Eka Kurniawan

Journal

Tag: A.S. Laksana

Den Haag, Setelah Sepuluh Tahun

Pertama kali pergi ke luar negeri, saya pergi ke Den Haag tahun 2006 untuk menghadiri festival Winternachten (dan itu pula alasan pertama saya akhirnya punya paspor). Meskipun ada beberapa penulis Indonesia lainnya saat itu (A.S. Laksana dan Dinar Rahayu), kami jalan sendiri-sendiri dengan jadwal penerbangan yang berbeda. Jadi bisa dibayangkan betapa gelisahnya saya selama belasan jam di pesawat. Bagaimana kalau nanti tak ada yang jemput, atau tak bertemu yang jemput di bandara Schiphol? Tidur di mana? Hubungin siapa (zaman itu telepon genggam belum secanggih sekarang, lah)? Bagaimana kalau nyasar? Ya, terdengar norak. Untunglah apa yang saya kuatirkan tak terjadi, meskipun bukan berarti tak ada kekonyolan. Malam pertama saya di kamar hotel merupakan sejenis penderitaan karena saya kedinginan, harus menimbun diri di balik selimut dan penutup kasur, hanya karena saya tak tahu bagaimana menghidupkan penghangat ruangan. Hahaha. Yang membuat saya diundang ke festival itu adalah sebuah cerpen berjudul “Kutukan Dapur”. Saya pikir, mungkin karena cerpen itu sedikit lucu dan ada Belandanya, dan kebetulan ada versi terjemahan Inggrisnya, jadi mereka bisa mengerti. Waktu itu novel Cantik Itu Luka, yang berkisah tentang seorang indo sejak akhir kolonial hingga Indonesia kemarin sore, tentu sudah terbit. Tapi bisa dibilang tak ada yang menyinggung soal novel tersebut. Novel itu hanya tersedia dalam bahasa Indonesia (dan Jepang), jadi bisa dimaklumi jika tak diketahui, kecuali oleh orang-orang yang secara khusus menaruh minat kepada kesusastraan Indonesia (dan kebetulan menemukan novel saya). Tentu saja selama rentang waktu itu sempat ada pembicaraan tentang kemungkinan menerjemahkan novel itu ke bahasa Belanda, sayang sekali tak menemukan penerbit. Padahal dulu saya pikir, jika novel tersebut diterjemahkan ke bahasa asing, ke bahasa Belanda merupakan kemungkinan paling besar dan pertama. Alasannya sederhana. Indonesia dan Belanda memiliki ikatan sejarah, dan mungkin emosional; novel itu juga menyinggung pendudukan Belanda di Indonesia; selain itu faktanya ada beberapa karya sastra Indonesia diterbitkan di Belanda. Ternyata itu tak terjadi, dan saya sadar: saya naif. Hingga akhirnya tahun ini diterbitkan oleh Lebowski dengan judul Schoonheid is een Vloek, diterjemahkan oleh Maya Liem dan Sven Aalten. Yang sedikit menyedihkan (atau tak perlu sedih? Kenaifan saya enggak sembuh-sembuh), editor dari penerbit ini tahu novel tersebut bukan dari edisi Indonesia (tidak pula dari orang Indonesia), tapi dari edisi bahasa Inggris, diperkenalkan oleh editor saya di Amerika (bahkan akhirnya memakai sampul yang sama dengan versi New Directions). Kadang-kadang jalan memang harus memutar. Karena buku itu, akhirnya saya datang kembali, dan ketika tiba di bandara Schiphol, baru saya sadar tentang jeda sepuluh tahun itu. Gara-gara delay lama, sekarang saya malah benar-benar ditinggal penjemput sehingga harus naik taksi sendiri ke hotel, tapi tak apa-apa. Sudah pernah terlunta-lunta di bandara negeri orang, bahkan ditinggal kereta, jadi lebih siap mental. Bahkan pernah masuk detention room berjam-jam (meskipun akhirnya dilepas tanpa interogasi apa pun), di masa ketika pengamanan bandara sedang gila-gilanya. Sepuluh tahun, rasanya lama sekali. Selain akan ngobrol soal novel tersebut, saya ingin menebus apa yang tak saya lakukan sepuluh tahun lalu: pergi ke Amsterdam dan mengunjungi salah satu pelukis kesayangan saya. Vincent van Gogh. Tentu, museumnya. Dan kali ini saya tak perlu pusing mencari di mana tombol penghangat ruangan kamar hotel. Musim panas sudah datang menjelang.

