Eka Kurniawan

Journal

Tag: Abdullah Harahap

Tanya-Jawab: Pengaruh Sastrawan Indonesia

F Daus AR: Ini pertanyaan agak pribadi. Sejauh mana pengaruh sastrawan Indonesia terhadap karya yang Anda gubah. Nama yang saya maksud di luar sastrawan Indonesia yang sudah sering dibahas di jurnal. Misalnya saja, Kuntowijoyo, yang wafat 22 Februari 2005 silam.

Jawabannya juga agak pribadi. Ada satu peristiwa yang pernah membuat saya sangat sedih. Seperti saya pernah mengatakannya, [Cantik Itu Luka], novel pertama saya pernah ditolak beberapa penerbit. Oh, itu bukan bagian sedihnya. Soal itu saya tak terlalu peduli, dan di masa itu saya masih cukup punya kepercayaan diri anak muda bahwa cepat atau lambat saya akan menemukan satu cara untuk menerbitkannya. Hal yang membuat saya sedih datang beberapa tahun kemudian. Akhirnya saya bertemu dengan satu editor yang pernah menolak novel tersebut (nama dan tandatangannya memang tertulis di nota kecil penolakan itu), dan dia secara terus-terang bilang membaca novel saya dan menolaknya, salah satu alasannya: novel itu tidak masuk kriteria/preferensi dia mengenai novel sastra yang bagus. Menurutnya, novel sastra yang bagus mestinya seperti novel-novel Mangunwijaya, Kuntowijoyo, Ahmad Tohari. Tentu saja saya kemudian membaca beberapa karya mereka, dan saat itulah saya merasa sangat sedih. Saya sedih karena saya tahu persis: 1) saya tak ingin menulis novel seperti mereka, 2) jika ukuran kesusastraan (Indonesia) yang bagus diukur dengan karya-karya mereka, saya merasa tak memiliki tempat di peta kesusastraan dan kemungkinan besar saya tak ingin menjadi penulis. Meskipun begitu, di tengah kesedihan itu, saya patut bersyukur bahwa saya mendengarnya setelah “telanjur” jadi penulis, di usia saya yang jauh lebih dewasa, dan apa pun yang dikatakan orang tentang “sastra Indonesia yang bagus”, saya dengan keras kepala bisa membuat patok sendiri di hamparan peta itu, untuk saya dan karya-karya sendiri. Atau jika tidak diberi tempat, saya akan membuat peta sendiri. Jadi menjawab pertanyaan di atas, saya kuatir bahwa pengaruh penulis-penulis ini atas saya bisa dikatakan kecil atau tidak langsung. Bukan karena saya tak suka atau mereka tak bagus, tapi sesederhana bahwa saya memang baru mengenalnya belakangan. Dalam hal ini, saya akan mundur ke belakang. Izinkan saya menceritakan sejarah membaca saya, yang barangkali bisa menjelaskan kenapa hanya segelintir penulis Indonesia (yang itu-itu saja) yang sering saya bicarakan, dan yang pengaruhnya banyak membekas, dan kenapa ada begitu panorama kesusastraan Indonesia yang saya “tinggalkan” dan menciptakan lubang besar. Saya jarang menceritakan hal ini, dan hanya pernah sekali menceritakannya secara lengkap kepada seorang pengamat Indonesia yang penasaran karena “tampaknya saya tak terlalu peduli dengan penulis-penulis Indonesia” (dia bilang kepada saya, ini sejenis arogansi yang juga ada pada Pramoedya, hahaha). Baiklah, saya bisa dibilang tak memiliki sejarah yang baik dengan kesusastraan Indonesia. Hingga selesai SMA, tak banyak karya “sastra” yang saya baca. Anda semua tahu bagaimana pendidikan kita di tahun 80-90an. Saya tinggal dan sekolah di sebuah kota kecil, Pangandaran. Tak ada toko buku dan tak ada perpustakaan. Saya memang senang membaca buku, tapi yang bisa saya peroleh hanyalah novel-novel “picisan”: Asmaraman S. Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap, Bastian Tito, buku stensilan. Sebagai selingan, saya juga membaca Enid Blyton, Karl May. Lupakan kanon-kanon sastra Indonesia, saya tak pernah melihatnya. Jika di masa remaja itu saya ingin menjadi penulis novel, sudah pasti novel yang ingin saya tulis adalah novel horor atau cerita silat. Saya pernah mencobanya sebelum dibuang ibu saya karena kertas-kertas itu menumpuk dan menjadi makanan rayap. Selesai SMA, saya pindah ke Yogyakarta. Kuliah di UGM. Melanjutkan kegemaran membaca (yang tak terpuaskan di kondisi kota kecil tempat saya tinggal), saya dibuat terpana menemukan perpustakaan. Sepanjang masa kuliah, saya menghabiskan lebih banyak waktu di perpustakaan, dan favorit saya selama enam tahun itu adalah ruangan kecil di perpustakaan kampus di mana saya bertemu Toni Morrison, Salman Rushdie, Gabriel García Márquez, Leo Tolstoy, Dostoyevsky, Melville, Knut Hamsun dll (ada satu rak yang dipenuhi oleh buku-buku terbitan Everyman’s Library). Tololnya saya, bahkan saat itu saya tak sadar tengah menghadapi kanon-kanon kesusastraan dunia. Bagi pikiran anak pantai ini, saya hanya sesederhana membaca novel, melanjutkan kegemaran saya. Saya lumayan beruntung bisa membaca bahasa Inggris. Ayah saya yang mengajari sejak kecil, meskipun seperti saya, dia mengajar sambil lalu dan ogah-ogahan. Baru bertahun-tahun kemudian saya menyadari (orang lain yang kemudian mengatakannya kepada saya), masa awal 90an itu merupakan “lompatan” dalam sejarah membaca saya. Dari sastra picisan yang dibaca di masa remaja, saya kemudian “melompat” membaca kanon-kanon dunia. Di antara kedua jenis bacaan itu, saya melewatkan karya-karya “kanon” kesusastraan Indonesia, kecuali Pramoedya Ananta Toer yang saya peroleh dari beberapa teman di masa-masa kami turun ke jalan, melemparkan batu ke polisi, antara tahun 1996-1998. Saya selalu percaya, selera kita jauh lebih banyak terbentuk ketika kita masih muda. Maka jika saat ini ada yang bertanya karya sastra macam apa yang ingin saya tulis, jawaban saya kurang-lebih masih sama seperti di masa remaja: saya ingin menulis novel silat atau novel horor. Dan sastra yang bagus bagi saya, karena dipengaruhi oleh sejarah bacaan, saya tak bisa tidak merujuk ke Hamsun, Melville, Cervantes. Jika saya boleh berbagi ambisi, (mungkin sederhana, mungkin tidak), saya ingin menulis seperti Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap, sekaligus seperti Cervantes atau Melville, atau Gogol. Saya baru membaca sastra Indonesia secara lebih banyak, dan “sadar”, justru setelah saya memutuskan untuk menjadi penulis, selepas 1999. Saya tahu, saya sangat terlambat, tapi saya tak bisa memutar ulang waktu. Dan di umur dewasa seperti sekarang, sangat sulit untuk mengubah selera. Otak kita cenderung menjadi lebih bebal dan membatu bersama dengan bertambahnya usia. Lagipula, haruskah saya mengubah selera sastra saya? Bagi saya bukan tindakan kriminal menempatkan Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap dan Pramoedya di atas penulis-penulis Indonesia lainnya. Mereka jelas-jelas memberi arti penting tak hanya dalam karya saya, tapi juga dalam hidup saya. Tanpa sastra picisan itu, saya akan menjalani masa remaja yang membosankan. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para penulis yang telah meletakkan patok-patok dalam sejarah kesusastraan nasional kita, tak bisa tidak, selamanya saya akan berterima kasih kepada sastra picisan, melebihi kanon-kanon kesusastraan Indonesia lainnya.

