Eka Kurniawan

Journal

Tag: Andrés Neuman

Kita Ingin Menceritakan Kisah Orang Lain, Pada Akhirnya Kita Menceritakan Diri Sendiri

Pada awalnya novel ini seperti novel lainnya: bagian pertama mengisahkan persahabatan seorang bocah dengan seorang anak perempuan yang sedikit lebih tua, diawali oleh sebuah gempa yang membuat orang-orang berhamburan keluar rumah. Si anak perempuan dikisahkan sebagai keponakan lelaki misterius bernama Raúl, yang merupakan tetangga si bocah. Persahabatan itu membawa mereka ke satu kesepakatan: si bocah akan memata-matai kehidupan Raúl dan melaporkannya ke si anak perempuan. Memasuki bagian kedua, saya segera sadar novel ini tidak sebagaimana novel pada umumnya. Setidaknya tidak terlalu umum. Bagian kedua menceritakan si aku, seorang penulis yang sedang berjuang menyelesaikan novelnya (novel kesekian), serta hubungannya dengan Eme, mantannya. Seperti kebanyakan novelis, ia harus berjuang menyelesaikan bab pertama novelnya, mengedit, menghapus, menulis ulang, dan satu-satunya harapan adalah Eme mau membacanya. Jika Eme suka dengan apa yang ia tulis, setidaknya ia punya harapan untuk melanjutkan. Eme mencari-cari dalih untuk tidak membacanya. Satu hal yang sangat jelas, bagian awal novel yang sedang ditulis si penulis ini adalah bagian awal novel yang baru saja saya baca: tentang persahabatan si bocah dengan anak perempuan selepas gempa. Tentu saja awalnya saya menganggap ini sejenis kegenitan, hal konyol yang sering menghinggapi generasi saya. Saya merasa berhak menyebut penulis novel ini sebagai “generasi saya”, karena kebetulan ia juga lahir di tahun 1975, meskipun tentu saja dalam kandungan tradisi yang jauh berbeda: Alejandro Zambra lahir di Santiago, Chile, ketika negeri itu masih dalam kekuasaan Allende, sebelum jatuh ke tangan Pinochet. Judul novelnya Ways of Going Home, jika tak salah merupakan novel ketiganya. Ia salah satu dari 39 penulis berumur di bawah 40 dalam daftar yang disebut sebagai Bogotá39, sebuah inisiatif untuk menemukan para penulis muda terbaik dari Amerika Latin. Sebagian besar nama-nama itu belum saya kenali karyanya, kecuali dua: Andrés Neuman (Argentina) dan Juan Gabriel Vásquez (Kolombia). Zambra merupakan nama ketiga dari daftar itu yang karyanya saya baca. Bogota39 kemudian melahirkan Beirut39 (untuk kesusastraan Arab) dan Africa39 (untuk kesusastraan Afrika). Saya sendiri punya sedikit obsesi tentang umur 40: Gabriel García Márquez menerbitkan Cien anos de soledad di umur 40, Pramoedya Ananta Toer dianggap “berbahaya” dan ditangkap sebelum dibuang ke Buru pada umur 40. Saya anggap itu memang umur istimewa untuk kesusastraan. Saya pernah mengusulkan agar lomba-lomba kesusastraan dikhususkan saja untuk para penulis di bawah umur 40, dan uang negara (jika ada) dipergunakan sebagian besar untuk mengirim para penulis di bawah umur 40 ke berbagai festival sastra di dunia. Tanggapan? Banyak yang jengkel kepada saya dengan alasan, “Mutu kesusastraan tak bisa diukur dengan umur.” Baiklah. Lupakan. Kembali ke Zambra. Sebagai penulis saya rasa ia berbagi banyak pengalaman dengan sebagian besar kita di sini: tidak mengalami atau masih terlalu kecil untuk melihat seorang diktator despotis naik ke puncak kekuasaan. Ia dengan satu atau lain kata, dibesarkan oleh Pinochet. Tak