Beberapa kali saya bertemu buku dengan label “restored edition”, yang artinya, itu buku diterbitkan persis seperti manuskrip yang ditulis (atau kehendak) penulisnya (bukan berdasarkan edisi pertama yang telah disunting), seperti dalam kasus A Clockwork Orange, Anthony Burgess. Dalam kasus A Movable Feast Ernest Hemingway, “restored edition” ini justru malah sering dipertanyakan “keaslian”nya, karena banyaknya campur-tangan penyunting, yang adalah cucu si penulis. Alternatif lain, buku edisi reguler (yang sudah melalui penyuntingan), tapi juga disisipi appendix berupa bagian-bagian “asli” merujuk ke manuskrip sang penulis. Saya jadi bertanya-tanya, jadi apa fungsi penyunting, jika buku-buku itu malah dikembalikan ke “aslinya”? Dunia perbukuan tanpa peran penyunting dan kerja penyuntingan, tentu saja merupakan kekacauan, meskipun ya, dunia akan terus berputar tanpa mereka. Sebagai penulis, saya menerima dengan baik pekerjaan ini, dan selalu terbuka untuk setiap penyuntingan. Tapi beberapa kali bertemu dengan orang yang mengaku sebagai penyunting/editor, dan berkata atau berkomentar tentang sebuah karya “seharusnya begini, seharusnya begitu”, tak jarang membuat saya sebal. Begini: seperti dalam hidup, dunia penulisan juga senantiasa berada dalam ketegangan dua kutub: yang diidealkan dan yang dijalankan. Aturan dan praktek. Kita tahu ada aturan-aturan berbahasa. Saya yakin para penulis di dunia paham bahwa tanpa aturan berbahasa, semua karya tulis (novel, cerita pendek, esai, puisi) menjadi sampah omong-kosong karena tak akan ada yang mengerti. Tapi seperti para penjahat gadungan, para penulis yang punya nyali juga memiliki hasrat meluap-luap untuk keluar dari aturan-aturan ini. Saya rasa, ketegangan inilah yang membuat keberadaan sosok seorang penyunting menjadi penting. Untuk apa? Untuk mengendalikan para perusuh yang ingin melanggar aturan dan mengembalikan mereka ke tatanan? Tunggu. Toni Morrison pernah berkata (saya lupa di mana, tapi kutipan ini sering berseliweran di mana-mana), “Peran penyunting itu mirip psikiater. Jika kamu merasa cocok dengannya, lanjut. Jika tidak, urus sendiri barangkali lebih baik.” (Kutipannya mungkin tak persis seperti itu, tapi kurang-lebih begitu). Jika kita membandingkan dunia penulisan ini dengan dunia kesehatan mental, saya yakin di dunia ini tak ada orang yang benar-benar “normal”. Jadi dalam tingkat yang berbeda-beda, kita semua membutuhkan psikiater, dan tugas psikiater bukanlah menjadikan kita normal (karena tidak ada). Lebih cocok bila saya bayangkan tugas mereka adalah untuk membuat kita nyaman dalam masyarakat, atau meminimalisir penyakit kita menjadi gangguan. Ya, psikiater tentu punya bekal pengetahuan, ilmu yang pernah dipelajarinya. Tapi saya yakin, mereka bekerja tidak semata-mata mengatur pasen mengikuti apa yang telah dipelajarinya. Jauh lebih penting daripada bertahun-tahun mempelajari kesehatan mental, saya yakin hal terpenting yang harus dimiliki seorang psikiater adalah empati yang besar terhadap pasennya. Dengan cara yang sama, kita bisa melihat hubungan penyunting dan penulisnya. Penyunting (melalui sekolah maupun pengalaman kerja), tentu memiliki pengetahuan yang memadai bagaimana menulis yang semestinya, mereka juga paham aturan-aturan berbahasa, bahkan selalu siap-sedia merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tapi yang jauh lebih penting untuk mereka miliki, tentu saja empati terhadap penulisnya. Kembali ke soal “normal”, sebagaimana tak ada yang benar-benar normal, apakah dalam penulisan ada yang benar-benar “seharusnya”? Sekali lagi, saya bukan penulis yang anti penyunting maupun penyuntingan. Tapi bisa dibilang, saya anti terhadap kecenderungan kebenaran tunggal dalam penyuntingan, seolah hanya ada satu kondisi “normal” di mana semua penulisan harus merujuk ke sana. Bagi saya, setiap kerja penyuntingan membawa sebuah paradigma dalam prosesnya. Jika sebuah tulisan disunting agar sesuai dengan aturan berbahasa, mempergunakan bahasa baku, kita bisa menyebutnya sebagai salah satu paradigma. Paradigma positivisme, barangkali. Tapi juga harus diasumsikan bahwa ada banyak paradigma dan sudut pandang. Paradigma itu bisa bisnis, bisa politis, moralis, bisa pula estetis. Saya rasa bukan tugas seorang penyunting untuk mengakomodasi satu paradigma, tapi justru untuk mengenali sebanyak-banyaknya. Dengan kesadaran bahwa kerja penyuntingan membawa suatu paradigma (yang bukan kebenaran tunggal), maka sangat dimungkinkan sebuah karya, kelak akan disunting kembali (dengan paradigma baru), atau bahkan dikembalikan ke manuskripnya, seperti dalam kasus “restored edition” (yang artinya, ini juga paradigma yang lain). Kerja penyuntingan, kurang-lebih sama seperti penerjemahan atau pengalihrupaan. Itu pekerjaan yang memiliki irisan dengan penafsiran. Jika ada asumsi kebenaran di sana, maka itu hanya kebenaran sementara. Itulah gunanya memiliki empati terhadap penulis, meskipun saya sadar, barangkali sedikit saja penulis yang peduli terhadap ini. Seperti psikiater memahami keadaan pasennya, jika penyunting memahami penulisnya, ia tak akan berkata “seharusnya begini seharusnya begitu” seolah-olah ada kebenaran tunggal dalam penulisan. Bagi penyunting, kitab EYD dan Kamus Besar memang penting. Logika juga penting. Tapi jauh lebih penting adalah pemahaman Anda tentang penulis yang Anda hadapi. Saya percaya, penyunting bisa mengkhianati EYD, Kamus Besar bahkan logika, demi penulis. Anda tidak sedang membuat donat yang Anda harapkan rasanya sama, siapa dan kapan pun dimakan. Anda sedang membuat buku, dengan rasa yang seharusnya berbeda dari satu buku ke buku lain, dari satu penulis ke penulis lain. Tapi jangan lupakan, pandangan saya tentang penyuntingan ini pun hanya salah satu paradigma saja. Satu sudut pandang saja.