Apa Itu Klasik? Apa Itu Cult?

Akhir-akhir ini saya sering menemukan atau mendengar orang menyebut “novel cult” atau “penulis cult”. Di sampul belakang novel Atomised Michel Houellebecq, Observer menulis “ditakdirkan sebagai buku cult.” Beberapa waktu sebelumnya, pernah membaca Chuck Palahniuk merupakan salah seorang penulis cult. Sebenarnya apa itu novel atau penulis cult? Ah, tentu saja dengan gampang kita bisa membuka internet dan mencari tahu definisinya. Dan sebagaimana bisa diduga, sebenarnya tak ada kesepakatan mengenai hal itu. Di satu sisi, itu menyiratkan penulis-penulis atau novel-novel yang memiliki penggemar (yang tak banyak tapi) kuat, yang membicarakannya dengan gila, menunggu karya-karyanya dengan fanatik (saya rasa itulah kenapa disebut cult, persis sama seperti tradisi dalam kelompok pemujaan lainnya). Haruki Murakami sekali waktu sempat bilang, kira-kira begini: “Jika aku tak menulis Norwegian Wood, aku akan menjadi penulis cult.” Dengan kata lain, gara-gara novel itu, bukunya dibaca oleh pembaca di luar pembaca tradisionalnya (yang mungkin menikmati karya-karyanya yang lain melebihi buku paling larisnya itu, atau bahkan membenci Norwegian Wood). Dengan kata lain, itu merujuk ke karya-karya yang bagus, bermutu, tapi tak terlalu populer (bahkan di kalangan kesusastraan yang jumlahnya sedikit sekalipun). Di sisi lain, ungkapan cult tampaknya juga menyiratkan novel-novel atau penulis yang tak laku (itulah kenapa pembacanya sedikit), tapi bagian pemasaran penerbit menyebutnya cult untuk memancing minat segerombolan pembaca menjadi pembaca fanatik. Apa pun itu, ini membuat saya berpikir-pikir, siapa kiranya di Indonesia yang layak disebut sebagai penulis cult? Mungkin Abdullah Harahap dan Asmaraman S. Kho Ping Hoo (keduanya penulis favorit saya)? Tapi di masa kejayaan mereka, karya-karya keduanya bisa dibilang arus-utama bacaan orang Indonesia. Bandingkan dengan H.P. Lovecraft, yang di masa hidupnya tak banyak orang membaca, tapi sekarang memancing minat pembaca baru yang keranjingan (Houellebecq bahkan sampai menulis buku tentangnya, dan Stephen King menulis esai). Saya pikir, saya ingin menyebut Manusia Harimau S.B. Chandra sebagai novel cult. Saya bertemu beberapa orang yang tergila-gila novel itu, memujanya, dan saya sendiri merasa bangga luar biasa karena memiliki novel itu dalam keadaan baik. Sekali lagi, istilah itu bisa saja sebenarnya akal-akalan bagian pemasaran penerbit saja. Jangankan cult, definisi tentang “klasik” pun tak pernah benar-benar ada kesepakatan. Saya punya definisi sederhana untuk klasik ini: karya-karya yang dibaca dan akan terus dibaca dari generasi ke generasi. Tentu saja itu juga problematik, siapa yang membaca dan terus membaca? Pada akhirnya, sebuah karya akan menjadi klasik untuk kebanyakan orang, dan sebagian lagi menjadi klasik untuk sekelompok orang tertentu. Saya bayangkan, novel-novel Pramoedya Ananta Toer akan menjadi klasik. Dulu kita membacanya, sekarang kita membacanya, dan saya yakin akan tetap dibaca beberapa generasi ke depan. Hal yang sama akan terjadi pada novel-novel dari masa Balai Pustaka: Siti Noerbaja, Salah Asoehan, Atheis. Sebagian besar mungkin karena peran para guru, dinas pendidikan, para kritikus dan sastrawan. Saya sendiri bukan penggemar novel-novel era Balai Pustaka, saya menganggapnya membosankan (beberapa saya baca sekali, dan yakin tak ingin membacanya lagi). Jadi bagi saya (mungkin minoritas), itu bukan novel klasik. Saya lebih memilih novel-novel berbahasa Melayu-Pasar dari era yang sama atau lebih tua, misal novel-novel penulis Cina Peranakan. Atau novel-novel yang ditulis oleh penulis-aktivis seperti Marco Kartodikromo. Sekali lagi, definisi ini memang tak kokoh, tapi seseorang harus memiliki pegangan, bukan? Sebuah novel bisa menjadi klasik bahkan jika Anda tak membacanya berulang-ulang, demikian pula sebaliknya. Apa boleh buat, setiap negara memerlukan deretan karya klasik ini, untuk menjadi pegangan bagi warganya apa yang sekiranya perlu dibaca. Sebagaimana sekelompok orang merasa perlu memberi cap penulis kegemarannya sebagai cult, paling tidak agar mengetahui apa yang bisa mempersatukan sekelompok kecil orang dalam bacaan dan antusiasme yang sama.