jauh berbeda dari saya dan para penulis seumuran saya: kami tak melihat bagaimana ratusan ribu orang dibunuh untuk melapangkan jalan bagi Soeharto naik ke kuasaan, malah kami menikmati pertumbuhan ekonomi dan pendidikan yang relatif baik dan murah di bawah kekuasaannya. Tapi ketika saya melihat stiker di bak truk dengan foto sang tiran serta kata-kata, “Piye, Dab, enak zamanku, toh?” (Bagaimana kabarmu, Sobat, lebih enak zamanku, kan?), kepala saya mendidih dan marah, meskipun saya masih bisa menerimanya sebagai sejenis ejekan penuh humor. Si penulis di novel ini, juga marah ketika ayahnya berkata, “Pinochet seorang diktator, ia membunuh banyak orang, tapi setidaknya di masa itu ada keteraturan.” Ia marah, barangkali karena meskipun bisa menikmati keteraturan, ekonomi dan pendidikan, ia menikmati itu semua di atas pembantaian manusia-manusia lain. Kisah tentang penguasa tiran, barangkali merupakan kisah para korban kekejiannya. Tapi novel ini mengingatkan: kisah itu pada dasarnya merupakan kisah semua orang. Bahkan orang yang diam, yang tak berpolitik, pada dasarnya telah memberi andil besar dengan membiarkan kekejaman kemanusian terjadi di depan matanya. Novel ini mencoba menceritakan kisah sebuah keluarga (si anak perempuan) yang harus tercerai-berai oleh kekuasaan Pinochet, tapi akhirnya ia menceritakan kisah keluarganya sendiri (orang tua si penulis, yang memilih diam dan apolitis dan membiarkan semua itu terjadi), sebagaimana dikatakan si penulis, “Meskipun kita barangkali ingin menceritakan kisah orang lain, pada akhirnya kita selalu menceritakan kisah tentang diri sendiri.”

The Tunnel, Ernesto Sábato

Para penulis Argentina saya rasa memang layak untuk dicemburui. Mereka selalu tampak memiiki kecenderungan alamiah untuk “tidak berakar”. Yang saya maksud tidak berakar adalah: mereka seperti tak peduli mengenai negeri mereka, kebudayaannya, orang-orangnya, sejarahnya, dan satu-satunya yang mereka peduli adalah kesusastraan. Tentu saja dalam karya-karya mereka kita bisa menemukan banyak hal tentang Argentina: gaucho, pampas, Buenos Aires, Peron, atau lainnya. Tapi semua itu seperti sesuatu yang tak terelakkan saja dari kenyataan sederhana bahwa mereka memang dilahirkan di sana. Di atas semua itu, jika kita membaca karya-karya mereka, pertarungan sejati mereka bukanlah negeri bernama Argentina, tapi tanah air bernama kesusastraan. Kita bisa merasakan hal itu melalui karya-karya Borges, atau Cortazar, atau penulis generasi yang lebih muda seperti César Aira, atau Andres Neuman. Bahkan kita bisa menemukannya di karya penulis yang terang-terangan memilih komunisme sebagai pilihan politiknya, Ernesto Sábato. Seperti kata Colm Tóibín dalam pengantar The Tunnel, “Tugas mereka bukanlah mencipta-ulang negeri mereka dengan gambaran mereka, tetapi menciptakan ulang kesusastraan itu sendiri, memberinya energi dan bentuk yang segar.” Seolah mereka dilahirkan di pusat-pusat kesusastraan dunia, di Paris, London atau Rusia, dan bukan di sebuah kota di satu negara dunia ketiga; lalu bicara tidak untuk manusia sebangsanya, tapi kepada siapa pun manusia di mana pun. Sábato berada dalam generasi yang sama dengan Borges dan Bioy Casares, bahkan novel The Tunnel ini awalnya terbit di majalah Sur yang juga melambungkan nama-nama