapi moyang bagi banyak penulis di dunia), Anton Chekhov, Nikolai Leskov (yang cerpen-cerpennya mendorong Walter Benjamin menulis esai yang sulit dilupakan itu, “The Storyteller”), hingga Isaac Babel (penulis cerpen brilian, komunis yang loyal, tapi harus mati muda karena didor Stalin). Saya yang pada dasarnya selalu menganggap setiap karya merupakan pernyataan politik, langsung atau tidak langsung, sangat menikmati cerita-ceritanya. Dalam kumpulan There Once Lived a Girl Who Seduced Her Sister’s Husband, and He Hanged Himself, kita bertemu rakyat jelata yang tinggal di apartemen-apartemen sempit dengan beragam persoalan rumah tangga mereka. Yang menarik, Petrushevskaya tak pernah mencoba meromantisir kehidupan jelata ini, malahan lebih sering Petrushevskaya mengolok-olok bahkan menyiksa tokoh-tokohnya tanpa ampun, dan dengan gaya yang sangat dingin, tanpa simpati dan empati. Tapi dengan cara seperti itulah ia membuka persoalan-persoalan negerinya, seperti seorang ilmuwan membuka fakta-fakta obyek pengetahuannya. Wangi ataupun busuk. Bagaimana ia melakukannya? Di cerpen “A Murky Fate”, misalnya, ia bercerita tentang seorang perempuan lajang yang mencoba “mengusir” ibunya semalam dari apartemen studio mereka agar bisa membawa pulang seorang lelaki. Tak lebih. Ia “hanya” menceritakan betapa susahnya bagi seorang perempuan bahkan sekadar menemukan tempat bercinta. Tapi perkaranya bukan itu, tentu saja. Secara tak langsung ia menyentil kebijakan perumahan, yang membuat ruang-ruang pribadi (di bawah rezim Sovyet) menjadi hilang atau nyaris tak ada. Hal seperti ini menjadi semakin ketara dalam cerita “Give Her to Me”, tentang dua orang seniman (aktris dan komponis), yang harus hidup di sebuah masyarakat yang tampaknya tak peduli dengan bakat-bakat seperti mereka. Sekali lagi, cerpen-cerpen ini ditulis dengan gaya koran kriminal lampu merah (meskipun ceritanya hampir tak berisi kasus-kasus kriminal). Kebanyakan kisah perempuan lajang yang mencoba mencari pasangan, dan lelaki yang beristri yang bosan dengan rumah tangganya, lalu mencari mangsa gadis-gadis muda. Mereka memiliki anak, dan seringkali nasib berputar pada anak itu. Bahkan ada kisah seorang lelaki yang diceraikan isterinya, menggelandang, dan “dipelihara” perempuan berumur tujuh puluhan yang mau mendengar ocehannya tentang filsafat, sementara perempuan tua itu memperlakukannya sebagai anaknya yang tak pernah hidup. Tak hanya bahasanya yang “nyantai”, bahkan struktur ceritanya pun dituturkan seperti dongeng ibu-ibu yang menggosip di taman. Satu cerpen bahkan ditulis dengan nomor, dari 1 hingga 45. Judul kumpulannya yang lain, juga ditulis dengan gaya koran lampu merah: There Once Lived a Mother Who Loved Her Children, Until They Moved Back In. Oh, ada satu lagi, kali ini cerita-cerita “menakutkan” (Petrushevskaya menyukai Edgar Allan Poe), There Once Lived a Woman Who Tried to Kill Her Neighbour’s Baby. Cerpen dewasa ini barangkali tidak “searus-utama” novel dalam kesusastraan, tetapi membaca cerpen-cerpen yang menyegarkan seperti karya-karya Petrushevskaya, senantiasa membuat saya jatuh cinta berkali-kali kepada kesusastraan.

Mau Ke Mana Cerita Pendek Saya?

