Eka Kurniawan

Journal

Tag: Adolfo Bioy Casares

Saudara Seperguruan atau “Literary Brothers”

Dalam satu wawancara, Enrique Vila-Matas ditanya mengenai persahabatannya dengan Roberto Bolaño dan ia menjawabnya: “Bertemu dengannya pada tahun 1996, saya merasa tak lagi sendirian sebagai penulis.” Ia melihat dalam diri Bolaño seseorang yang bisa disebut, dalam kata-katanya, “literary brother”. Saya bayangkan istilah itu semacam “saudara seperguruan” dalam konteks dunia persilatan yang sering saya baca di novel atau komik silat. Saya bisa mengerti perasaan Vila-Matas. Di tengah kerumunan para penulis, bukanlah hal mudah menemukan satu atau segelintir penulis yang kamu bisa merasa nyaman, nyambung, tak hanya dalam konteks keseharian tapi juga dalam konteks kesusastraan, sehingga kamu bisa menyebutnya sebagai “saudara”. Saya beruntung punya teman-teman semacam itu. Para penulis yang ketika dalam satu wawancara saya ditanya, siapa penulis Indonesia yang karya barunya akan saya tunggu, dengan jelas saya menjawab: para penulis dari generasi saya. Yang sebagian sekali waktu adalah teman-teman bermain saya. Jika orang bertanya, siapa penulis terbaik di Indonesia saat ini, saya akan menjawab dengan jawaban yang sama. Generasi saya, teman-teman saya. Akhir-akhir ini saya berhubungan dengan orang luar, dari editor, wartawan hingga agensi, dan jika mereka bertanya siapa penulis-penulis Indonesia yang perlu diperhatikan? Jawaban saya tetap sama. Generasi saya, teman-teman saya. Saya tak pernah pusing dengan orang-orang yang semangat mempromosikan teman-teman atau karya teman-temannya. Saya akan melakukan hal yang sama, selama saya melakukannya atas nama saya pribadi. Semalam saya bertemu denan Ugoran Prasad dan Intan Paramaditha. Mereka dua di antara penulis yang jelas masuk kategori “generasi saya, teman-teman saya” itu. Kami jarang bertemu sejujurnya, tapi apa pentingnya bergerombol terus-menerus seperti kawanan serigala? Maka pertemuan-pertemuan itu selalu terus mengingatkan saya tentang motivasi-motivasi dan gairah kami atas kesusastraan, dan merasakan kembali keberadaan “saudara seperguruan” semacam “literary brother”-nya Vila-Matas itu. Teman kepada siapa kami bisa dengan kekanak-kanakan berkata, ingin seperti “Adolfo Bioy Casares yang diterbitkan nyrb classics”. Teman yang saya bisa bilang di depan muka mereka, “Masalah kalian adalah cerpen-cerpen kalian. Jangan menerbitkan cerpen kecuali setara Borges. Setidaknya setara Etgar Keret atau Hassan Blasim.” Tapi obrolan-obrolan kami seringkali mengingatkan saya betapa saya mencintai cerpen-cerpen teman-teman saya, tanpa mereka harus menjadi Borges. Pergi ke Toko Wayang merupakan buku terbaru yang saya baca, yang ditulis oleh teman saya yang lain, salah satu yang penting untuk dibaca. Satu-satunya Gunawan Maryanto. Satu-satunya di antara kami yang paham literatur klasik Jawa (juga literatur pasar macam Gareng dan Petruk), yang kami semua selalu mencemburuinya. Sebagai penulis, saya tumbuh bersama mereka. Saya kenal Ugo, Chindil (itu panggilan Gunawan Maryanto di antara teman-temannya), Puthut EA bahkan ketika kami belum benar-benar mulai menulis. Kami sama-sama kuliah di kampus yang sama, meskipun di jurusan atau angkatan yang berbeda-beda. Kegiatan atau sekadar kantin bisa mempertemukan kami, tapi terutama hasrat pada kesusastraan yang akhirnya membuat kami saling kenal. Kampus kami berdekatan dengan IKIP (sekarang UNY), dan dari sana kami mengenal “saudara seperguruan” yang lain: Muhidin M. Dahlan, Zen R.S. (yang esai-esai-nya tentang sepakbola sangat saya kagumi), dua di antaranya. Pertemanan juga seringkali tak hanya ditentukan oleh ruang. Saya kenal Linda Christanty sejak akhir 90an. Dia aktivis PRD, saya senang nongkrong dengan segerombolan anarkis. Beberapa teman saya kenal dengan