tadi. Tentu ada perbedaan mencolok antara Borges dan Sábato: jika Borges seorang konservatif, Sábato seorang komunis; jika Borges memperlihatkan kecenderungan kepada fantasi, petualangan, kisah detektif yang diramu dengan spekulasi filsafat, Sábato berada dalam tradisi Dostoyevsky (yang dibenci Borges!) yang mencoba menerobos ke dalam sisi-sisi gelap manusia. Sekilas, The Tunnel seperti versi yang lebih rapi (dan lebih bikin gregetan) dari The Stranger Albert Camus, dan itulah mengapa Camus sangat mengagumi novel ini serta membawanya untuk terbit di Perancis, dan banyak orang menyejajarkannya dengan novel tersebut, menyebutnya sebagai “sebuah karya eksistensialis klasik”. Seperti Meursault, Juan Pablo Castel di The Tunnel memiliki cara pandang tersendiri tentang dunia, yang lebih banyak ditentukan oleh arus pikirannya. Sedikit berbeda, pikiran Castel terus bergerak sepanjang novel, menganalisa, membuat definisi, membuat praduga, bahkan menciptakan kesimpulan-kesimpulan yang lebih dekat kepada asumsi-asumsi. Dunia adalah apa yang dipikirkannya, bahkan meskipun itu menciptakan ilusi, kecemasan, dan pada akhirnya kenyataan yang rapuh. Mengikuti aliran pikiran Castel, kita menemukan kenikmatan membaca, sekaligus merasakan kecemasannya. “Frasa ‘masa lalu yang indah’ tak berarti hal buruk jarang terjadi di masa lalu, hanya saja – untungnya – orang-orang ini sesederhana melupakannya.” Pikiran-pikirannya penuh dengan upaya menjelaskan banyak hal, sekaligus menggiring kita masuk ke dalam ketidakpastian, sebab setiap kali sesuatu dijelaskan, sesuatu menjadi tidak jelas bersama munculnya penjelasan-penjelasan lain. Hal inilah yang membawa hubungannya dengan seorang perempuan, María Iribarne, kepada hubungan yang labil dan cenderung merusak. Awalnya hubungan mereka tampak menjanjikan: María seolah ditakdirkan sebagai satu-satunya orang yang mengerti hasrat seni Castel (ia seorang pelukis). Tapi bersama berlalunya waktu, pikiran-pikiran Castel memiliki pandangan tersendiri mengenai María, dan sebagian besar merupakan pikiran buruk (seperti dikutip di atas, ia tak percaya ‘masa lalu yang indah’, dan lebih memilih untuk mengingat banyak hal buruk). Bisa dibilang ini merupakan novel cinta, tapi alih-alih memberi rasa berbunga-bunga, novel ini memberi kita satu pertanyaan yang sangat menekan, tak adakah momen membahagiakan dalam hubungan cinta ini? Tentu saja sebagaimana hubungan asmara, pasti ada momen-momen indah. Tapi lagi-lagi bahwa apa yang kita tahu tentang dunia tak lebih dari apa yang kita pikirkan mengenai dunia. Jika pikiran kita segelap Castel, dunia akan terlihat gulita, dan demikianlah tragedi manusia dan pikirannya.

Homer

The Iliad adalah kemarahan, sementara The Odyssey adalah perjalanan. Yang pertama ditulis konon ketika ia di puncak kematangannya sebagai penyair, yang kedua ditulis di masa ketika ia lebih tua, yang barangkali artinya ia jauh lebih bijak. Saya tak tahu mana kualitas terbaik yang harus dimiliki seorang penulis: kemarahan atau kebijaksanaan. Kisah kemarahan Achilles di The Iliad merupakan salah satu yang menurut saya paling mengerikan. Ada beberapa “kemarahan” di kisah-kisah yang saya baca, yang terus mengganggu saya (dan mungkin banyak pembaca). Kemarahan Sethe di Beloved Toni Morrison, ketika ia membunuh