“Enam bulan pertama sejak buku saya terbit dalam bahasa Inggris, tak ada ulasan, tak ada berita. Sepi,” kata Sjón dalam obrolan dengan saya di satu kedai di daerah bantaran selatan Brisbane. Ia sedang bercerita tentang novel pertamanya yang terbit dalam bahasa Inggris, The Blue Fox. Nama besarnya di kesusastraan Islandia sama sekali tak memengaruhi pembaca Inggris. Ia mencoba membesarkan hati, berpikir barangkali di novel berikutnya keadaan akan berubah. Buku itu memang diterbitkan oleh penerbit kecil di London, Telegram. Barangkali karena tak ada biaya promosi besar, dan jaringan para pengulas yang terbatas, novelnya seperti lahir untuk terkubur. Saya sendiri mengenalnya sejak sekitar setahun lalu, melalui novelnya yang lain, The Whispering Muse. Di acara pembukaan festival, ketika seorang panitia mempertemukan kami dan ia bilang sedang membaca novel saya, dengan sedikit terkejut saya berkata, “Sjón? Ah, saya baca bukumu!” Ya, saya agak norak jika bertemu penulis yang saya pernah baca bukunya dan saya menyukainya. Kami janjian untuk minum kopi atau sarapan bareng. Sialnya karena jadwal kami sering tabrakan, kami hanya bertemu selewat-selewat. Hingga di malam terakhir, ketika saya merasa bosan, saya keluar hotel untuk sekadar minum di satu kedai. Saya berniat menghabiskan waktu satu-dua jam membaca satu novel Halldór Laxness, seorang penulis Islandia, The Fish Can Sing. Tanpa disangka, saya bertemu si penulis Islandia lainnya di kedai, dari generasi yang tentu saja jauh lebih muda. Akhirnya kami punya kesempatan ngobrol panjang. Dari Knut Hamsun (ia terkejut karena saya bahkan bisa menyebut judul novel Hamsun dalam bahasa Norwegia – cuma judulnya, dan ia berkata, “Wah, kamu benar-benar mengenal Hamsun!”), yang pengaruhnya sangat besar dalam kesusastraan Islandia dan Skandinavia secara umumnya (kecuali barangkali di Norwegia sendiri, hahaha, di mana banyak orang membencinya); melebar membicarakan Laxness (kita seharusnya cemburu, Islandia berpenduduk tak lebih dari 400.000 jiwa tapi bisa menghasilkan penulis sekelas mereka. Laxness memperoleh Nobel Kesusastraan tahun 1955), salah satu “murid” Hamsun; saya bicara tentang Pramoedya Ananta Toer (“Penulis terbesar kami, dan akan selalu merupakan yang terbesar, tak tergantikan”) dan ia bilang ingin membaca Pramoedya; hingga akhirnya ia bercerita tentang pengalamannya ketika novelnya mulai terbit dalam bahasa Inggris, dan selama enam bulan pertama tanggapan atas buku itu sepi saja. Ia menceritakan itu sambil tertawa, barangkali sambil membayangkan bulan-bulan penuh frustasi. Tapi setelah enam bulan itu, ketika si penulis berpikir karyanya tak sanggup membuat pembaca Inggris tersihir, tiba-tiba The Guardian menurunkan satu ulasan panjang atas novel itu. Dan tak tanggung-tanggung, yang mengulas adalah A.S. Byatt, seorang penulis papan atas. Gampang diduga, ulasan-ulasan lain mulai bermunculan dan orang-orang mulai mencari karyanya. Kini, ketiga novelnya yang telah diterjemahkan ke bahasa Inggris terbit di Amerika oleh Farrar, Straus and Giroux, dan tentu saja ia mulai menjadi seorang selebriti dalam kesusastraan kontemporer dunia. Cerita tentang “nasib” Sjón ini membuat saya teringat pada parabel bunga, yang dulu sering saya dengar di kelas filsafat. Parabel itu sebenarnya diceritakan untuk membantu memahami konsep-konsep mengenai “ada” dan “menjadi”, tapi saya rasa bisa juga untuk menjelaskan “nasib” Sjón dan bukunya. Bayangkan ada bunga (katakan mawar yang indah) di tengah hutan. Bunga itu benar-benar indah, tapi masalahnya: tak ada orang yang melihatnya. Bunga itu “ada” sekaligus “tidak ada”. Jika bunga itu memiliki keajaiban, dan bertahan enam bulan, suatu hari barangkali akan ada orang lewat dan menemukannya, mengetahui keindahannya. Seperti A.S. Byatt menemukan The Blue Fox setelah berbulan-bulan. Intinya, sebuah novel tak bisa dibilang buruk hanya karena tak ada yang membicarakannya. Kualitasnya telah “ada”, seperti mawar indah di hutan; tapi sekaligus “tak ada” sampai ada konfirmasi atasnya. Tentu saja ada kemungkinan lain: ada orang lewat melihat bunga mawar itu, tapi ia buta atau tak mengenal konsep indah, maka mawar itu pun tetap tak ditemukan dan terkonfirmasi. Jadi, mungkin saja selama enam bulan itu, The Blue Fox ada yang baca, tapi mereka tak menyadari kualitasnya. Lebih sial lagi: ada yang baca, tahu kualitasnya, tapi tak mau mengatakannya (bisa karena ia tak ingin orang lain tahu). Parabel ini memang aneh, tapi setidaknya bisa dipakai untuk menghibur diri: jika karyamu tak dianggap selama bertahun-tahun, barangkali suatu hari ada yang menemukan dan mengetahui kualitasnya. Kita tanpa sadar sering berpikir dengan cara seperti itu. Tapi tunggu, parabel ini juga bisa diceritakan dengan cara sebaliknya: ada bunga bangkai yang sudah layu, buruk tidak kira; lalu pemilik lahan yang berharap orang datang ke hutannya bercerita ke orang-orang, “Ada bunga indah mekar di lahanku.” Tentu saja ia penipu, tapi ia bisa menciptakan ilusi “ada”, sampai orang mengkonfirmasi kenyataan sebaliknya. Dan yang lebih sering terjadi, kita memiliki bungai bangkai layu yang buruk, dan orang-orang telah melihat bahwa itu memang buruk, tapi kita tetap yakin suatu hari akan ada yang melihatnya dan menganggapnya mawar yang indah. Parabel yang aneh. Saya tak perlu belajar filsafat untuk mengetahui itu berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Tapi menyangkut Sjón, saya sarankan kalian membacanya. Saat ini saya sedang membaca novelnya yang lain, From the Mouth of the Whale. Seperti orang Islandia umumnya, ia sangat mencintai laut. Negeri kita dikelilingi laut, tapi nyaris tak ada penulis kita bicara laut.