Eka Kurniawan

Journal

Tag: Annie Tucker

Akhirnya keempat versi Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash (Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas) dari penerbit dan wilayah berbeda berada di meja saya. Dari kiri ke kanan: Australia (Text Publishing), Amerika (New Directions), India (Speaking Tiger), dan Inggris (Pushkin Press). Isinya sama, diterjemahkan oleh Annie Tucker, hanya beda sampul dan ukuran, dan tentu saja wilayah distribusi.

Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash (translated by Annie Tucker) is one of Readings“The most anticipated books of 2017”. My third novel will be published this year by New Directions (US), Pushkin Press (UK), Text Publishing (ANZ) and Speaking Tiger (India).

My short story, “Dimples” is part of the January 2016 Translation Issue from The White Review. Translated by Annie Tucker, originally published as “Lesung Pipit” in Cinta Tak Ada Mati.

Perempuan yang Suka Uring-uringan, Barangkali Akan Menderita oleh Amarahnya Sendiri

Membaca tentang Elena Greco, di novel My Briliant Friend karya Elena Ferrante, saya pikir bisa disimpulkan sebagai “perempuan yang suka uring-uringan, barangkali akan menderita oleh amarahnya sendiri”. Meskipun buku ini (pertama dari empat seri) sudah lalu-lalang di banyak ulasan, dan semua ulasan memuji buku ini (lebih tepatnya, memuji keempat buku di seri itu), saya baru membacanya belakangan. Itu pun setelah mendengar Maggie Tiojakin dan Annie Tucker merekomendasikannya, dengan sedikit membujuk. Hah, bukankah kita sering membaca buku karena orang-orang yang kita percaya seleranya membaca buku tersebut? Akhirnya saya membacanya, dan tidak menyesal melakukannya. Novel ini di satu sisi sangat brutal, di sisi lain terasa puitis. Di satu sisi seperti air yang mengalir tenang, menceritakan kisah-kisah keseharian, di lain sisi memperlihatkan jurang-jurang psikologis yang sangat dalam, dan tentu saja konflik sosial yang ruwet. Kebencian, kecemburuan, harga diri, balas dendam, hasrat, ambisi, cinta, ketidakberdayaan, sebut semua jenis perasaan manusia, barangkali akan kita temukan semuanya di sini. Di antara semuanya, hubungan tarik-ulur dua gadis kecil, Elena dan Lila, merupakan yang paling penting. Mereka bersahabat sejak kecil, dan di novel ini, cerita berhenti ketika mereka berumur enam belas tahun (meskipun prolog-nya dibuka ketika mereka sudah dewasa, telah memiliki anak yang tumbuh remaja). Terutama, novel ini bercerita tentang perkembangan perasaan (naik-turun) Elena terhadap sahabatnya, Lila. Bisa disederhanakan bahwa Elena selalu cemburu dengan apa pun yang diraih Lila. Di matanya, Lila selalu berprestasi di sekolah, bahkan seolah tanpa usaha. Nilai-nilainya selalu paling baik, sementara dirinya, untuk mendekati nilai-nilai yang dimiliki Lila, harus kerja-keras belajar siang dan malam. Ia cemburu, kagum, tapi juga sayang kepadanya. Situasi menjadi sangat pelik ketika Elena akhirnya memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya (sekolah menengah?), sementara Lila tidak. Elena, untuk pertama kali merasa memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan melebihi apa yang dimiliki Lila: sekolah. Di sana ia belajar bahasa Yunani. Sialnya, meskipun tidak sekolah, Lila bisa pergi ke perpustakaan dan bejalar sendiri bahasa Yunani, dan terbukti bisa lebih pintar dari Elena. Siapa yang tidak gondok. Apalagi kemudian ia ketahui, Lila merupakan peminjam buku paling banyak di perpustakaan, mengalahkan dirinya. Begitulah, Elena tumbuh menjadi gadis yang terus uring-uringan. Tak pernah puas dengan apa yang diperolehnya, sebab ia selalu melihat apa yang diraih Lila. Di titik ini saya jadi teringat seorang teman. Perempuan. Ia seorang yang pintar, cantik, lulusan perguruan tingga ternama, dan memilih karir yang diminatinya sendiri. Tapi sebagaimana kebanyakan orang, ia harus berjuang meniti karir. Berjuang untuk sekadar menutup tagihan bulanan, membayar biaya sekolah anak, dan mencicil rumah dan mobil. Pada saat yang sama, ia punya teman yang dalam banyak hal tak bisa dibandingkan dengannya. Tidak cantik (setidaknya menurut ukuran dia), tidak pintar (dan tidak kuliah), berasal dari keluarga yang pas-pasan. Tapi ia berhasil memikat hati seorang ekspatriat tua, yang kaya-raya. Hidupnya berlimpah harta, travel ke sana-sini, menenteng tas bermerk. Teman saya sudah pasti cemburu gila-gilaan, uring-uringan, “Gue sekolah tinggi, cantik, pintar, tapi kenapa harus banting tulang untuk sekadar hidup layak, sementara dia jelek, bodoh, tapi bisa begitu glamour?” Apa boleh buat, begitulah hidup. Begitulah jika hidup hanya berpatokan kepada apa yang diraih orang lain. Sebagaimana yang dialami Elena dan Lila. Mari kita lihat dari sudut pandang Lila. Dia angkuh (tetangga menganggapnya “bad girl”), sementara Elena dianggap baik. Tapi saya rasa, keangkuhan Lila tidak datang dari perasaan bahwa ia merupakan yang terbaik, terpintar atau tercantik. Tidak. Keangkuhannya datang dari perasaan nyaman atas dirinya sendiri. Lila tahu apa yang diinginkannya, dan mengukur hidupnya semata-mata dari apakah ia bisa mencapai keinginannya atau tidak. Sementara Elena tidak: Elena tak yakin apa yang diinginkannya, dan mengukur hidupnya dari keberhasilan orang (Lila). Hidupnya diombang-ambing rasa cemburu, tak berdaya, dan frustasi. Begitulah pada akhirnya, Elena menjadi si anak baik yang uring-uringan sendiri, sementara Lila menjelma gadis angkuh, percaya pada dirinya sendiri. Ironinya muncul justru ketika Lila berkata kepada Elena, “You are my briliant friend.”