anaknya, merupakan salah satu yang terus menghantui pikiran saya. Di novel Knut Hamsun, Pan, saya teringat kemarahan Letnan Thomas Glahn yang menembak mati anjingnya sendiri, Aesop. Bangkai si anjing ia kirim ke rumah Edvarda, gadis yang menghancurkan hatinya. Dan jangan dilupakan kemarahan Kapten Ahab terhadap paus raksasa yang memutus kakinya, di novel Moby-Dick. Meskipun begitu, kemarahan Achilles kepada Hector saya rasa tak ada tandingannya. Di buku kedua puluh dua puisi epik ini, setelah Achiles mengalahkan Hector (yang membunuh Patroclus, sahabat Achilles) dalam pertempuran, Achilles menyeret mayat Hector di tanah berdebu. “So his whole head was dragged down in the dust, and now his mother began to tear her hair …” (kutipan dari terjemahan Robert Fagles, sang jenius Homer menderetkan dua baris, dua adegan di dua tempat yang berbeda, untuk memperlihatkan rasa marah di satu sisi, dan rasa perih di sisi lainnya). Perang Troya sendiri, yang merupakan panggung utama The Iliad, lahir dari satu kemarahan setelah Paris dari Troy menculik Helena, memancing amarah orang-orang Achaea. Pasukan Achaea yang dipimpin oleh Agamemnon (kakak Menelaus, suami Helena) pun melancarkan perang atas Troya, dan Achilles dengan kemarahannya menjadi roh penting dari perang bertahun-tahun ini. Menurut tradisi, The Odyssey ditulis Homer setelah The Iliad, bahkan banyak yang yakin itu ditulis di masa tuanya. Kisah yang meliputi The Odyssey pun, pada dasarnya merupakan “sekuel” dari The Iliad, yakni perjalanan Odysseus (atau Ulysses dalam tradisi Latin, salah satu komandan pasukan Achaea) seusai perang Troya, pulang ke rumahnya di Ithaca. Perjalanan ini merupakan “perang” tersendiri, dan meliputi waktu bertahun-tahun yang sama lamanya dengan perang Troya. Perjalanan, saya rasa merupakan tema klasik dalam banyak literatur, tak hanya di Barat (tempat The Odyssey memberi pengaruh yang sangat luas terhadap kesusastraan klasik maupun modern), tapi juga di Timur. Journey to the West, salah satu kanon klasik Cina yang mengisahkan perjalanan Sun Gokong dan pendeta Buddha ke Barat (India) untuk memperoleh kitab, juga merupakan kisah perjalanan. Demikian pula dalam novel-novel kontemporer, dengan mudah kita bisa menemukannya: tahun lalu saya membaca Traveller of the Century karya Andrés Neuman. Meskipun merupakan novel gagasan, novel itu berkisah mengenai satu perjalanan (dan perhentian). Seperti ditulis dalam pembukaan The Odyssey, kisah perjalanan menurut saya selalu merupakan “Many cities of men he saw and learn their mind” (juga terjemahan Robert Fagles). Kisah perjalanan pada dasarnya merupakan kisah gagasan, kisah memperoleh kebijaksanaan. Tentu saja ada pertarungan, ada drama: istri Odysseus, Penelope yang menunggu kepulangannya, dirongrong ratusan pemuda yang menginginkan dirinya menjadi istri. Tapi yang terpenting, membaca The Odyssey sering membuat saya yakin, perjalanan paling panjang dan menderitakan, adalah perjalanan pulang ke rumah. Pelampiasan dendam Achilles pada akhirnya membawanya kepada kematiannya sendiri. The Iliad seperti mengatakan bahwa pertarungan merupakan perjalanan yang pendek. Singkat dan ringkas. Sementara itu, The Odyssey seperti bilang perjalanan dan petualangan merupakan kemarahan yang panjang, dendam yang berlarut-larut.