beberapa temannya, dan akhirnya kami berkenalan. Ternyata ia suka sastra, dan saya juga, dan kami sama-sama punya teman yang sama: seorang penjual buku bekas di belakang Malioboro bernama Mahdi, yang dengan semangat sering menyuplai kami dengan bacaan sastra dunia (kalau kami tidak bisa membeli, dia berbaik hati memfotokopikan). Tentu saja beberapa teman dekat saya, dari generasi saya, juga ada yang saya kenal setelah kami sama-sama menerbitkan karya. Perkenalan saya dengan Dinar Rahayu dan A.S. Lakana terjadi dengan cara yang aneh: bertemu di Belanda dalam keadaan sama-sama baru pertama kali ke luar negeri. Pertemanan yang selalu bersifat alamiah: kami merasa nyambung, merasa nyaman, untuk mengatakan apa pun. Buat saya hal seperti ini rada-rada penting, di luar urusan estetik kesusastraan. Seperti yang dikatakan Vila-Matas, itu membuat kita “tidak merasa sendirian.” Tidak merasa sendirian karena seringkali kita bertemu dengan cara pandang terhadap kesusastraan yang kurang-lebih mirip, yang saya yakin hal seperti itulah yang membuat sebuah generasi sebagai “generasi”. Sebagai contoh, saya selalu mengingat apa yang sering kami katakan jauh hari, ketika kami masih segerombolan mahasiswa gembel yang tak yakin bisa lulus (beberapa di antara kami benar-benar tidak lulus). Kami punya sejenis manifesto-manifestoan. Saya katakan begitu, karena manifesto itu tak pernah dituliskan. Juga karena manifesto itu bisa ditambah-kurangkan sesuka hati kami sendiri. Tapi kurang-lebih manifesto itu berbunyi: 1) Kami ingin menjadi penulis, jika tak ada yang menerbitkan, kami akan menerbitkannya sendiri. Kami belajar bagaimana memproduksi buku, bagaimana menjualnya. Bahkan belajar melayout dan mendesain sampul. 2) Kalau media besar tak menerima karya kami, kami akan membuat media sendiri. Ya, meskipun kecil. Puthut membuat On/Off, sebelumnya jika ada yang iseng mau mencari, ia satu-satunya orang di belakang “jurnal” Ajaib. Ugo dan beberapa temannya menerbitkan Konblok. 3) Kalau komunitas kesusastraan tak ada yang menerima kami, kami akan buat komunitas sendiri. Kami membuatnya. Beberapa berumur pendek, beberapa berumur pendek sekali. Yang penting kami membuatnya untuk mendukung diri kami sendiri. Saya selalu percaya komunitas seharusnya dibangun untuk mendukung anggotanya, dan bukan sebaliknya. Seperti negara ada untuk rakyat, dan bukan sebaliknya. 4) Jika para kritikus tak ada yang peduli kepada karya kami, atau menghina-dina, kami akan menjadi kritikus untuk karya teman-teman sendiri. Saya selalu ingat, Muhidin M. Dahlan merupakan “yang paling marah” ketika novel pertama saya Cantik Itu Luka, “dihancurkan” oleh seorang kritikus. Muhidin menulis balasan yang tak kalah sengitnya. Manifesto-manifestoan ini bisa dibikin lebih panjang, dengan pola yang tetap sama. Saya tak ingat siapa yang mencetuskannya, tapi itu hidup di pikiran kami. Buat saya: itu tetap berlaku sampai hari ini. Dan jika saya bisa menyimpulkannya dengan lebih pendek, itu bisa berbunyi: “Jika kesusastraan Indonesia tak memberi tempat untuk kami, kami akan menciptakan ruangan untuk diri kami sendiri.” Saya tak tahu apakah itu sesuatu yang aneh atau tidak. Tapi teman-teman saya mengerti hal ini. Mungkin itulah yang membuat kami merasa nyambung dan nyaman. Di dunia persilatan ada begitu banyak pendekar, tapi hanya segelintir yang bisa dipanggil “saudara seperguruan”. Lebih sering bukan karena jurus yang sama, tapi karena saling memahami bagaimana melihat dunia. Jadi siapa para penulis Indonesia terbaik saat ini? Tentu saja para penulis dari generasi saya. Generasi yang juga bukannya tanpa kelemahan. Kami berisik dan agak pemalas. Tapi: 5) Jika tak ada perahu untuk kami, kami akan belajar membuat rakit, atau cara berenang. Kalau harus tenggelam, kami tenggelam dengan sedikit keangkuhan.