Saudara Seperguruan atau “Literary Brothers”

Dalam satu wawancara, Enrique Vila-Matas ditanya mengenai persahabatannya dengan Roberto Bolaño dan ia menjawabnya: “Bertemu dengannya pada tahun 1996, saya merasa tak lagi sendirian sebagai penulis.” Ia melihat dalam diri Bolaño seseorang yang bisa disebut, dalam kata-katanya, “literary brother”. Saya bayangkan istilah itu semacam “saudara seperguruan” dalam konteks dunia persilatan yang sering saya baca di novel atau komik silat. Saya bisa mengerti perasaan Vila-Matas. Di tengah kerumunan para penulis, bukanlah hal mudah menemukan satu atau segelintir penulis yang kamu bisa merasa nyaman, nyambung, tak hanya dalam konteks keseharian tapi juga dalam konteks kesusastraan, sehingga kamu bisa menyebutnya sebagai “saudara”. Saya beruntung punya teman-teman semacam itu. Para penulis yang ketika dalam satu wawancara saya ditanya, siapa penulis Indonesia yang karya barunya akan saya tunggu, dengan jelas saya menjawab: para penulis dari generasi saya. Yang sebagian sekali waktu adalah teman-teman bermain saya. Jika orang bertanya, siapa penulis terbaik di Indonesia saat ini, saya akan menjawab dengan jawaban yang sama. Generasi saya, teman-teman saya. Akhir-akhir ini saya berhubungan dengan orang luar, dari editor, wartawan hingga agensi, dan jika mereka bertanya siapa penulis-penulis Indonesia yang perlu diperhatikan? Jawaban saya tetap sama. Generasi saya, teman-teman saya. Saya tak pernah pusing dengan orang-orang yang semangat mempromosikan teman-teman atau karya teman-temannya. Saya akan melakukan hal yang sama, selama saya melakukannya atas nama saya pribadi. Semalam saya bertemu denan Ugoran Prasad dan Intan Paramaditha. Mereka dua di antara penulis yang jelas masuk kategori “generasi saya, teman-teman saya” itu. Kami jarang bertemu sejujurnya, tapi apa pentingnya bergerombol terus-menerus seperti kawanan serigala? Maka pertemuan-pertemuan itu selalu terus mengingatkan saya tentang motivasi-motivasi dan gairah kami atas kesusastraan, dan merasakan kembali keberadaan “saudara seperguruan” semacam “literary brother”-nya Vila-Matas itu. Teman kepada siapa kami bisa dengan kekanak-kanakan berkata, ingin seperti “Adolfo Bioy Casares yang diterbitkan nyrb classics”. Teman yang saya bisa bilang di depan muka mereka, “Masalah kalian adalah cerpen-cerpen kalian. Jangan menerbitkan cerpen kecuali setara Borges. Setidaknya setara Etgar Keret atau Hassan Blasim.” Tapi obrolan-obrolan kami seringkali mengingatkan saya betapa saya mencintai cerpen-cerpen teman-teman saya, tanpa mereka harus menjadi Borges. Pergi ke Toko Wayang merupakan buku terbaru yang saya baca, yang ditulis oleh teman saya yang lain, salah satu yang penting untuk dibaca. Satu-satunya Gunawan Maryanto. Satu-satunya di antara kami yang paham literatur klasik Jawa (juga literatur pasar macam Gareng dan Petruk), yang kami semua selalu mencemburuinya. Sebagai penulis, saya tumbuh bersama mereka. Saya kenal Ugo, Chindil (itu panggilan Gunawan Maryanto di antara teman-temannya), Puthut EA bahkan ketika kami belum benar-benar mulai menulis. Kami sama-sama kuliah di kampus yang sama, meskipun di jurusan atau angkatan yang berbeda-beda. Kegiatan atau sekadar kantin bisa mempertemukan kami, tapi terutama hasrat pada kesusastraan yang akhirnya membuat kami saling kenal. Kampus kami berdekatan dengan IKIP (sekarang UNY), dan dari sana kami mengenal “saudara seperguruan” yang lain: Muhidin M. Dahlan, Zen R.S. (yang esai-esai-nya tentang sepakbola sangat saya kagumi), dua di antaranya. Pertemanan juga seringkali tak hanya ditentukan oleh ruang. Saya kenal Linda Christanty sejak akhir 90an. Dia aktivis PRD, saya senang nongkrong dengan segerombolan anarkis. Beberapa teman saya kenal dengan beberapa temannya, dan