Gita Wiryawan: Menurut mas Eka, apakah sebaiknya sastra lebih membumi agar pembacanya kian banyak ataukah cukup di tempat semula, yang berjarak (bagi beberapa orang, sastra disebut berada di menara gading) agar bisa dibedakan dengan karya fiksi populer?

Pertanyaan di atas membawa problem serius yang bisa berujung ke sesat pikir. Pertama-tama, apa itu “membumi”? Setahu saya, semua karya sastra di dunia ditulis dengan bahasa dan kata-kata yang diciptakan oleh manusia di bumi, tak ada satu pun yang diimpor dari langit. Bahkan kitab suci yang dipercaya diciptakan langsung oleh Tuhan pun mempergunakan bahasa manusia. Tentu saja manusia juga menciptakan bahasa untuk komputer, tapi 1) Belum pernah lihat novel/cerita yang ditulis dengan bahasa itu, 2) kalaupun ada, manusia tetap bisa mempelajarinya dan mengerti (dengan syarat memiliki kapasitas pengolahan data di kepalanya yang memadai). Jadi dengan asumsi tersebut, seharusnya semua karya bisa dibilang membumi. Baiklah, mari kita membuat asumsi baru bahwa yang dimaksud “membumi” adalah karya-karya yang dekat dengan kehidupan/persoalan pembaca sehingga mudah dipahami oleh mereka (sehingga lebih “populer”). Bahkan asumsi ini pun meninggalkan banyak persoalan. Apakah Harry Potter dekat dengan kehidupan/persoalan pembaca? Bahkan meskipun sihir pernah menjadi persoalan serius dalam peradaban manusia, itu terjadi di zaman kegelapan, ketika tentara inkuisisi Spanyol merajalela di Eropa barat, dan Harry Potter tak ada hubungan langsung dengan hal itu. Baltasar and Blimunda karya Jose Saramago jelas berhubungan langsung dengan kasus tersebut, bisa dibilang “membumi” karena menceritakan kehidupan dan permasalahan yang lebih dekat dengan manusia (bahkan tokohnya, Padre Bartolomeu Lourenço, merupakan sosok yang benar-benar pernah ada), tapi saya yakin novel keren ini jauh kalah populer dari ciptaan J.K. Rowling. Baltasar and Blimunda tak bisa dikatakan tidak membumi hanya karena ia kurang populer dan sulit dipahami oleh masyarakat kebanyakan. Atau coba tengok si Le Petit Prince (Antoine de Saint-Exupéry). Kita tahu novel pendek itu bercerita tentang pangeran kecil yang hidup di planet dan melompat dari satu planet ke planet lain. Tidak membumi? Sekilas, ya. Tapi novel itu juga bercerita tentang ketidakmampuan orang dewasa memahami imajinasi anak-anak. Membumi? Ya, itu persoalan orang dewasa dari dulu sampai kapan pun. Di sini kita masuk ke persoalan ketiga: jarak antara teks dan pembaca (yang kamu istilahkan bahwa karya sastra berada di “menara gading”). Pada dasarnya, semua karya sudah pasti memiliki jarak antara teks dan pembacanya. Jarak ini bisa sangat lebar, bisa pula tidak, akan sangat tergantung kepada pembacanya. Mengasumsikan semua pembaca berada di tingkat pemahaman, penafsiran, kecerdasan dan kedewasaan intelektual serta keluasan pengalaman hidup (ini juga penting!) yang sama merupakan sikap yang naif. Tak bisa dielakkan bahwa ada karya-karya tertentu yang hanya dipahami segelintir orang, dan ada yang bisa dipahami oleh lebih banyak orang. Dan kepercayaan bahwa karya sastra harus dipahami sebanyak-banyaknya orang (menjadi populer?), selain sesat pikir, juga bisa menjerumuskan. Kenapa? Mari kita bicara soal makanan, kebutuhan pokok manusia. Apa makanan yang paling mudah masuk ke mulut kebanyakan manusia? Sudah tentu, fast food. Di Indonesia bisa ditambahkan: nasi. Kapitalisme dunia selama beberapa dekade terus-menerus menciptakan makanan yang monokultur. Selera sebisa mungkin diseragamkan, karena segala hal yang seragam berarti lebih mudah diproduksi, lebih efisien, dan tentu lebih irit. Mereka berusaha meneliti atau menciptakan “selera kebanyakan”. Tentu saja ada segelintir orang yang tak suka nasi, dan orang akan menganggapnya aneh. Dalam istilah kesusastraan, ia barangkali di menara gading. Nah, yang sering dilupakan orang, kesusastraan secara umum (segala yang memproduksi teks), juga tak lepas dari konteks kapital. Kesusastraan juga komoditas, seperti ayam goreng. Penerbit (sebagai alat kapital), tentu berusaha memproduksi sesuatu yang lebih mudah, lebih laku, lebih irit, dan efisien. Itulah kenapa ada sekolah menulis (bandingkan dengan lab), dan ada formula menulis (bandingkan dengan resep). Belajar dari bisnis makanan, jawabannya adalah: kesamaan selera. Sebisa mungkin pembaca berada di zona di mana seleranya bisa dikendalikan, dan penulis juga didorong untuk menulis di zona yang sama. Ini tak hanya terjadi dalam makanan dan kesusastraan. Ini terjadi di fashion, di teknologi, di olahraga, di bidang apa pun. Dunia dari hari ke hari semakin menjadi monokultur. Di mana-mana di dunia dengan mudah kita melihat orang makan pizza, pakai gadget Android, mengenakan atribut Machester United, dan … membaca Harry Potter. Saya tak ingin menyalahkan produk-produk yang disukai banyak orang itu (semua orang di keluarga saya penggemar Harry Potter dan suka pizza), tapi bagi saya penting bahwa ada produk-produk di luar itu. Dan kesusastraan, dengan gigih (Bolaño menyebut bahwa para penyair merupakan sosok paling berani, lebih bernyali dari para perampok bank) terus-menerus memberi produk “yang berbeda” ini. Saya yakin kebanyakan di antara mereka tak menciptakan karya yang “asal berbeda”. Seperti para koki, barangkali mereka mencoba menciptakan sesuatu yang lebih bergizi, dan lebih sehat (dan sialnya, yang begini biasanya tak disukai kebanyakan orang). Jarak antara teks dan pembaca (yang sudah pasti akan selalu ada), tak bisa melulu diselesaikan dengan cara pandang kapital: produk dipaksa untuk mengikuti selera konsumen, dan selera konsumen dibentuk untuk mengkonsumsi produk yang diciptakan. Jarak antara teks dan pembaca yang lebar, dalam kesusastraan (dan segala hal), harus juga didekati dengan strategi kultural (pendidikan, terutama). Saya percaya manusia merupakan makhluk yang “geocentric” (meskipun sudah tahu bumi mengelilingi matahari), yakni memusatkan segala hal kepada dirinya sendiri. Semua karya sastra, bicara tentang robot, planet, vampire, setan, dewa-dewa, pada dasarnya bicara tentang manusia dan bumi tempat mereka berpijak. Kita bicara tentang diri sendiri. Persoalan membumi atau tidak membumi, pada akhirnya, jangan-jangan sesepele permasalahan bahwa ada karya yang “sulit” bagi sebagian pembaca. Jika benar permasalahannya itu, bagi saya kemungkinannya ada dua: 1) Karya tersebut memang ditulis dengan buruk, 2) Pencernaan kita tidak akrab dengan jenis bacaan ini. Solusinya kita semua tahu apa.