Foto oleh: icultist, Some rights reserved.

Bulan lalu saya berjanji untuk menyerahkan naskah novel saya ke penerbit. Harus saya akui, saya mengurungkannya: mundur lagi. Ada beberapa hal di dalam novel itu yang harus saya perbaiki dan saya masih mencari-cari cara terbaik. Untuk itu, hari-hari ini saya kembali menggelar karpet di ruang tamu. Buku-buku referensi kembali digelar di sekeliling karpet. Begitu pula naskah yang sudah saya print-out, agar saya bisa mengecek kembali. Komputer sedia setiap saat.

Bagaimanapun, meski saya merasa ada sesuatu yang enggak bener, bukan hal yang gampang untuk melacaknya dimana. Satu-satunya hal yang mungkin saya kerjakan, adalah mengingat-ingat kembali urutan kerja saya. Dalam hal ini disiplin kerja saya cukup memudahkan pelacakan ini. Saya terbiasa bekerja dengan agak metodis. Saya akan menuliskannya di sini, berdasarkan pengalaman saya menulis dua novel sebelumnya. Ini untuk mengingatkan saya, sekaligus barangkali ada yang tertarik mencontek cara kerja saya (hehe):

read more »

Quote: Dari Komentar di Posting "Orhan Pamuk: Jilbab Merupakan Tradisi" - 17 June 2008 »
Mas, kayanya ga usahlah bicarain seputar permasalahan agama (jilbab bukan tradisi, tapi emag kewajiban). kalo belom ada ilmunya, jadi keliatan begonya mas. jangan sok demokrasi-demokrasian, plural-pluralan, HAM-HAMan, itu semua juga masih kontradiksi mas. dalam Islam jilbab itu wajib, ya udah jangan diganggu keyakinan orang itu. katanya demokratis, kok masih turut campur masalah agama orang. itu aja sih yang ingin saya omongin. udahlah, mas eka nulis yang mas eka ngerti aja. saya suka kok tlisan2 mas eka.
Dari Komentar tukangtidur di posting Orhan Pamuk: Jilbab Merupakan Tradisi (Saya pindah ke dapan barangkali ada yang tertarik menanggapinya) (Read Comments: 30)
12 June 2008 » Kemarin nonton film The Happening. Tapi kuciwa, gak seasyik film M. Night Shyamalan lainnya. Padahal minggu lalu nonton Speed Racer: keren! (Baca Komentar: 0)

Foto oleh: Tom@HK, Some rights reserved.

Beberapa malam lalu, saya memperoleh email dari Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad. Mereka salah dua penulis yang saya kagumi: meskipun bisa dibilang pelit menerbitkan karya. Saya bisa dikata jarang bertemu mereka (apalagi sekarang keduanya di Amerika), tapi sesekali kami mendiskusikan sesuatu lewat internet. Kembali ke email: mereka mengajak saya membuat proyek kecil (kami batasi bertiga saja) menyangkut hal yang barangkali tak pernah dilirik kebanyakan penulis (apalagi kritikus): Tribute to Abdullah Harahap, the master guru of Indonesian horor fiction.

Tak hanya girang, bisa dibilang saya tersanjung dengan ajakan itu. Abdullah Harahap! Bertahun-tahun saya bergaul dengan para penulis, hampir bisa dikatakan tak pernah bertemu orang yang bisa memperbincangkan penulis ini dengan antusias. Atau barangkali hampir tak ada penulis yang pernah membacanya? Atau membacanya, namun tak menganggapnya ada?

read more »

7 June 2008 » Karena satu dan lain hal, situs ini akan lebih enak dibuka di: chipmunk.site88.net. (Tapi masih bisa juga di: ekakurniawan.com). Update (16 Juni): blog sudah kembali ke alamat semula di ekakurniawan.com, sementara chipmunk.site88.net sudah saya tutup. (Baca Komentar: 1)

Ini tiga lukisan yang saya bikin sepanjang minggu terakhir Mei 2008. Awalnya karena Richard tanya, “Kamu bisa gambar, kenapa nggak melukis?” Kami pergi ke Plaza Semanggi, dan dari sana kami membeli empat kanvas dan beberapa botol cat acrylic setengah literan. Satu kanvas dipakai Djenar. Untuk melihat detailnya, sila klik gambar di atas. It’s not bad, ha?