Menulis Aku

Semalam di forum kecil yang menghadirkan tiga orang penulis pemenang sebuah sayembara menulis novel, tiga orang juri yang memilih karya-karya mereka sebagai pemenang, dan beberapa teman bengis yang dengan cuek menimpali pembicaraan meskipun belum membaca karya-karya tersebut, kami ngobrol selama berjam-jam (ditemani soto dan kopi). Khusus saya, bahkan obrolan itu dilanjutkan di mobil selama hampir dua jam (karena kemacetan malam Sabtu di Jakarta yang sangat epik) bersama si pemenang pertama. Entah kenapa, satu hal yang menarik perhatian saya (mungkin juga kami), adalah tentang bagaimana menuliskan “aku”. Ya, yang saya maksud adalah menulis dengan sudut pandang orang pertama. Kita tahu tantangannya: dunia menjadi sempit, karena pengetahuan dan tangkapan inderawi si aku pasti terbatas. Juga tantangan yang lain: si aku bisa bicara apa saja yang dipikirkan, dan bagaimana kita harus mengendalikannya agar ia selaras dengan wataknya. Tantangan terbesar, dan saya rasa banyak novelis sangat tergoda melakukannya, adalah mengadirkan beberapa “aku” di dalam satu novel. Artinya, novel yang dibangun dengan beragam sudut pandang tokoh-tokoh yang berbeda, di mana mereka bicara masing-masing dengan sudut pandang pertama. Saya tak tahu siapa yang memulai cara seperti ini, tapi saya pertama kali membaca novel dengan pendekatan ini melalui karya William Faulkner, As I Lay Dying. Terakhir membaca novel semacam ini beberapa bulan lalu, Talking to Ourselves karya Andrés Neuman. Saya tak pernah menulis dengan cara seperti itu, dan rasanya tak berniat melakukannya di masa depan, tapi bukan berarti saya tak berniat untuk mengetahui triknya. Setidaknya, itu pasti berguna untuk dipergunakan di teknik yang lain. Menurut saya, tantangan terbesar dari menghadirkan beragam narator di satu karya tentu saja adalah bagaimana membedakan satu suara dengan suara lain. Realisme yang ekstrem akan mencoba menciptakan bangunan bahasa yang unik untuk masing-masing karakter, dengan asumsi, setiap watak tentu memiliki cara ungkap bahasa tersendiri. Hasrat untuk menjadikan setiap suara unik (penggunaan tatabahasa, diksi, bahkan dialek), sekaligus mempertahankan agar itu tetap konsisten sepanjang novel bukanlah pekerjaan mudah. Banyak penulis pemula berambisi mencapai realisme yang ekstrem ini dan banyak yang gagal (saya bercanda, mungkin novel tersebut perlu disisipi berkas audio untuk mendengar dialek si tokoh). As I Lay Dying saya rasa ditulis dengan pendekatan ini, meskipun saya rasa tidaklah ekstrem. Faulkner membedakan gaya atau pilihan kata satu tokoh dengan tokoh lain. Pendekatan yang gampang-gampang susah, menurut saya tentu saja mengambil risiko nekat dengan menghadirkan “suara” tunggal, suara si super-narator (yakni narator yang menceritakan para narator, sebab tokoh-tokoh yang tengah menceritakan diri mereka sendiri ini juga bisa dianggap sebagai narator untuk bagian mereka). Di novel Orhan Pamuk yang terkenal, My Name is Red, saya rasa Pamuk memakai pendekatan ini. Tak banyak perbedaan gaya dari satu tokoh ke tokoh lain (termasuk sosok anjing dan mayat), tapi tentu saja tak sesederhana ini. Yang membuat satu tokoh dengan tokoh lain berbeda, adalah cara dan kerangka mereka berpikir, serta tentu saja pandang dunia mereka. Kita tahu yang bicara si mayat karena cara berpikir dan pandangan dunia-nya tipikal si mayat, misalnya, meskipun bagian dia ditulis dengan cara yang sama dengan bagian tokoh-tokoh lain. Gampang-gampang susah: terasa gampang jika kita pikirkan bahwa itu bisa ditulis dengan cara yang sama, tapi jelas susah karena kita justru harus masuk ke bagian yang dalam dari sekadar susunan kalimat, yakni kerangka berpikir, psikologi dan pandang dunia si tokoh. Di novel Talking to Ourselves, saya menemukan gagasan yang saya rasa segar untuk memakai teknik ini dengan pendekatan yang berbeda. Ada usaha untuk membedakan gaya menulis dan kerangka berpikir tokoh-tokohnya, tentu saja, tapi bagian terbesar membedakan aku yang satu dan aku yang lain justru hadir melalui medium para aku ini bicara. Si ayah di cerita itu, bercerita ke alat perekam. Alat perekam ini menjadi sangat fungsional untuk memberi keunikan narasi si ayah, sekaligus penanda bagi pembaca. Si anak lebih bersifat monolog, seolah bicara dengan orang lain tapi pada dasarnya sendiri. Sementara si ibu menulis catatan harian. Yang pertama memiliki karakter lisan. Yang kedua, monolog-interior. Yang ketiga, bahasa tertulis. Tentu kita bisa menemukan strategi-strategi lain. Apa yang saya sebut bisa dibilang sebagai penyederhanaan juga. Itu teknik yang tidak gampang. Tapi siapa bilang menulis itu gampang?