Abdullah Harahap

Jika saya harus menyebut tiga novelis terpenting dalam kesusastraan Indonesia, saya akan menyebut Pramoedya Ananta Toer, Asmaraman S. Kho Ping Hoo, dan Abdullah Harahap. Membaca semua karya mereka, saya pikir sudah cukup untuk memasuki rimba kesusastraan, dan menjadi yang paling gila di antara orang-orang gila. Saya pernah bertemu dengan Pramoedya, tapi pertemuan dengan Abdullah Harahap barangkali merupakan yang paling ajaib. Sejujurnya, sebelum benar-benar bertemu dengannya, saya berpikir bahwa penulis ini sudah lama tiada. Pikiran ini barangkali dibawa oleh kenyataan bahwa saya (kita), tak pernah menemukan apa pun yang tertulis mengenai riwayat hidupnya. Seolah-olah sejak lama memang ia tak pernah ada di dunia ini. Di sebagian besar buku-bukunya, kita tak pernah menemukan sebaris pun informasi mengenai sang penulis. Kapan ia lahir, dimana ia tinggal. Sosoknya sama misterius dengan kisah-kisah yang ditulisnya. Sebagian besar novelnya diterbitkan oleh penerbit-penerbit kecil (jika tak bisa dibilang skala ruko), beberapa di antaranya bahkan tak mencantumkan alamat, tak punya logo perusahaan. Dan sebagian besar tak mendaftarkan judul-judul novelnya dalam daftar ISBN. Novel-novelnya tampak lebih seperti brosur daripada sebagai karya kesusastraan. Novel-novelnya tak dijual di toko buku besar semacam Gramedia (kecuali belakangan hari), tapi di kaki lima dan di atas bis dan kereta, disodorkan oleh pedagang asongan, bersama Teka-Teki Silang, novel porno dan jam tangan palsu. Tapi itulah memang yang terjadi dalam kesusastraan Indonesia. Ketika saya dan dua teman, Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad memutuskan untuk membaca ulang karya-karyanya, saya tetap beranggapan ia tak ada lagi di dunia ini. Bukan hal mudah menemukan kembali karya-karyanya. Saya membacanya ketika masih remaja, menyewanya dari taman bacaan. Tak pernah menemukannya di toko buku, juga perpustakaan. Saya menemukan kembali novel-novelnya di toko-toko buku loak, berjejalan dengan majalah dan koran bekas. Sebenarnya ia tak hanya menulis novel-novel horor dan misteri. Ia menulis novel romans, bahkan memulai karir menulisnya dengan genre tersebut. Tapi puncak karya-karyanya, saya rasa berada di novel-novel horor dan misterinya. Dengan formula gothic lokal, misteri ala Edgar Allan Poe, dan sedikit petualangan dan penyelidikan. Setelah membaca banyak karya-karyanya, kami memutuskan untuk menerbitkan antologi cerita pendek kami, yang terinspirasi dari novel-novel horor dan misterinya. Dengan gagah berani, kami memutuskan buku itu (berjudul Kumpulan Budak Setan) sebagai tribut untuk Abdullah Harahap. Bahkan ketika buku itu hendak terbit, berisi dua belas cerita pendek kami, saya tetap beranggapan bahwa Abdullah Harahap sudah lama tiada. Hingga hari itu, saya sedang berada di rumah, dan sebuah pesan pendek masuk ke telepon genggam. Dari istri saya, yang bekerja di sebuah stasiun TV. Pesannya singkat saja, ia baru saja bertemu dengan Abdullah Harahap. Ia bilang kepada sang maestro, “Saya kira sudah meninggal.” Istri saya mengirimkan foto dirinya bersama sang penulis, dan itulah kali pertama saya melihat wajahnya. Seorang lelaki tua, tapi dengan tubuh yang masih tegap, berkacamata hitam. Tipikal penulis-penulis romans yang saya bayangkan hidup di tahun 70an. Beberapa minggu kemudian kami (saya, Intan dan Ugo) benar-benar bertemu di lobi Penerbit Gramedia Pustaka Utama (yang kemudian menerbitkan kembali karya-karya Abdullah Harahap). Kami masuk ke satu kedai kopi dan ngobrol selama hampir dua jam. Dengan selera humornya yang menyenangkan, serta aura misterusnya, ia kemudian bilang, yang bagi saya terasa seperti ejekan yang menyenangkan, “Saya bangkit lagi dari kubur.” Itulah Abdullah Harahap, salah satu maestro kesusastraan kita.

