• 3-01-2011 »
    Meskipun telat 2 hari, saya ucapkan selamat tahun baru 2011. Ada target-target tahun 2010 yang dengan sedih harus saya akui gagal, tapi ada juga yang berhasil dan saya bersyukur untuk hal ini. Semoga tahun 2011 sisa-sisa utang target tahun lalu bisa diselesaikan, dan kesehatan serta kebahagiaan dilimpahkan untuk kita semua. Amin.
    »

Let The Right One In: Vampir Sebagai Bukan Liyan

Vampir, tak bisa disangkal merupakan penemuan kesusastraan yang aduhai. Saya penggemar cerita-cerita bagus tentang vampir (di novel maupun film), meskipun saya tak tahu sejak kapan makhluk ini muncul dalam kesusastraan. Tentu saja banyak novel dan film tentang vampir yang jelek. Novel terbaru tentang vampir yang baru saya selesaikan baca, berjudul “Let The Right One in”, karya John Ajvide Lindqvist, seorang penulis Swedia.

Ini boleh saya bilang sebagai kisah vampir modern. Untuk mengerti apa yang saya maksud sebagai “kisah vampir modern”, mungkin saya harus memberi bandingan dengan novel lain, katakanlah (pasti kenal) “Dracula” karya Bram Stoker, sebagai “kisah vampir klasik”. Kedua istilah itu bolehlah diganti-ganti sesukanya, karena saya menyebutnya secara asal saja, hanya untuk membedakan yang satu dengan yang lain.
Baca selengkapnya …

Nonton Sandiwara Sunda Miss Tjitjih

Sudah lama mendengar reputasi Sandiwara Miss Tjitjih, saya belum kesampaian menonton pertunjukan mereka. Alasan terbesar barangkali rasa malas yang keterlaluan. Maka ketika saya dengar kelompok ini akan membuka Festival Teater Jakarta di TIM, saya memutuskan untuk menonton. Tak peduli di malam yang sama tim sepakbola Indonesia bermain di Senayan. Saya akan menonton Miss Tjitjih, meskipun itu di luar kandang mereka (mereka punya gedung sendiri: Gedung Kesenian Sunda Miss Tjitjih, Cempaka Baru Timur, Jakarta Pusat).

Nama kelompok ini berasal dari pendirinya, Miss Tjitjih, aktor sandiwara terkenal di tahun 30an (yup, zaman kolonial!). Ia meninggal muda, tapi kelompoknya tetap bertahan. Bahkan sampai hari ini! Menonton sandiwara mereka dengan cepat mengingatkan masa kecil saya. Umur belasan, di Pangandaran, saya masih sering menonton sandiwara Sunda macam begitu, di gedung pertunjukan yang sering disebut “tobong”.

Baca selengkapnya …

Cantik itu Luka