Tempat Kerja

Mau ngintip tempat kerja saya? Ini dia! Ini ruangan atas. Rencana awalnya memang buat tempat bekerja, tapi sampai hari ini belum sempat beres-beres. Beberapa buku masih di kardus, kekurangan rak. Bahkan masih ada dua kardus buku di bagasi mobil. Tapi tidak masalah, saya tetap suka ruangan ini, asal ada buku-buku! Lagipula mengingatkan saya zaman ngekost waktu mahasiswa, hehehe. Lengkap dengan kasur lipat, tape rusak yang saya pakai untuk mendengarkan radio, dan laptop tergeletak. Saya punya poster Gunter Grass gede, mau saya tempel di dinding. Menggantikan poster Axl Rose yang zaman kuliah sering saya pajang, hahaha.

Menunggu Jandamu

The Museum of Innocence
Orhan Pamuk

Setiap benda senantiasa memiliki cerita. Bahkan di novel The Stones Cry Out karya Hikaru Okuizumi, diperlihatkan bagaimana bebatuan, yang berharga maupun yang biasa-biasa saja, pun mewakili sebuah cerita. Baik mengenai dirinya sendiri, maupun hubungannya dengan orang atau benda-benda lain. Premis semacam itulah yang rupanya dipergunakan juga oleh Orhan Pamuk dalam novel
The Museum of Innocence.

Jika cerita merupakan rangkaian kejadian, yang ditandai oleh deretan Waktu, maka kumpulan benda-benda itu bisa kita sebut sebagai “Waktu yang menjelma Ruang”. Bukankah demikian hakikat sebuah museum? Di salah satu halaman novel ini, kalimat tersebut eksplisit disebutkan. Bahkan melalui karakter utama Kemal, novel ini menyajikan sejenis esai (sebenarnya novel ini secara keseluruhan bisa dibilang merupakan sejenis esai) mengenai Waktu.
Baca selengkapnya …

Beberapa Point Kenapa Saya Tak Sepakat dengan Vandalisme Terhadap Karya Sastra

“Amerika tak selalu hebat lho dalam hal kebebasan berpendapat.”
Masalahnya bukan “kebebasan berpendapat”, tapi “politically incorrectness”. Bahkan di Pippi Longstocking-nya Astrid Lindgren istilah “negro” dan “gipsy” dihapus. Baca:
http://diepresse.com/home/panorama/integration/579386/Kein-Negerkoenig-mehr-b… Maaf, dalam Bahasa Jerman. Tapi ringkasannya “Tidak ada istilah raja orang negro lagi dalam buku Pippi Longstocking. Penerbit menghapus istilah-istilah rasis yang digunakan dalam buku cerita anak-anak itu.” Jaman berganti, pemikiran berubah (menjadi maju/luas). Kita tidak mau menggunakan istilah-istilah rasis, toh? Sama seperti istilah “pribumi” di Indonesia yang sekarang sudah dianggap “politically incorrect”. Kebebasan pendapat boleh saja, tapi jangan menyakiti hati orang lain.
(Kutipan dari komentar Sumire atas posting saya tentang penghilangan kata “Nigger” di satu edisi Huckleberry Finn).

Karena balasannya tidak ringkas, saya akan menanggapinya dalam satu posting saja. Ini beberapa point kenapa saya tak sepakat dengan vandalisme karya sastra.

Baca selengkapnya …

  • 7-01-2011 »
    Karya klasik Mark Twain “Adventures of Huckleberry Finn” diterbitkan kembali dalam edisi disensor. Apa yang disensor? Tak lain adalah kata “Nigger” (diganti jadi “slave”). Memang di Amerika kata itu jadi sejenis tabu, menilik sejarah rasialis mereka. Tapi sensor dan vandalisme ini bagi saya sangat memalukan. Eh, pelajaran pentingnya: Amerika tak selalu hebat lho dalam hal kebebasan berpendapat. Buktinya? Ya ini! Huckleberry Finn aja kena sensor. Lebih lengkap soal ini, sila baca di sini.
    3 Pesan

Kidung Kinanti

Ini foto pertama Kidung Kinanti Kurniawan, anak pertama kami (saya dan Ratih Kumala). Lahir hari ini 3 Januari 2011. Salam untuk semuanya, Oom, Tante! ^.^

Foto-foto Kidung Kinanti bisa ditengok di sini.

  • 3-01-2011 »
    Telah lahir bayi perempuan kami, 3 Januari 2011, di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah, Ciputat, pukul 14.33 siang tadi. Ini anak pertama kami. Terima kasih untuk doa dan ucapan selamatnya.
    3 Pesan
Cantik itu Luka