Takashi Hiraide, Andrés Neuman, Sjón

Saya sadar, terus-terusan membaca karya klasik nan tua, meskipun saya menikmatinya, lama-kelamaan juga membosankan. Karya-karya itu, demikian tuanya, kadang-kadang tak ada hubungan apa-apa lagi dengan kehidupan kita sekarang. Tapi tentu saja, banyak di antara karya-karya itu masih asyik dinikmati. Dan jika mau mencari-cari pelajaran moral, mereka mengajarkan banyak hal. Hal paling waras, tentu saja menyelingi bacaan klasik tersebut dengan karya-karya baru. Karya-karya penulis yang masih hidup, beberapa di antaranya bahkan seumuran dengan saya. Buku pertama, The Guest Cat karya Takashi Hiraide, yang memang saya incar bahkan sejak buku itu masih “rencana terbit”. Pertama, saya selalu penasaran dengan penulis Jepang. Kedua, ini tentang kucing. Saya selalu senang membaca novel bagus tentang manusia dan binatang. Komentar saya? Manusia memiliki banyak bahasa untuk menjelaskan hubungan mereka dengan binatang: memelihara, melindungi, bahkan memiliki, atau kadang sekadar berteman. Lihat sepasang tokoh utama di novel ini: awalnya mereka menyebut Chibi (si kucing tetangga) sebagai “tamu”. Tapi di akhir cerita, kita tahu, Chibi bukan lagi sebagai tamu. Meskipun bagi Chibi, yang tak mengenali teriroti manusia (kecuali teritori binatangnya), gagasan tentang tamu atau tuan rumah itu sudah jelas pasti absurd (dan kontrasnya semakin menarik dengan kerumitan status si pemilik rumah, yang menyewa dan harus berpindah rumah). Menarik bahwa novel ini, selain menceritakan hubungan mereka dengan Chibi yang berubah bersama waktu, juga mencoba menjelaskan perilaku mereka (kucing, manusia dan kucing-manusia) dalam bentuk sejenis esai ringan yang terselip di sana-sini. Takashi Hiraide aslinya seorang penyair. Saya belum membaca puisinya, tapi yakin ia penyair yang hebat, sebab hanya penyair yang bagus bisa menulis novel seperti ini. Novel berikutnya adalah Talking to Ourselves, karya Andrés Neuman. Saya pernah membaca novel Neuman sebelumnya, Traveller of the Century, yang saya anggap sebagai novel terbaik yang saya baca tahun lalu. Kali ini ia muncul dengan novel yang lebih sederhana, lebih tipis, dengan hanya tiga tokoh yang berbicara bergantian dengan cara seperti Faulkner dalam As I Lay Dying. Seperti novel sebelumnya, ini novel gagasan. Neuman (ia lebih muda dari saya, lahir 1977), saya kira merupakan master dalam novel mengenai gagasan. Kelebihannya adalah, ia mampu meramu novel tentang gagasan dengan banalitas secara kontras, sehingga novel itu tak melulu merupakan perdebatan mengenai gagasan-gagasan (dalam hal ini, ia mengadu dan mempertemukan banyak gagasan penulis mengenai rasa sakit, dari Virginia Wolf hingga Roberto Bolaño, dari Kenzaburō Ōe hingga Javier Marías), tapi juga mengenai usia tua dan tubuh yang memburuk serta dorongan seksual yang malah membara. Meskipun tipis, seperti pendahulunya, saya beranggapan novel ini hanya diperuntukan untuk pembaca yang sabar. Novel ini diterbitkan oleh Pushkin Press, satu penerbit Inggris yang sedang merajalela dengan terjemahan-terjemahan sastra kelas satu dari berbagai tempat. Buku berikutnya berjudul The Whispering Muse, karya Sjón. Siapa Sjón? Jika melacak di internet, ia lebih banyak dihubung-hubungkan dengan Björk, karena ia banyak menulis lirik lagu untuk penyanyi tersebut. Tapi sebenarnya ia, selain penyair, juga novelis ngetop di negaranya, Islandia. Novel