Tilang dan Soal Keadilan
Jika tak salah ingat, saya cuma sekali di”prit” polisi. Beberapa tahun lalu, pakai motor melewati pertigaan. Karena jalan saya lurus (ada jalan lain ke kanan), saya pikir saya bisa menerobos lampu merah (seperti belok kiri jalan terus). Kalau tak salah ingat juga, saya harus membayar seratus ribu rupiah. Lumayan bikin kesel juga, sih. Setelah itu belum pernah kena stop polisi lagi. Saya selalu berusaha tertib di jalan raya. Jika pun saya melanggar, itu pasti enggak sengaja.
Selama enam bulan terakhir, setelah pindah rumah, saya nyetir dari Ciputat ke Mampang. Anda tahu, sepanjang jalan Mampang, mau pagi atau sore, bahkan kadang sampai tengah malam, sering macet banget. Dan di sepanjang jalan itu ada jalur Transjakarta, yang disebut Busway itu. Jalur tersebut mestinya steril, hanya boleh dilalui Transjakarta. Ambulance mungkin boleh. Tapi yang lain-lain jelas enggak boleh. Saya selalu menghindari jalur steril itu, dengan sabar mau terjebak di kemacetan (solusinya sih, saya berusaha lewat jalur itu siang hari dan lewat jam 9 malam, agar tidak kena macet parah). Tapi percayalah, selama melewati jalur itu, sering banget saya lihat mobil pribadi menerobos jalur busway. Tapi dua yang paling sering adalah: metromini dan … mobil mewah!
Gabriel Garcia Marquez: Kalimat Pertama Merupakan Laboratorium

The Fragrance of Guava
Gabriel Garcia Marquez & Plinio Apuleyo Mendoza
Banyak orang tentu bertanya-tanya, seperti apa proses kreatif di balik penulisan novel-novel besar semacam “One Hundred Years of Solitude” dan “Love in the Time of Cholera”? Sepanjang yang saya tahu, Gabriel Garcia Marquez sang penulis belum pernah menerbitkan sejenis buku “proses kreatif penulisan”-nya. Pikiran-pikirannya tentang itu lebih banyak berserak di berbagai buku (misal, di memoarnya “Living to Tell the Tale”) atau wawancara-wawancaranya di media. Salah satu yang menarik, adalah wawancara dengan yuniornya, Plinio Apuleyo Mendoza, yang kemudian dibukukan dengan judul “The Fragrance of Guava”.
Saya ingin berbagi pandangan-pandangan Marquez tentang penulisan di buku itu. Tentu saja percakapan di buku ini meliputi berbagai aspek kehidupan Marquez. Ia bicara mengenai asal-usul dan keluarganya, yang tentu saja jauh lebih lengkap jika kita membaca memoarnya; bicara tentang pandangan-pandangan politiknya, tentang perempuan, tentang tahayul, dan tentang ketenaran. Tapi saya ingin mengambil satu aspek yang penting untuk kita: mengenai proses kreatif penulisannya.
Baca selengkapnya …
Cinta (Tak) Ada Mati
Baca resensi lainnya · Beli Sekarang ·
Kembali saya mengulas soal judul di atas. Semata-mata karena saya sangat mengagumi pilihan kata dari teman saya, Eka Kurniawan yang suka menyulap kata-kata Indonesia sehari-hari menjadi bahasa yang maha dahsyat. Judul bukunya adalah Cinta Tak Ada Mati, berkisah tentang seorang lelaki yang sedemikian mencintai seorang perempuan, namun tak sampai akibat pernikahan sang perempuan dengan lelaki lain. Bahkan sampai akhir hayat si perempuan, si lelaki rela mencium bibir suami perempuan tersebut hanya untuk mencari sisa-sisa bibir perempuan yang ia cintai di bibir si suami.