The Tunnel, Ernesto Sábato

Para penulis Argentina saya rasa memang layak untuk dicemburui. Mereka selalu tampak memiiki kecenderungan alamiah untuk “tidak berakar”. Yang saya maksud tidak berakar adalah: mereka seperti tak peduli mengenai negeri mereka, kebudayaannya, orang-orangnya, sejarahnya, dan satu-satunya yang mereka peduli adalah kesusastraan. Tentu saja dalam karya-karya mereka kita bisa menemukan banyak hal tentang Argentina: gaucho, pampas, Buenos Aires, Peron, atau lainnya. Tapi semua itu seperti sesuatu yang tak terelakkan saja dari kenyataan sederhana bahwa mereka memang dilahirkan di sana. Di atas semua itu, jika kita membaca karya-karya mereka, pertarungan sejati mereka bukanlah negeri bernama Argentina, tapi tanah air bernama kesusastraan. Kita bisa merasakan hal itu melalui karya-karya Borges, atau Cortazar, atau penulis generasi yang lebih muda seperti César Aira, atau Andres Neuman. Bahkan kita bisa menemukannya di karya penulis yang terang-terangan memilih komunisme sebagai pilihan politiknya, Ernesto Sábato. Seperti kata Colm Tóibín dalam pengantar The Tunnel, “Tugas mereka bukanlah mencipta-ulang negeri mereka dengan gambaran mereka, tetapi menciptakan ulang kesusastraan itu sendiri, memberinya energi dan bentuk yang segar.” Seolah mereka dilahirkan di pusat-pusat kesusastraan dunia, di Paris, London atau Rusia, dan bukan di sebuah kota di satu negara dunia ketiga; lalu bicara tidak untuk manusia sebangsanya, tapi kepada siapa pun manusia di mana pun. Sábato berada dalam generasi yang sama dengan Borges dan Bioy Casares, bahkan novel The Tunnel ini awalnya terbit di majalah Sur yang juga melambungkan nama-nama tadi. Tentu ada perbedaan mencolok antara Borges dan Sábato: jika Borges seorang konservatif, Sábato seorang komunis; jika Borges memperlihatkan kecenderungan kepada fantasi, petualangan, kisah detektif yang diramu dengan spekulasi filsafat, Sábato berada dalam tradisi Dostoyevsky (yang dibenci Borges!) yang mencoba menerobos ke dalam sisi-sisi gelap manusia. Sekilas, The Tunnel seperti versi yang lebih rapi (dan lebih bikin gregetan) dari The Stranger Albert Camus, dan itulah mengapa Camus sangat mengagumi novel ini serta membawanya untuk terbit di Perancis, dan banyak orang menyejajarkannya dengan novel tersebut, menyebutnya sebagai “sebuah karya eksistensialis klasik”. Seperti Meursault, Juan Pablo Castel di The Tunnel memiliki cara pandang tersendiri tentang dunia, yang lebih banyak ditentukan oleh arus pikirannya. Sedikit berbeda, pikiran Castel terus bergerak sepanjang novel, menganalisa, membuat definisi, membuat praduga, bahkan menciptakan kesimpulan-kesimpulan yang lebih dekat kepada asumsi-asumsi. Dunia adalah apa yang dipikirkannya, bahkan meskipun itu menciptakan ilusi, kecemasan, dan pada akhirnya kenyataan yang rapuh. Mengikuti aliran pikiran Castel, kita menemukan kenikmatan membaca, sekaligus merasakan kecemasannya. “Frasa ‘masa lalu yang indah’ tak berarti hal buruk jarang terjadi di masa lalu, hanya saja – untungnya – orang-orang ini sesederhana melupakannya.” Pikiran-pikirannya penuh dengan upaya menjelaskan banyak hal, sekaligus menggiring kita masuk ke dalam ketidakpastian, sebab setiap kali sesuatu dijelaskan, sesuatu menjadi tidak jelas bersama munculnya penjelasan-penjelasan lain. Hal inilah yang membawa hubungannya dengan seorang perempuan, María Iribarne, kepada hubungan yang labil dan cenderung merusak. Awalnya hubungan mereka tampak menjanjikan: María seolah ditakdirkan sebagai satu-satunya orang yang mengerti hasrat seni Castel (ia seorang pelukis). Tapi bersama berlalunya waktu, pikiran-pikiran Castel memiliki pandangan tersendiri mengenai María, dan sebagian besar merupakan pikiran buruk (seperti dikutip di atas, ia tak percaya ‘masa lalu yang indah’, dan lebih memilih untuk mengingat banyak hal buruk). Bisa dibilang ini merupakan novel cinta, tapi alih-alih memberi rasa berbunga-bunga, novel ini memberi kita satu pertanyaan yang sangat menekan, tak adakah momen membahagiakan dalam hubungan cinta ini? Tentu saja sebagaimana hubungan asmara, pasti ada momen-momen indah. Tapi lagi-lagi bahwa apa yang kita tahu tentang dunia tak lebih dari apa yang kita pikirkan mengenai dunia. Jika pikiran kita segelap Castel, dunia akan terlihat gulita, dan demikianlah tragedi manusia dan pikirannya.