Harta Karun Kesusastraan Indonesia

Sekali waktu seseorang bertanya, kenapa saya tak pernah membicarakan kesusastraan Indonesia? Apakah saya tak membaca apa pun dalam kesusastraan Indonesia? Ada ujaran, tak ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan yang salah. Berkali-kali saya bicara, di forum diskusi-diskusi yang terhormat, mengenai kesusastraan dan karya-karya kesusastraan Indonesia. Buku pertama saya merupakan telaah panjang tentang Pramoedya Ananta Toer. Saya penggemar cerpen-cerpen Asrul Sani. Di awal karir saya, saya bahkan pembaca berat cerpen-cerpen Kris Mas (ini sudah agak meluas, ia bukan penulis Indonesia, tapi penulis Malaysia). Saya tak pernah menyembunyikan kekaguman saya terhadap dua penulis penting: Asmaraman S. Kho Ping Hoo dan Abdullah Harahap. Ada pendekar dan ada hantu di novel-novel saya, yang tentu saja warisan dari keduanya. Oh, barangkali kebanyakan orang tak pernah menganggap kedua penulis itu sebagai “sastrawan” dan karya-karya mereka merupakan bagian dari kesusastraan Indonesia. Di situlah barangkali persoalannya. Apa yang kebanyakan orang anggap sebagai kesusastraan Indonesia, apa yang mereka anggap sebagai kanon (saya tak yakin ada atau tidak), kadang-kadang bukan karya-karya yang menarik perhatian saya. Harta karun kesusastraan Indonesia saya terletak di novel-novel picisan yang tak terlalu dianggap oleh kritikus sastra, para akademisi, bahkan oleh para sastrawan. Jika saya tinggal di Eropa, barangkali saya akan banyak membaca dime novel. Jika tinggal di Amerika, saya pasti memburu pulp fiction. Jika tinggal di Cina, saya pasti pembaca wu xia. Saya tak membaca sesuatu karena karya itu (kata orang) bermutu, saya membacanya karena saya anggap menarik. Saya jenis pembaca yang, meminjam istilah Borges, pembaca hedonis. Harta karun “kesusastraan” (saya pakai tanpa petik, karena barangkali banyak orang tak anggap ini sebagai kesusastraan) Indonesia saya jarang saya peroleh di toko buku besar, tidak pula di pusat dokumentasi sastra sejenis milik HB Jassin. Saya memburunya di toko buku bekas, berkenalan dengan penjual buku bekas di Internet. Belum lama saya memesan sebuah serial silat yang terbit di tahun 70an yang saya belum pernah dengar judul maupun penulisnya (tak perlu saya sebutkan). Saya membacanya dalam dua hari. Jelek, dan berpikir: pantas saja saya tak pernah mendengarnya. Tapi bahkan dari karya yang jelek, terutama karena panulis ini tak mengerti bagaimana membangun tangga dramatik dari cerita silat, saya bisa menemukan kesenangan-kesenangan tertentu. Hanya segelintir dari teman-teman dekat saya yang mengerti selera saya ini, dan dengan mereka (yang sebagian besar juga berbagi selera yang sama) saya bisa membicarakan karya-karya ini dengan antusias. Seorang teman yang tinggal di Amerika, menyempatkan diri mengirim email pendek hanya untuk bertanya, “Sudah pernah membaca novel Six Balax?” Butuh waktu berbulan-bulan sebelum saya memperoleh novel itu, dengan harga (ajaibnya) sangat murah. Cetakan 1977, atau dua tahun setelah kelahiran saya. Ditulis oleh penulis kelahiran Tegal bernama Hino Minggo, yang mengklaim tokohnya sebagai “Super Spy Pribumi” dan dirinya sebagai penggemar O. Henry. Membaca judul episode-episodenya saja sudah membuat saya tertawa terbahak-bahak: “The Man with Golden Golok”, “Dirty Marni Crazy Larso”, “Pembalasan Murid-murid Afkiran”. James Bond dan Nick Carter jadi terasa petualangan garing. Dan di waktu-waktu luang, saya bisa membaca ulang berkali-kali Nagasasra dan Sabuk Inten SH Mintardja. Juga Manusia Harimau SB Chandra (judul yang bersama Tujuh Manusia Harimau Motinggo Busye mengilhami saya menulis novel Lelaki Harimau). Ketika di umur belasan tahun saya membayangkan diri saya sebagai penulis, novel-novel seperti itulah yang ingin saya tulis. Tentu saja dengan pengetahuan dan kemampuan menulis yang pas-pasan, saya tak pernah berhasil melakukan. Ketika akhirnya saya menerbitkan novel pertama kali, bagaimana pun, jejak-jejak keinginan dan selera saya masih tertanam di sana. Jika karya seorang penulis tak akan pernah jauh dari apa yang dibacanya, saya bisa sangat yakin menunjukkan: itulah harta karun bacaan saya. Itulah sejarah kesusastraan saya. Sejarah kesusastraan Indonesia dalam karya-karya saya.

