• If there is a magic in story writing, and I am convinced that there is, no one has ever been able to reduce it to a recipe…

    – John Steinbeck

    »

Obrolan Singkat Perihal Murakami

Semalam saya berbincang via BBM dengan teman sekaligus senior kuliah saya, Nezar Patria, mengenai Haruki Murakami. Perbincangan singkat ini saya pikir menarik untuk saya bagi di sini, dan saya yakin Nezar tidak akan keberatan. Perbincangan bermula ketika Nezar bilang, ia doyan Murakami ini, sampai-sampai terikut cara berpikirnya. Tentu saja saya bertanya, cara berpikir apa?

Menurutnya, Murakami selalu masuk ke jagat batin tokohnya, tapi terus keluar dan kadang menegasinya. Dia liberal, tapi sebetulnya protes pada kemunafikan. Dia selalu jujur dalam menilai. Mengenai kemampuannya untuk keluar-masuk pikiran tokohnya, seolah-olah menyepakati pikiran mereka, tapi di saat-saat tertentu menapikannya, saya pikir kita bisa bersepakat.

Baca selengkapnya …

Menulis Novel Bersama Mario Vargas Llosa

Hari ini, 10 Desember 2010, Mario Vargas Llosa memperoleh anugerah Nobel Kesusastraan dari Akademi Swedia. Saya ingin berbagi bacaan saya atas bukunya, “Letters to a Young Novelist”. Seperti terlihat dari judulnya, buku ini bicara tentang proses dan pikiran-pikirannya mengenai penulisan novel. Saya pikir, ini akan sangat berguna bagi siapa pun yang tertarik untuk menjadi penulis novel, muda maupun tua.

Sebagaimana kebanyakan penulis lain, di masa awal karirnya, Llosa sangat ingin menulis surat kepada sastrawan-sastrawan besar yang dikaguminya: Faulkner, Hemingway, Malraux, Dos Passos, Camus, Sartre. Tentu saja ia ingin meminta nasihat: bagaimana sih menjadi seorang penulis? Ia tak pernah memiliki keberanian mengirimkan surat kepada mereka. Ia menyadari banyak penulis muda mengalami hal seperti dia. Maka ketika ada seseorang yang memiliki keberanian mengirim surat dengan pertanyaan semacam itu, Llosa dengan senang hati membalasnya. Buku ini merupakan isi dari surat-surat mengenai bagaimana menjadi penulis tersebut.

Baca selengkapnya …

Wikileaks, Rahasia Negara, dan Suami yang Selingkuh

Negara, sebagai kontrak bersama, tak semestinya menyembunyikan sesuatu. Apa yang disebut “rahasia negara”, seringkali tak lebih dari “rahasia pemerintah”. Karena negara ini milik bersama, segala sesuatu mestilah terang-benderang: anggaran belanja, persenjataan, undang-undang, rencana jangka panjang, rencana jangka pendek, perjanjian, dan lain-lain.

Saya ingin membuat perbandingan. Katakanlah hidup bernegara bagaikan hidup berkeluarga. Andaikan si suami diam-diam memiliki istri simpanan, tentu saja si suami akan merahasiakan istri simpanan dari istri resminya. Itu rahasia. Pada dasarnya ia sudah beritikad tidak baik dengan mengabaikan transparansi keluarga. Tapi kita bisa memahaminya, kenapa ia memilih menyimpan rahasia itu. Sampai di sini serasa tak ada masalah, selama si istri belum tahu. Tapi apa yang terjadi jika rahasia itu bocor? Siapa yang salah, yang membocorkan rahasia atau si pemilik rahasia? Bagi saya sudah jelas: si pembocor rahasia tak bersalah, ia mengungkapkan kebenaran. Si pemilik rahasia salah dua kali. Yang pertama salah karena telah mengkhianati ikrar pernikahan, yang kedua salah karena menyimpan rahasia. Dan si pemilik rahasia juga dungu: membiarkan rahasianya bocor.

Oh ya, omongan ini tentu saja ada hubungannya dengan berita aktual akhir-akhir ini: Wikileaks. Tentu saja bocornya kabel diplomatik ini memang urusan Amerika, meskipun pada dasarnya juga urusan semua negara. Banyak fakta-fakta mencengangkan. Kita belum melihat data apa yang bakal bocor mengenai Indonesia-Amerika . Tapi yang mencengangkan adalah dahsyatnya sambutan Amerika dan perusahaan-perusahaan besar atas Wikileaks. Mereka bagaikan suami yang ketahuan selingkuh: mengamuk orang yang membocorkannya, tak sadar dengan kedunguannya sendiri.

Baca selengkapnya …

  • I suspect that there is no serious scholar who doesn’t like to watch television. I’m just the only one who confesses.

    - Umberto Eco, wawancara di The Paris Review

    1 Pesan

Mari Menanti Film “Norwegian Wood”

Jika ada film yang saya tunggu bulan ini, itu tak lain dari “Norwegian Wood”, sebuah film adaptasi dari novel Haruki Murakami. Saya pertama kali berkenalan dengan karya Murakami melalui cerita pendek berjudul “Thailand” yang dimuat di majalah Granta (kalau tak salah tahun 2001). Sejak itu saya membaca hampir semua novelnya (yang tersedia dalam bahasa Inggris dan Indonesia). “Norwegian Wood” pasti bukan novel Murakami yang paling saya sukai, tapi untuk sebuah film, barangkali ini novelnya yang paling “bisa diadaptasi”.

Film ini akan disutradari oleh sutradara Vietnam-Prancis Tran Anh Hung, yang butuh empat tahun (2004-2008) untuk membujuk Murakami agar mengizinkannya mengadaptasi novel tersebut. Oh ya, tokoh Naoko akan diperankan oleh Rinko Kikuchi (itu tuh, yang main di film “Babel”). Film ini sendiri akan dirilis di Jepang bulan Desember ini. Nah kapan, atau apakah akan dirilis di Jakarta, mari kita tunggu.

Cantik itu Luka