Tanya-Jawab: Media Sastra

Arlian Buana: Saya ingin tahu bagaimana Mas Eka melihat peran media untuk kesusastraan (baik Indonesia maupun dunia), dan media sastra seperti apa yang sebaiknya hadir di tengah-tengah pembaca Indonesia di era internet ini.

Saya rasa media sastra (atau media secara umum) seharusnya lahir dari satu gagasan besar, dari satu kegelisahan, dan tentu saja kemudian lahir dari satu visi mengenai kesusastraan macam apa yang ingin kita ciptakan? Tanpa itu, beribu-ribu media (jurnal, majalah, atau apa pun) hanya akan menjadi tempat pajangan karya untuk memuaskan ego para penulis saja. Hal ini, menurut saya, tengah berlangsung dalam kesusastraan Indonesia yang apa boleh buat, masih didominasi apa yang disebut “sastra koran”. Jujur saja, saya sudah lumayan lama kehilangan selera dengan sastra (utamanya cerpen dan puisi) di koran. Kehilangan selera untuk membaca maupun menulis. Saya tak melihat ada visi maupun gagasan besar di sana. Baiklah, barangkali tak perlu besar, tapi setidaknya gagasan yang menarik: mau dibawa ke mana kesusastraan ini? Apa yang diinginkan koran-koran itu dengan kesusastraan kita? Kesusastraan macam apa yang sedang didesain di masa kini dan masa depan? Saya tak melihatnya. Saya hanya melihat koran-koran itu sebagai tempat pajangan bagi jalan pintas penulis pemula untuk “go national” atau penulis-penulis mapan untuk mengisi daftar hadir tahunan (seperti harimau mengencingi wilayah untuk mengumumkan, “Hey, gue masih ada lho!”). Padahal dengan kekuatan finansial dan jaringan yang luas, koran di Indonesia (di mana sebagian besar penulis terpenting Indonesia menulis di sana), harusnya bisa menjadi lokomotif bagi kemajuan kesusastraan. Baiklah, untuk lebih adil, saya rasa ini tak hanya terjadi di kita. Selama bertahun-tahun, saya juga mengikuti karya-karya sastra di tiga media internasional, yang bolehlah dianggap cukup “mainstream” untuk ukuran kesusastraan: Granta, New Yorker, dan The Paris Review. Dari masa sepuluh tahun lalu sampai hari ini, situasinya kurang-lebih sama (Haruki Murakami akan berkata, “Hey, cerpen gue diterbitin lagi, dan lagi, dan lagi.”). Media-media internasional itu barangkali sedikit beruntung karena ia menyaring tulisan-tulisan terbaik dari seluruh dunia. Kita menemukan Roberto Bolaño atau Cesar Aira dalam satu dekade terakhir, misalnya. Tapi yang terpenting sebenarnya bukan “menemukan”, tapi bagaimana media-media ini, internasional maupun nasional atau bahkan lokal, bisa ikut “menciptakan” kesusastraan. Tentu saja karya sastra diciptakan oleh para penulisnya. Tapi institusi semacam media, dengan kebijakan editorial (dan dalam kasus tertentu kemampuan finansial), bisa memberi rancangan besar arah kesusastraan. Saya tak bilang bahwa para penulis harus didikte oleh kemauan institusi media, tapi kenyataan sederhana, institusi media memiliki kekuatan untuk melakukan hal itu. Sebagai contoh, generasi emas kesusastraan di Argentina saya rasa tak akan muncul tanpa kehadiran majalah Sur, yang didukung antara lain oleh filsuf Spanyol José Ortega y Gasset. Majalah ini antara lain melahirkan Jorge Luis Borges, Julio Cortazar dan Adolfo Bioy Casares. Atau tengok kontribusi Les Temps Modernes bagi kesusastraan (dan filsafat) Prancis di masa Jean-Paul Sartre dan Jean Genet (termasuk memuat ulasan yang mengawali perpecahan persahabatan Sartre dan Albert Camus). Atau bagaimana Poedjangga Baroe melahirkan generasi Pujangga Baru. Tentu saja gagasan-gagasan yang melatar-belakangi majalah atau jurnal-jurnal tersebut barangkali tak lagi relevan atau menarik saat ini, dan tak selalu harus terus-menerus relevan dan menarik. Tapi bahwa ia membawa satu gagasan dan bagaimana ia ikut menciptakan kesusastraan (dan karya intelektual lainnya) di satu masa, saya rasa itu yang terpenting. Jadi sekali lagi, menurut saya media tentu saja sangat penting bagi kesusastraan. Buku sendiri merupakan media. Tapi tanpa gagasan cemerlang di belakangnya, tanpa visi dan kegelisahan, pada akhirnya ia hanya tempat pajangan. Hanya etalase. Lupakan saja menciptakan media sastra baru jika tujuannya hanya itu. Kita membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar tempat pajangan. Media bisa berbentuk jurnal, majalah, koran tercetak, atau jurnal online, atau sesederhana sebuah blog yang diterbitkan oleh perorangan, tapi yang penting adalah gagasan apa yang dibawa. Internet sendiri secara luas merupakan media. Ada penulis Irak yang (karena keadaan negaranya yang porak-poranda), menuliskan cerpen-cerpennya di internet. Hasilnya, ia salah satu penulis cerpen penting dunia saya kira. Namanya Hassan Blasim. Karya yang baik bisa lahir di mana saja. Jika kamu tertarik membuat media sastra, tanyakan kepada diri sendiri beberapa hal ini: 1) Apakah media yang ada memang tak memadai? 2) Apa yang akan membedakan karya-karya di media barumu dengan karya-karya di media lain? Dan yang terpenting sekali lagi: 3) Kesusastraan macam apa yang ingin kamu perjuangkan sehingga kamu merasa perlu menciptakan media baru karena media yang sudah ada tak memberinya tempat?