Pangandaran

Saya melewati awal tahun 2013 ini di Pangandaran. Saya selalu mencintai kota ini. Kecil dan berbau laut. Saya tidak lahir di sini, tapi tinggal di sini sejak berumur 10 tahun, dan meninggalkannya ketika saya masuk universitas. Bagaimanapun, ibu saya masih tinggal di sana, dan sesekali saya mengunjunginya. Kadang-kadang saya hanya di rumah saja, tak menginjakkan kaki sama sekali ke pasir pantai, seperti dilakukan kebanyakan pelancong. Menghirup aroma lautnya dari jendela kamar kadang-kadang sudah lebih dari cukup. Berjalan dari rumah ke minimarket sejauh seratus meter, sudah cukup untuk membakar kulit. Tapi ada waktu-waktu saya mengingat masa remaja saya. Sepulang sekolah, saya pergi ke pantai membawa novel (atau komik), dan duduk membaca di bawah pohon pandan. Pangandaran hanyalah kota kecil, tapi saya rasa para penulis pun tak berani melewatkannya. Di serial Wiro Sableng (Bastian Tito), sang pendekar pernah bertarung di Pangandaran (saya tak tahu apakah di masa para pendekar berkelana ke sana-kemari kota kecil ini sudah ada atau tidak, sudah memiliki nama seperti itu atau belum, tapi itu tak lagi penting, bukan?). Di novel-novel misteri Abdullah Harahap, kota-kota kecil di pantai selatan Jawa Barat (di mana Pangandaran salah satunya) selalu diidentikan dengan mistik, tempat orang mengirim santet, teluh, mencari ilmu hitam. Juga para pencipta lagu. Saya selalu suka lagu Doel Sumbang berjudul “Pangandaran”, tentang sepasang kekasih yang memadu cinta di pantai kota ini. Lagu tersebut dalam Bahasa Sunda, yang membuatnya terdengar lebih memabukkan di telinga. Sekali-dua, saya menyebut kota ini di cerita-cerita pendek saya, dengan penuh cinta. Saya membayangkan kota ini seperti Blanes (di pesisir Catalonia, Spanyol) bagi Roberto Bolaño, tempat sang penulis bahkan pernah menjual cenderamata. Saya suka berjalan memandangi toko-toko cenderamata, tempat kaos-kaos digantung, dimana orang-orang menumpahkan cinta ke kota ini, seperti James Joyce mengagungkan Dublin di cerpen-cerpennya. Mungkin itu berlebihan, tapi itu benar. Jika ada hal yang menyedihkan, tak ada toko buku di kota ini. Saya tak terlalu peduli hal-hal lain yang juga tak ada, tapi tak ada toko buku benar-benar menyedihkan. Juga tak ada perpustakaan. Tapi di kota tanpa toko buku dan perpustakaan