PS: Terlepas dari judulnya, karena novel ini memang bercerita tentang dua perempuan, saya rasa ini juga berlaku untuk laki-laki.

Cerita saya untuk kolom “Lives” berjudul “A Slacker of Jakarta” diterbitkan oleh The New York Times Magazine. Cerita itu ditulis dalam bahasa Indonesia, belum pernah diterbitkan sebelumnya, dan diterjemahkan oleh Annie Tucker untuk majalah tersebut.

Jane Novak, publicity manager of Text Publishing, on upcoming Beauty is A Wound publication: “Both a crazy, dream-like tale of one woman who goes to remarkable lengths in order to survive and the history of one of closest neighbouring nations, this is one of the most astonishing pieces of fiction I’ve read in a long time and I’m incredibly excited about it.” Beauty is A Wound translated by Annie Tucker (original title: [Cantik Itu Luka]), will be published simultaneously by New Directions (US) and Text Publishing (Australia) in September.

Berbagi Mengenai Penerjemahan

30 September merupakan Hari Penerjemahan Internasional. Mari bicara tentang ini. Tak bisa disangkal, banyak penulis berharap karyanya diterjemahkan ke bahasa asing. Tak hanya membuka ruang pembaca baru, tapi terutama tentu saja sedikit gengsi: karya yang diterjemahkan setidaknya mengindikasikan karya tersebut memiliki nilai atau kualitas tertentu. Beberapa orang barangkali beruntung menguasai lebih dari satu bahasa sehingga bisa melakukannya sendiri. Isaac Bashevis Singer, salah satu yang saya tahu menerjemahkan karyanya sendiri (sebagian) ke bahasa lain. Tapi tentu tak semua orang seberuntung itu. Bahkan meskipun bisa melakukannya, atau nekat melakukannya, juga bukan hal yang gampang menerbitkan karya terjemahan. Banyak orang buta mengenai hal ini. Saya salah satunya. Sekarang sedikit bisa melihat, meskipun boleh dibilang masih rabun. Saya ingin berbagi sedikit mengenai pengalaman saya, siapa tahu berguna bagi penulis lain. Saya tahu banyak penulis dan karya dalam kesusastraan kita, yang layak untuk dibaca di luar teritori bahasa kita. Baiklah, sekali lagi, seperti kebanyakan penulis di sini, saya buta soal penerjemahan karya ke bahasa asing. Saya tak kenal penerjemah, tak kenal penerbit di luar, atau intinya, saya tak punya kenalan siapa-siapa. Diperparah oleh kenyataan saya punya kecenderungan bekerja sendiri, tak punya komunitas dengan jaringan luas dan kemampuan keuangan yang mampu mengirim anggotanya ke berbagai acara kesusastraan di luar, hanya memiliki sekelompok teman yang nasibnya kurang-lebih sama seperti saya. Satu-satunya yang bisa saya lakukan hanyalah menulis sebaik mungkin, menerbitkannya di sini, dan berharap ada orang yang menyukainya. Dalam keadaan seperti itu, ketika Cantik Itu Luka diterjemahkan dan terbit dalam Bahasa Jepang (2006), bisa dibilang itu kebetulan. Ibu Ribeka Ota (ia menerjemahkan karya Murakami ke bahasa Indonesia juga), orang Jepang yang tinggal di Semarang, kebetulan membaca novel itu dan menyukainya. Atas inisiatifnya sendiri, ia menerjemahkan novel itu. Entah berapa lama. Saya rasa ia melakukannya karena hobi, sebab ia tak menghubungi saya maupun penerbit saya pada awalnya. Hingga satu hari, sebuah agen (literary agent) yang bermarkas di Tokyo menghubungi saya, bilang ada penerbit Jepang ingin menerbitkan novel itu. Saya senang dan kaget, tentu saja. Semakin kaget ketika tahu, naskahnya sudah siap dan tinggal terbit. Dari merekalah saya kemudian berkenalan dengan Ibu Ribeka Ota. Ia masih memperbaiki naskah novel tersebut dengan berkonsultasi ke saya (saya ingat mengiriminya foto-foto pohon untuk menunjukkan nama pohon yang tidak dimengertinya), sebelum terbit. Itu