“Kronik Betawi”, Novel Baru Ratih Kumala


Novel terbaru karya istriku, Ratih Kumala, berjudul Kronik Betawi. Ya, benar, ini tentang masyarakat Betawi di Jakarta. Berbeda dengan kedua novel sebelumnya, gaya bahasanya lebih ringan dan, tentu saja lucu. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, mulai beredar 4 Juni 2009. Selamat membeli dan membaca.

Buat yang malas atau enggak sempat ke toko-buku, bisa pesan di sini seharga Rp. 40.000 (sama dengan harga di toko). Ongkos kirim gratis untuk wilayah Indonesia. Silakan tinggalkan komentar untuk pemesanan buku. Baca selengkapnya …

Foto Lama

Masa KKN di Imogiri, Yogya. Saya di bagian depan kanan, masih gondrong.

Baca selengkapnya …

  • 27-04-2009 · Hard disk komputer saya mati. Tak hanya saya tak bisa memakai komputer, beberapa data juga hilang. Data-data tulisan memang selalu saya back-up, tapi file-file desain yang berukuran besar jarang saya back-up. Kelihatannya harus mulai mempergukanakan fasilitas time machine dengan hard disk eksternal, nih … (1 Pesan)

Keluarga Tot


Pernahkah kamu kedatangan seorang tamu dan tiba-tiba tamu itu membuatmu merasa tidak nyaman di rumahmu sendiri? Tamu itu mulai menguasai rumahmu, dan karena kamu menghormatinya, kamu tak bisa mengingatkannya, apalagi mengusirnya?

Seperti itulah kira-kira ini pertunjukan “Keluarga Tot” yang dipentaskan Teater Gandrik selama empat hari (mulai malam ini, 17 April). Diterjemahkan dan diadaptasi dari naskah karya István Örkény, berjudul asli Totek.
Baca selengkapnya …

Negara Merampas Hak Pilih Saya

Awalnya saya malas mengomentari Pemilihan Umum 2009 kali ini, tapi setelah berpikir-pikir, mungkin ada bagusnya saya mencatat kekesalan saya. Paling tidak, untuk mengingatkan saya bahwa hal ini pernah terjadi. Sejak saya memperoleh hak pilih saya, untuk kali pertama, saya tak memperoleh hak itu.

Saya merupakan warga negara yang baik. Saya belum pernah dihukum karena tindakan kriminal. Penghasilan saya dipotong pajak. Umur saya lebih dari cukup. Saya juga memiliki Kartu Tanda Penduduk yang sah. Tapi entah kenapa, negara tiba-tiba menghilangkan nama saya dari Daftar Pemilih Tetap yang berhak memilih wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat.
Baca selengkapnya …

Darah Juang

Di sini negeri kami
Tempat padi terhampar
Samuderanya kaya raya
Tanah kami subur, Tuhan …

Di negeri permai ini,
Berjuta rakyat bersimbah luka
Anak kurus tak sekolah
Pemuda desa tak kerja

Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami,
Tuk membebaskan rakyat

Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami,
Padamu kami berjanji
Padamu kami berbakti
Baca selengkapnya …

Jangankan Pendidikan Gratis …

Jangankan pendidikan gratis, kursi SD saja belum dibayar ….

“Bisikan Arwah” Abdullah Harahap
(Update: Tribute to Abdullah Harahap)

Tak terasa sudah hampir tujuh bulan proyek “Tribute to Abdullah Harahap” berlangsung (lihat posting katalog buku Abdullah Harahap). Saya, Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad sudah beberapa kali bertemu untuk mendiskusikan proyek kami, dan terus berjalan. Pertemuan terakhir, kami melakukannya melalui Yahoo Messanger karena saat itu berada di tempat yang berjauhan.

Dalam diskusi terakhir kami, saya memberikan laporan mengenai pembacaan saya atas novel Bisikan Arwah. Novel itu bisa menjadi kasus untuk bagian telaah saya: tentang arwah, dendam, dan konteks sosialnya.
Baca selengkapnya …

Renang dan Jogging

Ketika memutuskan untuk menjadi penulis penuh waktu, saya menyadari barangkali saya akan menjalani hidup yang sangat tidak sehat. Paling tidak saya sudah menjalani hidup yang tidak sehat itu selama beberapa waktu: terlalu banyak duduk untuk menulis di depan komputer, terlalu banyak duduk untuk membaca buku, terlalu banyak aktifitas pikiran daripada aktifitas fisik, dan tentu saja sederet gaya hidup yang sama tidak sehatnya. Jelas: saya butuh berolahraga.

Ada dua jenis olahraga yang saya lakukan: jogging dan renang. Ketika masih di Yogya, tepatnya di akhir masa-masa saya tinggal di Yogya, saya sering jogging sore hari mengitari kampus UGM. Banyak orang melakukan kegiatan itu sehingga saya merasa senang, meskipun pada dasarnya saya berlari sendirian. Dari rumah biasanya saya cuma bercelana pendek, memakai sepatu kets, dan berbekal uang receh untuk membeli minuman. Setelah itu langsung lari.
Baca selengkapnya …

Shine A Light

Shine A Light, © 2008 Paramount Pictures.

Enggak pernah terpikir sebelumnya bahwa saya akan menonton film Shine A Light di bioskop. Bukan kebiasaan bioskop Indonesia memutar film dokumenter. Eh, kemarin saya melihat iklannya di Kompas: film itu diputar di Studio XXI Plaza Senayan. Sementara istri keliling-keliling mal, saya memanjakan diri menonton film itu.

Hanya ada sekitar lima belas orang saja yang nonton. Kebanyakan bapak-bapak tua. Hehe, dalam hal ini saya jadi merasa terlihat aneh. Sejujurnya, memang saya bisa dianggap telat menyukai The Rolling Stones. Meskipun pernah mendengar beberapa lagunya, saya baru benar-benar meminati musik mereka di masa kuliah.
Baca selengkapnya …