Apakah Para Pejabat Ditakdirkan untuk Bego?
Foto oleh: A National Acrobat, Some rights reserved.
Malam ini, dengan terpaksa saya mendownload semua file yang saya simpan selama sepuluh tahun terakhir di Yahoo Briefcase. Sambil melakukan itu, saya browsing dan menemukan satu tulisan lucu di sebuah blog. Saya kutipkan kembali di sini, sebab ini mengingatkan saya kepada peristiwa yang saya alami sekitar dua belas tahun lalu.
Baca selengkapnya …
Obama’s Quote
To the Muslim world, we seek a new way forward, based on mutual interest and mutual respect. To those leaders around the globe who seek to sow conflict, or blame their society’s ills on the West — know that your people will judge you on what you can build, not what you destroy. To those who cling to power through corruption and deceit and the silencing of dissent, know that you are on the wrong side of history; but that we will extend a hand if you are willing to unclench your fist.
- 22-12-2008 · “Let’s face it, after Pramoedya, we don’t have a world-class author the equal of Haruki Murakami, Mo Yan or Orhan Pamuk.” Itu memang komentar saya. Dikutip oleh Richard Oh untuk kolomnya di JakartaGlobe, berjudul “Why Aren’t More Indonesian Literary Works Being Published Abroad?”. (2 Pesan)
- 21-12-2008 · di simpang lampu merah ini, ke arah menuju barat, masihkah belok kiri jalan terus? di belakang ada kemilau subuh, dengan warna emasnya yang selalu begitu. (Tinggalkan Pesan)
Introduction to ‘Graffiti In The Toilet’
(By Benedict R. O'G. Anderson, Journal "Indonesia", Volume 86.)
At the age of only thirty-two, the Sundanese Eka Kurniawan is without any doubt the most original, imaginative, profound, and elegant writer of fiction in Indonesia today. If anyone has a chance of filling the aerie in Indonesian literature left empty with the death of Pramoedya Ananta Toer, it is he. It is no accident that his first book, published in 1999, Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, is by far the best work, admiring and critical at the same time, on the master written by an Indonesian. Traces of Pram are visible everywhere in his fiction, yet Eka, born into another culture and in another, gloomier epoch, writes in an inimitable manner, which is immediately recognizable in any paragraph. Over the last six years, he has published two outstanding novels, the enormous if unwieldy Cantik itu … Luka (Beauty is … a Wound) in 2002, and the fiercely dense Lelaki Harimau (Man-Tiger) in 2004. In 2005 he published his first collection of short stories, Cinta Tak Ada Mati (No Death for Love), and, in the same year, a second collection, Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya (Sad Laughter and Other Tales), from which the story translated below has been drawn.
Baca selengkapnya …
Graffiti In The Toilet
(Translated by Benedict R. O'G. Anderson, Journal "Indonesia", Volume 86)
John 19:22: “Pilate answered, What I have written I have written.”
He pushed open the door of the toilet, enjoying the smell of still fresh paint. Then he closed the door, locked it from the inside, and, a few moments later, standing in front of the toilet-hole, undid his pants.1 With a hiss, the liquid sprayed down into the hole, giving off an ammoniac scent. The kid smacked his lips, grinning with satisfaction. When he was done, he shook what he was holding in his hand and bathed it with a few splashes from the dipper, tossing the rest of the water down into the hole. Then buttoned up.
Baca selengkapnya …
- 9-12-2008 · Foto-foto kami dari perjalanan singkat ke Tokyo, di Flickr.com. Terima kasih buat teman-teman yang menemani kami jalan-jalan di sana! (Tinggalkan Pesan)
Oleh-oleh Buku (Bekas)
(Catatan dari Tokyo (3))
Seperti pergi ke manapun, saya selalu menyempatkan diri pergi ke toko buku, terutama keluar-masuk toko buku bekas. Selama di Tokyo, setiap kali saya jalan dan menemukan toko buku bekas, pasti saya masuk. Tapi kali ini saya tak begitu banyak membeli buku. Pertama, karena sangat jarang buku berbahasa Inggris (berbahasa Jepang sih melimpah). Kedua, jika dibandingkan di tempat lain, harga buku di Jepang hampir satu setengah hingga dua kali lipat di tempat lain.
Meskipun begitu, saya sempat gembira ketika mengunjungi Tokyo University, saya menemukan sebuah toko buku bekas. Toko itu mengingatkan saya pada toko Jose Rizal di Taman Ismail Marzuki, tapi dengan penataan yang lebih rapi dan cahaya lebih terang. Pemiliknya juga seorang lelaki tua yang ditemani istrinya. Sebagian besar buku berbahasa Jepang (tapi saya bisa mengira-ngira, sebagian besar buku sastra dan kajian), tapi saya menemukan dua buku berbahasa Inggris yang langsung saya beli.
Baca selengkapnya …
“Malam Seribu Bulan” di Tokyo University of Foreign Studies
(Catatan dari Tokyo (2))

Seminar di Tokyo University of Foreign Studies. Foto oleh Ratih Kumala.
Hari-hari saya berada di Tokyo semakin cerah. Hanya sekali hujan turun, yakni malam ketika saya usai mengikuti seminar. Di luar yang saya kira, seminar itu bukan bagian dari seminar yang lebih luas; tapi benar-benar merupakan seminar sehari.
Ada lima orang di forum yang membicarakan novel saya. Pertama, Pak Toru Aoyama yang berlaku sebagai tuan rumah sekaligus moderator. Terus ada Shiho Sawai, peneliti Jepang yang memberikan konteks mengenai kesusastraan Indonesia. Terus ada kritikus sastra Jepang yang mengulas novel Bi wa Kizu (Cantik itu Luka). Dua lainnya adalah saya dan penerjemah untuk saya.
Baca selengkapnya …
Melihat Gadis Manga di Shibuya
(Catatan dari Tokyo (1))
Sudah tiga hari saya dan Ratih berada di Tokyo. Acara utama kami baru akan dilakukan siang ini. Saya diundang ke Tokyo University of Foreign Studies – TUFS – untuk membicarakan novel ketiga saya Malam Seribu Bulan, baru akan terbit awal tahun depan.
Pengundang saya adalah Prof. Toru Aoyama. Ia tampaknya, sebagaimana diberitahu teman saya yang bekerja di NHK, mengepalai pusat studi mengenai sastra, Islam, dan Asia Tenggara. Seminar kami pun ada hubungannya dengan pusat studi tersebut.
Baca selengkapnya …

