Realisme Sosialis a-la Pramoedya

oleh Nur Mursidi, guebisa.com

Siapa tak kenal dengan Pramoedya Ananta Toer? Seperti dikemukakan A Teeuw ia adalah sastrawan, penulis cerita dan pengarang prosa Indonesia nomer wahid dan tanpa saingan dalam abad ke-20. Selain itu, ia adalah satu-satunya sastrawan Indonesia yang pernah dicalonkan untuk mendapatkan hadiah Nobel di bidang sastra. Ungkapan A, Teeuw dan pencalonan terhadap dirinya itu, sebenarnya tidaklah berlebihan.

Karena karya-karya yang lahir dari pena sastrawan kelahiran Blora, 6 Februari 1925 itu memang mampu membuat pembaca terpukau dan berdecak kagum. Hampir setiap karyanya, setidaknya bisa kita dilihat adanya nuansa kemanusiaan yang cukup kental dan itu diusung Pramoedya dengan piawai sehingga pembaca bisa-bisa akan menangis tatkala membacanya.
Baca selengkapnya …

Quo Vadis Kritik Sastra?

Krisis sastra, ya? Untuk kesekian kali kita selalu mendiskusikan sesuatu yang nggak nyambung. yang satu menganggak sastra kita mengalami krisis karena toh dari dulu sampai sekarang tak muncul pembaharuan macam apa pun, kalau pun ada hanya segelintir orang. sementara yang lain menganggap tak ada krisis karena puisi dan cerpen dan novel terus diproduksi. apakah diskusi semacam itu akan nyambung? Kedua pihak berdiri berdasarkan patokan yang berbeda, seumur hidup kupikir nggak bakal ketemu.

Jadi, bagaimana jika kita akhiri diskusi semacam itu, dan mengajukan pertanyaan yang lebih maju: apakah sastra kita sudah bermutu atau tidak? Untuk menyamakan persepsi, baiklah kita ambil patokan sastra dunia (idealnya memang begitu, kan?) sebagai ukuran. sejauh mana sastra kita diterima publik sastra dunia? Dalam hal ini kita seharusnya tak ngomongin soal karya-karya yang sekedar diterjemahkan (beberapa karya diterjemahkan sekedar merupakan proyek mercu suar saja, kan?), tapi juga melihat bagaimana tanggapan pasar terhadap karya tersebut. Mana karya kita yang direview oleh media sastra internasional, dicetak ulang, sold out, sebagaimana karya-karya penulis Amerika Latin, penulis India, bahkan penulis Afrika?
Baca selengkapnya …

Gruppe 47 dan Grass

The Tin Drum
Gunter Grass

Salah satu yang menjadi inspirasi dibuatnya situs Bumi Manusia adalah kelompok sastrawan yang menamakan dirinya Gruppe 47 di mana Gunter Grass pernah menjadi anggotanya.

Selain sebagai novelis, Grass merupakan seorang penyair, penulis naskah drama, pematung dan desainer grafis (gambar si kecil Oscar sedang membawa genderang kaleng yang berwarna hitam-merah di cover The Tin Drum, kalau nggak salah, dia sendiri yang buat).

Selain dikenal dengan cerita-ceritanya yang fantastik (sering disejajarkan dengan Gabriel Garcia Marquez, misalnya cerita si Oscar yang bisa menggerakkan benda-benda dari kejauhan (dalam The Tin Drum), ia juga dikenal dengan gaya fabelnya (lihat novel From the Diary of a Snail “Dari Catatan Harian Seekor Siput”).
Baca selengkapnya …

Sastra Internet

Adakah sastra internet? Sebagaimana sejarah telah membuktikan, setiap penemuan media baru, revolusi besar-besaran muncul dalam proses kreatif sastra. Saat ditemukannya kertas, lalu mesin cetak dan teknologi penjilidan buku, tradisi sastra lisan bergeser ke sastra tulis. Meskipun pada awalnya kertas dipandang tak lebih dari alat pendokumentasian sastra tulis yang selama ini diceritakan dari mulut ke mulur, namun penemuan bari juga dimunculkan oleh tradisi sastra tulis: novel yang berkembang sejalan dengan penemuan buku dan cerita pendek lebih berkembang dengan munculnya penemuan terbitan berkala.

Kenapa novel muncul ketika ada teknologi buku? Karena, sebelum ditemukannya kertas dan mesin cetak dan penjilidan buku, sastra diceritakan secara lisan. Untuk memudahkan mengingat, cerita biasanya pendek sehingga mudah diceritakan ulang. Dalam tradisi dongeng yang panjang, selalu ada dua kemungkinan: cerita panjang itu ternyata merupakan cerita berbingkai di mana ada lusinan atau puluhan cerita pendek-pendek di dalamnya (misalnya Kisah Seribu Satu Malam), atau cerita panjang itu dibuat dalam bentuk lirik sehingga lebih mudah dihapal (misalnya Mahabarata dan Ramayana).
Baca selengkapnya …

Merayakan Kembali Kekuatan Dongeng

oleh Kurniawan, detik.com

Kekuatan dari sebuah cerita pendek (cerpen) adalah kemampuannya untuk melukiskan seringkas mungkin sebuah peristiwa secara padu dalam ruang sempit yang tersedia. Cerpen-cerpen Eka Kurniawan yang dikumpulkan dalam buku Corat-coret di Toilet ini nampak mampu memanfaatkan ruang yang terbatas tersebut. Meski, dalam beberapa cerpennya, Eka masih belum cukup hemat dalam menyusun kalimat dan membangun cerita.

Misalnya, dalam “Kisah dari Seorang Kawan” yang berbentuk cerita berbingkai. Bingkainya adalah kisah percakapan beberapa aktivis mahasiswa tentang orangtua masing-masing. Inti cerpen ini adalah kisah seorang mahasiswa tentang ayahnya yang pedagang beras kecil tapi dipenjara karena membunuh seorang pedagang besar yang berhasil menguasai pasar beras dan merebut pelanggan-pelanggan para pedagang kecil itu.
Baca selengkapnya …

Ideologi Koran Sastra dan Pramoedya

oleh Mulyadi J. Amalik, Sriwijaya Post

Perdebatan ideologi antara kubu Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dengan kubu Manifes Kebudayaan (Manikebu) tidak bisa dilepaskan dari peran koran atau majalah sastra. Dalam konteks ini, tentu saja koran/majalah pada masa itu (1960-an) yang bersifat partisan terhadap ideologi atau partai tertentu secara tegas.

Pramoedya Ananta Toer adalah pengelola halaman sastra koran Bintang Timur – rubrik Lentera – yang merupakan ujung panah kubu Lekra, di mana koran tersebut merupakan koran partisan PKI. Di rubrik Lekra itulah, Pram dan kawan-kawannya mempromosikan kredo sastra realisme sosialis. Kelompok Manifes yang diporoskan pada HB Jassin dan Wiratmo Soekito, mengelola majalah Sastra, menganut humanisme universal dan bersikap non-partisan terhadap partai-partai yang ada. Soal pratisan dan non-partisan inilah yang kemudian menjadi titik debat berikutnya berkaitan dengan pers dan sastra perlawanan. Intinya, kubu Lekra menuntut kejelasan ideologi yang memihak rakyat, sedangkan kubu Manifes menganggap, “Setiap sektor kebudayaan tidak lebih penting dari sektor yang lain, dan karenanya harus berjuang bersama-sama untuk kebudayaan itu sesuai dengan kodratnya.”
Baca selengkapnya …

Cantik itu Luka