Beberapa kali saya kembali membaca esai Bolaño berjudul “Advice on the Art of Writing Short Stories” di kumpulan esai dan artikelnya Between Parenthesis. Sejujurnya bukan esai yang cemerlang, tapi nasihat tetaplah nasihat. Seperti bisa diperhatikan, beberapa tahun terakhir saya tak lagi banyak menulis cerpen. Menerbitkan satu cerpen dalam setahun sudah cukup produktif bagi saya. Ada rasa bosan membaca cerpen-cerpen di koran, dan ada rasa bosan menuliskannya juga. Saya tak mau berpusing-pusing memikirkan keadaan cerpen dalam kesusastraan kita, meskipun tak keberatan memberikan pendapat jika ada yang bertanya, dan lebih senang melihatnya sebagai problem internal saya sendiri. Tulisan ini barangkali akan lebih menarik jika berjudul “Mau Ke Mana Cerita Pendek Kita?”, tapi saya rasa terlalu berlebihan untuk mengurusi “kita” saat ini, dan saya tahu persis sebagian besar penulis tak suka diurusi. Kebosanan ini problem internal, titik, dan menggelisahkan hal ini patut saya syukuri: setidaknya saya masih sedikit waras untuk bertanya kepada diri sendiri. Menjelang terbitnya kumcer keempat saya, [Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi], saya mencoba melihat sejauh apa yang telah saya lakukan. Hal paling gampang untuk dilihat tentu saja jumlah: lebih dari lima puluh cerpen telah saya tulis sejak tahun 1999, dan empat buku telah saya terbitkan. Bagi banyak orang, mungkin itu banyak sekali; bagi saya setidaknya itu lebih dari cukup, lebih dari itu bisa saya anggap berlebihan. Berbeda dengan cara kerja saya menulis novel, yang sering saya bayangkan seperti membangun rumah tanpa rancang-gambar, yang membuat saya begitu senang menulis ulang sebuah novel berkali-kali sebelum menerbitkannya; cerpen bagi saya seperti ruang laboratorium penulisan. Kadang-kadang saya punya gagasan kecil di kepala, bisa berupa olok-olok ringan maupun andai-andai berat, lalu saya mencobanya di “laboratorium”, dan jadilah sepotong cerpen. Bagaimana jika Thomas de Quincey, penulis Confession of an English Opium Eater ternyata penduduk Hindia Belanda di masa kolonial dan menulis dalam bahasa Melayu pasar? Hasilnya adalah cerpen “Pengakoean Seorang Pemadat Indis”. Bagaimana jika kita pergi ke satu tempat, bertemu orang-orang dan mendengar cerita mereka, lalu menuliskannya? Cerpen-cerpen seperti “Gerimis yang Sederhana”, “La Cage aux Folles” dan “Penafsir Kebahagiaan” ditulis dengan eksperimen seperti itu. “Caronang” awalnya merupakan eksperimen untuk menulis cerpen dengan pendekatan catatan perjalanan, tapi hasil akhirnya berbeda, sementara “Pengantar Tidur Panjang” merupakan memoar dengan obsesi yang berlebihan: menangkap sejarah republik melalui kacamata sebuah keluarga, tak lebih dari 2000 kata. Saya senang melakukan hal itu di cerpen karena alasan yang sederhana: bentuknya pendek, sehingga saya dengan mudah berpindah dari eksperimen satu ke eksperimen lainnya. Satu disiplin yang rasanya tak akan saya lakukan untuk novel. Sementara eksperimen-eksperimen samacam itu saya percaya layak untuk terus dilakukan, lebih dari lima puluh cerpen dan empat buku tetaplah jumlah yang banyak. Di sisi lain, saya juga percaya, sesuatu tak bisa dilakukan secara berkepanjangan. Ada satu titik di mana seseorang harus berhenti, metode dipertanyakan, dan kepercayaan diri yang berlebihan harus dihancurkan. Ini akan berat untuk saya, tapi rasanya mengurangi