akhirnya kami berkenalan. Ternyata ia suka sastra, dan saya juga, dan kami sama-sama punya teman yang sama: seorang penjual buku bekas di belakang Malioboro bernama Mahdi, yang dengan semangat sering menyuplai kami dengan bacaan sastra dunia (kalau kami tidak bisa membeli, dia berbaik hati memfotokopikan). Tentu saja beberapa teman dekat saya, dari generasi saya, juga ada yang saya kenal setelah kami sama-sama menerbitkan karya. Perkenalan saya dengan Dinar Rahayu dan A.S. Lakana terjadi dengan cara yang aneh: bertemu di Belanda dalam keadaan sama-sama baru pertama kali ke luar negeri. Pertemanan yang selalu bersifat alamiah: kami merasa nyambung, merasa nyaman, untuk mengatakan apa pun. Buat saya hal seperti ini rada-rada penting, di luar urusan estetik kesusastraan. Seperti yang dikatakan Vila-Matas, itu membuat kita “tidak merasa sendirian.” Tidak merasa sendirian karena seringkali kita bertemu dengan cara pandang terhadap kesusastraan yang kurang-lebih mirip, yang saya yakin hal seperti itulah yang membuat sebuah generasi sebagai “generasi”. Sebagai contoh, saya selalu mengingat apa yang sering kami katakan jauh hari, ketika kami masih segerombolan mahasiswa gembel yang tak yakin bisa lulus (beberapa di antara kami benar-benar tidak lulus). Kami punya sejenis manifesto-manifestoan. Saya katakan begitu, karena manifesto itu tak pernah dituliskan. Juga karena manifesto itu bisa ditambah-kurangkan sesuka hati kami sendiri. Tapi kurang-lebih manifesto itu berbunyi: 1) Kami ingin menjadi penulis, jika tak ada yang menerbitkan, kami akan menerbitkannya sendiri. Kami belajar bagaimana memproduksi buku, bagaimana menjualnya. Bahkan belajar melayout dan mendesain sampul. 2) Kalau media besar tak menerima karya kami, kami akan membuat media sendiri. Ya, meskipun kecil. Puthut membuat On/Off, sebelumnya jika ada yang iseng mau mencari, ia satu-satunya orang di belakang “jurnal” Ajaib. Ugo dan beberapa temannya menerbitkan Konblok. 3) Kalau komunitas kesusastraan tak ada yang menerima kami, kami akan buat komunitas sendiri. Kami membuatnya. Beberapa berumur pendek, beberapa berumur pendek sekali. Yang penting kami membuatnya untuk mendukung diri kami sendiri. Saya selalu percaya komunitas seharusnya dibangun untuk mendukung anggotanya, dan bukan sebaliknya. Seperti negara ada untuk rakyat, dan bukan sebaliknya. 4) Jika para kritikus tak ada yang peduli kepada karya kami, atau menghina-dina, kami akan menjadi kritikus untuk karya teman-teman sendiri. Saya selalu ingat, Muhidin M. Dahlan merupakan “yang paling marah” ketika novel pertama saya Cantik Itu Luka, “dihancurkan” oleh seorang kritikus. Muhidin menulis balasan yang tak kalah sengitnya. Manifesto-manifestoan ini bisa dibikin lebih panjang, dengan pola yang tetap sama. Saya tak ingat siapa yang mencetuskannya, tapi itu hidup di pikiran kami. Buat saya: itu tetap berlaku sampai hari ini. Dan jika saya bisa menyimpulkannya dengan lebih pendek, itu bisa berbunyi: “Jika kesusastraan Indonesia tak memberi tempat untuk kami, kami akan menciptakan ruangan untuk diri kami sendiri.” Saya tak tahu apakah itu sesuatu yang aneh atau tidak. Tapi teman-teman saya mengerti hal ini. Mungkin itulah yang membuat kami merasa nyambung dan nyaman. Di dunia persilatan ada begitu banyak pendekar, tapi hanya segelintir yang bisa dipanggil “saudara seperguruan”. Lebih sering bukan karena jurus yang sama, tapi karena saling memahami bagaimana melihat dunia. Jadi siapa para penulis Indonesia terbaik saat ini? Tentu saja para penulis dari generasi saya. Generasi yang juga bukannya tanpa kelemahan. Kami berisik dan agak pemalas. Tapi: 5) Jika tak ada perahu untuk kami, kami akan belajar membuat rakit, atau cara berenang. Kalau harus tenggelam, kami tenggelam dengan sedikit keangkuhan.