The Invention of Morel, Adolfo Bioy Casares

Manusia hidup dengan segala keterbatasannya. Ilmu dan teknologi mencoba mengatasi keterbatasan tersebut. Fiksi sains ada di antara manusia dan ilmu/teknologi untuk mengejeknya. Tentu masih ingat Frankenstein karya Mary Shelley. Di luar warna gothic dan terornya, sudah jelas karya itu merupakan ejekan kepada ambisi manusia untuk memecahkan misteri kehidupan dan kematian (dan akhirnya: penciptaan). Yang lebih baru dan populer, Jurassic Park karya Michael Crichton, juga ejekan perkara bagaimana kita menyiasati kepunahan spesies (dalam hal ini dinosaurus yang telah punah). Saya rasa hidup dan mati akan selalu merupakan persoalan paling besar bagi manusia. Ada obsesi manusia untuk mengatasi ini, tak hanya berharap hidup lebih lama atau bisa bangkit dari kematian, jika memungkinkan, manusia ingin hidup abadi. Ilmu dan teknologi, diam-diam maupun terang-terangan, saya rasa ingin menuju ke sana. Dan hal ini, entah sampai kapan, akan menjadi bahan para penulis fiksi sains. Dalam tradisi ini saya kira The Invention of Morel karya Adolfo Bioy Casares bisa juga ditempatkan. Novel ini disanjung habis-habisan oleh Jorge Luis Borges, tapi pujiannya bisa kita abaikan karena: (1) Borges merupakan teman dekat Casares (mereka bahkan berkolaborasi menulis cerita-cerita fantasi dengan nama samaran H. Bustos Domecq), (2) novel ini dipersembahkan Casares untuk Borges, (3) Borges menulis prolog untuk novel ini bahkan sejak edisi pertama, (4) novel ini diberi ilustrasi oleh Norah Borges de Torre, yang adalah saudara perempuan Borges. (Pengakuan: bagaimanapun saya memegang dan membaca novel ini, apa boleh buat, sebenarnya terpengaruh Borges). Sekali lagi, novel ini bicara mengenai keabadian. Seorang filsuf kuno Yunani, Heraclitus pernah mengatakan, “Tak ada yang tetap, kecuali perubahan.” Dengan kata lain, sebenarnya tak ada keabadian, tak ada keadaan yang “demikian selamanya”, kecuali keadaan yang terus-menerus berubah, yang berarti tak ada yang abadi. Tapi sekali lagi, manusia selalu menginginkan diri mereka menembus masalah-masalah yang mereka hadapi. Jika kita berpegang kepada pandangan Heraclitus di atas, tak ada cara lain selain membayangkan keabadian sebagai keadaan beku, atau paling tidak, keadaan mengulang. Saya jadi ingat memiliki sejenis mimpi buruk yang terus berulang. Dalam mimpi itu saya selalu dalam keadaan hendak lulus kuliah (atau sekolah), dan saya harus menghadapi ujian. Saya selalu merasa tertekan dengan mimpi itu. Mungkin bawaan rasa tak senang saya pada sekolah (atau sebaliknya: obsesi saya pada