menulis cerpen sama sekali bukan jalan keluar yang memuaskan. Saya perlu berhenti setelah buku keempat ini. [Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi] akan menandai jeda panjang saya, hingga beberapa tahun ke depan. Dan tahun-tahun tersebut akan memberi saya banyak waktu untuk menjelajahi beragam khasanah cerita pendek. Saya menyukai penulis-penulis cerpen klasik, dari Chekhov, Gogol, Maupassant, Akutagawa, bahkan cerpen-cerpen konyol O. Henry. Bolaño menyuruh kita membaca Borges, Juan Rulfo, Edgar Allan Poe, hingga Enrique Vila-Matas dan Javíer Marias. Saya sudah membaca mereka. Di luar itu saya kira banyak penulis-penulis kontemporer, dari abad lalu maupun abad sekarang, yang patut untuk dibaca. Belum lama saya membaca cerpen-cerpen Ludmilla Petrushevskaya, yang membawa tradisi panjang kesusastraan Rusia (kapan-kapan saya akan menulis tentangnya di sini). Etgar Keret dan Hassan Blasim, semestinya dibaca sebagaimana kita membaca penulis cerpen klasik. Jangan lupa Raymond Carver. Juga Primo Levi. Dan Eileen Chang. Dan tentu saja César Aira. Saya pernah berhasil berhenti merokok, berhenti bergaul di Twitter dan Facebook (yang memberi saya waktu melimpah untuk membaca buku), rasanya saya akan sanggup melewati yang ini. Berhenti menulis cerpen untuk jangka waktu yang lama, mungkin terasa menyiksa dan menyedihkan; tapi mengetahui akan ada banyak yang bisa dibaca dan belajar kembali dari mereka sambil bertanya “Mau ke mana cerita pendek saya?”, saya rasa layak untuk dilalui. Sebab, mengutip Borges, kegiatan membaca lebih intelek daripada menulis. Dan lebih menyenangkan, tentu saja.

Etgar Keret

Satu hari, tiga atau empat tahun lalu, saya membaca satu cerpen di internet, dan karena manyukainya, saya menerjemahkannya menjadi “Sepatu”. Saya tak ingat dimana terjemahan itu, teman saya seorang editor di suratkabar yang saya sodori untuk memuatnya, juga menghilangkan file terjemahan itu, tapi saya selalu ingat ceritanya. Itu tentang seorang bocah Israel yang senang bermain bola dan dibelikan sepatu Adidas oleh ayahnya. Ia benci sepatu itu, karena Adidas buatan Jerman dan orang Jerman merupakan pembunuh Yahudi. Tapi ketika ia membuat gol dengan sepatu itu, ia kemudian (kira-kira) bilang, “Boleh juga.” Cerita sederhana, tapi kita tahu, banyak hal mencabik-cabik kemanusiaan kita di dalamnya. Beberapa lembar cerita, tapi barangkali memuat sejarah Eropa dan Timur Tengah yang kelam. Lebih mengagumkan dari itu semua, cerpen ini ditulis dengan humor yang melimpah, seolah semua hal tentang politik, rasisme, perang merupakan kedunguan manusia yang menggelikan. (Bagi saya, humornya menjadi terasa berganda: di negeri saya ketika kaum Islamis selalu menyalahkan segala kesialan kepada Yahudi, melarang memakai ini dan itu karena konon buatan Yahudi, menjadi menggelikan ketika membayangkan bocah Yahudi menimpakan segala kesialan kepada orang Jerman, dan tak mau memakai ini dan itu karena buatan Jerman). Sejak saat itu saya tak pernah lupa nama penulisnya: Etgar Keret. Sayang ketika beberapa waktu lalu ia datang ke Indonesia, saya tak berjumpa dengannya untuk sekadar meminta tandatangan. Di tahun-tahun terakhir ini, cerpen-cerpennya mulai bermunculan di majalah dan jurnal berbahasa Inggris. Saya menemukan cerpennya di New Yorker dan Granta, hingga akhirnya membacanya di buku kumpulan cerpennya. Kini bisa dibilang, ia