Jika sedang menulis cerita, saya kadang bertanya-tanya, apakah segala hal harus dijelaskan? Tentu saja yang saya maksud adalah hal-hal penting di cerita tersebut. Dan tentu saja yang saya maksud bukan konteks di luar cerita. Kita tahu, novel misalnya, merupakan dunia tersendiri. Dunia di dalam novel, ketika dibaca, kita mengasumsikan pembaca tak perlu memiliki referensi yang seragam mengenai dunia di luar novel. Sebuah novel seharusnya memberikan informasi yang cukup untuk dirinya sendiri. Pertanyaannya, seberapa besar yang dimaksud “cukup”? Jika si A jatuh cinta kepada si B, apakah saya harus menerangkan kenapa A jatuh cinta kepada B? Jawaban saya sejak lama selalu: tidak. Tak semua hal, bahkan hal penting, harus dijelas dan diterangkan. Novel bukan ensiklopedia, bahkan meskipun pengetahuan yang diguyurkan ke sana merupakan pengetahuan fiktif belaka. Bagi saya, selalu penting memberikan ruang-ruang kosong di mana, narator dan pembaca sama-sama tak tahu, tapi di ruang kosong itulah barangkali pembaca membangun sendiri ceritanya. Meskipun saya tahu jawabannya (untuk diri sendiri), pertanyaan itu selalu muncul terus, dan buku-buku tertentu menguatkan kembali keyakinan saya. Death and the Penguin karya Andrey Kurkov barangkali akan menjadi novel terakhir yang saya baca di tahun ini, sebelum berpuasa baca buku hingga tahun baru (dan tulisan ini akan menjadi yang terakhir juga di tahun ini, di blog ini). Novel ini salah satu yang menguatkan kembali keyakinan saya, di dalam cerita, kita tak hanya boleh meninggalkan ruang-ruang kosong yang tak terjelaskan, tapi juga membutuhkannya. Sedikit rekomendasi, jika Anda menyukai novel-novel Murakami, mungkin Anda perlu mencoba penulis ini. Bayangkan kucing di novel-novel Murakami, sebagai penguin di novel Kurkov ini. Baiklah, untuk sedikit memberi gambaran, saya akan sedikit memberi bocoran tentang novel tersebut. Ini novel lucu yang menghibur, sekaligus serius dan menakutkan. Tokoh utamanya seorang bujangan berumur menjelang 40, bercita-cita menjadi penulis novel, tapi malahan menjadi penulis obituari untuk koran. Bukan sembarang obituari, tapi obituari yang ditulis justru ketika subyek obituari masih hidup. Ia menulis obituari orang-orang terkenal, di negara dan situasi pasca-Sovyet. Sudah bisa diduga: orang-orang yang obituarinya ia tulis, tak lama kemudian mati, dan obituarinya muncul di koran. Ia menjadi bagian dari sebuah persekongkolan politik tingkat tinggi. Di sisi lain, ia juga memelihara seekor penguin yang diadopsinya dari kebun binatang yang kekurangan uang dan tak sanggup lagi memelihara banyak binatang. King penguin, dengan tinggi sekitar satu meter, yang tak lama kemudian menjadi bintang pemakaman. Penguin itu disewa untuk menghadiri pemakaman-pemakaman orang-orang penting, untuk menjadi bagian dari gerombolan murung. Alasannya sederhana: dengan kulit hitam-putih, sangat cocok untuk suasana berkabung. Seperti judulnya, novel ini memang tentang kematian dan penguin, tapi tentu saja menyisakan banyak bagian yang dibiarkan bolong. Siapa sebenarnya yang mengatur seluruh lalu-lintas penulisan obituari ini? Sebagai pembaca, saya bertanya-tanya, tapi begitu selesai membacanya, saya tak merasa itu menjadi hal yang penting lagi meskipun saya tetap tak tahu. Viktor, si tokoh utama yang hidup dengan penguin, juga harus menjaga seorang gadis kecil bernama Sonya. Sonya dititipkan ayahnya di sana satu malam. Viktor hanya tahu kemudian, ayah Sonya mati dan meninggalkan uang sekantung untuk anak itu. Siapa yang membunuh ayah Sonya? Apa peran penting ayah Sonya dalam seluruh operasi rahasia pembunuhan-pembunuhan ini? Saya ingin tahu, terus-terang, tapi penulis dengan kejam seperti mengejek: kamu tak perlu tahu untuk menikmati novel ini. Saya tak bisa mengelak pada kesan tersebut. Segala sesuatu memang tak perlu dijelaskan. Lebih dari itu, dalam sebuah cerita, tak hanya boleh, tapi kita membutuhkan ruang-ruang kosong. Ruang-ruang bolong yang dibiarkan misterius. Ruang itu boleh diisi, boleh tidak, oleh pembaca. Ruang kosong ini, bagi saya, seperti jeda, seperti tanda 0 dalam notasi musik. Jeda dalam musik merupakan bagian dari musik itu sendiri. Saya tak bisa membayangkan notasi musik tanpa jeda. Seperti ruang kosong melompong di sebuah lukisan, yang kita tahu, juga merupakan bagian dari lukisan. Selamat Natal dan Tahun Baru 2014. Semoga liburan memberi kita sedikit ruang kosong.