sekolah). Apa pun itu, meskipun mimpi tersebut memiliki variasinya sendiri-sendiri, pengulangannya membuat saya merasa ihwal sekolah di dalam mimpi itu menjadi abadi. Keadaan yang menekan di dalam mimpi itu abadi. Barangkali dengan cara pandang tersebutlah, Morel di novel ini, menciptakan mesin yang mampu mengirim manusia (dan lingkungan sekitarnya) ke satu dunia “rekaman” (persis seperti foto atau video), dan hidup di sana. Berulang-ulang. Abadi. Hanya seorang penonton (seperti saya yang bermimpi), dalam hal ini si tokoh aku yang menulis catatan harian dan merupakan pelarian di pulau tempat Morel merekam kehidupan dengan mesinnya, yang mengetahui kehidupan di dalam rekaman tersebut hanyalah sejenis pengulangan adegan yang terjadi terus-menerus (tepatnya, kehidupan selama seminggu). Orang-orang di dalam rekaman, seperti saya di dalam mimpi, hanya menjalani kehidupan tanpa kesadaran itu: kehidupan yang mereka pikir abadi. “Kita akan hidup dalam keabadian,” kata Morel ketika menerangkan penemuannya. Kemudian, sebagaimana mestinya fiksi sains yang saya anggap bagus, datang bagian yang sangat mengejek: si buronan jatuh cinta kepada perempuan bernama Faustin, yang hidup di dalam rekaman. Ia tahu, jika ia ingin terus bersama perempuan itu, dalam dimensi yang sama, ia harus meninggalkan kehidupan fananya, dan masuk ke kehidupan abadi si perempuan di rekaman. Demikianlah, dengan cara konyol ia merekam dirinya, membiarkan tubuh dan jiwanya dibunuh mesin, untuk hidup kembali dalam kehidupan yang berulang-ulang. Obsesi manusia, diwakili si buronan, ternyata tak berhenti di sana. Ia mulai berpikir, bagaimana caranya ia bisa menghilangkan Morel dari rekaman? Ia benci sang penemu, sebab sang penemu juga jatuh cinta kepada Faustin. Saya jadi ingat sosok Clementis yang menghilang dari foto propaganda di novel Milan Kundera, The Book of Laughter and Forgetting. Jika ada kemungkinan untuk mengedit atau menyensor kehidupan (jika kita bisa berpegang bahwa foto, atau hasil rekaman mesin Morel dianggap kehidupan), maka gagasan tentang keabadian menjadi sesuatu yang omong kosong. Dan ternyata belum selesai sampai di titik itu. Untuk membuat rekaman Morel terus hidup, terus melakukan pengulangan “abadi”nya, mesin proyektornya dihidupkan oleh motor yang digerakkan oleh energi yang diperoleh dari angin dan gelombang laut. Sang buronanlah, saya pikir ini bagian paling mengerikan di novel ini, yang memiliki gagasan sinting ketika ia menulis, “Dan apa yang terjadi jika Morel berpikir untuk merekam motor-motornya?”

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