tak hanya salah satu penulis (terutama cerpen) terpenting Israel, tapi bisa dibilang merupakan generasi penulis cerpen dunia yang layak dibaca. Kebanyakan cerpennya berukuran pendek, atau sangat pendek, bahkan untuk ukuran penulis Indonesia yang (karena halaman suratkabar) terbiasa menulis cerpen sekitar 1500-1700 kata saja. Saya kagum dengan keefektifitasan cerita-ceritanya, menceritakan hal-hal yang perlu tanpa dorongan genit untuk berpanjang-panjang, tapi sekaligus tak merasa harus berpendek-pendek sehingga kehilangan nuansa. Sekilas, kita akan merasa cerpen-cerpennya berbau Kafka: Seorang perempuan satu pagi kedatangan dua petugas yang memberitahu bahwa suaminya meninggal. Perempuan itu bingung, karena ia tak punya suami. Tapi ia tak semata-mata bau Kafka: Di cerita lain, seorang penulis (saya rasa Etgar Keret sendiri), kedatangan orang Swedia yang menodongkan pistol ke kepalanya hanya agar ia mendongeng untuknya. Ketika si penulis bilang, ia bisa mendongeng tanpa perlu ditodong kasar seperti itu, si Swedia berkata, “Setelah seminggu di negeri ini, saya tahu, di sini segala sesuatu harus diminta dengan kekerasan.” Dan itu benar: orang Palestina meminta negara dengan cara baik-baik, tak ada yang menggubris. Memintanya dengan ledakan bom, baru kemudian diundang ke perundingan. Etgar Keret merupakan tukang sindir bermulut tajam, tanpa kehilangan selera humor yang menyenangkan. Ia meminjam sedikit elemen dari Kafka, terutama ketika seorang individu harus menghadapi dunia yang tak dipahaminya, yang berjalan tidak sesuai dengan (apa yang ia pikir) seharusnya, atau menghadapi situasi yang keluar dari kebiasaannya, untuk menjelaskan situasi-situasi politik dan kemanusiaan modern. Saya tak tahu apakah ia (akan) menulis novel atau tidak (yang saya tahu, ia membuat film juga), tapi bahkan dengan cerpen-cerpennya, saya yakin ia akan menjadi salah satu master tukang cerita kelas dunia. “Kelas dunia” dalam makna yang sebenarnya, sebagaimana saya menikmati cerpen-cerpen Chekhov dan bahkan Borges.

Joseph Anton, oleh Salman Rushdie

Buku ini berjudul Joseph Anton, ditulis oleh Salman Rushdie. Atau bisa juga berjudul Salman Rushdie, ditulis oleh Joseph Anton. Saya pikir tak ada bedanya. Kenyataannya, buku ini bercerita tentang Salman Rushdie. Sekaligus bercerita tentang Joseph Anton. Ditulis oleh Salman Rushdie, dan bisa dibilang juga ditulis oleh Joseph Anton. Intinya, di satu titik dalam hidupnya, Salman Rushdie pernah menjadi seorang lelaki bernama Joseph Anton, nama yang diambil dari dua penulis favoritnya: Joseph Conrad dan Anton Chekhov. Ini buku memoar Salman Rushdie, alias Joseph Anton. Diawali hari ketika ia memperoleh telepon, seseorang yang bertanya, apakah ia sudah mendengar bahwa dirinya telah difatwa mati oleh Ayatullah Khomeini karena novelnya, The Satanic Verses? Novel itu pada dasarnya merupakan sejenis tribut untuk ayahnya, Anis Rushdie, seorang sarjana Islam, yang mengagumi kelahiran Islam yang disebutnya sebagai “satu-satunya agama besar di dunia yang dilahirkan di masa sejarah.” Artinya, sejarah Islam, sejarah Muhammad, memiliki konteks. Tercatat di waktu yang bersamaan, bukan ratusan tahun setelah kejadian sesungguhnya terjadi. Ayahnya, mengambil nama keluarga “Rushdie” sebagai ungkapan kekaguman terhadap salah satu filsuf Islam yang berasal dari Andalusia, Ibnu Rushd. Salman Rushdie mewarisi antusiasme