Corat-coret di Toilet dan Hal-hal Lain Tentang Cerpen

Selain menerbitkan novel baru, hal paling membahagiakan untuk saya adalah melihat kembali Corat-coret di Toilet terbit. Bagaimanapun itu buku tipis saya yang istimewa: buku fiksi pertama saya (setahun sebelumnya saya menerbitkan skripsi saya di UGM tentang Pramoedya). Saya jarang membaca ulang karya-karya saya (kecuali terpaksa untuk beberapa kebutuhan, seperti ngedit dan mencocokkan terjemahan), tapi hal ini tak berlaku untuk Corat-coret di Toilet. Saya harus mengakui: buku itu sering saya baca kembali, untuk mengingatkan saya kenapa saya memutuskan untuk menjadi penulis, kenapa menulis merupakan sesuatu yang menyenangkan. Di luar itu, jujur saja, saya menganggap penulis-penulis lain dari generasi saya, melakukan debut karya fiksi mereka (kebanyakan kumpulan cerpen), jauh lebih baik daripada saya. Saya bisa menyebut beberapa kumpulan cerpen debut penulis-penulis yang saya kenal, yang saya rasa sangat istimewa: Kuda Terbang Maria Pinto Linda Christanty, Sihir Perempuan Intan Paramaditha, Perempuan Pala Azhari, Bidadari yang Mengembara A.S. Laksana. Meskipun bukan debut, Filosofi Kopi Dee juga salah satu yang menarik. Dibandingkan karya-karya itu, Corat-coret di Toilet terlihat terlalu sederhana, dengan cerita yang gampang ditebak, ditulis dengan main-main, dengan teknik yang secara sembrono dicuri dari sana-sini (kadang-kadang membacanya kembali saya suka tersenyum lebar dan bergumam, “Ini sangat Dickens, seharusnya aku tak mencuri terlalu terang-terangan, lah.”). Sebenarnya, seperti apa sih kumpulan cerita pendek ideal saya? Sejujurnya saya tak memiliki kriteria khusus, tapi ada beberapa kumpulan cerpen Indonesia, selain judul-judul di atas, yang saya anggap istimewa. Misalnya, Saksi Mata Seno Gumira Ajidarma. Barangkali karena tema dan gayanya, serta tekniknya, yang utuh dalam satu kumpulan. Saya tak pernah melihat yang seperti ini lagi di kumpulan cerpen Seno lainnya. Saya juga ingin merujuk kumpulan cerpen Asrul Sani, Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat. Tak ada tema besar yang mengikat erat cerpen-cerpen itu, tapi kesederhanaan dan leluconnya menyenangkan, bahkan dibaca saat ini pun. Godlob Danarto, barangkali memenuhi hasrat saya mengenai kumpulan cerpen yang utuh, dengan gaya dan teknik yang menyatu. Dengan alasan yang sama, saya juga merujuk ke Cerita dari Blora, Pramoedya Ananta Toer. Ada yang saya lewatkan? Debut Joni Ariadinata, Kali Mati, saya rasa harus dimasukkan ke dalam daftar ini, daftar kumpulan cerpen yang saya sukai dan saya rekomendasikan. Saya tak pernah melihat Joni menulis cerpen-cerpen, atau menerbitkan kumpula cerpen, seberkarakter debutnya ini. Problem utama Joni, saya kira adalah, ia mencoba meniru dirinya sendiri. Itu hal terburuk yang bisa terjadi pada seorang penulis, dan ini banyak terjadi pada penulis lain di sini. Mungkin saya salah, saya tak lagi mengikuti karyanya dalam beberapa tahun terakhir, tapi saya tetap menganggap Kali Mati salah satu kumpulan cerpen terbaik di negeri ini. Ada yang lain? Saya kira ada beberapa yang lain, yang saya lewatkan atau saya lupakan ketika menulis ini. Kembali ke Corat-coret di Toilet, dengan segala kesederhanaan teknik seorang penulis pemula, ditambah kenaifan dan kenekatannya, saya selalu kembali ke buku itu. Sebab hanya di buku itu saya bisa melihat benih-benih hasrat-hasrat kesusastraan saya, yang tak akan pernah saya temukan di karya saya yang lain. Saya tak bisa membayangkan akan menulis lebih bagus dari itu di masa itu. Jika waktu di ulang, saya yakin, saya akan menulis hal yang sama, barangkali dengan ketololan yang sama. Saat ini, bertahun-tahun kemudian (14 tahun tepatnya), saya sudah sangat senang jika seseorang menyukai cerita-cerita itu, dan saya senang melihatnya kembali terbit. Seseorang bilang, itu buku yang bagus. Bahkan ada yang bilang, itu buku kumpulan cerpen terbaik yang pernah dibacanya. Saya rasa ia belum membaca banyak kumpulan cerpen, bahkan untuk ukuran cerpen Indonesia. Ada banyak kumpulan cerpen bagus di kesusastraan kita. Masalahnya, saya pikir, kesusastraan Indonesia tak lagi membutuhkan karya yang bagus. Sudah banyak. Yang benar-benar kita butuhkan adalah karya yang hebat, sebab sekadar bagus sudah tak lagi mencukupi.

