Dua Novel Isaac Bashevis Singer
Isaac Bashevis Singer, barangkali bukan nama yang dikenal umum, meskipun ia salah satu penulis yang memperoleh Nobel Kesusatraan (1978). Saya menemukan namanya secara tak sengaja melalui cerita bersambung di majalah Femina (lupa judulnya, lupa edisi kapan), dan saya diingatkan kembali ketika membaca komentar pendeknya atas karya Knut Hamsun (juga lupa di mana). Dari sana saya coba mencari tahu tentangnya, membaca di satu tempat bahwa karya-karyanya memang sangat terpengaruh oleh Knut Hamsun.
Sekali waktu istri saya menonton film Yentl di televisi, dan tampak kegirangan menemukan film itu. Katanya ia sudah lama ingin menontonnya. Saya tanya, apa ceritanya? Setelah ia menceritakan secara singkat, saya langsung komentar, “Itu seperti tema-tema cerita Isaac Bashevis Singer. Barangkali diangkat dari karyanya.” Intinya, kisahnya mengenai kaum Yahudi. Tapi berbeda dengan kisah-kisah Yahudi yang sering kami baca di novel atau tonton di film, ini bukan kisah Yahudi yang gelap, dikejar-kejar atau di-gheto-kan Nazi, dan sejenisnya. Tapi tentang kehidupan sehari-hari orang Yahudi, dengan roman percintaan, dan problem-problem teologis maupun sosial-agama. Saya cari di internet, dan ternyata tebakan saya benar, Yentl merupakan salah satu cerita pendeknya. Tentu saja ini memberi saya minat tambahan untuk mulai membaca satu-dua karyanya.Baca selengkapnya …
Membaca “Sekali Peristiwa di Banten Selatan”
Barangkali disebabkan kecenderungan politik dan ideologinya, serta plot yang cenderung didaktis, novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan sering dikesampingkan para pengamat karya Pramoedya Ananta Toer, jika tidak dianggap karyanya yang paling tidak berhasil.
A. Teeuw dalam Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer, hanya membahas novel ini dalam sub bab pendek dibandingkan bahasan atas karya Pramoedya yang lain. A. Teeuw, misalnya menulis: “Watak-watak semuanya digambar dengan warna hitam-putih, latarnya sangat konvensional.” Benar bahwa karakter di novel ini tidak penuh warna sebagaimana kita temukan dalam novel-novel puncak Pramoedya, tapi mengatakannya sebagai hitam-putih tentu penyederhanaan berlebihan. Tokoh Juragan Musa, sang antagonis, bisa menjadi contoh yang menarik. Baca selengkapnya …
Ketakutan dan Bagaimana Menyembuhkannya
Saya mungkin agak konyol. Salah satu hal yang saya takutkan adalah: suatu hari gaya gravitasi hilang. Terutama kalau sedang memandang langit, siang atau malam, saya suka takut tiba-tiba “jatuh” melayang ke angkasa karena gaya gravitasi lenyap. Mengerikan kan jatuh ke langit yang tiada berujung?
Nah, untuk menyembuhkan rasa takut itu, saya baca-bacalah fisika tentang gravitasi. Saya kemudian tahu, kalau gaya gravitasi hilang, tubuh kita akan berantakan. Tak hanya jantung berhenti berdetak atau darah berhenti mengalir, tapi atom-atom di sel tubuh kita juga akan berhamburan. Intinya: saya akan mati sebelum sempat jatuh melayang ke angkasa. Mengetahui hal itu, saya jadi lebih tenang. Saya tak akan pernah mengalami saat alam semesta kehilangan gaya gravitasi.
Buat para ahli fisika, mohon ralat jika saya keliru.Moral ceritanya: takut seringkali disebabkan karena kita tak tahu apa-apa soal hal tertentu. Konon begitulah.
Perpustakaan
Bayangan perpustakaan yang asyik di benak saya, barangkali mirip seperti yang ada di novel Kafka on the Shore, Haruki Murakami. Si bocah bernama Kafka itu, sekali waktu kabur dari rumah dan pergi ke kota kecil, dan terdampar di sebuah perpustakaan. Perpustakaan itu sebenarnya milik pribadi, milik seorang penulis (kalau tak salah ingat), tapi kemudian dibuka untuk umum. Ruangannya kecil saja, dengan seorang pengurus, dan orang asing boleh masuk untuk membaca-baca di ruangan baca.
Di Indonesia, sebenarnya banyak juga perpustakaan semacam itu. Yang paling terkenal barangkali perpustakaan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin. Tak hanya berupa perpustakaan, tempat itu bahkan menyerupai museum, dengan naskah-naskah langka milik para penulis. Kita tahu awalnya itu merupakan perpustakaan pribadi kritikus dan penulis HB Jassin. Setelah beliau meninggal, perpustakaan tersebut berada di bawah tanggung jawab Pemda Jakarta dan menempati satu ruangan di pojok Taman Ismail Marzuki. Baca selengkapnya …