ini. Antusiasme ini kemudian membawanya mengambil satu mata kuliah sejarah Islam, satu-satunya mahasiswa yang mengambil mata kuliah di semester itu, dan berkenalan dengan episode “ayat-ayat setan” dalam kehidupan Nabi. Itu ayat yang (bisa dibilang) memperbolehkan berhala-berhala orang Mekah disembah, yang kemudian dianulir sebab ayat-ayat itu ternyata bisikan setan (ayat-ayat penggantinya kemudian menjadi ayat 53:19-22). Bertahun-tahun kemudian, itu memberinya inspirasi menulis The Satanic Verses. Dan antusiasme ini juga membawanya berhadapan dengan fatwa mati, dari para antusias Islam di sisi lain. Itulah saat hidupnya mulai berada di bawah bayang-bayang, dalam perlindungan pengawal rahasia, dan membuatnya mengambil identitas baru. Ia sebagai Joseph Anton. Dalam pembukaan The Satanic Verses, baris ini barangkali terus berbisik di kepala siapa pun yang membaca novel itu: “Untuk dilahirkan kembali, seseorang harus mati.” Buku ini seperti merayakan kelahiran baru dirinya, setelah mati oleh sebuah fatwa. Dalam kelahirannya yang baru ini, setelah bertahun-tahun berlalu, ia memutuskan membela diri. Meskipun memoar ini bercerita banyak tentang kehidupan personalnya, semua buku-bukunya, tapi sesungguhnya terutama tentang kenapa ia menulis The Satanic Verses. Pandangan-pandangannya tentang Islam. Dan ia mengaku, novel ini pada dasarnya bentuk penghormatannya kepada Muhammad. Ia memperlakukannya sebagaimana Nabi menginginkan dirinya dipandang: sebagai manusia, dan bukan sebagai sosok ilahiah. Tapi karena itulah, ia difatwa mati, dan ia harus menjadi Joseph Anton. Bagi saya pribadi, The Satanic Verses merupakan karya terbaiknya. Saya bukan penggemar Midnight’s Children, yang terlalu India (dan format novelnya mengingatkan saya pada The Tin Drum Günter Grass). Novel-novelnya yang lain juga terasa terlalu lokal: Pakistan, Kashmir. Membaca The Satanic Verses, saya merasa membaca sesuatu yang mudah dikenali (karena berbagi latar tradisi agama yang sama): Islam, dengan kekayaan sejarah dan budayanya. Dan tentu saja juga karena betapa imajinatifnya tema itu diangkat di novel ini. Campur-aduk antara mimpi (yang bisa ditafsir sebagai wahyu), ejekan pascakolonial, realisme magis. Hingga kontroversi itu meledak. Dan Joseph Anton harus bersembunyi. Yang saya kagum, di dalam persembunyiannya ia terus menulis. Salah satu yang terbaik, buku anak-anak Haroun and the Sea of Stories, yang merupakan hadiah untuk anaknya (yang mengomel, “Kenapa kamu tak menulis buku untukku?”), ditulis di masa itu. Para penerbit ketakutan, editor berusaha menyensor karyanya (dengan blak-blakan ia memperlihatkan borok di dapur penerbit-penerbit besar, juga para penulis, yang sebagian berusaha mencuci tangan). Ia bersikeras, terbitkan atau tidak sama sekali. Tak ada batas-batas mutlak kebebasan (berkarya), memang. Tapi kebebasan (berkarya) yang tak diperjuangkan, sudah pasti akan dikalahkan. Tanpa fatwa hukuman mati pun, suatu hari Salman Rushdie (atau Joseph Anton) akan mati. Tapi saya percaya bahwa, “Apa yang kutulis, tetap tertulis” (Yohanes 19:22). The Satanic Verses telah tertulis, dan akan begitu. Dan perlawanan sesungguhnya adalah: ia terus menulis, meskipun bagi saya, belum ada lagi yang sebaik novel ini. Dan memoar ini, boleh saya akui, merupakan salah satu memoar penulis terbaik yang pernah saya baca.

Seberapa Tua Penulis di Rak Buku Saya?