Gagasan Kecil Tentang Penerjemahan dari dan ke Bahasa yang Sama

Karena memutuskan untuk lebih banyak membaca karya-karya klasik yang telah berumur paling tidak lebih dari satu abad, saya mulai menemukan buku-buku dengan berbagai versi terjemahan. Tentu saja ini menguntungkan sebagai pembaca, saya bisa memilih dengan berbagai pertimbangan. Meskipun begitu, kadang-kadang saya malah membaca lebih dari satu versi. Misalnya Don Quixote. Pertama kalinya saya membaca terjemahan Bahasa Inggris karya Pierre Antoine Motteux (meskipun terbit pertama kali sekitar 1700, banyak diterbitkan dan karenanya murah. Itu alasan saya dulu membelinya). Beberapa tahun yang lalu, terbit terjemahan baru Don Quixote karya Edith Grossman. Bagi pembaca sastra Amerika Latin, siapa yang tak kenal Edith Grossman? Ia melanjutkan kerja Gregory Rabassa untuk menerjemahkan karya-karya Márquez yang lebih baru, belum termasuk karya-karya penulis Latin lainnya. Saya tak bisa menahan diri untuk tak membaca kembali Don Quixote dalam terjemahan baru. Hal yang sama terjadi pada Arabian Nights (atau kita kenal sebagai Hikayat Seribu Satu Malam). Ada satu terjemahan klasik karya Richard F. Burton (pertama kali terbit tahun 1885, sangat disukai oleh Borges). Hampir sebagian besar penulis Barat membaca Arabian Nights dari versi Burton ini, yang juga merupakan versi yang saya baca (bukan yang pertama, sebab saya pernah membaca versi sederhana dalam Bahasa Indonesia, yang saya lupa terbitan mana). Sebenarnya versi ini sangat lemah dalam aspek orisinalitas. Burton memakai sumber yang berbeda-beda untuk terjemahannya. Beberapa dekade yang lalu, muncul edisi “kritis” (melalui penelitian akademis yang ketat), yang dikenal sebagai “versi teks Leiden” yang dikurasi oleh Muhsin Mahdi. Terjemahan Bahasa Inggris versi ini dilakukan oleh Husain Haddawy (saya rasa terjemahan Bahasa Indonesia ada juga yang mendasarkan versi ini). Saya menyukai versi Husain Haddawy (Volume 1 bisa dibilang yang asli, Volume 2, bisa dibilang untuk menyenangkan hasrat pembaca meskipun cerita-cerita di dalamnya bukan bagian dari Arabian Nights, seperti dongeng tentang Sinbad, dll). Bahasa Inggris Haddawy terasa lebih enak dibaca, tentu karena lebih modern, daripada Burton. Tapi saya masih sering membaca Burton juga karena alasan sederhana: ada cerita-cerita yang ada di Burton tapi tak ada di Haddawy (karena metodologi Burton lemah, sering memasukkan cerita yang bukan Arabian Nights, tapi malah membuatnya jadi menarik), seperti kisah yang saya sukai “The Ruined Man Who Became Rich Again Through a Dream”. Baru-baru ini penerjemah penting Bahasa Jerman ke Inggris, Susan Bernofsky merilis versi baru The Metamorphosis Franz Kafka. Saya lupa sudah baca berapa versi novela ini. Saya bahkan pernah menerjemahkannya (yang saya rasa kualitasnya menyedihkan). Saya tak bisa menahan diri, saya pasti akan membaca versi ini begitu bukunya beredar di pasar. Untuk karya-karya dari Rusia, pasangan penerjemah Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky menjadi bintang terjemahan Bahasa Inggris versi baru dalam belasan tahun terakhir. Saya membaca beberapa karya Gogol dan Nikolai Leskov