ini berkisah tentang Valdimar Haraldsson, seorang penulis jurnal (ya, jurnal dalam pengertian jurnal ilmiah, tapi isinya ia tulis sendiri di setiap edisi) mengenai “ikan dan kebudayaan”. Intinya, itu jurnal mengenai pengaruh konsumsi ikan atas superioritas ras Nordic. Gara-gara jurnalnya ini, ia direkomendasikan seorang temannya untuk mengikuti pelayaran kapal dagang milik ayah si teman. Di kapal, ia bertemu seorang pendongeng. Sepanjang novel, selain menceritakan pengalaman berlayarnya, perjalanan itu juga menjadi bingkai bagi dongeng-dongeng yang didengarnya di atas kapal. Sekilas, juga mengingatkan pada tujuh petualangan ajaib Sinbad sang pelaut. Dengan kata lain, ini dongeng versi modern (settingnya selepas Perang Dunia). Dan tentu saja si penulis juga memberi kontribusi di kapal itu: memberi ceramah mengenai ikan dan kebudayaan. Intinya, menurut si tokoh, kehidupan manusia berasal dari laut. Dan secara biologi, termasuk susunan gigi manusia, dirancang untuk mengkonsumsi nutrisi dari laut. Secara pribadi, karena saya suka seafood, saya setuju. Saya jadi ingat, sewaktu kecil ibu saya selalu berkata, makan ikan agar pintar. Sampai sekarang, jika disuruh memilih dari berbagai macam makanan, saya akan menengok ke ikan. Tapi pertanyaan seriusnya, di negara kepulauan yang dikepung laut ini, benarkah laut atau ikan menjadi sumber pengaruh kebudayaan kita yang terbesar. Anehnya, saya sangsi. Indonesia merupakan negara yang dikepung laut tapi tak banyak memberi kontribusi terhadap kebudayaan ikan. Lihat saja menu makan kita. Berapa banyak variasi jenis makanan kita yang berasal dari ikan atau laut? Ikan hanya digoreng dan dibakar, atau dipepes. Menyedihkan, bukan? Saya rasa novel ini bisa dibaca sebagai ejekan untuk kita. Itu jika Anda sudi mengejek diri sendiri.

Traveller of the Century, Andrés Neuman

“Bahkan sebuah puisi orisinal tak memiliki tafsir tunggal, membaca puisi juga berarti menerjemahkannya, kita tak akan pernah benar-benar yakin apa yang dikatakan sebuah puisi bahkan dalam bahasa kita,” demikian satu kutipan di novel Traveller of the Century, karya Andrés Neuman. Ini novel tentang puisi dan terjemahan? Ya, tapi tak hanya itu. Ini novel tentang sejarah Eropa, tentang pergulatan filsafat, tentang puisi dan terjemahan, tentang perjalanan, tentang rumah dan tentang kota dan negara asing, dan juga tentang asmara (lebih tepatnya tentang petualangan sinting bercinta dengan calon bini orang, di hari-hari menjelang pernikahannya). Kita lihat kutipan lainnya, saya ambil acak dari halaman yang jauh dari kutipan sebelumnya: “Semakin banyak persamaan mereka temukan di antara cinta dan penerjemahan, di antara memahami seseorang dan menerjemahkan sebuah teks, di antara membacakan sebuah puisi dalam bahasa yang berbeda dan meletakkan dalam kata-kata apa yang sedang dirasakan orang lain …” Saya bisa bilang ini novel yang sangat ambisius. Tak hanya dalam jumlah halaman (578 halaman), tapi juga luasnya persoalan yang dikemukakan dengan tokoh yang hanya segelintir (Hans si pejalan, dan dua kelompok teman-temannya, serta Sophie). Tahun ini segera akan berakhir. Saya sedang mencoba menengok kembali ke belakang: sudah setahun saya menulis jurnal di blog ini. Sedikit banyak saya bersetia kepada janji saya, untuk lebih banyak membaca penulis-penulis kontemporer. Istilah “penulis kontemporer” ini barangkali dilematis, tapi saya membuat acuan