ini, setidaknya seseorang yang pernah tinggal di sana sekali waktu bermimpi menjadi penulis. Hanya Tuhan yang tahu setan apa yang merasukinya. Bacaan saya sangat sedikit di masa-masa itu. Novel-novel silat, horor, romans picisan, itulah yang bisa saya peroleh. Juga cerita-cerita pendek dari majalah remaja. Selebihnya barangkali buku kisah para nabi dan orang-orang saleh. Oh, sekali waktu ayah saya pernah memberi satu antologi cerita pendek Australia. Dalam bahasa Inggris yang susah-payah saya coba baca. Saya tak ingat judul bukunya, tapi dua cerpen saya ingat: “The Cruise of the Nifty Duck” (Ray Harris?) dan “Laura Goes to School”. Saya juga tak terlalu yakin siapa saja penulisnya, apa ceritanya, hanya ingat dua judul itu. Saya tak tahu darimana ayah saya memperoleh buku itu. Tapi ia memang jenis ayah yang jika punya uang banyak, tak akan segan membeli semua buku yang ada di dunia untuk kami. Sayangnya ia tak punya uang banyak, jadi hanya beberapa buah buku pernah ia beli untuk kami. Bagaimanapun, saya tetap mencintai kota kecil ini, bahkan meskipun tanpa toko buku. Saya ingat, di awal masa-masa saya menulis, saya sering pulang ke sini hanya untuk menulis beberapa cerita pendek. Saya akan mengurung diri di ruang belakang, tempat ayah saya menyimpan bahan kaos dan cat sablon (ia memiliki usaha kecil membuat kaos cenderamata), dan menulis di buku tulis bergaris. Tanpa gangguan, ditemani kehangatan cuaca pantai, beberapa cerita pendek saya tulis di ruangan tersebut. Sekarang saya jarang menulis di sini, dan menggantinya dengan membaca. Saya selalu memenuhi ruang tersisa di tas saya dengan buku jika berkunjung ke sini. Barangkali kota ini memang dipenuhi energi mistis. Buat saya, energi itu mendorong saya untuk menulis, dan terutama membaca. Sekali waktu seorang teman pernah melemparkan lelucon, jika sekali waktu Indonesia berantakan dan terpecah-belah (seperti terjadi pada Yugoslavia dan Uni Sovyet), tanah air dan paspor mana yang akan saya pegang? Sekarang saya yakin, saya akan memilih memegang paspor “Republik Pangandaran”, meskipun seseorang pernah berkata, satu-satunya paspor yang layak dimiliki seorang penulis hanyalah karya yang (sangat) baik dan satu-satunya tanah air untuk penulis adalah Bahasa yang ia pergunakan.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