Hal pertama yang terpikirkan ketika membaca novel-novel Roberto Bolaño adalah, betapa sedikitnya saya membaca karya para penulis dari generasinya. Ia lahir 1953. Saya membaca esai-esainya, yang dikumpulkan di buku berjudul Between Parentheses, dan terkejut oleh kenyataan ia membaca karya-karya penulis yang selama ini kurang-lebih (lebih banyak) saya baca. Oh, tentu banyak penyair dan penulis berbahasa Spanyol yang saya tak akrab, tapi lupakan bagian itu. Ia bicara tentang Borges, tentang Cortazar, dan beberapa yang juga saya baca. Tapi ia lahir 1953, dan saya lahir 1975. Jarak 22 tahun di antara dua pembaca, saya rasa seperti ribuan tahun cahaya. Seharusnya bacaan saya jauh lebih segar daripadanya. Seharusnya saya membaca lebih banyak Bolaño dan segenerasinya. Saya pergi ke rak buku, membuka halaman biografi singkat di beberapa novel, mencari siapa saja yang lahir di tahun 50an. Saya berharap bacaan segar saya tak sekering yang saya duga. Apa boleh buat, di sana lebih banyak mumi-mumi tua. Hemingway, Faulkner, Kawabata, Hamsun. Lebih bangkotan lagi, ada Tolstoy, Dostoyevsky, Chekhov. Bahkan Shakespeare dan Cervantes. Seharusnya nama-nama itu sudah selesai dibaca sebelum lulus sekolah menengah, sehingga di umur menjelang 40, barangkali bacaan saya jauh lebih segar. Saya kembali memeriksa tahun-tahun kelahiran penulis-penulis yang ada di rak buku saya, paling tidak yang saya suka. Syukurlah, saya menemukan bahwa Haruki Murakami lahir 1949. Mo Yan 1956. Herta Muller 1953. Orhan Pamuk 1952. Bahkan saya menemukan yang lebih muda dari tahun-tahun itu. Tak banyak memang, tapi saya pikir tak terlalu menyedihkan. Yang perlu saya lakukan barangkali berkunjung lebih sering ke toko buku. Saya tak terlalu yakin apakah ada gunanya pergi ke perpustakaan untuk tujuan semacam ini. Perpustakaan di sini lebih sering seperti museum berisi hantu-hantu penulis, daripada galeri cantik penuh nama-nama kontemporer. Saya mungkin perlu memberi perhatian pada nama-nama yang lebih muda. Saya pikir tak akan banyak yang bisa saya peroleh dari penulis generasi saya. Mereka belum banyak menerbitkan buku, dan di antara yang belum banyak itu, lebih sedikit yang menonjol, dan lebih sedikit lagi yang diterjemahkan (jika ia penulis dari bahasa yang asing untuk saya). Tapi mungkin saya bisa memperoleh banyak dari generasi penulis yang lahir tahun 50an. Akhir 40an paling tidak. Sangat bagus jika 60an. Oh, tak ada maksud aneh dari omongan saya tentang ini. Saya hanya merasa perlu bacaan yang lebih segar. Karya-karya yang memberi kejutan-kejutan kecil sebagaimana telah dilakukan karya-karya yang lebih tua. Seperti Bolaño bilang, dan saya setuju sehingga saya merasa perlu mengutipnya dan menjadikannya kata-kata saya sendiri, “Saya lebih menikmati membaca daripada menulis.” Dan di atas generasi saya, ada banyak buku-buku yang berangkali perlu ditengok. Buku-buku yang tak lagi membicarakan Perang Dunia II. Buku-buku yang tak lagi membicarakan jamuan teh di rumah tradisional Jepang. Tapi buku-buku yang mengisahkan orang-orang yang mungkin mampir ke 7Eleven, yang mendengarkan musik melalui iPod (ah, bahkan mendengarkan musik lewat Walkman pun terasa sudah usang sekarang ini). Tapi sambil memikirkan hal ini, sambil tergila-gila dengan apa pun yang ditulis Bolaño, rasanya saya tak bisa meninggalkan apa-apa yang telah ditulis oleh para pendahulu Bolaño. Para penulis yang lahir di tahun 30an, atau 20an, atau bahkan beribu tahun cahaya lebih tua dari itu. Karya-karya mereka, orang-orang pintar akan mengatakannya sebagai, klasik. Dan seperti dikatakan Italo Calvino di Why Read the Classics?, “Membaca karya-karya klasik itu lebih baik daripada tidak membacanya sama sekali.” Saya rasa itu alasan yang sangat bagus, sebagaimana membaca karya-karya kontemporer juga lebih baik daripada tidak membacanya sama sekali.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