Nonton Sandiwara Sunda Miss Tjitjih

Sudah lama mendengar reputasi Sandiwara Miss Tjitjih, saya belum kesampaian menonton pertunjukan mereka. Alasan terbesar barangkali rasa malas yang keterlaluan. Maka ketika saya dengar kelompok ini akan membuka Festival Teater Jakarta di TIM, saya memutuskan untuk menonton. Tak peduli di malam yang sama tim sepakbola Indonesia bermain di Senayan. Saya akan menonton Miss Tjitjih, meskipun itu di luar kandang mereka (mereka punya gedung sendiri: Gedung Kesenian Sunda Miss Tjitjih, Cempaka Baru Timur, Jakarta Pusat).

Nama kelompok ini berasal dari pendirinya, Miss Tjitjih, aktor sandiwara terkenal di tahun 30an (yup, zaman kolonial!). Ia meninggal muda, tapi kelompoknya tetap bertahan. Bahkan sampai hari ini! Menonton sandiwara mereka dengan cepat mengingatkan masa kecil saya. Umur belasan, di Pangandaran, saya masih sering menonton sandiwara Sunda macam begitu, di gedung pertunjukan yang sering disebut “tobong”.

Baca selengkapnya …

  • If there is a magic in story writing, and I am convinced that there is, no one has ever been able to reduce it to a recipe…

    – John Steinbeck

    »

Obrolan Singkat Perihal Murakami

Semalam saya berbincang via BBM dengan teman sekaligus senior kuliah saya, Nezar Patria, mengenai Haruki Murakami. Perbincangan singkat ini saya pikir menarik untuk saya bagi di sini, dan saya yakin Nezar tidak akan keberatan. Perbincangan bermula ketika Nezar bilang, ia doyan Murakami ini, sampai-sampai terikut cara berpikirnya. Tentu saja saya bertanya, cara berpikir apa?

Menurutnya, Murakami selalu masuk ke jagat batin tokohnya, tapi terus keluar dan kadang menegasinya. Dia liberal, tapi sebetulnya protes pada kemunafikan. Dia selalu jujur dalam menilai. Mengenai kemampuannya untuk keluar-masuk pikiran tokohnya, seolah-olah menyepakati pikiran mereka, tapi di saat-saat tertentu menapikannya, saya pikir kita bisa bersepakat.

Baca selengkapnya …

Cantik itu Luka