sederhana saja: penulis-penulis (dunia) yang lahir di tahun 50an. Kalaupun mundur, lahir tahun 40an. Jika ada yang lahir tahun 60an, tentu akan saya tengok. Jumlahnya saya kira belum terlalu banyak. Lahir 70an? Saya akan gembira sekali jika menemukan penulis dari generasi saya, dan saya memang menemukannya. Salah satunya penulis Argentina bernama Andrés Neuman (ia lahir 1977, sialan sekali!). Roberto Bolaño memujinya sebagai, “Kesusastraan abad dua puluh satu akan menjadi milik Neuman dan beberapa saudara sedarahnya.” Saya tak ingin merasa minder, tapi mengukur dimana posisi kita dalam jagat kesusastraan saya rasa bisa ambil cara gampang: bandingkan karyamu dengan karya penulis segenerasi dari tempat lain. Dan bagi saya, itu berarti membaca Traveller of the Century. Menghadapi penulis yang bahkan dua tahun lebih muda, saya merasa menghadapi seorang penulis yang ditakdirkan akan menjadi penulis besar. Saya ingin sedikit memberi bocoran mengenai novel ini, yang saya pikir merupakan salah satu kehebatannya, salah satu hal paling sulit untuk dicontek oleh penulis lain. Bisa dibilang, novel ini hampir sepenuhnya dibentuk oleh dialog. Ada dua kelompok teman-teman Hans tempat ia ngobrol. Pertama, ia ngobrol dengan kelompok si pemutar organ. Mereka bicara tentang musik, tentang menjadi terasing, tentang tinggal di rumah. Dilihat dari sudut pandang si pemutar organ yang sederhana, pembicaraan mereka biasanya bersifat naif, tanpa referensi apa pun. Kelompok ngobrol kedua, yang lebih serius dan menjadi tulang pungung novel ini, adalah kelompok kaum “intelektual” kota kecil tempat Hans singgah, yang sering berkumpul di rumah Sophie. Mereka berdebat tentang Schiller dan Goethe, tentang penyerbuan Napoleon, tentang perbedaan karakter orang Spanyol, Jerman, Prancis dan Inggris, juga tentang sastra dan politik, serta agama. Isinya tentang ngobrol doang? Ya. Akan sangat membosankan untuk pembaca yang gemar novel-novel aksi. Tapi bagi saya novel ini berhasil membuat saya tak merasa bosan, dan mengikuti baris-barisnya, dan tanpa sadar telah melampaui ratusan halaman, disebabkan hal sederhana yang merupakan resep tua para pendongeng: Neuman berhasil menahan rasa ingin tahu saya, dan terus memberi misteri-misteri baru, di tengah perdebatan serius tersebut. Bagaimana nasib percintaan Hans dan Sophie, yang “tak patut” itu? Bagaimana nasib asmara Elsa, si babu, dengan teman nonanya? Apakah Hans si pejalan akan meninggalkan kota itu? Siapa lelaki misterius yang membunuh perempuan di tengah malam? Bagaimana nasib Lisa, anak pemilik losmen, yang minta belajar menulis? Saya selalu percaya, tentang apa pun, sebuah novel bisa sangat tidak membosankan. Asal tahu caranya. Novel ini sedikit banyak mengajari saya hal itu. Bisa saya akui, ia penulis yang paling bikin saya iri sepanjang tahun ini. Masih ada beberapa hari tersisa. Masih ada beberapa novel dan penulis kontemporer yang ingin saya baca sebelum liburan akhir tahun datang (akan tanpa komputer dan buku), sebab saya punya janji lain untuk tahun depan, tahun kedua saya “belajar” sastra: lebih banyak membaca karya-karya klasik. Karya-karya dari abad sembilan belas ke belakang. Saya belum akan mengucapkan selamat tahun baru, tapi saya yakin, setahun ini saya memiliki pengalaman membaca yang menyenangkan. Dipuncaki oleh Andrés Neuman dan Traveller of the Century.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