buku pertama saya yang terbit dalam bahasa asing. Saya rasa, nasib saya sangat baik. Hal itu juga terjadi dengan edisi Malaysia untuk novel yang sama. Bahkan bisa dibilang, saya sama sekali tak berhubungan dengan penerbit maupun penerjemahnya. Kami diperantarai pihak ketiga, hingga buku itu akhirnya terbit. Hal yang sama terjadi dengan novel Lelaki Harimau. Ada sebuah penerbit dari Italia yang mengirim orang ke Indonesia untuk mencari karya-karya lokal untuk diterjemahkan dan terbit di sana. Saya tahu ia mengambil beberapa karya penulis Indonesia lainnya. Saya tak tahu bagaimana ia kemudian memutuskan mengambil novel saya juga (L’Uomo Tigre, dari informasi penerbitnya, akan terbit awal tahun depan). Tiga kasus itu hanya menunjukkan betapa pasifnya saya. Saya yakin, tak hanya saya, tapi sebagian besar penulis Indonesia juga sepasif itu. Sebagian besar karena saya buta soal urusan ini. Lagipula menunjukkan hasrat agar karya diterjemahkan ke bahasa asing, untuk standar moral saya, agak memalukan (meskipun sebenarnya sah-sah saja). Hal ini sedikit berubah setelah saya bertemu dua sahabat baik: Ben Anderson dan Tariq Ali. Dalam beberapa pertemuan, Ben sedikit mengkritik sikap pasif saya. Saya sadar, seambisius apa pun kita, kita cenderung menyembunyikannya. Saya termasuk, tentu saja. Tapi Ben mengingatkan satu hal yang sangat penting: terjemahan yang buruk akan memberi kesan yang buruk terhadap karyamu. Itulah kenapa ia menyarankan saya lebih aktif. Ia menyarankan saya untuk memulai memikirkan penerjemahan karya saya ke Bahasa Inggris dan Perancis sebagai awalan. Kedua bahasa itu bisa dibilang lingua franca. Pintu gerbang untuk ke seluruh dunia. Meskipun saya mengerti, saya toh tak bisa berbuat apa-apa juga. Memang apa yang bisa saya lakukan? Selama bertahun-tahun sejak obrolan itu, bisa dibilang saya tak melakukan apa pun. Hingga satu hari saya bertemu dengan Tariq Ali, makan siang bersama di satu restoran Jepang di Kemang. Ia galak. Tentu saja galak, sebab ia memang aktivis. Dia orang yang diceritakan oleh The Rolling Stones dalam lagu “Street Fighting Man”. Dia yang muncul di satu episode novel Bad Girl Mario Vargas Llosa sedang teriak-teriak di jalanan London. Dia bilang, “Karyamu harus dibaca pembaca berbahasa Inggris” dengan nada seolah saya tak punya pilihan lain. “Cari penerjemah sekarang juga.” Sejujurnya saya agak terteror waktu itu. Hampir setiap bulan dia bertanya, sejauh mana prosesnya? Saya hanya membalas dengan basa-basi, sebab kemajuan saya bisa dibilang sangat lambat. Atau tak bergerak sama sekali. Bagaimana bisa bergerak, saya bahkan tak kenal penerjemah? Hingga akhirnya, setelah memperoleh kepastian dari Verso bahwa mereka akan menerbitkan karya saya (Lelaki Harimau/Man Tiger), saya memberanikan diri menghubungi beberapa penerjemah, untuk memberi contoh terjemahan 1-2 halaman. Contoh-contoh itu dikirim ke London (untuk Tariq) dan Los Angeles (untuk Ben). Kami akhirnya memilih Labodalih Sembiring untuk menerjemahkan karya tersebut (hampir dua tahun prosesnya, dan novel itu rencananya terbit 19 Mei 2015). Di hari yang sama ketika bertemu Dalih untuk membicarakan proyek tersebut, di Yogya, saya juga bertemu dengan Annie Tucker. Itu terjadi di awal 2012. Saya sudah berhubungan dengannya melalui surel selama beberapa minggu sebelumnya. Intinya, ia ingin menerjemahkan Cantik Itu Luka. Jujur saja, ini kebetulan. Kebetulan ada yang menyukai novel itu dan tertarik menerjemahkannya. Terjemahannya bagus dan saya suka. Tapi saya tak ingin proyek Annie berjalan seperti kasus-kasus sebelumnya, di mana proyek itu berjalan sendiri tanpa