Mski saya sempat memprotes logika yang dipakai oleh Eka saat bertemu di sebuah kedai buku di bilangan Pondok Indah kira-kira setahun yang lalu, dalam hati saya sangat mengagumi pilihan bahasanya yang sekali lagi, maha dahsyat. Menurut saya, tidak ada seorang pun yang dapat merasakan Cinta Tak Ada Mati. Menurut saya seharusnya dipakai symbol kurung untuk kata “Tak”, menjadi Cinta (Tak) Ada Mati. Jadi hanya sebentar saja orang bisa merasakan cinta yang tiada mati, namun seringkali cinta tersebut mati juga bahkan saat cinta itu masih berada di samping kita. Eka hanya tertawa mendengar komentar saya. Baca selengkapnya …
“This is a message from Muhammad ibn Abdullah, as a covenant to those who adopt Christianity, near and far, we are with them.
Verily I, the servants, the helpers, and my followers defend them, because Christians are my citizens; and by God! I hold out against anything that displeases them.
No compulsion is to be on them. Neither are their judges to be removed from their jobs nor their monks from their monasteries. No one is to destroy a house of their religion, to damage it, or to carry anything from it to the Muslims' houses.
Should anyone take any of these, he would spoil God's covenant and disobey His Prophet. Verily, they are my allies and have my secure charter against all that they hate.
No one is to force them to travel or to oblige them to fight. The Muslims are to fight for them. If a female Christian is married to a Muslim, it is not to take place without her approval. She is not to be prevented from visiting her church to pray. Their churches are to be respected. They are neither to be prevented from repairing them nor the sacredness of their covenants.
No one of the nation (Muslims) is to disobey the covenant till the Last Day (end of the world)."
- Prophet Muhammad's Promise to St. Catherine, 628 AD
»
Terjemahan Melayu “Cantik itu Luka”
Buat yang penasaran seperti apa novel “Cantik itu Luka” diterjemahkan ke bahasa Melayu (Malaysia), ini contoh dari pembukaan bab pertama:
Petang pada hujung bulan Mac, Dewi Ayu bangkit semula dari kubur setelah 21 tahun kematiannya. Seorang budak gembala terjaga dari tidur siang di bawah pohon kemboja, kencing di seluar pendek sebelum memekik dan keempat-empat ekor kambingnya lari antara batu dengan kayu nisan tanpa arah bagaikan dikejar seekor harimau. Semuanya bermula dari kubur tua, dengan nisan tanpa nama dan rumput setinggi lutut. Semua orang mengenalinya sebagai kubur Dewi Ayu. Ia mati pada umur 52 tahun, hidup lagi setelah 21 tahun mati dan kini hingga seterusnya tak ada orang yang tahu bagaimana menghitung umurnya.
Menulis Novel Itu Seperti Seks
Saya memikirkan ini ketika sedang mendengarkan sebuah lagu. Pola bait lagu ini umum saja: A-A-B-A-B-C-A-B-D, dengan B sebagai refrain lagu dan C sebagai bridge dan D sebagai outro. Banyak lagu pop memakai pola ini, tapi baiklah, yang saya dengarkan adalah “Bad Day” yang dinyanyikan Daniel Powter. Bayangkan pola bait lagu ini sebagai seks, dengan refrain sebagai titik orgasme. Pertanyaannya, kenapa di awal ada pola A-A-B? Inilah bayangan saya: refrain lagu ini enak sekali. Menggelora. Meledak. Jika ini orgasme, kita tahu kita ingin menahannya dulu. Ingin mengulur waktu. Agar ia meledak lebih keras. Begitulah kenapa lagu ini dibuka dengan A-A (tahan) lalu B (refrain). Pola berikutnya kita sudah merasakan orgasme ini, kita ingin mengulangnya. Kita tak perlu mengulur waktu lebih lama, sebab jika terlalu lama, percintaan barangkali akan jatuh menjadi membosankan. Maka cukup A-B. Selepas itu, para pecinta barangkali akan lelah. Ia memerlukan “bridge”. Ia memerlukan pola nada yang sedikit berbeda, dengan tempo yang lebih turun. Saling manja, saling mengambil napas, saling mencoba membangkitkan kembali gairah. Dan akhirnya mulai bercinta lagi. A lagi. Dan kembali orgasme. B. Refrain. Setelah itu “outro”, saling cium, saling peluk, dengan napas tersengal. Sebelum tidur kelelahan. Dan saya pikir, ini juga bisa berlaku dalam penulisan novel …
Baca selengkapnya …