melalui terjemahan baru mereka (saya menunggu dan berharap mereka mau menerjemahkan kembali Gorky). Dari pengalaman kecil ini saya berpikir, enak sekali ya, jadi pembaca karya-karya terjemahan (terutama Bahasa Inggris, sebenarnya). Ada banyak pilihan dan untuk karya-karya agung, selalu ada versi terjemahan yang segar dalam bahasa yang modern. Tentu selain faktor-faktor kesalahan terjemahan, salah metodologi atau salah sumber, faktor “keusangan” bahasa menjadi sangat penting. Bahasa selalu tumbuh dan berkembang, dengan begitu karya terjemahan juga seringkali memerlukan pembaharuan untuk mengikuti target pembacanya. Bahkan penulis-penulis yang masih hidup pun, beberapa di antaranya memperbaharui terjemahan karyanya (dengan beragam alasan). Misalnya Milan Kundera pernah menyibukkan diri dengan merevisi hampir seluruh karyanya dalam terjemahan Bahasa Inggris. Orhan Pamuk juga mengeluarkan The Black Book dalam versi terjemahan baru. Sekali lagi, kita sebagai pembaca dimanjakan dalam perkara ini. Saya misalnya tak perlu membaca The Divine Comedy dalam terjemahan kuno, sebab ada terjemahan baru yang segar karya Clive James. Atau karya Ryūnosuke Akutagawa (Rashomon and Seventeen Other Stories) yang diterjemahkan kembali oleh salah satu penerjemah Murakami, Jay Rubin. Sialnya, kemewahan ini tak berlaku justru untuk pembaca bahasa asli karya tersebut ditulis. Orang Spanyol, misalnya, tetap membaca Don Quixote dalam Bahasa Spanyol Cervantes abad ke-17, sebagaimana orang Prancis membaca Pantagruel François Rabelais dengan Bahasa Prancis abad ke-18. Dalam kasus kita, kita tetap akan membaca Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat Asrul Sani dalam Bahasa Indonesia generasi 45 (yang untuk banyak anak muda, terasa jadul dan menjadi tembok penghalang). Saya jadi memikirkan gagasan sinting ini: bagaimana jika karya-karya klasik itu diterjemahkan ke bahasa yang sama tapi lebih modern? Tentu kita tahu, banyak beredar karya-karya klasik yang ditulis ulang (dalam bahasa yang sama) agar lebih mudah dibaca. Tapi biasanya itu versi ringkas, atau versi “enak dibaca” untuk para pemula (anak sekolah yang sedang belajar), atau bahkan versi penyederhanaan. Bukan. Maksud saya bukan itu. Maksud saya tetap terjemahan, yang ketat, dengan kualitas yang tinggi, tapi modern. Tidak boleh disadur. Proses yang sama seperti menerjemahkan dari Prancis ke Inggris atau dari Rusia ke Spanyol, tapi kali ini dari Spanyol ke Spanyol atau dari Rusia ke Rusia. Bayangkan saja suatu ketika ada edisi Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat yang “diterjemahkan ke Bahasa Indonesia modern oleh A.S. Laksana”, misalnya. Atau, Don Quixote yang “diterjemahkan ke Bahasa Spanyol modern oleh Javier Marías”. Sekali lagi, gagasan ini mungkin tidak baru, dan terdengar seperti melecehkan karya-karya agung, tapi kenapa tidak? Paling tidak, bagi saya, itu terdengar menyenangkan dan sedikit menantang. UPDATE: Baru membaca soal ini, bahwa novel (konon novel pertama di dunia) Tales of Genji karya Murasaki Shikibu dari abad 11, “diterjemahkan” ke Bahasa Jepang abad 20 oleh penyair Akiko Yosano.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