Novel ini karya Aman Datuk Madjoindo berjudul Menebus Dosa (jika tak salah, terbit pertama kali 1932). Madjoindo terutama dikenal melalui novel Si Doel Anak Betawi (dalam versi cetak ulang belakangan, kata Betawi berganti menjadi Jakarta). Pembukaannya rada aneh: dibuka dengan ceramah mengenai pentingnya pakansi, terutama untuk warga kota besar di Betawi (sebesar apa sih, waktu itu?) setidaknya sebulan dalam setahun. Nah, novel diawali dengan perjalanan si narator untuk liburan ke sebuah desa di lereng Pangrango, untuk menemui seorang teman. Tapi di desa itu, ia malah bertemu dengan seorang bocah yang tinggal dengan neneknya yang menarik perhatian dia. Berikutnya, sampai akhir, merupakan kisah mengenai sejarah si nenek dan bocah itu. Bagi pembaca modern macam saya, tentu gemas dengan bab pertama yang menceritakan perjalanan narator tersebut, yang bisa dibuang dan cerita langsung diawali di bab kedua. Percayalah, kisah perjalanan narator itu tak lagi disinggung kok sampai akhir novel (jika disinggung kembali, barangkali novel ini akan menjadi karya pascamodern). Meskipun begitu, saya akhirnya bisa memaklumi mengingat latar belakang kapan novel tersebut ditulis dan terbit, terutama karena saya terhibur dengan kisah si nenek dan cucunya setelah itu. Kita bisa saja menganggap pembukaan semacam itu sebagai wujud belum canggihnya teknik menulis di masa-masa awal kesusastraan modern kita (jangan berkecil hati: kita bisa gemas ingin memangkas atau mengedit novel Dostoyevsky atau Tolstoy sekalipun, kok). Tapi saya ingin melihatnya dengan sikap positif: pembukaan itu diperlukan untuk membuat yakin pembaca bahwa kisah di novel ini “benar”. Si narator (yang dipersonifikasikan sebagai si “aku” penulis) sedang berkunjung, dan ia mendengar cerita tentang nenek dan cucunya, yang kemudian dilaporkan kembali ke pembaca. Semacam cara untuk berkata, “Saya enggak ngarang lho ya, ini cerita yang betul kejadian, saya cuma melaporkan.” Seperti kita tahu, kita menulis dan berusaha meyakinkan pembaca bahwa kisah itu benar. Bahkan dalam kisah paling fantastis dan absurd sekalipun, penting untuk meyakinkan pembaca bahwa itu benar terjadi, setidaknya secara fiktif. Pembukaan novel ini bisa dilihat sebagai upaya sederhana melakukan itu, meskipun dengan berkembangnya kesusastraan, teknik “meyakinkan pembaca” tentu telah berkembang sedemikian rupa sehingga sekarang sangat jarang (meskipun ada) penulis membocorkan narator di dalam badan novel. Kembali ke novelnya, seperti saya bilang di muka, saya menikmatinya. Kisah sederhana yang tak perlu saya bocorkan di sini, tapi jika menemukan bukunya di perpustakaan atau toko buku loak, bacalah. Selalu menyenangkan membaca karya-karya lama, dalam arti yang sebenarnya, melemparkan kita ke waktu yang berbeda. Tak hanya melalui dunia rekaannya, tapi juga melalui ejaan (yang masih lama), kertas kusamnya (hati-hati untuk yang alergi), dan sesekali menemukan kejutan dari kata-kata yang sudah tak lagi dipergunakan tapi kita tahu ada dan mengerti artinya. Dibandingkan Si Doel, mungkin tak lagi banyak yang ingat novel ini. Tapi seperti makhluk hidup, ia selalu punya cara untuk bertahan dan menghampiri pembaca baru. Yang beruntung bukanlah novel itu, tapi si pembaca yang bersua dengannya.