keterlibatan saya. Saya sudah sedikit mempelajari seluk-beluk soal penerjemahan dan penerbitan sehingga saya setidaknya tahu apa yang saya inginkan. Setidaknya, novel itu bisa saya bawa ke Verso juga, tapi jika ada kesempatan lain kenapa tidak diusahakan. Sebelum saya memberi izin Annie meneruskan terjemahan itu, saya meminta bertemu dengannya. Kami kemudian membuat kesepakatan. Saya ingin membagi kesepakatan saya di sini, karena saya pikir ini sangat penting dan siapa tahu bisa menjadi masukan untuk penulis lain. Ada dua syarat yang saya minta ke Annie: 1) Ia harus menyelesaikan terjemahan itu, tak peduli ia memperoleh dana (entah dari mana) atau tidak. 2) Saya tak ingin buku itu terbit di Indonesia. Saya hanya mau itu terbit di negara Berbahasa Inggris. Saya sadar, itu syarat berat. Annie merupakan penerjemah baru. Syarat pertama barangkali bisa dilakukannya, karena rasa senang dan hobi. Tapi syarat kedua? Seperti saya, ia juga tak kenal penerbit di luar. Termasuk di Amerika, tempat tinggalnya. Saya sendiri tak punya pilihan lain. Saya tak ingin karya saya diterbitkan dalam terjemahan, tapi tak dibaca. Saya ingin lebih serius soal ini. Tapi Annie ternyata menyanggupinya. Ia mengerjakannya di antara waktu luang mengerjakan desertasi. Ia mengajukan dana beasiswa untuk penerjemahan itu, dan beberapa ada yang lolos. Yang paling penting adalah ketika proyek itu memperoleh bantuan dana dari PEN Center Amerika. Draft terjemahan saya di sana dibaca salah satu orang penting di penerbitan sastra Amerika, Barbara Epler. Dia pemimpin New Directions. Dia editor yang mengakuisisi penulis-penulis seperti Roberto Bolaño dan Cesar Aira. Ketika ia menghubungi saya dan menyatakan minat untuk menerbitkan Beauty is a Wound, saya tahu saya tak mungkin menolaknya. Buku ini direncanakan terbit tahun depan. New Directions menginginkan buku itu terbit berdekatan dengan Indonesia sebagai tamu kehormatan di Frankfurt Bookfair, meskipun saya tak tahu, apa urusan buku saya, saya, dan acara itu. Pada saat yang sama, manuskrip Man Tiger rupanya beredar di beberapa editor penerbit Eropa. Salah satunya Sabine Wespieser Editeur dari Perancis, yang segera menghubungi saya dan berminat menerbitkan novel itu ke dalam bahasa Perancis (akan disusul dengan Cantik Itu Luka). Tak ada alasan untuk saya menolak, kan? Saya hanya memastikan bahwa saya ingin berkomunikasi dengan penerjemahnya. Nasihat Ben terus terngiang-ngiang, “Penerjemahan yang buruk akan meninggalkan kesan yang buruk tentang karyamu.” Selama hampir setahun proses penerjemahan, saya tak hanya berhubungan melalui surel dengan Pak Etienne Naveau, sang penerjemah, tapi juga telah bertemu dua kali di Jakarta. Saya tak tahu proses ini akan membawa saya (dan karya saya) ke mana. Jujur, sebenarnya saya hanya ingin menulis dan membaca saja, tapi urusan-urusan semacam ini pada akhirnya tak terelakkan. Dan tentu sama seriusnya. Dan naluri saya yang kemudian mengatakan: saatnya berhenti sejenak. Saya tak lagi membicarakan prospek menerjemahkan karya saya ke bahasa lain untuk sementara, setidaknya sampai edisi Inggris dan Perancis terbit. Mungkin saya salah. Tapi saya merasa dua bahasa itu merupakan salah dua pintu gerbang, yang harus dibuka lebih dulu sebelum membuka pintu-pintu yang lain. Semoga catatan saya bermanfaat untuk penulis-penulis lain. Saya akan senang sekali jika bisa melihat karya-karya penulis Indonesia beredar di rak toko-toko buku berbahasa asing, dan mereka dibicarakan bukan karena mereka penulis Indonesia, tapi sesederhana karena mereka penulis yang bagus.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