Foto oleh: Boby Dimitrov, Some rights reserved.

Tetralogi Buru bisa dibilang merupakan satu upaya Pramoedya Ananta Toer untuk menjawab apa itu menjadi Indonesia. Di akhir tahun 50an, ketika perkara menjadi Indonesia sedang hangat, jika tak bisa dikatakan panas, ia mulai memikirkan satu seri novel yang bisa mencari dan melacak jejak-jejak nasionalisme Indonesia.

Jawaban Pramoedya adalah kembali ke akhir abad 19 hingga awal abad 20. Itulah memang masa subur benih-benih nasionalisme Indonesia mulai disemai dan bertunas. Dalam hal ini, Pramoedya berhasil menemukan tokoh ideal anak kandung semangat ini: Tirto Adhi Soerjo. Bukan politikus yang kelak menjadi presiden pertama semacam Soekarno, atau aktivis kiri yang bergerak tanpa batas geografis semacam Tan Malaka, tapi seorang wartawan sekaligus penulis roman.
read more »

25  May  2008


Foto oleh: Boby Dimitrov, Some rights reserved.

Seperti apakah Jawa? Seperti apakah Indonesia? Identitas kultural selalu merupakan medan di mana kehendak untuk mendefinisikan dan kehendak untuk melonggarkan batas-batasnya, selalu bertemu, jika tak bisa dikatakan bertarung. Denys Lombard sendiri, dalam Nusa Jawa: Silang Budaya, memperlihatkan betapa apa yang kita sebut sebagai Jawa tak bisa dikatakan sebagai sesuatu yang tunggal. Demikian pula Benedict Anderson dalam Imaginary Community, melihat bahwa identitas kultural hanyalah sebuah rekaan yang direka.

Tapi kita juga sangat sulit untuk menapikan keberadaan identitas kultural semacam ini. Betapapun kaburnya sebuah definisi, seseorang barangkali masih bisa membayangkan seperti apa identitas kultural tertentu. Katakanlah, orang Madura dengan karapan sapi. Katakanlah orang Jawa dengan keris. Memang benar, menghubungkan identitas kultural dengan gambaran kasar tertentu tak lebih dari sebuah stereotif, tapi bahwa stereotif itu ada, tak bisa dipungkiri.
read more »

 


Screenshot: presidensby.info.

Berawal dari iklan Wiranto di berbagai koran yang bertajuk Wiranto Masih Berharap SBY Penuhi Janji Soal BBM, polemik mulai berkembang. Menteri Sekretaris Negara, Hatta Rajasa, berkomentar atas iklan itu, “Sangat tendensius dan bisa menyesatkan kalau tidak ditanggapi. Seakan-akan Presiden berjanji untuk tidak menaikkan harga BBM.” Benarkah Presiden SBY tak pernah berjanji tidak akan menaikkan harga BBM? 

Silakan lihat di laman situsnya sendiri: presidensby.info 7 November 2007. Jika dengan ajaib halaman itu dihapus (gampang lah menghapus halaman web), saya mempunyai screenshotnya di sini. Sekarang, mari kita tunggu, apakah presiden kita tukang ingkar janji atau tidak? Atau masih mau menyangkal janji yang sudah diucapkan?
read more »

On Seeing 100% Perfect Girl One Beautiful April Morning - Haruki Murakami - 21 May 2008 »
Ini video pendek yang dibikin mahasiswa film berdasarkan cerpen Haruki Murakami, "On Seeing 100% Perfect Girl One Beautiful April Morning" (dari kumpulan The Elephant Vanishes). Anton Kurnia, salah seorang penulis dan penerjemah produktif, pernah menerjemahkan cerpen itu menjadi "Seorang Gadis yang Seratus Persen Sempurna", dan dimuat di Suara Merdeka. (Read Comments: 0)